ARTIKEL PILIHAN

GOOGLE TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

ARTIKEL PILIHAN

Ternyata Yahudi Pun Mengikuti Sunnah ( Perang terbesar di akhir zaman adalah perang melawan yahudi,bukan cuma perang secara fisik perang ideologi,perang pemikiran ,perang dingin ,segala cara ditempuh untuk menghancurkan musuh mulai dari penyusupan intelejen,sampai perusakan akidah perusakan generasi muda lewat modernisasi sampai meracuni dengan makanan, Sungguh licik yahudi dan barat memperdayakan kita umat Islam, dengan medianya untuk membuat opini yang berbeda dengan manfaatnya. Mereka menganjurkan dengan produk dan advertorialnya dan menyuruh kita minum susu sapi bubuk buatan mereka, tapi mereka sendiri minum susu kambing, mereka minum apa yang diminum oleh Nabi kita Muhammad SAW )

Written By Situs Baginda Ery (New) on Sabtu, 29 Maret 2014 | 11.01

sunnahPerang terbesar di akhir zaman adalah perang melawan yahudi,bukan cuma perang secara fisik perang ideologi,perang pemikiran ,perang dingin ,segala cara ditempuh untuk menghancurkan musuh mulai dari penyusupan intelejen,sampai perusakan akidah perusakan generasi muda  lewat modernisasi sampai meracuni dengan makanan, Sungguh licik yahudi dan barat memperdayakan kita umat Islam, dengan medianya untuk membuat opini yang berbeda dengan manfaatnya. Mereka menganjurkan dengan produk dan advertorialnya dan menyuruh kita minum susu sapi bubuk buatan mereka, tapi mereka sendiri minum susu kambing, mereka minum apa yang diminum oleh Nabi kita Muhammad SAW.
Mengapa kita tidak ikut nabi kita, kita ikuti saja rayuan orang yahudi itu tapi ternyata mereka mengikuti apa yang nabi kita makan dan minum.

“Berwaspadalah terhadap syaitan demi keselamatan agama. Mereka   telah berputus asa untuk menyesatkan umat bertauhid  dalam perkara-perkara besar, maka berjaga-jagalah supaya kita tidak mengikutnya dalam perkara-perkara kecil”
Antara ‘Isu’ yang  mereka gembar gemborkan dan telah dijadikan ikutan oleh kebanyakan dari kita, beberapa hal kecil  yang mereka anggap berhasil dikalangan umat Islam adalah sebagai berikut :
  1. Kita diajar dalam buku biologi, dalam buku gizi makanan (kajian dan terbitan dari ilmuan barat) bahwa kalau ingin dapatkan vitamin B dan kalau ingin tambah darah kita sebaiknya banyak memakan hati hewan dan hati ayam . Tetapi sebenarnya Nabi kita tidak pernah menganjurkan  memakan organ dalam. Apakah kita ingin ikuti apa yang dianjurkan  orang barat yang tidak beriman atau  mengikuti ajaran Nabi kita? . Tahukah sebenarnya makan hati hewan/ayam dampaknya bisa  melembabkan otak kita sebab hati merupakan organ dimana semua toksin/racun akan dikumpulkan dan dinetralkan. Jadi, kepekatan toksin/racun berkadar tinggi ada di hati hewan/ayam tersebut. Bila kita konsumsi hati tersebut otomatis kita konsumsi juga toksinnya maka dampaknya lembablah otak umat Islam sebab begitu percayanya dengan  buku sains keluaran barat kafir ini.
  2. Kita diajarkan dalam sains bahwa kopi tidak bagus untuk kesehatan. Namun sebenarnya kopi adalah salah satu minuman kegemaran Nabi kita selain susu dan madu. Coba lihat orang orang Yahudi, mereka penggemar minum kopi. Profesor di UK , terutama yang Yahudi, dihadapannya selalu ada segelas kopi di tangan mereka.
  3. Kita diajar jangan terlalu banyak memakan kambing karena tingginya kolesterol, namun kambing juga adalah makanan Nabi kita. Seolah-olah buku sains ingin merendahkan makanan Nabi kita. Sebenarnya daging kambing adalah daging paling rendah kolesterol.
  4. Kita diajar bahawa makan Fast Food  adalah bagus, cepat dan instan,  namun sebenarnya Fast Food asal AS adalah makanan yang sangat tinggi kandungan MSG dan kolesterolnya serta paling banyak lemak jenuhnya.
  5. Para kafir ini juga menggalakkan dan mengiklankan bahwa  minum dan makan makanan yang instan dan dibuat kesan modern , contohnya minuman soda berbagai merk . Minuman soda itu sangatlah beracun dan sangat tidak bagus untuk kesehatan (gula tinggi, berasam, pH dalam lingkungan 3.5, ada racun tersembunyi di kandungannya) . Dan kita ketagihan dengan makanan dan minumaan tersebut.IRONIS ! – Val-
Sumber : eramuslim.com
11.01 | 0 komentar | Read More

Subhanallah, Bocah Umur 5 Tahun Hafal 26 Juz Al Quran


Bangka Pos/Riyadi Hafiz Cilik bernama Musa Bin La Ode Abu Hanifah (5,8 tahun) warga Pal 4 Muntok


BANGKA, KOMPAS.com - Subhanallah. Hanya satu kata itulah yang terucap dari sejumlah pejabat di lingkungan Pemeritah Kabupaten Bangka Barat yang hadir dalam Pembukaan Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) Tingkat Kabupaten Babar 2014.

Acara pembukaan itu digelar di Masjid Raya Al Muttaqin Desa Air Gantang Kecamatan Parittiga, Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka-Belitung, Senin (24/3/2014) kemarin.

Kalimat toyyibah ini terucap oleh mereka secara spontan penuh kagum dan haru saat panitia MTQ menampilkan hafiz cilik bernama Musa Bin La Ode Abu Hanifah (5,8 tahun) warga Pal 4 Muntok.

Anak itu duduk bersimpuh di atas panggung MTQ, dan dengan begitu fasih melafalkan ayat demi ayat Surat Makiyah dalam Al Quran. Musa yang usianya masih begitu belia, sudah mampu menghafal Al Quran hampir 26 juz.

Pejabat dari Kementerian Agama Kabupaten Bangka Barat H Abdul Rohim menyebutkan, untuk menjaga Al Quran, Allah SWT selalu memberikan kemakmuran kepada hamba-Nya, untuk hafizd (hafal) ayat-ayat Al Quran.

