ARTIKEL PILIHAN

GOOGLE TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

ARTIKEL PILIHAN

Tampilkan postingan dengan label Sebuah Sisi Lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sebuah Sisi Lain. Tampilkan semua postingan

Ketika Seseorang Mencapai Usia Empat Puluh Tahun (Semoga tulisan itu menginspirasi Anda dan menambah makna hidup Anda)

Written By Situs Baginda Ery (New) on Senin, 14 November 2016 | 15.01

“hidup dimulai usia 40 tahun” (Rudy Harahap, Republika 15 Agustus 2003)


Demi masa Sesungguhnya manusia itu benar benar berada dalam kerugian Kecuali 
orang orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati 

Supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran 

(surat Al ‘Ashr)


Seseorang merayakan ulang tahun di hari ini. Dengan mata berbinar, ia meniup nyala lilin yang menunjukkan angka 40. Tepuk tangan mengiringi padamnya nyala lilin. Lalu, para sejawat menyalaminya, sembari mengucapkan, ”life begins at 40.” Seseorang yang merayakan ulang tahun tersenyum puas. Ya, kehidupan dimulai pada usia 40!


Kita yang merasa diri modern, agaknya, setuju dengan ungkapan tersebut. Lahir dari rahim kultur Barat, ungkapan itu merefleksikan fase kehidupan anak-manusia. Melewati pengasuhan, seorang anak memulai penempaan dirinya, di bangku pendidikan dasar hingga ke perguruan tinggi. Masa pendidikan ini merupakan persiapan memasuki masa bekerja.

Masa bekerja ini, katakanlah, di saat usia 25. Usia seperti itu sungguh enerjik, penuh vitalitas untuk membangun karier. Budaya Barat yang mengedepankan perencanaan hidup yang matang, menyebabkan seseorang memiliki dinamika yang tinggi didukung kesehatan fisik yang prima untuk mewujudkan rencana hidup (baca: karier). Lima belas tahun ke depan, selaiknya ia telah berada pada karier yang mapan. Tak mengherankan, pada usia 40, kehidupan seseorang ditentukan: sukses atau gagal. Seseorang yang berhasil mewujudkan impian, meraih karier tertinggi, niscaya tersenyum puas sembari mendesis, ”hidup (kesenangan) dimulai di usia 40.”

Seseorang berulangtahun ke-40 hari ini. Tapi, ketika pesta ria usai, apa makna usia 40? Islam sesuai surat Al ‘Ashr justru tentu tak memberikan batasan waktu.
Surat tersebut, berdasarkan pemahaman saya yang awam, menawarkan kesadaran betapa tiap detik waktu kita di bumi beharga. Betapa mereka yang lalai menghiasi waktu dengan kebajikan menjadi sosok yang merugi. Al’Ashr mengingatkan kita betapa sedikit waktu yang dimiliki.

Tak mengherankan, Rasulullah SAW mengingatkan, ”Ambillah kesempatan lima sebelum lima: mudamu sebelum tua, sehatmu sebelum sakit, kayamu sebelum melarat, hidupmu sebelum mati, dan senggangmu sebelum sibuk” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi). 

Tetapi, akankah kehidupan baru di mulai di usia 40? Kendati Islam mengajarkan setiap detik yang dimiliki berharga untuk menghiasi kehidupan ini dengan amal kebajikan, agaknya, pejalan ruhani pun memaknai (usia) 40. Sayid Muhammad Mahdi Thabathaba’I Bahrul Ulum di bukunya As-Sair Wa As-Suluk (Penerbit Lentera) mengungkapkan, Muhammad diangkat sebagai rasul pada usia 40.

Berdalih akal manusia sempurna pada usia 40 sesuai kemampuannya, ia mengandaikan, perjalanan manusia di alam materi (di antaranya pertumbuhan fisik yang dimulai 0 tahun) berakhir di usia 40. Seiring berakhirnya perjalanan di alam materi, manusia memasuki perjalanan menuju akhirat. Dalam bahasa berbeda, seiring dengan merapuhnya fisik, selaiknya manusia kian mengisi waktunya dengan memperbanyak ibadah (ia mengandaikan dengan ”dimulainya perjalanan roh.”).

Berkaitan dengan usia 40 ini, ia mengutip sebuah riwayat, ”barangsiapa yang telah mencapai usia 40 tahun dan belum mengambil tongkat, maka ia telah bermaksiat.”Takwil tongkat ialah bersiap-siap untuk melakukan perjalanan menuju akhirat.
Angka 40, bagi Muhammad Mahdi, pun berkait dengan 40 “maqam” pada suluk yang dimulai dengan “maqam” ikhlas. Ini sesuai dengan Hadis Nabi yang dikutipnya 
”Barangsiapa mengikhlaskan (amalnya) semata-mata untuk Allah selama 40 hari, 

maka akan muncul sumber-sumber hikmah dari hati melalui lisannya.”
Mungkin kita belum patut menjadi salik yang mencelupkan diri pada suluk. Namun, dari pelajaran suluk itu, kita dapat memetik tangkai kearifan saat melanjutkan kehidupan di usia 40. Adakah di saat tubuh mulai merapuh sesuai sunnatullah siklus pertumbuhan biologis justru memasuki masa penyurutan di usia 40 kita mulai mengembangkan kekayaan ruhani, kematangan emosi, dengan melipatgandakan peribadatan.
Jangan-jangan terpengaruh budaya Barat, kita enggan menggenggam tongkat, dan mengikuti ungkapan ”hidup bersenang-senang dimulai pada usia 40” sehingga tercebur ke genangan maksiat. Seseorang yang berulangtahun ke-40, sudahkah engkau ambil tongkat, untuk memulai perjalanan roh?

Kehidupan Baru Dimulai Umur 40 Tahun (Andrew How, Pembelajar 16 Agustus 2006)

“A man is not old until regrets take the place of dreams. Manusia tidak 
menjadi tua sampai penyesalan menggantikan impiannya.” Mark Twain, dalam 
suratnya kepada Edward L. Dimmitt, tertanggal 19 Juli tahun 1901.

Usia bukanlah faktor penentu kesuksesan atau kebahagiaan seseorang. Pertambahan usia tidak mengurangi semangat ataupun membuat hati saya risau. Sampai suatu ketika saya disapa om (paman) oleh seorang anak kecil. Saya membatin, “Rupanya pertambahan usia sudah terlihat dalam penampilan saya.”

Apalagi sejak memasuki usia 40 tahun, saya merasa energi dan stamina mulai menurun. Padahal sebelumnya saya masih merasa segar meskipun udah memandu sebuah seminar yang diselenggarakan selama selama 2 hari 1 malam. Penurunan fungsi organ tubuh juga saya rasakan ketika membaca buku tiba-tiba hurufnya kabur. Setelah saya angkat agak jauh barulah kelihatan.

Saya terpaksa berobat ke dokter spesialis mata. Tetapi dokter menyatakan saya harus mengenakan kacamata plus ukuran 1,5. Ketika saya bertanya apakah ada alternatif lain untuk memperbaiki kondisi mata saya, misalnya operasi atau terapi? Dengan santai tetapi tegas dokter itu menjawab tidak bisa. Jawaban itu seketika membuat saya seakan-akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga.

Kemudian salah seorang teman saya mengomentari, “Nasi sudah jadi bubur, mata basi sudah jadi kabur. Kehidupan dimulai di usia 40 berarti mulai budek (kesulitan mendengar), mulai pikun, mulai terserang tekanan darah tinggi, mulai cepat lelah, mulai cepat bingung, mulai begini begitu!” Di samping berkurangnya fungsi organ tubuh, tanggung jawab di usia 40 tahun juga semakin besar entah sebagai orang tua, anak, dan pasangan. Apakah ungkapan yang menyatakan bahwa kehidupan dimulai di usia 40 hanyalah slogan belaka
untuk menutupi rasa frustasi karena kebutuhan semakin besar sedangkan pendapatan menurun, atau hanya untuk menghibur diri karena diliputi kekhawatiran akibat pertambahan usia dan penurunan fungsi organ tubuh serta penampilan?

Suka atau tidak suka itulah kenyataan yang harus saya terima. Tetapi saya tidak pasrah begitu saja, karena pasti ada hikmah dibalik semua itu. Pepatah mengatakan, “Every adversity, every failure, every heartache carries with it the seed on an equal or greater benefit. Setiap tantangan, kegagalan, dan kesedihan menciptakan awal keberuntungan yang luar biasa.”

Saya tak ingin berlama-lama menyesali segala yang hilang seiring bertambahnya usia. Lebih mendisiplinkan diri melakukan pola kehidupan sehat sesegera mungkin adalah ide yang melintas begitu saja di dalam benak saya kala itu. Bertambahnya usia membuat saya berusaha lebih disiplin meluangkan setiap pagi berolah raga, yaitu berjalan diatas treadmill sekurang-kurangnya 45 ? 60 menit sambil menonton televisi khususnya berita terhangat di dunia.

Sementara untuk kebugaran tubuh dari dalam, sebagai seorang vegetarian saya selalu minum 5 jenis sari buah & sayur setiap bangun pagi. Saya juga mengkonsumsi makanan kesehatan alami. Hal itu saya lakukan supaya tubuh mendapatkan asupan gizi yang cukup dan seimbang, meskipun saya membatasi konsumsi makanan untuk menjaga berat badan tidak lebih atau kurang dari 68 kilogram. Kebiasaan berolah raga, minum sari buah dan sayuran, serta melengkapinya dengan makan makanan kesehatan cukup membantu upaya saya menjaga energi dan stamina tubuh tetap bugar meski usia merangkak naik.

Di sela kesibukan, saya upayakan belajar dari buku, internet, atau fenomena kehidupan sehari-hari. Saya lakukan hal itu secara berkesinambungan. Ilmu pengetahuan yang telah saya peroleh dari aktifitas belajar merupakan sumber semangat dan inspirasi untuk menulis buku. Jadi meskipun usia bertambah, ilmu pengetahuan memungkinkan saya lebih produktif dalam bekerja dan menulis buku.

Semakin bertambah usia mendorong saya untuk memperbanyak waktu mendekatkan diri kepada Tuhan YME. Aktifitas spiritual saat sembahyang dan berdo’a menjadi sumber keseimbangan dan kedamaian hati. “Science without religion is lame, religion without science is blind. Ilmu pengetahuan tanpa agama akan timpang, sedangkan agama tanpa ilmu juga akan buta,” kata Einstein. Di usia yang merambat naik diatas 40, aktifitas menjalankan ibadah memperbesar kekuatan di dalam diri saya untuk melaksanakan tanggung jawab dalam pekerjaan dengan benar dan lebih baik, begitupun tanggung jawab sebagai ayah, anak atau sebagai pasangan.

