ARTIKEL PILIHAN

GOOGLE TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

ARTIKEL PILIHAN

Meninggal Punya Hutang Sholat

Written By Situs Baginda Ery (New) on Selasa, 31 Desember 2013 | 21.21

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Bapak KH. Qohwanul Adib yang Saya hormati, Apa yang harus dilakukan Istri ketika Suaminya meninggal? Dan, jika Suami meninggalkan Sholat semasa sakit, Apa yang harus dikerjakan pihak keluarga? Terima kasih.
Ny. M. Su’adi, Sepanjang – Sidoardjo
Problem Solving
Ny. M. Su’adi yang kami hormati, sebagai seorang Istri, hal terindah yang sangat didamba dalam menjajaki hitam putih kehidupan adalah perhatian dan kasih sayang yang menyamudera dari seorang Suami tercinta. Jika Suami telah kembali kehadirat Sang Maha Kuasa, maka yang tersisa hanyalah perih dan duka yang tiada terkira.
http://media.viva.co.id/thumbs2/2011/12/08/135377_dalam-gelap_663_382.jpg 
Namun, Allah SWT tidak akan menguji hambanya diluar batas kemampuannya. Dia akan memberikan yang lebih indah dan lebih baik dari apa yang telah sirna, jika hambanya mau bersabar dan tabah atas segala cobaan yang menderanya.
Ny. M. Su’adi yang senantiasa dirahmati Allah SWT, ketika suami meninggal dunia, maka Istri harus menjalani Masa Iddah, yaitu masa transisi untuk mengetahui bahwa di dalam rahim tidak ada janin. Sehingga, Istri baru diperbolehkan menikah kembali setelah melalui masa itu.
Perlu diketahui, bahwa pada dasarnya, Masa Iddah yang harus dijalani seorang Istri (baik sebab ditinggal mati suaminya atau yang lain) itu tidak lebih hanya karena alasan Ta’abbudi, artinya perintah tersebut tidak ditengarai oleh ‘illat / sebab yang jelas-pasti, namun hanya semata-mata menjalankan perintah ilahi. Sehingga, perempuan yang sudah lansia dan sudah pasti tidak akan Hamil, itu juga harus menjalani masa Iddah.
Lamanya masa Iddah bagi Istri yang ditinggal mati suaminya adalah 4 Bulan 10 Hari jika Istri dalam keadaan Hail (Tidak Hamil). Namun, apabila Istri dalam keadaan Hamil, maka masa Iddahnya berakhir sampai melahirkan.
Allah SWT berfirman dalam surat al Baqoroh, 234 dan Surat At Tholaq, 4 :
وَالّذِينَ يُتَوَفّوْنَ مِنكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجاً يَتَرَبّصْنَ بِأَنْفُسِهِنّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْراً فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنّ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ
فِيمَا فَعَلْنَ فِيَ أَنْفُسِهِنّ بِالْمَعْرُوفِ وَاللّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (البقرة : 234)
وَأُولاتُ الأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ. (الطلاق : 4)
Dalam menjalani masa iddah (sebab ditinggal mati suaminya), Istri harus selalu menetap di area (pekarangan) rumah dan tidak diperbolehkan menghias diri dengan memakai pakaian yang bercorak, perhiasan emas-perak, minyak wangi, celak Mata dan segala sesuatu yang dapat menambah daya tarik, atau dalam ranah Syara’ disebut “Ihdad”. Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan Abu Dawud dan An Nasai:
أن النبي صلى الله عليه وسلم قال المتوفى عنها زوجها لا تلبس الحلي ولا تكتحل ولا تختضب
Sementara, tentang problem sholat yang ditinggalkan oleh suami semasa sakit, terjadi silang pendapat antara Ulama’; Menurut konsesus mayoritas ulama’, keluarga mayyit tidak perlu meng-qodloi sholat atau membayar fidyah (tebusan) atas sholat yang ditinggalkan Mayyit.
Namun, jika Keluarga Mayyit masih ingin meng-qodloi sholat yang ditinggalkan Mayyit, maka diperbolehkan dengan berpijakan pada Qoul Ulama’ yang lain, yang digawangi oleh Kelompok Mujtahidin dan bahkan kasus ini pernah dilakukan oleh Imam As Subki.
Pendapat ketiga yang dipresentasikan oleh Sebagian besar Ashab Syafi’I mengatakan, keluarga mayyit boleh mengganti sholat yang ditinggalkan Mayyit dengan 1 Mud (6 ons) Makanan Pokok tiap satu sholat, dan diberikan kepada Fakir Miskin.
Referensi :
1) Al Iqna’ Lis Syibini
2) I’anah at Tholibin
3) Fatawil Azhar, Juz VIII, Hal: 318

http://majalahlangitan.com/meninggal-punya-hutang-sholat/
21.21 | 2 komentar | Read More

Inilah 100 Cara Untuk Bahagia Dunia dan Akhirat


Ada 100 cara agar manusia bisa bahagia, yang Insya Allah, baik di Dunia dan di Akherat.
01.Bersyukur apabila mendapat nikmat;
02.Sabar apabila mendapat kesulitan;
03Tawakal apabila mempunyai rencana/program;
04.Ikhlas dalam segala amal perbuatan;
05.Jangan membiarkan hati larut dalam kesedihan;
06.Jangan menyesal atas sesuatu kegagalan;
07.Jangan putus asa dalam menghadapi kesulitan;
08.Jangan usil dengan kekayaan orang;
09.Jangan hasad dan iri atas kesuksessan orang;
10.Jangan sombong kalau memperoleh kesuksessan;
11.Jangan tamak kepada harta;
12.Jangan terlalu ambsi akan sesuatu kedudukan;
13.Jangan hancur karena kezaliman;
14.Jangan goyah karena fitnah;
15.Jangan berkeinginan terlalu tinggi yang melebihi kemampuan diri.
16.Jangan campuri harta dengan harta yang haram;
17.Jangan sakiti hati ayah dan ibu;
18.Jangan usir orang yang meminta-minta;
19.Jangan sakiti anak yatim;
20. Jauhkan diri dari dosa-dosa yang besar;
21.Jangan membiasakan diri melakukan dosa-dosa kecil;
22.Banyak berkunjung ke rumah Allah (masjid);
23.Lakukan shalat dengan ikhlas dan khusyu;
24.Lakukan shalat fardhu di awal waktu berjamaah di masjid;
25.Biasakan shalat malam;
26.Perbanyak dzikir dan do'a kepada Allah;
27.Lakukan puasa wajib dan puasa sunat;
28.Sayangi dan santuni fakir miskin;
29.Jangan ada rasa takut kecuali hanya kepada Allah;
30.Jangan marah berlebih-lebihan;
31.Cintailah seseorang dengan tidak berlebih-lebihan;
32.Bersatulah karena Allah dan berpisahlah karena Allah;
33.Berlatihlah konsentrasi pikiran;
34.Penuhi janji apabila telah diikrarkan dan mintalah maaf apabila karena sesuatu sebab tidak dapat dipenuhi;
35.Jangan mempunyai musuh, kecuali dengan iblis/syaitan;
36.Jangan percaya ramalan manusia;
37.Jangan terlampau takut miskin;
38. Hormatilah setiap orang;
39.Jangan terlampau takut kepada manusia;
40.Jangan sombong, takabur dan besar kepala;
41.Berlakulah adil dalam segala urusan
42.Biasakan istighfar dan taubat kepada Allah
43.Bersihkan rumah dari patung-patung berhala;
44.Hiasi rumah dengan bacaan AlQuran
45.Perbanyak silaturrahim;
46.Tutup aurat sesuai dengan petunjuk Islam;
47.Bicaralah secukupnya;
48.Beristeri/bersuami kalau sudah siap segala-galanya;
49.Hargai waktu, disiplin waktu dan manfaatkan waktu;
50.Biasakan hidup bersih, tertib dan teratur;
51.Jauhkan diri dari penyakit-penyakit bathin;
52.Sediakan waktu untuk santai dengan keluarga;
53.Makanlah secukupnya tidak kekurangan dan tidak berlebihan;
54.Hormatilah kepada guru dan ulama;
55.Sering-sering bershalawat kepada nabi;
56. Cintai keluarga Nabi saw;
57. Jangan terlalu banyak hutang;
58. Jangan terlampau mudah berjanji;
59. Selalu ingat akan saat kematian dan sadar bahwa kehidupan dunia adalah kehidupan sementara;
60.Jauhkan  dari perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat seperti mengobrol yang tidak berguna;
61. Bergaullah dengan orang-orang soleh;
62. Sering bangun di penghujung malam, berdoa dan beristighfar;
63. Lakukan ibadah haji dan umrah apabila sudah mampu;
64.Maafkan orang lain yang berbuat salah kepada kita;
65.Jangan dendam dan jangan ada keinginan membalas kejahatan dengan kejahatan lagi;
66. Jangan membenci seseorang karena beda paham dan pendiriannya;
67.Jangan benci kepada orang yang membenci kita;
68. Berlatih untuk berterus terang dalam menentukan sesuatu pilihan
69.Ringankan beban orang lain dan tolonglah mereka yang mendapatkan kesulitan.
70.Jangan melukai hati orang lain;
71.Jangan membiasakan berkata dusta;
72.Berlakulah adil, walaupun kita akan mendapatkan kerugian;
73.Jagalah amanah dengan penuh tanggung jawab;
74.Laksanakan segala tugas dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan;
75.Hormati orang lain yang lebih tua dari kita
76.Jangan membuka aib orang lain;
77.Lihatlah orang yang lebih miskin daripada kita, lihat pula orang yang lebih berprestasi dari kita;
78.Ambilah pelajaran dari pengalaman orang-orang arif dan bijaksana;
79.Sediakan waktu untuk merenung apa-apa yang sudah dilakukan;
80.Jangan sedih karena miskin dan jangan sombong karena kaya;
81.Jadilah manusia yang selalu bermanfaat untuk agama,bangsa dan negara;
82.Kenali kekurangan diri dan kenali pula kelebihan orang lain;
83.Jangan membuat orang lain menderita dan sengsara;
84.Berkatalah yang baik-baik atau tidak berkata apa-apa;
85.Hargai prestasi dan pemberian orang;
86.Jangan habiskan waktu untuk sekedar hiburan dan kesenangan;
87.Akrabliah dengan setiap orang, walaupun yang bersangkutan tidak menyenangkan.
88.Sediakan waktu untuk berolahraga yang sesuai dengan norma-norma agama dan kondisi diri kita;
89.Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan fisik dan mental kita menjadi terganggu;
90.Ikutilah nasihat orang-orang yang arif dan bijaksana;
91.Pandai-pandailah untuk melupakan kesalahan orang dan pandai-pandailah untuk melupakan jasa kita;
92.Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan orang lain terganggu dan jangan berkata sesuatu yang dapat menyebabkan orang lain terhina;
93.Jangan cepat percaya kepada berita jelek yang menyangkut teman kita sebelum dipastikan kebenarannya;
94.Jangan menunda-nunda pelaksanaan tugas dan kewajiban;
95.Sambutlah huluran tangan setiap orang dengan penuh keakraban dan keramahan dan tidak berlebihan;
96.Jangan memforsir diri untuk melakukan sesuatu yang diluar kemampuan diri;
97.Waspadalah akan setiap ujian, cobaan,godaan dan tentangan. Jangan lari dari kenyataan kehidupan;
98.Yakinlah bahwa setiap kebajikan akan melahirkan kebaikan dan setiap kejahatan akan melahirkan kerusakan;
99.Jangan sukses di atas penderitaan orang dan jangan kaya dengan memiskinkan orang;
100.Silakan melengkapi kekurangannya

