ARTIKEL PILIHAN

GOOGLE TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

ARTIKEL PILIHAN

Beginilah Adab Tertawa Dalam Islam

Written By Situs Baginda Ery (New) on Senin, 11 April 2016 | 09.20

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

وَلَا تُكْثِرِ الضَّحِكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ القَلْبَ

 "Dan janganlah terlalu banyak tertawa. Sesungguh­nya terlalu banyak tertawa dapat mematikan hati.”

Terlalu sering ketawa juga menunjukkan bahwa orang tersebut seperti lupa akhirat. Ia lalai dan tidak mencerminkan sikap seorang muslim yang berorientasi akhirat. Karena jika seorang muslim ingat akhirat maka ia akan sangat jarang tertawa, karena ia belum tentu masuk surga dan belum tentu dihindarkan dari siksa neraka yang kekal.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عُرِضَتْعَلَيَّالْجَنَّةُوَالنَّارُفَلَمْأَرَكَالْيَوْمِفِيالْخَيْرِوَالشَّرِّوَلَوْتَعْلَمُوْنَمَا

أَعْلَمُلَضَحِكْتُمْقَلِيْلاًوَلَبَكَيْتُمْكَثِيرًاقَالَفَمَاأَتَىعَلَىأَصْحَا

بِرَسُوْلِاللَّهِصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَيَوْمٌأَشَدُّمِنْهُقَالَغَطَّوْارُءُوْسَهُمْوَلَهُمْخَنِيْنٌ
“Surga dan neraka ditampakkan kepadaku, maka aku tidak melihat tentang kebaikan dan keburukan seperti hari ini. Seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui, kamu benar-benar akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”
Adab Tertawa
* Meneladani Nabi dalam senyuman dan tawa beliau.
Dari Ka’ab bin Malik r.a, ia berkata:

”Rasulullah apabila (ada sesuatu yang membuatnya) senang (maka) wajah beliau akan bersinar seolah-olah wajah beliau sepenggal rembulan.“ (HR Al-Bukhari)

* Tidak tertawa untuk mengejek, mengolok atau mencela.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Hujurat: 11)
* Tidak memperbanyak tertawa.
“Berhati-hatilah dengan tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati.” (Hadits shahih)
* Tidak menjadikannya sebagai sebuah profesi.
”Celakalah bagi orang-orang yang bercakap-cakap dengan suatu perkataan untuk membuat sekelompok orang tertawa (dengan perkataan tersebut), sedang ia berbohong dalam percakapannya itu, celakalah baginya dan celakalah baginya.” (HR at-Tirmidzi)

وَيْلٌ لِمَنْ يَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ النَّاسُ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

Artinya:
Celakalah orang yang berdusta untuk membuat bahan tertawa bagi manusia. Celaka dia, celaka dia. Nabi mengulangnya tiga kali. (HR.Abu Daud)  

“Aku menjamin dengan sebuah istana di bagian tepi surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun ia berada di pihak yang benar, sebuah istana di bagian tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meski ia sedang bercanda, dan istana di bagian atas surga bagi seseorang yang memperbaiki akhlaknya.” (HR. Abu Dawud). 

Dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi bahwa maknanya adalah apabila seseorang berbicara dengan suatu pembicaraan yang benar untuk membuat orang lain tertawa, hukumnya adalah boleh.
Al-Ghazali berkata, ”Jika demikian, haruslah sesuai dengan canda Rasulullah, tidak dilakukan kecuali dengan benar, tidak menyakiti hati dan tidak pula berlebih-lebihan.”
* Tidak berlebih-lebihan dalam tertawa dan terbahak-bahak dengan suara yang keras.
”Aku tidak pernah melihat Rasulullah berlebih-lebihan ketika tertawa hingga terlihat langit-langit mulut beliau, sesungguhnya (tawa beliau) hanyalah senyum semata.” (HR. Al-Bukhari)

Wallahu 'alam bishawab.

http://khusyani.blogspot.co.id/2015/08/adab-tertawa-dalam-islam.html
09.20 | 0 komentar | Read More