Pertambahan usia membuat saya ingin lebih lama bersama keluarga, sebab selama ini saya lebih banyak menggunakan waktu untuk bekerja. Saya menyisakan lebih banyak waktu ersama anak-anak dan istri. Bermain dan tertawa bersama mereka membuat saya merasa lebih muda 10 tahun.

Meski usia sudah 44 tahun, saya masih dapat menciptakan kemajuan lebih besar, menikmati kebahagiaan dan hidup lebih baik. Semua itu tidak selalu terkait dengan uang, melainkan pola hidup dan makan yang sehat, serta memperbanyak waktu untuk keluarga dan belajar serta mempertebal keimanan. Cara itu telah membuat saya benar-benar menikmati fase hidup diatas usia 40 tahun. Serasa kehidupan yang baru saya mulai.
Pandangan Tentang “Life begins at 40″ oleh Jamil Azzaini

Pepatah mengatakan: life begins at 40. Memasuki usia 40 tahun, sering dimaknai agak berbeda dengan usia lainnya. Mengapa? Mungkin banyak orang beranggapan bahwa di usia 40 orang tidak perlu merasa tua, tetap bisa merasa dan terlihat muda, cantik atau ganteng, bijak, dan bergairah dalam usia yang lebih matang. Intinya menghibur diri: tenanglah, kamu masih muda kok, masih cantik kok.
Bahkan beberapa orang mengaitkan usia 40 tahun ini dengan usia puber kedua, saatnya ada gejolak dan pencarian jati diri lagi yang banyak ditandai dengan jatuh cinta lagi (meski sudah menikah) atau mulai bergenit-genit lagi layaknya remaja, karena tidak ingin kelihatan bahwa sebenarnya sudah ’cukup’ tua.
Namun ternyata jika kita tilik sejarah, usia 40 tahun bukan soal penampilan fisik semata. Psikolog Amerika, Walter B. Pitkin(1932) pernah menulis buku berjudul “Life Begins at Forty”. Pitkin memang bukan penggagas pertama kata-kata tersebut karena jauh sebelum tahun 1932 kata-kata itu telah ada. Namun tidak dipungkiri bahwa tulisannya membuat pemahaman terhadap “kehidupan dimulai pada usia 40 tahun”menjadi sangat populer hingga kini.
Secara psikologis, Gunarsa (1988) menyebutkan usia 40 tahun ini sebagai usia paruh baya. Ada tiga reaksi psikologis yang mungkin akan mengiringi usia ini, dan reaksi yang diambil sangat tergantung pada pemaknaan seseorang terhadap kehidupannya.
Pertama, sikap tak berdaya, putus asa, kecewa pada diri sendiri, dan memandang kehidupan sebagai suatu proses yang sulit dimengerti dan dilakukan. Ini sikap yang terburuk.
Kedua, merasa terjebak dalam rutinitas hidup meski tidak tenggelam dalam keputusasaan akan tetapi yakin tidak akan bisa mengalahkan rutinitas itu. Cirinya antara lain timbulnya sikap menolak terhadap proses menua, misalnya bersolek secara berlebihan untuk menutupi ketuaannya.
Ketiga, dan ini yang terbaik, adalah memilih untuk berkembang. Memandang bahwa setiap bagian kehidupan ini sebagai suatu masa yang kritis untuk tumbuh dan menjadi dewasa. Maka dia selalu optimis memanfaatkan apa yang dimiliki, merasa bahwa hidup baru dimulai pada usia 40 tahun.
Sedang secara historis, ternyata pada hampir semua agama, usia 40 tahun ini dianggap sebagai salah satu angka spiritual dan suci yang memberi makna perubahan secara positif. Ibn Ghifarie dalam tulisannya memaparkan bahwa
“Menurut ilmu numenorologi, angka 40 melambangkan kematian diri seseorang dan kelahiran kembali secara spiritual. Menurut tulisan kabbalistik dalam kitab Zohar, untuk sampai pada akhir sebuah lingkaran transformasi dibutuhkan 40 hari mulai dari penentuan tujuan, persiapan hingga pengujian tujuan.”
Tulisan ini tidak akan membahas makna usia 40 ini dari sisi agama lain. Bukan apa-apa, hanya takut salah menafsirkan agama lain. Saya hanya akan membahas dari sisi Islam, agama saya sendiri.
Dalam sejarah Islam, bilangan 40 juga mencirikan beberapa hal/peristiwa. Nabi Muhammad saw menerima wahyu pertama kali (bi’tsah) juga pada usia 40 tahun. Demikian pula, jika kita berkunjung ke masjid Nabawi, ada sunnah sholat Arbain, yaitu sholat 40 waktu atau delapan hari penuh (5 waktu dikalikan 8 hari).
Jauh sebelum dikenal pepatah life begins at 40 tersebut, usia 4o tahun juga secara khusus disebutkan di Al-Qur’an. Tepatnya pada surat Al-Ahqaf ayat 15, yang artinya:
“..hingga apabila dia telah dewasa dan mencapai usia 40 tahun, dia berdoa: Ya Rabb, berikan petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmatMu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhai, dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku..”
Menurut tafsir fi Ddzilalil Quran (Sayyid Qutb), ketika membahas potongan kalimat ’hatta idza balagho asyuddahu wa balagho arba’iina sanah’ (hingga apabila dia telah dewasa dan mencapai usia 4o tahun), usia kedewasaan itu berkisar antara 30 hingga 40 tahun, dan usia 4o tahun adalah puncak kematangan dan kearifan. Pada fase ini, semua potensi dan kemauan telah sempurna, dan manusia siap merenung untuk berpikir dengan tenang. Pada usia ini, fitrah yang lurus dan bersih berorientasi kepada hal-hal di balik kehidupan dan sesudah kehidupan, banyak merenung tentang kematian.
Jadi menurut saya, Islam memandang usia 40 tahun justru usia yang sangat cukup untuk mencapai kecerdasan eksistensial. Usia yang tidak lagi memikirkan ’masa depan’ keduniaan, mengejar karir dan kekayaan finansial. Tetapi sudah jauh berpikir tentang nasibnya kelak di akhirat. Bahkan tak hanya memikirkan dirinya semata, tapi juga nasib anak istrinya, seperti ujung doa indah di ayat tersebut ’dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku’.
Satu hal yang menarik, secara kontekstual awal ayat Al-Ahqaf 15 ini hampir sama dengan surat Luqman ayat 14 tentang kesusahan seorang ibu dalam mengandung, melahirkan lalu menyusui anaknya. Dimana dalam awal Luqman 14 ini diawali dengan, ’dan berbuat baiklah kepada dua orang tuamu’.  Sementara itu, surat Luqman ayat 14 didahului dengan ayat-ayat tentang pengajaran adab pada anak, yang mengambil hikmah dari cara Luqman mengajarkan adab pada anaknya.  Apa hubungan ayat ini jika dikatkan dengan Al-Ahqaf tadi?
Begini kira-kira hubungannya. Mendidik anak dan membentuknya menjadi ’waladun sholihuhn yad’ulah’  (anak sholeh yang selau mendoakan kedua orang tuanya) memang harus dimulai sejak dini, sejak mereka kecil bahkan sejak di kandungan. Termasuk membiasakan untuk melafalkan doa pada kepada orang tua, ’Robbirhamhuma kamaa rabbyaaani soghiro’ (Ya Rabb, sayangilah mereka sebagaimana mereka telah mendidikku di waktu kecil-Al-Isra 24).
Maka, jika kita tengok, anak-anak kecil kita sangat hafal doa ini, sangat rajin mengucapkannya seusai mereka sholat wajib. Tentu orang tua yang melihatnya akan lega dan berbahagia, dan berharap kebiasaan tersebut terbawa sampai dewasa, bahkan sampai si anak tersebut membentuk keluarga sendiri. Semua orang tua tentu berharap demikian, ‘anak  sholeh yang mendoakan kedua orang tua’, sebagai salah satu aset berharga jika mereka meninggal, sebagaimana bunyi hadits yang sering kita dengar:
’Akan terputus amal anak Adam, kecuali tiga, yaitu sodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang selalu mendoakan kedya orang tua’.
Kata ’anak’ (walad) di situ bukan dilihat dari unsur biologis, tapi dilihat dari sisi kepemilikan. Bahwa meski ujudnya sudah orang dewasa, tetap saja dia adalah anak dari orangtuanya.
Pertanyaannya adalah, apakah berbagai doa dan bentuk ketaaan tersebut akan terus dibawa sampai si anak dewasa dan beranjak tua, yang pada waktu itu mungkin kedua orang tuanya telah meninggal?
Ternyata perjalanan hidup seseorang, juga pengaruh lingkungan, mampu membuat seseorang berubah sedemikian rupa. Meskipun waktu anak-anak tergolong anak yang taat dan sholeh, bisa jadi pada masa remaja, dewasa atau tuanya justru bandel, sulit mendapat masukan, semau gue, karena merasa sudah ’berjuang keras untuk hidupnya sendiri’. Kenyataan ini tak sedikit kita temukan di lapangan, terutama untuk anak remaja. Berapa banyak remaja yang dulu masih kanak-kanak adalah anak-anak yang manis dan penurut, ketika remaja berubah menjadi bandel dan susah dikendalikan?
Saya melihat, jika antara surat Luqman ayat 13 dikaitkan dengan surat Al-Ahqaf ayat 15, ini semacam pretest dan posttes. Sewaktu diadakan pretest rata-rata hasilnya memang baik. Begitulah yang kita lihat. Anak yang memang masih cenderung pada fitrahnya, biasanya mudah kita bentuk. Tapi, bagaimana dengan posttest nya?
Nah posttest itu ada di usia 40 tahun, seperti yang tertulis di surat Al-Ahqaf ayat 15. Artinya, ada rentang 30 tahun (jika usia 10 tahun dipatok sebagai rerata usia taklif, usia pembebanan kewajiban) untuk menjadikan berbagai adab Islam sebagai habit dan bagian yang internal pada diri seseorang. Jika kebiasaan ini konsisten bertahan sampai usia 40 tahun, insya Allah ke depannya juga akan terpelihara. Tapi, jika pada usia 40 tahun justru posttest nya jeblok, ini yang perlu diwaspadai. Seperti ucapan imam Ghazali:
“..usia 40 tahun adalah sebuah pertanda, sebuah isyarat. Seperti sebuah ikhtisar masa depan. Jika di usia itu kebaikan lebih mendominasi, maka itu sebuah pertanda baik untuk kehidupannya nanti..”
Tentang tafsiran dari perkataan Imam Ghazali ini, saya pernah mendengarkan taushiyah, bahwa apa yang sudah menjadi kebiasaan pada usia 40 ini, akan sulit dirubah pada usia-usia sesudahnya. Misalnya, kebiasaan sholat lima waktu. Jika sampai usai 40 tahun untuk sholat wajib saja masih bolong-bolong atau bahkan tidak pernah, sangat besar hal itu akan menjadi  kebiasan yang menetap hingga akhir hayatnya. Atau sebaliknya. Jika pada usia 40 tahun masih gemar melakukan kemaksiatan, mungkin berjudi, mencuri, berzina, maka akan sulit baginya untuk berhenti dari kebiasaan tersebut. Na’udzbillah.
Belum jika dikaitkan dengan proporsionalitas ’angka timbangan’. Di mana di hari akhir kelak juga dikenal dengan ’yaumul mizan’, hari ditimbangnya amal perbuatan. Jika kita berhitung, sampai pada usia 40 tahun, berapa proporsi antara kebaikan dan keburukan yang telah kita lakukan? Bisa jadi, dari 40 tahun usia kita, separuhnya atau lebih justru berisi dosa-dosa dan kemaksiatan. Akankah kita termasuk tipe orang ’bangkrut’ yang disinyalir dalam sebuah hadits nabi? Na’udzbillah.
Tapi, Allah Maha Rahman dan Rahim. Jika memang pada usia 40 tahun ini masih banyak yang harus dibenahi, masih belum terlambat senyampang nyawa belum sampai tenggorokan. Anggaplah pada usia 40 ini kita mengalami sakit keras yang mengancam kehidupan, dan kita perlu melakukan segala cara untuk menyelamatkan nyawa. Mungkin sangat menyiksa, memaksakan diri menjalani ‘pengobatan’ berbagai rupa, tetapi akan berpengaruh besar terhadap nyawa kita (baca: nasib kita di akhirat). Dalam hal ini, kita perlu belajar dari seekor hewan dalam mentransformasi dirinya untuk bertahan hidup. Semoga kenyataan tentang fase kehidupan dari salah satu jenis hewan berikut ini mampu memberikan pencerahan pada kita semua.
Boleh jadi kita dapat mengambil hikmah dari kisah kehidupan  seekor burung elang. Ada yang berpendapat kisah ini tak ilmiah adanya. Tapi bukan itu esensinya, Yang terpenting, ialah kesediaan kita berubah jadi lebih baik, seperti cerita elang berikut ini.
Elang merupakan jenis unggas yang mempunyai umur paling panjang di dunia, dapat mencapai 70 tahun. Tapi untuk mencapai umur itu seekor elang harus membuat keputusan besar pada saat umurnya yang ke 40 tahun.
Saat berumur 40 tahun, cakarnya mulai menua, paruh menjadi panjang dan membengkok hingga hampir menyentuh dada. Sayapnya menjadi sangat berat karena bulunya telah tumbuh lebat dan tebal, sehingga menyulitkan saat terbang. Saat itu, ia hanya mempunyai 2 pilihan: menunggu kematian atau menjalani proses transformasi yang menyakitkan selama 150 hari.
Saat melakukan transformasi itu, ia harus berusaha keras terbang ke atas puncak gunung untuk kemudian membuat sarang di tepi jurang, berhenti dan tinggal di sana selama proses berlangsung.
Pertama, ia harus mematukkan paruhnya pada batu karang sampai paruh tersebut terlepas dari mulutnya, dan kemudian menunggu tumbuhnya paruh baru. Dengan paruh yg baru tumbuh itu, ia harus mencabut satu persatu cakar-cakarnya dan ketika cakar yang baru sudah tumbuh, ia akan mencabut bulu badannya satu demi satu. Suatu proses yang panjang dan menyakitkan.
Lima bulan kemudian, bulu-bulu yang baru baru tumbuh sempurna. Ia mulai dapat terbang kembali. Dengan paruh dan cakar baru, ia mulai menjalani 30 tahun kehidupan barunya dengan penuh energi.
Wallahu a’lam
Usia 40 Tahun Dalam Perspektif Islam