"Musa Bin La Ode Abu Hanifah ini, usianya baru 5 tahun 8 bulan, dengan lidahnya yang fasih, hafalan Al Quran-nya sudah mendekati 26 juz," kata Abdul Rohim dalam acara itu.
10.55 | 0 komentar | Read More

Subhanallah, Sungguh BANYAKNYA PAHALA MENGAJI

http://haluanmedia.com/wp-content/files_mf/1361899720belajarmengaji1.png
Begitu besar “iming-iming” pahala yang sudah Allah janjikan bagi hambanya yang sanggup giat belajar mendalami kalamulloh, ilmu agama Islam Al-Quran dan Al-Hadits.
Bayangkan , dengan belajar satu ayat Al-Quran saja pahalanya lebih baik daripada sholat 100 rokaat. Belajar yang dimaksud disini tentu bukan hanya sekedar belajar membaca, namun justru yang tidak kalah pentingnya adalah belajar memahami kandungan maknanya, sehingga mendapatkan pengrtian sebagai dasar berkeyakinan.
Terlebih belajar ilmu hadits satu bab saja maka poin pahala yang dapat dikumpulkan sudah melebihi pahalanya orang mengerjakan sholat 1000 rokaat. Subhaanalloh
Yang lebih menyenangkan bagi kita, bahwa pahala itu sudah kita dapatkan meskipun kita baru mengaji dan belum mengamalkan. Belum diamalkan saja sudah besar pahalanya apalagi kalau sudah diamalkan.
Yang dimaksud jumlah “satu ayat Al-Quran” , insyaAlloh sudah jelas karena ayat-ayat dalam Al-Quran sudah diberi nomor urut. Sedangkan pengertian jumlah satu bab ilmu hadits adalah satu matan / isi sebuah hadits sebagaimana yang kita tayangkan di atas, adalah satu bab hadits, panjang pendek nya isi hadits tetntu sangat bervareasi.
Mengapa kita perlu mengumpulkan pahala yang sebanyak-banyaknya?
Ya, karena pahala adalah nilai kebaikan yang menjadi penentu beratnya hisaban / timbangan amal di akhirat kelak. Dengan ditimbang, maka seseorang akan dapat diketahui mana yang lebih berat amalan baik (pahala) ataukah dosanya.
Amal sholih / kebaikan meskipun kecil timbangannya akan terlihat hasilnya demikian juga amalan jelek / dosa.
Dengan mengaji / belajar ilmu agama maka pahala yang didapatkan begitu besar.
Apalagi dalam kenyataan selama ini jarang kita menghitung berapa jumlah ayat atau jumlah hadits yang kita kaji perdalam dalam satu kali sesi di pengajian majelis taklim, tentu kita berharap tabungan pahala yang akan kita petik di akhirat makin lama makin membesar.
Sangat sayang dan merugi rasanya apabila peluang yang sangat baik ini, di kala kita masih sehat diberi umur panjang tetapi tidak menggunakan kesempatan sebaik-baiknya untuk belajar ilmu agama.
Orang yang merugi adalah mereka yang tidak menggunakan kesempatan sebaik-baiknya.
https://www.facebook.com/wendrapengetahuanislam/posts/359446710802415
10.54 | 0 komentar | Read More

Berita Ical Golkar: Antara Teddy Bear, Si Komo dan Nasionalisme Ical

HeadlineINILAHCOM, Jakarta – Merebaknya evaluasi pencapresan Aburizal Bakrie di Partai Golkar tidak terkait video pelesirnya ke Maladewa. Ical dianggap layak dievaluasi karena sikapnya yang cenderung tidak nasionalis.
Sebagaimana ramai diberitakan media massa, Senin (24/3/2014) lalu Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Akbar Tandjung, menilai evaluasi pencalonan Ical sebagai calon presiden dari partai sangat mungkin dilakukan. Alasan Akbar waktu itu terutama melihat fakta betapa tingkat keterpilihan alias elektabilitas ketua umum Partai Golkar itu di bursa pencapresan tetap saja memble.
Itu hasil berbagai riset sebelum euforia pencapresan Jokowi menyebar seolah virus di masyarakat. Jadi, apalagi saat ini, manakala publik sudah seolah menggigil rindu, ingin Jokowi cepat-cepat jadi presiden dan merombak negeri yang karut marut ini. Kalau merujuk idiom Basuki Srimulat sih, ‘hil yang mustahal’ elektabilitas Ical tiba-tiba meroket dan berubah kece.
“Jadi, ini (pencapresan) saudara Aburizal, dinamis,”kata Akbar kepada wartawan, saat itu. Selain lawan kata dari statis, dalam politik kata dinamis bisa pula berarti belum ‘fixed’ alias belum pasti. Artinya, bagi Golkar—paling tidak Akbar dan kawan-kawan, masih mungkin menawarkan opsi selain Ical.
Lalu wajar bila publik kontan mengaitkan bergesernya sikap Golkar yang bulan-bulan sebelumnya terkesan rigid soal pencapresan itu dengan beredarnya video pelesir Ical-Azis Syamsuddin bersama duo Jalianty ke Maladewa. Common sense setiap orang wajar berkata hal itu akan memengaruhi elektabilitas Ical.
Bila tidak, mana mungkin pucuk pimpinan Grup Bakrie itu repot-repot mengumpulkan anggota keluarga plus menantu, menghubungi para wartawan, membeli sekian banyak boneka Beruang Teddy, dan kompak memeluk boneka unyu-unyu itu saat konferensi pers?
Tetapi lain dari publik, Partai Golkar adalah partai dewasa untuk berpikir sedangkal itu. Benar dan sangat masuk akal ketika Ical sendiri menangkis pikiran cupet publik kepada pers, usai kampanye di Pondok Pesantren Darul Fikri Al-Andalusy, Bogor, Jumat (21/3/2014) lalu. “Ini bukan persoalan bangsa,” kata Ical. Tepat sekali, karena hanya mereka yang terlalu dengkilah yang akan berpikir pergi leyeh-leyeh ke Maladewa itu terkait masa depan bangsa Indonesia dan nasib 250 juta rakyatnya.
Mereka tahu, rakyat Indonesia tak akan menganggap pelesir itu bermasalah. Bukankah selama ini pun rakyat tak pernah mempermasalahkan moralitas wakilnya? Bukankah tak sedikit wakil rakyat yang ketahuan lancung dalam urusan syahwat itu terpilih kembali dan menerima amanah agung mewakili publik untuk meneriakkan amanat penderitaan mereka?
Lewat banyak buku—setidaknya saya hafal salah satunya, ‘Parlemen Undercover’, belang dan lancungnya wakil rakyat di urusan selangkangan itu terbuka. Toh publik pun rileks dan adem ayem saja. Mereka terbiasa menikmati tayangan perselingkuhan seperti itu di sinetron. Jadi kalau memang ada di dunia nyata, apa anehnya?
Yang dipermasalahkan Golkar tampaknya lebih pada sikap tidak nasionalis yang diperlihatkan Aburizal. Bagaimana mungkin Ical tega memeluk boneka Teddy Beruang, mengabadikannya dalam video yang di abad informasi ini dengan mudah diunggah menyebar via youtube serta membuka peluang besar untuk naik pamornya Beruang Teddy? Sebagai calon presiden, tidak sadarkah Ical bahwa Teddy Bear itu icon dan merek luar negeri, yang tak membawa keuntungan apapun kepada negara sehingga harus diberi iklan gratis oleh tokoh nasional seperti dirinya?
Mengapa, misalnya, ia tidak memeluk boneka Si Komo yang asli made in Indonesia dari ide, bahan baku, hingga keringat para pembuatnya? Bila itu dilakukan, anak-anak akan senang melihat boneka asli negeri sendiri itu terpampang di layar tivi, melanglang buana via Youtube dan mungkin saja mengundang minat para balita bule.
Negeri ini akan kebanjiran permintaan boneka Si Komo, yang membuat para janda dan ibu-ibu tua pembuatnya di bilangan Cijawura, Ciwaruga dan Majalaya sumringah akan gairah untuk terus bekerja mencari berkah. Keringat mereka sekejap berubah rupiah dan paling tidak bulan-bulan ke depan aman sejahtera(h).
Lalu sekian juta rakyat akan mengelu-elukan Ical sebagai pahlawan bangsa yang meroketkan pendapatan negara dan meraup devisa. Akhirnya, ia layak tak sekadar jadi calon, tapi presiden asli Indonesia.
Sayang bukan itu yang terjadi. Jadi wajar Golkar kecewa dan mengevaluasi. [dsy]
10.52 | 0 komentar | Read More

Prabowo Kesal: Merasa tak Diberitakan, Prabowo Kesal

Juru Kampanye Nasional (Jurkamnas) yang juga merupakan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto mengungkapkan kekecewaannya terhadap media televisi dan cetak.
Ini lantaran, media selama ini tidak pernah memunculkan kebenaran atas apa yang diungkapkan oleh dirinya.
  
