ARTIKEL PILIHAN

GOOGLE TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

ARTIKEL PILIHAN

ARTIKEL INSPIRASI ISLAMI: BELAJAR DARI PENGUSAHA (MERINTIS KEBAHAGIAAN DUNIA DAN AKHIRAT)

Written By Situs Baginda Ery (New) on Rabu, 05 April 2017 | 14.53

“Hidup adalah sebuah pengembaraan, maka manusia yang memilki visi, ibarat seorang pengembara yang telah melihat ujung pengembaraannya. Dia tau akan arah perjalanannya, sehingga berbagai halangan dan rintangan takkan mampu membuatnya menjauh dari arah yang ia tuju. Berlikunya jalan yang ia tempuh akan ia anggap sebagai konsekuensi logis dari pengembaraannya. Hasutan yang datang dari berbagai sisi, takkan mampu membelokkan hatinya dari jalan yang ia pegang teguh. Mengapa? Karena ia tahu, bahwa orang lain tidak mampu melihat ujung perjalanannya. Biarlah para penghasut berkutat dengan fatamorgananya, sedang para visioner akan berjuang keras mewujudkan cita-cita besarnya.“
Ar-Rahman
“Maka nikmat Rabbmu mana lagikah yang akan kamu dustakan?”
Alhamdulillah, sungguh rasa syukur selalu dan harus selalu mengiri perjalanan diri ini. Termasuk masa-masa saat ini, dimana saya banyak dikelilingi oleh para pengusaha-pengusaha luar biasa. Pengusaha-pengusaha yang berhasrat besar untuk menularkan semangat wirausaha kepada generasi muda. Lebih jauh lagi, saya dikelilingi oleh para pengusaha yang senantiasa menjadi tutor untuk mengajarkan bagaimana melaksanakan perniagaan yang tiada pernah merugi. 😀
Salah satu hikmah yang saya dapatkan melalui diskusi dengan beliau-beliau adalah pemahaman mengenai “proses”. Bahwa keberhasilan yang mereka rengkuh saat ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Target-target yang mereka capai, bukanlah datang melalui sebuah keberuntungan. Memang benar, ada sekelumit kesempatan yang hadir dan jarang dirasakan oleh semua orang, akan tetapi haruslah diingat, bahwa “kesempatan akan datang bagi mereka yang mempersiapkan. Orang-orang yang tidak siap, tidak akan menganggap suatu kesempatan sebagai kesempatan.”
Perjalanan yang dilalui untuk mengejar cita-cita mereka membutuhkan proses yang panjang dan berliku, terutama pada masa-masa merintis. Bahkan sering muncul istilah, saat-saat merintis adalah saat-saat dimana kaki menjadi kepala dan kepala menjadi kaki. Begitulah kiranya, proses jungkir-balik menjadi hal yang lumrah saat merintis.
Hampir semua pengusaha besar, pada masa-masa awal usahanya, menjadi konseptor sekaligus pelaksana. Tak hanya sebagai manajer, mereka juga turun langsung mengurusi keuangan, melakukan pencatatan, produksi, pemasaran, dan lain sebagainya. Selain itu, mereka juga harus bersabar menunggu saat-saat jerih payah yang mereka perjuangkan menjadi nyata atau wujud. Maka proses dimana usaha mereka belum membuahkan hasil memuaskan, adalah masa-masa ujian. Ada seorang pengusaha yang berkata pada saya, “masa-masa awal mencoba, biaya yang dikeluarkan bagi sebagian orang dianggap sebagai kerugian, namun bagi pengusaha hal tersebut bukanlah kerugian, melainkan investasi ilmu agar nantinya dapat mengembangkan usahanya hingga mencapai keuntungan yang diharapkan. Justru ketika orang berhenti dan tidak mengembangkan ilmu yang didapat dalam proses mencoba, itulah yang rugi, karena biaya investasi ilmunya tidak kembali.”
Keyakinan pada Visi
Mengapa? ya berbagai kata mengapa akan keluar. Mengapa mereka mau berjuang begitu kerasnya, bahkan mengerahkan seluruh daya dan upayanya untuk  memperjuangkan usaha mereka? Mengapa mereka mampu bersabar dan bertahan menunggu hasil jerih payahnya terwujud?
Semua hal itu tidaklah mungkin dapat dilalui tanpa adanya visi dan keyakinan. Visilah yang membuat orang mempunyai arah dalam hidup. Visilah yang akan menimbulkan keyakinan pada suatu hal yang belum wujud. Kenapa? karena visi adalah suatu kondisi yang ingin diwujudkan, dengan demikian visi adalah sesuatu yang belum wujud. Maka orang-orang yang memiliki visi adalah orang-orang yang akan mewujudkan visinya. Semakin tinggi keyakinan akan visi yang dimiliki, semakin tinggi pula keyakinan seseorang untuk bertahan dalam proses mewujudkan visinya.
