ARTIKEL PILIHAN

GOOGLE TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

ARTIKEL PILIHAN

Kekuatan Ekspresi Diri

Written By Situs Baginda Ery (New) on Sabtu, 21 Mei 2011 | 20.26

Kekuatan bahasa, dan pekerjaan pada sub-pikiran saya sadar, tidak pernah berhenti membuat saya takjub. Kata-kata memiliki perasaan dan emosi yang menyertainya.

Ketika saya mengucapkan kata IBU, setiap satu dari Anda mengalami perasaan yang berbeda dan emosi. bawah sadar Anda menerima bahwa kata dikomunikasikan, melalui emosi dan perasaan. Kita sering percaya bahwa itu adalah kata-kata yang sebenarnya menghasilkan keadaan tertentu, padahal sebenarnya itu adalah persepsi asosiatif kami dari kata-kata yang berkomunikasi.

Dalam menggunakan peluang itu merupakan awal penegasan dengan kata-kata aku INGIN, Anda benar-benar menyatakan sebagai INGIN, dan bawah sadar Anda akan ditetapkan ke keadaan ingin pikiran dalam kaitannya dengan hal itu.

Pertimbangkan menggunakan kata-kata saya MEMILIH, untuk memulai tiap pernyataan afirmatif. Sebagai contoh, saya memilih untuk memiliki rumah baru. bawah sadar Anda akan lebih mudah menerima ide, dan juga menyebabkan Anda menjadi lebih pro-aktif dalam proses, bukan duduk di puncak gunung menunggu beberapa sumber eksternal untuk membawa Anda item dari daftar-inginkan.

Daripada menyatakan saya orang yang antusias, pertimbangkan untuk menggunakan kata-kata - saya memilih untuk merasa lebih antusias. Ketika anda ucapkan, saya antusias, Anda secara efektif mengatakan bawah sadar Anda bahwa Anda cukup antusias dan perhatian tidak lebih harus dibayar untuk pengembangannya. Anda juga menaruh plafon tersembunyi pada potensi Anda, untuk antusiasme namun lebih besar.

Sesorang pernah mengatakan, bahwa ia telah mengatakan dirinya sendiri bahwa keberhasilannya selalu hanya sekitar sudut. Tebak apa? Itu persis di mana keberhasilannya tetap, selalu inci jauhnya, dan selalu hanya sekitar sudut ... sampai ia berubah bahasa ke, mungkin sesuatu seperti, saya memilih untuk mengalami kesuksesan saya sekarang.

Bahasa apa yang Anda gunakan, untuk mengekspresikan keinginan Anda? Bahwa pepatah lama, berhati-hatilah apa yang Anda minta karena Anda mungkin hanya mendapatkannya, adalah sangat sangat benar.

Hal ini juga penting untuk dicatat bahwa tidak mungkin bahkan menjadi rumah baru yang Anda benar-benar berusaha untuk mewujudkan. Ini adalah MERASA bahwa rumah baru akan membawa ke dalam hidup Anda, bahwa Anda setelah.

Jika Anda pikir Anda harus mendapatkan INI dalam rangka untuk memiliki BAHWA, maka apa yang Anda inginkan adalah BAHWA, dan tidak INI.

Berhubungan dengan apa yang ada di latar belakang mereka HAL, yang Anda bertanya. Apa perasaan dan emosi akan menjadi lebih jelas dan diperkuat, sementara Anda menghasilkan hasil akhir yang diinginkan? Apa yang Anda benar-benar ingin pengalaman selama hidup anda?

Seperti dalam kata-kata Pericles, "Apa yang Anda tinggalkan tidak apa yang terukir di monumen batu, tetapi apa yang terjalin ke dalam kehidupan orang lain". Memutuskan untuk membangun warisan, kemudian membawa fokus dan perhatian di sana. Pilih untuk hidup besar!
20.26 | 0 komentar | Read More

Anda takkan mengerti jika tidak mempraktekkannya

Simpel saja, "harus praktek" sebelum Anda mau merasa mengerti. Kapan praktek menjadi nomor ke sekian maka teori yang Anda pelajari selama ini akan mejadi sia-sia. Kita diberi waktu untuk belajar, sedangkan belajar yang lebih sempurna adalah belajar dari pengalaman, dan pengalaman adalah konklusi dari praktek dan rasa mengerti.

Anda ingin kaya? maka dibutuhkan praktek. Anda takkan bisa duduk-duduk saja lantas uang itu berjalam menuju Anda. Dalam Al-Quran mengatakan:


Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidakmerubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Luar biasa bukan perintah perubahan itu. Dan perubahan itu akan ada jika kita mempraktekkan ilmu yang kita peroleh. Maka mulai sekarang, ayo kita beraksi.
20.25 | 0 komentar | Read More

Orientasi Hidup

Pagi ini kumerasa bahwa, hidup itu butuh perjuangan, menentang jalur hidup yang telah menjadi karakter kita yang muncul secara tidak sengaja akibat kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan akibat dari ketidaktahuan kita terhadap orientasi hidup.Bukan untuk disesali namun untuk diubah. Kesempatan itu masih ada. Berubah mengenal orientasi kita hidup. Waktu setiap orang dalam setiap harinya itu sama yaitu 24 jam. Untuk itu, amatlah merugi jika kita hanya mampu menikmati dan menjalaninya tidak cukup dari separuh waktu tersebut.

Pemanfaatan waktu tersebut haruslah sebisa mungkin merujuk pada orientasi hidup yang telah kita buat. Namun sekali lagi, rencana tak akan berjalan baik jika kita belum menetapkan orientasi hidup kita. Karena, di luar dari diri kita, ada banyak yang bisa kita sibukkan, namun dengan orientasi diri terhadap waktu, maka kita mampu memfilter kesibukan mana saja yang tepat buat kita.

Hal ini menyangkut tentang manfaat apa yang bisa kita peroleh. Ingat, kemalasan merupakan efek dari ketiadaan orientasi hidup

20.20 | 0 komentar | Read More

Episode Cinta di Akhir Hayat Nabi Muhammad

Cinta untuk Nabi Muhammad - Kisah Sahabat Rasulullah

Berikut ini adalah sepenggal kisah dari episode kehidupan Nabi Muhammad saw yang dinukil dari kitab “Duratun Nashihin”. Kisah ini menggambarkan keadilan Rasulullah dan kecintaan para sahabatnya. Sebuah cinta yang berlandaskan iman dan berbalas surga.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. Bahwa setelah dekat wafat Nabi Muhammad SAW, Beliau memerintahkan Bilal untuk menyerukan shalat kepada manusia. Bilal lalu menyerukan Adzan dan berkumpullah para Sahabat Muhajirin dan Anshar ke Masjid Rasulullah SAW. Beliau mengerjakan shalat dua rakaat ringan bersama para sahabat. Kemudian naik mimbar, memuji dan menyebut keagungan Allah SWT.

Beliau berkhutbah dengan sebuah khutbah yang dalam, hati menjadi takut karenanya, dan air mata bercucuran karenanya.

Kemudian Beliau bersabda: “Wahai sekalian muslimin, sesungguhnya aku adalah seorang Nabi kepada kamu, pemberi nasihat dan berda’wah kepada Allah SWT dengan seijinNya. Dan aku berlaku kepadamu sebagai seorang saudara yang menyayangi dan sekaligus sebagai ayah yang belas kasih. Barang siapa diantara kamu yang mempunyai suatu penganiayaan pada diriku, maka hendaklah dia berdiri dan membalas kepadaku sebelum datang balas membalas di hari kiamat.”

Tidak ada seorangpun yang berdiri menghadapnya, sehingga Beliau bersabda demikian kedua kali dan ketiga kalinya. Barulah berdiri seorang laki-laki bernama Akasyah bin Muhshin.

Berdirilah dia di depan Nabi Muhammad SAW dan berkata: “Demi Ayah dan Ibuku sebagai tebusanmu Ya Rasulullah, seandainya engkau tidak mengumumkan kepada kami berkali-kali, tentu aku tidak akan mengajukan sesuatu mengenai itu. Sungguh aku pernah bersamamu di Perang Badar. Saat itu untaku mendahului untamu. Maka turunlan aku dari unta dan mendekatimu agar aku dapat mencium pahamu. Tetapi engkau lalu mengangkat tongkat yang biasa engkau pergunakan untuk memukul unta agar cepat jalannya dan engkau pukul lambungku. Aku tidak tahu apakah itu atas kesengajaan dirimu atau engkau maksudkan untuk memukul untamu ya Rasulullah?”.

Rasulullah bersabda: “Mohon perlindungan kepada Allah hai Akasyah, kalau Rasulullah sengaja memukulmu.”

Bersabda lagi Beliau kepada Bilal: “Hai Bilal, berangkatlah ke rumah Fathimah dan ambilkan tongkatku.”

Maka keluarlah Bilal dari Masjid sedang tangannya diatas kepalanya: “Ini adalah Rasulullah, sekarang Beliau memberikan dirinya untuk diqishash.”

Dia mengetuk pintu Fathimah, dan bertanyalah Fathimah: “Siapa yang ada di depan pintu?”

Bilal menjawab: “Aku datang untuk mengambil tongkat Rasulullah”

Fathimah bertanya: “Hai Bilal, apa yang akan diperbuat Ayah dengan tongkat itu?”

Bilal menjawab: “Hai Fathimah, Ayahmu memberikan dirinya untuk di qhisash.”

Fathimah bertanya lagi: “Hai Bilal, siapakah yang sampai hatinya mau membalas pada Rasulullah?”

Lalu Bilal mengambil tongkat itu dan masuklah dia ke Masjid serta memberikan tongkat itu kepada Rasulullah, sedang Rasul kemudian menyerahkannya kepada Akasyah.

Ketika Abu Bakar dan Umar ra. memandangnya, maka berdirilah mereka berdua dan berkata: “Hai Akasyah, aku masih berada didepanmu, maka balaslah kami dan janganlah engkau membalas kepada Nabi Muhammad SAW.”

Bersabdalah Rasulullah SAW: “Duduklah engkau berdua, Allah telah mengetahui kedudukanmu.”

Berdiri pula Ali ra. dan berkatalah dia: “Hai Akasyah, aku masih hidup di depan Nabi Muhammad SAW. Tidak akan aku sampai hati kalau engkau membalas Rasulullah SAW. Ini punggungku dan perutku, balaslah aku dengan tanganmu dan deralah aku dengan tanganmu.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Hai Ali, Allah telah mengetahui kedudukan dan niatmu.”

Berdiri pula Hasan dan Husain, dan mereka berkata: “Hai Akasyah, bukankan engkau mengenal kami berdua. Kami adalah dua orang cucu Rasulullah. Membalas kepada kami adalah sama seperti membalas kepada Rasulullah.”

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Duduklah engkau berdua wahai penyejuk mataku.”

Kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda: “Hai Akasyah, pukullah kalau engkau mau memukul.”

Akasyah berkata: “Ya Rasulullah, engkau memukulku dahulu dalam keadaan aku tidak terhalang pakaianku.”

