ARTIKEL PILIHAN

GOOGLE TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

ARTIKEL PILIHAN

SEDEKAH DAN REZEKI: Berlimpah Rezeki dengan Bersedekah

Written By Situs Baginda Ery (New) on Minggu, 08 Mei 2016 | 19.09

Berlimpah Rezeki dengan Bersedekah
Sumber Gbr : baitalkamil.org 
Banyak dari kita yang tidak membantah manfaat dan kekuatan sedekah namun banyak juga yang masih enggan melakukannya. Ini dikarenakan kita selalu menghitung ‘keuntungan’ sedekah dengan menggunakan kalkulasi dan matematika kita. Matematika dan akuntansi sedekah menurut alquran dan hadis terkadang sulit kita mengerti dengan matematika biasa. Dibutuhkan keyakinan yang tidak biasa (iman) untuk bisa mempercayainya. Tidak ada istilah rugi dalam bersedekah dan tidak ada yang bangkrut karena bersedekah. Meskipun secara pandangan umum harta kita berkurang ketika melakukan sedekah namun sejatinya dalam kacamata iman harta itu tidak berkurang bahkan bisa bertambah berkali-kali lipat. Ya berkali-kali lipat !! So jika anda belum bisa mempercayai dan meyakini atau tidak mau belajar mencoba meyakininya saya pikir jangan buang-buang waktu anda yang amat berharga itu dengan melanjutkan membaca artikel ini. Karena waktu lebih berharga daripada hanya sekedar uang. Dan yang berjanji memberikan balasan yang berlipat itu adalah Allah Azza Wa Jalla, pemilik dan penguasa seluruh alam ini. 



So siapa diri kita jika tidak mau mempercayainya. Dalam [QS Al-Baqarah/2: 261] Allah mengatakan : “Orang-orang yang menafkahkan harta di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. Dan jaminan tidak bakal rugi dikatakan Allah di QS Al-Baqarah/2: 272 : “Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri, dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridaan Allah, dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup, sedangkan kamu sedikit pun tidak akan dirugikan.” Selain Quran ada banyak hadis juga yang menjamin kelimpahan rezeki dengan sedekah salah duanya adalah Nabi s.a.w. bersabda kepada Zubair bin al-Awwam: “Hai Zubair, ketahuilah bahwa kunci rezeki hamba itu ada di Arasy, yang dikirim oleh Allah Azza Wa Jalla kepada setiap hamba sesuai nafkahnya. Maka siapa yang memperbanyak pemberian kepada orang lain, niscaya Allah memperbanyak baginya. Dan siapa yang menyedikitkan, niscaya Allah menyedikitkan baginya.”H.R. ad-Daruquthni dari Anas r.a. Dalam salah satu hadits Qudsi, Allah berfirman: "Hai anak Adam, infaklah (nafkahkanlah hartamu), niscaya Aku memberikan nafkah kepadamu." (H.R. Muslim). Niscaya Aku (Allah) akan memberikan nafkah kepadamu. Apa lagi yang perlu kita takutkan jika Allah yang maha kaya yang mau menafkahi kita. Masihkah kita takut miskin dan kekurangan dengan bersedekah. Came on... Sedekah yang lebih utama adalah menyedekahkan barang atau benda yang paling dicintai. Tentang ini ada sebuah kisah menarik dari seorang dirut sebuah perusahaan yang dililit banyak utang. Adalah Mulyadi namanya, ia seorang Direktur Utama PT Zebra Nusantara TBk, perusahaan transportasi terbesar di kota Surabaya. Dari kesulitan-kesulitan makro berimbas kepada kesulitan termasuk perusahaan yang dikelolanya. 



Akumulasi kesulitan itu berakibat terhadap terancamnya aset-aset yang ia miliki. Nilai aset itu hampir Rp 2 miliar, dan akumulasi utang hampir Rp 3 miliar. Untuk kali pertama dalam hidup pria kelahiran Bogor 2 November 1970 yang pernah menjabat Direktur Utama PT Steady Safe Tbk ini menggunakan kendaraan umum untuk mengantarkannya ke tempat tujuan. Karena selama ini Mulyadi ke mana-mana selalu menggunakan sopir. Pertama kali ia naik bis ya itu dari depan hotel Mandarin menuju Al Azhar. Ia shalat Maghrib dan mendengar publikasi dari pengurus masjid tentang adanya tausiah.