Pada tahun 1932, seorang Psikolog Amerika, Walter B. Pitkin pernah menulis buku yang sangat populer waktu itu berjudul “Life Begins at Forty”. Pitkin memang bukan penggagas pertama kata-kata tersebut, karena jauh sebelum tahun 1932 kata-kata itu telah ada. Namun tidak dipungkiri bahwa tulisannya membuat pemahaman terhadap “kehidupan dimulai pada usia 40 tahun” menjadi sangat populer hingga kini.
Barat memberikan perhatian kepada umur 40 tahun dengan akar dan orientasi kultur masyarakat Barat, yaitu materialisme, sehingga mereka menilai dan membuat indikator hidup dari sisi materialistis. Pada umur 40 tahun, karier telah cukup mapan, pendapatan, serta kekayaan telah mencukupi. Atas dasar ini tidak mengherankan jika mereka mempunyai ungkapan bahwa ‘hidup’ dimulai pada umur 40 tahun. Life begin at 40.
Dalam perspektif Islam, ternyata Islam juga memberi perhatian kepada umur 40 tahun, yang tentu saja berbeda dengan budaya Barat. Umur 40 tahun mendapat perhatian khusus dari Alquran. Dalam Surat Al Ahqaf [46] ayat 15 Allah berfirman:
”Kami perintahkan manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: Ya tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah kau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat beramal shalih yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”
Menurut mufasir (ahli tafir), Sayyid Qutb dalam Tafsir fi Ddzilalil Quran, ketika membahas potongan kalimat ’hatta idza balagho asyuddahu wa balagho arba’iina sanah’ (hingga apabila dia telah dewasa dan mencapai usia 4o tahun), usia kedewasaan itu berkisar antara 30 hingga 40 tahun, dan usia 4o tahun adalah puncak kematangan dan kearifan. Pada fase ini, semua potensi dan kemauan telah sempurna, dan manusia siap merenung untuk berpikir dengan tenang. Pada usia ini, fitrah yang lurus dan bersih berorientasi kepada hal-hal di balik kehidupan dan sesudah kehidupan, banyak merenung tentang kematian.
Dalam sejarah Islam, bilangan 40 juga mencirikan beberapa hal/peristiwa. Nabi Muhammad saw menerima wahyu pertama kali (bi’tsah) juga pada usia 40 tahun. Demikian pula, jika kita berkunjung ke masjid Nabawi, ada sunnah sholat Arbain, yaitu sholat 40 waktu atau delapan hari penuh (5 waktu dikalikan 8 hari).
So, bagi kita ummat Muslim, umur 40 adalah waktunya untuk memperbanyak amal kebaikan, karena waktu pertemuan kita dengan Allah (kematian) semakin dekat. Artinya seandainya yang tertulis di Lauh Mahfudz jatah usia kita 50 tahun maka, hidup kita tinggal 10 tahun, atau jika jatah usia kita 60 tahun maka, kita tinggal menghitung sendiri, berapa lama kita hidup lagi. Dan seterusnya..
Tentang usia 40 rahun, Ibnu Atthaillah seorang Sufi dan Ulama Besar pada memberi nasihat bijak :
“Jika usiamu telah menginjak 40 tahun, maka segeralah untuk memperbanyak amal saleh siang dan malam. Sebab, waktu pertemuanmu dengan Allah semakin dekat. Ibadah yg kamu kerjakan saat ini tidak akan mampu menyamai ibadah seorang pemuda yg tidak menyia-nyiakan masa mudanya. Andai saat ini kamu ingin beramal sekuat-kuatnya, tenagamu sudah tidak mendukung lagi. Oleh karena itu beramallah sesuai kekuatanmu . Perbaikilah masa lalumu dgn banyak berdzikir, sebab tidak ada amal yg lebih mudah dari dzikir. Dzikir dapat kamu lakukan ketika berdiri, duduk, berbaring maupun sakit. Dzikir adalah ibadah yg paling mudah. Bukankah Rasulullah saw bersabda : “Dan hendaklah lisanmu basah dengan berdzikir kepada Allah swt.”
“Bacalah secara berkesinambungan doa’ dan dzikir apapa pun yang mudah bagimu.. Pada hakikatnya engkau dapat berdzikir kepada Allah swt adalah karena kebaikannya. Ia akan mengaruniamu…..”(Nasehat Ibnu Atthaillah)..
Sedangkan menurut Imam Al- Ghazali:
“..usia 40 tahun adalah sebuah pertanda, sebuah isyarat. Seperti sebuah ikhtisar masa depan. Jika di usia itu kebaikan lebih mendominasi, maka itu sebuah pertanda baik untuk kehidupannya nanti..”
Tentang tafsiran dari perkataan Imam Ghazali ini, dimaknai, bahwa apa yang sudah menjadi kebiasaan pada usia 40 ini, akan sulit dirubah pada usia-usia sesudahnya. Misalnya, kebiasaan sholat lima waktu. Jika sampai usai 40 tahun untuk sholat wajib saja masih bolong-bolong atau bahkan tidak pernah, sangat besar hal itu akan menjadi kebiasan yang menetap hingga akhir hayatnya. Atau sebaliknya. Jika pada usia 40 tahun masih gemar melakukan kemaksiatan, mungkin berjudi, mencuri, berzina, maka akan sulit baginya untuk berhenti dari kebiasaan tersebut. Na’udzbillah.
Sebagai penutup, marilah kita senantiasa bersyukur, beramal shalih, bertaubat, dan berserah diri kepada Allah SWT..tentunya bukan hanya di ”sekitar” usia 40. Islam, sesuai surat Al ‘Ashr justru tentu tak memberikan batasan waktu. Surat tersebut, menawarkan kesadaran betapa tiap detik waktu kita di bumi beharga. Betapa mereka yang lalai menghiasi waktu dengan kebajikan menjadi sosok yang merugi. Al’Ashr mengingatkan kita betapa sedikit waktu yang dimiliki. Disini, Islam mengajarkan setiap detik yang dimiliki beharga untuk menghiasi kehidupan ini dengan amal kebajikan…
Semoga kita dan anak2 keturunan kita termasuk ke dalam golongan orang2 yg senantiasa suka mengerjakan amal kebaikan dan semoga kita senantiasa menjadi hambaNya yang senantiasa bersyukur serta hambaNya yang banyak berzikir. Aamin YRA
Semangat pagi Sahabatku, Alhamdulillah sudah Jum’at (TGIF), jangan lupa hari Jum’at kita disunnahkan banyak2 baca Shalawat Nabi & baca Surat Al Kahfi.
Allahummashallii ala sayyidina Muhammad wa ala’ali sayyidina Muhammad.
Bâraka Allâh fîkum. Amiin
oleh: Imam Puji Hartono

Sumber: http://filsafat.kompasiana.com/2012/06/22/renungan-jum%E2%80%99at-usia-40-tahun-dalam-perspektif-islam-472495.html
15.01 | 0 komentar | Read More

Sisi Lain Orang (Indonesia) Timur yang Jarang Diekspos (Don’t judge by the cover. Kulit kita orang boleh hitam, rambut boleh keriting, muka boleh cadas, tapi hati dan jiwa kita sama seperti manusia lainnya. Bisa juga menangis kalau disakiti, meski setelah itu orang yang menyakiti tadi digebuk sampai babak-belur. Tidak apa-apa, kan. Namanya juga manusia biasa.)

