ARTIKEL PILIHAN

GOOGLE TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

ARTIKEL PILIHAN

Hal-Hal Yang Dapat Membatalkan Puasa di Bulan Ramadhan

Written By Situs Baginda Ery (New) on Sabtu, 21 Juli 2012 | 15.52

Ramadhan 3

Apa sajakah hal-hal yang membatalkan puasa? Lalu, apakah marah membuat puasa sia-sia? Dua pertanyaan ringan inilah yang sering menggelitik hati, menjelang bulan Ramadhan; yang insya Allah akan tiba pada esok hari, Sabtu, 21 Juli 2012.

Secara bahasa, puasa (shaum) berarti menahan diri dari segala sesuatu. Menurut istilah, puasa bermakna menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan selama sehari penuh sejak fajar hingga terbenam matahari. Adapun hal-hal yang membatalkannya adalah sebagai berikut.

1) Makan dan Minum
Makan dan minum sejak subuh hingga maghrib, membatalkan puasa. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah:187, ” … dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam”.

Namun, apabila seseorang tidak sengaja menyantap makanan karena lupa, puasa tersebut tetap tidak batal. Ia berhak merampungkan puasanya tersebut. Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa lupa bahwa ia tengah berpuasa, kemudian makan atau minum, hendaklah ia tetap menyempurnakan puasanya. Sesungguhnya Allah yang memberinya makan dan minum.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

2) Muntah dengan Sengaja

Seseorang yang muntah karena tidak sengaja, berhak melanjutkan puasanya. Sebaliknya, mereka yang menyengaja untuk muntah, puasanya batal. Ia wajib mengganti puasanya tersebut di kemudian hari.

Sabda Nabi, “Barangsiapa terpaksa muntah, tidak wajib mengganti (mengqadha) puasanya; dan barangsiapa yang menyengaja muntahnya, maka hendaklah ia mengganti puasanya.” (H.R. Abu Daud)

3) Tengah Haid atau Nifas

Bagi perempuan, terdapat keringanan dalam menjalankan puasa. Mereka yang haid, diperbolehkan untuk mengganti puasanya di lain hari. Demikian pula wanita yang mengeluarkan darah nifas (darah setelah melahirkan).

Diriwayatkan dari Aisyah, “Kami diperintakan oleh Rasulullah saw. untuk mengganti puasa, dan tidak diperintahkan untuk mengganti sembahyang (yang tidak dilakukan ketika seseorang haid) (H.R. Bukhari)

4) Melakukan Hubungan Suami-Istri

Puasa sejatinya menahan segala bentuk keinginan tubuh manusia. Selain hasrat untuk makan dan minum, ada hasrat dasar lain yang harus ditekan, yaitu hasrat seksual. Firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah:187, “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istrimu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. …”

Mereka yang tidak dapat membendung nafsu seksualnya, diwajibkan untuk membayar kifarat, yaitu berurutan: 1) memerdekakan budak, 2) (jika tidak mampu, maka) puasa dua bulan berturut-turut, 3) (jika tidak mampu, maka) bersedekah yang mengenyangkan 60 fakir miskin, dengan ketentuan 3/4 liter per orang.

Marah Saat Puasa

Bagaimana jika kita sudah mampu menghalangi makan, minum, dan hasrat seksual? Apakah dengan demikian puasa kita sah? Bagaimana pula dengan orang yang marah ketika puasa? Bagaimana pula dengan orang yang tidak menjaga tutur kata selama berpuasa? Apakah puasanya batal?

Tujuan berpuasa adalah upaya meredam segala sesuatu. Dalam hal ini, segala sesuatu yang bersifat buruk, yang berasal dari kelemahan-kelemahan kita selama di dunia, wajib ditekan seminimum mungkin. Tidak hanya nafsu dasar yang semestinya ditekan. Tetapi juga, sifat-sifat buruk yang sering dianggap ‘manusiawi’: iri, dengki, dendam, marah, dan sebagainya, yang bermuara pada rasa keakuan.

Pada tahap permukaan, puasa menahan lapar, haus, dan hasrat seksual. Dan, pada tahap berikutnya, puasa digunakan untuk meredakan sifat-sifat negatif di atas. Rasulullah saw. sendiri, bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, janganlah ia mengucapkan perkataan kotor dan jangan berteriak-teriak. Jika ia dicaci oleh orang atau hendak diajak berkelahi, maka hendaknya ia mengatakan ‘Aku sedang puasa.’.”

Puasa orang tersebut, memang tidak batal. Namun, ia tidak mendapatkan pelajaran apa pun dalam puasanya. Ketika ia diminta belajar untuk mengendalikan diri, semestinya tidak hanya nafsu dasarnya yang dapat dikontrol, tetapi juga perasaan-perasaan yang berasal dari keakuan diri.

15.52 | 0 komentar | Read More

Bagi yg Penasaran? Apa Itu Hilal, Hisab, dan Ruhyat?

Pengertian Hilal, apa itu Hilal?, apa itu Hisab, dan Ruhyat?. Yups, kata tersebut sering terdengar setiap penentuan Ramadhan ataupun Lebaran Idul Fitri. Sering sekali terjadi perdebatan antara kalangan ulama dalam menentukan pergantian sebuah bulan menurut kalender Islam. Jadi media-media semakin sering menggunakan istilah diatas yaitu, Hilal, Hisab, dan Ruhyat. Saya sendiri pun awalnya gak paham dengan istilah tersebut, maklum edukasi tentang ke-Islaman kan sedikit sekali kita dapatkan dari bangku sekolah. So, terpaksa deh searching sama embah google “Pengertian Hilal? Apa itu Hilal? Apa itu Hisab? Apa itu Ruhyat?”.

http://almuhajirindotorg.files.wordpress.com/2011/07/bulan-sabit2.jpg

PENGERTIAN HILAL

http://wartaaceh.com/wp-content/uploads/2012/07/hilal-dan-rukyat.jpg

Hilal adalah sabit bulan baru yang menandai masuknya bulan baru pada sistem kalender Qomariyah atau Hijriah. Hilal merupakan fenomena tampakan Bulan yang dilihat dari Bumi setelah ijtimak atau konjungsi. Perbedaan tempat dan waktu di Bumi mempengaruhi tampakan hilal. Hilal sangat redup dibandingkan dengan cahaya Matahari atau mega senja. Dengan demikian hilal ini baru dapat diamati sesaat setelah Matahari terbenam.

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tampakan hilal. Hal ini menyangkut kriteria visibilitas hilal. Kedudukan Bumi, Bulan, dan Matahari memungkinkan tinggi dan azimut Bulan dapat dihitung saat Matahari terbenam. Demikian halnya dengan beda tinggi dan jarak sudut antara Bulan dan Matahari. Tidak kalah pentingnya adalah faktor atmosfer dan kondisi pengamat yang ikut menentukan kualitas tampakan hilal.

PENGERTIAN HISAB

http://mbramantya.files.wordpress.com/2009/09/rukyat200809-300x2431.jpgSecara harfiyah HISAB bermakna ‘perhitungan’. Di dunia Islam istilah ‘hisab’ sering digunakan sebagai metode perhitungan matematik astronomi untuk memperkirakan posisi matahari dan bulan terhadap bumi.

Penentuan posisi matahari menjadi penting karena umat Islam untuk ibadah shalatnya menggunakan posisi matahari sebagai patokan waktu sholat. Sedangkan penentuan posisi bulan untuk mengetahui terjadinya hilal sebagai penanda masuknya periode bulan baru dalam Kalender Hijriyah. Ini penting terutama untuk menentukan awal Ramadhan saat orang mulai berpuasa, awal Syawal saat orang mengakhiri puasa dan merayakan Idul Fitri, serta awal Dzulhijjah saat orang akan wukuf haji di Arafah (09 Dzulhijjah) dan hari raya Idul Adha (10 Dzulhijjah)

PENGERTIAN RUHYAT

http://www.jateng.kemenag.go.id/pict/28137207ramalan_hilal.jpg

Rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang nampak pertama kali setelah terjadinya ijtimak (konjungsi). Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang atau dengan alat bantu optik seperti teleskop. Rukyat dilakukan setelah matahari terbenam. Hilal hanya tampak setelah matahari terbenam (maghrib), karena intensitas cahaya hilal sangat redup dibanding cahaya matahari, serta ukurannya sangat tipis.

Apabila hilal terlihat, maka pada petang (maghrib) waktu setempat telah memasuki bulan (kalender) baru Hijriyah. Apabila hilal tidak terlihat maka awal bulan ditetapkan mulai maghrib hari berikutnya. Perlu diketahui bahwa dalam kalender Hijriyah, sebuah hari diawali sejak terbenamnya matahari waktu setempat, bukan saat tengah malam. Sementara penentuan awal bulan (kalender) tergantung pada penampakan (visibilitas) bulan. Karena itu, satu bulan kalender Hijriyah dapat berumur 29 atau 30 hari.

Nah itu dia tadi pengertian Hilal, Hisab, dan Ruhyat? dan semoga saja dalam memahami dan memaknai semua ini para ulama kita tidak terlalu berlarut-larut dalam perbedan seputar Hilal. Semoga artikel ini bermnfaat, wassalam.

15.50 | 0 komentar | Read More

Bolehkah Membunuh Ular dan Tikus?

Pertanyaan:

Apakah ular, tikus dan kecoa boleh dibunuh?


Jawab:

Membunuh ular, tikus dan kecoa dan binatang sejenis merupakan perkara diperbolehkan karena binatang-binatang tersebut bersifat mengganggu. Hal ini berdasarkan sabda Nabi SAW:


خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فِى الْحِلِّ وَالْحَرَمِ الْحَيَّةُ وَالْغُرَابُ الأَبْقَعُ وَالْفَارَةُ وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ وَالْحُدَيَّا



Lima (hewan) perusak yang boleh dibunuh di luar tanah suci dan di tanah suci yaitu: ular, gagak, tikus, serigala dan rajawali (Muttafaqun ‘alaihi)



(Majalah As-Sunnah Edisi 10/Thn. XIII/Muharram 1431H/Januari 2010M)

15.47 | 0 komentar | Read More

Hukum Membunuh Binatang Yang Mengganggu

Pertanyaan:

Bagaimana hukum membunuh binatang pengganggu seperti kecoak, semut, lalat, nyamuk & binatang-binatang serupa lainnya?.

Ummu Ifa 085255975xxx

Jawaban:

Syariat Islam dibangun di atas pondasi jalbul mashâlih (menciptakan/mendatangkan kemaslahatan) dan dar`ul mafâsid (menghapus semua bahaya dan kerusakan). Semua yang merusak dan mengganggu boleh dihilangkan sesuai dengan tingkatan kerusakan dan gangguan yang timbul. Hal ini dijelaskan dalam sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassallam:

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

"Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membayakan"
(HR Ibnu Majah dan dishohihkan al-Albani dalam Irwa’ al-ghalil no. 896).


Dari sini, para Ulama menetapkan kaedah yang berbunyi:

الضَرَرَ يُزَالُ

"Semua madharat (bahaya, gangguan) (harus) dihilangkan."

Sehingga semua yang mengganggu dan merusak harus dihilangkan (dilenyapkan) sesuai dengan tingkat kerusakan yang ditimbulkannya.Tentang masalah membunuh serangga yang sering ada di dalam rumah seperti kecoa, semut dan sejenisnya pernah ditanyakan kepada Syaikh Bin Bâz rahimahullâh dan beliau menjawab:

Serangga-serangga tersebut apabila menimbulkan gangguan maka boleh dibunuh, namun tidak boleh dilakukan dengan menggunakan api (dibakar). Boleh dibunuh dengan berbagai alat pembasmi lainnya dengan dasar sabda Rasûlullâh Shallallahu 'Alaihi Wassallam:


خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فِى الْحِلِّ وَالْحَرَمِ الْحَيَّةُ وَالْغُرَابُ الأَبْقَعُ وَالْفَارَةُ وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ وَالْحُدَيَّا

"Lima (hewan) perusak yang boleh dibunuh di luar tanah suci dan di tanah suci yaitu: ular, gagak, tikus, serigala dan rajawali."
(Muttafaqun ‘alaihi)

Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassallam telah memberitahukan bahwa sifat pengganggu melekat pada hewan-hewan tersebut. Dalam bahasa Beliau Shallallahu 'Alaihi Wassallam, binatang-binatang pengganggu itu disebut fawâsiq. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassallam pun mengizinkan untuk membunuhnya. Demikian juga serangga-serangga, diperbolehkan membunuhnya di tanah suci dan luar tanah suci apabila binatang-binatang tersebut menimbulkan gangguan, seperti semut, kecoa, nyamuk dan hewan lain menimbulkan gangguan.

(Majmû’ Fatâwa wa Maqâlât Mutanawwi’ah 5/301-302)

15.43 | 0 komentar | Read More

Hukum Membunuh Semut Rumah

ما حكم قتل النمل القارص ، حتى لو لم يقرص ، وكذا قتل باقي أنواع الحشرات ، التي في المنازل وغيرها ، حتى لو لم يكن منها الأذى ؟

http://4.bp.blogspot.com/-z6bCn9wPrGo/Th3NfJtEW2I/AAAAAAAAASU/dnxnuIBd4qo/s320/semut.jpgPertanyaan, “Apa hukum membunuh semut yang suka menggigit meski ketika itu sedang tidak menggigit? Demikian pula, apa hukum membunuh binatang-binatang kecil lain yang biasa ada di rumah atau pun tempat yang lain meski tidak mengganggu?”

الإجابة :
ينتبه أن لا يقتل إلا ما كان مؤذيا ، أما الذي لا يؤذي فلا يقتل ، والأذى أنواع ، ومن الأذى بأن يكون وجودها في البيت ، وفي أماكن الجلوس ، هذا يعتبر نوعا من الأذى ، لا أحد يقبل الحشرات في بيته ، فيجوز إبعادها أو قتلها ، لا حرج إن شاء الله تعالى . والله أعلم .