Beginilah Sifat Malu yang Terpuji dan Tercela dalam Islam


عن ابن عمر رضي الله عنه قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم : الحَيَاءُ مِنَ الْإِيْمَانِ (رواه البخاري و مسلم)
Diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu,Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam bersabda : “Sifat malu itu adalah sebagian daripada iman”. (HR al-Bukhari dan Muslim)
Sifat malu kerap kali dianggap sebagai sifat yang tidak baik oleh sebagian orang. Hal itu disebabkan karena rasa malu dapat membuat orang kurang bisamengekspresikan dirinya terhadap sosial masyarakat sekitar. Inilah yang menyebabkan sebagian orang berusaha menyingkirkan rasa malu, namun lupa mengenai batasan-batasannya.
Sehingga dengan mudah saat ini dijumpai beberapa kaum hawa memamerkan bagian tubuhnya yang seharusnya ditutupi, belum lagi kasus-kasus kriminal yang sangat memilukan sekaligus memalukan untuk dilakukan oleh seorang manusia yang menyebabkannya setara dengan hewan.
Dalam Islam, sifat malu termasuk sebagian daripada iman. Sehingga tidak dapat dikatakan bahwa sifat malu adalah sifat yang buruk. Kendati demikian, sifat malu dalam Islam dibagi menjadi dua, yaitu terpuji dan tercela. Dengan itu setiap perbuatan memiliki porsinya tersendiri, kapan harus malu untuk melakukan dan kapan harus tidak malu untuk melakukannya.
Malu itu Asalnya Terpuji
Sifat malu sendiri hakikatnya adalah sifat yang baik, karena dengan itu seseorang dapat menghindarkan dirinya dari kemaksiatan.Seperti yang diterangkan oleh Nabi dalam Shahihain Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Iman itu enam puluh sekian cabang, dan malu adalah salah satu cabang dari iman” (HR. Al-Bukhari 9, Muslim 35). Dari hadis tersebut kita dapat menilai bahwa sesungguhnya malu termasuk bagian dari iman. Yang dengannya orang dapat memiliki iman untuk terhindar dari kemaksiatan.Sifat malu pada faktanya adalah sifat para nabi. Para umat terdahulu sebelum di utusnya Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiWasallam sudah mengenal dan menyadari bahwa sifat malu itu baik dan merupakan ajaran semua para nabi terdahulu.
Rasulullah Shallallahu’alaihiWasallam bersabda:“Sesungguhnya diantara hal yang sudah diketahui manusia yang merupakan perkataan para nabi terdahulu adalah perkataan: ‘jika engkau tidak punya malu, lakukanlah sesukamu’” (HR. Al-Bukhari 6120). Hal ini mencerminkan bahwa sifat malu adalah sifat yang terpuji. Karena tanpanya orang dapat berperilaku sesuka hatinya.
Bahkan Rasulullah Shallallahu’alaihiWasallam pun dikenal sebagai orang yang sangat pemalu. Sahabat Nabi, Imran bin Hushain mengatakan:“Nabi Shallallahu’alaihiWasallam adalah orang yang lebih pemalu daripada para gadis perawan dalam pingitannya” (HR. Al-Bukhari 6119, Muslim 37).
Ternyata sifat malu bukan hanya sifat yang dimiliki oleh para nabi saja, melainkan orang-orang shalih umat setelah Rasulullah Shallallahu’alaihiWasallam juga memilikinya. Hal ini terbukti dari hadist Rasul yang memuji Utsman bin ‘Affan karena ia dikenal dengan sifat pemalunya sampai-sampai malaikat pun malu kepadanya. Nabi bersabda,“Bukankah aku selayaknya merasa malu terhadap seseorang (Utsman) yang malaikat saja merasa malu kepadanya?” (HR. Muslim 2401).
Dengan demikian sudah jelas bahwa sifat malu ini adalah hal yang semestinya dimiliki dan dijaga oleh setiap muslim, karena hamba Allah yang bukan nabi saja ternyata mampu untuk menjaga sifat malunya untuk membentengi diri dari perbuatan maksiat.
Malu yang Tercela
Walaupun sifat malu itu terpuji, namun malu bisa menjadi tercela jika ia menghalangi seseorang untuk mendapatkan ilmu agama atau melakukan sesuatu yang benar. Para salaf mengatakan:“Orang yang pemalu tidak akan meraih ilmu, demikian juga orang yang sombong”.Dari nasihat para salaf di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa dalam menuntut ilmu seseorang tidak boleh malu, bagaimana akan mendapatkan ilmu jika bertanya tentang ilmu itu saja merasa malu?