Written By Situs Baginda Ery (New) on Jumat, 29 Juli 2016 | 21.48

Sepertinya, stigmatisasi publik terhadap orang Indonesia timur tidak pernah akan selesai. Setelah dicap sebagai tukang bikin masalah di kampung orang–fakta ini sejalan dengan kasus premanisme di ibukota yang pernah heboh beberapa tahun lalu–kemudian kondisi geografis dan topografis daerahnya yang masih bermasalah dengan kesejahteraan, sampai-sampai ada sebuah perusahaan air mineral yang mencoba menjajakan dagangannya lewat iklan: “Sekarang sumber aer su dekaaat”.
Perlakuan diskriminatif yang demikian ternyata memunculkan asumsi negatif, bahwa semua orang timur yang berkulit gelap, berambut keriting, dan bertampang keras adalah jahat. Sebagai putra asli timur yang baik hati dan tidak sombong, saya sungguh sedih dengan munculnya hal tersebut.
Bagaimana tidak? Ulah sekelompok timur diaspora di ibukota digeneralisasi secara radikal sebagai tabiat asli orang timur secara keseluruhan. Asal dia dari timur, sudah pasti jahat. Yang lebih menyakitkan lagi, setiap kali saya tembak ade nona, selalu saja gagal.
Saya curiga, jangan-jangan ini karena saya orang timur, sampai ade nona yang saya taksir tidak berani memadu kasih dengan saya? Kalau memang dugaan saya benar adanya, berarti pertanyaannya di sini, siapa yang jahat? Orang timur apa orang timur?!
Hei, kamu orang semua mesti tahu, kita orang biar muka model Hitler, tapi hati kita orang ambil gaya Shakespeare punya!
Begini e, beta mo kasitau fakta dan data ke kamu orang semua yang mengira orang timur itu jahat. Biar kamu orang punya otak tidak terus-menerus diisi syak wasangka. Parcuma kamu orang beribadah kalau hati dan perasaan masih dipenuhi dengan hal-hal yang tidak baik.
Dalam sejarahnya, tidak pernah ada pemberitaan di media terkait orang timur yang rumah tangganya bermasalah. Tidak ada. Kalau pun ada, paling hanya si Raul Lemos yang merebut mami Krisdayanti dari pelukan Anang.
Tapi itu sebuah pengecualian. Sebab Raul Lemos aslinya orang Timor Leste. Sudah beda timur dia. Sebaliknya yang terjadi justru wajah-wajah lembut nan rupawan sedang sibuk melontarkan pernyataan soal permasalahan rumah tangganya di televisi.
Saya garis-bawahi sekali lagi, wajah-wajah lembut nan rupawan, bukan wajah hitam, keras, berambut keriting!
Orang timur itu tipe manusia yang paling setia sama pasangannya. Seperti sepasang merpati beda bentuk, orang timur tidak bakal mengkhianati janji suci yang telah diikrarkan di depan pastor atau penghulu. Apalagi iseng-iseng mencari selimut tetangga. Bukan tradisinya. Bahkan sampai maut memisahkannya pun, tidak mau mereka mencari pengganti kecuali ada kebutuhan yang mendesak. Eh.
Berikutnya, orang timur itu perasaan solidaritasnya sangat tinggi. Sebagai bukti, jika ada salah satu di antara mereka yang bekerja di tanah orang, bisa dipastikan setahun atau dua tahun kemudian saudara, tetangga, sanak famili akan berdatangan menyusulnya.
Ada tidaknya lapangan pekerjaan di tanah orang tersebut lain lagi soalnya. Yang penting, selama ada kesempatan keluar dari kampung, itu wajib dimanfaatkan sebaik mungkin. Sebab cara tersebut kadangkala dimaknai sebagai solusi melepaskan diri dari belenggu kemiskinan.
Makanya jangan heran melihat tampang-tampang hitam rambut keriting berseliweran di mana-mana. Terlebih di kota-kota besar. Hanya saja harap dimaklumi, perantau-perantau dari timur biasanya kebanyakan datang tanpa membawa bekal yang cukup. Sehingga kalau mereka kelaparan, kerja apa saja akan dilakoni, termasuk jadi tukang palak dan sejenisnya.
Sialnya, kondisi yang demikian tidak jarang dimanfaatkan oleh orang-orang berduit di kota untuk mengejar kepentingannya. Tindakan-tindakan yang berbau kriminalitas kerap memakai jasa orang timur. Mau bagaimana lagi? Prinsipnya, jangan sampai mati gara-gara lapar. Super, kan?
Ada satu lagi yang sering luput dari penglihatan kacamata masyarakat umum. Meski secara fisik terlihat menyeramkan, namun orang timur itu sebenarnya sosok yang romantis. Mau bukti? Ini saya kasih tahu.
Siapa yang tidak mengenal Glenn Fredly? Itu, lho, penyanyi solo yang lagunya bikin banyak orang mewek setengah mampus. Malah ada yang sampai klepak-klepek mirip ikan hidup di atas pasir panas. Ada juga generasi sebelum dia seperti Broery Marantika, Broery Pesolima, Bob Tutupoli. Mereka itu adalah orang timur yang namanya melegenda di blantika musik tanah air eranya papah sama mamah, gara-gara suaranya saat menyanyi begitu meneduhkan, rada-rada gimana gitu.
Di dunia sastra ada Aan Mansyur, orang timur juga. Puisi yang dibacakan Rangga di film Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC2) itu dia penciptanya. Selanjutnya ada Gerson Poyk, Mario F. Lawi, dan Muksin Kota.
Eits, jangan kaget dengan nama yang disebutkan terakhir itu. Meski tidak terkenal, tapi puisi-puisinya telah sukses membuat nona-nona di sekitarnya jatuh cinta. Maksudnya, jatuh cinta dengan jahitan kata-katanya, bukan dengan orangnya. Ya, tidak apalah. Hitung-hitung saya masih lebih unggul satu tingkat dari mas Agus Mulyadi soal perempuan.
Belum lagi kalau bicara dari dunia komedi. Lihatlah si Arie Kriting, Abdur Arsyad, atau Ephy Sekuriti. Batang hidung mereka yang macam penunggu rumah hantu itu justru berbanding terbalik dengan selera humornya yang membuat perut penonton mules berulang kali. Sungguh ini, serius. Aduh mama sayang e……
Selanjutnya soal toleransi umat beragama. Terlepas dari kasus konflik Ambon dan Poso yang lebih disebabkan karena kelicikan elite politik dalam memainkan intrik asunya, kamu orang perlu tahu bahwa di kampung-kampung kecil yang jauh dari hingar-bingar modernitas, kerukunan antar warga yang berbeda keyakinan begitu terpelihara dengan baik.
Bisa jadi, kamu orang akan kebingungan untuk membedakan orang Kristen atau bukan jika sedang berada dalam suasana Natal, atau sebaliknya dalam suasana lebaran.
Contoh lain untuk menggambarkan kondisi ini adalah pada ajang perlombaan, seperti Pekan Mudika (Muda-Mudi Katolik) atau MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran). Kerjasama dalam kepanitiaannya melibatkan individu-individu dari keyakinan yang berbeda.
Hal tersebut wajar terjadi di sana, sebab baik secara historis maupun emosional, perbedaan keyakinan tersebut justru kian mempererat rasa persaudaraan antara satu sama lain. Tanggung jawab untuk menjaga kedamaian di atas tanah leluhur merupakan warisan luhur nenek moyang sejak zaman dahulu kala.
Don’t judge by the cover. Kulit kita orang boleh hitam, rambut boleh keriting, muka boleh cadas, tapi hati dan jiwa kita sama seperti manusia lainnya. Bisa juga menangis kalau disakiti, meski setelah itu orang yang menyakiti tadi digebuk sampai babak-belur. Tidak apa-apa, kan. Namanya juga manusia biasa.
Dan, kepada semua saudara saya orang timur, saya menghimbau untuk bersama-sama menebarkan jala cinta damai ke seluruh penjuru negeri. Tunjukkan kepada mereka sifat dan perilaku kita orang yang sesungguhnya. Sebab, istilah black sweet bukan untuk mereka yang kulit putih, melainkan untuk kita. Ayo, hidup orang-orang timur yang menawan!
Sudah panjang lebar sepertinya tulisan ini. Semoga tidak mbulet bacanya sehingga luput dari kemumetan mencerna maksud isinya.
Oh iya, sedikit catatan, saya menuliskan ini selain mencoba memberikan paradigma baru seputar pandangan publik terhadap orang timur, juga ini sebagai upaya melawan hegemoni bahasa para penulis Mojok yang didominasi orang-orang dari Indonesia bagian barat.
Mbok ya saya juga kepengen terkenal di Mojok. Mosok ndak boleh? Mosok didiskriminasi juga?. Enggak kan, Mas Puthut EA? Eaaa… Eaaa…
Loh… Loh… Kenapa gaya bahasa saya jadi kayak gini?!
http://mojok.co/
21.48 | 0 komentar | Read More

SISI LAIN AHOK GUBERNUR JAKARTA: Cara Umat Muslim Memandang Ahok




1. Ahok hancurkan masjid Baitul Arif di Jatinegara, sehingga warga setempat tidak bisa shalat Jum'at dan melakukan kajian Islam sampai saat ini.
FACT : Ahok menghancurkan Masjid Baitul Arif di Jatinegara, bukan semata-mata karena membenci umat Islam, melainkan tempat Masjid Baitul Arif itu berada di tengah2 lahan, yang sebenarnya lahan itu mau dibangun Rumah susun bagi masyarakat kurang mampu, bahkan Ahok berjanji bahwa di dalam rumah susun itu akan di bangun kembali Masjid Baitul Arif bahkan dengan lebih bagus. Kita seringkali termakan apa yang kita lihat terlebih dahulu dibandingkan apa yang di lakukan di masa depan. Kita tidak bisa memandang sesuatu sebelah mata dan terpengaruh oleh kelompok-kelompok yang membenci seseorang karena alasan tertentu. kita harus bisa menjernihkan pikiran kita dan melihat segala sesuatu secara normal dan tidak berpihak, dan serta berani berkata tidak.