Jawaban Syaikh Abdul Muhsin bin Nashir al Ubaikan, “Perhatikan, tidak boleh membunuh hewan kecuali yang mengganggu. Sedangkan hewan yang tidak mengganggu itu tidak boleh dibunuh. Bentuk gangguan hewan kepada manusia itu beragam bentuknya. Diantara bentuk gangguan hewan adalah keberadaannya di dalam rumah, atau di tempat-tempat yang biasa diduduki oleh orang. Kondisi ini terhitung gangguan. Tidak ada seorang pun yang ingin rumahnya dipenuhi oleh berbagai macam hewan kecil-kecil. Sehingga hewan-hewan yang ada di rumah itu boleh diusir atau pun dibunuhi. Sekali lagi, hukumnya adalah tidak mengapa, insya Allah”.

Sumber: http://al-obeikan.com/show_fatwa/3234.html

Artikel www.ustadzaris.com

15.40 | 0 komentar | Read More

Asbabun nuzul hukum membunuh cicak

mengenai cecak ini, sudah digelari oleh Rasul saw : Fuwaisiqa, yaitu si kecil yg fasiq, maka kita memahami bahwa Rasul saw tak sembarang bicara, beliau tak suka mencaci atau meberi gelar yg buruk pada manusia dan seluruh makhluk Allah swt,

maka bila beliau saw sampai menggelarinya spt itu maka tentulah hewan ini jahat, dan Rasul saw memerintahkan utk membunuhnya, riwayat awalnya sebagaimana dijelaskan bahwa disaat Ibrahim as dilemparkan ke Api namrud maka semua hewan berusaha memadamkan api ibrahim as itu, kecuali cecak. maka Rasul saw memerintahkan untuk membunuh hewan ini dimanapun kita jumpai. (Tafsir Imam Bn katsir juz 3 hal.185, Tafsir Imam Attabari Juz 17 hal 45)

dan bahwa Rasul saw memerintahkan untuk membunuh cecak (Shahih Muslim hadits no.2238)

sabda Rasulullah saw : “Barangsiapa yg membunuh cecak dg satu pukulan maka baginya 100 pahala, dan bila dg dua pukulan maka terus berkurang dan berkurang” (shahih muslim hadits no.2240)

Sumber Habib Munzir Al Musawwa

15.39 | 0 komentar | Read More

Apakah Lewat di Depan Orang Sholat itu Haram/Keharaman???

Masih banyak umat Muslim yang tidak paham hukum lewat di depan orang sholat. Kebanyakan umat Muslim di Indonesia menganggap bahwa lewat di depan orang sholat merupakan perbuatan tidak sopan. Hanya ‘tidak sopan’. Kalau hanya dihukumi ‘tidak sopan’, maka masuk ruangan tanpa salam pun itu adalah tidak sopan. Namun, permasalahan yang sebenarnya adalah lebih dari itu. Hal ini mengakibatkan banyak umat Muslim yang meremehkan masalah ini, akhirnya banyak dari mereka tidak memperhatikan jalannya ketika mereka berjalan di masjid, apakah mereka lewat di depan orang sholat atau tidak. Mereka hanya berujar dalam hati, “Ah, Cuma gak sopan aja kok, paling juga yang lagi sholat gak marah saya lewatin.” Jika mereka mengetahui apa yang Rasulullah sabdakan mengenai hukum lewat di depan orang sholat, niscaya mereka akan melupakan tentang kesopanan dan memikirkan keselamatan di akhirat akibat perbuatan mereka lewat di depan orang sholat.

Suatu ketika, sehabis sholat Jum’at, saya membaca bacaan wirid seraya menunggu para jama’ah yang seliweran keluar masjid. Ketika masjid sudah sedikit lengang, saya pergi menuju sebuah tiang untuk menjadi sutrah (pembatas) untuk menjalankan sholat sunnah rawatib. Di depan sebelah kanan saya duduk seorang jama’ah. Saya pun melaksanakan sholat rawatib di situ. Seketika orang tersebut berdiri dan berputar menghadap saya. Dengan santai seperti tidak melihat ada saya yang sedang sholat, dia hendak berjalan di depan saya. Tepat di antara saya dan tiang masjid yang saya gunakan sebagai sutrah. Dengan reflex, saya menghadang jalan orang tersebut dengan membentangkan tangan kanan saya ke depan hingga mengenai dada orang tersebut. Seketika orang tersebut terlihat marah dengan mencampakkan tangan saya dan menolaknya dengan kasar. Kemudian ia menyingkir dan menatap sebentar ke arah saya kemudian ia pergi. Saya tidak tahu bagaimana ekspresi tatapan orang tersebut kepada saya karena pada waktu itu pandangan saya hanya tertuju ke tempat sujud. Ini adalah salah satu pengalaman saya dalam menghalangi orang lewat di depan saya. Hendaknya umat Muslim mengetahui persolan seperti ini sehingga tidak lagi terjadi konflik antar sesama umat Muslim dikarenakan hal-hal sepele yang sebenarnya besar.

Mengenai hukum lewat di depan orang sholat itu sendiri ada sebuah hadits yang sangat tegas. Bisr bin Sa’id meriwayatkan bahwa Zaid bin Khalid Al-Juhni dating ke Abu Juhaim untuk bertanya kepadanya apa yang ia dengar dari Rasulullah tentang orang yang lewat di depan orang sholat. Abu Juhaim berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Kalau saja orang yang lewat di depan orang yagn sedang sholat mengetahui apa (akibat) baginya, niscaya berdiri selama empat puluh lebih baik baginya daripada lewat di depannya’.” Abu An-Nazhar berkata, “Saya tidak mengetahui apakah beliau bersabda empat puluh hari, empat puluh bulan, atau empat puluh tahun.” [HR. Bukhari (510)].[1]

Hadits di atas mengandung ketegasan atas haramnya lewat di depan orang sholat. Lebih-lebih ada sebuah hadits yang menganjurkan orang yang sedang sholat agar menghalangi apa saja yang lewat di depannya. Abu Sa’id Al-Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Bila salah seorang di antara kalian sholat, janganlah membiarkan orang lain lewat di depannya dan hendaknya ia mencegahnya sekuat tenaga. Bila ia enggan, hendaknya ia membunuhnya karena itu adalah setan.” [An-Nawawi, Syarh Muslim: IV/223].[2]

Anjuran ini semakin menambah ketegasan atas haramnya lewat di depan orang sholat, bahkan dalam hadits di atas terdapat anjuran untuk membunuh –Wallahu a’lam- orang yang tetap lewat di depan orang sholat walau sudah dihadang. Saya pernah menanyakan hal ini kepada ustadz saya, apakah memang dibenarkan membunuh orang yang lewat di depan orang sholat dikarenakan tetap mengotot untuk lewat. Beliau menjawab bahwa hadits ini hanya mengandung ketegasan, artinya adalah sangat sangat sangat tidak boleh untuk lewat di depan orang sholat. Lagipula menurut saya, tidak akan ada orang yang lewat di depan orang sholat berkali-kali walau sudah dihalangi berkali-kali pula selain orang gila. Masalahnya bukan hanya orang lewat saja, bahkan saat seekor kambing lewat di depan Rasulullah, beliau maju hingga perutnya menempel di dinding, sehingga kambing tersebut lewat di belakangnya, di depan makmum.[3]

Semoga Allah memberi hidayah pada kita semua.

Wallahu a’lam bish showab.


[1] Takhrij Hadits bersumber dari Syaikh Shalahuddin As-Sa’id, Shalat Tapi Keliru: hal.159.

[2] Syaikh Shalahuddin As-Sa’id, Shalat Tapi Keliru: hal.162.

[3] Syaikh Shalahuddin As-Sa’id, Shalat Tapi Keliru: hal.163

15.37 | 0 komentar | Read More

ULAMA BANJAR PADA ZAMAN DAHULU KALA HARUS SAKTI MANDRAGUNA

Written By Situs Baginda Ery (New) on Jumat, 20 Juli 2012 | 09.06

Oleh Tajuddin Noor Ganie, M.Pd.

Ulama Banjar pada zaman dahulu kala harus sakti mandraguna itulah salah satu kesimpulan yang dapat dipetik jika kita membaca biografi para ulama Banjar yang hidup pada zaman dahulu kala.
Selain mengusai ilmu-ilmu yang berhubungan erat dengan masalah-masalah keagamaan, mereka juga harus menguasai ilmu-ilmu yang berhubungan erat dengan masalah-masalah kedigjayaan (memiliki karomah atau maunah).
Ketika membetulkan arah kiblat Masjid Jembatan Lima Jakarta yang terlalu miring ke kiri, Syeikh Muhammad Arsyad Al Banjari harus memperlihatkan maunah atau karomahnya kepada para jemaah masjid setempat.
Menurut ceritanya, beliau ketika itu mengacungkan tangannya dan para jemaah dapat melihat Ka’bah dari celah-celah lengan baju jubah beliau (Radar Banjarmasin, 18 Oktober 2007:7).
Syeikh Abdul Hamid Abulung (Datu Abulung) diceritakan sebagai seorang ahli tasawuf yang memiliki kesaktian luar biasa. Menurut ceritanya, beliau ketika itu sedang bermasalah dengan Raja Banjar, ilmu tasawuf yang diajarkannya dinilai sesat dan menyesatkan.
Beliau kemudian ditangkap oleh lasykar kerajaan, dimasukan ke dalam kerangkeng besi, dan kerangkeng besi itu kemudian ditenggelamkan ke dasar sungai. Tujuannya, apa lagi kalau bukan untuk membunuh Datu Abulung (jika benar demikian ceritanya, maka duh kejamnya Raja Banjar dimaksud, sama kejamnya dengan Firaun terhadap Nabi Musa).
Tapi, beliau tidak mati lemas karenanya, bahkan setiap kali tiba waktu shalat fardhu, kerangkeng besi itu akan naik sendiri dan mengapung di atas permukaan sungai. Tanpa kesulitan berarti beliau dapat ke luar dari kerangkeng besi itu dan melaksanakan shalat fardhu di atasnya (Asmuni, 2002 : 12-15).
Uniknya, meskipun sakti mandraguna seperti itu, Datu Abulung tidak pernah menjadikan kesaktiannya itu sebagai sarana untuk membela dirinya dari kezaliman Raja Banjar yang berkuasa ketika itu.
Beliau pasrah saja menerima nasib buruk dihukum mati karena keyakinan tasawufnya yang tidak selaras dengan mainstream syariah Islam sezaman. Apa gunanya memiliki kesaktian jika kesaktian itu tidak dapat dipergunakan untuk membela diri dan keyakinan tasawufnya?
Dalam biografi resmi mereka masing-masing, H. Muhammad Afif (Datu Landak) dan Datu Karipis diceritakan sebagai ulama Banjar yang mampu mencabut pohon langsung dengan akar-akarnya.
Pohon yang dicabut H. Muhammad Afif adalah pohon ulin yang tumbuh di hulu sungai Barito. Pohon ulin itulah yang setelah diolah sedemikian rupa kemudian dipancangkan oleh H. Muhammad Afif sebagai tiang guru Masjid Al Qaromah Martapura (Asmuni, 2002:29). Sementara pohon yang dicabut Datu Karipis adalah pohon enau yang tumbuh di Kampung Muning, Tatakan, Tapin (Asmuni, 2002:86).
Beberapa orang tokoh ulama Banjar yang hidup pada zaman dahulu kala, diceritakan tidak hanya sakti mandraguna ketika masih hidup saja, tetapi juga tetap sakti mandraguna meskipun telah meninggal dunia.
Unjuk kesaktian dimaksud antara lain dilakukan oleh Haji Ahmad Balimau (Asmuni, 2002:.23) dan Datu Sulaiman (Asmuni, 2002:.112). Keduanya diceritakan mampu memindahkan makamnya ke lain tempat yang lebih sesuai dengan keinginan hatinya, meskipun dirinya telah meninggal dunia.
Berkat selalu membaca Al Qur’an Surah Al An’am ayat 103 sebanyak 129 kali setiap kali usai shalat fardhu, Haji Dullah diceritakan sebagai tokoh ulama Banjar yang mampu menggaibkan dirinya sehingga tubuhnya tidak dapat dilihat oleh pasukan Belanda (bahasa Banjar mahalimunan)(Asmuni, 2002:).
Sementara itu, Datu Murkat diceritakan sebagai tokoh ulama Banjar yang sakti mandraguna. Beliau diceritakan dapat menaklukan lawannya yang sakti mandraguna hanya dengan bertepuk tangan saja (Asmuni, 2002:.87).
Datu Insat lain lagi kesaktiannya, tokoh ini diceritakan sebagai tokoh ulama Banjar yang sakti mandraguna. Beliau mampu menyembunyikan dirinya di dalam perut musuhnya (Asmuni, 2002:.120).
Tokoh ulama Banjar yang juga memiliki kesaktian istimewa adalah Abdus Samad al Palembangi (Datu Sanggul). Datu Sanggul diceritakan sebagai tokoh yang acapkali melaksanakan shalat Jum’at di Mekkah (Asmuni, 2002:78).
Para ulama Banjar yang hidup di zaman dahulu kala tampaknya memang harus sakti mandraguna. Jika tidak maka akan sulit bagi mereka untuk meyakinkan para jemaahnya. Hal ini sesuai dengan situasi dan kondisi zamannya, orang-orang ketika itu sangat sulit diyakinkan jika hanya dicekoki dengan paparan-paparan ilmiah yang bersifat abstrak (teoritis) tanpa bukti visual yang meyakinkan (bukti kongkrit).
09.06 | 0 komentar | Read More