Teguh S (Lombok-Cepos) Jkt
08567789372 PIN 292C0E1F
http://www.masjidjami-alittihad-citraindah.com/index.php/teguh/117-100-cara-untuk-bahagia-dunia-dan-akhirat
21.20 | 0 komentar | Read More

Tentang Kematian: Dialog Kematian

Jenazah
Dialog Kematian
* Muhamad Ardiansha EL Zhemary

Aku masih duduk tenang di antara dua mahluk berbadan besar yang sembari tadi tampak sibuk dengan argument masing-masing. Pandangan mataku yang sayu, sembari tadi masih tertuju ke salah satu mahluk dengan ciri-cirinya yang membuat aku ngeri, kulitnya hitam legam, dengan bulu mata tebal, mirip manusia, tetapi aneh, ukuran tubuhnya tinggi dan besar, nafasnya terdengar sangar, kadang naik kadang turun seiring perdebatan dengan salah satu mahluk yang tampan, wajahnya putih bersih, hidungnya bangir, sorot bola matanya bening kebiruan, benar-benar sempurna, jauh berbeda dengan lawan bicaranya, Si Hitam.
“ Bagaimana ?” Si Hitam bertanya kaku kepada Si Tampan. Si Tampan hanya tersenyum simpul, lalu mengangguk, aku menatap keduanya heran.  Si Tampan masih saja tersenyum, membuat aku terkesima dengan ketampanan wajahnya, begitu bercahaya dan  sempurna.
“ Apakah seperti ini wajah nabi Yusuf dulu?” gumamku kagum.
“ Ehm…Kita ambil keputusan aja dulu ?” balas si Tampan, si Hitam segera berdiri. Lalu menatap ke arahku.
“ Ada apa dengan si Hitam dan si Tampan? Apa yang akan mereka lakukan padaku kali ini ?” hatiku diliputi tanda tanya yang terus melebur bersama ketakutan.
Si Tampan dan Si Hitam, aku memberi nama mereka berdua si Tampan dan si Hitam, karena perbandingan kulit mereka. Si Tampan dengan suaranya yang tenang dan lembut, membuat semua terasa tenang, sedangkan si Hitam, suaranya terdengar kasar dan sangar, serak basah, dan terkadang terdengar menakutkan, bahkan aku sembari tadi diam karena ada ketakutan saat si Hitam menatap bola mataku tajam, menghujam cepat hingga menghadirkan sejuta ketakutan dalam hatiku yang masih diliputi berbagai tanya.
Dimana aku sekarang ? Bukankah sembari tadi aku tengah naik motor menuju masjid untuk melaksanakan shalat jum’at, lalu kenapa aku di sini ? Di tempat serba gelap, dengan bau aneh yang belum pernah aku temukan selama hidupku, bau serta suasana aneh, bukan ketakutan, sedih atau duka, tapi bukan juga kehampaan, semua seperti serpihan aneh yang menderu berbagi dalam sekeliling.
“ Hai manusia !” suara si Hitam menggelegar memantul dari kegelapan yang sembari tadi menyelubung. Aku kembali bergeming dalam kediaman dan ketakutan yang terus melebur bersama kegelisahan.
“ Manusia….Siapa ? Aku ! Kalau aku manusia…. Siapa mereka ? Apa mereka Jin, Setan, atau mereka Malaikat, di mana aku ?  Apa aku sudah mati…………..Ya Allah masih adakah pintu tobat di kala ini..” aku masih tertunduk, pikiranku masih terus bergelut dengan kemungkinan-kemungkinan yang sama sekali tak kuharapkan.
“ Ayo jawab! “ si Hitam membentakku penuh emosi. Aku semakin terpekur takut.
“ Yang sabar..!” si Tampan membelaku, aku mengulas senyum untuk si Tampan, tapi tetap saja, aku masih tertunduk, terlalu takut untuk memandang dua mahluk aneh di depanku.
“ Sabar….Dia calon penghuni neraka ?” Si Hitam berteriak keras, lalu tertawa, suaranya yang keras menggelegar. Bulu kudukku merinding saat mendengar neraka di sebut, sebuah tempat yang tak satu orangpun yang ingin menjamahnya.
“ Neraka….Kamu salah saudaraku, dia adalah golonganku….Dia akan menjadi penghuni surga….” jawab si Tampan seraya memandangku yang masih tertunduk, sesekali aku mencuri pandang ke arah si Tampan, kutatap wajah teduh itu lekat, ada ketenangan di setiap guratan-guratan wajah yang tampak jernih itu.
“ Oke sekarang kita buktikan…Dia golongan kamu atau golongan aku ?’ si Hitam tampak tidak bisa terima. Seketika si Hitam berdiri lalu memukul sesuatu di depannya, entah apa itu ? Yang jelas bukan meja, tapi hanya balok Hitam bulat yang keras, sehingga sesaat setelah benda itu beradu dengan tangan si Hitam, ada getaran aneh, lebih tepat besi beradu dengan besi, aku sempat ngeri, membayangkan betapa kuatnya tangan si Hitam.
“ Hai tangan ayo kita buktikan ?” si Tampan memberi komando, entah kepada siapa ? Aku sempat heran, tapi rasa keherananku semakin menjadi dan lengkap, saat tanpa kesadaran tangan kananku bergerak sendiri, lalu mengucapkan salam, aku menjadi gugup. Aku teringat ucapan Ustad Afandi saat pengajian jum’at lusa, besok di hari akhir semua akan menjadi saksi, termasuk seluruh aggota tubuh kita.
“ Ya Allah ampuni hamba…”
Aku semakin tertunduk, mendengarkan kesaksian dari tanganku yang terus berbicara sendiri, aku heran, entah dari mana suara itu keluar, yang jelas itu suara dari tangan kananku yang terus menceritakan kehidupanku selama 18 tahun ini, tentang kebaikan dan juga keburukan, tiada satupun yang terlewat, aku semakin kalut, air mata tertahan untuk menetes, dadaku terasa sesak, ada getir dan sesal yang menyeruak.
“ Demikian kesaksian dari saya ?” tangan kananku mengakhiri ceritanya, aku bersyukur, ternyata lebih banyak kebaikan yang aku lakukan daripada keburukan.
“ Selanjutnya ?” si Tampan kembali memberi komando, rasa heranku kembali menjadi, saat tangan kiriku kembali bangkit, lalu berccerita, aku mengelus dada perih, saat ternyata amal burukku lebih banyak. Aku semakin resah, kemanakah arah tujuanku sekarang ? Kemana ? Apakah aku akan berakhir ke neraka ? “ Ya Allah ampuni hamba ?” aku terus berdoa dalam hati, walaupun aku tahu, doa atau apapun yang aku harapkan semua sia-sia. Ya …Aku sudah mati, dan ini adalah akhir.
“Maaf……!” aku mulai memberanikan bicara.  Seketika si Hitam dan si Tampan langsung menatapku tajam.” Apakah kalian Malaikat ?” lanjutku bertanya kaku penuh ketakutan.
Seketika kedua saling pandang, lalu tersenyum mengiyakan. Aku terkesiap dalam ketidakpercayaan yang tak berujung, “Jadi benar aku telah mati.”
“ Ya…Kami malaikat…., dan hari ini kami akan menghisab semua amalmu…? jika amal kebaikan kamu lebih banyak daripada amal buruk kamu….Maka kamu akan masuh surga, dan sebaliknya ?” mendengar penjelasan si Tampan, aku kalut semua akan berakhir tragis.
“ Baik kita lanjutkan!” si Hitam kembali mengomando. Sampai akhirnya semua anggota tubuhku memberi kesaksian, mata, mulut, telinga, hidung, semuanya. Aku hanya bisa diam, tidak bisa berontak ataupun protes seperti saat masih di sekolah, aku tak bisa, semua yang mereka katakan adalah fakta, fakta yang terlupakan olehku, mulai dari aku lahir sampai akhir ini, aku mendesah dalam kebimbangan.
“ Sudah….Dapat diputuskan dia masuk neraka ?” si Hitam tersenyum penuh kemenangan.
“ Tunggu dulu…Kita masih belum mendengar kesaksian semut Hitam yang di tabraknya lusa ?” si Tampan kembali membelaku, menampakkan betapa lembut sikap dan tingkah lakunya, jauh berbeda dengan si Hitam.
“ Baik….Tapi aku yakin, semut itu akan menyatakan apa yang dialami, dan pemuda ini akan masuk bersamaku, ke neraka ?”
“ Iya..”
Selang beberapa menit, datanglah seekor semut Hitam, ukurannya besar, sebesar lenganku. Semut Hitam itu menatapku tajam, seperti tengah tersenyum padaku.
“ Tidak…..Pemuda ini adalah hamba yang saleh..Dia menabrakku karena dia ingin menyelamatkan nyawa nenek yang sewaktu itu menyebrang tanpa hati-hati…”
Aku bersyukur, ternyata semut Hitam itu membelaku. Aku tersenyum, lalu kujabat tangan semut Hitam itu, dan sebelum semut Hitam itu pergi dia berpesan padaku.” Tolong jaga keluargaku, karena setelah aku pergi….Aku belum memberi mereka nafkah…”
Insya Allah !” balasku heran, bagaimana aku bisa menjaga keluarganya yang masih hidup ? Bukankah aku sendiri juga sudah mati, sama seperti dirinya ?
“ Baiklah kamu bebas….” Ujar si Tampan dan si Hitam serempak. Seketika Hitam yang sembari tadi menyelubung berganti cahaya Tampan yang menyibak memenuhi sekujur pandangan mataku, lalu berganti merah, ada nyeri di kepalaku.
“ Mas ayo sadar …!” seseorang mengangkatku pelan.
“ Dia sadar..” ada orang lagi yang berteriak, aku semakin heran, kemana si Tampan dan si Hitam? Kemana mereka ? Lalu di mana semut Hitam itu ?
“ Pak dimana aku ?’ aku bertanya lirih seraya menahan nyeri di kepalaku, kukerjapkan mata yang terasa berat, ada darah yang menetes perlahan dari dahi dan hidungku.
“ Mas habis saja menabrak pohon karena menghindari nenek tua yang menyebrang .” jawab pak tua itu. Aku tersenyum.
“Lalu di mana keluarga semut Hitam yang aku tabrak ?”
“Semut ?” semua yang mengangkat tubuhku saling pandang, sampai akhirnya aku tak sadarkan diri tanpa jawaban dari mereka, tentu mereka heran dengan apa yang aku tanyakan tentang keluarga semut Hitam.
Hari terus berlalu….Sejak itu aku selalu mendatangi tempat di mana aku merasakan dekat dengan kematian, setiap hari aku selalu memberi roti manis untuk keluarga semut yang berada di bawah pohon tempat aku kecelakaan. Aku tersenyum saat melihat mereka bergerombol rukun mengangkat roti, aku seperti mendengar sejuta ucapan terima kasih dan doa dari para semut itu.
“ Tidak kalianlah yang lebih berharga dalam hidupku..Kalianlah yang mengajarkan aku tentang arti hidup?” Ujarkau lirih, berharap para semut itu mendengar kata-kata yang aku lontaran untuk mereka.
Aku berdiri, memandang langit biru, semoga dialog kematian yang telah aku alami akan menjadi sesuatu yang membuat aku lebih baik, dan untuk semua yang belum pernah menemukannya. Dialog kematian.