"Setiap datang ke daerah di Indonesia, banyak media yang mengikuti saya. Namun pemberitaannya tidak pernah muncul," ujar Prabowo saat menyampaikan orasi politik pada kampanye terbuka di Lapang Mangkalaya Desa Mangkalaya Kecamatan Gunung Guruh Kabupaten Sukabumi, Rabu (26/3).
  
Dari pantauan Radar Sukabumi (Grup JPNN), awalnya, saat memulai kampanye di hadapan ribuan warga Sukabumi, capres dari partai Gerindra itu terlihat datar saat berorasi. Ia menyampaikan cerita tentang nasib rakyat dan kekayaan alam Indonesia  yang dieksploitasi oleh kaum kapitalis.
Namun di tengah orasi, Prabowo tiba-tiba mendekat ke kamera wartawan yang sedang meliput, dan mengucapkan kekesalannya terhadap awak media. Dengan nada tinggi, Prabowo meminta media agar menayangkan orasi kampanyenya.
"Selama ini ide dan pemikiran saya tentang nasib rakyat tidak pernah dimuat oleh media massa," ucapnya.
  
Sontak, karena tindakan Prabowo, amarah massa pendukungnya nyaris saja terbakar. Beberapa wartawan sempat nervous dan sedikit kecewa dengan statement mantan Danjen Kopassus itu.
Beruntung, akhirnya tak terjadi kericuhan. Seusai meluapkan kekecewaannya terhadap awak media, Prabowo langsung mengajak awak media berjoget bersama.
http://www.jpnn.com/read/2014/03/28/224841/Merasa-tak-Diberitakan,-Prabowo-Kesal-
10.50 | 0 komentar | Read More

Berita Terbaru Jokowi: Untuk Jadi Capres, Saya Tidak Melakukan Apa-apa

RODERICK ADRIAN MOZES Calon presiden yang juga Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau Jokowi, menikmati sarapan sebelum berkampanye di Bandar Lampung, Sabtu (22/3/2014). Jokowi dijadwalkan akan menjadi juru kampanye Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di beberapa kota di Provinsi Lampung bersama sejumlah tokoh PDIP lainnya, di antaranya Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES

KOMPAS.com — Calon presiden Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Joko Widodo mengatakan, ia sama sekali tidak melakukan upaya apa pun sehingga akhirnya dipilih sebagai calon presiden oleh Ketua Umum DPP PDI-P Megawati Soekarnoputri. Menurut Jokowi, selama ini ia hanya fokus bekerja untuk membenahi Jakarta.

"Saya tidak melakukan apa pun, apalagi lobi-lobi politik. Jadi saya menjadi capres itu saya tidak melakukan apa apa," ujar Gubernur DKI Jakarta ini saat berorasi di depan kader PDI-P Sukabumi, Kamis (27/3/2014) malam.

Jokowi juga mengaku tidak menyambut pencapresannya itu dengan perasaan bahagia.

"Ini adalah tahun penentuan, yang menentukan nanti kita seperti apa. Jadi presiden itu sangat berat sekali karena itu saya tidak menyambutnya dengan senang atau sukacita. Tapi, dengan dukungan bapak, ibu, dan saudara sekalian yang hadir, dan dengan semangat partai, semoga saya bisa melaksanakannya," ujar Jokowi.

Deklarasi sederhana


Jokowi juga mengungkapkan alasan ia memilih untuk deklarasi di Rumah Si Pitung. Menurut Jokowi, deklarasi itu sangat berbeda dengan cara deklarasi bakal calon presiden dari partai lain yang ditemani tokoh-tokoh penting dan penuh kemewahan.

"Tanggal 14 Maret saya rasa kita sudah tahu semuanya deklarasi di Rumah Si Pitung. Saya bekerja, kemudian diumumkan di DPP kalau saya resmi dicalonkan," kata Jokowi.

"Memang deklarasi saya sangat sederhana sekali. Tidak sama dengan yang lain yang penuh kemewahan gebyar penuh ingar-bingar. Saya sendiri hanya ada bendera Merah Putih, tidak ada tokoh besar karena yakin kita berkoalisi dengan rakyat. Karena nanti yang memilih rakyat," ujar Jokowi, yang langsung disambut tepuk tangan oleh para kader dan simpatisan yang hadir.

Untuk mengikuti kampanye, Jokowi telah mengajukan cuti untuk hari Jumat (28/3/2014) kepada Kementerian Dalam Negeri. Ia dijadwalkan menjadi juru kampanye PDI Perjuangan untuk pemilu legislatif di beberapa kota di Jawa Barat serta Banten.

Perjalanan Jokowi akan dilakukan hingga Senin (31/3/2014) yang merupakan hari libur nasional karena bertepatan dengan hari raya Nyepi.
10.48 | 0 komentar | Read More

Nama Anak Perempuan Muslim ( Nama Buah Hati wanita )