2. Ahok juga menghancurkan masjid bersejarah Amir Hamzah di Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan dalih renovasi namun hingga hari ini tidak ada tanda-tanda akan dibangun kembali.
FACT: Banyak berita-berita yang muncul karena Pembongkaran Masjid bersejarah Amir Hamzah, disebabkan oleh Ahok yang becus mengatur kota Jakarta, dan banyak muncul dorongan Ahok membenci Islam. Banyak kaum radikal yang mengepost bahwa Ahok sangat membenci Islam buktinya adalah menghancurkan 2 Masjid, bahkan salah satunya adalah Masjid bersejarah Amir Hamzah di TMII, dan banyak yang bilang bahwa Ahok tidak membicarakan dengan pihak setempat. Inilah buktinya :


3. Tidak puas dengan meghancurkan masjid-masjid, Ahok mengganti para pejabat muslim dengan pejabat-pejabat Cina kafir seperti lurah Susan, lurah Grace, dan selainnya. Tidak hanya itu, kepala sekolah muslim di DKI juga banyak yang diganti dengan alasan lelang jabatan, hasilnya banyak kepala sekolah Kristen sekarang.


4. Merasa didukung media-media sekuler, Ahok terus menghapus simbol-simbol Islam melalui Kadisdik DKI yang kafir Lasro Masbrun. Dia mengeluarkan aturan mengganti busana muslim di sekolah-sekolah DKI setiap Jum'at lalu diganti dengan baju Betawi. Padahal sebenarnya baju Betawi bisa di hari lain, seperti aturan di sekolah-sekolah Bandung, yaitu hari Rabu untuk baju daerah (sunda), sedangkan Jum'at tetap dengan busana muslim.

5. Setelah sukses menghancurkan masjid dan hilangkan simbol-simbol Islam di DKI Jakarta, Ahok juga membatasi kegiatan syi’ar Islam seperti malam takbiran dengan alasan macet, padahal perayaan tahun baru yang dipimpin AHOK JAUH LEBIH PARAH macet dengan menutup jalan-jalan protokol Jakarta.

6. Ahok juga mendukung legalisasi pelacuran yaitu lokalisasi, dan menyebut yang menolaknya adalah munafik termasuk Muhammadiyah, akhirnya Muhamadiyah resmi melaporkan Ahok ke polisi dengan pasal penghinaan.

7. Ketika umat Islam mati-matian memprotes missworld, Ahok justru mendukung total bahkan bangga jika Jakarta jadi tuan rumah final Miss World.

8. Yang paling parah adalah Ahok mendukung wacana penghapusan kolom agama di KTP.

9. Ahok juga mengeluarkan pernyataan yg mengejutkan : BOLEH MINUM BIR, asal jangan mabok.

10. Tidak cuma mendukung missworld, Ahok juga mendukung penuh konser maksiat Lady Gaga, Ahok selalu mendukung apa yang diprotes umat Islam.

11. Ahok dengan lancang melecehkan ayat suci, dia bilang ayat suci wajib tunduk pada ayat konstitusi.

12. Pada lebaran yang lalu, situasi yang adem tiba-tiba menjadi panas kembali dengan wacana Ahok akan menghapuskan cuti bersama saat kebaran.

13. Ahok juga menentang habis manifesto partai gerinda tentang pemurnian agama dari aliran sesat.

14. Ada yang bilang, tidak apa-apa pemimpin kafir asal tidak korupsi. Ternyata Ahok diduga kuat terlibat korupsi pengadaan bus Transjakarta sebesar 1,6 T. Koruptor-koruptor BLBI juga kebanyakan "sejenis" dengan Ahok, yaitu konglomerat-konglomerat Tionghoa kafir.

15. AHOK LARANG TABLIGH AKBAR, lagi-lagi dg alasan bikin macet. Padahal perayaan tahun baru yang Ahok buat lebih parah bikin macet dengan menutup sejumlah jalan protokol [Baca: Awas! Ahok & MUI DKI Jakarta akan Larang Tabligh Akbar di Jalan Raya]


16. Kasus terbaru, Ahok mengeluarkan aturan larangan menyembelih hewan kurban di sekolah negeri dan masjid.
Pemotongan hanya dibolehkan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Cakung. Dalihnya demi kebersihan kota. Aturan pelarangan ini tertuang dalam instruksi Gubernur67 tahun 2014. Penendatanganan dilakukan ketika menjadi Plt Gubernur tanggal 17 Juli 2014.


Karena terlalu panjang jika saya bahas semua, maka dari itu saya menghimbau untuk kita semua jangan memandang seseorang dari sebelah mata saja, hanya karena beda agama atau beda ras, itu semua menjadikan kita arogan. Sebaiknya jika mendapatkan sebuah berita jangan kita telan mentah-mentah, tetapi lebih baik jika kita mencari kebenarannya terlebih dahulu, supaya kita pun tidak terpengaruh oleh kaum radikal yang membenci seseorang secara subjektif. Dalam setiap kitab suci seluruh agama tidak ada yang menolak pemimpin negara atau kota beda agama dengan agama yang di anutnya. semoga blog ini membantu kita kedepan untuk berpikir lebih bijaksana.

http://myopinionaboutreligion.blogspot.co.id/
21.42 | 0 komentar | Read More

TENTANG KUDETA TURKI 2016: Jawaban Sejumlah Pertanyaan di Balik Kudeta Turki

Written By Situs Baginda Ery (New) on Kamis, 21 Juli 2016 | 17.15


Sebuah upaya kudeta militer mengguncang Turki dan menempatkan posisi Presiden Tayyip Erdogan yang telah berkuasa sejak tahun 2003 sempat kritis. Jika kudeta berhasil, itu akan menjadi pergeseran kekuatan yang signifikan di Asia Barat yang terus menerus bergolak karena berbagai konflik internal hingga ancaman ISIS.
Berikut beberapa pertanyaan yang bisa dijawab dari seputar kudeta Turki
Siapa di balik kudeta?
Jelas tampak tidak seluruh militer Turki berada di belakang kudeta. Dan mengingat fakta bahwa kudeta goyah hanya dalam waktu beberapa jam memastikan bahwa ada beberapa bagian militer yang menentang kudeta dan tetap berdiri di belakang Erdogan.

Mengapa kudeta?
Erdogan telah nyaman berkuasa selama lebih dari satu dekade dan telah membawa banyak reformasi untuk pembentukan Turki dan masyarakatnya. Militer melihat dirinya sebagai penegak Kemalisme, bentuk nasionalisme demokrasi dan sekularisme yang dibawa Mustafa Kemal Ataturk pada tahun 1923. Erdogan di sisi lain dianggap sebagai Islam dan konservatif.

Akankah kudeta berhasil?
Pada saat ini, tampak kudeta telah kehilangan momentum. Erdogan juga tampaknya memiliki dukungan dari masyarakat dan dan juga sebagian militer. Juga, ribuan orang turun ke jalan mendukung pemerintahan Erdogan yang demokratis.

Dampak apa yang akan muncul?
Jika kudeta gagal, maka Presiden Erdogan akan muncul lebih kuat. Sejak tahun 2003 ia telah mampu untuk membuat dirinya menjadi salah satu presiden paling kuat dalam sejarah negara ini   dan ini membuatnya cenderung otoriter. Beberapa ahli memperkirakan ia mungkin mendorong perubahan yang lebih konstitusional.

http://www.jejaktapak.com/
17.15 | 0 komentar | Read More

Ketika Kita Difitnah Orang? : Inilah Yang Harus Anda Lakukan

Written By Situs Baginda Ery (New) on Minggu, 26 Juni 2016 | 20.27


Hidup penuh dengan ujian. Bukan orang diluar sana yang menguji kita tapi orang-orang disekitar kitalah yang rame-rame menguji diri ini.  Ujian hidup datangnya tidak dapat diprediksi, kadang tiba-tiba, bisa juga saat kita lagi senang dan lengah. Bila kita diuji secara fisik akibatnya berupa luka dan memar yang dapat sembuh tetapi apabila ujian itu secara mental artinya tidak teraba tapi sakitnya menusuk-nusuk dada ini. Oleh karena itu banyak orang mengatakan “kata-kata lebih tajam dari pada pisau” karena kata-kata bisa sampai menembus ulu hati dan sakitnya itu sampai berbulan-bulan, bertahun-tahun bahkan seumur hidup.

Motivasi dan Alasan mengapa orang memfitnah

Maksud hati seseorang tidak bisa diperkirakan. Mereka bisa mengumbar kata-kata manis didepan anda tapi belakangan mereka mengumbar kejelekan bahkan menuduh yang tidak-tidak.  Oleh karena itu jangan pernah terbuai kata-kata manis tapi perhatikanlah apa pendapat mereka ketika anda sudah membelakangi dan meninggalakan mereka. Berikut ini beberapa tujuan seseorang ketika memfitnah anda :
  1. Fitnah yang salah sasaran. Ini dapat dialami oleh siapa saja karena manusia syarat dengan kecerobohan yang terkadang salah sasaran dan merugikan orang lain tanpa unsur sengaja.
  2. Mengungkapkan kebenaran. Walau bagaimanapun anda berusaha menyembunyikan kebenaran dan menganggap orang lain yang meluruskannya sebagai pemfiitnah. Semua itu sia-sia karena kebenaran tidak bisa terus disembunyikan, suatu saat ia akan di tinggikan dan disaksikan oleh semua orang.
  3. Merendahkan dan menjatuhkan. Iri hati adalah awal dari sikap “susah melihat orang lain senang”. Orang seperti ini akan selalu ada dalam  kehidupan ini.
  4. Memancing di air yang keruh. Beberapa orang sengaja mengacaukan pikiran anda dengan tuduhan yang tidak masuk akal agar mereka bisa mengambil keuntungan dari keadaan itu.
  5. Menguji kepribadiaan. Ada saatnya dimana anda diuji oleh seseorang untuk menilai lalu melayakkanmu (me-like-kanmu) untuk sesuatu yang lebih hebat.

Macam-macam fitnah

Fitnah itu banyak jenisnya, tergantung dari kemauan pelaku pemfitnah untuk menemui anda. Berikut beberapa jenis fitnah yang sering anda alami :
  1. Fitnah langsung. Seorang gentleman yang menyatakan keburukan tepat dihadapan anda. Orang seperti ini tidak mungkin seberani itu jika ia tidak memiliki bukti yang kuat.
  2. Fitnah tidak langsung (oleh orang ketiga). Seseorang menyatakan kesalahan anda akan tetapi dia tidak secara langsung melihat keburukan itu melainkan ia sendiripun mendengarnya dari orang lain. Akurasi dari fitnah jenis ini sangat diragukan karena penyampaian dari mulut ke mulut cenderung berubah-ubah dari orang ke orang lain.
  3. Fitnah tidak jelas/ samar-samar. Seorang anonim memfitnah anda dimana hal tersebut disampaikan dengan sumber yang  tidak jelas dan terkesan disamarkan. Fitnah jenis inipun tidak jelas pangkal ujungnya dimana.