Hidup adalah sebuah pengembaraan, maka manusia yang memilki visi, ibarat seorang pengembara yang telah melihat ujung pengembaraannya. Dia tau akan arah perjalanannya, sehingga berbagai halangan dan rintangan takkan mampu membuatnya menjauh dari arah yang ia tuju. Berlikunya jalan yang ia tempuh akan ia anggap sebagai konsekuensi logis dari pengembaraannya. Hasutan yang datang dari berbagai sisi, takkan mampu membelokkan hatinya dari jalan yang ia pegang teguh. Mengapa? Karena ia tahu, bahwa orang lain tidak mampu melihat ujung perjalanannya. Biarlah para penghasut berkutat dengan fatamorgananya, sedang para visioner akan berjuang keras mewujudkan cita-cita besarnya.
Kepercayaan besar akan visi adalah sebuah paradigma yang sulit ditemui saat ini. Paradigma yang bisa juga disebut “believing is seeing” inilah yang akan membuat orang bertahan untuk berjuang mewujudkan suatu hal yang belum wujud. Sedangkan paradigma yang saat ini diajarkan dimanapun, terutama di sekolah adalah “seeing is believing” sehingga sulit menemukan orang-orang visioner di tengah-tengah kehidupan ini. Orang-orang yang “seeing is believing” lebih menyukai pekerjaan-pekerjaan yang telah terukur dengan pasti dan telah dilalui orang-orang kebanyakan di sekitarnya. Maka wajarlah orang-orang seperti ini takkan mampu menjadi pendobrak, karena mereka hanya melihat yang ada di sekitarnya, bukan melihat pada hal-hal yang bersifat futuristik layaknya para visioner.
Sungguh sebenarnya keyakinan akan sesuatu yang belum terlihat wujudnya, atau “believing is seeing” adalah ajaran yang telah termaktub di dalam Al-Quran.
“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (Q.S. Al Baqoroh : 2-3)
Secara tidak langsung, orang-orang visioner, termasuk salah satunya para pengusaha, telah meniru perilaku yang disebutkan pada ayat tersebut, yaitu mempercayai hal yang gaib atau belum wujud. Berbeda dengan mayoritas orang saat ini yang lebih menyukai kejelasan, seperti bekerja dengan gaji yang besaran dan waktunya pasti.
Mengejar Visi yang Berdasar
Sungguh sulit memang membayangkan masa-masa prihatin para pengusaha sukses, namun mereka memang benar-benar pernah merasakan masa-masa jatuh dan bangun. Menakjubkan melihat kegigihan mereka untuk menggapai cita-cita maupun visi yang mereka yakini.
Hal ini seharusnya menjadi ayat bayyinah bagi kita. Saya teringat surat Al Baqoroh ayat 199 – 201 yang berbunyi sebagai berikut:
(2,199-203)
Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Rabb kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.
Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.
Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya. (Q.S. Al-Baqoroh: 199-201)
Ayat tersebut mengajarkan kepada kita bahwa ada manusia-manusia yang bervisi pada kebahagiaan dunia serta ada pula manusia-manusia yang bervisi pada kebahagiaan dunia dan akhirat.
Tanpa melihat latar belakang penyusunan visi yang dibuat oleh para pengusaha-pengusaha sukses, setidaknya kehidupan mereka menjadi idaman bagi kebanyakan orang saat ini. Dengan demikian, bisa kita pandang bahwa mereka telah mampu merengkuh kebahagiaan di dunia sehingga pantaslah jika kegigihan serta daya juang mereka dalam merintis usahanya menjadi gambaran dan teladan bagi kita dalam merintis kebahagiaan dunia.
Namun, seperti yang termaktub dalam surat Al Baqoroh ayat 199-200 di atas, mengejar kebahagiaan dunia saja tidaklah cukup. Kita harus mengejar kebahagiaan dunia dan akhirat. Dengan kata lain, kita harus mampu menciptakan sebuah tatanan yang mampu menghasilkan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat seperti yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW  dan para sahabatnya.