*Penulis novel “ Air Mata Nayla” dan “Dreamy Angel” – Santri PonPes Darussalam Blokagung Banyuwangi Jawa Timur.
http://majalahlangitan.com/dialog-kematian/
21.19 | 0 komentar | Read More

Inilah Resep Bahagia Dunia-Akhirat : Janganlah Kau Diremukkan oleh Masalah yang Remeh

alqarny
Aidh bin Abdullah Al Qarni kali ini berbicara tentang berapa banyak orang yang menderita lahir bathin atau menderita’kesusahan’ karena disebabkan masalah yang kecil dan sepele.
Al Mutanabbi mengatakan :
Hal-hal kecil serasa besar…, Di mata orang–orang kecil
Dan hal-hal besar serasa kecil…, Di mata orang-orang besar
Orang-orang yang kerap mendapat julukan ‘munafik’ seringkali terlihat dari semangat yang rendah dan cita-cita yang lemah. Perhatikan ungkapan-ungkapan ini :
“ janganlah kamu pergi perang dalam keadaan panas terik ini”(QS at Taubah : 81)
“ berilah saya ijin tidak pergi berperang dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah”.  (QS at-Taubah : 49)
“Kami takut akan mendapat bencana” (QS  Al-maidah : 52)
Betapa naifnya ungkapan-unngkapan   tersebut  dan betapa rusaknya jiwa ini.
Semangat mereka hanya untuk perut, piring, rumah dan Istana. Mereka enggan mendongak kepala mereka ke langit keutamaan. Mereka tidak mau melihat bintang-bintang kemuliaan. Perhatikanlah bagian malam yang terus menghantui mereka pagi dan sore hari hanya karena berselisih dengan istri , anak atau teman.Kita juga sering bersedih hanya karena mendengar ungkapan remeh atau kejadian sepele. Inilah musibah yang selalu dialami orang-orang seperti ini, bagaikan lingkaran setan yang tidak berujung. Mereka tidak memiliki tujuan mulia yang dapat menyibukkan mereka.
Jadi, pikirkanlah dengan jernih masalah yang sebenarnya menyusahkan dan mencemaskan anda. Perlukah mendapat penanganan dan perhatian sampai seperti itu ? Itu berarti anda telah memberinya  otak, daging, darah, kenyamanan dan waktu Anda. Perlukah seperti itu?
Berikanlah perhatian pada masalah yang anda hadapi secara proporsional, jangan pernah berbuat kezaliman dengan cara melakukan hal yang bukan pada tempatnya, juga jangan melakukan hal yang sia-sia.  Rangkaikanlah dengan firman Allah .
” Sesungguhnya  Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu  (QS Ath Thalaq: 3)
Buanglah jauh-jauh hal-hal sepele jika itu hanya berurusan dan janganlah menyibukkan diri dengan mengurusinya. Uruslah persoalan yang besar dan berharga sehingga anda akan mendapati bahwa sebagian besar kesusahan Anda telah sirna. Hal besar itu adalah ikutlah dalam upaya menegakkan Dien Agama Allah ini, pertolongan Allah akan datang bagi siapa saja yang menolong agamaNya…Walaupun tentunya Allah Yang Maha Kuasa akan tetap menegakkan dien ini , dengan atau tanpa ‘pertolongan’ hambaNya. Para sahabat yang mulia telah meletakkan cita-cita hidup dibawah pohon ketetapan janji dengan bai’at; mereka lalu mendapatkan keridhaan Allah. Sementara ada seorang laki-laki di antara mereka yang disibukkan oleh ontanya hingga ketinggalan berbai’at. Ia harus menebusnya dengan memperoleh kebencian.
-Aidh AlQarni-

http://www.eramuslim.com/nasehat-ulama/resep-bahagia-dunia-akhirat-janganlah-kau-diremukkan-oleh-masalah-yang-remeh.htm#.UsOk5PuaKho
21.18 | 0 komentar | Read More

Inspirasi Islami: Dunia Sebagai Bekal Menuju Akhirat

Ibarat seonggok benda, adalah dunia. Semua manusia merasa memiliki kepentingan dengannya sehingga segala kesibukan pun tercurah demi sang dunia. Dunia, dalam arti sebenarnya adalah bumi seisinya ini yang menjadi perhiasan bagi mereka yang merasa memiliki sangkut paut dengan dunia, sebagaimana firman Allah:


Sehingga bumi inilah sebagai lantai tempat berpijak, tempat tinggal, yang di dalamnya tersedia pakaian, makanan, minuman bahkan pasangan.
Di bumi secara umum terdapat tiga komponen yang berepera penting menunjang keberlangsungan hidup anak Adam; hasil tambang, tumbuh-tumbuhan dan hewan.
Tumbuh-tumbuhan berperan sebagai bahan makanan pokok, juga obat-obatan. Dari tumbuh-tumbuhan pulalah –jika kita tahu- proses kimiawi terbentuknya oksigen yang menjadi fasilitas utama manusia. Sebab dari zat hijau daun yang dimiliki tumbuh-tumbuhanlah oksigen diproduksi.
Hasil tambang banyak dimanfaatkan sebagai perlengakapan-perlengkapan dan peralatan kehidupan dan sebagainya, di antaranya tembaga atau timah bisa untuk alat tukar uang, emas atau perak yang bisa dimanfaatkan untuk perhiasan dan sebagainya.
Untuk hewan sendiri terbagi dua; manusia dan binatang. Pada dasarnya manusia memang hewan, hanya saja manusia diciptakan lebih dan paling sempurna dan fasilitas tambahan berupa akal pikiran. Untuk binatang, ia digunakan oleh anak Adam sebagai alat transportasi, sebagai pelindung, sebagai penghibur karena keunikan atau kelucuan tingkahnya, atau beberapa spesies yang dagingnya sebagai bahan makanan bergizi tinggi.
Sedang manusia dimanfaatkan oleh sesama, ada kalanya untuk dipekerjakan, diberi tugas-tugas tertentu seperti halnya pembantu, pegawai, karyawan dan lainnya. Atau juga dimanfaatkan sebagai sarana memenuhi kebutuhan biologis, seperti pasangan suami istri atau (dulu) budak-budak perempuan. Di samping itu, kadang manusia juga dimanfaatkan hatinya. Manusia bisa saja mencuri perhatian yang lain agar ia condong, memuliakan, mengangungkan dan menyanjungnya. Inilah yang disebut kedudukan/tahta. Itu semua merupakan implementasi QS. Ali Imron [3]: 14
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”
Ketergantungan Komponen Dunia
Apa yang tersebut di atas adalah komponen-komponen dunia yang bisa menumbuhkan rasa ketergantungan seorang hamba terhadap dunia:
Yang Pertama, ketergantungan hati. Perasaan cinta pada dunia, merasa memiliki hak atas dunia, serta harus berpalingnya cita-cita awal sebagai seorang hamba akan membuat manusia menjadi budak dunia yang penuh tipu daya. Segala sifat hati yang berhubungan dengan dunia macam kesombongan, dengki, riya’, sum’ah, berburuk sangka, meremehkan orang lain, suka disanjung, kikir, bergaya hedonis dan lain-lain adalah dunia batin yang tak berwujud nyata namun ada.
Yang Kedua, ketergantungan badan. Badan ini menjadi begitu disibukkan untuk mengejar dunia agar hak-haknya terpenuhi. Bekerja, berfikir, semua demi dunia sehingga badan pun terforsir hanya untuk urusan-urusan dunia, lelah, capek, bahkan jatuh sakit tak terhindarkan, akhirnya kepentingan dengan Tuhan pun terabaikan.
Dua ketergantungan inilah yang membuat banyak orang lalai dan terlena oleh dunia. Andai kita tahu siapa diri kita, siapa Tuhan kita, serta tahu akan hikmah dan rahasia di balik terciptanya dunia, maka kita akan tahu bahwa seonggok benda yang kita sebut ini tak lain hanya bekal makanan hewan tunggangan yang menempuh perjalanan jauh menuju Allah Swt. Dan hewan tunggangan itu adalah badan kita, sebab badan tidak akan bisa bertahan tanpa makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggal.
Ibarat seorang hamba yang lupa akan tujuan hidupnya adalah seseorang yang berangkat haji, lalu berhenti di tengah perjalanan untuk mengistirahatkan untanya, memberinya makan dan minum, membersihkannya, menghiasnya, sampai-sampai dia lupa bahwa rombongannya telah jauh meninggalkannya sendiri di tengah hutan yang sewaktu-waktu binatang buas akan menerkamnya. Namun bagi seorang yang berangkat haji dengan niat dan kesadaran akan tujuan utamanya, dia hanya akan mengurus kendaraanya seperlunya saja, tanpa menomorduakan tujuan menuju Ka’bah dan beribadah di sana.
Oleh karenanya, mari kembali pada hakikat hidup sebenarnya, sebagai seorang hamba yang diciptakan hanya untuk menyembahNya. Dan benar-benar kita pahami bahwa dunia hanyalah fasilitas yang diberikan oleh Allah agar kita mampu menempuh perjalanan panjang menuju akhirat. Jangan lupakan diri dan jangan salah mengartikan dunia, karena kita akan tersesat di belantara kehidupan dunia bersama ancaman dan intaian binatang-binatang buas. Wallahu a’lam. [Adi Ahlu Dzikri]
sumber : Majalah Langitan
21.16 | 0 komentar | Read More

Ingat! Cari bekal dunia tapi jangan melupakan bekal akhirat

http://4.bp.blogspot.com/_nqEoc2c5V0w/TDtPSOTipFI/AAAAAAAAAHE/hB81_VY2m-g/s1600/2517989292_1494705a60.jpg
Ketahuilah bahwa cinta dunia merupakan pangkal setiap kesalahan. Namun, dunia juga merupakan ladang akhirat. Jadi dunia itu pada satu sisi menawarkan kebaikan, dan di sisi yang lain racun yang mematikan. Perumpamaannya adalah seperti seekor ular yang diambil oleh ahli obat, lalu ia keluarkan obat itu dari racunnya. Di bagian lain orang bodoh menangkap ular, akibatnya ia tergigit dan mati.
Ya, makanya bisa dikatakan bahwa harta itu termasuk kebaikan tengah-tengah, karena pada satu sisi ia bermanfaat, namun pada sisi lainnya menimbulkan bahaya. Karena itu, semestinyalah kita harta keduniaan itu secukupnya alias jangan melupakan bekal akhirat sedikitpun. Oleh karena itulah di saat kita disibukkan oleh jungkir baliknya mengejar harta/kesenangan di dunia kita tidak boleh melupakan adanya kematian sebagai pintu menuju alam akhirat yang sewaktu waktu akan menyapa kita.
Sebagaimana kita ketajui bahwa perjalanan manusia telah dimulai sejak Nabi Adam AS, pada tahun yang belum diketahui hitungan pastinya.
Manusia pun melihat anak-anak Adam dari generasi ke generasi telah menyelesaikan perjalanannya ke akhirat melalui dunia ini.
Ada yang membutuhkan waktu 100 tahun, 500 tahun, 1.000 tahun, dan kini rata-rata hanya 60-an tahun. Betapa singkatnya waktu tempuh yang dibutuhkan manusia di dunia ini untuk sampai ke akhirat. Bahkan jika diukur dengan hari-hari di akhirat, dimana sehari di sana sama dengan seribu hari di sini, berarti tidak ada satu pun umur manusia di bumi ini yang melebihi sehari di akhirat.
Nabi Muhammad SAW bersabda, bahwa perjalanan di dunia ini ibarat orang menyeberang jalan saja. Sungguh sangat sebentar. Tapi, justru yang sebentar ini banyak membuat orang lupa. Ia mengira dunia ini tempat tujuannya. Padahal dunia adalah mazra’atul akhirah (tempat menanam untuk akhirat). Di sinilah manusia menanam, tapi di akhiratlah ia akan memanen.
Tak satu pun manusia akan lepas dari kematian, karena kematian adalah salah satu ‘terminal’ di tengah perjalanan yang harus dilewati manusia, bahkan menjadi tempat berhenti sejenak. Bagaikan orang bernaung di bawah rindangnya pohon di tengah perjalanan untuk melepas lelah, lalu melanjutkan perjalanannya kembali sampai ke tujuannya, yakni ’ibu kandungnya’. Sebagaimana dituturkan dalam Alquran, ”Adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)-nya, maka tempat kembalinya adalah neraka hawiyah. Dan tahukah kamu, apakah neraka hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas,” (QS Al Qaari’ah: 8-11).
Setiap perjalanan pasti membutuhkan perbekalan. Apalagi perjalanan yang sangat jauh, tentunya bekalnya pun harus cukup supaya selamat sampai tujuan. Bedanya, perjalanan ke akhirat bekalnya tidak berbentuk materi, melainkan amal perbuatan. Setiap orang mempunyai catatan amalnya masing-masing yang dibukukan dalam sebuah kitab. Allah SWT berfirman, ”Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya,” (QS Al Mukminuun: 62).
Bagi orang-orang yang timbangan kebaikannya ringan, artinya perbuatan dosanya lebih besar, maka tempat kembalinya adalah hawiyah. Sedangkan orang-orang yang timbangan kebaikannya berat, ”Maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan,” (QS Al Qaari’ah: 7).
Siapakah mereka itu? Bagi seorang muslim, dunia bukanlah tujuan. Dunia adalah ibu tiri. Dunia bukanlah ibu yang melahirkannya. Seluruh muslim adalah anak-anak akhirat.
Akhirat adalah ”ibu kandung” seluruh umat Islam. Akhirat adalah ”ibu” yang sebenarnya. Tempat mencurahkan cinta dan harapan. Di sanalah manusia menuju dan tempat berakhir. Di sanalah peluk cium yang didambakan selama ini. Dunia adalah tempat muslim ditempa, dididik, dan diuji. Siapa yang lulus dalam ujian itu, merekalah yang berhak diterima di pangkuan ”ibu” di surga. Tapi, siapa pun mereka yang gagal, tempatnya adalah di hawiyah, yakni api neraka yang bergejolak. 
Oleh karena itulah, adalah suatu pilihan yang bijak jika kita tetap selalu ingat betapa pentingnya mempersiapkan  bekal akhirat di tengah tengah kita disibukkan mengejar dan mencari bekal dunia.
Semoga bermanfaat. 
http://blogkluargasakinah.blogspot.com/2011/04/cari-bekal-dunia-tapi-jangan-melupakan.html

21.14 | 0 komentar | Read More

Persiapan Menjelang Kematian: Al-isti’daadu liyaumirrahiil (PERSIAPAN MENJELANG KEMATIAN)