Akibat fitnah

Dunia jaman sekarang emang uedan! Hal yang tidak ada bisa di anggap ada. Hal yang tidak terjadi dan tertulis dapat pula terucap. Omong kosong bisa dibenarkan. Yang belum terjadi dapat diumbar kemana-mana. Mudahnya memfitnah orang dijaman sekarang ini, bahkan tanpa bukti sekalipun. Apalagi didukung oleh media sosial semisalnya facebook dan twitter.
Sudah pengalaman, inilah yang anda alami jika anda difitnah orang:
  1. Kenyataan pahit pertama yang anda alami adalah : KEBANYAKAN ORANG BERPIKIRAN NEGATIF TERHADAP ANDA.
  2. Kenyataah sepat yang harus anda rasakan adalah : ORANG AKAN BERLOMBA-LOMBA MENYIKUK DAN MENJATUHKAN ANDA.
  3. Kenyataan menyakitkan yang harus anda telan bulat-bulat adalah : BANYAK ORANG MENOLAK ANDA.
  4. Kenyataan yang semakin menekan dan memberatkan anda adalah : JIKA ANDA TIDAK PUNYA RELASI DAN TIDAK ADA ORANG YANG MEMPERCAYAI.
  5. Kenyataan yang membunuh anda adalah : ANDA TIDAK BISA APA-APA UNTUK MENGUBAH HAL TERSEBUT.

Cara menghindari fitnah

Fitnah adalah produk sampingan dari interkasi sosial. Siapapun yang pernah melakukan interaksi sosial niscaya suatu saat hal ini akan menimpanya. Oleh karena itu, fitnah jelas tidak bisa dihindari akan tetapi bisa diminimal-kan :
  1. Selalu berbuat baik kepada siapapun. Kebaikan hati adalah benteng pertama agar anda terhindar dari fitnah.
  2. Membangun citra yang baik dimata masyarakat. Nama baik adalah benteng paling tangguh yang akan menahan fitnah yang hendak ditujukan kepada anda.
  3. Memiliki relasi dan sahabat yang percaya pada diri ini. Kerabat adalah orang-orang yang akan membenarkan dan siap membela anda saat berada dijalan yang benar.
  4. Sebisa mungkin hindari persaingan tidak sehat. Persaingan yang tidak sehat banyak negatifnya. Salah satunya adalah dilegalkannya fitnah sebagai alat untuk menjatuhkan lawan.

Solusi difitnah

Sudah pengalaman, jangan sampai anda terbunuh. Pembunuhan yang paling cepat dan paling menyakitkan adalah PEMBUNUHAN KARAKTER. Oleh karena itu, berikut ini gambaran solusi jika anda difitnah orang :
  1. Berdoa
    doaSebagai ciptaan Yang Mulia.  Sudah sepatutnya dan sewajarnya kita memohonkan pertolongan dan perlindungan dariNYA.
  2. Miliki Mentalitas Pejuang : Semangat ’45
    Solusi difitnah - Mentalitas pejuangJikan anda lemah,  lesu  dan loyo  menghadapi fitnah yang ditujukan kepada anda. Saya pastikan anda akan semakin tertekan,  terindas  dan akhirnya tersingkirkan.  Hidup ini keras sodara apalagi kalau anda difitnah : kerasnya akan menjadi 2x lipat, 3x lipat bahkan 10x lipat. Oleh karena itu, milikilah “Semangat ’45”.  Ini saya sebut sebagai semangat : “MAJU TAK GENTAR-MEMBELA YANG BENAR”. MeNgApA aNdA hArUs TaKut, JIKA ANDA BENAR!!!. Ingat: Berjuanglah sampai titik darah penghabisan. Jangan menyerah berbuat baik sekalipun orang-orang memaknainya negatif!
  3. Bersabar.
    saya difitnah orang-sabar-tanpa-batas2
    Sabar itu kekuatan yang sangat AMPUH. Ini adalah perisai pertama dan utama dalam menghadapi fitnah. Selengkapnya lihat (Sabar itu indah)
  4. Berhenti bertanya “MENGAPA”? Berhenti Cuap-Cuap Membela Diri.
    Berhenti bertanya-tanya kalau difitnah
    Seperti kata pepatah classic : “Diam Itu Emas”. Namanya saja fitnah,  itu adalah “Citra buruk yang ditempelkan orang lain dibelakang punggung anda”.  Sikap orang disekitar anda berubah,  berhentilah berspekulasi,  bertanya-tanya  dan membela diri mati-matian. Cuap-cuap membela diri hanya membuat anda kehilangan konsentrasi lalu sakit kepala akhirnya pekerjaanpun tidak kunjung selesai, ujung-ujungnya harga diripun terjun bebas dimata banyak orang.  Stay “positive thingking”. Tetaplah lakukan rutinitas anda sesuai dengan aturan-ataran yang telah ditetapkan.
  5. Harus Berbenah.
    Koreksi diri sendiriLihat diri anda secara logis. Bercerminlah dengan bertanya kepada orang lain tentang diri anda. Jika ada sesuatu yang mungkin sedikit keseleo, tersenggol, atau bahkan salah dalam diri, tutur kata dan sikap anda : Perbaikilah itu!
  6. Buat Orang Percaya Kepada Anda.
    Ini lumayan sulit sodara : apalagi kalau anda memiliki relasi yang minim bahkan nihil. Berharaplah kepada Tuhan agar IA yang murah hati itu, mengirim seseorang untuk peduli lalu berbaik hati sampai orang tersebut percaya kepada anda : Perhatikan point nomor 7.
  7. Buktikan Kualitas Kepribadian Anda.
    Kualitas kepribadian lewat tindakan nyata
    Kualitas kepribadian identik dengan prinsip hidup, seperti: jujur, loyal, tanpa pamrih, rendah hati, rela berkorban, integritas dan lain sebagainya. Anda harus tetap memperjuangkan hal ini dan membuktikannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Anda harus mempertahankan integritas dan independensitas dari sikap-sikap tersebut.
  8. Jungkir Balikkan Teori Yang Merendahkan Anda.
    Difitnah orang-buktikan kualitas kepribadian anda
    Jika anda dituduh pembohong : Jadilah orang jujur dimanapun anda berada. Jika anda dituduh asusila : Jadilah orang yang sopan dimanapun anda berada. Jika anda dituduh tidak sopan : Jadilah orang yang berbudaya dimanapun anda berada.
  9. Maafkan Dan Berbuat Baiklah Kepada Orang Yang Memfitnah Anda.
    Sudah pengalaman :  lumayan berat untuk melakukan ini sodara. Ayo kita coba tahap demi tahap :
    Dimulai dengan memaafkannya dalam hati
    >> lalu >>
    tanggapi dengan santai
    >> lalu >>
    tersenyumlah kepada orang tersebut
    >> lalu >>
    Selanjutnya terserah anda mau berbuat baik dalam rupa (bentuk) apa kepada orang tersebut (bersabar menjalaninya teman setiap tahapan butuh proses dan butuh waktu).
    Saya nobatkan ini sebagai PUNCAK KEBAIKAN HATI SETIAP MANUSIA.
Singkatnya, fitnah itu menyebarnya cepat akan tetapi hilangnya lama bahkan bisa sampai seumur hidup, Hal ini tergantung dari cara-cara yang kita terapkan dalam menanggapi fitnah. Jangan buru-buru menanggapi fitnah tapi cobalah untuk :
  • Dengarkanlah dahulu dengan seksama (isi fitnahnya)
  • Perhatikan – apakah fitnah itu sekedar “omdo (omong doang/ tidak jelas/ samar-samar)” atau ada bukti konkrit yang bisa dipertanggung jawabkan.
  • Kedepankan kesabaran dan pengertian (selengkapnya klik)
    *) Jika sekedar omdo (dengar-dengar, kata orang dan modus lainnya) >> tetap diam.
    *) Jika ada bukti (bisa dilihat mata kepala) >> perlu klarifikasi.
  • Dan Teruslah berjalan sambil tersenyum sebagai tanda bahwa anda tidak tertekan dan tidak goyah atas semua tuduhan palsu itu karena banyak fitnah dilontarkan orang lain hanya sekedar membuat sisi gelap, ketakutan dan kelemahan kita disaksikan oleh banyak pihak.
Jika kita difitnah orang, itu seumpama seutas tali yang salah satu ujungnya dipegang oleh orang lain lalu ia berusaha melilitkan tali tersebut ketubuh anda. Selama anda tidak memegang ujung tali yang satunya “aman-tidak akan terjadi apa-apa”. Akan tetapi jika anda terlalu risih lalu memegang ujung satunya “hati-hati-ikatannya makin kencang‘”.
 Terakhir…..
Fitnah adalah tuas ungkit yang akan menaikkan level EQ (kecerdasan emosional). HAVE POSITIVE THINGKING!
Terimakasih

http://lasealwin.info/
20.27 | 0 komentar | Read More

Beginilah Cara Sopan Menegur Orang Kentut Sembarangan

Written By Situs Baginda Ery (New) on Senin, 11 April 2016 | 09.13

Liputan1.blogspot.com -Kentut itu perlu dilakukan karena menahannya juga malah akan membuat perut sakit. Bahkan, kentut pun sangat ditunggu pada beberapa jenis tindakan operasi untuk memastikan di saluran pencernaan telah kosong. Namun bukan berarti kentut juga bisa sembarangan dikeluarkan . Aromanya seringkali tidak sedap walau dalam beberapa kasus tidak menimbulkan bau. Hal itu tergantung dari makanan yang dikonsumsi.

Orang yang mendapatkan bau kentut seringkali tidak tahan dan menyingkir. Bagi orang yang empatinya tinggi mungkin akan diam sembari membiarkan bau tersebut menguap. Namun tetap saja kentut di sembarang tempat tidak disarankan. Permasalahan kentut bahkan meibatkan dua kepentingan, yakni urusan kesehatan dan perilaku. 


"Rasa kesal bisa diproyeksikan kepada orang lain atau terhadap benda lain. Ini akan memengaruhi kestabilan emosi orang tersebut," kata dr Azimatul Karimah, SpKJ dari RSUD Dr Soetomo Surabaya, sepeti dikutip laman Deik Health.