Legenda Kewalian Syekh Magelung Sakti

Arifin Syam adalah putra dari kepala bagian pembesar istana dibawah kekuasaan Raja Hut Mesir, beliau sejak bayi telah ditinggalkan oleh ayah bundanya kehadirat Allah SWT, dan akhirnya dibesarkan oleh seorang muslim yang taat, disalah satu kota terpencil bagian negara Syam.
Legenda Kewalian Syekh Magelung SaktiNama Arifin Syam sendiri diambil dari kota dimana beliau dibesarkan kala itu yaitu Negara Syam. Dalam keumuman manusia seusianya, Arifin Syam dikenal sangat pendiam namun pintar dalam segi bahasa bahkan saking pintarnya beliau sudah terkenal sejak usia 7 tahun dengan panggilan sufistik kecil dikalangan guru dan pendidik lainnya. Karena pintar inilah beliau banyak diperebutkan kalangan guru besar diseluruh negara bagian Timur Tengah, dan sejak usia 11 tahun beliau telah menempatkan posisinya sebagai pengajar termuda diberbagai tempat ternama sepeti : Madinah, Mekkah, Istana Raja Mesir, Masjidil Aqso Palestina dan berbagai tempat ternama lainnya.
Namun dalam kepribadiannya, beliau banyak dihujat oleh ulama fukkoha, dikarenakan rambutnya yang semakin hari semakin memanjang tidak terurus, sehingga dalam pandangan para ahlul fikokkha, Srifin Syam terkesan bukan sebagai seorang pelajar religius yang mengedepankan makna tatakrama seorang sufistik agung.
Hal semacam ini bukan karena Arifin Syam tidak mau mencukur rambutnya yang lambat laun jatuh ke tanah, namun beliau sediri sudah ratusan kali beriktiar kebelahan dunia untuk mencari orang sakti yang benar-benar mampu memotonga rambutnya, pasalnya sejak dilahirkan ke alam dunia, rambut Arifin Syam sudah tidak bisa dipotong oleh sejenis benda tajam maupun alat lainnya dan kisah ini berlanjut hingga beliau berusia 40 tahun. di usisa 30 tahun beliau diambil oleh Istana Mesir dan menjadi panglima perang dalam mengalahkan pasukan Romawi dan Tartar, dan dari sinilah nama beliau mulai mashur dikalangan masyarakat luas sebagai panglima perang tersakti diantara panglima perang sebelumnya. sebab keumuman seorang panglima kala itu bisa dilihat dari strategi perangnya dan juga kelihaiannya dalam memainkan pedang, panah maupun tombak dikancah peperangan, namun lain dengan Arifin Syam, yang kini sudah bergelar dengan nama Panglima Mohammad Syam Magelung Sakti, beliau acap kali tidak membawa pedang maupun tombak dalam memimpin pasukannya, namun beliau selalu menebaskan rambutnya yang seperti kawat baja disetiap menghadapi ribuan pasukan musuh sehingga dengan kesaktian rambutnya pula membuat pasukan musuh pontang panting.
Kisah kesaktian rambutnya mulai mashur di usia 32 tahun dan pada usia 34 tahun beliau bertemu secara yakodho / lahir dengan Nabiyullah Hidir AS yang mengharuskan beliau mencari guru mursyid sebagai pembimbingnya menuju maqom kewalian kamil. Kisah pertemuan dengan Nabiyullah Hidir AS membuat beliau meninggalkan istana Raja Mesir yang kala itu sangat membutuhkan tenaganya, bahkan bukan hanyaitu beliau pun kerap dinantikan oleh seluruh muridnya dalam pengena (Waliyullah).
Dengan perbekalan makanan dan ratusan kitab yang dibawanya, Mohammad Syam Magelung Sakti mulai mengarungi belahan dunia dengan membawa perahu jukung (Perahu getek) seorang diri, beliau mulai mendatangi beberapa ulama terkenal dan singgah untuk mengangkatnya menjadikan muridnya, diantara yang disinggahi beliau antara lain : Syeikh Dzatul Ulum Libanon, Syeikh Attijani Yaman bagian Selatan, Syeikh Qowi bin Subhan bin Arsy Bairut, Syeikh Assamargondi bin Zubair bin Hasan India, Syeikh Muawwiyah As-salam Malaka, Syeikh Mahmud Yerussalem, Syeikh Zakariyya bin Salam bin Zaab Tunisia, Syeikh Marwan bin Sofyan Siddrul Muta’allim Campa, dan masih banyak yang lainnya. Namun walau begitu banyaknya para Waliyullah yang beliau datangi, tidak satu pun dari mereka yang menerimanya, mereka malah berbalik berkata “Sesungguhnya akulah yang meminta agar menjadi muridmu wahai sang Waliyullah”
Dengan kekecewaan yang mendalam, Moh. Syam Magelung Sakti mulai meninggalkan mereka untuk terus mencari Mursyid yang diinginkannya hingga pada suatu hari beliau bertemu dengan seorang pertapa sakti bangsa Sanghiyang bernama Resi Purba Sanghiyang Dursasana Prabu Kala Sengkala di perbatasan sungai selat malaka.
” Datanglah wahai kisanak di pulau Jawa, sesungguhnya disana telah hadir seorang pembawa kebajikan bagi seluruh Wliyullah, benamkan hati dan pikiranmu ditelapak kakinya, sesungguhnya beliau mengungguli dari semua Waliyullah yang ada” Dengan perkataan sang Resi barusan, Moh. Syam sangat senang mendengarnya dan setelah pamit beliaupun langsung meneruskan perjalanannya menuju pulau Jawa.
Mungkin pembaca sekalian merasa bingung dengan perkataan Resi tadi yang menanyatakan “Benamkan hati dan pikiranmu ditelapak kakinya” seolah perkataan ini terlalu riskan di ucapkan pada seorang yang mempunyai derajat Waliyullah. Sebelum pen-meneruskan cerita selanjutnya, ada baiknya Misteri jelaskan terlebih dahulu kata bahasa tadi agar tidak salah tafsir nantinya…
Dalam pemahaman ilmu tauhid, bahwasannya tingkat ke Walian di bagi menjadi beberapa bagian dan tingkat tertinggi disini adalah Maqom Quthbul Mutlak, yang di teruskan dengan Maqom Atmaniyyah, Arba’atul ‘Amadu, Muqoyyad, Autad, Nuqiba, Nujaba ‘ Abdal, Nasrulloh, Rijalulloh dan lain sebagainya.
Diantara Wali yang ada, semua Waliyullah derajatnya dibawah telapak Quthbul Muthlak sendiri derajatnya sebagai penerus Rosululloh, yaitu dibawah ketiak atau pundaknya Nabiyulloh Muhammah SAW (Maqom Qurbah). Jadi walau Moh. Syam Magelung Sakti pada waktu itu derajatnya sudah mencapai Waliyullah Kamil, namun dalam hal Maqom, beliau belum ada apa-apanya dengan Maqom Quthbul Mauthlak yang barusan Misteri bedarkan tadi. Kami lanjutkan ke cerita semula…
Setelah Moh. Syam sampai dilaut pulau Jawa, beliau akhirnya singgah disalah satu pedesaan sambil tiada hentinya bertafakkur memohon kepada Allah SWT, untuk cepat ditemukan dengan Mursyid yang diinginkannya, tepatnya pada malam jum’at kliwon ditengah heningnya malam yang sunyi tiba-tiba beliau dikejutkan oleh suara uluk salam dari seseorang ” Assalamu’alaikum Ya Akhi min Ahli Wilyah” lalu beliau pun dengan gugup menjawabnya ” Wa’alaikum salam Ya Nabiyulloh Hidir AS yang telah membawaku ke pintu Rohmatallil’alamiin.
Lima tahun sudah Ananda mencari riddhoku dan kini ananda telah mencapainya, datanglah ke kota Cirebon dan temuilah Syarif Hidayatulloh, sesungguhnya dialah yang mempunyai derajat raja sebagai Maqom Quthbul Mutkhlak, terang Nabiyulloh Hidir AS, sambil menghilang dari pandangannya. Dengan semangat yang menggebu beliau langsung mengayuh jukungnya menuju kota Cirebon yang dimaksud, sedangkan ditempat lain Syarif Hidayatulloh / Sunan Gunung Jati yang sudah mengetahui kedatangan Moh. Syam Magelung Sakti lewat Maqomnya saat itu beliau langsung mengutus uwaknya sekaligus mertuanya Mbah Kuwu Cakra Buana untuk menjemputnya di pelabuhan laut Cirebon.
Sesampainya ditempat dimana Sunan Gunung Jati memerintahkannya. Mbah Kuwu tidak langsung menghadapkannya kepada Kanjeng Sunan, melainkan mengujinya terlebih dahulu, hal semacam ini bagi pemahaman ilmu tauhid disebut “Tahkikul ‘Ubudiyyah Fissifatir Robbaniah / meyakinkan seorang Waliyulloh pada tingkat ke Walian diantara hak dan Nur Robbani yang dipegangnya.
Setelah Moh. Syam sudah berada dihadapan Mbah Kuwu Cakra Buana, beliau langsung uluk salam menyapanya ” wahai kisanak, taukah anda dimana saya harus bertemu dengan Sunan Gunung Jati? namun yang ditanya malah mengindahkan pertanyaannya dan balik bertanya.. ” sudahkah kisanak sholat dhuhur, setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh? terang Mbah Kuwu. ditanya seperti itu Moh. Syam langsung mengangguk mengiyakan bahwa memang dirinya belum melaksanakan sholat dhuhur, lalu Mbah Kuwu mengambil satu bumbung kecil yang terbuat dari bambu “Masuklah dan sholat berjamaah denganku” Sambil terheran-heran Moh. Syam mengikuti langkah manusia aneh dihadapannya yang tak lain adalah Mabh Kuwu Cakra Buana, masuk kedalam bumbung bambu yang ternyata dalamnya sangat luas dan bertengger Musholla besar yang sangat anggun, setelah usai sholat Mbah Kuwu mengajaknya menuju kota Cirebon, namun sebelum sampai ketempat tujuan atas hawatif yang diterimanya dari sunan Gunung Jati, Mbah Kuwu memotong rambutnya dan langsung menghilang dari hadapan Moh. Syam Magelung Sakti. Tahu rambutnya telah terpotong beliau langsung berkeyakinan bahwa tiada lain manusia tadi (Mbah Kuwu) adalah Sunan Gunung Jati yang dimaksud. lalu beliaupun memanggilnya tiada henti hingga keseluruhan pelosok desa.
Kisah terpotongnya rambut Moh. Syam yang kini terkenal dengan sebutan Syeikh Magelung Sakti kini masih dilestarikan dan menjadi nama desa hingga kini yaitu di Desa Karang Getas sebelah selatan kantor wali kota Cirebon dan tahukah anda berapa meter rambut Syeikh Magelung Sakti, sesungguhnya? yaitu 340 m, atau sepanjang jalan Karang Getas, antara perbatasan desa Pagongan hingga lampu merah pasar Kanoman. Panjangnya rambut syeikh Magelung Sakti ini sudah dapat restu dari beberapa ulama khosois seperti Syeikh Auliya Nur Ali, Syeikh Kamil Ahmad Trusmi, Syeikh Ahmad Sindang Laut, Syeikh Asnawi bin Subki Gedongan.
Misteri lanjutkan kembali, dengan rasa bersemangat Moh. Syam terus mencari keberadaan Sunan Gunung Jati yang dianggapnya barusan memotong rambutnya, beliau terus berlari sambil memanggil nama Sunan Gunung Jati terus-menerus, pada suatu tempat tanpa disadari olehnya, beliau masuk dalam kerumunan orang banyak yang tak lain sedang dibuka perlombaan memperebutkan putri cantik dan sakti, Nyimas Gandasari Panguragan. Merasa dirinya masuk gelanggang arena, Wanita cantik yang tak lain adalah Nyimas Gandasari langsung menyerangnnya… Merasa dirinya diserang secara mendadak, Moh. Syam langsung mengelak dan menjauhinya, namun bagaimana dengan Nyimas Gandasari sendiri yang kala itu sedang diperebutkan para jawara dari berbagai pelosok daerah. beliau sangat tersinggung dengan menghindarinya pemuda yang barusan masuk tadi, maka dengan serangan berapi-api Nyimas Gandasari langsung melipat gandakan tenaganya untuk menglahkan pesaing yang kini sedang dihadapinya.
Dengan perasaan dongkol, Moh. Syam akhirnya memutuskan untuk melayaninya dengan bersungguh hati hingga ditengah perjalanan Nyimas Gandasari sangat kewalahan. Merasa kesaktiannya kalah dibawah pemuda asing yang kini sedang dihadapinya, maka dengan sesekali loncatan Nyimas Gandasari berucap “Ya Kanjeng Susuhan Sunan Gunung Jati, Yajabarutihi ila sulthonil alam, kun fayakun Lailaha Illallah Muhamad Rosululloh” lalu beliau langsung terbang ke awang-awang dengan maksud agar pemuda tadi tidak sampai mengejarnya. lain dengan jalan pikiran Moh. Syam waktu itu setelah beliau mendengar nama Sunan Gunung Jati disebutnya, beliau tambah berambisi utnuk mencari tahu, maka disusullah Nyimas Gandasari, hingga sampai tangan kanannya terperangkap.
Merasa dirinya panik Nyimas Gandasari langsung melepaskan tangan Moh. Syam sambil tubuhnya menukik tajam kebawah. pada saat yang bersamaan Sunan Gunung Jati yang sedang tafakkur disungai Kali Jaga, kedatangan Nyimas Gandasari yang wajahnya terlihat pucat pasi dan sambil menuding kearah depan Nyimas Gandasari, memohon kepada gurunya agar pemuda yang mengejarnya tidak melihat dirinya. lalu dengan menyelipkan tubuhnya dibawah bekiak kakinya, kanjeng sunan Gunung Jati berkata pada pemuda yang barusan datang dihadapannya ” Wahai kisanak, anda mencari siapa ditempat yang sepi seperti ini?” lalu Moh. Syam pun menjawabnya ” Kisanak mohon maaf sesungguhnya saya datang kemari mencari gadis untuk meminta bantuannya, dimana saya bisa menemui Sunan Gunung Jati?” dengan tersenyum akhirnya Sunan Gunung Jati melepaskan wujud kecil Nyimas Gandasari ke wujud semula dan meminta berterus terang dengan apa yang pernah di ikrarkan sebelumnya, yaitu wajib mematuhi janjinya untuk menikah dengan orang yang mengalahkan kesaktiannya.
Dengan perjalanan ini akhirnya Moh. Syam berganti nama dengan sebutan Pangeran Soka dan dipenghujung cerita antara Nyimas Gandasari dan Pangeran Soka akhirnya berikrar untuk meneruskan perjalanan hidupnya menuju ilmu tauhid yang lebih matang hingga mereka berdua mufakat menjalankan nikah bisirri tanpa hubungan badan selayaknya suami istri, namun akan bersatu dengan nikah hakikiyah di alam surga kelak dengan disaksikan langsung oleh Sunan Gunung Jati Min Quthbil Mutlak ila Jami’il Waliyulloh.