Persiapan Menjelang Kematian
“Berbekallah dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah Taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang  berakal.” (Al-Baqarah: 197)
Bayangkan ada sebuah gambar, dimana di gambar tersebut terdapat sebuah taman yang indah. Ada menara tinggi di sisi kiri taman. Ketika kita melewati taman itu, ada sebuah godaan yang meminta kita datang ke menara yang tinggi itu, padahal godaan itu sebetulnya hal yang dilarangan. Apakah kita pergi ke menara tinggi itu?
Itulah analogi kehidupan. Ketika Allah sudah memerintahkan dan membuat larangan pada umat-Nya, tetapi umat tidak mengikuti perintah, maka Allah murka. Padahal jelas-jelas Allah menjanjikan syurga bagi umat-Nya apabila selalu mengikuti perintah dan menjauhi larangan.
Dalam Surat Al-Baqarah:197 di atas, kita wajib untuk bertaqwa pada Allah. Jika kita tidak bertaqwa, itu artinya kita tidak menggunakan otak kita. Apa itu makna taqwa? Menurut imam Ali Bin Abi Thalib RA, ada 4 makna taqwa, yakni  Al-Khaufu Minal Jaliil, Wal ‘amalu Bittanziil, Warridhoo Bil Qaliil, dan Wal Isti’daadu Liyaumirrahiil.
http://wansyur90.files.wordpress.com/2011/07/malam-gelap-jiwa.jpg
Setiap orang bertaqwa, pasti mengerti akan tujuan hidup ini. Dunia bukan akhir hidup. Masih ada kehidupan yang kekal di akhirat nanti. Oleh karena itu, orang bertaqwa mengerti makna kehidupan di dunia ini, yakni sebagai tempat kita Transit dalam sebuah perjalanan. Syurga adalah tujuan akhir orang yg Beriman. Lalu dunia merupakan ladang amal untuk Kebahagiaan dunia dan akhirat. Terakhir, bagi orang bertaqwa mengerti bahwa dunia ini semu, sementara dan menipu bagai fatamorgana.
Oleh karena dunia hanya sementara, maka kita perlu mempersiapkan diri untuk kematian, menuju alam yang kekal. Lalu bagaimana persiapan kita menuju akhirat? Kebanyakan manusia terlena, lupa, dan pada akhirnya terlambat. Padahal surat Al-‘Araf(7):34 jelas-jelas menyebutkan: “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang waktunya tidak dapat mengundurnya barang sesaatpun dan tidak dapat pula memajukannya. “
Surat Al-‘Araf di atas memberitahu pada kita kita selalu beribadah dalam kondisi apapun, agar mendapatkan ridho Allah. Kita pun wajib berdoa agar istiqomah. Dengan begitu, Insya Allah kita akan wafat dalam keadaan husnul khatimah. Jangan sampai kita menyesal, karena belum memiliki bekal di akhirat, sebagaimana yang dituliskan dalam Al-Qur’an surat Al-Mu’minum ayat 23 ini:
“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata :”Ya Tuhanku kembalikan aku (ke dunia).” Agar aku berbuat AMAL yg Sholeh terhadap yang aku tinggalkan.” Sesekali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yg diucapkannya saja. Dan dihadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” (Surat Al-Mu’minun 23:99-100)
http://anarufaidahphay.wordpress.com/2012/05/06/al-istidaadu-liyaumirrahiil-persiapan-menjelang-kematian/
21.12 | 0 komentar | Read More

Ketahuilah Macam-Macam Siksa Neraka


"Maka orang-orang kafir itu, pakaian mereka dibuatkan dari api neraka, lalu disiramkan ke atas kepalanya rebusan air mendidih. Hancur luluhlah isi perut dan kulit-kulit mereka" QS Al-Hajj: 19-20.

Ketika peristiwa Isra' Mi'raj, Rasulullah saw diperlihatkan kepada pemandangan penduduk neraka. Diantaranya, ada orang yang lidahnya setiap saat semakin panjang, hingga berlilit-lilit dan diinjak-injak orang di jalan.

Lantaran merasa kesakitan, orang itu lalu menggunting lidahnya. Akan tetapi lidahnya kembali menjadi panjang, lalu diguntingnya kembali. Begitulah keadaannya seterusnya.

Ada lagi seseorang yang membawa bara neraka di sebuah piring. Lalu bara itu dimakannya, langsung tembus dari mulut hingga ke anusnya. Orang itu melolong sangat kesakitan, namun bara itu kembali dimakannya, dan tembus lagi sampai ke anusnya, dia melolong kembali. Begitulah seterusnya.

Ada pula orang yang perutnya sebesar kamar, setiap akan berdiri, orang itu langsung terbanting jatuh. Dicobanya lagi berdiri, namun ia jatuh lagi. Begitulah seterusnya.

Ada juga pemandangan perempuan lacur, orang yang saling pukul kepala dengan martil dan sebagainya.

Rassulullah saw bertanya kepadaa Malaikat Jibril yang menemani beliau saw: "Apa dosa-dosa orang itu wahai Jibril," tanya Rasulullah saw.

Malaikat Jibrilpun menjelaskan, bahwa orang yang memotong-motong lidahnya itu, adalah diakibatkan dosanya yang sering bergunjing, membicarakan keburukan saudaranya.

Adapun orang yang memakan bara api neraka itu disebabkan, karena waktu di dunia ia suka memakan harta anak yatim dengan cara tidak benar. Sedangkan orang yang perutnya sebesar kamar itu disebabkan dosanya yang suka memakan riba, bunga uang.

Lalu malaikat Jibril bercerita tentang api neraka. Bahwa Allah swt, telah menyalakan api neraka itu selama 1.000 tahun, sehingga apinya menjadi merah padam bernyala-nyala.

Lalu dipanaskan lagi 1.000 tahun, lantaran suhu panasnya, api itu berubah warna menjadi putih. Lalu Allah swt memanaskannya selama 1.000 tahun lagi, hingga apinya berubah menjadi hitam pekat dan gelap.

"Jika ada manusia yang dilemparkan ke dalamnya, maka sekejap saja langsung akan musnah," ujar Jibril.

Kemudian malaikat Jibril pun menangis. "Mengapa engkau menangis Ya Jibril," tanya Rasulullah saw. "Aku takut kepada jiwaku," ucap Jibril.

"Bukankah engkau adalah malaikat, yang tidak mungkin berbuat maksiat kepada Allah swt," kata Nabi saw.

"Benar, akan tetapi takdir Allah bisa berlaku atas siapa saja. Bukankankah Iblis itu asalnya adalah penduduk Surga, lalu berlaku takdir Allah swt atasnya. Hingga Iblis menjadi penghuni Neraka," urai Jibril.

Ya Allah, kami berlindung pada-Mu dari api neraka dan segala apa yang mendekatkan kami kepadanya, baik niyat, perkataan, perbuatan maupun tekad-tekad kami. Amien.

Ada seroja  yang tengah merona
Simbol kota-raja semakin merekah
Apa bahagia yang paling sempurna
Berkumpul keluarga di syurga Allah 

Sumber : http://ramadhan.antaranews.com/berita/388104/jibril-menangis
21.06 | 0 komentar | Read More

Lampu Islam: Sudahkah Anda Mempersiapkan Diri untuk Menyambut Akhirat?

Dalam Al-Qur'an, Allah S.W.T. berfirman:
“Mereka yang berjuang di jalan Kami, maka Kami akan menuntun mereka kepada jalan Kami."
(Q.S. Al-Ankabuut:69)
 