Written By Situs Baginda Ery (New) on Kamis, 27 Maret 2014 | 17.54

http://2.bp.blogspot.com/-35wSTXyVkMM/ULfhvilTsjI/AAAAAAAAAHs/p_kVy-Hoq5Q/s1600/muslimah-kecil.jpg
Bagi Anda umat muslim, berikut nama anak wanita dan artinya disini :
semoga kelak anak-anak anda tumbuh dan berguna bagi keluarga, nusa, bangsa dan negara.. Amin
A
Abidah Yang banyak beribadat
Adani Yang baik pekerti
adlah Keadilan
Ainani Mata
Alaniah Nyata
Arifah Yang bijaksana
Arusah Pengantin
Azyyati Kesabaran
Asyiqah Yang asyik
Abirah Wangi
Adabiah Kesopanan, beradab
Adlina Keadilan kita
Adilah Adil, saksama
Adriana Nisbah
Aniqah Cantik, lemah gemalai
Arfah Gembira
Ainul Hayat Mata kehidupan
Afiqah Sangat pemurah, sangat berpengetahuan
Afifah Yang bermaurah,
Anisah Yang mesra
Arinah Yang cergas
Aqilah Yang baik, yang mulia
Aliah Yang tinggi
Amirah Yang aman bahagia
Adlah Keadilan
‘Azmatun Kegigihan
Ariih = bau yang sedap
Izdihaar = kesuksesan
Ulfah = keramahtamahan
Atsiilah = memiliki keturunan baik
Arwaa = pemandangan yang menawan
Asmaa- = nama-nama
Aasiyah = ahli dalam pengobatan
Alfiyah = memiliki sifat ribuan
Afnaan = dahan
Aanisah = gadis yang baik jiwanya
Aniisah = lemah lembut
Iinaas = baik hati
Aaminah = berwibawa, dapat dipercaya
Amiinah = dapat dipercaya
Amiirah = pemimpin
Ariij = bau yang sedap
B
Barizah Terkemuka
Basimah Senyuman
Bashirah Hati murni
Basmina Senyuman
Badzlin Murah hati
Balqis Nama Ratu Kerajaan Saba’
Bariah Yang pandai, yang mahir
Basirah Yang bijak
Basitah Yang melapangkan
Bussaina Cantik, menarik
Busra Kesegaran
D
Danifah Perbendaraan tersembunyi
Dajinah Awan megah
Dalilah Pemimpin
Dalilati Pemimpin
Dalili Pemimipin
Dania Hampir
Dianah Keagamaan
Dianati Keagamaan
Dina Keagamaan
Dhamimah Penjamin
Dhiafah Cerah pada tetamu
Dahiyah Yang pintar
Dahliah Sejenis bunga
Damia Kebajikan dan keberkatan
Dayana Yang gagah perkasa
Dayini Patuh, taat
Damia Kebajikan dan keberkatan
F
Fildzah Belahan hati
Farizah Jelas
Farisah Pahlawan
Fathaniah Bijak
Fadhilah Kemulian yang tinggi
Farhah Kegirangan
Farhanah Kegembiraan
Fariah Tinggi,mulia
Faridah Yang istimewa
Fathiah Pembukaan, kemenangan
Farwizah Menang, berjaya
Fataniah Bijak
Fauziah Cergas
Fikriyah Pandai
Filzah Belahan hati
Fakhriah Kemegahan
Fakhrani Nisbah
Fatin Menarik
Fatinah Bijaksana
Faiqah Paling baik
Faqihah Pandai, pintar
Fairuz Batu permata
Fatanah Kebijaksanaan
G
Gharsina Tumbuhan
Ghassani Cantik
Ghaliah Yang berharga
Ghaniah Yang cantik
Ghanimah Yang berjaya
Ghadah Yang lemah lembut
Ghauthiah Pertolongan
Ghamirah Yang mengembara
Ghazalah Matahari terbit
Ghundurah Bahagia, muda
Ghurrah Keserian, putih berseri
Ghaziah Pejuang
Ghazwani Kepahlawanan
Ghadat Lembut, halus
H
Hadhinah Pengasuh
Habibah Kekasih
Hadhimah Pengasuh, pendidik
Hamimah Kawan setia
Hamizah Yang bijaksana
Haifa Ramping, genit
Hakimah Yang bijaksana
Halwa Yang manis, menarik
Hasya Kesempurnaan
Hidayah Petunjuk Allah
Hasinah Yang taqwa
Hasyimah Yang bersopan santun
Huda Petunjuk
Haziqah Yang cerdik, pandai
Hazirah Pilihan yang terbaik
Haziyah Yang dipuji, yang disayangi
I
Ijazati Keizinan
Iffah Suci, terpelihara
Imanina Keimanan kami
Inani Hadapanku
Itqan Kecekapan, kepintaran
Iwana Takhta
Izzati Kemuliaanku, kekuatanku
Izdihar Kemajuan, perkembangan
Irdina Kehormatan kami
Irsalina Pengirim kami
Insyirah Kegembiraan, lapang hati
Istiqamah Kelurusan
Irfan Mengetahui
J
Jamiah Yang menyatupadukan
Jawidah Yang baik hati
Jazima Tegas
Jauna Matahari
Julia Berambut panjang
Junaidah Pejuang, tentera
Jaharah Kecantikan bentuk dan rupa
Jahirah Yang rupawan dan genit
Jahizah Yang dilengkapi
Jalilah Yang mulia
Jamaliah Kecantikan
Jamalina Kecantikan
K
Kafiah Memadai
Kiasatina Kebijaksanaan
Kafiya Wakil, yang memadai
Kafilah Penjamin
Khairunnisa Gadis yang paling cantik
Khalidah Yang kekal
Kaisah Bijaksana, cantik
Kamaliah Kesempurnaan
Kamilia Bunga, suci
Khairiah Kebaikan
Khalilah Teman setia
Khaliqah Bersopan santun
Karimah Yang mulia
Karamina Murah hati
Kazimah Penyabar
Khadra Subur, kehijauan
Khalisah Yang jujur
Khuzaimah Nama arab lama
Khabirah Pikir
Khairana / Khairina Kebajikan
L
Labibah Yang cerdik, yang cantik
Laila Kegembiraan, keghairahan
Laiqah Yang layak
Lailani Malam
Lazimah Yang berprinsip
Lauzah Berguna, berhasil
Laiyinah Yang lemah lembut
Lidiya Remaja, muda
Liyana Kelembutan
Lutfiah Kehalusan, kelembutan
M
Malihah Yang cantik dan manis
Mariah Putih
Marinah Yang lembut
Mahdiyah Suci, tulen
Mahirah Yang cekap, mahir
Maliyanah Kelembutan
Manarina Cahaya petunjuk
Munifah Yang tinggi lampai dan cantik
Mahfuzah Yang terpelihara
Mus’ifah Penolong
Munirah Yang bersinar
Muklisah Yang ikhlas
Mursyidah Hidayah, taufiq
Miskiah Harum kasturi
Muzainah Kepujian, titisan hujan
Masturina Yang bijak
Mumtazah Yang istimewa
Mardhati Keredhaanku
Munawarah Yang berseri, yang disinari cahaya
Masturah Yang terpelihara
Mawaddah Cinta
Maziah Kelebihan, keistimewaan
N
Nadwah Dewan, sekumpulan manusia
Nadhrah Keindahan
Nadirah Yang berharga, mulia
Najwa Bisikan manusia
Najimah Bintang
Najidah Berani
Nazifa Bersih
Nawwarah Yang bercahaya
Nazmina Penyusunan
Nazirah Penyelia
Nur Azmina Cahaya keazaman kami
Nur Husnina Cahaya kebaikan kamu
Nurul Asyiqin Cahaya pencinta
Nuruljannah Cahaya syurga
Nur Amalina Cahaya harapan
Nur Qamarina Cahaya bulan
Nabilah Yang cerdik
Nadhilah Pejuang
Nadrah Sekeping emas
Q
Qasbah Menuntut ilmu
Qadirah Yang berkuasa
Qadisah Suci
Qahirah Yang gagah, yang berkuasa
Qamarina Bulan
Qarinah Pendamping, kawan
Qasdina Lurus, sederhana
Qasimah Cantik, lawa
Qasrina Istana
Qismina Bahagian
Qistina Keadilan
Qudwah Ikutan
Qurratu’aini Penyejuk mataklu / hatiku
R
Rahmatina Rahmat, belas kasihan
Rahmuna Kasih saying
Raidah Pemimpin
Raihah Gembira kerana yakin
Rahumah Penyayang
Razanah Kesopanan, ketenangan
Ruzana Ketenangan
Rafiah Yang mulia
Razita Bunga
Ridhwah Keredhaan
Rif’ah Ketinggian, kemuliaan
Rifqah Kelembutan
S
Syuhrah Kemasyhuran
Syuhaidah Madu lebah
Syahmina Cerdik
Syakirah Yang berterima kasih
Sarimah Gigih, cekal
Sakinah Ketenteraman
Safi Bersih, murni
Safura Keemasan
Sarah Nama isteri nabi Ibrahim
Suhailah Yang senang, yang mudah
Sulwana Hiburan hati
Syimah Peribadi, tabiat
Syukriah Kesyukuran
Sadiqah Sahabat, teman ikhlas
Syarafana Kemuliaan
Syabrah Pemberian, kurnia
Syadni Pokok bunga
Syaqiqah Saudari kandung
Syahmah Hati yang murni
Syasya Berseri-seri
Syauqina Rindu
Syazwan Kecergasan
T
Thaqifah Yang cerdik
Tharwah Kekayaan
Tahsina Mencantikkan
Taiyibah Yang cantik
Tuma’ninah Ketenangan