09.02 | 0 komentar | Read More

Perjalanan Hidup KH.ZAINI GHANI AL BANJARI- GURU SEKUMPUL DARI MARTAPURA

Profil Abah Guru

Syaikhuna al-Alim al-Allamah Muhammad Zaini bin al-Arif billah Abdul Ghani bin Abdul Manaf bin Muhammad Seman bin Muhammad Sa’ad bin Abdullah bin al-Mufti Muhammad Khalid bin al-Alim al-Allamah al-Khalifah Hasanuddin bin Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari.

Alimul Allamah Asy Syekh Muhammad Zaini Ghani yang selagi kecil dipanggil dengan nama Qusyairi adalah anak dari perkawinan Abdul Ghani bin H Abdul Manaf dengan Hj Masliah binti H Mulya. Muhammad Zaini Ghani merupakan anak pertama, sedangkan adiknya bernama H Rahmah.

Beliau dilahirkan di Tunggul Irang, Dalam Pagar, Martapura pada malam Rabu tanggal 27 Muharram 1361 H bertepatan dengan tanggal 11 Februari 1942 M.

Diceriterakan oleh Abu Daudi, Asy Syekh Muhammad Ghani sejak kecil selalu berada di samping ayah dan neneknya yang bernama Salbiyah. Kedua orang ini yang memelihara Qusyairi kecil. Sejak kecil keduanya menanamkan kedisiplinan dalam pendidikan. Keduanya juga menanamkan pendidikan tauhid dan akhlak serta belajar membaca Alquran. Karena itulah, Abu Daudi meyakini, guru pertama dari Alimul Allamah Asy Syekh Muhammad Zaini Ghani adalah ayah dan neneknya sendiri.

Semenjak kecil beliau sudah digembleng orang tua untuk mengabdi kepada ilmu pengetahuan dan ditanamkan perasaan cinta kasih dan hormat kepada para ulama. Guru Sekumpul sewaktu kecil sering menunggu al-Alim al-Fadhil Syaikh Zainal Ilmi yang ingin ke Banjarmasin hanya semata-mata untuk bersalaman dan mencium tangannya.

Pada tahun 1949 saat berusia 7 tahun, beliau mengikuti pendidikan “formal” masuk ke Madrasah Ibtidaiyah Darussalam, Martapura. Guru-guru beliau pada masa itu antara lain, Guru Abdul Muiz, Guru Sulaiman, Guru Muhammad Zein, Guru H. Abdul Hamid Husain, Guru H. Rafi’i, Guru Syahran, Guru Husin Dahlan, Guru H. Salman Yusuf. Kemudian tahun 1955 pada usia 13 tahun, beliau melanjutkan pendidikan ke Madrasah Tsanawiyah Darussalam, Martapura. Pada masa ini beliau sudah belajar dengan Guru-guru besar yang spesialist dalam bidang keilmuan seperti al-Alim al-Fadhil Sya’rani Arif, al-Alim al-Fadhil Husain Qadri, al-Alim al-Fadhil Salim Ma’ruf, al-Alim al-Allamah Syaikh Seman Mulya, al-Alim Syaikh Salman Jalil, al-Alim al-Fadhil Sya’rani Arif, al-Alim al-Fadhil al-Hafizh Syaikh Nashrun Thahir, dan KH. Aini Kandangan. Tiga yang terakhir merupakan guru beliau yang secara khusus untuk pendalaman Ilmu Tajwid.

Kalau kita cermati deretan guru-guru beliau pada saat itu adalah tokoh-tokoh besar yang sudah tidak diragukan lagi tingkat keilmuannya. Walaupun saya tidak begitu mengenal secara mendalam tetapi kita mengenal Ulama yang tawadhu KH. Husin Qadri lewat buku-buku beliau seperti Senjata Mukmin yang banyak dicetak di Kal-Sel. Sedangkan al-Alim al-Allamah Seman Mulya, dan al-Alim Syaikh Salman Jalil, ingin rasanya berguru dan bertemu muka ketika masih hidup. Syaikh Seman Mulya adalah paman beliau yang secara intensif mendidik beliau baik ketika berada di sekolah maupun di luar sekolah. Dan ketika mendidik Guru Sekumpul, Guru Seman hampir tidak pernah mengajarkan langsung bidang-bidang keilmuan itu kepada beliau kecuali di sekolahan. Tapi Guru Seman langsung mengajak dan mengantarkan beliau mendatangi tokoh-tokoh yang terkenal dengan sepesialisasinya masing-masing baik di daerah Kal-Sel (Kalimantan) maupun di Jawa untuk belajar. Seperti misalnya ketika ingin mendalami Hadits dan Tafsir, guru Seman mengajak (mengantarkan) beliau kepada al-Alim al-Allamah Syaikh Anang Sya’rani yang terkenal sebagai muhaddits dan ahli tafsir. Menurut Guru Sekumpul sendiri, di kemudian hari ternyata Guru Tuha Seman Mulya adalah pakar di semua bidang keilmuan Islam itu. Tapi karena kerendahan hati dan tawadhu tidak menampakkannya ke depan khalayak.

Sedangkan al-Alim al-Allamah Salman Jalil adalah pakar ilmu falak dan ilmu faraidh. (Pada masa itu, hanya ada dua orang pakar ilmu falak yang diakui ketinggian dan kedalamannya yaitu beliau dan al-marhum KH. Hanafiah Gobet). Selain itu, Salman Jalil juga adalah Qhadi Qudhat Kalimantan dan salah seorang tokoh pendiri IAIN Antasari Banjarmasin. Beliau ini pada masa tuanya kembali berguru kepada Guru Sekumpul sendiri. Peristiwa ini yang beliau contohkan kepada kami agar jangan sombong, dan lihatlah betapa seorang guru yang alim besar tidak pernah sombong di hadapan kebesaran ilmu pengetahuan, meski yang sekarang sedang menyampaikannya adalah muridnya sendiri.

Selain itu, di antara guru-guru beliau lagi selanjutnya adalah Syaikh Syarwani Abdan (Bangil) dan al-Alim al-Allamah al-Syaikh al-Sayyid Muhammad Amin Kutbi. Kedua tokoh ini biasa disebut Guru Khusus beliau, atau meminjam perkataan beliau sendiri adalah Guru Suluk (Tarbiyah al-Shufiyah). Dari beberapa guru beliau lagi adalah Kyai Falak (Bogor), Syaikh Yasin bin Isa Padang (Makkah), Syaikh Hasan Masyath, Syaikh Ismail al-Yamani, dan Syaikh Abdul Kadir al-Bar. Sedangkan guru pertama secara ruhani adalah al-Alim al-Allamah Ali Junaidi (Berau) bin al-Alim al-Fadhil Qadhi Muhammad Amin bin al-Alim al-Allamah Mufti Jamaludin bin Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari, dan al -Alim al-Allamah Muhammad Syarwani Abdan Bangil. (Selain ini, masih banyak tokoh lagi di mana sebagiannya sempat saya catat dan sebagian lagi tidak sempat karena waktu itu beliau menyebutkannya dengan sangat cepat. Sempat saya hitung dalam jumblah kira-kira, guru beliau ada sekitar 179 orang sepesialis bidang keilmuan Islam terdiri dari wilayah Kalimantan sendiri, dari Jawa-Madura, dan dari Makkah).

Gemblengan ayah dan bimbingan intensif pamanda beliau semenjak kecil betul-betul tertanam. Semenjak kecil beliau sudah menunjukkan sifat mulia; penyabar, ridha, pemurah, dan kasih sayang terhadap siapa saja. Kasih sayang yang ditanamkan dan juga ditunjukkan oleh ayahnda beliau sendiri. Seperti misalnya suatu ketika hujan turun deras sedangkan rumah beliau sekeluarga sudah sangat tua dan reot. Sehingga air hujan merembes masuk dari atap-atap rumah.Pada waktu itu, ayah beliau menelungkupi beliau untuk melindungi tubuhnya dari hujan dan rela membiarkan dirinya sendiri tersiram hujan.

Abdul Ghani bin Abdul Manaf, ayah dari Syekh Muhammad Ghani juga adalah seorang pemuda yang shalih dan sabar dalam menghadapi segala situasi dan sangat kuat dengan menyembunyikan derita dan cobaan. Tidak pernah mengeluh kepada siapapun. Cerita duka dan kesusahan sekaligus juga merupakan intisari kesabaran, dorongan untuk terus berusaha yang halal, menjaga hak orang lain, jangan mubazir, bahkan sistem memenej usaha dagang beliau sampaikan kepada kami lewat cerita-cerita itu.

Beberapa cerita yang diriwayatkan adalah Sewaktu kecil mereka sekeluarga yang terdiri dari empat orang hanya makan satu nasi bungkus dengan lauk satu biji telur, dibagi empat. Tak pernah satu kalipun di antara mereka yang mengeluh. Pada masa-masa itu juga, ayahnda beliau membuka kedai minuman. Setiap kali ada sisa teh, ayahnda beliau selalu meminta izin kepada pembeli untuk diberikan kepada beliau. Sehingga kemudian sisa-sisa minuman itu dikumpulkan dan diberikan untuk keluarga. Adapun sistem mengatur usaha dagang, beliau sampaikan bahwa setiap keuntungan dagang itu mereka bagi menjadi tiga. Sepertiga untuk menghidupi kebutuhan keluarga, sepertiga untuk menambah modal usaha, dan sepertiga untuk disumbangkan. Salah seorang ustazd kami pernah mengomentari hal
ini, “bagaimana tidak berkah hidupnya kalau seperti itu.” Pernah sewaktu kecil beliau bermain-main dengan membuat sendiri mainan dari gadang pisang. Kemudian sang ayah keluar rumah dan melihatnya. Dengan ramah sang ayah menegur beliau, “Nak, sayangnya mainanmu itu. Padahal bisa dibuat sayur.” Beliau langsung berhenti dan menyerahkannya kepada sang ayah.

Beberapa Catatan lain berupa beberapa kelebihan dan keanehan: Beliau sudah hapal al-Qur`an semenjak berusia 7 tahun. Kemudian hapal tafsir Jalalain pada usia 9 tahun. Semenjak kecil, pergaulan beliau betul-betul dijaga. Kemanapun bepergian selalu ditemani (saya lupa nama sepupu beliau yang ditugaskan oleh Syaikh Seman Mulya untuk menemani beliau). Pernah suatu ketika beliau ingin bermain-main ke pasar seperti layaknya anak sebayanya semasa kecil. Saat memasuki gerbang pasar, tiba-tiba muncul pamanda beliau Syaikh Seman Mulya di hadapan beliau dan memerintahkan untuk pulang. Orang-orang tidak ada yang melihat Syaikh, begitu juga sepupu yang menjadi “bodyguard’ beliau. Beliaupun langsung pulang ke rumah.

Pada usia 9 tahun pas malam jum’at beliau bermimpi melihat sebuah kapal besar turun dari langit. Di depan pintu kapal berdiri seorang penjaga dengan jubah putih dan di gaun pintu masuk kapal tertulis “Sapinah al-Auliya”. Beliau ingin masuk, tapi dihalau oleh penjaga hingga tersungkur. Beliaupun terbangun. Pada malam jum’at berikutnya, beliau kembali bermimpi hal serupa. Dan pada malam jum’at ketiga, beliau kembali bermimpi serupa. Tapi kali ini beliau dipersilahkan masuk dan disambut oleh salah seorang syaikh. Ketika sudah masuk beliau melihat masih banyak kursi yang kosong.

Ketika beliau merantau ke tanah Jawa untuk mencari ilmu, tak disangka tak dikira orang yang pertama kali menyambut beliau dan menjadi guru adalah orang yang menyambut beliau dalam mimpi tersebut.

Salah satu pesan beliau tentang karamah adalah agar kita jangan sampai tertipu dengan segala keanehan dan keunikan. Karena bagaimanapun juga karamah adalah anugrah, murni pemberian, bukan suatu keahlian atau skill. Karena itu jangan pernah berpikir atau berniat untuk mendapatkan karamah dengan melakukan ibadah atau wiridan-wiridan. Dan karamah yang paling mulia dan tinggi nilainya adalah istiqamah di jalan Allah itu sendiri. Kalau ada orang mengaku sendiri punya karamah tapi shalatnya tidak karuan, maka itu bukan karamah, tapi “bakarmi” (orang yang keluar sesuatu dari duburnya).

Selain sebagai ulama yang ramah dan kasih sayang kepada setiap orang, beliau juga orang yang tegas dan tidak segan-segan kepada penguasa apabila menyimpang. Karena itu, beliau menolak undangan Soeharto untuk mengikuti acara halal bil halal di Jakarta. Begitu juga dalam pengajian-pengajian, tidak kurang-kurangnya beliau menyampaikan kritikan dan teguran kepada penguasa baik Gubernur, Bupati atau jajaran lainnya dalam suatu masalah yang beliau anggap menyimpang atau tidak tepat.