 Ia pun beriktikaf di Masjid Agung Al Azhar hingga waktu Isya tiba. Setelah shalat Isya berjamaah Mulyadi mengikuti pengajian yang malam itu menampilkan dai muda Ustadz Yusuf Mansur sebagai penceramah. ''Ia sempat terkejut, ketika dalam tausiyah YM mengatakan, 'Mungkin di antara jamaah yang hadir di sini adalah orang yang tidak sama sekali berniat untuk datang ke Al Azhar bahkan mendengarkan tausiyah dari saya. Tapi, jamaah tersebut saat ini sedang dilanda kesulitan yang luar biasa''. Inti dari tausiah sang ustadz mengatakan bagaimana cara mengatasi kesulitan dan mengharapkan pertolongan Allah. Caranya adalah dengan bersedekah dan lebih utama adalah benda yang paling dicintainya. Tanpa pikir panjang, Mulyadi pun mengikhlaskan jam tangan merek Bvlgari yang melingkar di tangannya seharga 3.000 dolar AS untuk disedekahkan. ''Waktu itu, yang paling berharga yang dipunya Mulyadi hanya jam tangan karena di dompet hanya ada uang Rp 110 ribu. ATM saldonya sudah sangat minim, Kartu Kredit sudah over limit. Waktu itu ia pikir kalau saya sedekahkan Rp 100 ribu uang saya tinggal Rp 10 ribu. Sejenak ada rasa berat. Jam tangan itu memang tipe jam yang diidam-idamkannya dari dulu. Namun ia segera menepisnya. Saat dilelang, jam itu dibeli seorang jamaah seharga Rp 200 ribu. Ia merasa enteng sepulang dari masjid. Ia mengaku berada di puncak kepasrahan tertinggi selama hidupnya. Suami dari Nurasiah Jamil ini siap untuk menerima keputusan apapun, termasuk hilangnya semua aset yang dimilikinya. Tak lama kemudian, teleponnya berdering. Jauh sebelum krisis melanda dirinya, ia pernah mengajukan sebuah proposal proyek kepada sebuah lembaga. Suara telepon di ujung sana menanyakan proposalnya dulu, apakah berminat untuk meneruskan atau tidak. 


Subhanallah...Allah menggerakkan hatinya untuk mengakomodasi proposal saya, pikirnya penuh suka cita. Senin, hanya berselang dua hari setelah mensedekahkan jam Bvlgari-nya, Mulyadi diminta datang ke kantor rekannya bersamaan dengan rencana eksekusi lelang. Mereka sepakat bekerja sama. Tak sampai seminggu, ia sudah meneken surat perjanjian kerja sama. Uang muka honorarium segera dikirim ke rekening, begitu kata mereka. Di hari batas terakhir ia harus melunasi hutangnya, ia pergi ke bank. Subhanallah, sudah ada jumlah uang yang sangat-sangat cukup untuk menyelesaikan semua kewajibannya, kisah Mulyadi kepada Republika dengan mata berbinar. Ia tak akan pernah melupakan kisah itu. ''Inilah pengalaman batin yang paling berkesan sepanjang hidup saya. Apa yang kita sangka, tak selalu seperti itu yang Allah kehendaki. Ia pun teringat, boleh jadi, keajaiban itu datang karena sebelumnya ia berikhtiar, berdoa tanpa putus, ibadah puasa Senin-Kamis, shalat dhuha setiap hari, iktikaf di masjid, dan selalu mendoakan orang tua. Mulyadi bersyukur Allah memberinya kesulitan hidup, karena itu adalah momentum untuk melihat keperkasaan Allah. Allah mengintervensi kehidupan manusia selama manusia berada di jalan Allah dan mengikhtiarkan sesuatu yang benar-benar mengharap ridha Allah total tidak berkehendak atau tidak tergantung selain Allah. ''Jika kita bersedekah, ternyata itu yang mengundang intervensi Allah lebih cepat lagi,'' tandas Mulyadi berfilosofi. “Allah menjanjikan balasan yang berlipat kenapa kita sibuk ngurusin yang selipat”

http://www.kompasiana.com/katabijak/berlimpah-rezeki-dengan-bersedekah_55ec069a379773830761345d
19.09 | 0 komentar | Read More

Beginilah Adab Tertawa Dalam Islam

Written By Situs Baginda Ery (New) on Senin, 11 April 2016 | 09.20

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

وَلَا تُكْثِرِ الضَّحِكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ القَلْبَ

 "Dan janganlah terlalu banyak tertawa. Sesungguh­nya terlalu banyak tertawa dapat mematikan hati.”