Tsara’ Kekayaan
Taqiah Yang bertaqwa
Taqinah Yang teguh, tahan
Tajul bariyah Mahkota
Tamrina Latihan
U
Unaizah Nisbah
Uthailah Mulia
Usaimah Terpelihara
Unaisah Kegirangan
Uzmana Cita-cita, keazaman
Uzma Terbaik, terbesar
Ubaidah Yang taat, tunduk
Ummi kalsum Nama anak nabi
Umaimah Ibu yang penyayang
W
Wasimah Lemah gemalai
Wasifah Penolong
Waslah Yang membuat kebajikan
Waslina Hubungan rahim
Wasiqah Yang amanah
Watiqah Yang teguh dan kukuh
Watriyah Ketunggalan
Wajahah Ketinggian martabat
Wafa Kesetiaan
Wadaah Ketenangan
Wadhihah Yang terang, yang jelas
Wani Mutiara
Wardah Bunga mawar
Ariih = bau yang sedap
Izdihaar = kesuksesan
Ulfah = keramahtamahan
Atsiilah = memiliki keturunan baik
Arwaa = pemandangan yang menawan
Asmaa- = nama-nama
Aasiyah = ahli dalam pengobatan
Alfiyah = memiliki sifat ribuan
Afnaan = dahan
Aanisah = gadis yang baik jiwanya
Aniisah = lemah lembut
Iinaas = baik hati
Aaminah = berwibawa, dapat dipercaya
Amiinah = dapat dipercaya
Amiirah = pemimpin
Ariij = bau yang sedap
Bahiirah = wanita yang terhormat
Baahirah = cahaya terang benderang
Balqiis = ratu negeri Saba-
Badriyah = seperti bulan purnama
Taqiyyah = yang bertakwa
Tamiimah = perlindungan, penciptaan yang sempurna
Tabriiz = lebih unggul
Taimaa- = padang sahara
Tuhfah = yang sangat berharga
Tsurayaa = bintang, kumpulan planet
Tsamarah = buah
Jauharah = mutiara
Jiilaan = pilihan terbaik
Jaidaa- = leher yang jenjang
Jaliilah = mulia
Jamiilah = cantik
Jinaan = taman-taman
Jumaanah = butir mutiara berukuran besar
Jauzaa- = bintang
Jaa-izah = hadiah
Hum nah = kemudahan
Hasanah = kebaikan
Hauraa- = wanita berkulit putih bermata hitam
Haazimah = yang memiliki keteguhan hati
Haafizhah = pemelihara
Haamidah = yang memuji, bersyukur
Haaniyah = lemah lembut
Habiibah = kekasih
Hasnaa- = cantik
Huuriyah = bidadari
Husnaa = kesudahan yang menyenangkan, kelembutan
Hulwah = mata dan mulut yang indah
Haliimah = penyabar
Ham dah = pujian
Ham iidah = yang terpuji
Hawwaa- = wanita pertama yang diciptakan Allah
Khaatimah = kesudahan
Khaalidah = abadi
Khaznah = harta yang disimpan
Khairiyah = yang memiliki sifat baik
Khamiilah = beludru
Khansaa- = yang memiliki hidung mancung, wanita baik
Khaulah = rusa betina
Daaniyah = dekat
Diimah = hujan gerimis yang terus menerus
Daumah = kelangsungan
Diinah = taat
Daanah = batu mulia
Dzaakirah = yang selalu ingat
Dzakiyyah = cerdas
Raabihah = yang beruntung
Radhwaa = keridhaan
Rahiiq = minyak wangi
Raihanah = berjiwa baik
Raidah = angin semilir
Rafiidah = yang diberi pertolongan
Rajwaa = permohonan
Rajiyyah = yang diharapkan
Raajihah = yang utama
Raajiyah = yang mengharapkan
Raasiyah = tegar
Raadhiyah = yang rela
Raaqiyah = tinggi
Raaniyah = yang terpukau
Rabwah = tanah mendaki
Rahiil = yang berjalan, nama ibu nabi Yuusuf a.s
Rasmiyyah = sesuai tatanan
Radhiyyah = pandai
Rafii’ah = tinggi
Rifqah = perkumpulan, nama istri nabi Ishaaq a.s
Raudhah = taman yang rindang
Rafiiqah = pendamping
Ranaa = indah, enak dilihat
Riqqah = kelembutan
Zaakiyah = baik, tumbuh
Zaahidah = wanita yang zuhud
Zaahirah = berkilauan
Zaahiyah = indah, berseri
Zubaidah = inti, yang terbaik
Zakiyyah = baik, terpuji
Zahraa- = berseri, bercahaya
Zarqaa- = langit biru, jernih
Zahrah = bunga
Zuhrah = keindahan
Saarah = nyonya, nama istri nabi Ibraahiim a.s
Saajidah = yang bersujud
Saatirah = istri yang menutup aib suaminya
Saalimah = terhindar dari bahaya
Sajaa = tenang
Su’daa = berbahagia
Sa’diyyah = bersifat senang
Sulaafah = anggur yang berair sebelum diperas
Salmaa = selamat, sehat
Sumayyah = berkedudukan tinggi
Suniyyah = berkedudukan tinggi
Saudah = harta melimpah
Sayyidah = nyonya
Saamiyah = terhormat
Saahirah = rembulan
Salsabil = nama mata air di surga
Salwaa = madu
Suhaa = bintang kecil yang berkelap kelip
Sausan = nama bunga yang harum
Syariifah = terhormat
Syafiiqah = yang bersimpati, lemah lembut
Syammaa- = yang berhidung mancung
Syahlaa- = bermata kebiru-biruan
Shibaa = kerinduan, kemudahan
Shafiyyah = jernih, murni
Shaafiyah = jernih
Shadaa = kumandang
Shabiyyah = gadis cilik
Dhifaaf = pinggiran sungai
Dhamrah = bekulit halus
Dhaafiyah = hidup mewah
Thaahirah = suci, mulia
Thariifah = jarang ada
Thallah = cantik, harum
Zhaafirah = beruntung
Zhariifah = wajah yang indah
‘Ulaa = tinggi
‘Alyaa- = tempat yang tinggi
Ghaadah = wanita yang lembut
Ghaaziyah = pejuang
Ghaitsaa- = awan yang menurunkan hujan
Faa-idah = manfaat
Faatihah = permulaan
Farah = kegembiraan
Farhah = yang menggembirakan
Faakihah = buah
Fariidah = mutiara yang tiada bandingnya
Fairuuz = batu permata berwarna biru kehijauan
Faa-izah = yang beruntung
Faadiyah = yang terlindung
Fikriyyah = mengandung unsur pikiran
Fullah = nam a bunga putih yang harum
Fauziyyah = beruntung
Fathiyyah = memiliki sifat kemenangan
Fathiinah = cerdas
Qadriyyah = yang selalu bisa
Qamraa- = cahaya rembulan
Qasiimah = wajah cantik
Kamiilah = yang sempurna
Kifaayah = kecukupan
Kaltsum = wajah cantik
La-aalii = banyak mutiara
Lubaabah = pilihan
Labiibah = cerdas
Lamis = lembut sentuhannya
Lainah = pohon kecil
Lu-lu-ah = mutiara
Lubnaa = jenis pohon yang berair seperti madu
Lajain = perak
Lahfah = kerinduan
Lailaa = malam gelap
Maajidah = mulia, agung
Marjaanah = biji mutiara, batu merah
Mawaddah = kasih sayang
Maasah = batu permata yang mahal
Maa-isah = perawakan yang serasi
Madiihah = terpuji
Muraadah = yang dicintai
Maryam = tinggi (bahasa Suryani)
Masarah = kegembiraan
Miskah = minyak wangi
Mufiidah = yang bermanfaat
Maliihah = cantik
Munaa = harapan
Muniirah = bercahaya
Muniifah = tinggi, serasi
Muhjah = yang terbagus dan indah
Maisuun = bagus, tenang
Maariyah = wajah berseri seri
Maaziyah = awan yang membawa hujan
Nahdah = tinggi, mulia
Najdah = keberanian
Najlaa- = bermata hitam nan indah
Najwaa = bisikan, rahasia
Nahlah = tegukan minum yang pertama
Nuz-hah = tempat yang jauh
Nasmah = semilir angin
Naadirah = jarang ada
Naadiyah = para pendukung, penyeru
Naa-ilah = karunia
Nabiilah = terhormat
Najiibah = utama
Naziihah = terhindar dari hal-hal buruk
Nu’maa = hidup enak
Nafiisah = berharga, diminati
Nuhaa = pikiran
Haajar = istri nabi Ibraahiim a.s
Hanaa- = kegembiraan
Huwaidah = kehalusan
Hayaa = bagus lahiriahnya
Haaniyah = gembira
Haalah = bias cahaya di sekitar bulan
Haifaa- = ramping
Wardah = bunga, mawar
Widaad = kasih sayang
Wasiimah = berwajah cantik
Yamaamah = burung dara
Yamnah = sebelah kanan
Yumnaa = diberkahi, sebelah kanan
Yaaquutah = batu permata warna warni
Yaafi’ah = tinggi, muda