Pada hari Rabu 10 Agustus 2005 jam 05.10 pagi beliau telah berpulang ke rahmatullah pada usia 63 tahun.

Salam Hormatku kepada Abah Guru.

09.00 | 1 komentar | Read More

Karomah, Karya Tulis dan Wasiat Guru Ijai Martapura

Karomah- Karomahnya
http://dc213.4shared.com/doc/4sVzbS63/preview_html_m1da2be54.jpg

Ø Ketika beliau masih tinggal di Kampung Keraton, biasanya setelah selesai pembacaan maulid, beliau duduk-duduk dengan beberapa orang yang masih belum pulang sambil bercerita tentang orang-orang tua dulu yang isi cerita itu untuk dapat diambil pelajaran dalam meningkatkan amaliyah. Tiba-tiba beliau bercerita tentang buah rambutan, pada waktu itu masih belum musimnya; dengan tidak disadari dan diketahui oleh yang hadir beliau mengacungkan tangannya ke belakang dan ternyata di tangan beliau terdapat sebuah buah rambutan yang masak, maka heranlah semua yang hadir melihat kejadian akan hal tersebut. Dan rambutan itupun langsung beliau makan.
http://chairuzzaman.files.wordpress.com/2010/02/guru-zaini-abd-ghani1.jpg

Ø Ketika beliau sedang menghadiri selamatan dan disuguh jamuan oleh shahibul bait maka tampak ketika itu makanan tersebut hampir habis beliau makan, namun setelah piring tempat makanan itu diterima kembali oleh yang melayani beliau, ternyata makanan yang tampak habis itu masih banyak bersisa dan seakan-akan tidak di makan oleh beliau.


Ø Pada suatu musim kemarau yang panjang, di mana hujan sudah lama tidak turun sehingga sumur-sumur sudah hampir mengering, maka cemaslah masyarakat ketika itu dan mengharap agar hujan bisa turun. Melihat hal yang demikian banyak orang yang datang kepada beliau mohon minta doa beliau agar hujan segera turun, kemudian beliau lalu keluar rumah dan menuju pohon pisang yang masih berada di dekat rumah beliau itu, maka beliau goyang goyangkanlah pohon pisang tersebut dan ternyata tidak lama kemudian, hujan pun turun dengan derasnya.
http://jundumuhammad.files.wordpress.com/2010/09/guru-zaini.gif

Ø Ketika pelaksanaan Haul Syekh Muhammad Arsyad yang ke 189 di Dalam Pagar Martapura, kebetulan pada masa itu sedang musim hujan sehingga membanjiri jalanan yang akan dilalui oleh 'Alimul 'allamah Al 'Arif Billah Asy Syeikh H. M. Zaini Abd. Ghani menuju ke tempat pelaksanaan haul tersebut, hal ini sempat mencemaskan panitia pelaksanaan haul tersebut, dan tidak disangka sejak pagi harinya jalanan yang akan dilalui oleh beliau yang masih digenangi air sudah kering, sehingga dengan mudahnya beliau dan rombongan melewati jalanan tersebut; dan setelah keesokan harinya jalanan itupun kembali digenangi air sampai beberapa hari.

http://arisandi.com/wp-content/uploads/2010/10/Guru-Sekumpul.jpg
Ø Banyak orang-orang yang menderita sakit seperti sakit ginjal, usus yang membusuk, anak yang tertelan peniti, orang yang sedang hamil dan bayinya jungkir serta meninggal dalam kandungan ibunya, sernuanya ini menurut keterangan dokter harus di operasi. Namun keluarga mereka pergi minta do'a dan pertolongan. 'Allimul'allamah 'Arif Billah Asy Syekh H. M. Zaini Abd. Ghani. Dengan air yang beliau berikan kesemuanya dapat tertolong dan sembuh tanpa di operasi.


Karya tulis beliau adalah :
1. Risalah Mubarakah.
2. Manaqib Asy-Syekh As-Sayyid Muharnmad bin Abd. Karim Al-Qadiri Al Hasani As Samman Al Madani.
3. Ar Risalatun Nuraniyah fi Syarhit Tawassulatis Sammaniyah.
4. Nubdzatun fi Manaqibil Imamil Masyhur bil Ustadzil a'zham Muhammad bin Ali Ba-'Alwy.

Wasiat Tuan Guru K.H. M. Zaini Abdul Ghoni
1. Menghormati ulama dan orang tua,
2. Baik sangka terhadap muslimin,
3. Murah hati,
4. Murah harta,
5. Manis muka,
6. Jangan menyakiti orang lain,
7. Mengampunkan kesalahan orang lain,
8. Jangan bermusuh-musuhan,
9. Jangan tamak / serakah,
10. Berpegang kepada Allah, pada Qobul segala hajat,
11. Yakin keselamatan itu pada kebenaran.

Wasiat Guru Sekumpul,
Renungan Untuk Bangsaku
DARI hari ke hari, bangsa Indonesia terpuruk dan terus terpuruk. Bencana yang seakan silih berganti, susul-menyusul dengan mewabahnya berbagai penyakit mematikan, seakan tak bosan menghampiri bangsa ini.

Sementara perubahan yang diharapkan terjadi di berbagai bidang kehidupan, bukannya membawa ke arah perbaikan, sebaliknya makin memperburuk kondisi bangsa, menyulitkan dan menambah penderitaan rakyat, terutama mereka yang berada di strata bawah.

Apa sekarang yang tidak sulit didapat rakyat? Jika dulu hanya minyak tanah yang harus antre, kini solar yang sebagian besar untuk industri dan membantu menggerakkan roda perekonomian, disusul premium (bensin) yang dibutuhkan secara langsung oleh lebih 50 persen masyarakat _bahkan hampir 100 persen masyarakat Indonesia secara tidak langsung bergantung pada bensin_ juga semakin langka dan sulit didapat.

Jika minyak tanah yang sulit, silakan bilang itu hanya untuk masyarakat menengah bawah. Tapi jika kemudian kelangkaan BBM itu juga terjadi pada kalangan industri dan kemudian masyarakat menengah ke atas, apakah ini artinya sebuah indikasi bangsa ini menuju pada pemerataan kemiskinan? Bukan pemerataan kesejahteraan?

Bila ini dibiarkan berlarut-larut dan tak teratasi juga oleh pemerintah, yang selalu mengusung isu perubahan, bukan masyarakat miskin yang bisa diangkat dari garis kemiskinan. Sebaliknya, kemapanan yang telah dimiliki sebagian rakyat Indonesia akan terseret ke garis kemiskinan. Jangan heran, angka kemiskinan yang harusnya ditekan, kini malah membengkak.

Apa sebenarnya yang terjadi pada bangsa ini? Mengutip bait lagu Ebit G Ade: "Mungkin Tuhan sudah bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa," ini bisa jadi renungan bagi kita semua. Mungkin bencana yang datang bertubi-tubi ini sebenarnya teguran dari Yang Maha Kuasa.
Runut saja tingkah polah elit bangsa kita selama ini. Bangsa ini memang banyak tingkah dan bergelimang dosa, tak ada lagi rasa malu terhadap kesalahan yang dibuat. Sikap, tindakan, keputusan, maupun kebijakan yang diambil lebih mendasarkan pada ego pribadi, kepentingan sendiri, kelompok dan golongan. Masing-masing merasa benar sendiri dan orang lain adalah salah.

Perpecahan kini menjadi hal biasa pada bangsa ini. Berbalut kepentingan politik, seakan-akan telah mengaburkan kebenaran hakiki. Dengan mengatasnamakan politik pula, tak ada lawan maupun kawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi. Tak heran, elit sering melupakan rakyat, dan lebih memikirkan mana lawan yang bisa dijadikan kawan dan mana kawan yang harus dijadikan lawan demi mencapai tujuan.

Di t
http://majelistaklimmuarateweh.files.wordpress.com/2011/04/abah-guru-sekumpul.jpgengah keterpurukan bangsa ini dan tingkah elit itu, tak ada salahnya kita khususnya warga Kalsel merenungkan 13 wasiat yang ditinggalkan ulama besar KH Muhammad Zaini Abdul Ghoni atau yang akrab disapa Guru Sekumpul, yakni: Menghormati ulama; Baik sangka terhadap muslimin; Murah diri; Murah harta; Manis muka; Jangan menyakiti orang; Memaafkan kesalahan orang; Jangan bermusuh-musuhan; Jangan toma (tamak, Red); Berpegang kepada Allah pada qabul segala hajat; Yakin keselamatan itu ada pada benar (kebenaran, Red); Jangan merasa baik daripada orang lain; Tiap-tiap orang iri dengki atau adu-asah (adu domba, Red) jangan dilayani serahkan saja pada Allah Ta’ala.

Wasiat yang ditulis Guru Sekumpul sekitar 13 tahun lalu, tepatnya 11 Jumadil Akhir 1413 Hijriah, sangat dalam maknanya. Meski ditulis dalam bahasa yang sangat sederhana. Marilah kita bertanya dalam diri kita masing-masing: "Sudahkah semua itu kita jalankan dalam kehidupan sehari-hari?"

Hari ini, sebagian umat Islam melaksanakan puasa pertengahan (nisfu) Sya'ban. Bagi mereka yang mengerjakannya, makna yang terkandung dalam nisfu Sya'ban ini diyakini sebagai momen untuk menyucikan diri dengan memperbanyak ibadah dan meminta ampunan kepada Allah SWT.
Kemudian, sebentar lagi kita akan memasuki bulan suci Ramadhan, bulan penuh ampunan, suatu momen yang tepat bagi seluruh anak negeri ini untuk melakukan perenungan tentang makna menahan diri dari berbagai nafsu. Tak hanya syahwat, tapi lebih dari itu yaitu nafsu yang terkadang berselimut di balik kebaikan dalam bentuk kepura-puraan.

Dengan kita, semua anak negeri ini, merenungkan kembali wasiat yang disampaikan Guru Sekumpul, juga makna nisfu Sya'ban dan pemasungan nafsu pada bulan suci Ramadhan, semoga bangsa ini menemukan secercah harapan perubahan untuk menuju Indonesia yang benar-benar lebih baik, beretika, bermoral dan berbudaya (malu).

Beberapa karamah dan riwayat hidup beliau yang lain bisa dibaca dari pemberitaan dan tulisan-tulisan di
http://www.indomedia.com/bpost dan di www.radarbanjar.com.

PESAN DAN NASEHAT GURU IJAI BUAT GUBERNUR KALSEL
Dalam memasuki tahun 2002 yang penuh tantangan dan harapan, kiranya masih relevan untuk di ingat dan direnungkan kembali pesan dan nasihat yang pernah diberikan oleh tuan guru K. H. Zaini Ghani (guru H Ijai) guru Sekumpul Martapura kepada Bapak Gubernur Kalsel Drs HM Syachriel Darham hari Kamis 10 Pebruari 2000 bertempat di kediaman beliau di komplek Sekumpul Martapura sebelum dilantik sebagai Gubernur Kalsel tanggal 25 Pebruari 2000.

Kelima pesan dan nasihat guru Ijai supaya dilaksanakan secara konsekuen yakni, menjalankan shalat lima waktu, melaksanakan amal ma’ruf dan menjauhi nahi munkar, bertindak adil dan bijak, mengutamakan kesejahteraan rakyat dan yang kelima memberantas KKN, WTS, miras, narkoba dan melaksanakan sumbangan di jalan-jalan.

Sungguh kelima pesan dan nasihat tersebut mempunyai makna yang hakiki serta nilai tersendiri yang perlu mendapat perhatian sungguh-sungguh sebagai modal meraih sukses dalam melaksanakan tugas pengabdian baik bagi Gubernur Kalsel, juga bagi para pejabat dan aparat pemerintah lainnya.

Saya yakin, apabila lima pesan yang diberikan guru Sekumpul K. H. Zaini Abdul gani ini dilaksanakan dengan niat dan itikad yang baik, penuh konsekuen, diwujudkan dengan baik dan benar, insya Allah Syachriel Darham dapat meraih sukses membangun daerah Kalsel dalam memakmurkan rakyatnya.

HABIB ABOE BAKAR AL-HABSYI : BERSUA DAN AKRAB DENGAN GURU SEKUMPUL
KALI pertama datang ke Kalsel untuk mengenalkan PK, Habib Aboe Al Habsyi langsung bersilaturahim kepada Al Mukaram K. H. Zaini Ghani atau Guru Sekumpul Martapura. Pertemuan pertama itu, rasanya terjadi di media Agustus 1998, beberapa minggu setelah PK dideklarasikan di Masjid Raya Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Kali pertama bertemu, kenangnya, ia langsung diajak allahuyarham Guru Sekumpul ke kamar pribadinya. Dalam pertemuan yang sangat akrab hampir 2 jam lamanya itu, Guru Sekumpul berbicara secara akrab tentang banyak hal dengan lugas.

Pokoknya, beliau itu welcome banget. Humor-humor segar meluncur dari beliau. Sangat berkesan sekali pertemuan pertama saat itu kenang Habib Aboe Bakar sambil matanya berkaca-kaca mengenang Guru Sekumpul, ulama besar dan panutan rakyat Kalimantan Selatan yang jamaah pengajiannya puluhan ribu tersebut.

Dalam pertemuan pertama itu, Habib Aboe Bakar bersama dengan DR. Habib Salim Segaf Al Jufrie MA, Dewan Syariah Pusat PK dan PKS, kini Duta Besar RI untuk Arab Saudi. Kemudian, dalam pertemuan kedua, Habib Aboe Bakar bersama-sama dengan Ustadz H. Ariffin Ilham, pemimpin majlis dzikir Ad Dzikra, Jakarta.