Hal itu juga tercermin dalam hadist Rasulullah tentang pertanyaan Ummu Salamah radhiallahu’anha, beliau bertanya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiWasallam:“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah itu tidak merasa malu dari kebenaran. Apakah wajib mandi bagi wanita jika ia mimpi basah? Rasulullah bersabda: ‘ya, jika ia melihat air (mani)‘” (HR. Al-Bukhari 6121, Muslim 313).
Permasalahan mimpi basah tentu hal yang tabu untuk dibicarakan. Namun lihatlah, Ummu Salamah radhiallahu’anha tidak malu menanyakannya demi mendapatkan ilmu dan demi melakukan hal yang benar. Dan Nabi Shallallahu’alaihiWasallam pun tidak mengingkarinya. Karena andai ia tidak bertanya kepada Nabi Shallallahu’alaihiWasallam tentu ia tidak tahu bagaimana fiqih yang benar dalam perkara ini dan akan terjerumus dalam kesalahan.
Permasalahan sifat malu yang tercela juga dijelaskan oleh Imam al-Nawawi rahimahullah, dalam SyarhShahih Muslim (II/5), “Terjadi masalah pada sebagian orang yaitu orang yang pemalu kadang-kadang merasa malu untuk memberitahukan kebaikan kepada orang yang ia hormati. Akhirnya ia meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar. Terkadang sifat malunya membuat ia melalaikan sebagian apa yang menjadi haknya dan hal-hal lain yang biasa terjadi dalam kebiasaan sehari-hari.”
Di antara sifat malu yang tercela adalah malu untuk menuntut ilmu syar’i, malu mengaji, malu membaca Alqur-an, malu melakukan amar ma’ruf nahi munkar yang menjadi kewajiban seorang muslim, malu untuk shalat berjama’ah di masjid bersama kaum muslimin, malu memakai busana muslimah yang syar’i, malu mencari nafkah yang halal untuk keluarganya bagi laki-laki, dan yang semisalnya. Sifat malu seperti ini tercela karena akan menghalangi seseorang untuk memperoleh kebaikan yang sangat besar.
Kesimpulan
Sifat malu itu awalnya adalah terpuji dan merupakan bagian dari iman. Seorang muslim hendaknya memiliki sifat ini, sehingga ia terhindar dari perbuatan-perbuatan tercela dan dosa. Namun sifat malu ini sendiri akan menjadi tercela jika menghalangi seseorang untuk menuntut ilmu, melakukan yang haq serta menjauhi kesalahan dan dosa.
Buah dari sifat malu adalah ‘iffah (menjaga kehormatan). Orang yang perbuatannya selalu diwarnai dengan sifat malu, niscaya dia akan berlaku ‘iffah. Yang mana sifat itu akan bermuara pada sifat wafa’ (setia/menepati janji).
Imam Ibnu Hibbanal-Bustirahimahullah berkata, “Wajib bagi orang yang berakal untuk bersikap malu terhadap sesama manusia. Diantara berkah yang mulia yang didapat dari membiasakan diri bersikap malu adalah akan terbiasa berperilaku terpuji dan menjauhi perilaku tercela. Disamping itu berkah yang lain adalah selamat dari api neraka, yakni dengan cara senantiasa malu saat hendak mengerjakan sesuatu yang dilarangAllah. Karena, manusia memiliki tabiat baik dan buruk saat bermuamalah dengan Allah dan saat berhubungan sosial dengan orang lain. Bila rasa malunya lebih dominan, maka kuat pula perilaku baiknya, sedang perilaku jeleknya melemah. Saat sikap malu melemah, maka sikap buruknya menguat dan kebaikannya meredup” (Raudhatul ‘UqalâwaNuzhatulFudhalâ’, hal. 55).
Demikianlah, seseorang tidak boleh malu dalam melakukan yang haq dan dalam menjauhi kesalahan dan dosa. Malu ketika akan melakukan yang haq atau malu untuk menjauhi kesalahan dan dosa, pada hakikatnya itu bukanlah malu dalam pandangan syariat. Bahkan yang demikian adalah sifat lemah dan pengecut. Sifat pengecut ini tercela, Rasulullah Shallallahu’alaihiWasallam bersabda:“Seburuk-buruk sifat yang ada pada seseorang adalah sifat pelit yang sangat pelit dan sifat pengecut yang sangat pengecut” (HR. Abu Daud 2511, dishahihkanal-Albani dalam Silsilah AhaditsShahihah 560).
Nabi Shallallahu’alaihiWasallam juga mengajarkan kita berlindung dari sifat pengecut dan lemah. Beliau mengajarkan doa:“Ya Allah aku memohon perlindungan dari kegelisahan, kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat bakhil dan pengecut, dari beban hutang dan penindasan oleh orang-orang” (HR. AtTirmidzi 3484, dishahihkan Al Albani dalam ShahihAtTirmidzi).
Agung Bhakti