Lalu Rasulullah menyingkapkan pakaiaannya, dan berteriaklah orang-orang Islam yang hadir seraya menangis.

Ketika melihat putihnya jasad Rasulullah, Akasyah menubruknya dan mencium punggungnya.
Berkatalah dia: “Nyawaku sebagai tebusanmu ya Rasulullah, siapakah yang akan sampai hati untuk membalasmu ya Rasulullah. Aku melakukannya hanya mengharapkan agar tubuhku dapat menyentuh jasadmu yang mulia, dan Allah akan memelihara aku berkat kehormatanmu dari neraka.”

Bersabdalah Nabi Muhammad SAW: “Ingat, barang siapa yang ingin melihat penghuni surga maka hendaklah dia melihat orang ini.

Semua orang Islam yang hadir berdiri, dan mencium antara kedua mata Akasyah seraya berkata: “Beruntung sekali engkau, engkau berhasil mendapatkan derajat yang tinggi dan berkawan dengan Nabi Muhammad SAW di surga.

20.15 | 0 komentar | Read More

MENELADANI KEPEMIMPINAN NABI SAW.

Buletin Al-Islam Edisi 446

Kembali umat Islam berada dalam bulan Rabiul Awwal. Bagi sebagian Muslim, bulan Rabiul Awwal adalah bulan istimewa. Alasannya, karena pada bulan inilah Baginda Rasulullah Muhammad saw. lahir, tepatnya tanggal 12 Rabiul Awwal, lebih dari empat belas abad yang lalu. Karena itulah, sebagian Muslim memandang penting untuk memperingati hari kelahiran (maulid) beliau, tentu bukan semata-mata karena kelahiran beliau sebagai seorang manusia. Sebab, meski Muhammad saw. memiliki keistimewaan nasab dan akhlak terpuji, dari sisi kemanusiaan, beliau sama dengan manusia lainnya. Allah SWT sendiri menyatakan demikian:

]قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ[

Katakanlah, “Sungguh, aku ini manusia biasa seperti kalian...” (QS Fushshilat [41]: 6).

Dalam posisinya sebagai manusia, kelahiran Muhammad saw. pun sama dengan lahirnya kebanyakan manusia lainnya saat itu. Jadi, kalaupun hingga hari ini umat Islam memperingati hari kelahiran beliau setiap tahun, tentu karena posisinya yang sangat istimewa sebagai rasul (pembawa risalah/syariah) Allah SWT. Itulah yang ditegaskan oleh Allah SWT:

]قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ[

Katakanlah, “Sungguh, aku ini manusia biasa seperti kalian. (Hanya saja) aku telah diberi wahyu…” (QS Fushshilat [41]: 6).

Itulah alasan utama sebagian kaum Muslim memperingati Maulid Nabi Muhammad saw. Sikap ini muncul dari rasa cinta (mahabbah) yang mendalam terhadap beliau dalam posisinya sebagai pengemban wahyu/risalah, yang tidak lain merupakan syariah-Nya untuk diberlakuan atas umat beliau.

Mengagungkan atau Mengerdilkan?

Allah SWT berfirman:

]وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ[

Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas khuluq yang agung (QS al-Qalam [68]: 4).

Imam Jalalain dalam kitab tafsirnya menafsirkan kata khuluq dalam ayat di atas dengan dîn (agama). Imam Ibn Katsir—seraya mengutip Ibn Abbas, Mujahid, Abu Malik, As-Sadi dan Rabi bin Anas, Adh-Dhahak dan Ibn Zaid—juga menyatakan bahwa ayat di atas bermakna, “Wa innaka la’alâ dîn[in] ‘azhîm (Sesungguhnya engkau [Muhammad] benar-benar berada di atas agama yang agung),” yakni Islam (Ibn Katsir, Tafsîr Ibn Katsîr, IV/403).

Terkait ayat ini, Ibn Kasir juga menukil sebuah hadis yang dituturkan oleh Muammar dari Qatadah, bahwa Aisyah Ummul Mukminin ra. pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah saw. Beliau menjawab, “Kâna khuluquhû al-Qur’ân (Akhlaknya adalah al-Quran).” (HR Muslim).

Dari penjelasan Ibn Katsir di atas bisa disimpulkan, bahwa keagungan Baginda Nabi Muhammad saw. terletak pada ‘akhlak’-nya, sementara ‘akhlak’ beliau adalah al-Quran itu sendiri. Dengan kata lain, keagungan akhlak Baginda Nabi saw. adalah cerminan dari keagungan al-Quran, karena memang seluruh budi-pekerti/ perilaku Rasulullah saw. mencerminkan seluruh isi al-Quran. Dengan demikian, maksud dari takrîm[an] wa ta’zhîm[an] (memuliakan dan mengagungkan) Rasulullah saw. sebagai motif sebagian kaum Muslim dalam memperingati Maulid Nabi saw. sejatinya tidak lain adalah memuliakan dan mengagungkan al-Quran.

Baginda Nabi saw. memiliki akhlak al-Quran karena beliau mengamalkan seluruh isi al-Quran dan menerapkan hukum-hukumnya, baik terkait dengan perkara akidah (keimanan), ibadah (shalat, shaum, zakat, haji, dll), muamalah (sosial, pendidikan, politik, pemerintahan, keamanan, dll) maupun ‘uqûbât (hukum dan peradilan).

Hanya menjadikan al-Quran sekadar sebagai kitab bacaan bukanlah sikap mengagungkan al-Quran. Hanya mengamalkan sebagian kecil isi al-Quran (misalnya hanya dalam perkara akidah, ibadah dan akhlak saja), bukan pula sikap mengagungkan al-Quran. Sikap demikian justru mengkerdilkan keagungan al-Quran, yang berarti mengkerdilan keagungan Nabi Muhammad saw. sebagai representasi al-Quran.

Anehnya, disadari atau tidak, sikap itulah yang selama ini ditunjukkan oleh sebagian besar umat Islam saat ini. Hal itu terjadi seiring dengan Peringatan Maulid Nabi saw. yang setiap tahun dilaksanakan oleh sebagian kaum Muslim. Berbagai ceramah dan tablig yang disampaikan dalam Peringatan Maulid Nabi saw. dari mulai di mushala-mushala kecil di pinggir kampung hingga di istana negara di ibukota hanya berisi pesan-pesan yang justru mengkerdilkan keagungan Baginda Nabi Muhammad saw. dan kebesaran al-Quran yang dibawanya, bukan mengagungkan keduanya. Bagaimana tidak! Yang sering diserukan oleh mereka hanyalah seruan untuk meneladani akhlak Rasulullah saw. secara pribadi, atau paling banter dalam kapasitasnya sebagai pemimpin rumah tangga. Di luar itu—misalnya dalam posisi Baginda Rasulullah saw. sebagai pemimpin negara/kepala pemerintahan yang menerapkan syariah Islam secara total dalam kehidupan masyarakat—jarang sekali diungkap; seolah-olah hal demikian tidak layak untuk diteladani oleh umat Islam.

Dalam setiap Peringatan Maulid Nabi saw. para penguasa Muslim pun hampir pasti selalu menyerukan tentang pentingnya meneladani akhlak Baginda Nabi Muhammad saw. sebagai pribadi. Namun, tak sekalipun mereka menyerukan pentingnya umat Islam, termasuk penguasanya, untuk menerapkan syariah Islam secara total dalam segala aspek kehidupan masyarakat (di bidang pendidikan, ekonomi, politik, pemerintahan, peradilan, keamanan dll). Padahal semua itu telah dipraktikkan dan dicontohkan secara jelas oleh Baginda Rasulullah saw. dalam hampir separuh episode kerasulannya di Madinah al-Munawwarah pasca hijrah. Yang terjadi, para penguasa tetap menjalankan hukum-hukum kufur yang bersumber dari ideologi Kapitalisme, dan sebaliknya tetap enggan menerapkan hukum-hukum Islam. Di sejumlah negeri Islam, para penguasanya bahkan berusaha keras memerangi siapa saja yang berjuang untuk menerapkan syariah Islam secara total dalam negara.

Sikap mereka ini persis seperti sikap Abu Lahab. Dalam riwayat penuturan Urwah bin az-Zubair dari Tsuwaibah, mantan budak Abu Lahab yang kemudian pernah menyusui Muhammad saw. saat bayi, disebutkan bahwa Abu Lahab memerdekakan Tsuwaibah karena gembira atas kelahiran Muhammad saw. (karena Muhammad saw. memang keponakannya, peny.) (Lihat: HR al-Bukhari dan Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bâri). Namun pada akhirnya, dia menjadi orang yang paling membenci, memusuhi dan selalu menghalang-halangi dakwah Nabi saw. yang berupaya menyebarluaskan risalah Allah sekaligus menegakkan syariah-Nya.

Jika demikian, dimana letak sikap mengagungkan Baginda Nabi saw., sementara yang terjadi adalah pengkerdilan atas keagungan beliau? Dimana pula letak upaya mengagungkan al-Quran, sementara yang sedang dipraktikkan pada dasarnya adalah pengkerdilan atas keagungan al-Quran?

Meneladani Kepemimpinan Nabi saw.

Sebentar lagi, bangsa Indonesia bakal mengikuti Pemilu 2009, yang tidak lain ditujukan untuk memilih para calon pemimpin yang baru, baik yang duduk di pemerintahan (eksekutif) maupun di DPR (legislatif) .

Dalam pandangan syariah, memilih pemimpin bagi kaum Muslim termasuk ke dalam kewajiban kolektif (fardhu kifayah). Dalilnya antara lain adalah firman Allah SWT:

]أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ[

Taatilah oleh kalian Allah dan Rasul-Nya serta pemimpin di antara kalian (QS an-Nisa’ [4]: 59).

Ayat ini secara tegas memerintahkan kaum Muslim untuk menaati Allah SWT, Rasul-Nya dan pemimpin mereka. Perintah ini sekaligus berarti perintah untuk ‘mengadakan’ sosok orangnya.

Sejumlah hadis juga mengisyarakatkan bahwa kaum Muslim wajib membaiat (memilih dan mengangkat) seorang khalifah, yakni pemimpin bagi kaum Muslim secara umum. Rasul saw., misalnya bersabda:

«وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً»

Siapa saja yang mati, sementara di pundaknya tidak ada baiat (kepada imam/khalifah) , maka dia mati dalam keadaan Jahiliah (HR Muslim).

Hadis ini pun meniscayakan keharusan adanya sosok orang yang harus dibaiat sebagai pemimpin/khalifah.

Ijmak Sahabat semakin menegaskan kewajiban memilih dan mengangkat pemimpin ini. Hal ini dibuktikan oleh sikap para Sahabat yang menunda penguburan jenazah Rasulullah saw. saat wafatnya selama dua malam tiga hari, kemudian mereka lebih mendahulukan upaya memilih dan membaiat khalifah (pengganti) beliau dalam urusan pemerintahan, bukan dalam urusan kerasulan.