Untuk itu, jika seseorang menjadikan aktivitas kentut sembarangannya sebagai kebiasaan, memang perlu diingatkan. Setidaknya orang tersebut nantinya merasa malu dan pilih-pilih situasi jika ingin mengeluarkan “gas beracun” tersebut.  Dokter Uci, sapaan dr Azimatul Karimah, menyarankan dua tahapan cara dalam menegur yaitu:


  1. Sampaikan apa adanya terkait kebiasaan kentut seseorang itu secara bertahap. Artinya, dalam mengingatkan, sampaikan saja apa adanya yang dirasakan oleh korban bau kentut kepada yang mengeluarkannya. Namun tidak perlu terlalu lebay dengan menambahkan ucapan-ucapan berlebihan  Pilih kata-kata tepat dengan ucapan ringan. Jika gagal, ucapan lebih tegas barangkali diperlukan. “Misalnya 'kamu sepertinya sering sakit perut ya? ada masalah pencernaan?', nah hal ini berguna untuk mengetahui apakah orang tersebut siap mendapat informasi dari kita," kata dr Uci. Pada orang yang siap menerima nasihat, dia akan menanggapi keluhan soal kentutnya itu. Namun jika dia belum siap, yang muncul adalah penyangkalan atau bantahan.
  2. Saat menegur usahakan untuk menyampaikannya langsung empat mata atau lewat pihak ketiga yang dapat dipercaya. Meski kentut sembarangan adalah salah menurut adat perilaku, namun privasi orang yang sedang diingatkan terkait perilaku buruknya juga mesti dijaga. Jangan menegur orang kentut di depan umum yang dapat membuatnya malu. Pasalnya, pada kasus masalah kesehatan tertentu, seseorang mesti membuang kentutnya sesegera mungkin agar tidak membuat dirinya tambah sakit.
09.13 | 0 komentar | Read More

SISI LAIN: Di Masjid, Tapi Tidak Beriman

Written By Situs Baginda Ery (New) on Jumat, 12 Februari 2016 | 21.36

Di zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya, masjid merupakan pusat peradaban. Tempat yang bercahaya jika dilihat dari langit ini digunakan sebagai tempat mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, sekaligus sarana menggalang kekuatan umat.
Di masjid, sangat mudah menjumpai orang-orang yang benar shalihnya, kala itu. Bahkan, yang membedakan antara orang munafiq dan mukmin, bisa dilihat dari intensitasnya mendatangi shalat berjamaah dan berkumpul bersama kaum Muslimin di masjid. Sayangnya, kita tak menjumpai hal itu di zaman ini. Masjid telah berubah fungsi. Masjid sudah jauh dari makna awal didirikannya oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Rupanya, kondisi ini sudah jauh-jauh hari diprediksikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau mengatakan, “Akan datang kepada manusia suatu zaman, mereka berkumpul di masjid-masjid, dan tidak ada di antara mereka yang betul-betul beriman.”
Kini, kita mendapati kebenaran sabda yang diriwayatkan oleh Imam al-Hakim dengan sanad shahih ini. Kita bisa menjumpainya di banyak masjid kaum Muslimin, di berbagai daerah bahkan negara.
Dengan tidak bermaksud mendiskreditkan ornag-orang shalih yang senantiasa menjaga masjid, mari mengakui fakta ini. Ada segelintir orang yang menggunakan masjid hanya untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya, tanpa niat sedikit pun untuk memajukan kaum Muslimin dan membaguskan kualitas iman kepada Allah Ta’ala.
Pernahkah Anda menjumpai muda-mudi yang asyik bercengkerama di masjid, padahal mereka bukan muhrim? Pernahkah kita menjadi saksi orang-orang yang menggunakan masjid hanya untuk keperluan buang air dan membersihkan badan, tanpa aktif beribadah dan menggunakannya untuk keperluan iman yang jauh lebih penting?
Bahkan, ada masjid-masjid yang didirikan untuk kepentingan duniawi semata. Orang-orang berkumpul di masjid, tapi yang menjadi bahasannya adalah dunia dan harta. Yang dikaji bukan bagaimana mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan beragam ibadah yang disyariatkan, tapi malah mengajarkan bagaimana manusia bergegas mengejar dunia atas nama anjuran kaya.
Lantaran berkurangnya nilai spiritual masjid itu pula, hendaknya kita melakukan introspeksi diri. Apakah kita masuk dalam golongan yang berupaya memperbaiki dengan menjadi ahli masjid yang kelak dinaungi Allah Ta’ala, atau justru menghindar dengan dalih agar terjaga dari fitnah?
Semoga Allah Ta’ala mudahkan langkah kita untuk mengurusi rumah-rumah-Nya yang tersebar di seantero muka bumi ini. Aamiin.
Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]
http://kisahikmah.com/di-masjid-tapi-tidak-beriman/
21.36 | 0 komentar | Read More

Sisi Lain Dunia: Kehidupan Dunia, Bagai Bunga yang Dipetik Kemudian Layu

Written By Situs Baginda Ery (New) on Rabu, 03 Februari 2016 | 09.36

Tahta, jabatan, wanita, keturunan, harta, benda, dan seterusnya. Keseluruhannya itu nampak begitu menggoda dan membuai normalnya jiwa manusia tergoda dan berhasrat untuk menggapai dan menikmatinya