Jalan menuju Allah S.W.T. hanya ada satu, tapi seperti layaknya jalan tol, dia mempunyai beberapa jalur. Allah menciptakan manusia berbeda-beda dan Allah menciptakan sebuah jalan tol yang besar bagi manusia yang menuntun mereka menuju surga. Karena setiap orang berbeda-berbeda, maka Allah menyediakan banyak jalur bagi mereka.
Rasulullah S.A.W. memilih-milih sahabatnya sebagai pemimpin. Rasulullah S.A.W. tidak pernah memilih Khalid ibnu Walid untuk berdakwah karena dia lebih pandai dalam mengatur strategi militer. Dengan cara itulah Khalid ibnu Walid R.A. menjadi salah satu kontributor terbesar Islam. Sementara Ibnu Abbas R.A. atau Abdullah Ibn Umar R.A. yang ditunjuk Rasulullah untuk mengajarkan ilmu pengetahuan.
Jadi memang benar bahwa jalan kepada Allah hanya ada satu tapi terbagi dalam beberapa jalur. Dan kau perlu mencari jalur yang paling cocok untukmu. Bakat apa yang diberikan Allah kepadamu sehingga kau dapat memberikan kontribusi terbaik kepada Allah S.W.T.
Kita memilih karir yang paling sesuai dengan keahlian kita. Tapi mengapa dalam agama Allah S.W.T. kita tidak serius menanggapinya?
Temanku mendapatkan pekerjaan yang jaraknya sekitar 300 km dari Toronto, dan dia memutuskan untuk pindah kesana. Dalam beberapa minggu terakhir, dia mempelajari kotanya dari setiap sudut. Dia tahu jumlah penduduknya, dia tahu berapa biaya beli/sewa rumah, dia belajar pasar-pasar yang ada disana, sekolah yang ada disana, jumlah penduduk muslimnya. Dia tahu tentang tempat itu sampai-sampai dia sendiri pergi ke tempat itu beberapa kali.
Pertanyaannya, kenapa dia melakukan itu? Jawabannya adalah karena orang ini menanggapi kepergiannya dengan serius.
Dan kita tahu bahwa kita akan segera pergi ke alam akhirat, tapi apakah kita menanggapi kepergian ini dengan serius? Apakah kau telah merencanakan apa posisimu di dalam surga? Dalam surga tingkat mana kau berada? Siapa saja teman-teman yang kau inginkan di surga? Jika kau tidak menanggapi kepergianmu dengan serius, maka kau tidak akan pernah siap untuknya. Dan itulah yang Allah firmankan dalam surat Al-Hasyr.
Allah S.W.T. berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan biarkan setiap jiwa berencana untuk esok hari.”
Apa maksud Allah tentang “hari esok” ini? Apakah Allah membicarakan tentang “hari esok” ketika kau mendapatkan pekerjaan? Apakah Allah membicarakan tentang “hari esok” ketika kau menikah? Apakah Allah membicarakan “hari esok” ketika kau pindah ke negara lain atau kota lain? Apakah Allah membicarakan “hari esok” ketika kau pindah ke rumah yang baru? Allah S.W.T. membicarakan tentang kehidupan akhirat karena itulah “hari esok yang sebenarnya.”
Aku kenal dengan seorang pria yang bekerja begitu keras untuk pergi dari kontrakannya dan ingin punya rumah sendiri. Dan pria ini tidak suka dengan hipotik, dia tidak ingin terlibat dengan riba. Tapi karena tekanan dari istri, keluarga, dan kerabatnya, akhirnya dia menyerah dan memutuskan untuk mengambil hipotik. Jadi dia membangun sebuah rumah tapi dia mengambil pinjaman dari bank (riba). Ketika rumah itu sudah jadi, pada hari mereka seharusnya menempati rumah itu, pria itu meninggal dunia. Dia belum sempat menempati rumah itu, tapi dia malah menempati rumah yang lain, dia sampai ke “hari esok yang sebenarnya.” Dia punya rencana, tetapi Allah punya rencana yang lain untuknya.
Jadi kita harus memastikan hal ini tidak terjadi kepada kita, rencana kita harus sesuai dengan rencana Allah S.W.T. karena itulah pokok ajaran Islam. Allah telah menetapkan keinginan-Nya dan Dia telah memberikanmu pilihan. Jika kau berusaha agar keinginanmu sesuai dengan yang Allah inginkan, maka kau akan sukses. Tapi jika kau punya rencana lain yang bertentangan dengan ketetapan Allah S.W.T., maka kau akan menanggung akibatnya.
Berapa lama kau berharap untuk hidup di dunia ini? Jika kau hidup di atas 70 tahun, maka kau menghabiskan sebagian besar waktumu di rumah sakit mengejar perawatan medis, jadi merupakan penderitaan bagimu.
Jadi berapa lama kau akan hidup? Cobalah tanya orang berumur 60 tahun dan mereka akan memberitahumu “60 tahun hidupku terasa begitu singkat.” Tahun-tahun berlalu secepat kedipan mata. Aku sendiri merasa baru kemarin aku berumur 20 tahun. Ini adalah sebuah khayalan belaka, semakin tua dirimu maka semakin sedikit waktumu. Ketika kau melewati 20 tahun, hidup terasa seperti menaiki roller coaster.
Banyak orang dan sayangnya sebagian orang yang mengajarkan para umat muslim, bisa saja mereka adalah imam, mereka bisa saja ulama aliran tertentu, ketika mereka berceramah kepada orang-orang tentang Islam, mereka berkata “Kehidupan akhirat jauh lebih baik dari dunia ini. Kenapa menghabiskan waktumu dalam mengejar pendidikan, mendapatkan kedudukan, mendapatkan pekerjaan? Pikirkan saja tentang akhirat.” Apakah kau pernah mendengar ceramah seperti itu?
Tapi ini bukanlah ajaran Nabi Muhammad S.A.W. yang sebenarnya. Ya, kau memang harus memikirkan tentang akhirat, kau harus menggapai surga, tapi bagaimana mungkin kau dapat menuju surga tanpa dunia ini? Segala hal di dunia ini termasuk kekayaan, pendidikan, dan sebagainya diberikan Allah S.W.T. kepadamu bukan untuk menjauhkanmu dari akhirat. Allah tidak mau menyulitkanmu. Malah di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Allah hendak menerangkan (hukum syari'at-Nya) kepadamu." (An-Nisaa':26)
Allah ingin mengajarkan pelajaran berharga dari umat sebelumnya. Dan Allah ingin menerima taubatmu dan kemudian dalam 2 ayat berikutnya, Allah S.W.T. berfirman:
  “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.”
(An-Nisaa':28)
Jadi Allah ingin meringankan bebanmu, karena memang manusia diciptakan sebagai makhluk yang lemah.
Jadi mengapa Allah S.W.T. memberikan kita segala kesenangan ini, misalnya uang, kekayaan, kedudukan, keluarga, dan pendidikan? Allah memberikan semua ini sehingga kita dapat menggunakannya sebagai alat untuk mencapai surga. Hanya ketika kau menggunakannya dalam jalan yang salah, maka mereka menjadi gangguan. Tapi jika kau menggunakannya dalam jalan yang benar, maka inilah jalan terbaik untuk menuju akhirat.
Banyak orang yang berpikir bahwa Islam adalah menjauhi kehidupan duniawi sejauh mungkin, menjalani hidup pas-pasan, dengan begitu kau akan masuk surga. Tapi ini bukanlah pesan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad S.A.W. atau para sahabatnya.
Ali bin Abi Thalib R.A. Dia berkata “Dunia ini adalah tanah yang subur untuk menuju akhirat.” Jadi kau tidak dapat ke surga tanpa sumber daya yang Allah tempatkan dalam hidup ini.
Dan inilah mengapa Amru bin Ash R.A. ketika dia masuk Islam dan Rasulullah S.A.W. memberitahunya “Aku akan mengirimmu dalam sebuah ekspedisi militer. Dari ekspedisi ini kau akan mendapatkan banyak kekayaan dan Allah akan memberikanmu kemenangan.” Amru bin Ash berkata “Ya Rasulullah, tujuanku masuk Islam bukanlah untuk mendapatkan apapun di dunia ini, aku tidak mau memiliki kekayaan.” Rasulullah S.A.W. menasihatinya “Orang saleh yang mempunyai kekayaan adalah suatu rahmat yang besar.” Jadi Rasulullah S.A.W. menyarankan Amru bin Ash untuk menggapai kekayaan itu, karena dia tahu bahwa Amru adalah orang yang saleh dan dia akan menggunakannya untuk tujuan yang baik.
Umat muslim yang miskin suatu hari mengunjungi Rasulullah S.A.W. dan mereka berkata “Ya Rasulullah, umat muslim yang kaya sudah memberikan sedekah yang banyak, mereka membelanjakan uang mereka di jalan Allah S.W.T., tapi kami tidak punya banyak uang seperti mereka. Jadi mereka akan lebih tinggi derajatnya di mata Allah.” Dan Rasulullah S.A.W. mengajarkan mereka untuk berdzikir “Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha ilallah, Allahuakbar” sebanyak 33 kali. Rasulullah S.A.W. berkata “Jika kalian melakukan itu, tak ada seorang pun yang dapat mengalahkan kalian.” Jadi mereka melakukan hal itu, tapi setelah beberapa lama mereka kembali lagi kepada Nabi Muhammad S.A.W. dan berkata Umat muslim yang kaya juga berdzikir seperti itu. Mereka bersedekah dari harta mereka dan mereka melakukan dzikir yang sama, sehingga mereka mendapatkan pahala yang lebih banyak daripada kami.” Rasulullah S.A.W. bersabda “Itulah rahmat dari Allah S.W.T. yang diberikan kepada siapapun yang Dia mau.”
Ini berarti jika kau adalah seorang muslim yang kaya, punya berpendidikan, punya kekuatan, punya pengaruh, artinya kau punya kesempatan yang lebih besar untuk masuk surga di tingkat yang lebih tinggi. Inilah mengapa Rasulullah S.A.W. bersabda “Muslim yang kuat lebih disukai Allah daripada muslim yang lemah.”
Jadi bagaimana caranya kita bersiap-siap untuk akhirat? Kau bersiap-siap untuk akhirat dengan memanfaatkan dunia ini sebagai jembatan ke surga. Itulah bagaimana Rasulullah S.A.W. dan para sahabat menjalani kehidupan.
Dan Rasulullah S.A.W. pada akhir hidupnya begitu kaya sampai-sampai setelah pertempuran Hunain, ketika orang-orang baru masuk Islam setelah penaklukkan Mekkah, Rasulullah S.A.W. biasanya memberikan salah satu dari mereka sebuah lembah yang dipenuhi unta. Bayangkanlah, sebuah lembah yang dipenuhi unta bernilai jutaan dollar saat ini. Jadi Rasulullah S.A.W. adalah orang yang kaya raya tapi dia menggunakan uang dan kekayaannya untuk mendekatkan diri kepada Allah S.W.T. dan untuk memperkuat Islam.
Bayangkan apa yang akan terjadi jika semua muslim adalah orang-orang miskin atau tidak berpendidikan, maka komunitas seperti apa yang akan kita punya?
Dan Rasulullah S.A.W. bersabda “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” Itu artinya ketika kau mempunyai kekayaan, mempunyai otoritas, mempunyai kekuatan, maka kau berada dalam posisi yang lebih baik dalam bersedekah di jalan Allah.
Jadi bagaimana kita memanfaatkan kehidupan ini? Ketika kau pergi untuk belajar sesuatu atau bisnis, kau biasanya merencanakan segala sesuatunya dengan baik, kau punya rencana yang matang, kau mempelajarinya dengan baik. Kau mempelajari berapa banyak sumber daya yang kau miliki, berapa banyak uang yang kau perlukan, bakat apa yang telah ditanamkan Allah padamu?
Misalnya sebagian orang punya kelebihan dalam seni, maka mereka belajar desain grafis. Sebagian orang punya kelebihan dalam bidang bisnis, maka mereka belajar administrasi bisnis, dan sebagainya.
Jadi biasanya kita sudah mempunyai rencana untuk masa depan kita, untuk hari esok. Namun rencana apa yang kau miliki untuk akhirat? Apakah kau tahu aset apa saja yang telah diberikan Allah padamu jadi kau dapat menggunakannya untuk lebih dekat kepada Allah S.W.T.? Itulah bagaimana caranya bersiap-siap untuk akhirat.
Hubungan kita dengan Allah S.W.T. adalah sebuah bisnis. Lihatlah surat Ash Shaff dimana Allah S.W.T. berfirman "hal adullukum 'alaa tijaaratin tunjiikum min 'adzaabin aliimin." “Maukah kalian kutuntun ke dalam sebuah perniagaan yang akan menyelamatkanmu dari hukuman yang amat buruk? (yaitu) kalian beriman pada Allah dan kalian berjuang untuk Allah S.W.T.” Jadi ini adalah sebuah transaksi bisnis. Bagaimana mungkin kau memulai bisnis tanpa mempunyai perencanaan yang matang? Jadi kau harus tahu dengan pasti apa yang kau miliki dan apa yang telah diberikan Allah kepadamu.
Hal lain yang dapat membantu kita semua bersiap-siap untuk hari akhirat adalah dengan menciptakan batas waktumu.
Jika kau diberikan 1.000 dollar dan kau harus bertahan hidup dengan uang itu selama seminggu. Apa yang akan kau lakukan? Dalam seminggu kau akan menggunakan uang 1.000 dollar itu. Tapi jika kau diberikan 1.000 dollar untuk bertahan selama 1 bulan penuh, tentunya rencanamu akan berbeda. Kenapa begitu? Karena batas waktunya.
Jadi ketika kau punya sebuah proyek, biasanya batas waktumu punya pengaruh yang kuat tentang bagaimana kau akan mengerjakan rencana itu.
Ketika orang-orang menemui kesukaran hidup, ada orang-orang yang tetap sabar. Tapi juga ada orang-orang yang menjadi hancur karenanya. Siapa orang-orang yang dapat bertahan? Biasanya adalah orang-orang yang mempunyai batas waktu/perspektif waktu yang tepat. Allah S.W.T. mengajarkan hal ini dalam Al-Qur’an:
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah:155)
Orang-orang yang sabar akan selamat dari musibah. Orang-orang sabar adalah mereka yang menjaga sikap dan perilaku mereka meskipun dalam waktu-waktu sulit.
Allah S.W.T. berfirman “alladziina idzaa ashaabat-hum mushiibatun qaaluu innaa lillaahi wa-innaa ilayhi raaji'uuna.” (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kami akan kembali kepada Allah.”
Apa artinya ini? Ini artinya kita berasal dari Allah S.W.T. karena Dia-lah yang menciptakan kita dan Allah memberikan batas waktu bagi kita. Ini artinya kehidupan kita tidak dimulai dengan kelahiran dan diakhiri dengan kematian. Kehidupan kita lebih lama daripada sekedar kehidupan duniawi. Jadi meskipun aku menemui kesulitan, aku tak akan menyesalinya terus-menerus. Meskipun kesulitan menerpaku saat ini, tapi aku tidak khawatir karena aku mempunyai masa depan yang cerah di sisi Allah S.W.T. Begitu banyak yang akan kunikmati dan manfaat yang menungguku di depan. Dan inilah yang membuat orang-orang menjadi sabar dan selamat dari musibah apapun, karena mereka mengharapkan kesenangan di akhirat. Mereka punya mimpi, tidak seperti orang-orang yang terkungkung dalam keadaan sulit dan hancur karena tekanan hidup.
Jadi kematian sebenarnya hanyalah permulaan. Kehidupan baru dimulai setelah kita mati. Itulah mengapa Allah S.W.T. berfirman dalam surat Al-Ankabuut
“Dan sesungguhnya akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya” (Al-Ankabuut:64)
Di dunia ini kau tidak punya kehidupan yang sebenarnya. Ini hanyalah sebuah ujian. Jadi misalnya kau bermimpi untuk menggapai sesuatu di dunia ini, sebenarnya kau tidak dapat menggapainya. Kau mungkin mencapai sebagian darinya, tapi mimpimu seharusnya diarahkan untuk akhirat. Jika kau melakukan hal itu, maka kau mulai menanggapi akhirat dengan serius.
Aku ingin menceritakan sebuah kisah nyata padamu. Ada seorang perempuan di Amerika Serikat dan dia bukan seorang muslim. Dia memilih jurusan psikologi di kampusnya dan dia sangat cerdas. Dia mendapatkan nilai A dalam semua bidang studi. Dan hanya 2 minggu sebelum kelulusannya, dia mengalami kecelakaan mobil sehingga terjadi cedera di bagian kepalanya. Dia jatuh dalam koma. Ketika terbangun, dia sudah tidak ingat siapa dirinya, tidak ingat apapun tentang pendidikannya, bahkan dia tidak ingat dengan keluarganya. Semua kerja kerasnya selama bertahun-tahun telah hilang. Dan dokter memberitahunya mengatakan bahwa dia tidak punya harapan untuk mendapatkan ingatannya kembali.