Namun demikian, berbicara tentang kepemimpinan seharusnya tidak hanya terbatas pada sosok orangnya, tetapi juga sistem pemerintahan. Semua nash al-Quran dan al-Hadis yang berbicara tentang kepemimpinan senantiasa menyinggung kedua aspek ini, baik secara tersurat maupun tersirat. Baginda Rasulullah saw., misalnya, selain sebagai pengemban risalah, adalah juga seorang kepala Negara Islam (Daulah Islamiyah). Sistem pemerintahan yang beliau jalankan tidak lain adalah sistem pemerintahan Islam yang berdasarkan syariah Islam.

Ijmak Sahabat tentang wajibnya mengangkat sekaligus membaiat khalifah pun tidak terlepas dari kedua aspek ini: sosok pemimpin dan sistem pemerintahan yang dijalankannya. Khulafaur Rasyidin dan para khalifah setelah mereka adalah sosok para pemimpin Kekhilafahan Islam. Khilafah Islam tidak lain adalah sistem pemerintahan yang didasarkan pada syariah Islam, yang dicirikan dengan penerapan syariah Islam itu secara total dalam segala aspek kehidupan masyarakat dan bernegara.

Jika memang demikian model kepemimpinan Baginda Nabi Muhammad saw., maka sudah seharusnya umat Islam saat ini pun mencontohnya, sebagai upaya untuk ‘menyempurnakan’ upaya takrim[an] wa ta’zhim[an] terhadap beliau. Upaya ini sekaligus akan menjadi bukti cinta kita yang sebenar-benarnya kepada Allah SWT, sekaligus bukti bahwa kita benar-benar meneladani Baginda Nabi Muhammad saw.:

]قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ[

Katakanlah, “Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku.” (QS Ali Imran [3]: 31).

Lalu mengapa saat ini para penguasa Muslim enggan menerapkan syariah Islam dalam negara sebagai bukti bahwa mereka benar-benar meneladani Rasulullah saw.? Mengapa mereka tidak mau mengatur urusan ekonomi, politik, pemerintahan, sosial, budaya, pendidikan, peradilan dll dengan hukum-hukum Islam? Bukankah semua itu justru pernah dipraktikan oleh Rasulullah saw. selama bertahun-tahun di Madinah dalam kedudukannya sebagai kepala Negara Islam? Mengapa mereka malah tetap menerapkan hukum-hukum kufur produk dari ideologi Kapitalisme dan menentang syariah Islam? Ataukah mereka hendak ‘meneladani’ sikap Abu Lahab yang bergembira menyambut kelahiran Muhammad saw., tetapi pada akhirnya menjadi musuh yang paling sengit terhadap beliau saat beliau menjadi rasul yang berjuang mendakwahkan risalah Allah dan menegakkan syariah-Nya? ! Wal ‘Iyâdzu billâh! []

KOMENTAR AL-ISLAM:

Demokrasi Tumbuh Tidak Ideal (Kompas, 10/3/2009)

Tentu, karena demokrasi cacat sejak lahir.

20.11 | 0 komentar | Read More

Akhlak Rasul : " Aku hanya seorang hamba "

Yan Harlan
Jum'at, 09 Oktober 2009
Kategori :

Akhlak Rasul:“Aku hanya seorang hamba”.
( Imam Puji Hartono )

Segala puji bagi Allah seru sekalian alam. Yang telah memberi kita nikmat Iman dan Islam,Serta nikmat sehat Salawat dan Salam kita sampaikan kepada Nabi Muhammad Saw, kepada Keluarganya serta para sahabatnya.

Kalau ada pakaian yang sobek, Rasulullah menambalnya sendiri tanpa perlu menyuruh isterinya. Beliau juga memerah susu kambing untuk keperluan keluarga maupun untuk dijual. Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang telah siap di masak untuk dimakan, sambil tersenyum baginda menyinsingkan lengan bajunya untuk membantu isterinya di dapur.

Rasulullah juga sangat romatis kepada istri-istrinya. Beliau selalu menggandengan tangan istrinya jika keluar rumah . Rasulullah SAW pernah bersabda, "Apabila pasangan suami istri berpegangan tangan, dosa-dosa akan keluar melalui celah-celah jari mereka".

Rasulullah SAW selalu berpegangan tangan dengan Aisyah ketika di dalam rumah. Beliau acapkali memotong kuku istrinya, mandi janabat bersama, atau mengajak salah satu istrinya bepergian, setelah sebelumnya mengundinya untuk menambah kasih dan sayang di antara mereka.

Baginda Nabi SAW juga selalu memanggil istri-istrinya dengan panggilan yang menyenangkan dan membuat hati berbunga-bunga. "Wahai si pipi kemerah-merahan" adalah contoh panggilan yang selalu beliau ucapkan tatkala memanggil Aisyah.

Itulah sedikit contoh romantisme Rasulullah SAW yang dapat kita teladani dan praktekkan dalam kehidupan berumahtangga. Tentu, masih banyak contoh romantisme lainnya.

Dalam salah satu riwayat dikisahkan, Aisyah, istri beliau menceritakan “Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumahtangga. Jika mendengar azan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pula kembali sesudah selesai sembahyang.”

Pernah baginda pulang pada waktu pagi. Tentulah baginda amat lapar waktu itu. Tetapi dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan. Yang mentah pun tidak ada karena Sayidatina ‘Aisyah belum ke pasar.
Maka Nabi bertanya, “Belum ada sarapan ya Khumaira?” (Khumaira adalah panggilan mesra untuk Sayidatina ‘Aisyah yang artinya ‘Wahai yang kemerah-merahan’)

‘Aisyah menjawab dengan agak serba salah, “Belum ada apa-apa wahai Rasulullah.”

Rasulullah lantas berkata, “Jika begitu aku puasa saja hari ini.” tanpa sedikit tergambar rasa kesal di wajahnya.

Sebaliknya baginda sangat marah tatkala melihat seorang suami memukul isterinya. Rasulullah menegur, “Mengapa engkau memukul isterimu?”.

Kemudian dijawab dengan agak gemetar, “Isteriku sangat keras kepala. Sudah diberi nasihat dia tetap bandel, jadi aku pukul dia.”

“Aku tidak bertanya alasanmu,” sahut Nabi s.a.w. “Aku menanyakan mengapa engkau memukul teman tidurmu dan ibu dari anak-anakmu?”

Pernah baginda bersabda, “Sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik dan lemah lembut terhadap isterinya.”

Prihatin, sabar dan tawadhuknya baginda dalam menjadi kepala keluarga langsung tidak sedikitpun menjatuhkan martabat kedudukannya sebagai pemimpin umat.

Pada suatu ketika baginda menjadi imam solat. Dilihat oleh para sahabat, gerakan baginda antara satu rukun ke satu rukun yang lain amat sukar sekali. Dan mereka mendengar bunyi menggerutup seolah-olah sendi-sendi pada tubuh baginda yang mulia itu bergeser antara satu sama lain.

Sayidina Umar yang tidak tahan melihat keadaan baginda itu langsung bertanya setelah selesai bersembahyang, “Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah tuan menanggung penderitaan yang amat berat, tuan sakitkah ya Rasulullah?”
“Tidak, ya Umar. Alhamdulillah, aku sehat dan segar.”
“Ya Rasulullah... mengapa setiap kali tuan menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuh tuan? Kami yakin engkau sedang sakit...” desak Umar penuh cemas.

Akhirnya Rasulullah mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terkejut. Perut baginda yang kempis, kelihatan dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil, buat menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali bergeraknya tubuh baginda.

“Ya Rasulullah! Adakah bila tuan menyatakan lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan menolong/ mendapatkannya buat tuan?”

Lalu baginda menjawab dengan lembut, “Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu.Tetapi apakah yg akanku jawab di hadapan ALLAH nanti, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban pada umatnya?”

“Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah ALLAH buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di Akhirat kelak.”

Baginda pernah tanpa rasa canggung sedikitpun makan di sebelah seorang tua yang penuh kudis, miskin dan kotor. Hanya diam dan bersabar bila kain rida’nya direntap dengan kasar oleh seorang Arab Badwi hingga berbekas merah di lehernya. Dan dengan penuh rasa kehambaan baginda membasuh tempat yang dikencingi si Badwi di dalam masjid sebelum menegur dengan lembut perbuatan itu.

Mengenang pribadi yang amat halus ini, timbul persoalan dalam diri kita... adakah lagi bayangan pribadi baginda Rasulullah s.a.w. hari ini? Apa yang kedengaran sehari-hari sbgmana yang diberitakan oleh media massa, hanyalah cerita-cerita derita akibat sikap mereka-mereka yang tidak berperanan di tempatnya. Amat sukar hendak mencari seorang manusia yang sanggup mengorbankan kepentingan diri untuk orang lain semata-mata karena takut ALLAH, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah.

Apakah rahasia yg menjadikan jiwa dan akhlak baginda begitu indah? Apakah yang menjadi rahasia kehalusan akhlaknya hingga sangat memikat dan menjadikan mereka yang dekat dengannya begitu tinggi kecintaan padanya. Apakah kunci kehebatan pribadi baginda yang bukan saja sangat bahagia kehidupannya walaupun di dalam kesusahan dan penderitaan, bahkan mampu pula membahagiakan orang lain tatkala di dalam derita.

Nur Muhammad itu, yang ALLAH ciptakan semua makhluk yang lain karenanya, mempunyai kekuatan mendalam paling unggul. Kecintaannya yang tinggi terhadap ALLAH swt dan rasa kehambaan yang sudah sebati dalam diri Rasulullah saw menolak sama sekali rasa ego/ketuanan.

Seolah-olah anugerah kemuliaan dari ALLAH langsung tidak dijadikan sebab untuknya merasa lebih dari yang lain, ketika di depan kalayak maupun saat sendirian. Ketika pintu Syurga telah terbuka seluas-luasnya untuk baginda, baginda masih lagi berdiri di waktu-waktu sepi malam hari, terus-menerus beribadah hingga pernah baginda terjatuh lantaran kakinya sudah bengkak-bengkak.

Fisiknya sudah tidak mampu menanggung kemauan jiwanya yang tinggi. Jika ditanya oleh Sayidatina ‘Aisyah, “Ya Rasulullah, bukankah engaku telah dijamin Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini?”

Jawab baginda dengan lunak, “Ya ‘Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur.”

Allahumma shali ala Muhammad, wa ala ali Muhammad
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Semoga bermanfaat
Wassalam
Imam Puji Hartono
20.04 | 0 komentar | Read More

Sejenak Mengenang Pribadi Seorang Rasulullah SAW. (Sirah Series)

Pada masa Rasulullah memimpin masyarakat Madinah, selaku orang besar ia justru terlihat prihatin, walaupun warga Madinah hidup berkecukupan. Kalau ada pakaian yang robek, Rasulullah menambalnya sendiri tanpa perlu menyuruh isterinya. Beliau juga memeras susu kambing untuk keperluan keluarga maupun untuk dijual. Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang sudah siap di masak untuk dimakan, sambil tersenyum baginda menyinsing lengan bajunya untuk membantu isterinya di dapur.