Terlalu sering ketawa juga menunjukkan bahwa orang tersebut seperti lupa akhirat. Ia lalai dan tidak mencerminkan sikap seorang muslim yang berorientasi akhirat. Karena jika seorang muslim ingat akhirat maka ia akan sangat jarang tertawa, karena ia belum tentu masuk surga dan belum tentu dihindarkan dari siksa neraka yang kekal.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عُرِضَتْعَلَيَّالْجَنَّةُوَالنَّارُفَلَمْأَرَكَالْيَوْمِفِيالْخَيْرِوَالشَّرِّوَلَوْتَعْلَمُوْنَمَا

أَعْلَمُلَضَحِكْتُمْقَلِيْلاًوَلَبَكَيْتُمْكَثِيرًاقَالَفَمَاأَتَىعَلَىأَصْحَا

بِرَسُوْلِاللَّهِصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَيَوْمٌأَشَدُّمِنْهُقَالَغَطَّوْارُءُوْسَهُمْوَلَهُمْخَنِيْنٌ
“Surga dan neraka ditampakkan kepadaku, maka aku tidak melihat tentang kebaikan dan keburukan seperti hari ini. Seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui, kamu benar-benar akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”
Adab Tertawa
* Meneladani Nabi dalam senyuman dan tawa beliau.
Dari Ka’ab bin Malik r.a, ia berkata:

”Rasulullah apabila (ada sesuatu yang membuatnya) senang (maka) wajah beliau akan bersinar seolah-olah wajah beliau sepenggal rembulan.“ (HR Al-Bukhari)

* Tidak tertawa untuk mengejek, mengolok atau mencela.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Hujurat: 11)
* Tidak memperbanyak tertawa.
“Berhati-hatilah dengan tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati.” (Hadits shahih)
* Tidak menjadikannya sebagai sebuah profesi.
”Celakalah bagi orang-orang yang bercakap-cakap dengan suatu perkataan untuk membuat sekelompok orang tertawa (dengan perkataan tersebut), sedang ia berbohong dalam percakapannya itu, celakalah baginya dan celakalah baginya.” (HR at-Tirmidzi)

وَيْلٌ لِمَنْ يَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ النَّاسُ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

Artinya:
Celakalah orang yang berdusta untuk membuat bahan tertawa bagi manusia. Celaka dia, celaka dia. Nabi mengulangnya tiga kali. (HR.Abu Daud)  

“Aku menjamin dengan sebuah istana di bagian tepi surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun ia berada di pihak yang benar, sebuah istana di bagian tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meski ia sedang bercanda, dan istana di bagian atas surga bagi seseorang yang memperbaiki akhlaknya.” (HR. Abu Dawud). 

Dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi bahwa maknanya adalah apabila seseorang berbicara dengan suatu pembicaraan yang benar untuk membuat orang lain tertawa, hukumnya adalah boleh.
Al-Ghazali berkata, ”Jika demikian, haruslah sesuai dengan canda Rasulullah, tidak dilakukan kecuali dengan benar, tidak menyakiti hati dan tidak pula berlebih-lebihan.”
* Tidak berlebih-lebihan dalam tertawa dan terbahak-bahak dengan suara yang keras.
”Aku tidak pernah melihat Rasulullah berlebih-lebihan ketika tertawa hingga terlihat langit-langit mulut beliau, sesungguhnya (tawa beliau) hanyalah senyum semata.” (HR. Al-Bukhari)

Wallahu 'alam bishawab.

http://khusyani.blogspot.co.id/2015/08/adab-tertawa-dalam-islam.html
09.20 | 0 komentar | Read More