Sepanjang tahun 1998-1999 itu, saat masih memperjuangkan PK di hati masyarakat Kalsel, ada 4 kali Habib Aboe Bakar bersilaturahim kepada Guru Sekumpul. Bersama dengan orang-orang yang berbeda, di antaranya dengan ustadz Faqih Jarjani (kini Waket DPRD HST), bahkan sempat ketemu dengan Drs. H. Armain Janit, MBA, ustadz Abdullah, ketemu dengan Habib Abu Bakar (Martapura), Abu Hurairah dan lain-lain. Dari keempat pertemuan itu, Habib Aboe Bakar selalu didampingi oleh H. Najmudin atau H. Nanang, pengusaha dan putera ulama kenamaan di Kandangan, Hulu Sungai Selatan.

Dalam 4 kali pertemuan, keakraban makin terjalin erat. Dan, pertemuan itu, semuanya berlangsung dalam durasi yang lama, rata-rata lebih dari 2 jam. Saat itu, Guru Sekumpul masih sangat sehat dan bugar. Bahkan, sama-sama makan cukup banyak.

Kesan mendalam tertanam di hatinya tentang sosok Guru Sekumpul yaitu seorang ulama besar yang sangat rendah hati, santun, dengan akhlak yang luar biasa, di samping keilmuannya yang luas. Bukan itu saja, independensitas beliau dengan semua kekuatan politik maupun golongan, benar-benar luar biasa. Ulama yang berkhidmad kepada ummat tanpa membedakan sekat.

Sikap inilah yang akhirnya menempatkan Guru Sekumpul, tidak hanya panutan bagi masyarakat, namun juga rujukan para ulama lainnya. Menjadi tempat bertanya yang tepat, netral, sejuk dan menentramkan.
Inilah sekelumit kesan yang mendalam dari 4 pertemuan itu tentang sosok ulama yang telah berpulang ke Rahmatullah pada 10 Agustus 2005 lalu tersebut. Masih banyak kesan lainnya, di luar pertemuan yang 4 kali itu. Namun, semuanya mengisyaratkan hal yang sama: akhlak yang luar biasa bersatu dengan ilmu yang luas, itulah beliau, Al Mukaram Allimul Alamah Al Arif Billah As syaikh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani, Sekumpul Martapura.

GURU SAID (PAMAN GURU IJAI) : WAFATNYA GURU IJAI SEPERTI SEBUAH LAMPU, SAAT INI REDUP, TAPI BUKAN PADAM

Wafatnya Guru Sekumpul tanggal 5 Agustus 2005 M atau 5 Rajab 1426 H lalu memang sudah membuat sebagian besar masyarakat Kalsel kehilangan seorang panutan.

Sebelum Guru Ijai wafat, Guru Said mengaku sudah mendapat firasat ketika dalam satu pertemuan dengan keponakannya itu sempat berucap mereka berdua sudah tua. Apalagi Habib Husin telah mendahului menghadap Sang Khalik di usia yang lebih muda. Bahkan sebelum Guru Ijai berangkat ke Singapura, ada orang "Dalam Pagar" yang dipanggil ke Sekumpul. Kepada orang yang tak disebutkan identitasnya itu, Guru Ijai menanyakan kondisi dirinya. Tak lama setelah itu, ulama karismatik yang juga ayah angkat penyanyi Chrisye itu berangkat ke Negeri Singa sampai akhirnya meninggal dunia.

KETUA MUI DAERAH KALIMANTAN SELATAN PROF. Drs. H.M. ASYWADIE SYUKUR, Lc. : SEJAK KECIL SUDAH JADI PANUTAN

KEPERGIAN Alimul Allamah Asy Syekh Muhammad Zaini Abdul Ghani atau Guru Sekumpul ke pangkuan Illahi, Rabu (10/8) pagi, membuat banyak orang merasa kehilangan. Banyak kesan yang diingat, terutama orang-orang yang pernah dekat dengan ulama kharismatik ini.
Guru Sekumpul, dalam ingatan masa kecil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Daerah Kalimantan Selatan Prof Drs HM Asywadie Syukur Lc, adalah insan panutan.
"Tuan Guru ini sejak kecil sudah tampak sebagai manusia panutan, sebab tidak banyak bicara tetapi selalu ceria. Kalau pun bicara, tidak mengeluarkan suara nyaring; tetapi sederhana," kata Asywadie.
Di masa kecil Tuan Guru Sekumpul dan Asywadie Syukur sama-sama tinggal di Sungai Jingah. Sama-sama sebagai teman sepergaulan, namun setelah masuk sekolah masing-masing disibukkan dengan kegiatan belajar.
"Guru Sekumpul sekolah di PGA Banjarmasin, kemudian Darussalam Martapura, Pesantren di Jombang dan kembali ke Martapura mengajar di Pesantren Darussalam," kenang Asywadie.
Terhadap kepergian Tuan Guru Sekumpul menghadap Ilahi Rabbi, Asywadie berujar, di daerah ini banyak ulama namun sedikit ulama yang dijadikan panutan. Artinya, apa yang diucapkan Tuan Guru itu, dijadikan pedoman oleh muslimin-muslimat, terutama dalam kehidupan bermasyarakat.
Mengenai harapan, sebagai umat Islam di Kalsel khususnya dan Kaltim, Kalteng umumnya, mudah-mudahan cepat mendapat ulama panutan sebagai ganti Tuan Guru Sekumpul itu.
Semoga bak pepatah "patah tumbuh hilang berganti", terutama ulama yang tidak sekadar pandai berdakwah, tetapi menjadi panutan dan setiap ujarannya dipakai oleh umat.

HJ. SA’DIAH : MERUPAKAN ANAK YANG SANGAT BERBAKTI KEPADA ORANG TUANYA
Hj Sa’diah (80), seorang keluarga Guru Sekumpul yang tinggal di Jalan Makam Kelurahan Keraton, Martapura mengaku mengenal betul dengan almarhum.
Sebelum memimpin pengajian di Sekumpul, menurutnya, sekitar 1970 Guru Sekumpul mulai memberikan pengajian di Jalan Makam Kelurahan Keraton Martapura.
Hj Sa’diah menceritakan pengalamannya saat masih berdampingan rumah dengan Guru Sekumpul di Keraton. "Sejak masih kecil, Guru Sekumpul yang saat itu kerap dipanggilnya Anang (sebutan kesayangan), merupakan anak yang sangat berbakti kepada kedua orangtuanya --Abdul Ghani dan Hj Masriah," tuturnya.
Pada masa itu pula Guru Sekumpul sudah rajin mengaji ilmu agama Islam, baik di Darussalam maupun berkunjung langsung ke rumah guru-guru di Martapura.
Cerita serupa juga disampaikan satu sahabat Guru Sekumpul, Guru Rosyad yang sering menjemput dengan sepeda untuk pergi mengaji ke rumah Guru H Anang Syahrani, di Desa Kampung Melayu Martapura.
Katanya, sopan dan santun terhadap orangtua dan teman sebayanya, salah satu prilaku terpuji Guru Sekumpul sejak kecil. Bahkan dalam adab membawa kitab-kitab yang dipelajarinya, selalu dibekap di dadanya sebagai tanda penghormatan terhadap sumber-sumber ilmu tersebut.
Hidupkan Maulid Habsyi
Sejak 1961, Guru Sekumpul sudah menghidupkan pembacaan Maulid Habsyi di Kalsel, ketika berkediaman di Jalan Makam Kelurahan Keraton Martapura. Itulah, penuturan H Muhammad (55), anak dari Hj Sa’diah, yang juga salah seorang dari 15 murid Guru Sekumpul dalam belajar Maulid Habsyi saat itu.
Menurut Muhammad, satu kesempatan ayahnya H Alus sempat menanyakan kepada Guru Seman Mulia, yang tak lain paman Guru Sekumpul, siapa di antara keponakannya yang nantinya menjadi ulama besar. "Guru Seman Mulia mengatakan si Anang (Guru Sekumpul) nantinya menjadi ulama besar," ucap Muhammad, menirukan perkataan H Alus.
Muhammad kecil pula yang sering memijat-mijat Guru Sekumpul, saat beristirahat sejenak di Langgar Darul Aman yang lokasinya tak jauh dari kediaman Guru Sekumpul di Keraton.
"Saat sidin istirahat sejenak di Langgar Darul Aman, aku memijat-mijat awak sidin. Sidin katuju makan buah durian dan bubur kacang hijau," tuturnya.
Muhammad mengisahkan, pesan Guru Sekumpul yang selalu diingatnya, yaitu setiap saat bertemu dengan orang tua-terutama ibu, hendaknya mencium tangan.
"Kalau ada duit kita berikan kepada orang tua dan kalau sempat ikut pengajian. Pesan itu yang selalu saya ingat," imbuhnya.
Seiring pindahnya tempat pengajian dari Keraton ke Sekumpul, kesibukan Guru Sekumpul pun semakin padat. Hal ini pun yang membuat mereka yang tahu akan kesibukan Guru Sekumpul, mengurungkan niat untuk sekedar bertamu sebagai rasa pengertian demi menjaga kesehatan beliau. Hal itu diutarakan Anang Mahli (65), teman
sepermainan Guru Sekumpul waktu kecil di Keraton.
"Kecuali penting banar atau sidin yang bakiau hanyar aku ke Sekumpul. Kalau badapat sidin rami bakisah tentang Keraton," tutur Mahli.
Dalam setiap pertemuan, Guru Sekumpul selalu mendoakan; mudah-mudahan kita semua mendapatkan rahmat Allah SWT dan mendapat safa’at Nabi Muhammad SAW. "Kita benar-benar kehilangan ulama besar yang sangat peduli terhadap masyarakat," ucap Mahli.
Sementara Zakir, seorang santri yang tinggal di Pekauman Martapura mengakui sangat kagum dengan Guru Sekumpul. "Pernah suatu ketika, saya diperintahkan oleh ayah saya untuk mengantar sesuatu ke kediaman Guru Sekumpul. Saya sebelumnya belum pernah bertemu langsung dengan beliau. Ketika sudah berada di halaman rumah beliau, saya kemudian terpikir, apakah mungkin saya dapat berjabat tangan dan mencium tangan beliau. Anehnya, belum sempat saya mengetuk pintu, beliau sudah membuka pintu dan mengulurkan tangannya kepada saya seraya mengucap salam. Saya pun terkejut, namun segera saja memanfaatkan kesempatan langka itu," ujar Zakir.
Tidak kalah menariknya, Ikhsan Cahyadi, seorang warga Pelaihari yang sering mengikuti pengajian Sekumpul mengatakan, dirinya baru mengakui karomah Guru Sekumpul setelah ia mengikuti pengajian kali pertama.
"Sejak berangkat dari Pelaihari, saya memiliki satu pertanyaan tentang soal agama yang saya belum temukan jawabannya. Alhamdulillah, ketika duduk mengikuti pengajian, Guru Sekumpul ada menyinggung persoalan agama yang jadi pertanyaan saya itu, dan terjawablah sudah pertanyaan di hati ini," paparnya.


INI ADALAH SEBUAH CATATAN PERJALANAN SALAH SEORANG PEJABAT KOTA SAMARINDA KE KOMPLEK MAKAM GURU SEKUMPUL
KETIKA ke Kalsel, saya bersama istri menyempatkan diri berziarah ke makam Al Alimul Allamah Asy Syaikh Al Hajj Muhammad Zaini bin Abdul Ghoni yang lebih dikenal dengan sebutan Guru Ijai atau Guru Sekumpul Martapura Kalsel.
Ketika memasuki kompleks pemakaman Sekumpul seluas beberapa hektare, saya lihat sejumlah rumah berderet mirip perumahan di Kota Samarinda. Di antara pemiliknya ternyata warga Samarinda, yakni Hj Fatimah atau Hj Timah, warga Air Putih Samarinda Ulu dan almarhum H Syahril, pengusaha bahan bangunan di Jl Kebaktian Kelurahan Sungai Pinang Dalam.
Di Sekumpul saat itu tak terlihat seorang pun pengemis, seperti di makam Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datu Kalampayan atau Makam Abdullah (orangtua Muhammad Arsyad) di Lok Gabang Kecamatan Astambul, juga di makam sunan-sunan di Jawa. Penjual kembang juga tak terlihat. Parkir mobil dan motor tak dipungut bayaran. Begitu juga menaruh sandal dan sepatu. Hal seperti sangat berbeda dari biasanya.
Sebelum masuk ke kubah yang berdampingan dengan musala Al Raudhah, di makam Al Alimul Allamah As Syaikh Al Hajj Muhammad Salman bin Hajj Abdul Jalil (Salman Bujang), Guru Ijai dan Al Alimul Allamah As Syaikh Hajj Muhammad Seman bin Al Hajj Mulia, saya lihat bila wanita memakai celana panjang diwajibkan masuk ke kamar ganti pakaian dan diminta mengganti dengan sarung dan kerudung. Di kamar ganti itu tersedia sarung atau tapih (bahasa Banjar, Red.) sebanyak 50 lembar dan kerudung. Juga disediakan beberapa kotak popok bayi untuk peziarah yang membawa bayi.
Kubah yang saya masuki itu berukuran sekitar 800 meter persegi terdapat tirai warna kuning yang memisahkan peziarah pria dan wanita. Di kubah pria, saya saksikan pengunjung yang membaca Surat Yasin dan bacaan lainnya yang pahalanya dihadiahkan kepada Salman Bujang, Guru Ijai dan Seman.
Setelah itu, saya melihat mereka antre cukup panjang menuju ke tiga makam dan di depan ketiga makam berdoa, kemudian mengusap dengan tangan nisan plus menciumnya. Saya yang menyaksikan perilaku peziarah tersebut hanya diam seribu bahasa. Saya tak mampu melakukan serupa fanatisme terhadap Guru Sekumpul, Salman Bujang dan Seman.
Demikianlah sekilas profil singkat guru Sekumpul di antara karamah dan kekuasaan Tuhan yang ditunjukkan kepada diri seorang hamba yang dikasihi-Nya. Semoga yang sedikit ini bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.***

catatan :
Penulis mengumpulkan bahan tulisan ini mengutip dan mengumpulkannya dari internet, sedangkan photo-photo yang tercantum di tulisan ini sebagiannya langsung ke Sekumpul, Martapura dan ada pula bersumber dari internet.
08.39 | 0 komentar | Read More

Perlu Diketahui Asal Usul dari Kumandang Adzan

Seiring dengan berlalunya waktu, para pemeluk agama Islam yang semula sedikit, bukannya semakin surut jumlahnya. Betapa hebatnya perjuangan yang harus dihadapi untuk menegakkan syiar agama ini tidak membuatnya musnah. Kebenaran memang tidak dapat dmusnahkan. Semakin hari semakin bertambah banyak saja orang-orang yang menjadi penganutnya.