Sayidatina 'Aisyah menceritakan "Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumahtangga. Jika mendengar azan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pula kembali sesudah selesai shalat." Pernah baginda pulang pada waktu pagi. Tentulah baginda amat lapar waktu itu. Tetapi dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan. Yang mentah pun tidak ada karena Sayidatina 'Aisyah belum ke pasar.

Maka Nabi bertanya, "Belum ada sarapan ya Khumaira?" (Khumaira adalah panggilan mesra untuk Sayidatina 'Aisyah yang berarti 'Wahai yang kemerah-merahan') 'Aisyah menjawab dengan agak serba salah, "Belum ada apa-apa wahai Rasulullah." Rasulullah lantas berkata, "Jika begitu aku puasa saja hari ini." Tanpa sedikit tergambar rasa kesal diwajahnya.

Sebaliknya baginda sangat marah tatkala melihat seorang suami memukul isterinya. Rasulullah menegur, "Mengapa engkau memukul isterimu?" Lantas dijawab dengan agak gementar, "Isteriku sangat keras kepala. Sudah diberi nasehat dia tetap bandel, jadi aku pukul dia." "Aku tidak bertanya alasanmu," sahut Nabi s.a.w. "Aku menanyakan mengapa engkau memukul teman tidurmu dan ibu bagi anak-anakmu ?"

Pernah baginda bersabda, "sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik dan lemah lembut terhadap isterinya."

Prihatin, sabar dan tawadhuknya baginda dalam menjadi kepala keluarga tidak menampakkan kedudukannya sebagai pemimpin umat.

Pada suatu hari, ketika Rasulullah mengimami Shalat Isya berjamaah, para sahabat yang jadi makmum dibuat cemas oleh keadaan nabi yang agaknya sedang sakit payah. Buktinya, setiap kali ia menggerakkan tubuh untuk rukuk, sujud dan sebagainya, selalu terdengar suara keletak-keletik, seakan-akan tulang-tulang Nabi longgar semuanya. Maka, sesudah salam, Umar bin Khatab bertanya,"Ya, Rasullullah, apakah engkau sakit?". "Tidak, Umar, aku sehat," jawab Nabi.
"Tapi mengapa tiap kali engkau menggerakkan badan dalam shalat, kami mendengar bunti tulang-tulangmu yang berkeretakan?". Mula-mula, Nabi tidak ingin membongkar rahasian. Namun, karena para sahabat tampaknya sangat was-was memperhatikan keadaannya, Nabi terpaksa membuka pakaiannya. Tampak oleh para sahabat, Nabi mengikat perutnya yang kempis dengan selembar kain yang didalamnya diiisi batu-batu kerikil untuk mengganjal perut untuk menahan rasa lapar. Batu-batu kerikil itulah yang berbunyi keletak-keletik sepanjang Nabi memimpin shalat berjamaah.

Serta merta Umar pun memekik pedih, "Ya, Rasulullah, apakah sudah sehina itu anggapanmu kepada kami? Apakah engkau mengira seandainya engkau mengatakan lapar, kami tidak bersedia memberimu makan yang paling lezat ? Bukankah kami semuanya hidup dalam kemakmuran ?".

Nabi tersenyum ramah seraya menyahut, "Tidak, Umar tidak. Aku tahu, kalian, para sahabatku, adalah orang-orang yang setia kepadaku. Apalagi sekedar makanan, harta ataupun nyawa akan kalian serahkan untukku sebagai rasa cintamu terhadapku, tetapi dimana akan kuletakkan mukaku dihadapan pengadilan Allah kelak di Hari Pembalasan, apabila aku selaku pemimpin justru membikin berat dan menjadi beban orang-orang yang aku pimpin?".
Para sahabat pun sadar akan peringatan yang terkandung dalam ucapan Nabi tersebut, sesuai dengan tindakannya yang senantiasa lebih mementingkan kesejahteraan umat daripada dirinya sendiri.

Baginda pernah tanpa rasa canggung sedikitpun makan di sebelah seorang tua yang penuh kudis, miskin dan kotor. Baginda hanya diam dan bersabar ketika kain rida'nya ditarik dengan kasar oleh seorang Arab Baduwi hingga berbekas merah di lehernya. Dan dengan penuh rasa kehambaan baginda membasuh tempat yang dikencing si Baduwi di dalam masjid sebelum menegur dengan lembut perbuatan itu.

Mengenang pribadi yang amat halus ini, timbul persoalan dalam diri kita... adakah lagi bayangan pribadi baginda Rasulullah s.a.w. hari ini?

Apakah rahasia yang menjadikan jiwa dan akhlak baginda begitu indah? Apakah yang menjadi rahasia kehalusan akhlaknya hingga sangat memikat dan menjadikan mereka begitu tinggi kecintaan padanya.
Apakah kunci kehebatan peribadi baginda yang bukan saja sangat bahagia kehidupannya walaupun di dalam kesusahan dan penderitaan, bahkan mampu pula membahagiakan orang lain tatkala di dalam derita. Kecintaannya yang tinggi terhadap ALLAH S.W.T dan rasa kehambaan yang sudah menyatu dalam diri Rasulullah saw menolak sama sekali rasa ketuanan.

Seolah-olah anugerah kemuliaan dari ALLAH tidak dijadikan sebab untuk merasa lebih dari yang lain, ketika di depan umum maupun dalam kesendirian.

Seorang tabib yang dikirim oleh penguasa Mesir, Muqauqis, sebagai tanda persahabatan, selama dua tahun di Madinah sama sekali menganggur. Menandakan betapa kesehatan penduduk Madinah betul-betul berada pada tingkatan yang tinggi. Sampai tabib itu bosan dan bertanya kepada Nabi, "Apakah masyarakat Madinah takut kepada tabib?" Nabi menjawab, "Tidak. Terhadap musuh saja tidak takut, apalagi kepada tabib". "Tapi mengapa selama dua tahun tinggal di Madinah, tidak ada seorang pun yang pernah berobat kepada saya?" "Karena penduduk Madinah tidak ada yang sakit," jawab Nabi. Tabib itu kurang percaya, "Masak tidak ada seorang pun yang mengidap penyakit?". "Silakan periksa ke segenap penjuru Madinah untuk membuktikan ucapanku,"ujar Nabi.

Maka tabib Mesir itu pun melakukan perjalanan kelililng Madinah guna mencari tahu apakah benar ucapan Nabi tersebut. Ternyata memang di seluruh Madinah ia tidak menjumpai orang yang sakit-sakitan. Akhirnya, ia berubah menjadi kagum dan bertanya kepada Nabi, "Bagaimana resepnya sampai orang-orang Madinah sehat-sehat semuanya ?"

Rasulullah menjawab, "Kami adalah suatu kaum yang tidak akan makan kalau belum lapar. Jika kami makan, tidaklah sampai terlalu kenyang. Itulah resep untuk hidup sehat, yakni makan yang halal dan baik, dan makanlah untuk takwa, tidak sekedar memuaskan hawa nafsu".

Ketika pintu Syurga telah terbuka seluas-luasnya untuk baginda, baginda masih lagi berdiri di waktu-waktu sepi malam hari, terus-menerus beribadah hingga pernah baginda terjatuh lantaran kakinya sudah bengkak-bengkak. Fisiklnya sudah tidak mampu menanggung kemauan jiwanya yang tinggi. ketika ditanya oleh Sayidatina 'Aisyah, "Ya Rasulullah, bukankah engkau telah dijamin masuk Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini ?" Jawab baginda dengan lunak, "Ya 'Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur."

Maka benarlah nasyid yang bersenandung.
"Tak terjangkau tinggi pekertimu
Tidak tergambar indahnya akhlakmu
Tidak terbalas segala jasamu
Sesungguhnya engkau rasul mulia
Tabahnya hatimu menempuh dugaan
Mengajar erti kesabaran
Menjulang panji kemenangan
Terukir namamu di dalam Al-Quran"
19.57 | 0 komentar | Read More

Kiat sukses dunia akhirat dari Nabi

Malu rasanya sering mengutip kiat sukses dari orang barat. Maka yang ini kiat dari Rasulullah. Dijamin lebih mustajab. Saya kutip dari situs Renungan Islam.

HADIS MUTHAHHARAH

Dari Sayyidina Khalid bin Al-Walid Radiallahu’anhu telah berkata : Telah datang seorang arab desa kepada Rasulullah S.A.W yang mana dia menyatakan tujuannya : Wahai Rasulullah! sesungguhnya kedatanganku ini adalah untuk bertanya kepada engkau mengenai apa yang akan menyempurnakan diriku di dunia dan akhirat. Maka baginda S.A.W telah berkata kepadanya Tanyalah apa yang engkau kehendaki :

Dia berkata : Aku mau menjadi orang yang alim
Baginda S.A.W menjawab : Takutlah kepada Allah maka engkau akan jadi orang yang alim

Dia berkata : Aku mau menjadi orang paling kaya
Baginda S.A.W menjawab : Jadilah orang yang yakin pada diri engkau maka engkau akan jadi orang paling kaya

Dia berkata : Aku mau menjadi orang yang adil
Baginda S.A.W menjawab : Kasihanilah manusia yang lain sebagaimana engkau kasih pada diri sendiri maka jadilah engkau seadil-adil manusia

Dia berkata : Aku mau menjadi orang yang paling baik
Baginda S.A.W menjawab: Jadilah orang yang berguna kepada masyarakat maka engkau akan jadi sebaik-baik manusia

Dia berkata : Aku mau menjadi orang yang istimewa di sisi Allah Baginda S.A.W menjawab : Banyakkan zikrullah niscaya engkau akan jadi orang istimewa di sisi Allah

Dia berkata : Aku mau disempurnakan imanku Baginda S.A.W menjawab : Perelokkan akhlakmu niscaya imanmu akan sempurna

Dia berkata : Aku mau termasuk dalam golongan orang yang muhsinin (baik)
Baginda S.A.W menjawab : Beribadatlah kepada Allah seolah-olah engkau melihatNya dan jika engkau tidak merasa begitu sekurangnya engkau yakin Dia tetap melihat engkau maka dengan cara ini engkau akan termasuk golongan muhsinin

Dia berkata : Aku mau termasuk dalam golongan mereka yang taat Baginda S.A.W menjawab : Tunaikan segala kewajipan yang difardhukan maka engkau akan termasuk dalam golongan mereka yang taat

Dia berkata : Aku mau berjumpa Allah dalan keadaan bersih daripada dosa Baginda S.A.W menjawab : Bersihkan dirimu daripada najis dosa niscaya engkau akan menemui Allah dalam keadaan suci daripada dosa

Dia berkata : Aku mau dihimpun pada hari qiamat di bawah cahaya Baginda S.A.W menjawab : Jangan menzalimi seseorang maka engkau akan dihitung pada hari qiamat di bawah cahaya