Pejuang Kebahagiaan Dunia dan Akhirat
Berkaca pada hal tersebut, maka bagaimanakah jatuh-bangunnya Rasul dan para sahabat dalam merintis kebahagiaan dunia dan akhirat? Bagaimanakah pengorbanan yang dilakukan oleh Rasul dan para sahabatnya? Bagaimanakah besarnya ujian yang dihadapi oleh mereka? Bagaimanakah ketangguhan daya juang mereka dalam rangka menggapai visi yang diidamkan?
Sungguh sulit memberikan jawaban gamblang akan pertanyaan-pertanyaan di atas. Namun, melihat ayat-ayat nyata mengenai perjuangan orang-orang yang sukses menggapai kebahagiaan di dunia, maka gambarannya, untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, pastilah dibutuhkan perjuangan yang jauh lebih besar daripada perjuangan menggapai kebahagiaan dunia.
Jika pada masa merintis, para pengusaha bersedia mengerjakan segala usahanya sendiri, maka pastinya satu orang muslim terdahulu juga mengerjakan berbagai kegiatan yang beban pengerjaannya puluhan atau bahkan ratusan orang. Itulah sebabnya, dahulu pasukan muslim, selalu bisa mengalahkan pasukan musuh yang jumlahnya berkali-kali lipat jumlah pasukan muslim. Hal itu tidak lain dan tidak bukan karena pasukan muslim telah terlatih untuk memegang tanggung jawab yang seharusnya dipikul oleh banyak orang. Firman Allah dalam surat Al Anfaal ayat 65.
“Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti” (Q.S. Al-Anfaal:65)
Maka bagi para muslim yang sedang merintis jalan menuju cita-cita agung, yakni kebahagiaan dunia dan akhirat, sudah pastilah akan memegang tampuk amanah besar dengan beban pengerjaan besar. Jika proses tersebut mampu dilewati, niscaya satu orang muslim akan bisa menyamai kapasitas ratusan orang sesuai dengan janji Allah tersebut.
Jika pada masa merintis, para pengusaha harus melewati jalan yang berlika-liku, maka begitu pula yang dialami oleh Rasul dan para sahabatnya. Mereka ditempa dengan berbagai ujian untuk bisa memasuki kehidupan yang didamba-dambakan. Seperti firman Allah dalam surat Al-Baqoroh ayat 214
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Jannah, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”
Jika para pengusaha sangat meyakini keberhasilan visi mereka, maka bayangkan, seperti apa Rasul dan para sahabatnya meyakini visi yang sangat berdasar dan merupakan janji dari Sang Khalik? Keyakinan inilah yang membuat semangat para muslim terdahulu berkobar luar biasa tanpa bisa dibendung.
Jika para pengusaha meyakini bahwa dalam proses merintis tidak ada kata merugi dan bahwa merugi adalah kondisi ketika orang menyerah di tengah perjalanan merintisnya, maka memang seharusnya seorang muslim tidak pernah boleh mundur dalam memperjuangkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Layaknya pasukan muslim saat menaklukan Andalusia, dimana panglima perang saat itu, Thariq bin Ziyad, membakar seluruh kapal muslim beserta dengan amunisi di dalamnya sehingga tidak ada pilihan selain maju menghadapi musuh. Keberanian yang berbuah kemenangan tersebut tidak lain dan tidak bukan karena keyakinan yang tinggi akan kebenaran janji Allah tanpa ada keraguan sedikitpun, seperti dalam firman-Nya
“Kebenaran itu dari Rabbmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu” (Q.S. Al Baqoroh : 147)
Semoga tulisan ini menjadi sebuah potret langkah yang mampu menjaga diri ini dan juga jiwa-jiwa lain agar senantiasa maju tak gentar serta tak mengenal lelah dalam memperjuangkan apapun cita-cita yang dimiliki, termasuk cita-cita mewujudkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Semoga diri ini dan para pembaca semakin yakin bahwa tidak ada kata merugi bagi para perintis kebahagiaan dunia dan akhirat sesuai dengan firman Allah dalam surat Fathir ayat 29.
Maka, janganlah takut, janganlah bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.