http://pesantren.uii.ac.id/sifat-malu-yang-terpuji-dan-tercela/
09.18 | 0 komentar | Read More

BEGINILAH SOPAN SANTUN PERGAULAN DALAM ISLAM


Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an :
“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. Al Hujarat : 13)
Pergaulan merupakan fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang tak mungkin bisa hidup sendirian. Manusia juga memiliki sifat tolong-menolong dan saling membutuhkan satu sama lain. Interaksi dengan sesama manusia juga menciptakan kemaslahatan besar bagi manusia itu sendiri dan juga lingkungannya. Berorganisasi, bersekolah, dan bekerja merupakan contoh-contoh aktivitas bermanfaat besar yang melibatkan pergaulan antar manusia.
Namun, pergaulan tanpa dibentengi iman yang kokoh akan mudah membuat seorang Muslim terjerumus. Kita lihat di zaman sekarang. Betapa banyak kejadian tak bermoral yang membuat kita mengelus dada. Pergaulan bebas, video mesum, perkosaan, dan berbagai bentuk perilaku menyimpang lainnya. Semua itu bersumber dari pergaulan yang salah dan tidak dilandaskan pada kepatuhan terhadap ajaran Al Quran yang mengatur soal pergaulan Islami.
Oleh karenanya, adalah satu hal yang penting mengetahui sopan santun pergaulan dalam Islam. Bagi sebagian orang yang tidak terbiasa dengan tata cara pergaulan dalam Islam ini, mereka pasti akan merasa canggung atau barang kali malah merasa tertekan karena pergaulan dalam Islam itu terlihat begitu kaku dan tidak seperti pergaulan yang umum ditemui di masyarakat.
Sopan santun pergaulan dalam Islam itu sebenarnya bukan untuk membatasi namun untuk menjaga harkat dan martabat manusia itu sendiri agar tidak sama dengan tata cara dan tatanan para hewan dalam bergaul. Bila satu tuntunan itu diambil dengan kerendahan hati dan keinginan untuk berbakti kepada Ilhai, maka tak ada satu hal sulit untuk mengikuti tuntunan yang baik itu. Terkesan sulit karena melihatnya dari sisi nafsu dan kepentingan duniawi.
Bila memang belum mampu menjalankan tuntunan yang sebenarnya, jangan ditantang tuntunan itu. Cukup camkan dalam hati bahwa diri akan berusaha sekuat tenaga mengikuti aturan yang sesungguhnya. Kalau menentang atau bahkan menantang, itulah tanda kesombongan diri di hadapan Sang Kuasa. Tentunya hal ini kurang baik untuk kesehatan hati dan kalbu.
Islam mengatur batasan-batasan pergaulan antara lelaki dan perempuan. Batasan-batasan itu tidak dibuat untuk mengekang kebebasan manusia, namun merupakan salah satu wujud kasih sayang Allah terhadap umat manusia sebagai makhluk paling mulia.
Sebagai Muslim yang beriman, hendaknya kita senantiasa memerhatikan beberapa adab sopan santun pergaulan yang diatur dalam Al Quran. Adab-adab itu dibuat untuk membuat harkat dan martabat manusia tetap tinggi dimata Allah Swt. Di antara adab sopan santun pergaulan dalam Islam itu, adalah:
1. Menutup aurat
Aurat adalah bagian tubuh yang tidak boleh ditampakkan kecuali kepada muhrimnya. Wanita maupun pria memiliki batasan-batasan aurat. Khusus wanita, aurat ibarat perhiasan yang sangat berharga. Ini sesuai firman Allah SWT dalam Al Qur’an : “Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (Q.S. An Nur : 31)