Dia berkata : Aku mau dikasihi oleh Allah pada hari qiamat Baginda S.A.W menjawab : Kasihanilah dirimu dan kasihanilah orang lain niscaya Allah akan mengasihanimu pada hari qiamat

Dia berkata : Aku mau dihapuskan segala dosaku Baginda S.A.W menjawab : Banyakkan beristighfar niscaya akan dihapuskan( kurangkan ) segala dosamu

Dia berkata : Aku mau menjadi semulia-mulia manusia Baginda S.A.W menjawab : Jangan mengesyaki sesuatu perkara pada orang lain niscaya engkau akan jadi semulia-mulia manusia

Dia berkata : Aku mau menjadi segagah-gagah manusia Baginda S.A.W menjawab : Sentiasa menyerah diri (tawakkal) kepada Allah niscaya engkau akan jadi segagah-gagah manusia

Dia berkata : Aku mau dimurahkan rezeki oleh Allah Baginda S.A.W menjawab : Sentiasa berada dalam keadaan bersih ( dari hadas ) niscaya Allah akan memurahkan rezeki kepadamu

Dia berkata : Aku mau termasuk dalam golongan mereka yang dikasihi oleh Allah dan rasulNya Baginda S.A.W menjawab : Cintailah segala apa yang disukai oleh Allah dan rasulNya maka engkau termasuk dalam golongan yang dicintai oleh Mereka

Dia berkata : Aku mau diselamatkan dari kemurkaan Allah pada hari qiamat Baginda S.A.W menjawab : Jangan marah kepada orang lain niscaya engkau akan terselamat daripada kemurkaan Allah dan rasulNya

Dia berkata : Aku mau diterima segala permohonanku Baginda S.A.W menjawab : Jauhilah makanan haram niscaya segala permohonanmu akan diterimaNya

Dia berkata : Aku mau agar Allah menutupkan segala keaibanku pada hari qiamat
Baginda S.A.W menjawab : Tutuplah keburukan orang lain niscaya Allah akan menutup keaibanmu pada hari qiamat

Dia berkata : Siapa yang terselamat daripada dosa?
Baginda S.A.W menjawab : Orang yang sentiasa mengalir air mata penyesalan,mereka yang tunduk pada kehendakNya dan mereka yang ditimpa kesakitan

Dia berkata : Apakah sebesar-besar kebaikan di sisi Allah? Baginda S.A.W menjawab : Elok budi pekerti, rendah diri dan sabar dengan ujian ( bala )

Dia berkata : Apakah sebesar-besar kejahatan di sisi Allah? Baginda S.A.W menjawab : Buruk akhlak dan sedikit ketaatan

Dia berkata : Apakah yang meredakan kemurkaan Allah di dunia dan akhirat ? Baginda S.A.W menjawab : Sedekah dalam keadaan sembunyi ( tidak diketahui ) dan menghubungkan kasih sayang

Dia berkata: Apakah yang akan memadamkan api neraka pada hari qiamat? Baginda S.A.W menjawab : sabar di dunia dengan bala dan musibah

komentar : tinggal pilih kiat mana yang sedang Anda perlukan saat ini. :)

19.56 | 0 komentar | Read More

3 Modal Dasar,Menjadi Manusia Bahagia Atau Celaka


Sesungguhnya manusia mempunyai 3 Modal Dasar yang bisa menjadikan ia BAHAGIA dan CELAKA
inilah yang sangat perlu diketahui, supaya kita mendapatkan yang bahagia;
MODAL TERSEBUT ADALAH :

1. Hati , Karena dengan hati inilah manusia akan dapat merasakan tentang kebenaran yang hakiki, dan jika manusia tidak dapat menggunakannya untuk memahami kebenaran Alloh, maka ujungnya adalah celaka
2. Pendengaran, dengan inilah manusia dapat menerima dan mengamalkan kebenaran,
3. Penglihatan, inilah yang sering dilupakan oleh manusia, terkadang penglihatan( mata ) yang telah diberikan Alloh tidak digunakan dengan baik.

3MODAL INI, adalah kunci kebahagian manusia, jika digunakan dengan benar sesuai petunjuk Alloh maka akan berujung KEBAHAGIAAN, Tapi jika sebaliknya maka akan berujung dengan CELAKA, SESAT DAN KEHINAAN.
19.52 | 0 komentar | Read More

8 Tips menjadi Manusia Paling Bahagia


Kokohkan iman, karena ia dapat mengusir gundah gulana
  1. Apa yang telah terjadi biarkan berlalu, jangan dipikir atau disedihkan. Karena ia tidak akan berubah. Tetapi ambil pelajaran untuk menatap masa depan
  2. Berprasangka baik kepada Allah SWT bahwa Ia mentakdirkan kita sukses, maka kita berupaya menjadi orang sukses
  3. Bersihkan hati dari dengki, dendam, dan kejengkelan, karena ia mengikis agama dan menyebabkan fisik sakit. Coba fikir, apa keuntungan memelihara perasaan-perasaan tersebut?
  4. Berusahalah memberi, karena dengan memberi hati menjadi lapang, mendapat doa baik dari banyak orang , dan dikasihi oleh Allah yang Maha Rahman
  5. Hindari menyakiti dan memberikan kerugian pada orang lain, agar semakin banyak kawan dan semakin sedikit lawan. Sebab orang yang paling buruk adalah yang ditinggalkan orang lain karena kejahatannya
  6. Ingatlah selalu bahwa hidup yang hakiki adalah akhirat. Dunia ini hanya sementara maka jangan korbankan kenikmatan akhirat demi kenikmatan sesaat
  7. Perbanyak dzikir dan doa, antara lain :

“Allohumma inni a’uudzubika minal hammi walhazani wal’ajzi walkasali waljubni walbukhli wadhola’iddaini wagholabatirrijaali “. (HR Bukhari,Muslim)

“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari kegelisahan dan kesedihan, kelemahan dan kemalasan, kepengecutan dan kebakhilan, serta jeratan hutang dan dominasi orang lain.”

“Allohumma aati nafsii taqwaahaa wazakkihaa anta khoiru man zakkaahaa anta waliyyuhaa wamaulaahaa.” (HR Muslim, Ahmad)

“Ya Allah berikan kepada jiwaku ketaqwaannya dan sucikan ia. Engkaulah sebaik-baik yang membersihkannya. Engkau pelindung dan pemiliknya.”

“Hasbiyallohu laa ilaha illa huwa ‘alaihi tawakkaltu wahuwa rabbul ‘arsyil ‘adziim.” (HR Imam Abu Daud)

“Cukuplah Allah bagiku, tidak ada tuhan selain Dia, Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arasy yang agung.”

19.49 | 0 komentar | Read More

APA TUJUAN dan TUGAS HIDUP MANUSIA DI BUMI INI MENURUT ALLAH?

“Mari kita saling ingat mengingatkan dlm kasih sayang dan bersabar”

Oleh Latifabdulah.(1)
.
Dengan Nama ALLAH swt yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Semoga ALLAH swt. membimbing saya untuk menjelaskan “Apa tujuan & TUGAS hidup manusia diciptakan oleh ALLAH” yang tertulis dalam Al Quran Nur Karim. Sebagai buku pedoman hidup manusia.
.
Setiap manusia haruslah mengetahui siapa dirinya, kenapa dia dilahirkan, dan apa tujuan dan tugas2 hidupnya, berapa lama dia bisa hidup di dunia ini, dan kemana dia pergi setelah meninggalkan dunia ini?
.
Kalau manusia tidak bisa menjawab dengan benar, maka hidupnya seperti manusia yang hidup di hutan2 yang menutup auratnya dengan daun daunan. Mereka tidak berilmu.

Mereka tidak tahu tujuan&TUGAS hidupnya. Mereka menjalankan hidup seperti binatang saja yaitu kawin, beranak, dan kalau sudah dewasa anak di kawinkan lagi demikian seturusnya dan terakhir meninggal dunia.
.
Orang orang yang tinggal di kota pun banyak yang tidak mengetahui tujuan & TUGAS hidupnya. Ada yang mengatakan untuk mencari hidup yang bahagia, berkeluarga serta membesarkan dan mendidik anak2.

Mencari hidup yang bahagia juga bermacam macam;
ada yang bertapa, berzikir berjam jam di kamar yang gelap,ada yang hidup sederhana, ada yang mencari uang untuk memenuhi keinginannya, dll.

Apakah tujuan & TUGAS hidup mencari bahagia menutut ALLAH? Jawabannya adalah tidak.

Pendapat ulama2/usztad2 pun berbeda beda.

Ada sebahagian ulama mengatakan untuk mencari ALLAH atau mendekati diri kepada ALLAH dengan berzikir (memuji2 ALLAH) dlm kamar, dan bertapa.
Ada yang mengatakan untuk beribadah kepada ALLAH dengan menjalankan shalat, puasa,naik haji dan berzakat. Kalau rukun islam ini sudah dikerjakan,sudah merasa berislam yang benar. Mana yang benar cara2 demikian?
.
Untuk mendapatkan jawaban yang benar mari kita lihat Al quran yang di buat oleh ALLAH. Yang mana ALLAH juga menciptakan manusia, sudah tentu ALLAH lah yang Maha Tahu akan ciptaannya bukan?
Dalam AL Quran ALLAH telah dijelaskan dengan detail dan sempurna.
,
Selama ini kita sering mendengar dari ulama2 yang menjelaskan bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk beribadah kepada ALLAH sebagaimana ayat QS 51:56 menjelaskan.
“ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”
.
Beribadah (worship) kepada ALLAH diartikan menyembah(shalat) kepada ALLAH, berpuasa, naik haji, berbuat kebaikan2 dll.Kalau sudah menjalankan rukun islam ini(ritual), maka mereka sudah merasa beragama dengan benar.

Sesungguhnya bukanlah demikian menurut ALLAH. Penjelasan seperti diatas itu belumlah sempurna, sehingga hasilnya pun juga tidak sempurna. Seperti kita lihat masarakat islam sekarang ini yang masih terbelakang.
.
Beribadah kepada ALLAH bukanlah menyembah ALLAH saja, bukan menjalankan rukun islam yang lima saja, dan berbuat kebajikan saja, tetapi maknanya jauh dari itu.

Kalau diartikan seperti diatas ini,maka kita lihat hasilnya adalah masarakat yang tidak produktif alias miskin.Sangat menyedihkan bukan?
.
Beribadah kepada ALLAH SWT artinya mengabdi atau bekerja untuk ALLAH dengan sungguh2.

ALLAH adalah Raja di Raja di bumi dan dilangit ini. Sebagai hamba2 atau pekerja2 (kariawan2) ALLAH,maka manusia seharusnya patuh dan taat mengikuti semua peraturan2 ALLAH bagaimana cara hidup dan bagaimana cara berkerja di dunia ini.
.
Semua peraturan2 ALLAH itu tertulis dalam kitab2 sucinya; Taurat,injil dan AL Quran. Al Quran adalah buku pedoman hidup manusia yang terakir, dan sempurna.
.
Kita sudahtahu apa tujuan hidup kita yaitu mengabdi atau bekerja untuk ALLAH.
Mari kita lihat pula dalam AL Quran,apakah tugas2 hidup manusia di bumi ini sebagi pekerja2 dari ALLAH?