Dalam Al-Quran, tepatnya Surat Thaha ayat ke-131, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.”
Sementara itu Imam Al-Bukhari no. 1465 dan Imam Muslim no. 1052 meriwayatkan dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri –radhiyallahu ‘anhu-, ujarnya, “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam duduk di mimbar sedangkan kami duduk di sekelilin beliau. Beliau bersabda,
إِنَّ مِمَّا أَخَافُ عَلَيْكُمْ من بعدي ما يفتح عليكم من زهرة الدنيا و زينتها
“Sesungguhnya di antara yang aku khawatirkan pada diri kalian setelah peninggalanku ialah dibukakannya bunga dunia dan pernak-perniknya untuk kalian.”
Pada ayat dan hadits tersebut di atas, kehidupan dunia diibaratkan sebagai bunga. Pertanyaaannya, apakah hubungan antara dunia dan bunga sehingga bunga dijadikan sebagaisample kehidupan dunia? Jawabannya dapat kita telaah sebagai berikut.
Ketika suatu tanaman yang hendak mengeluarkan buahnya, biasanya diawali dengan kemunculan bunga. Kadang kala bunga itu terlihat indah dan di saat lain terlihat begitu sangat menawan. Bahkan terkadang tidak sedikit orang yang memandangnya berhasrat untuk memetiknya dan dibawanya pergi. Namun tahukah kita sekiranya bunga tadi benar-benar dipetik sebelum berubah menjadi buah? Ternyata tidak akan berapa lama kemudian akan segera layu dan pada akhirnya akan dicampakan oleh sang pemetiknya. Memang jika masih berada di tangkai, terlihat begitu mempesona, namun jika diambil saat itu juga maka yang terjadi adalah malah justru menjadi layu, tak tahan lama. Berbeda ceritanya jika kita biarkan bunga itu terus berada di tangkainya sedikit agak lebih lama, tentu bunga tersebut akan berubah menjadi buah yang tidak saja indah dan menyejukkan pandangan jika dilihat, akan tetapi juga dapat dikonsumsi.
Dan gambaran dunia pun dapat dipastikan sebagaimana kisah bunga di atas. Kehidupan dunia itu terlihat begitu indah menawan di mata siapa saja yang melihat dan memandangnya. Tahta, jabatan, wanita, keturunan, harta, benda, dan seterusnya. Keseluruhannya itu nampak begitu menggoda dan membuai normalnya jiwa manusia tergoda dan berhasrat untuk menggapai dan menikmatinya. Akan tetapi sungguh, segala yang terlihat indah di mata itu sejatinya akan jauh lebih indah jika ditunggu sebentar saja nanti ketika datang kampung kekelan di akhirat. Adapun orang-orang yang terlena dan tergoda sehingga tak dapat menahan kecuali memetik dan menikmatinya, sungguh cepat ataupun lambat segala sesuatu yang dinikmatinya itu akan layu dan nampak suram dan bencana yang sangat mencekam. Demikianlah Allah menguji hamba-hamba-Nya agar dapat terlihat mana di antara mereka yang benar-benar jujur dan taat mematuhi segala titah-Nya, dan mana di antara mereka yang terburu-buru menikmati keindahan sebelum datang waktunya.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah mengatakan, bahwa dunia itu laksana surga bagi orang kafir, dan penjara bagi orang mukmin (HR Muslim). Kenapa? Karena di dunia itu dipenuhi aturan-aturan yang sama sekali tak boleh diterjang. Ada halal-haram, ada perintah-larangan, ada ini dan itu. Kerap kali untuk menjalankan suatu perintah, harus meninggalkan beberapa perkara yang nampak indah dan di saat tertentu harus menelan rasa pahit. Seluruh perintah ini hanya akan dilaksanakn oleh orang-orang mukmin karena meraka bersabar dan yakin bahwa kehidupan sebenarnya yang terdapat berbagai kenikmatan hanya akan ada di akhirat, di dunia bukanlah tempat berfoya-foya dan leyeh-leyeh. Dalam sebuah kaedah agung disebutkan,
من تركَ شيئًا للهِ ، عوَّضهُ اللهُ خيرًا منه
Orang yang meninggalkan sesuatu karena Allah, pasti Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik untuknya
Sedangkan orang kafir terburu-buru dan tidak sabar menikmati kemewahan dunia yang tak ubahnya fatamorgana. Di dunia mereka berfoya-foya dengan disertai ejekan dan cemoohan pada orang-orang yang mau bersabar, kelak orang-orang kafir itu akan merasakan akibatnya. Ketika mereka sudah merasakan indahnya dunia, kelak di negeri kekal tak akan lagi merasakan indahnya surga. Nerakalah tempat teduh mereka.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ * وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ * وَإِذَا انقَلَبُوا إِلَىٰ أَهْلِهِمُ انقَلَبُوا فَكِهِينَ * وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَٰؤُلَاءِ لَضَالُّونَ * وَمَا أُرْسِلُوا عَلَيْهِمْ حَافِظِينَ * فَالْيَوْمَ الَّذِينَ آمَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ * عَلَى الْأَرَائِكِ يَنظُرُونَ * هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang yang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukminMaka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir,mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS Al-Muthaffifin: 29-36).
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
مَّن كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَّدْحُورًا* وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا
Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS Al-Isra’: 18-19).
Dalam sebuah kaidah fikih disebutkan sebagai berikut,
مَنِ اسْتَعْجَلَ الشَّيْءَ قَبْلَ أَوَانِهِ عُوْقِبَ بِحِرْمَانِهِ
Orang yang terburu-buru melakukan sesuatu sebelum saatnya, akan diharamkan melakukannya (setelah datang waktunya).”
Contoh kongkrit selain orang kafir yang tak sabar menikmati dunia ialah seperti apa yang dikatakan oleh baginda Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam“Janganlah kalian memakai sutera, karena barang siapa yang memakainya di dunia, maka tidak akan memakainya di akhirat.” (HR Al-Bukhari-Muslim).
Walaupun ada dua kemingkinan maksud di atas, yaitu orang yang memakai sutera di dunia kelak di akhirat tidak akan masuk surge dan kemungkinan lain orang yang terlanjur memakai sutera di dunia kelak jika masuk surga tidak lagi mengenakannya.
Begitu pula dengan khamar dan banyak lagi contohnya.
Kaedah tersebut di atas bermakna luas dan umum. Seperti yang kita contohkan di atas, bahwa orang kafir telah mengambil keputusan menikmati keindahan hidup di dunia, padahal dunia bukanlah tempat berfoya-foya. Oleh sebab itu kelak di akhirat yang merupakan tempat kekal abadi yang sebenarnya tempat yang dijanjikan adanya nikmat agung, kelak mereka tak lagi dapat menikmatinya. Padahal jika mereka mau sedikit bersabar dengan meninggalkan hal-hal yang Allah murkai, mereka akan merasakan kenikmatan yang amat lebih indah dan nikmat.
Oleh sebab itu jangan kita merasa heran dengan keadaan orang-orang kafir di dunia. AllahTa’ala pernah mengatakan,
لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ * مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ
Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.” (QS Alu ‘Imran: 196-197).
Dunia memang laksana fatamorgana. Sepertinya megah, namun pada hakekatnya lemah. Menurut bahasa Arab, dunia berarti hina dan dekat. Hina karena harganya yang tak ada apa-apa dibanding akhirat. Dekat karena kedekatannya dengan kampung akhirat.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS Al-‘Ankabut: 64).
Dia juga berfirman dalam surat Al-Hadid ayat ke-20,
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.
Maka manakah yang akan Anda pilih di antara keduanya? Akhirat yang telah disiapkan azab dan siksa yang pedih bagi orang-orang yang lebih mementingkan dunia daripada akhirat, ataukah ampunan dan keridhaan dari Allah ‘Azza wa Jalla bagi orang-orang yang lebih mementingkan akhirat daripada dunia?
Imam Ahmad meriwayatkan dari hadits Al-Mustaurid bin Syaddad –radhiyallahu ‘anhu-, bahwasannya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Sungguh, tempat cambuk kalian di surga lebih baik daripada dunia seisinya.”
Imam Muslim meriwayatkan dari hadits Al-Mustaurid bin Syaddad pula, RasulullahShallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Dunia dibandingkan akhirat hanya seperti salah seorang di antara kalian yang memasukkan jari tangannya ke dalam lautan. Perhatikanlah apa yang dibawa oleh jari itu?!”
Pada suatu kesempatan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah berjalan di kerumunan pasar melewati bangkai anak kambing yang telinganya kecil. Lantas beliau Shallallahu’alaihi Wasallam mengangkatnya dengan memegang telinganya seraya bersabda, “Siapa di antara kalian yang mau membeli ini seharga satu dirham?”
Para shahabat menjawab, “Kami tidak ingin membelinya seharga apapun. Apa yang bisa kamu perbuat dengannya?”
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengatakan, “Apakah kalian ingin memilikinya?”
Para hadirin menjawab, “Demi Allah, sekiranya masih hidup pun cacat, bangkai itu bertelinga kecil, lalu bagaimana lagi ketika ia sudah menjadi bangkai?”
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Demi Allah, dunia itu lebih hina di sisi Allah daripada bangkai itu di pandangan kalian.” (HR Muslim, dari Jabir –radhiyallahu ‘anhu-)
Imam Muslim meriwayatkan dari hadits Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu-, ujarnya, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,
يُؤْتَى بِأَنْعَم أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صِبْغَةً ، ثُمَّ يُقَالُ : يَا ابْنَ آدَمَ؛ هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطٌّ؟ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيْمٌ قَطٌّ؟ فَيَقُوْلُ: لَا وَ اللهِ يَا رَبِّ.
وَ يُؤْتَى بِأَشَدِّ النَاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، فَيُصْبَغُ صِبْغَةً فِي الْجَنَّةِ، فَيُقَالُ لَهُ: يَا ابْنَ آدَمَ، هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطٌّ؟ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطٌّ؟ فَيَقُوْلُ: لَا وَ اللهِ، مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطٌّ، وَ لَا رَأَيْتُ شِدَّةٌ قَطٌّ.
“Pada hari kiamat akan dihadirkan orang yang paling merasakan nikmat di dunia dari kalangan penduduk neraka. Kemudian ia dicelupkan sekali ke dalam neraka lantas ditanyakan padanya, ‘Hai manusia, apakah kamu pernah melihat kebaikan, apakah kamu pernah merasakan kenikmatan?’
Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah wahai Rabb-ku.’
Dan dihadirkan orang yang paling sengsara di dunia dari kalangan penduduk surga lalu dicelupkan ke dalam surga dengan sekali celupan. Ditanyakan padanya, ‘Wahai manusia, pernahkah kamu melihat satu penderitaan? Pernahkah kamu merasakan kesulitan?’
Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah, aku tidak pernah merasakan penderitaan sama sekali dan aku tak pernah melihat adanya kesulitan sedikitpun.’”
Demikianlah. Seorang muslim seharusnya benar-benar menyadari betapa dunia hanya negeri yang penuh dengan fatamorgana. Dunia bukanlah tempat bersenang-senang dan beristirahat. Dunia merupakan kampung mencari bekal. Sebaliknya, akhiratlah tempat memetik buah amal. Jika perbuatan yang diusahakan di dunia baik, tentu balasan di akhirat pun akan baik, dan demikian sebaliknya.
Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim melaporkan dari Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu-, bahwasannya Rasululullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah mengatakan,
اَللهُمَّ لَا عَيْشَ إِلَّا عَيْشَ الْآخِرَةِ
“Ya Allah, tidak ada kehidupan kecuali kehidupan akhirat.”
Kemudian mari kita melihat kehidupan para suri tauladan kita yang benar-benar menyadari betapa dunia tak ada harganya sama sekali jika tidak dimanfaatkan sebagai kampung mencari bekal akhirat. Mereka menanggap bahwa harta bukanlah segalanya sehingga mereka tidak begitu berhasrat mengumpulkannya dan bahkan jika sudah di tangan, mereka begitu antusias untuk segera mengalihkantangan.
Ini dia Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah menyatakan, “Seandainya saya memiliki emas sebesar gunung Uhud tentu aku bergembira manakala tidak sampai tiga hari pada emas itu aku tidak memilikinya sedikit pun kecuali beberapa dinar yang aku simpan untuk keperluan hutang.” (HR Al-Bukhari-Muslim).
Sehingga ‘Amr bin Al-Harits menceritakan, “Ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam wafat, beliau sama sekali tidak meninggalkan dinar, dirham, budak laki-laki, budak wanita, atau apapun kecuali keledai yang beliau kendarai dahulu, senjatanya, serta tanah yang sudah beliau wakafkah untuk ibnu sabil.” (HR Al-Bukhari)
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sendiri ketika hidupnya tidak pernah menolak orang yang menengadahkan tangan padanya. Sehingga saat tidak ada lagi tersisa harta di tangannya, beliau menyampaikan uzur.
Adalah dua puteri Abu Bakar Ash-Shiddiq –radhiyallahu ‘anhu– yang masing-masing bernama Asma’ dan ‘Aisyah memiliki kebiasaan bersedekah yang luar biasa. Bedanya jika Asma’ tidak pernah sabar melihat harta yang ada di tangannya, sementara ‘Aisyah biasa mengumpulkan hartanya terlebih dahulu hingga banyak baru kemudian beliau sedekahkan.
Maka celakalahh bagi mereka yang masih mengagungkan dunia. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah menegaskan, “Celakalah hamba dinar dan hamba dinar, (celakalah) hamba qathifah (pakaian yang dihiasai renda-renda yang bergelantung-pent) dan khamishah (selimut persegi empat-pent).” (HR Al-Bukhari).
Dan perlu diketahui bahwa harta kesenangan di dunia hanya ada 3, yaitu apa yang dimakan kemudian lenyap, apa yang dipakai hingga rusak, atau apa yang disedekahkan sehingga kekal lestari. Demikian yang Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam terangkan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Shahabat ‘Abdullah bin Asy-Syikhkhir –radhiyallahu ‘anhu– dan direkam oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya.
Sungguh indah sya’ir yang dibawakan Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi dalam muqaddimah Riyadh Ash-Shalihin min Kalam Sayyid Al-Mursalin,
إِنَّ لِلهِ عِبَادًا فُطَنَا *** طَلَّقُوْا الدُّنْيَا وَ خَافُوْا الْفِتَنَا
نَظَرُوْا فِيْهَا فَلَمَّا عَلِمُوْا *** أَنَّهَا لَيْسَتْ لِحَيٍّ وَطَنَا
جَعَلُوْهَا لُجَّةً وَ اتَّخَذُوْا *** صَالِحَ الْأَعْمَالِ فِيْهَا سُفَنَا
Sesungguhnya Allah memiliki beberapa hamba yang cerdik,
mereka menceraikan dunia karena khawatir bencana
Mereka merenungkan isi dunia, ketika mereka mengetahui bahwa dunia bukanlah tanah air orang yang hidup
Mereka pun menjadikannya laksana samudera dan menjadikan amal shalih sebagai bahteranya
Al-Hafizh An-Nawawi –rahmatullah ‘alaih– mengatakan, “Jika keberadaan dunia adalah seperti yang telah saya kemukakan tadi, dan status kita serta tujuan kita diciptakan adalah seperti yang telah saya sampaikan (untuk mengabdi pada Rabbul ‘alamin), maka sudah semestinya bagi setiap mukallaf membawa dirinya ke jalan orang-orang pilihan dan menepaki jalan orang-orang yang memiliki akal, nalar, dan pikiran.”
Setelah kita mengetahui penjelasan ringkas di atas, sadarlah kita bagaimana seorang mukmin hanya akan bersenang-sedang dan menikmati jerih payahnya di dunia yang penuh dengan duri-duri dan jalan-jalan terjal. Apatah lagi tidak sedikit orang yang mencemooh dan menghina mereka yang terkadang berpenghidupan serba kekurangan, menurut mata telanjang. Padahal sungguhnya kebahagiaan dan kekayaan dalam artian cukup itu hanya ada dalam hati, bukan harta, tahta, wanita, dan keturunan. Sebab betapa kita sering mendengar tidak sedikit orang yang memiliki kekayaan hebat; istana megah, kendaraan mewah, penampilan wah, namun kehidupannya berakhir dengan bunuh diri. Jika memang itu kebahagiaan, lantas mengapa mereka bunuh diri?!
الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَ جَنَّةُ الْكَافِرِ
“Dunia itu penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.”
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kita kekuatan untuk terus istiqamah menjalankan segala bentuk titah-Nya dan menjauhi sejauh-jauhnya apa yang menjadi larangannya. Wallahua’lam. []

Gunung Sempu Yogyakarta, 20 Syawwal 1435 H
Penulis: Firman Hidayat bin Marwadi
Artikel Muslim.Or.Id
09.36 | 0 komentar | Read More

BACA JUGA

DAFTAR LENGKAP ARTIKEL BLOG BAGINDAERY

Ikuti situs Bagindaery

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...