Beginilah Sifat Malu yang Terpuji dan Tercela dalam Islam


عن ابن عمر رضي الله عنه قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم : الحَيَاءُ مِنَ الْإِيْمَانِ (رواه البخاري و مسلم)
Diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu,Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam bersabda : “Sifat malu itu adalah sebagian daripada iman”. (HR al-Bukhari dan Muslim)
Sifat malu kerap kali dianggap sebagai sifat yang tidak baik oleh sebagian orang. Hal itu disebabkan karena rasa malu dapat membuat orang kurang bisamengekspresikan dirinya terhadap sosial masyarakat sekitar. Inilah yang menyebabkan sebagian orang berusaha menyingkirkan rasa malu, namun lupa mengenai batasan-batasannya.
Sehingga dengan mudah saat ini dijumpai beberapa kaum hawa memamerkan bagian tubuhnya yang seharusnya ditutupi, belum lagi kasus-kasus kriminal yang sangat memilukan sekaligus memalukan untuk dilakukan oleh seorang manusia yang menyebabkannya setara dengan hewan.
Dalam Islam, sifat malu termasuk sebagian daripada iman. Sehingga tidak dapat dikatakan bahwa sifat malu adalah sifat yang buruk. Kendati demikian, sifat malu dalam Islam dibagi menjadi dua, yaitu terpuji dan tercela. Dengan itu setiap perbuatan memiliki porsinya tersendiri, kapan harus malu untuk melakukan dan kapan harus tidak malu untuk melakukannya.
Malu itu Asalnya Terpuji
Sifat malu sendiri hakikatnya adalah sifat yang baik, karena dengan itu seseorang dapat menghindarkan dirinya dari kemaksiatan.Seperti yang diterangkan oleh Nabi dalam Shahihain Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Iman itu enam puluh sekian cabang, dan malu adalah salah satu cabang dari iman” (HR. Al-Bukhari 9, Muslim 35). Dari hadis tersebut kita dapat menilai bahwa sesungguhnya malu termasuk bagian dari iman. Yang dengannya orang dapat memiliki iman untuk terhindar dari kemaksiatan.Sifat malu pada faktanya adalah sifat para nabi. Para umat terdahulu sebelum di utusnya Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiWasallam sudah mengenal dan menyadari bahwa sifat malu itu baik dan merupakan ajaran semua para nabi terdahulu.
Rasulullah Shallallahu’alaihiWasallam bersabda:“Sesungguhnya diantara hal yang sudah diketahui manusia yang merupakan perkataan para nabi terdahulu adalah perkataan: ‘jika engkau tidak punya malu, lakukanlah sesukamu’” (HR. Al-Bukhari 6120). Hal ini mencerminkan bahwa sifat malu adalah sifat yang terpuji. Karena tanpanya orang dapat berperilaku sesuka hatinya.
Bahkan Rasulullah Shallallahu’alaihiWasallam pun dikenal sebagai orang yang sangat pemalu. Sahabat Nabi, Imran bin Hushain mengatakan:“Nabi Shallallahu’alaihiWasallam adalah orang yang lebih pemalu daripada para gadis perawan dalam pingitannya” (HR. Al-Bukhari 6119, Muslim 37).
Ternyata sifat malu bukan hanya sifat yang dimiliki oleh para nabi saja, melainkan orang-orang shalih umat setelah Rasulullah Shallallahu’alaihiWasallam juga memilikinya. Hal ini terbukti dari hadist Rasul yang memuji Utsman bin ‘Affan karena ia dikenal dengan sifat pemalunya sampai-sampai malaikat pun malu kepadanya. Nabi bersabda,“Bukankah aku selayaknya merasa malu terhadap seseorang (Utsman) yang malaikat saja merasa malu kepadanya?” (HR. Muslim 2401).
Dengan demikian sudah jelas bahwa sifat malu ini adalah hal yang semestinya dimiliki dan dijaga oleh setiap muslim, karena hamba Allah yang bukan nabi saja ternyata mampu untuk menjaga sifat malunya untuk membentengi diri dari perbuatan maksiat.
Malu yang Tercela
Walaupun sifat malu itu terpuji, namun malu bisa menjadi tercela jika ia menghalangi seseorang untuk mendapatkan ilmu agama atau melakukan sesuatu yang benar. Para salaf mengatakan:“Orang yang pemalu tidak akan meraih ilmu, demikian juga orang yang sombong”.Dari nasihat para salaf di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa dalam menuntut ilmu seseorang tidak boleh malu, bagaimana akan mendapatkan ilmu jika bertanya tentang ilmu itu saja merasa malu?