https://mahdikarim.wordpress.com
14.53 | 0 komentar | Read More

ARTIKEL INSPIRASI ISLAMI: Obat Kekosongan, Kehampaan, dan Keraguan Hati (Petunjuk Hidup

Seringkali manusia merenung sembari bertanya pada dirinya sendiri, “untuk apa aku melakukan ini, untuk apa aku melakukan itu?”. Hatinya hampa dan sering timbul rasa cemas pada diri. Keraguan menyelimuti setiap sudut relung jiwanya. “Sia-siakah yang kuperbuat selama ini?” dan masih banyak lagi pertanyaan terbersit dalam benaknya.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Mengapa muncul kekosongan dan kehampaan dalam hati? Mengapa keraguan bisa muncul?

Tentu kekosongan, kehampaan, dan keraguan akan muncul ketika seseorang tidak memiliki pegangan, pedoman, serta petunjuk dalam menjalani kehidupannya. Mereka terombang-ambing dalam arus kehidupan karena ketidaktahuannya akan arah akhir yang ingin dituju.
Ada pula manusia yang tetap merasa kosong, hampa, dan ragu meskipun telah memiliki pegangan dan pedoman. Mengapa hal ini terjadi? Ternyata memiliki pegangan dan pedoman saja tidak cukup ketika pedoman tersebut bukanlah petunjuk yang Haq (Benar).
Pedoman yang Haq
Telah kita yakini bersama bahwa manusia diciptakan oleh Allah. Selain menciptakan manusia, Allah juga menciptakan alam sebagai tempat manusia tinggal. Lalu untuk apa manusia tinggal di alam ini? Apakah Allah membiarkan begitu saja tanpa ada tujuan yang jelas?
Selain manusia dan alam, Allah juga menciptakan petunjuk untuk dijadikan pedoman dalam kehidupan manusia, apakah itu? Tentunya petunjuk itu adalah Al-Quran yang setiap konsepnya telah termaktubkan dalam lembaran-lembaran (mushaf) Usmani. Dengan demikian, sudah menjadi fitrah manusia untuk menjalankan Al-Quran (sebagai petunjuk) di Alam ini.
Ada dua penyebab kekosongan dan keraguan hati terjadi, pertama karena tidak memiliki pedoman, atau yang kedua pedoman yang ia yakini selama ini bukanlah pedoman yang haq.
Ibarat sekolah, manusia penghuninya adalah kepala sekolah, guru, murid, satpam, dan sebagainya. Tentunya tempat mereka tinggal adalah di sekolah tersebut. Lalu peraturan apa yang dijadikan petunjuk serta pedoman dalam menjalankan kehidupan di sekolah? Tentunya yang digunakan adalah peraturan sekolah.
Begitu pula di Rumah Sakit, manusia penghuninya adalah dokter, pasien, satpam, dan sebagainya. Tempat mereka tinggal adalah di Rumah Sakit tersebut. Peraturan yang digunakanpun adalah peraturan rumah sakit tersebut.
Dengan demikian, dalam kehidupan ini (yang berasal dari Allah), manusia sebagai ciptaan-Nya, yang tinggal di bumi Allah, seharusnya menggunakan petunjuk serta pedoman yang juga berasal dari Allah. Itulah pedoman dan petunjuk yang Haq, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Al-Quran.
Al-Quran sebagai petunjuk (Hudan), termaktub dalam banyak ayat di Al-Quran, beberapa diantaranya:
“Kitab ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk (Hudan) bagi mereka yang bertaqwa” (Q.S. Al-baqarah (2): 2)
“Al Quran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk (hudan) dan rahmat bagi kaum yang meyakini.” (Q.S. Al-Jatsiyah (45) : 20)