Demikian pula dengan penduduk dikota Madinah, yang merupakan salah satu pusat penyebaran agama Islam pada masa-masa awalnya. Sudah sebagian tersebar dari penduduk yang ada dikota itu sudah menerima Islam sebagai agamanya. Ketika orang-orang Islam masih sedikit jumlahnya, tidaklah sulit bagi mereka untuk bisa berkumpul bersama-sama untuk menunaikan sholat berjama`ah.

Kini, hal itu tidak mudah lagi mengingat setiap penduduk tentu mempunyai ragam kesibukan yang tidak sama. Kesibukan yang tinggi pada setiap orang tentu mempunyai potensi terhadap kealpaan ataupun kelalaian pada masing-masing orang untuk menunaikan sholat pada waktunya. Dan tentunya, kalau hal ini dapat terjadi dan kemudian terus-menerus berulang, maka bisa dipikirkan bagaimana jadinya para pemeluk Islam. Ini adalah satu persoalan yang cukup berat yang perlu segera dicarikan jalan keluarnya.

Pada masa itu, memang belum ada cara yang tepat untuk memanggil orang sholat. Orang-orang biasanya berkumpul dimasjid masing-masing menurut waktu dan kesempatan yang dimilikinya. Bila sudah banyak terkumpul orang, barulah sholat jama`ah dimulai.

Atas timbulnya dinamika pemikiran diatas, maka timbul kebutuhan untuk mencari suatu cara yang dapat digunakan sebagai sarana untuk mengingatkan dan memanggil orang-orang untuk sholat tepat pada waktunya tiba. Ada banyak pemikiran yang diusulkan. Ada sahabat yang menyarankan bahwa manakala waktu sholat tiba, maka segera dinyalakan api pada tempat yang tinggi dimana orang-orang bisa dengan mudah melihat ketempat itu, atau setidak-tidaknya asapnya bisa dilihat orang walaupun ia berada ditempat yang jauh. Ada yang menyarankan untuk membunyikan lonceng. Ada juga yang mengusulkan untuk meniup tanduk kambing. Pendeknya ada banyak saran yang timbul.

Saran-saran diatas memang cukup representatif. Tapi banyak sahabat juga yang kurang setuju bahkan ada yang terang-terangan menolaknya. Alasannya sederhana saja : itu adalah cara-cara lama yang biasanya telah dipraktekkan oleh kaum Yahudi. Rupanya banyak sahabat yang mengkhawatirkan image yang bisa timbul bila cara-cara dari kaum kafir digunakan. Maka disepakatilah untuk mencari cara-cara lain.

Lantas, ada usul dari Umar r.a jikalau ditunjuk seseorang yang bertindak sebagai pemanggil kaum Muslim untuk sholat pada setiap masuknya waktu sholat. Saran ini agaknya bisa diterima oleh semua orang, Rasulullah SAW juga menyetujuinya. Sekarang yang menjadi persoalan bagaimana itu bisa dilakukan ? Abu Dawud mengisahkan bahwa Abdullah bin Zaid r.a meriwayatkan sbb : "Ketika cara memanggil kaum muslimin untuk sholat dimusyawarahkan, suatu malam dalam tidurku aku bermimpi. Aku melihat ada seseorang sedang menenteng sebuah lonceng. Aku dekati orang itu dan bertanya kepadanya apakah ia ada maksud hendak menjual lonceng itu. Jika memang begitu aku memintanya untuk menjual kepadaku saja.

Orang tersebut malah bertanya," Untuk apa ?
Aku menjawabnya,"Bahwa dengan membunyikan lonceng itu, kami dapat memanggil kaum muslim untuk menunaikan sholat."
Orang itu berkata lagi,"Maukah kau kuajari cara yang lebih baik ?"
Dan aku menjawab " Ya !"
Lalu dia berkata lagi, dan kali ini dengan suara yang amat lantang ," Allahu Akbar,…Allahu Akbar….."

Ketika esoknya aku bangun, aku menemui Rasulullah SAW dan menceritakan perihal mimpi itu kepada beliau. Dan beliau berkata,"Itu mimpi yang sebetulnya nyata. Berdirilah disamping Bilal dan ajarilah dia bagaimana mengucapkan kalimat itu. Dia harus mengumandangkan adzan seperti itu dan dia memiliki suara yang amat lantang." Lalu akupun melakukan hal itu bersama Bilal."

Rupanya, mimpi serupa dialami pula oleh Umar r.a, ia juga menceritakannya kepada Rasulullah SAW . Nabi SAW bersyukur kepada Allah SWT atas semua ini.

08.38 | 0 komentar | Read More

Perumpamaan bagi Seorang Sahabat Sejati

Ada orang yang berkata kepada Abdullah bin Umar:
Si Fulan Al-Anshari meninggal dunia. Beliau berkata : “Semoga Allah merahmatinya.”
Mereka berkata: “Ia meninggalkan uang seratus ribu.”
Beliau berkata:”Tetapi uang itu tidak meninggalkannya.”

Ia tertimpa kondisi perekonomian yang sempit sekali.
Kondisinya menjadi amat buruk, harta bendanya menipis, dan teman-temannya pergi menjauhi…

http://www.bestrightjob.com/wp-content/uploads/2012/07/How-to-recommend-a-site-to-friend-or-blog.jpgIa teringat, bahwa semenjak sepuluh tahun yang lalu ia mengajukan pengunduran diri dari pekerjaannya, dan beralih ke usaha bebas. Kondisinya otomatis berubah setelah pengunduran diri… hartanya berlimpah. Ia pindah ke sebuah villa besar, menikah dengan istri kedua. Bepergian kesana kemari, tak terhitung jumlahnya. Ia tenggelam dalam kesenangan dan kemaksiatan, tanpa batas. Saat terdengar adzan, sementara letak masjid hanya beberapa meter dari kantornya, ia tidak mau pergi untuk shalat. Bahkan dalam waktu yang lama sekali, ia tidak pernah bersujud. Ia sibuk sekali, sehingga tidak punya waktu untuk itu.

Di rumah, ia tak ubahnya seekor binatang. Makan, minum dan tidur. Bahkan mendidik anak saja ia tidak sempat. Tidak pernah ia bertanya kepada anaknya, apakah mereka mengenal shalat atau tidak. Dalam soal harta, baginya tidak ada bedanya antara halal dengan haram. Cara baginya bukan masalah penting, yang penting adalah hasil. Itu adalah kaidahnya dalam berbisnis.

Akan tetapi kira-kira dua tahun yang lalu, urusan perekonomiannya memburuk. Ia berusaha melakukan tindakan yang mustahil, untuk tetap menjaga pekerjaan dan keuntungan-keuntungannya si masa lalu. Oleh sebab itu pekerjaannya mulai mengalami kesimpangsiuran. Bagaikan orang tenggelam yang berusaha mencari keselamatan.

Mulailah mereka yang mencari keuntungan cepat mempropagandakan kepadanya proyek-proyek tertentu. Satu proyek gagal, tidak berhasil. Proyek yang lain hanya menghasilkan setengah dari modal. Dalam waktu dua tahun saja, sudah banyak hutangnya dan bertumpuk permasalahannya. Ia teringat bagaimana keadaannya dahulu sebelum berhenti bekerja. Sekarang pengeluarannya menggurita, sementara masukannya sedikit. Ia mulai mengambil hutang di berbagai bank.

Hanya dalam waktu satu tahun saja, hutangnya sudah bertumpuk-tumpuk, sehingga ia tidak mampu lagi mengembalikannya. Beralihlah ia ke fase baru dalam kehidupannya yakni fase munculnya berbagai tuntutan di mahkamah dan di hadapan hukum serta kepolisian. Pekerjaannya sekarang hanyalah berusaha menangguhkan hak pihak yang menghutanginya ke waktu lain. Bulan demi bulan berlalu. Hutang semakin melilit.

Bayangan penjarapun mulai terlihat. Terkadang dalam bentuk peringatan dan ancaman, terkadang juga dalam bentuk pengaduan dan dakwaan. Demikianlah yang dilakukan oleh pihak pemberi hutang…

Ia menjual semua yang dimilikinya. Villanya, mobil-mobilnya, tanahnya-tanahnya, berbagai aset dagangnya. Semuanya bisa membayar sebagian besar hutangnya. Tinggal sedikit bagian hutangnya yang dibiarkan oleh para penghutangnya, karena merasa kasihan kepadanya. Ia pindah ke sebuah rumah kecil. Di situ ia berkumpul bersama istri dan sepuluh anaknya. Sopir dan pembantu? Sudah tidak lagi mereka miliki. Malam hari mereka lalui dalam kegundahan dan kesedihan.

Di tengah kemelut persoalan tersebut, terbersit dalam hatinya keinginan berkunjung kepada sahabatnya, Muhammad. Mungkin ia bisa membantu dengan sedikit uang. Ia adalah sahabatnya di masa kecil, dan juga rekan kerjanya dahulu.

Pergi mengunjunginya atau tidak? Karena ketika Muhammad mengunjunginya dua tahun yang lalu, ia merasa sesak dengan berbagai kemewahannya dan juga oleh suara-suara musik dan ribut-ribut di rumahnya. Tetapi sekarang kebutuhan mendesak…

Ia membulatkan tekad dan mancari waktu yang tepat, yakni waktu ashar besok hari. Di pertengahan Ashar, ia mengenakan pakaiannya.

Tiba-tiba pintu rumahnya diketuk. Siapa? “Bilang saja tidak ada orangnya.” Rupanya ia adalah pemilik rumah yang hendak menagih uang sewa rumahnya. “Mana bapak kalian?” “Tidak ada di rumah.” Ia terpaksa mengundur kepergiannya setengah jam, sampai pemilik rumah itu menjauh dari rumahnya...

Dengan tergesa-gesa ia keluar rumah dan mengendarai mobilnya, tujuannya adalah rumah Muhammad. Masih rumah yang lama, belum berubah. Ia sampai di rumah Muhammad tepat setelah adzan Maghrib. “Siapa di luar?” tanya orang di dalam. “Saya Shalih.” Jawabya. “Dia sedang ke masjid. Nanti ia pulang sesudah shalat.” Katanya. Ia segera mengendarai mobilnya sambil menundukkan kepala. Karena amatlah aib, jika menunggu dalam mobil sementara orang-orang lewat menuju masjid untuk shalat. Namun bagaimana kalau ia bertemu dengan Muhammad, lalu mendapatinya tidak shalat berjama’ah? Kemana ia harus pergi?

“Aku belum berwudhu, sementara bila aku ingin shalat, ini sudah ada masjid.” Gumamnya.

Ia pun berwudhu dan berangkat ke masjid untuk shalat. Ia mendapatkan shalat sudah di rakaat kedua. Seusai shalat, salah seorang Syaikh bangkit berdiri dan memegang pengeras suara. Setelah memuji Allah dan membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata: “Saya meminta waktu kalian lima menit saja.” Ia mulai berbicara tentang ketaatan. Bahwa ketaatan adalah sebab munculnya kebahagiaan dalam hidup. Tidaklah kalian mendengar firman Allah Ta’ala:

“Dan barangsiapa yang berpaling dari dzikir kepadaKu pasti ia akan mendapatkan kehidupan yang sempit.” (Thaha: 124)

Kemudian ia menyinggung tentang bagaimana seseorang dapat konsekuen dalam hidupnya, menyebutkan beberapa faidah mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Ia juga menyebutkan tentang rizki. Aku mengangkat kepalaku untuk melihatnya. Ini hal yang penting buat diriku. Ia mengiringkannya dengan firman Allah Ta’ala:

“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, akan Allah berikan kepadanya jalan keluar. Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, akan diberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Ath-Thalaq: 2-3)

Artinya, rizki itu datang melalui pintu yang belum pernah kamu ketuk dan belum pernah kamu bayangkan.

Ia sudah menyelesaikan waktu lima menit, dan sudah menunaikan janjinya.

Aku berkata kepada diriku sendiri, “Andai saja ia tidak memenuhi janjinya.” Ucapannya masuk kedalam hatiku. Kemana perhatianku terhadap ayat-ayat dan hadits-hadits tersebut. selama ini aku sudah tersesat. Tidak lagi mengenal Allah, selain dalam kesusahan ini. Alhamdulillah, kini aku sudah mengenalNya…

Ia telah memberi pengaruh pada diriku demikian mendalam. Sementara jiwaku tengah hancur dalam hal materi. Ia telah membangkitkan kesadaranku bahwa semua yang kualami penyebabnya adalah kemaksiatan. Aku ingat akan kelalaianku.

Air mataku berderai. Aku bersiap-siap dan keluar dari masjid. Nah, itu dia Muhammad…

Kami masuk ke rumahnya. Allahu Akbar, ia adalah teman seumur hidup, begitulah perumpamaannya. Ia menyambutku dengan baik, pada saat dimana orang-orang disekitarku sudah berlarian. “Bagaimana kabar anak-anakmu? Bagaimana kesehatanmu? Bagaimana pula kondisimu sekarang?” tanyanya. “Wahai Muhammad, jangan tergesa-gesa. Aku akan memberitahukan semuanya kepadamu.” Aku berbicara panjang lebar kepadanya. Kuceritakan segalanya secara rinci . selesai aku bercerita, ia mengutarakan kepadaku satu jawaban yang belum pernah aku dengar seumur hidupku. “Itu adalah rahmat Allah untuk dirimu. Engkau telah memakan yang haram, lebih banyak dari yang halal. Engkau juga telah meninggalkan banyak kewajiban agamamu dan menjauh dari Allah.. semoga hal ini juga dapat membangunkan hatimu. Agar engkau mengetahui bahwa materi (harta) itu tidak berarti apa-apa. Bahkan Allah akan membuat perhitungan kepadamu, sebagaimana dalam hadits:

“Seseorang akan ditanya tentang empat perkara: Umurnya, untuk apa dia habiskan. Masa mudanya, untuk apa dia gunakan. Hartanya, dari mana ia mengambil dan kemana ia belanjakan. Dan tentang ilmunya, untuk apa dia gunakan.”