Jadi ada dua macam; satu tujuan hidup, dan kedua adalah tugas hidup;

Inilah[b] tugas hidup manusia seperti ALLAH mengatakan sebagai berikuti;[/b]

“Dialah yang telah menciptakan kamu dari bumi (tanah), dan menjadikan kamu pemakmurnya. (QS.11:61). (menghuni dan mengolah hasil bumi untuk kemakmuran umat manusia, kalau mengingkari perintah ALLAH ini, hidup manusia seperti manusia di hutan2 sama dengan kehidupan bintang.). .

Perintah bekerja untuk memakmurkan bumi, sudah diperintahkan sebelumnya oleh ALLAH kepada Nabi Adam yang diberitahukan kepada Nabi Musa (Taurat) seperti berikut ini;

God said to Adam.
•God said; “You will have to work hard and sweat to make the soil produce anything, until you go back to the soil from which you were formed. You were made from the soil, and you will become soil again” (Genesis 3.18-19.).

Perintah ALLAH kepada Nabi Adam, Nabi Musa, dan Muhammad saw adalah sama yaitu manusia yang diciptakan oleh ALLAH ini harus bekerja keras,sungguh2 untuk memakmurkan bumi, artinya memakmurkan keluarga,masarakat dan umat.

Nanti setiap manusia akan diminta pertanggung jawaban. Siapa yang rajin bekerja untuk ALLAH dan siapa2 yang malas malas bekerja untuk ALLAH.

Anda dapat melihat manusia2 yang tidak mempunyai ilmu, tidak mempunyai (Diin) buku pedoman hidup dari ALLAH, seperti manusia2 yang tinggal di hutan2.

Baju mereka masih terbuat dari daun2 untuk menutupi auratnya, dan tempat tinggal juga terbuat dari daun2 untuk melindungi dari hujan dan panas.

Sampai hari ini kita masih dapat melihat manusia2 yang tidak mendapat ilmu di hutan2. Dari satu generasi ke negerasi berikutnya. Sudah ribuan tahun mereka tetap tidak mempunayi ilmu untuk membangun pradapan yang islam yang maju,modren

Seperti kehidupan Nabi Adam dan Hawa yang menutup auratnya dari daun2 bukan?
.
Sebagai kariawan2 yang baik atau hamba2 ALLAH yang baik maka kita wajib memakmurkan atau mengolah bahan2 baku yang diberikan oleh ALLAH itu baik yang ada di dalam bumi maupun di kulit bumi.

Siapa2 yang tidak mau mengikuti perintah ALLAH ini, mereka tetap hidup seperti orang2 yang tinggal di hutan2 itu dan kalau ada yang tinggal di kota2 mereka pada umumnya hidupnya tidak produktif,miskin, karena mereka tidak mempunyai ilmu dan tidak tahu apa TUGAS hidupnya seperti yang dimaksud oleh ALLAH.
.
Mereka hidup bermalas malas atau hidup ber-santai2. Tugas hidup mereka adalah untuk mencari makan secukupnya, dan kemudian kalau sudah dewasa berkeluarga, beristri dan beranak. Menjalankan rukun islam yang lima.That is it.
.
Perintah2 ALLAH berikutnya kepada manusia adalah untuk mengolah bahan2 baku yang ada dalam bumi yang telah ALLAH sediakan berlimpah limpah agar bisa menjaga agama ALLAH.Perintah ini penting sekali,kalau tidak dilakukan maka umat islam mudah dikalahkan atau ditunduki atau di jajah oleh musuh2 islam.
.
Mohon di perhatikan perintah ALLAH ini dengan baik;

”Dan Kami ciptakan besi (dan perak, emas, almunium tembaga, minyak, dll) yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia (untuk di-olah), dan supaya ALLAH swt mengetahui siapa yang menolong agama Nya (Islam) dan Rasul2 padahal ALLAH swt. tidak dilihatnya. (QS..57:25).
.
Setiap orang muslim yang patuh kepada Raja(ALLAH SWT) maka wajib bekerja keras mengolah bahan2 baku seperti; besi,perak, minyak, emas,tembaga, kayu2, pertanian, perikanan dll menjadi barang2 yang berguna untuk kehidupan manusia, mendirikan industri2 bermacam macam barang, dan membuat senjata2 untuk mempertahankan agama ALLAH dan Rasulullah saw dari serangan2 musuh.
Umat islamlah yang diperintah oleh ALLAH, bukan umat lain2nya.
.
Siapa2 yang tidak ikut memakmurkan bumi ALLAH artinya mereka mengingkari perintah ALLAH ini. Hidup mereka akan susah dan kalau terjadi peperangan mudah dikalahkan serta di jajah.
.
Bagaimana untuk mengolah , mendirikan industri2 membuat barang2 yang bermanfaat dan untuk membuat senjata kalau tidak mempunyai ilmu? Makanya ALLAH memerintahkan untuk menuntut dan belajar bermacam macam disiplin ilmu. Bukan belajar ilmu agama saja sebagaimana di artikan oleh sebahagian golongan umat islam.

Banyak ulama2/ustad2 mendirikan madrasah2, tanpa mengajarkan disiplin ilmu2 lainnya kepada murid2, sebagaimana yang terjadi di negara2 islam Saudi Arabia,Pakistan dll. Cara begini adalah salah kaprah,tidak sempurna.setengah2

Tangan2 dari murid2 yang tamatan madrasah2 menjadikan orang2 berilmu agama yang tidak produktif, tapi konsumtif.

Bagaimana mereka bisa mentaati perintah ALLAH diatas tadi. Bagaimana mereka bisa mempertahankan agama ALLAH, kalau tidak mempunyai ilmu2 lain2nya.
Sistem pendidikan seperti ini perlu diperbaiki oleh generasi muda2.
.
Inilah perintah ALLAH berikutnya;

“ALLAH akan meninggikan orang orang yang beriman di antara mu dan orang orang yang menuntut ilmu pengetahuan (belajar) beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(QS.58:11)

Artinya kalau ALLAH mewajibkan umat islam belajar atau menuntut ilmu, maka umat Islam seharusnya pula membuat sekolah bukan?

Tidak mungkin belajar di luar dengan atap langit dan dipadang pasir. Dan untuk belajar harus ada sekolah, buku-tulis, pena, pencil, pengapus, bangku bangku, kapur, alat2 penerangan,tidak mungkin munulis di tanah dengan jari sebagai alat tulis bukan?
.
Untuk membuat buku2 tulis harus pula menanam pohon2kapas untuk bahan baku kertas dan kain baju, kemudian membuat fabrik kertas dan kain, serta alat2 transportasi; speda, mobil, dan seterusnya, dari bahan2 baku diberikan diatas tadiQS 57:25 .

Dengan kata lain umat islam harus belajar bermacam disiplin ilmu untuk bisa membuat industri kain untuk menutupi tubuh dan kertas, bisa membuat pena,pensil,alat penerang alat tranportsai, membuat senjata dll.

Setiap individu muslim harus bekerja keras dan menuntut ilmu sebanyk2nya,agar kehidupan individu musli kuat dan sehat.
Kalau keluarga sehat dan kuat ekonominya,maka bangsa juga kan kuat ekonominya. Jadi semua itu harus dimulai dari setiap muslim. Dari diri sendiri.

Yang akhirnya membawa umat islam kearah kemajuan2 dan memberikan lapangan kerja yang banyak untuk pemuda dan pemudi agar mereka dapat meningkatkan; kemakmuran, kesehteraan, keamanan, keharmonisan, dan akhirnya umat islam dapat hidup bahagia, aman sentosa.Indah sekali ajaran islam bukan? Umat islam menjadi umat yang produktif, producer, umat industri,pertanian yang bertaqwa kepada ALLAH.Umat rahmatan lil’alamin.
.
Jadi islam adalah ajaran2 yang membawa kemajuan2 dalam segala aspek penghidupan terutama bidang ekonomi, technologi dan Science.
.
Ulama2, Da’i2, kotip2, islamic scholars adalah orang2 yang tahu akan ilmu agama dan dekat dengan umatnya. Ulama2 adalah orang2 yang memberitahu ajaran2 islam kepada umat dan serta memberikan contoh bagaimana mengaplikasikan setiap perintah2 ALLAH itu dengan baik dan sempurna.

Ulama2 adalah tiang /tonggak kemajuan umat islam. Kalau ulama2 salah memahami ajaran2 islam,maka umat akan salah pula, kalau ulama2 benar memahami ajaran2 islam,maka umat menjadi umat yang benar pula,artinya umat menjadi umat yang maju ekonomi, technologi,banyak lapangan kerja tersedia.

Sekiranya ulama2 dapat menyampaikan apa tujuan hidup manusia yang sebenarnya menurut ALLAH kepada umat, maka pemuda2 islam akan belajar rajin dan bekerja sungguh2 untuk ALLAH dengan sebaik baiknya.
.
Kalaulah setiap muslim sudah mengetahui, maka setiap muslim akan takut (taqwa) kepada ALLAH kalau mereka tidak bekerja rajin dan sungguh2 untuk memakmurkan bumi ALLAH ini ALLAH akan marah kepada mereka.”….Sedangkan ALLAH Maha Melihat apa yang dikerjakannya(setiap waktu)”.QS.57:25.
.
Kemudian perintah ALLAH berikutnya adalah menjadi seorang Khalifah.

Orang2 yang beriman, berilmu dan sudah tahu cara bekerja untuk ALLAH yaitu memakmurkan bumi ini,maka dia diminta untuk menjadi seorang khalifah dalam masarakat.

Dia mengajak dan membimbing masarakat untuk bekerja rajin memakmurkan bumi ALLAH artinya memakmurkan masarakat, memberikan lapangan kerja kepada pemuda2 dan pemudi2, mendirikan sekolah2 bermacam disiplin ilmu agar setiap muslim bisa pula menjadi seorang khalifah atau pemimpin dalam kelompok2nya. Seperti yang dicontohkan oleh Aa Gym.

Inilah perintah ALLAH itu.

“Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi”. (QS.35:39.)

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi ini”QS.2:30

Kesimpulan:

Tujuan hidup manusia di ciptakan oleh ALLAH sesuai dengan difenisi oleh ayat2 ALLAH tersebut dibawah ini;

1.QS.56″51.“ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah(bekerja) kepada-Ku”

Tugas hidup manusia di ciptakan oleh ALLAH sebagi berikut dibawah ini:

2.(QS.11:61). “Dialah yang telah menciptakan kamu dari bumi (tanah), dan menjadikan kamu pemakmurnya. (menghuni dan mengolah hasil bumi untuk kemakmuran umat manusia).

3.(QS..57:25).”Dan Kami ciptakan besi (dan perak, emas, almunium tembaga, minyak, dll) yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia (untuk di-olah), dan supaya ALLAH mengetahui siapa yang menolong agama Nya (Islam) dan Rasul2 padahal Allah tidak dilihatnya.