Dari kedua ayat tesebut, maka dengan tegas telah dijelaskan bahwa kitab Al-Quran adalah petunjuk. Petunjuk haruslah diikuti dan dijadikan tuntunan. Bukan hanya sekedar dibaca! Namun harus dimaknai untuk kemudian diterapkan dalam kehidupan.
Pesan terakhir Rasulullah
Selain termaktub dalam Al-Quran, Rasulullah juga berpesan ketika haji wada’. Pesan ini pulalah pesan terakhir Rasulullah semasa hidup di dunia.
تركت فيكم امرين ما ا ن تمسّكتم بهما لن تضلّو ا ا بدا, كتاب الله و سنّت رسوله
Artinya:
“Telah aku tinggalkan dua perkara untuk kalian, jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, niscaya kalian tidak akan tersesat selamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul”
Rasulullah Muhammad yang merupakan manusia paling terpercaya, yang setiap kata dan perbuatannya adalah wahyu, hanya menjamin 2 perkara di dunia ini, yaitu kitabullah dan sunnah rasul. Selain kedua itu, tidak ada jaminan akan kebenarannya yang tentu pula tidak ada jaminan bahwa kita akan dibawa pada jalan yang benar.
Jika memang kita mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sudah seharusnya kita percaya sepenuhnya, tanpa keraguan sedikitpun, kepada semua yang bersumber dari Allah dan Rasul-Nya.
Paham dan Ikuti Petunjuk yang Haq
Selama mengikuti petunjuk yang Haq, maka tidak akan ada lagi kekosongan, kehampaan, dan keraguan dalam hati. Sudah seharusnyalah manusia sebagai ciptaan-Nya, yang tinggal di bumi Allah, menggunakan petunjuk serta pedoman yang juga berasal dari Allah, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Al-Quran.
Al-Quran diciptakan salah satunya untuk menjadi petunjuk. Dengan demikian, Al-Quran diciptakan untuk difahami dan kemudian dilaksanakan dalam kehidupan. Bukan sekedar di baca!
Ibarat sebuah perjalanan, ketika kita ingin pergi ke suatu kota, maka kita akan mengikuti petunjuk yang tertera di papan penunjuk jalan. Ketika kita hanya membaca tanpa menjalankan instruksinya, maka sudah dipastikan kita akan tersesat. Ketika ingin ke Bogor, maka kita akan mengikuti petunjuk jalan yang mengarahkan ke Bogor, sedangkan ketika ingin ke kota lain, maka kita akan mengikuti arahan sesuai dengan tulisan yang tertera pada papan penunjuk.
Kita yang diciptakan oleh Allah dan akan kembali pada Allah (inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’un), maka tujuan akhir kita, termasuk dalam kehidupan di dunia ini, adalah Allah. Dengan demikian, kita harus mengikuti petunjuk yang berasal dari Allah, yaitu Al-Quran. Untuk dapat mengikuti petunjuk tersebut, kita harus memahami Al-Quran.
Oleh karena itu, mari tanyakan pada diri sendiri, sudah seberapa banyak waktu yang kita luangkan untuk memahami Al-Quran, bukan sekedar membacanya? Dan sudahkan kita melaksanakan apa yang termaktub dalam kitab Al-Quran?

https://mahdikarim.wordpress.com
14.52 | 0 komentar | Read More

Jiwa yang Kusut, Hati yang Kosong

Kadang-kadang, kita merasakan ada sesuatu yang tidak kena dengan diri kita..JIWA KUSUT...seakan-akan ade 'something missing' ..Hati pula terasa kosong.