Karena musibah ini, dia memutuskan untuk melarikan diri dari rumahnya karena hubungan dengan ayahnya juga semakin memburuk. Ayahnya adalah seorang psikiater dan dia berkata bahwa ketika dia terbangun di tengah malam, dia menemukan ayahnya sedang menggenggam sebuah pisau menghampirinya.
Kehidupannya menjadi begitu sulit sehingga akhirnya dia bekerja di klub malam sebagai seorang pelacur panggilan. Pada suatu hari perempuan ini berkata “Aku memutuskan untuk mengakhiri hidupku dengan menabrakkan mobilku.” Dia melakukan itu untuk mengakhiri hidupnya yang penuh penderitaan. Jadi dia mengemudi dan berkata “Tapi aku tidak bisa melakukan hal itu. Malam itu sedang hujan deras. Jadi aku menepi di sebuah pom bensin dan aku kehilangan ingatanku. Aku tidak bisa ingat apa yang kulakukan. Tapi setelahnya, orang-orang memberitahu apa yang sudah kulakukan. Aku keluar dari mobil dan mulai menggedor-gedor kap mobil dan mengatakan sesuatu. Dan hanya ada satu kata yang kukatakan. Pada saat itu, aku tidak pernah berhubungan dengan umat muslim, malah orang-orang memberitahuku untuk menjauhi mereka.” Karena di lingkungan tempat tinggalnya ada sebagian muslim “Aku biasa mendengar beberapa kata yang mereka ucapkan ketika beribadah. Orang-orang yang bekerja di pom bensin adalah orang-orang Hindu dan mereka mengenalku. Mereka membawaku ke rumah sakit dan lagi-lagi aku jatuh dalam keadaan koma. Ketika aku terbangun, mereka memberitahuku bahwa: Kau mengatakan sesuatu yang aneh. Kau keluar dari mobilmu, kau menggedor-gedor kap mobilmu, kau berteriak dan menangis, air matamu mengalir deras dan kau mengatakan sesuatu yang tidak dapat kami mengerti, tapi kami kira itu adalah kata yang diucapkan umat muslim.” Dan tebak kata apa itu? Dia mengatakan “Bismillah.” Saudari itu sendiri (sekarang masuk Islam) yang menceritakan kisah ini kepadaku. Dia berkata “Demi Allah, pada saat itu aku tidak tahu apa artinya “Bismillah” dan aku tidak tahu kenapa aku mengucapkannya.”
Kemudian dia menjalani terapi dengan seorang psikiater. Pada suatu malam dia menjadi depresi lagi, dan pada saat ini, dia sudah akrab dengan psikiater perempuan yang menanganinya. Dan psikiaternya pada malam itu sedang pergi berlibur untuk jangka waktu satu bulan. Jadi dia memberitahunya “Jika kau butuh bantuan, telepon wanita ini dan dia akan menolongmu.” Dan perempuan ini melakukannya. Pada malam itu, dia menghubungi nomor itu dan wanita di ujung telepon menjawabnya, kemudian dia berkata “Dengar. Aku butuh bantuanmu. Aku sedang dalam kondisi yang sangat buruk, dan kau harus menolongku sekarang.” Wanita di ujung telepon berkata “Oke, dimana dirimu?” Perempuan itu memberitahu alamatnya dan dia berkata “Aku ada di jalan yang sama denganmu. Yang harus kau lakukan hanyalah mengemudi 5 menit ke arah selatan.” Dia memberikan alamatnya dan berkata “menepilah disana dan berjalanlah ke dalam kantorku.” Perempuan itu berkata “Tapi ketika aku sampai di alamat itu, ternyata itu bukanlah sebuah kantor. Ketika aku mengamatinya, itu adalah sebuah “Islamic Center”, sedangkan aku diberitahu untuk menjauhi umat muslim.” Dia berkata “Aku menghubungi wanita itu lagi dan berkata: Aku ada diluar tapi aku tidak melihat kantormu. Aku hanya melihat sebuah “Islamic Center” atau sebuah masjid. Wanita itu berkata “Sebenarnya kantorku ada di dalam masjid.” Perempuan itu berkata “Aku tidak mempercayaimu.” Wanita itu berkata “Masuk saja ke dalam kantorku.” Tapi perempuan itu menolaknya. Jadi wanita itu berkata “Oke, aku yang akan menghampirimu.”  Jadi wanita itu menghampirinya di dalam mobil dan berbincang-bincang dengannya. Setelah mereka mulai akrab, perempuan itu mulai bercerita tentang penderitaannya.
Kemudian mereka mulai membangun hubungan pertemanan hingga akhirnya perempuan ini masuk Islam. Dia menjadi seorang muslim tapi dia tidak punya tempat tinggal, tidak ada seorang muslim pun yang memberikannya tempat untuk dia tinggal. Itulah pertama kalinya dia berhubungan dengan komunitas muslim.
Jadi apa yang terjadi selanjutnya? Salah satu imam yang terkenal, bernama Imam Ziya’. Dia lahir di Inggris dan saat ini dia ada di Islamic Center of Irving, California. Dia pindah dari apartemennya sendiri dan dia membiarkan perempuan ini tinggal disana untuk beberapa bulan. Semoga Allah merahmati Imam ini. Inilah contoh seorang muslim yang sejati.
Kemudian perempuan ini ingin pergi ke sebuah negara muslim, jadi dia memutuskan untuk pergi ke Maroko. Pada saat dia menaiki taksi dari bandara, itulah pertama kalinya dia menginjakkan kaki di sebuah negara muslim. Tidak ada yang spesial tentang Maroko dan hal ini bisa terjadi kepada siapa saja di negara manapun. Supir taksi itu mencoba untuk menculiknya dan mengemudi ke padang pasir. Tapi untunglah karena dia dididik dalam lingkungan yang sulit, dia berkata “Aku tahu caranya berkelahi seperti seorang pria. Jadi aku mematahkan hidung pria ini dan berhasil melarikan diri.” Dia tetap di Maroko selama beberapa bulan dan sudah dua kali ada yang berusaha untuk menculiknya. Dan para penculik itu adalah orang-orang muslim.
Pada akhirnya dia terlibat dalam masalah karena semua kejadian ini dan dikirim kembali ke Amerika. Dan di Amerika, dia mulai membantu para pengungsi muslim. Disamping dia, ada seorang pendeta yang sedang melakukan misionarisnya. Pendeta ini mencoba untuk menolong para muslim imigran dan menyediakan segala kebutuhan mereka hanya untuk membujuk mereka masuk Kristen. Perempuan ini berkata “Aku mulai menolong para pengungsi dan bersaing dengan pria itu. Alhamdulillah aku juga mendapat bantuan dari beberapa muslim.” Akhirnya perempuan ini difitnah oleh pendeta itu dengan tuduhan palsu. Jadi dia berurusan dengan kepolisian. Dan dia tidak diperbolehkan keluar negeri.
Tapi pada akhirnya setelah semua selesai, Alhamdulillah, dia menemukan seorang suami di Mesir, seorang Muslim yang baik dan mereka sudah menikah sekarang. Mereka mempunyai seorang anak laki-laki.
Dan setelah dia menjadi muslim, dia berkata seluruh hidupnya berubah. Perempuan malang ini, yang telah melewati semua kesulitan ini, jika kau bertanya padanya “Apa yang kau inginkan? Bantuan jenis apa yang kau butuhkan?” Dan beberapa organisasi muslim sudah menanyakannya beberapa kali, tapi dia berkata “Aku tidak ingin apa-apa.”
Dan alasan mengapa kami menawarinya bantuan adalah karena proyek yang dikerjakannya. Dia membangun sebuah website tapi sayangnya website itu sedang tidak aktif saat ini karena kekurangan tenaga manusia, tapi dia punya beberapa “Facebook Page” untuk para muallaf. Ada lebih dari 12.000 muallaf yang dia berikan dukungan seorang diri. Dia memberikan mereka dukungan moral dan saran. Dia juga punya hubungan dengan para ulama dari berbagai aliran yang membantunya tentang fatwa-fatwa Islam, dan dia bekerja 17 jam sehari dari rumah dan dia tidak mendapatkan sepeser uang pun. Dia berhasil menikahkan sebagian dari mereka. Semua dikerjakan sendiri dan dia sangat sukses. Dia sudah melewati semua perjuangan ini dan sudah mengubah kehidupan puluhan ribu orang. Dukungan apa yang dia dapat? Tidak ada. Apakah dia mendapatkan uang karena kerjanya? Tidak sama sekali.
Jadi yang pertama, bangun hubunganmu dengan Allah S.W.T. Kau ingin menjadi salah satu pemain basket yang terkenal? Jadikan basket sebagai penghubung dirimu dengan Allah S.W.T. Kau ingin menjadi seorang wirausahawan yang sukses? Tidak masalah. Kau ingin menjadi profesor, mendapatkan gelar Ph.d.? Kejar dan raihlah. Tapi lakukan dalam alasan yang benar, lakukan itu untuk kepentingan Allah S.W.T. dan kujamin kau akan mencapai potensi penuhmu. Karena ketika kau hanya bekerja untuk dunia, kau tidak bisa mencapai potensi penuh. Hatimu diciptakan hanya untuk Allah S.W.T., dan jika kau menempatkan Allah S.W.T. sebagai tujuan utamamu, dunia akan menyediakan segala yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan utama itu. Kau akan menjadi sukses karena kau mempunyai makna kehidupan yang sebenarnya.  
Ada begitu banyak orang yang ketika mereka mencapai puncak, maka mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan setelahnya. Jadi mereka akhirnya menjadi pecandu narkoba, mereka akhirnya melakukan hal-hal yang buruk.