http://edywitanto.wordpress.com/hukum-memberi-nama/nama-buah-hati-wanita/
17.54 | 0 komentar | Read More

Inilah Jenis-Jenis Hati Manusia Menurut Islam


بسم الله الرحمن الرحيم
Pasti diantara kita semua bila keluar je nak kelihatan cantik dan kemas. Tapi itu semua cantik luaran semata-mata. Bagaimana pula dengan dalaman? Bagaimana pula dengan kecantikan hati kita? Bagaimana pula dengan pandangan Allah kepada kita?. Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa paras dan luaran kamu, tetapi Dia melihat hati kamu. Saidina Ali r.a berkata: "Bekas-bekas Allah di dalam dunia ini adalah hati". Hati adalah tempat turunnya rahmat dan ilmu pengetahuan. Para ulama' membahagikan hati kepada 4 bahagian. 

4 Jenis Hati Manusia Menurut Islam.

1~ Hati yang tercemar dengan kekotoran.
Hati yang di dalamnya terdapat kekotoran seperti sifat hasad, sombong, bohong dan sebagainya. Apabila turun rahmat dan ilmu ke dalam hati ini, tercemarlah rahmat tersebut oleh kekotoran yang ada di dalam hati itu. Seperti yang disebut Allah s.w.t: "Tidakkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan mereka dan disesatkan oleh Allah dengan ilmu mereka". Ilmu tetap masuk, tetapi kerana setitis hawa nafsu, ianya dapat mencemarkan selautan ilmu. Inilah perumpamaan bagi hati yang dicemari oleh kekotoran.
2~ Hati yang pecah.
Hati yang pecah adalah hati manusia yang melakukan maksiat. Setiap kali dia melakukan kebaikan, dia akan melakukan maksiat selepas itu. Hadir majlis ilmu di masjid, tetapi bila keluar dari majlis terus mengumpat orang lain. Berzikir dan solat, tetapi tidak menjaga pandangan dan batas pergaulan. Maka tidak sempat pun rahmat yang diturunkan oleh Allah kekal di dalam hatinya melainkan ianya keluar disebabkan maksiat yang dilakukan. 
3~ Hati yang tertutup.
Hati yang tertutup adalah amat bahaya bagi manusia. Bagaimana rahmat Allah nak masuk kedalam hati kita jika ianya tertutup. Hati yang tertutup ini adalah sifat manusia yang suka membangkang. Membangkang Allah, membangkang orang-orang yang soleh dan apabila dia menghadiri satu majlis yang baik, dia akan mencari kesalahan orang. Seperti yang disebut Rasulullah s.a.w: "Empat golongan yang tidak diampunkan dosanya pada bulan Ramadhan, antaranya adalah dosa derhaka kepada ibu bapa, peminum arak, dua orang yang bermusuh dan yang memutuskan silaturrahim. Maka memang tidak akan masuk rahmat ke dalam hatinya.
4~ Hati yang suci.
Harap hati kita semua jenis hati yang ke-4 ni. Hati yang jernih, bersih dan menerima rahmat dari Allah. Hati yang suci ini, jika diisi dengan majlis ilmu, berzikir dan solat maka penuhlah ia dengan rahmat Allah.

Hati ibarat bekas kosong dan rahmat Allah ibarat air, jika elok bekasnya maka eloknya air yang terkandung di dalam bekas, sama-samalah kita merawat hati, harap hati kita semua adalah jenis yang ke-4, tepuk dada tanya iman. Hati adalah organ besar yang terpenting kepada manusia, elok hati, maka sihatlah tubuh badan kita.

6 Cara Merawat Hati Manusia Menurut Islam.

  1. Banyakkan bertaubat.
  2. Membaca Al-Qur'an serta amalkannya.
  3. Jalinkan ukhwah antara manusia.
  4. Perbanyakkan solat malam.
  5. Perbanyakkan puasa sunat.
  6. Banyakkan berzikir.

13 Perkara Yang Menenangkan Hati.

  1. Mengerjakan Solat Wajib di awal waktu.
  2. Mengerjakan solat sunat.
  3. Bersedekah dengan hati yang ikhlas.
  4. Berzikir.
  5. Menolong orang yang susah.
  6. Beriktikaf di dalam masjid.
  7. Mendengar ceramah agama.
  8. Membaca Al-Qur'an dan memahami isinya.
  9. Berpuasa sunat.
  10. Menolong ibu bapa.
  11. Memaafkan orang lain dan meminta maaf jika ada kesalahan.
  12. Mendoakan kesejahteraan semua orang.
  13. Bersangka baik sesama makhluk.