Hendak buat apa-apa pun seakan-akan tiada mood. Tiada semangat. Hendak senyum, susah sekali.. Sekadar senyuman hambar, boleh la..

Menghadap laptop, 'study', lantas bermain dota sekalipun tidak tenang. Anda pernah tak hadapi situasi seperti ini? Aku...kadang-kadang kerap kali juga.
Jiwa kusut, mungkinkah ade sesuatu yang perlu kita ambil tahu? Kenapa jiwa ini terasa kosong?



Genggam tangan. Tepuk Dada. Tanya diri, "Apa khabar hati?"

Adakah hati anda dipenuhi dengan zikrullah? atau mungkin anda alpa dan membiarkan hati anda dikotori elemen-elemen maksiat mungkin?

Sihatkah hati anda? atau mungkin ianya sakit? Atau lebih teruk lagi, adakah ianya telah mati? Sedikit perkongsian,beberapa tanda-tanda HATI YANG SAKIT dan HATI YANG SIHAT :


1. HATI YANG SAKIT tidak membisikkan kepada tuannya untuk mencapai tujuan hidup iaitu untuk mengenali Allah, mencintaiNya, merindui untuk bertemu denganNya, kembali kepadaNya dan mengutamakanNya dari segala bentuk syahwat (yakni keinginan diri kepada dunia, keseronokan, harta dan wanita). Ia lebih mengutamakan kepentingan diri dan syahwatnya dari mentaati Allah dan menyintaiNya. Hidupnya adalah dengan bertuhankan hawa nafsunya sendiri sebagaimana firman Allah;

“Tidakkah engkau melihat (wahai Muhammad) orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? Dapatkah engkau menjadi pelindungnya (dari kesesatan)?”. (al-Furqan; 43)

2. HATI YANG SAKIT tidak kisah dengan dosa dan maksiat. Apabila melakukan maksiat, ia tidak rasa berdosa, resah atau gelisah kerana melanggar perintah Allah. Berbeza dengan orang yang memiliki HATI YANG SIHAT, hatinya akan berasa sakit dan pedih apabila tersilap atau tersengaja melakukan dosa, lalu ia segera kembali kepada Allah dan bertaubat kepadaNya. Firman Allah tentang sifat-sifat orang bertakwa;

“(Dan antara tanda orang bertakwa ialah) orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka segera ingat kepada Allah lalu memohon ampun akan dosa mereka – dan sememangnya tidak ada yang mengampunkan dosa-dosa melainkan Allah, dan mereka juga tidak meneruskan perbuatan keji yang mereka telah lakukan itu, sedang mereka mengetahui (akan salahnya dan akibatnya)”. (Ali Imran: 135)

 Jadi, anda faham mengapa situasi JIWA KOSONG menghantui anda? Tepuk dada, tanya pula Hati,
                                                        
                                                             "Apa khabar Iman?"



 Berkata Imam Ibnu al-Qayyim; “Selagi hati selamat dari penyakitnya, ia akan berjalan menuju akhirat dan menghampirinya hingga menjadilah ia ahlul-akhirah (golongan yang beramal untuk akhirat). Namun apabila hati sakit, ia akan melebihkan dunia dan menjadikan dunia watannya hingga menjadilah ia alul-dunya (golongan yang beramal semata-mata untuk kepentingan duniawi”. (Ighasah al-Lahfan, halaman 94-95).

http://ashabulislam.blogspot.co.id
14.51 | 0 komentar | Read More

YANG TERBARU DARI BAGINDAERY

BACA JUGA

DAFTAR LENGKAP ARTIKEL BLOG BAGINDAERY

Ikuti situs Bagindaery

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...