Banyak orang yang berpikir bahwa sekali kau berhubungan dengan Allah S.W.T., maka kau harus membuang dunia. Tidak begitu. Banyak orang yang berpikir bahwa sekali mereka menjauhkan Allah S.W.T. dan Islam dari hidup mereka, maka mereka akan mendapatkan dunia. Tidak begitu. Siapa yang menciptakan kehidupan ini, kekayaan, ketenaran dan kesuksesan? Semua diciptakan Allah, jadi ketika kau menghubungkan diri dengan Allah, maka kau langsung menuju ke sumbernya, yaitu Allah S.W.T. Jika kau tulus kepada-Nya “Ya Allah berikan aku...” maka Dia langsung memberikanmu, Dia tidak keberatan memberikanmu.
Allah S.W.T. berulang-kali dalam Al-Qur’an berfirman bahwa Dia menciptakan segala sesuatu di langit dan di bumi untuk melayani dan memudahkan kehidupanmu, dan tujuan utamanya adalah agar dirimu menyembah Allah S.W.T. Jadi pada saat kau hanya mengejar hal-hal duniawi dan melupakan Allah, maka pelayanmu akan menjadi Tuhanmu dan kau akan menjadi pelayan mereka. Tapi jika tujuanmu adalah Allah S.W.T., maka dunia menjadi pelayanmu untuk menuju Allah S.W.T.
Jadi ingatlah 2 hal: 

Yang pertama, jalani kehidupanmu untuk Allah S.W.T. dan kau akan menjadi sukses dalam bidang lainnya.

Yang kedua, pastikan batas waktumu. Kau tidak diciptakan untuk hidup hanya selama 70 tahun. Kau diciptakan untuk hidup selamanya. Jadi 70 atau 80 tahun bukanlah apa-apa. Jadi pastikan ketika kau merencanakan masa depanmu, maka pastikan bahwa masa depan yang sebenarnya yang kau kerjakan. Sekali kau punya fokus yang lebih dalam, wawasan yang lebih luas, maka masa depan yang dekat yaitu pendidikanmu, profesimu, karirmu, itu semua secara otomatis sudah dibereskan, karena Islam membentukmu menjadi seorang manusia yang ideal dan tidak ada seorang pun yang dapat menggapai potensi penuhnya sebagai manusia kecuali dengan Islam.
Rasulullah S.A.W. beserta para sahabat bukanlah orang-orang yang gagal, mereka punya kisah sukses. Jadi ketika kau meminta kepada Allah S.W.T. untuk jalan yang lurus, itu berarti kau meminta kepada Allah S.W.T. untuk kehidupan yang ideal. Kehidupan yang ideal di dunia ini yang akan menjadi pijakan pertama untuk menggapai surga. Itulah Islam.
Jika kau pikir Islam adalah tentang membuat hidup menjadi sengsara maka kau masuk surga, maka itu bukanlah Islam yang diajarkan Rasulullah S.A.W. Islam yang diajarkan Rasulullah S.A.W. adalah untuk membantumu menggapai potensi penuhmu dan hanya dengan cara itulah kau memenuhi syarat untuk masuk surga.
Aku ingin menutup tulisan ini dengan kutipan dari Imam Ibnu Qayyim, dia berkata ”Wallahi, dalam dunia ini juga ada surga, siapapun yang gagal memasukinya, maka dia tidak akan memasuki surga di akhiratsurga di dunia itu adalah cara menghubungkan diri kita dengan Allah S.W.T.
http://www.lampuislam.blogspot.com/2013/02/sudahkah-anda-mempersiapkan-diri-untuk.html
21.05 | 0 komentar | Read More

YANG TERBARU DARI BAGINDAERY

BACA JUGA

DAFTAR LENGKAP ARTIKEL BLOG BAGINDAERY

Ikuti situs Bagindaery

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...