P/s: Salam Jumaat, inshaa'Allah semoga perkongsian ambe ni bermanfaat la kepada semua. Apa yang dikongsikan di atas adalah dari tazkirah yang ambe dengar daripada Ustaz Habib Mohammad Alsaggaf. Yang baik sama-samalah kita ambil dan yang buruk kita buang jauh-jauh. Wassalam =)
 
http://minus-ska.blogspot.com/2013/11/jenis-jenis-hati-manusia-menurut-islam.html
17.52 | 0 komentar | Read More

INILAH TANDA-TANDA HATI BERSIH MENURUT ALLAH


http://183.78.169.91/extra/malfren/attachment/201204/29/91136_1335717160tPdZ.jpg
Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya di dalam diri manusia ada segumpal darah (hati), apabila hati itu baik maka baik pula seluruh diri dan amal perbutan manusia dan apabila hati itu rusak, maka rusaklah seluruh diri (amal perbuatan manusia tersebut). Ingatlah, ia adalah hati.”
(Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Nu’man Ibn Basyir ra).
Saudaraku disayangi Allah SWT, meskipun tidak seorangpun yang mengetahui isi hati orang lain kecuali Allah SWT dan dirinya sendiri, hati yang bersih mempunyai tanda-tanda yang nampak dizhahirnya. Sebab hati yang baik dan suci akan melahirkan amal ibadah yang shaleh dan tindak tanduk yang baik.
Tanda-tanda hati yang suci sebagaimana disinggung dalam Al-Qur’an bisa disebutkan sebagai berikut:
TENTRAM APABILA DZIKIR KEPADA ALLAH
Seperti dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an surat AR-RAD: 28, yang berbunyi:
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.”
GEMETAR HATI BILA INGAT ALLAH
Seperti dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an surat AL-ANFAL: 2, yang berbunyi:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal.”
dan Surat AL-HAJJ: 34-35, yang berbunyi:
“...Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka.”
BERKOMPETISI DALAM KEBAIKAN
Seperti dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an surat AL-MU’MINUN: 60-61, yang berbunyi:
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaik an, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.”
MENGAGUNGKAN SYIAR-SYIAR ISLAM
seperti dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an surat AL-HAJJ: 32, yang berbunyi:
“...Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.”
TIDAK MENCINTAI DAN TIDAK LOYAL PADA PENENTANG ALLAH DAN RASULNYA
seperti dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an surat AL-MUJADILAH: 22, yang berbunyi:
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat) Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.”
TIDAK DENGKI KEPADA SAUDARA ISLAM
Seperti dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an surat AL-HASYR: 10, yang berbunyi:
“Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”
Dan Surat AL-HIJR: 47, yang berbunyi:
“Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara….”
TIDAK MENGHARAPKAN BALASAN
Seperti dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an surat AL-HASYR: 9, yang berbunyi:
“Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Ansar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
KEIMANAN SENANTIASA BERTAMBAH
Seperti dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an surat AL-FATH: 4 yang berbunyi:
“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)…”
SENANG MENGIKUTI PETUNJUK AL-QUR’AN
Seperti dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an surat AZ-ZUMAR: 22-23, yang berbunyi:
“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya.”
Dan surat AL-‘ANKABUT: 49, yang berbunyi:
“Sebenarnya, Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami, kecuali orang-orang yang zhalim.”
HIDAYAH SEMAKIN BERTAMBAH
Seperti dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an surat MUHAMMAD: 16-17, yang berbunyi:
“Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu sehingga apabila mereka keluar dari sisimu mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi): 'Apakah yang dikatakannya tadi?' Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka. Dan orang-orang yang mendapat petunjuk Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya.”
Dan Allah hanya menerima hati yang bersih yaitu hati yang selamat (qalbun salim)... Seperti di firmankan Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Fajr: 27-30, yang artinya:
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya...
SHARE agar kebaikan terus menyebar
https://id-id.facebook.com/cintaduniaislam/posts/194077440733367
17.48 | 0 komentar | Read More

( Artikel Islami ) Riyadhus Shalihin : " Murah Hati Dan Dermawan Serta Membelanjakan Dalam Arah Kebaikan Dengan Percaya Penuh Kepada Allah Ta'ala

http://m6.flexmedia.co.id/wp-content/uploads/2013/01/dermawan.jpg 
Riyadhus Shalihin :  "  Murah Hati Dan Dermawan Serta Membelanjakan Dalam Arah Kebaikan Dengan Percaya Penuh Kepada Allah Ta'ala "

Allah Ta'ala berfirman: "Dan apa saja yang engkau semua nafkahkan, maka Allah akan menggantinya." (Saba': 39)

Allah Ta'ala juga berfirman: "Dan barang-barang baik -dari rezeki- yang engkau semua nafkahkan itu adalah untuk dirimu sendiri dan engkau semua tidak menafkahkannya melainkan karena mengharapkan keridhaan Allah, juga barang-barang baik yang engkau semua nafkahkan itu, niscaya akan dibalas kepadamu dan tidaklah engkau semua dianiaya." (al-Baqarah: 272)

Allah Ta'ala berfirman lagi: "Dan barang-barang baik yang berupa apapun juga yang engkau semua nafkahkan, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui." (al-Baqarah: 273)

Dari Ibnu Mas'ud r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Tiada kehasudan yang dibolehkan melainkan dalam dua macam perkara, yaitu: seorang yang dikarunia oleh Allah akan harta, kemudian ia mempergunakan guna menafkahkannya itu untuk apa-apa yang hak -kebenaran- dan seorang yang dikaruniai oleh Allah akan ilmu pengetahuan, kemudian ia memberikan keputusan dengan ilmunya itu -antara dua orang atau dua golongan yang berselisih- serta mengajarkannya pula." (Muttafaq 'alaih)

Artinya ialah bahwa seorang itu tidak patut dihasudi atau iri kecuali dalam salah satu kedua perkara di atas itu.

Dari Ibnu Mas'ud r.a. pula katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Siapakah diantara engkau semua yang harta orang yang mewarisinya itu dianggap lebih disukai daripada hartanya sendiri?" Para sahabat menjawab: "Ya Rasulullah, tiada seorangpun dari kita ini, melainkan hartanya adalah lebih dicintai olehnya." Kemudian beliau s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya hartanya sendiri ialah apa yang telah terdahulu digunakannya, sedang harta orang yang mewarisinya adalah apa-apa yang ditinggalkan olehnya -setelah matinya." (Riwayat Bukhari)

Keterangan:
Maksudnya yang telah terdahulu digunakannya, misalnya yang dipakai untuk makan minumnya, pakaiannya, perumahannya atau yang diberikan untuk sedekah atau lain-lain yang berupa pertolongan kesosialan. Selebihnya tentulah akan ditinggalkan, jika telah meninggal dunia. Oleh sebab itu hadits di atas secara tidak langsung memberikan sindiran kepada kita kaum Muslimin agar harta yang ada di tangan kita yang sebenarnya hanya titipan dari Allah Ta'ala itu, supaya gemar kita nafkahkan untuk jalan kebaikan, semasih kita hidup di dunia ini. Dengan demikian kemanfaatannya akan dapat kita rasakan setelah kita ada di akhirat nanti.

Dari 'Adi bin Hatim r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Takutlah engkau semua dari siksa api neraka, sekalipun dengan menyedekahkan potongan kurma." (Muttafaq 'alaih)

Dari Jabir r.a., katanya: "Tiada pernah sama sekali Rasulullah s.a.w. itu dimintai sesuatu, kemudian beliau berkata: "Jangan." (Muttafaq 'alaih)

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tiada seharipun yang sekalian hamba berpagi-pagi pada hari itu, melainkan ada dua malaikat yang turun. Seorang diantara keduanya itu berkata: "Ya Allah, berikanlah kepada orang yang menafkahkan itu akan gantinya," sedang yang lainnya berkata: "Ya Allah, berikanlah kepada orang yang menahan -tidak suka menafkahkan hartanya- itu kerusakan -yakni hartanya menjadi habis-." (Muttafaq 'alaih)

Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Allah Ta'ala berfirman -dalam hadits Qudsi-: "Belanjakanlah -hartamu-, pasti engkau diberi nafkah -harta oleh Tuhan-." (Muttafaq 'alaih)

Dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiallahu 'anhuma bahwasanya ada seorang lelaki yang bertanya kepada Rasulullah s.a.w.: "Manakah di dalam Islam itu amalan yang terbaik?" Beliau s.a.w. bersabda: "Engkau memberikan makanan serta mengucapkan salam kepada orang yang engkau ketahui dan orang yang tidak engkau ketahui." (Muttafaq 'alaih)

Dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash r.a. pula, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Ada empat puluh macam amalan dan setinggi-tingginya adalah meminjamkan kambing -untuk diambil susunya-. Tiada seorang yang mengamalkan dengan satu perkara daripada empat puluh macam perkara itu, melainkan Allah Ta'ala akan memasukkannya dalam syurga." (Riwayat Bukhari) Keterangan hadits ini sudah terdahulu dalam bab Banyaknya Jalan-jalan Kebaikan -lihat hadits no.138-.