4.”.(QS.58:11)“ALLAH akan meninggikan orang orang yang beriman di antara mu dan orang orang yang menuntut ilmu pengetahuan (belajar) beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan
5.QS.2:30″Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi ini”

“Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi”. (QS.35:39.)
.
Demikianlah ALLAH memberitahukan, apa tujuan dan tugas hidup manusia di bumi ini menurut ALLAH yang menciptakan manusia.
.
Mudah2an kita sebagai pekerja2 atau hamba2 ALLAH yang baik,yang taat, maka marilah kita perbaharui niat dan tujuan hidup kita semoga kita semua mendapat kasih sayang , kepercaaan dan cinta ALLAH. Semoga hidup yang sekali ini akan sukses dan diberkahi oleh ALLAH.
.
Kalau kita cinta dan takut kepada ALLAH mari kita rajin2 belajar dan bekerja untuk mensejahterakan keluarga,masarakat dan umat islam pada umumnya agar umat2 lain dapat mencontoh cara hidup yang benar dari ALLAH.
.
Semoga penjelasan yang singkat ini dapat menggugah hati2 pemuda2 islam yang ingin melihat umat Islam berjaya kembali dalam segala aspek penghidupan.

Semoga masarakat islam menjadi masarakat Rahmatan lil’alamin buat kemanusian.Kalau benar itu datang dari ALLAH mohon di taati dengan baik,kalau salah itu datang dari saya karena kelamahan saya, mohon dikoreksi dan mohon maaf.
.
Jadi ajaran2 islam itu adalah indah sekali, ajaran2 yang membawa umat islam dan non islam kepada kemajuan2 dalam segala aspek penghidupan. Itulah ajaran ALLAH yang benar.

Sebaliknya ajaran2 yang mengatasnamakan islam tetapi tidak membawa umat menjadi sejahtera dan damai,maka pemahaman ajaran islam itu adalah salah kaprah.
.
Marilah saya ajak anda untuk berjuang menuju masarakat yang bermanfaat didunia berarti di akhirat. Berzikir, pikir dan ikhtiar

Keep your hands busy with works; keep your mouth busy with remembrance of Allah and leave inheritance as much as possible. Love your neighbor as you love yourself.

Hadist; Kamu belum beriman kepada Allah, kalau kamu belum mencintai tetangga kamu(baik islam maupun non islam)

wassalamu’alaikumm.wrwb.

Note; Silakan kirim artikel ini kepada kawan2 yang tersayang.

19.43 | 0 komentar | Read More

Tujuan Hidup Sudah Ditentukan Sebelum Kita Lahir!

Hidup itu bagaikan sebuah perjalan panjang yang disepanjang jalannya terdapat persimpangan yang harus kita pilih. Terkadang kita sulit menentukan pilihan, bahkan kita tak yakin akan jalan yang telah kita pilih. Itu karena kita tidak tahu apa yang berada di ujung jalan itu

Tujuan hidup adalah acuan yang ingin kita capai, dan oleh karena itulah tujuan hidup juga menjadi landasan dalam mengambil semua keputusan. Tujuan hidup akan memudahkan kita untuk memilih. Ini berarti kita akan lebih mudah untuk hidup. Jika mudah untuk memilih, maka akan mudah juga untuk hidup (karena hidup adalah pilihan). Siapa sih yang tidak ingin hidupnya lebih mudah? Dan atas semua alasan inilah menurut saya tujuan hidup itu penting!

Saya sudah berjalan selama 17 tahun tanpa tujuan yang jelas. Dan saya baru tersadar akan landasan untuk memilih (tujuan hidup) itu penting ketika sedang berkonsultasi dengan Kakek saya mengenai jurusan kuliah.

‘kek saya mau masuk FTI menurut kakek bgaimana?’

‘tujuan hidup kmu apa?!’

‘belum ada’

‘ya klo gitu ga usah kuliah kamu! maen aja dulu pas udah dapet baru masuk kuliah’

Dialog itu sangat menampar. Saya mendapat pesan tersirat disitu, apapun jurusan yang diambil ga akan jadi masalah karena saya sendiri belum tahu tujuan akhir yang ingin dicapai apa.

Setelah pencarian 2-3 bulan tentang pencarian tujuan hidup, saya mendapat petunjuk. Tujuan hidup tidak ditentukan oleh manusia melainkan ditentukan oleh Tuhan. Mengapa seperti itu, begini logika berpikirnya, manusia tidak meminta untuk dihidupkan dibumi, melainkan manusia hidup dibumi atas kekuasaan-Nya. Tuhan menciptakan manusia dibumi, pasti dengan alasan tertentu.

Untuk mencari alasan tertentu tersebut saya membaca kisah penciptaan Nabi Adam dalam Al-Quran, Surat Al-Baqarah [2]:30-38 dan Al-A’raaf [7]:11-25.

Dan tatkala Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak jadikan ‘khalifah’ muka bumi,” Mereka bertanya, “Apakah Kau tempatkan di sana orang yang merusak dan menumpahkan darah, sedangkan kamu bertasbih memuji Mu, dan menguduskan nama-Mu? (Tuhan menjawab dan) berfirman, “Sungguh, aku tahu apa yang tiada kamu tahu.” (Al-Baqarah [2]:30)

Disitu saya yakin bahwa alasan Tuhan (alasan tertentu) menciptakan manusia ialah untuk menjadikan manusia ‘khalifah’ muka bumi. Dan pastilah tujuan hidup setiap manusia bersumber dari tuhan, yaitu menjadi ‘khalifah’ muka bumi.

Namun pada kenyataannya tidak semua manusia menyadari apa tujuan Tuhan menghidupkan mereka. Mereka tidak tahu untuk apa mereka hidup dibumi. Karena Adam pun tergelincir ke bumi oleh tipuan dan rayuan syaitan.

Lalu syaitan menggelincirkan mereka dari (sorga), dan mengeluarkan mereka dari keadaanya (yang bahagia). Dan Kami berfirman, “Turunlah kamu sekalian, Yang sebagian jadi musuh yang lain. Bagi kamu ada tempat tinggal di bumi, dan kesenangan sampai waktu yang ditentukan”. (Al-Baqarah [2]:36)

Syaitan mengelincirkan Adam kebumi dengan cara menipu dan merayu Adam untuk mencicipi buah pohon itu.

Demikianlah ia (syaitan) menjatuhkan keduanya dengan tipuan. Maka ketika mereka mencicipi buah pohon itu, nampaklah kepada mereka auratnya, dan merekapun mulai menjalin daun-daun dari sorga (menutupi) auratnya. Dan tuhanya berseru kepada mereka, Bukanlah telah kularang kamu (mengganggu pohon itu), Dan kukatan kepadamu “sungguh, syaitan adalah musuh yang nyata bagimu” (Al-A’raaf [7]:22)

Namun setelah Adam tergilincir oleh setan, Adam pun bertaubat

Lalu Adam menerima beberapa kata dari Tuhannya. Maka (Tuhan pun) menerima taubatnya. Sungguh, Ialah Yang Maha Penerima Taubat, Yang Maha Penyayang (Al-Baqarah [2]:37)

Dari Ayat-ayat yang telah disebutkan diatas, saya berkesimpulan bahwa kita manusia anak cucunya Adam mempunyai cerita yang serupa tapi tak sama dengan Adam. Diciptakan dan dihidupkan dengan tujuan menjadi khalifah dibumi, namun syaitan selalu menggelincirkan tujuan hidup kita menjadi untuk mencicipi buah pohon itu.

(Menurut saya pribadi mencicipi buah pohon itu ialah lambang segala kenikmatan duniawi yang sesaat contohnya harta, tahta, jabatan, kebanggaan)

Namun inilah yang akan berbeda disetiap diri manusia. Adam bertaubat setelah menerima beberapa kata dari Tuhannya. Nah kita sebagai manusia yang telah menerima beberapa kata dari Tuhan (Firman Allah yang umumnya dibukukan diAlquran dan khususnya Firman Allah yang terdapat diatas) bisa memilih untuk bertaubat atau tidak bertaubat. Itu pilihan setiap orang namun setiap pilihan pasti ada konsekuensinya.

Akhir kata saya mengajak kita semua untuk merenungi semua ini dengan sebuah pertanyaan: Anda memilih untuk bertaubat dan menjadi khalifah dibumi atau memilih tidak bertaubat dan tetap mengejar mencicipi buah pohon itu?

Footnote:

Eh ada yang punya saran dimana saya bisa mencari apa itu yang dimaksud khalifah dibumi?
19.36 | 0 komentar | Read More