Tetapi, alhamdulillah. Berapa hutangmu yang tersisa? Saya akan menanggung segala hutangmu yang tersisa. Dan rumah disebelah ini, sudah kubeli lima tahun yang lalu. Orang yang menyewanya sudah pergi dua bulan yang lalu.

Muhammad bersumpah agar aku bisa tinggal di situ, sampai Allah memberi kemudahan kepadaku. Aku pun memeluknya.

Sungguh ia orang yang shalih, dalam arti sesungguhnya. Seminggu kemudian kami tinggal di sebelah rumah Muhammad. Ia memiliki majelis setiap hari senin bersama teman-temannya, membaca beberapa buku agama. Anak-anakku mulai menghafal Al-Qur’an di masjid bersama anak-anaknya. Akupun mulai merasakan kenikmatan hidup. Keadaanku pun berangsur baik. Yang terpenting diantaranya adalah masalah agamaku dan rumah tanggaku. Seusai shalat Shubuh, aku duduk di masjid hingga matahari terbit..

Cahaya keimanan telah memasuki rumah tanggaku…

Sumber : Perjalanan Menuju Hidayah, cet. Darul Haq, karya : Abdul Malik Al-Qasim
08.36 | 0 komentar | Read More

Kisah Seorang Tukang Sapu Masjid


JANGAN pernah merasa keci hati atau kecewa meskipun tidak mendapat keberuntungan (materi) dalam hidup di dunia. Ketidakberuntungan itu akan diganti dengan keberuntungan lain yang lebih menenteramkan dan berdimensi masa depan yang hakiki. Tak apalah saat ini kita tidak berkecukupan materi, tapi dalam kehidupan kelak yang lebih abadi, kita harus merebut kebahagiaan yang sesungguhnya. Tapi alangkah indahnya, kalau kita bisa meraih keduanya, kecukupan di dunia dan di akhirat seperti doa sapu jagat yang selalu kita ucapkan. Rabbana atina fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah waqina adzabannar.

Suatu saat Rasulullah shallahu alaihi wa sallam dibuat kaget ketika datang ke masjid, karena tidak menjumpai seorang jamaah yang tidak pernah absen salat lima waktu berjamaah. Dia adalah seorang perempuan berkulit gelap yang tentu saja tidak rupawan, tapi dia selalu datang ke masjid pada waktu salat. Bukan itu saja, perempuan keling ini memiliki kepedulian yang tinggi terhadap masjid. Setiap datang dia selalu membersihkan bagian-bagian masjid yang dianggap kotor. Menyapu masjid adalah aktivitas yang tidak pernah ditinggalkan, selain tentu saja salat jamaah lima waktu.

Rasulullah hafal betul dengan keberadaan perempuan ini sehingga ketika dia tidak kelihatan beliau menanyakannya. Kali ini beliau bertanya karena perempuan itu sudah beberapa hari tidak kelihatan di masjid. Ketika hal itu ditanyakan kepada para sahabat, mereka mengatakan mengapa menanyakan perempuan yang dianggap tidak penting itu. Mereka mengatakan, perempuan itu sudah meninggal dunia beberapa hari yang lalu.

Mendengar kabar itu, Kanjeng Nabi merasa kaget dan sedikit marah, mengapa kabar itu tidak disampaikan kepada beliau. Para sahabat itu mengatakan, apa pentingnya menyampaikan kabar kematian seorang perempuan biasa kepada Rasulullah. Perempuan itu dianggap tidak penting dalam komunitas mereka, mungkin karena datang dari suku yang berbeda dan kedudukan yang rendah. Kulitnya kelam dan bukan dari golongan elit. Maka ketika dia meninggal dunia, para sahabat menganggap Rasulullah tidak perlu diberi tahu, karena memang dia bukan orang penting, bukan golongan elit Arab.

Mendengar penjelasan itu Rasulullah minta diantar ke kuburan perempuan tersebut. Di makam perempuan tersebut Rasulullah salat dan mendoakan perempuan tersebut. Dalam sebuah riwayat disebutkan perempuan tersebut masuk surga karena doa Rasulullah. Meski di dunia perempuan itu orang biasa, bahkan saking biasanya sampai tidak orang yang peduli padanya. Tapi Rasulullah punya pandangan lain, dengan statusnya yang biasa itulah yang membuat perempuan itu luar biasa. Dia selalu datang ke masjid untuk salat wajib berjamaah. Waktunya banyak digunakan untuk membersihkan rumah Allah itu.

Rasulullah ingin memberi pelajaran bahwa kasta atau derajad di dunia sama sekali bukan jaminan akan mendapat kedudukan yang sama di akhirat. Orang miskin ahli ibadah dan memiliki kegemaran menjaga dan membersihkan rumah Allah dia akan dimasukkan ke surganya Allah. Doa Rasulullah menjadi jaminan, karena doanya maqbul, pasti dikabulkan oleh Allah. Betapa beruntungnya perempuan itu, meskipun saat di dunia dia bisa jadi tidak dianggap bahkan diremehkan orang lain.

Ketika usai hisab, Rasulullah berdiri di dekat pintu surga, beliau melihat orang berbondong-bondong masuk ke surga. Hal itu ditanyakan kepada malaikat, siapakah mereka. Dijawab, mereka adalah orang-orang fuqara, orang miskin ahli ibadah yang tidak butuh waktu lama untuk menghisab, karena hartanya tidak ada. Ini berbeda dengan orang kaya yang masih harus menunggu waktu yang lama kaya yang butuh waktu sangat lama untuk menghisab hartanya. Tentu butuh waktu yang sangat lama untuk menghitung harta Carlos Slim, orang terkaya di dunia yang hartanya mencapai Rp 649,7 triliun, atau bos Microsoft Bill Gates yang punya Rp 491,7 triliun. Tapi Abdurrahman bin Auf, miliarder pada masa Rasulullah masuk surga bersama-sama Rasulullah. (***)

sumber : www.malang-post.com

08.31 | 0 komentar | Read More

MOTIVASI ISLAMI:Kisah Dua Orang Tukang Sol

Mang Udin, begitulah dia dipanggil, seorang penjual jasa perbaikan sepatu yang sering disebut tukang sol. Pagi buta sudah melangkahkan kakinya meninggalkan anak dan istrinya yang berharap, nanti sore hari mang Udin membawa uang untuk membeli nasi dan sedikit lauk pauk. Mang Udin terus menyusuri jalan sambil berteriak menawarkan jasanya. Sampai tengah hari, baru satu orang yang menggunakan jasanya. Itu pun hanya perbaikan kecil.

http://4.bp.blogspot.com/-VB61VVT0bYQ/TZKqkP6eFGI/AAAAAAAAACE/_CMLQDDU5Qo/s1600/sol-sepatu.jpgPerut mulai keroncongan. Hanya air teh bekal dari rumah yang mengganjal perutnya. Mau beli makan, uangnya tidak cukup. Hanya berharap dapat order besar sehingga bisa membawa uang ke rumah. Perutnya sendiri tidak dia hiraukan.

Di tengah keputusasaan, dia berjumpa dengan seorang tukan sol lainnya. Wajahnya cukup berseri. “Pasti, si Abang ini sudah dapat uang banyak nich.” pikir mang Udin. Mereka berpapasan dan saling menyapa. Akhirnya berhenti untuk bercakap-cakap.

“Bagaimana dengan hasil hari ini bang? Sepertinya laris nich?” kata mang Udin memulai percakapan.

“Alhamdulillah. Ada beberapa orang memperbaiki sepatu.” kata tukang sol yang kemudian diketahui namanya Bang Soleh.

“Saya baru satu bang, itu pun cuma benerin jahitan.” kata mang Udin memelas.

“Alhamdulillah, itu harus disyukuri.”

“Mau disyukuri gimana, nggak cukup buat beli beras juga.” kata mang Udin sedikit kesal.

“Justru dengan bersyukur, nikmat kita akan ditambah.” kata bang Soleh sambil tetap tersenyum.

“Emang begitu bang?” tanya mang Udin, yang sebenarnya dia sudah tahu harus banyak bersyukur.

“Insya Allah. Mari kita ke Masjid dulu, sebentar lagi adzan dzuhur.” kata bang Soleh sambil mengangkat pikulannya.

Mang udin sedikit kikuk, karena dia tidak pernah “mampir” ke tempat shalat.

“Ayolah, kita mohon kepada Allah supaya kita diberi rezeki yang barakah.”

Akhirnya, mang Udin mengikuti bang Soleh menuju sebuah masjid terdekat. Bang Soleh begitu hapal tata letak masjid, sepertinya sering ke masjid tersebut.

Setelah shalat, bang Soleh mengajak mang Udin ke warung nasi untuk makan siang. Tentu saja mang Udin bingung, sebab dia tidak punya uang. Bang Soleh mengerti,

“Ayolah, kita makan dulu. Saya yang traktir.”

Akhirnya mang Udin ikut makan di warung Tegal terdekat. Setelah makan, mang Udin berkata,

“Saya tidak enak nich. Nanti uang untuk dapur abang berkurang dipakai traktir saya.”

“Tenang saja, Allah akan menggantinya. Bahkan lebih besar dan barakah.” kata bang Soleh tetap tersenyum.

“Abang yakin?”

“Insya Allah.” jawab bang soleh meyakinkan.

“Kalau begitu, saya mau shalat lagi, bersyukur, dan mau memberi kepada orang lain.” kata mang Udin penuh harap.

“Insya Allah. Allah akan menolong kita.” Kata bang Soleh sambil bersalaman dan mengucapkan salam untuk berpisah.

Keesokan harinya, mereka bertemu di tempat yang sama. Bang Soleh mendahului menyapa.

“Apa kabar mang Udin?”

“Alhamdulillah, baik. Oh ya, saya sudah mengikuti saran Abang, tapi mengapa koq penghasilan saya malah turun? Hari ini, satu pun pekerjaan belum saya dapat.” kata mang Udin setengah menyalahkan.

Bang Soleh hanya tersenyum. Kemudian berkata,

“Masih ada hal yang perlu mang Udin lakukan untuk mendapat rezeki barakah.”

“Oh ya, apa itu?” tanya mang Udin penasaran.

“Tawakal, ikhlas, dan sabar.” kata bang Soleh sambil kemudian mengajak ke Masjid dan mentraktir makan siang lagi.

Keesokan harinya, mereka bertemu lagi, tetapi di tempat yang berbeda. Mang Udin yang berhari-hari ini sepi order berkata setengah menyalahkan lagi,

“Wah, saya makin parah. Kemarin nggak dapat order, sekarang juga belum. Apa saran abang tidak cocok untuk saya?”

“Bukan tidak, cocok. Mungkin keyakinan mang Udin belum kuat atas pertolongan Allah. Coba renungkan, sejauh mana mang Udin yakin bahwa Allah akan menolong kita?” jelas bang Soleh sambil tetap tersenyum.

Mang Udin cukup tersentak mendengar penjelasan tersebut. Dia mengakui bahwa hatinya sedikit ragu. Dia “hanya” coba-coba menjalankan apa yang dikatakan oleh bang Soleh.

“Bagaimana supaya yakin bang?” kata mang Udin sedikit pelan hampir terdengar.

Rupanya, bang Soleh sudah menebak, kemana arah pembicaraan.

“Saya mau bertanya, apakah kita janjian untuk bertemu hari ini, disini?” tanya bang Soleh.

“Tidak.”

“Tapi kenyataanya kita bertemu, bahkan 3 hari berturut. Mang Udin dapat rezeki bisa makan bersama saya. Jika bukan Allah yang mengatur, siapa lagi?” lanjut bang Soleh. Mang Udin terlihat berpikir dalam. Bang Soleh melanjutkan, “Mungkin, sudah banyak petunjuk dari Allah, hanya saja kita jarang atau kurang memperhatikan petunjuk tersebut. Kita tidak menyangka Allah akan menolong kita, karena kita sebenarnya tidak berharap. Kita tidak berharap, karena kita tidak yakin.”

Mang Udin manggut-manggut. Sepertinya mulai paham. Kemudian mulai tersenyum.

“OK dech, saya paham. Selama ini saya akui saya memang ragu. Sekarang saya yakin. Allah sebenarnya sudah membimbing saya, saya sendiri yang tidak melihat dan tidak mensyukurinya. Terima kasih abang.” kata mang Udin, matanya terlihat berkaca-kaca.

http://4.bp.blogspot.com/-TOCGV33u_Zc/TdX721oTVWI/AAAAAAAAAFM/n1Zm7Rq_AfI/s1600/tukang+sol%2528sacafirmansyah.wordpress.com%2529.jpg

“Berterima kasihlah kepada Allah. Sebentar lagi dzuhur, kita ke Masjid yuk. Kita mohon ampun dan bersyukur kepada Allah.”

Mereka pun mengangkat pikulan dan mulai berjalan menuju masjid terdekat sambil diiringi rasa optimist bahwa hidup akan lebih baik.

ilustrasi gambar oleh:eryevolutions

Sumber : http://www.motivasi-islami.com

08.29 | 0 komentar | Read More

YANG TERBARU DARI BAGINDAERY

BACA JUGA

DAFTAR LENGKAP ARTIKEL BLOG BAGINDAERY

Ikuti situs Bagindaery

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...