Dalam Ayat tersebut memerintahkan wanita Muslimah agar tidak menampakkan perhiasan (aurat), kecuali kepada suami, ayah, dan beberapa pihak lain yang termasuk dalam pengecualian. Allah juga melarang para wanita bertabaruj. Tabaruj adalah berhias diri secara berlebihan, sehingga mengundang syahwat kaum Adam. Yang termasuk perilaku tabaruj juga adalah memakai wangi-wangian yang baunya dapat tercium orang lain di tempat umum. Memakai perhiasan (gelang, kalung, dan lain-lain) secara berlebihan dan mencolok mata juga termasuk tabaruj.
2. Menjaga interaksi antara lelaki dan perempuan
Allah melarang laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim untuk saling berpandangan secara berlebihan, apalagi saling bersentuhan. Dalam Al Quran surat An-Nuur ayat 31 Allah bahkan secara khusus mengingatkan kaum lelaki agar menjaga pandangan dan memelihara kemaluannya. Artinya, tidaklah temasuk lelaki beriman jika matanya suka jelalatan dan bergonta-ganti pasangan seperti berganti pakaian.
Pandangan mata secara berlebihan serta persentuhan antara lelaki dan perempuan yang bukan muhrim juga bisa menimbulkan zina. Allah berfirman dalam Al Quran : “Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (Q.S. Al Isra’ : 32).
Dalam ayat ini Allah melarang kita mendekati zina, karena zina adalah perbuatan yang sangat keji. Pandangan mata dan persentuhan tubuh adalah salah satu tindakan mendekati zina. Jika mendekati zina saja haram dan mendapat larangan keras, Anda tentu bisa menyimpulkan sendiri, betapa berdosanya perbuatan zina yang sekarang demikian merajalela dan dilakukan manusia tanpa rasa bersalah!
3. Menjaga aurat suara
Baik perempuan atau laki-laki, hendaknya tidak mengeluarkan kata-kata secara mesra atau berlebihan kepada lawan jenis selain istri atau suaminya. Hal ini tertuang dalam firman Allah SWT : “Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah Perkataan yang baik, (Q.S. Al Ahzab : 32)
Dalam ayat ini, secara khusus Allah mengingatkan istri-istri Nabi agar jangan melembutkan suara ketika bicara sehingga membangkitkan nafsu lelaki yang mendengarnya. Walaupun ayat tersebut ditujukan kepada para istri Nabi, tak ada salahnya kita meneladani ajaran Al Quran yang selalu memiliki hikmah tersendiri bagi pengikutnya. Sebagian ulama juga berpendapat bahwa ayat tersebut juga berlaku untuk wanita biasa.
4. Larangan berdua-duaan (berkhalwat)
Allah swt. melarang laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya saling berdua-duaan, kecuali disertai mahramnya atau orang ketiga. Menurut Rasulullah saw., jika lelaki dan perempuan berdua-duaan, maka akan muncul pihak ketiga, yakni setan. Apa akibatnya jika setan ikut “nimbrung” di antara dua manusia yang berlainan jenis? Anda tentu sudah tahu jawabannya, bukan?
Demikian beberapa adab sopan santun pergaulan dalam Islam yang harus diperhatikan setiap umat Islam yang mengaku beriman. Islam tak pernah melarang pergaulan dengan siapa pun. Bergaul bahkan sangat dianjurkan sebagai upaya meningkatkan ukhuwah Islamiyah. Yang dilarang adalah pergaulan secara bebas antara lelaki dan perempuan yang bukan muhrim. Pergaulan yang tidak mematuhi norma-norma agama.
Wallahu A’lam.
https://www.facebook.com/permalink.php?id=491142294258787&story_fbid=625362094170139
09.16 | 0 komentar | Read More

YANG TERBARU DARI BAGINDAERY

BACA JUGA

DAFTAR LENGKAP ARTIKEL BLOG BAGINDAERY

Ikuti situs Bagindaery

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...