Rezeki Halal Menuai Berkah

Oleh : Uti Konsen

Sejak dini, Rasulullah saw mengajarkan satu doa sebelum makan, “Ya Allah berkahilah rezeki yang Engkau berikan kepada kami ini dan selamatkanlah kami dari siksa api neraka, dengan nama Allah“ (HR.Ibnu Suni). ”Jika Allah memberikan keberkahan kepada sesuatu,maka sesuatu itu akan mendapatkan kebaikan yang banyak dan berkesinambungan. Karena manfaat berkah sangat besar, maka umat Islam dari zaman ke zaman berusaha mencari keberkahan tersebut dalam setiap kehidupan,“ kilah Novel bin Muhammad Alaydrus dalam buku ‘Misteri Berkah.‘ Saking utamanya rezeki yang halal, Rasulullah SAW bersabda, “Seseorang yang meninggalkan sesuap nasi haram lebih utama daripada salat sunat seribu rekaat dan seribu haji.“ Seorang ulama salaf berkata, “Suapan pertama yang dimakan seorang hamba dari makanan yang halal menyebabkan dosa-dosanya yang lalu dimaafkan. Barangsiapa menempatkan diri ditempat hina sekalipun dalam mencari harta halal, semua dosanya berguguran seperti daun-daun kering yang ditiup angin.“
Dan letihnya seseorang mencari nafkah yang halal, membuat dosanya terhapus, seperti ditegaskan Nabi saw “Sesungguhnya diantara dosa-dosa ada yang tidak bisa dihapus (ditebus) dengan pahala salat, sedekah atau haji namun hanya bisa ditebus dengan kesusahpayahan dalam mencari nafkah“ (HR.Thabrani). Dan Allah SWT pun amat menyukai hamba-Nya yang beraktivitas sungguh-sungguh secara halal, seperti disabdakan oleh Rasulullah saw “Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan trampil. Barangsiapa bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya, dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah “ (HR.Ahmad). Nafkah yang dinikmati oleh anggota keluarganya merupakan sedekah, seperti diterangkan Utusan Allah itu “Setiap suap yang kita suapkan kemulut anak dan isteri kita bernilai sedekah.“
Orang Islam diperintahkan oleh Allah untuk mencari rezeki yang halal, apapun jenis pekerjaan yang dia lakukan, tanpa mesti merasa malu atau terhina. Rasul saw bersabda “Mencari rezeki yang halal merupakan kewajiban setelah kewajiban yang lima” (HR.Thabrani dan Baihaqi). Nabi saw juga bersabda, “Mencari rezeki yang halal adalah wajib bagi semua orang Islam“ (HR.Thabrani). Seseorang yang berangkat bekerja pada pagi hari, apakah itu pergi ke sawah bagi petani, pergi melaut bagi nelayan, pergi ke pasar bagi pedagang, pergi ke ke kantor bagi karyawan dan sebagainya, kemudian bekerja keras dan pulang sore hari atau bahkan sampai malam, lalu ia istirahat melepas lelah, maka waktu istirahat tersebut dihitung sebagai waktu ampunan Allah. Masya Allah. Sama saja dengan seseorang yang mengucapkan istighfar waktu itu. Sementara orang yang istirahat selepas bekerja juga “beristighfar“. Hanya saja istighfar tanpa harus memutar tasbih. Sebab Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa yang beristirahat pada sore hari sesudah bersusah payah bekerja secara halal, maka ia berada pada sore hari itu dalam keadaan mendapatkan ampunan Allah.“
Selain itu,dengan istiqamah memakan atau memakai rezeki yang halal membuat doa seseorang selalu didengar Allah dan menjadikan hartanya beberkah. Seperti disabdakan Rasulullah saw “Perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya “ (HR.Thabrani). ”Seorang hamba yang mencari harta tanpa cara yang haram akan mendapat keberkahan dalam hartanya….” Satu ketika Sa’ad bin Abi Waqash berkata kepada Rasulullah saw, “Doakanlah kepada Allah agar aku senantiasa menjadi orang yang dikabulkan doanya.“ Rasul menjawab seperti hadis tersebut. Hati itu ditempa oleh makanan. Makanan yang halal memudahkan hati untuk menerima kebenaran. Telah sepakat sebagian ulama bahwa “Orang yang ibadahnya pas-pasan, namun sangat menjaga kesucian hatinya, keheningan pikirannya, dan kebersihan hartanya, Insya Allah dia bisa melesat kedudukannya di sisi Allah.”
Imam Al Ghazali misalnya berkata “Tidak mengapa kalau tidak bisa tahajjud malam (karena sunat), tetapi janganlah membuat dosa, memakan yang haram di siang hari, karena tidak ada gunanya bakti pada Allah di malam hari (tahajjud) tetapi durhaka (berbuat dosa, memakan yang haram) di siangnya.“ ”Makanan halal adalah energi untuk meningkatkan semangat berbagai hal. Semangat hidup bergantung pada makanan yang dikonsumsi. Semangat belajar bergantung pada makanan yang dimakan. Bahkan, ketajaman tulisan seseorang bergantung pada kualitas makanan yang dia konsumsi saat menulis kilah ‘Abd Al Wahhab Al Asya’rani dalam buku ‘ 99 Akhlak Sufi’.’
Abd Al Qadir Al-Izzi berkata, “Kualitas keagamaan seseorang bergantung pada kualitas makanan yang ia dapat. Semakin halal makanan seseorang, semakin giat pula ibadahnya.Semakin sering ia memikirkan cara mencari harta halal, semakin sering ia memikirkan cara meningkatkan amalnya.“ Makanan yang halal, ujar Sahl RA membawa keberkahan. Tuturnya, Dan barangsiapa makanannya halal, anggota tubuhnya akan taat dan mendapat taufik melakukan bebagai kebaikan “. Betapa mulianya kelak di akhirat, orang yang selalu berusaha mencari nafkah dengan cara yang halal, seperti ditegaskan oleh Rasulullah saw “ Barangsiapa mencari dunia secara halal, membanting tulang demi keluarga dan cinta tetangga, maka pada hari kiamat Allah akan membangkitkannya dengan wajah berbinar layak rembulan bulan purnama “ (HR.Abu Huraitah). Karena itu Ali bin Abi Thalib RA amat memuji orang yang mencari rezeki dengan halal .Katanya “ Mereka yang meninggal ketika mencari rezeki dengan halal, akan mendapat ridha Allah.“
Al Harits al-Muhasabi ( 165-243 H ) memberi nasehat “Apabila Allah menganugerahimu sifat qanaah, banyaklah bersyukur kepada-Nya. Dengan kekuatan qanaah ini, seharusnya kamu terus mendekatkan diri kepada-Nya. Carilah jalan yang terbaik untuk mencapai qanaah. Raihlah akhiratmu dengan hasil usaha yang baik. Oleh karenanya, kamu harus secepatnya bersikap qanaah, agar hidupmu di dunia ini terasa tenang dan tentram“ (Buku karangan beliau ‘ Sederhana Penuh Berkah’). Wallahualam. **
19.34 | 0 komentar | Read More

TAK HARUS MEMANGGUL SENJATA



Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. Nabi s.a.w telah bersabda:

Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naunganNya.

Hari tersebut tidak ada naungan kecuali naungan Allah.

Golongan tersebut ialah

  1. 1.Pemimpin yang adil
  2. 2.Pemuda yang mengabiskan masa mudanya di jalan Allah
  3. 3.Seseorang yang hatinya senantiasa berpaut pada masjid-masjid yaitu sangat mencintainya dan selalu melakukan shalat berjamaah,

4. Dua orang yang saling mengasihi karena Allah yaitu keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah,

5.Seorang lelaki yang diundang oleh seorang perempuan yang mempunyai kedudukan dan rupa paras yang elok untuk melakukan kejahatan tetapi dia berkata: Aku takut kepada Allah!,

6.Seseorang yang memberi sedekah tetapi dia merahasiakannya seolah-olah tangan kanan tidak tahu apa yang diberikan oleh tangan kirinya.

7.Seseorang yang mengingati Allah di waktu sunyi sehingga mengalirkan air mata dari kedua matanya.

Rekan-rekan pemuda aktifis dakwah masjid yang dirahmati Allah… Bersyukurlah kita yang masih memiliki kecenderungan pada masjid. Bersyukurlah kita di usia muda ini bisa merasakan manisnya iman dan memiliki kesempatan untuk menggunakan masa muda ini di jalan Allah. Karena apa yang tengah kita alami sekarang tidak mudah didapat. Keberadaan kita untuk beraktifitas di masjid adalah sebuah anugerah dari-Nya, hingga ringan langkah kita untuk beraktifitas di sini. Itulah hidayah, pintunya telah terbuka dan kita harus segera menggapainya.

Kita ini pemuda, adalah tonggak kejayaan bagi ummat, penegak panji sebuah kaum, serta harapan keberlangsungan sebuah peradaban. Pemuda adalah pembaharu dalam setiap zaman, juga pembangun sebuah peradaban. Maka pemudalah yang paling berpengaruh dalam mencetak sebuah sejarah bangsa maupun ummat di dunia.

Pemuda adalah sosok manusia yang penuh semangat dan energi yang berlimpah. Memiliki daya jelajah yang luas dan ketahanan fisik yang baik, serta kecemerlangan dalam berpikir. Maka tak heran, jika para pemudalah yang memiliki tanggung jawab besar dalam mengemban amanah ke-ummat-an, yang mengusung kepentingan ummat dalam mencapai kedudukan mulia sebagai khalifatul fil ardh.

Di zaman Rasulullah SAW, para pemudalah yang paling bersemangat menyambut seruan jihad di medan tempur melawan musuh-musuh Allah yang memerangi Islam. Walaupun harus bertaruh nyawa, mereka siap menyambut seruan itu dan selalu berada di garis depan. Namun di zaman itu, mereka tidak hanya bersemangat di medan tempur, mereka juga bersemangat dalam mengemban amanah dakwah lainnya yang tidak kalah beratnya. Dan mereka tetap bersuka cita menjalankan tugasnya. Ya, karena mereka melakukannya semata-mata karena Allah dan Rasul-Nya.

Di zaman ini, di negeri kita… belum ada seruan perang melawan musuh-musuh Allah dengan senjata. Namun pemuda kita turun bertempur memerangi saudaranya sendiri dan tetap dengan senjata. Saling melempar, melukai bahkan membunuh, lalu meninggalkan begitu saja tubuh saudara mereka menggelepar di tengah jalan,. Dan mereka melakukan itu semua dengan penuh semangat dan sungguh-sungguh. Entah seruan siapa yang mereka sambut.

Di sini, di negeri kita, selalu diserukan dengan lantang suara adzan di masjid-masjid, yang menyeru ummat untuk menunaikan kewajiban mereka terhadap Robbnya, dari di pusat kota sampai pelosok desa adzan seruan itu begitu jelas tedengar. Tapi hanya dua – tiga baris yang menyambut seruan itu, datang bersimpuh dan bersujud menghadap Allah. Dan diantara yang khusyuk bersujud itu… lebih banyak yang renta dan beruban. Kemana perginya para pemuda yang bersemangat…?

Kita sudah salah kaprah! Suara adzan untuk Sholat kalah bersaing dengan aktifitas duniawi. Masjid Rumah Allah bukan lagi tempat nyaman untuk berkumpul. Manusia lebih suka berkumpul di mal-mal, café, dan tempat-tempat hiburan. Islam menjadi tak penting lagi. Membincangkan masalah dakwah dan ke-ummatan juga hanya dianggap bagian kecil yang tidak penting dalam kehidupan modern. Lalu ada kaidah baru dalam budaya modern, hal-hal yang menjadi penting adalah masalah-masalah pekerjaan dan karir, mode masa kini dan hiburan.

Kita harus tahu, bahwa musuh-musuh Islam sudah letih memerangi kita dengan kekerasan, karena mereka tahu bahwa dengan cara itu mereka tak akan pernah menang. Maka musuh-musuh Allah itu, memerangi kita dengan menjadikan kita ummat Islam menjadi bangsa yang bodoh dan tertinggal. Mengaburkan konsep hidup para pemuda muslim, hingga tak tahu lagi mana yang haq dan mana yang bathil. Yang halal di haramkan dan yang haram dihalalkan atau dibuat syubhat.

Rekan-rekan… inilah peperangan kita, jihad kita. Menyadarkan para pemuda Islam bahwa kita masih punya PR besar keummatan, dalam menyusun langkah . Mensyi’arkan kembali Islam yang kaffah kepada ummat. Saat ini kita tak dituntut memanggul senjata ala militer, senjata kita adalah kekuatan iman, kesiapan moral dan pengetahuan yang integral.

Jihad kita kali ini amar ma’ruf nahyi munkar. Menyeru pada siapapun agar menuju kepada kebaikan dan mencegah siapapun yang akan melakukan kemungkaran. Kita tak boleh diam jika ada yang menghalalkan segala bentuk kemaksiyatan. Kita harus berani menenatng segala bentuk kemungkaran, karena kita adalah pemuda Islam, para mujahid kebenaran yang mencari ridho Allah.

QudratSQ

Utan Kayu, 14 Agustus 2007

19.26 | 0 komentar | Read More

YANG TERBARU DARI BAGINDAERY

BACA JUGA

DAFTAR LENGKAP ARTIKEL BLOG BAGINDAERY

Ikuti situs Bagindaery

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...