Hal itu juga tercermin dalam hadist Rasulullah tentang pertanyaan Ummu Salamah radhiallahu’anha, beliau bertanya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiWasallam:“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah itu tidak merasa malu dari kebenaran. Apakah wajib mandi bagi wanita jika ia mimpi basah? Rasulullah bersabda: ‘ya, jika ia melihat air (mani)‘” (HR. Al-Bukhari 6121, Muslim 313).
Permasalahan mimpi basah tentu hal yang tabu untuk dibicarakan. Namun lihatlah, Ummu Salamah radhiallahu’anha tidak malu menanyakannya demi mendapatkan ilmu dan demi melakukan hal yang benar. Dan Nabi Shallallahu’alaihiWasallam pun tidak mengingkarinya. Karena andai ia tidak bertanya kepada Nabi Shallallahu’alaihiWasallam tentu ia tidak tahu bagaimana fiqih yang benar dalam perkara ini dan akan terjerumus dalam kesalahan.
Permasalahan sifat malu yang tercela juga dijelaskan oleh Imam al-Nawawi rahimahullah, dalam SyarhShahih Muslim (II/5), “Terjadi masalah pada sebagian orang yaitu orang yang pemalu kadang-kadang merasa malu untuk memberitahukan kebaikan kepada orang yang ia hormati. Akhirnya ia meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar. Terkadang sifat malunya membuat ia melalaikan sebagian apa yang menjadi haknya dan hal-hal lain yang biasa terjadi dalam kebiasaan sehari-hari.”
Di antara sifat malu yang tercela adalah malu untuk menuntut ilmu syar’i, malu mengaji, malu membaca Alqur-an, malu melakukan amar ma’ruf nahi munkar yang menjadi kewajiban seorang muslim, malu untuk shalat berjama’ah di masjid bersama kaum muslimin, malu memakai busana muslimah yang syar’i, malu mencari nafkah yang halal untuk keluarganya bagi laki-laki, dan yang semisalnya. Sifat malu seperti ini tercela karena akan menghalangi seseorang untuk memperoleh kebaikan yang sangat besar.
Kesimpulan
Sifat malu itu awalnya adalah terpuji dan merupakan bagian dari iman. Seorang muslim hendaknya memiliki sifat ini, sehingga ia terhindar dari perbuatan-perbuatan tercela dan dosa. Namun sifat malu ini sendiri akan menjadi tercela jika menghalangi seseorang untuk menuntut ilmu, melakukan yang haq serta menjauhi kesalahan dan dosa.
Buah dari sifat malu adalah ‘iffah (menjaga kehormatan). Orang yang perbuatannya selalu diwarnai dengan sifat malu, niscaya dia akan berlaku ‘iffah. Yang mana sifat itu akan bermuara pada sifat wafa’ (setia/menepati janji).
Imam Ibnu Hibbanal-Bustirahimahullah berkata, “Wajib bagi orang yang berakal untuk bersikap malu terhadap sesama manusia. Diantara berkah yang mulia yang didapat dari membiasakan diri bersikap malu adalah akan terbiasa berperilaku terpuji dan menjauhi perilaku tercela. Disamping itu berkah yang lain adalah selamat dari api neraka, yakni dengan cara senantiasa malu saat hendak mengerjakan sesuatu yang dilarangAllah. Karena, manusia memiliki tabiat baik dan buruk saat bermuamalah dengan Allah dan saat berhubungan sosial dengan orang lain. Bila rasa malunya lebih dominan, maka kuat pula perilaku baiknya, sedang perilaku jeleknya melemah. Saat sikap malu melemah, maka sikap buruknya menguat dan kebaikannya meredup” (Raudhatul ‘UqalâwaNuzhatulFudhalâ’, hal. 55).
Demikianlah, seseorang tidak boleh malu dalam melakukan yang haq dan dalam menjauhi kesalahan dan dosa. Malu ketika akan melakukan yang haq atau malu untuk menjauhi kesalahan dan dosa, pada hakikatnya itu bukanlah malu dalam pandangan syariat. Bahkan yang demikian adalah sifat lemah dan pengecut. Sifat pengecut ini tercela, Rasulullah Shallallahu’alaihiWasallam bersabda:“Seburuk-buruk sifat yang ada pada seseorang adalah sifat pelit yang sangat pelit dan sifat pengecut yang sangat pengecut” (HR. Abu Daud 2511, dishahihkanal-Albani dalam Silsilah AhaditsShahihah 560).
Nabi Shallallahu’alaihiWasallam juga mengajarkan kita berlindung dari sifat pengecut dan lemah. Beliau mengajarkan doa:“Ya Allah aku memohon perlindungan dari kegelisahan, kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat bakhil dan pengecut, dari beban hutang dan penindasan oleh orang-orang” (HR. AtTirmidzi 3484, dishahihkan Al Albani dalam ShahihAtTirmidzi).
Agung Bhakti

http://pesantren.uii.ac.id/sifat-malu-yang-terpuji-dan-tercela/
09.18 | 0 komentar | Read More

YANG TERBARU DARI BAGINDAERY

BACA JUGA

DAFTAR LENGKAP ARTIKEL BLOG BAGINDAERY

Ikuti situs Bagindaery

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...