Dari Abu Umamah Shuday bin 'Ajlan r.a. katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Hai anak Adam, sesungguhnya jikalau engkau memberikan apa-apa yang kelebihan padamu, sebenarnya hal itu adalah lebih baik untukmu dan jikalau engkau tahan -tidak engkau berikan kepada siapapun-, maka hal itu adalah menjadikan keburukan untukmu. Engkau tidak akan tercela karena adanya kecukupan -maksudnya menurut syariat engkau tidak dianggap salah, jikalau kehidupanmu itu dalam keadaan yang cukup dan tidak berlebih-lebihan. Lagi pula mulailah -dalam membelanjakan nafkah- kepada orang yang wajib engkau nafkahi. Tangan yang bagian atas adalah lebih baik daripada tangan yang bagian bawah -yakni yang memberi itu lebih baik daripada yang meminta-." (Riwayat Muslim)

Dari Anas r.a., katanya: "Tiada pernah Rasulullah s.a.w. itu diminta untuk kepentingan Islam, melainkan tentu memberikan pada yang memintanya itu. Sesungguhnya  pernah ada seorang lelaki datang kepada beliau s.a.w., kemudian beliau memberinya sekelompok kambing yang ada diantara dua gunung -yakni karena banyaknya hingga seolah-olah memenuhi dataran yang ada diantara dua gunung-. Orang itu lalu kembali kepada kaumnya kemudian berkata: "Hai kaumku, masuklah engkau semua dalam Agama Islam, sebab sesungguhnya Muhammad memberikan sesuatu pemberian sebagai seorang yang tidak takut akan kemiskinan." Sekalipun lelaki itu masuk Islam dan tiada yang dikehendaki olehnya melainkan harta dunia, tetapi tidak lama kemudian Agama Islam itu baginya adalah lebih ia cintai daripada dunia dan segala sesuatu yang ada di atasnya ini -yakni Islamnya amat baik dan sebenar-benarnya-." (Riwayat Muslim)

Dari Umar r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. membagikan suatu pembagian, lalu saya berkata: "Ya Rasulullah, sebenarnya selain yang Tuan beri itulah yang lebih berhak daripada mereka yang Tuan beri itu." Beliau lalu bersabda: "Sebenarnya mereka itu -yakni yang diberi- memberikan pilihan kepadaku, apakah mereka itu meminta padaku dengan jalan yang tidak baik -seolah memaksa-maksa-, kemudian saya memberikan sesuatu pada mereka ataukah mereka menyuruh saya untuk berlaku kikir, sedangkan saya ini bukanlah seorang yang kikir." (Riwayat Muslim)

Dari Jubair bin Muth'im r.a. bahwasanya ia berkata, ia pada suatu ketika berjalan bersama Nabi s.a.w. ketika pulang dari peperangan Hunain, kemudian mulailah ada beberapa orang A'rab -penduduk pedalaman- meminta-minta kepada beliau, sehingga beliau itu dipaksanya sampai kesebuah pohon samurah, lalu pohon tersebut menyambar selendangnya -yakni selendang beliau itu terikat oleh duri-durinya-. Selanjutnya Nabi s.a.w. berdiri -sambil memegang kendali untanya- lalu bersabda: "Berikanlah padaku selendangku. Andaikata saya mempunyai ternak sebanyak hitungan duri-duri pohon ini, sesungguhnya semuanya itu akan saya bagikan kepadamu, selanjutnya engkau semua tidak akan menganggap saya sebagai seorang kikir, pendusta atau pengecut." (Riwayat Bukhari)

Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tidaklah sesuatu pemberian sedekah itu mengurangi banyaknya harta. Tidaklah Allah itu menambahkan seorang akan sifat pengampunannya, melainkan ia akan bertambah pula kemuliaannya. Juga tidaklah seorang itu merendahkan diri karena mengharapkan keridhaan Allah, melainkan ia akan diangkat pula derajatnya oleh Allah 'Azzawajalla. (Riwayat Muslim)

Dari Abu Kabsyah, yaitu Umar bin Sa'ad al-Anmari r.a. bahwasanya ia mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Ada tiga perkara yang saya bersumpah atasnya dan saya memberitahukan kepadamu semua akan suatu Hadis, maka peliharalah itu: Tidaklah harta seorang itu akan menjadi berkurang sebab disedekahkan, tidaklah seorang hamba dianiaya dengan suatu penganiayaan dan ia bersabar dalam menderitanya, melainkan Allah menambahkan kemuliaan padanya, juga tidaklah seorang hamba itu membuka pintu permintaan, melainkan Allah membuka untuknya pintu kemiskinan," atau sabda beliau s.a.w. merupakan kalimat lain yang senada dengan uraian di atas. "Saya akan memberitahukan lagi kepadamu semua suatu hadits maka peliharalah itu: Sesungguhnya dunia ini untuk empat macam golongan orang yaitu: Seorang hamba yang dikarunia rezeki oleh Allah berupa harta dan ilmu pengetahuan, kemudian ia bertaqwa kepada Tuhannya dan mempererat hubungan kekeluargaan serta mengetahui pula haknya Allah dalam apa yang dimilikinya itu, maka ini adalah tingkat yang seutama-utamanya, juga seorang hamba yang dikaruniai ilmu pengetahuan tetapi tidak dikaruniai harta, kemudian orang itu benar keniatannya, lalu ia berkata: "Andaikata saya mempunyai harta, niscaya saya akan melakukan sebagaimana yang dilakukan si Fulan itu -dalam hal kebaikan-, maka orang tadi karena keniatannya tadi, pahalanya sama antara ia dengan orang yang akan dicontohnya. Ada pula seorang hamba yang dikarunia harta tetapi tidak dikarunia ilmu pengetahuan, kemudian ia menubruk -mempergunakan- hartanya dalam hal-hal yang tidak dimakluminya -secara awur-awuran atau sembarangan dan boros- serta ia tidak pula bertaqwa kepada Tuhannya dan tidak suka mempereratkan tali kekeluargaannya, bahkan tidak pula mengetahui hak-hak Allah dalam hartanya itu, maka orang semacam ini adalah dalam tingkat yang seburuk-buruknya, juga seorang hamba yang tidak dikarunia harta dan tidak pula ilmu pengetahuan, lalu ia berkata: "Andaikata saya mempunyai harta sesungguhnya saya akan melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh si Fulan -yang memboroskan hartanya tersebut dalam hal keburukan-, maka orang itu karena keniatannya adalah sama dosanya antara ia sendiri dengan orang yang akan dicontohnya itu." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih.

Dari Aisyah radhiallahu 'anha bahwasanya para sahabat sama menyembelih kambing -lalu mereka sedekahkan kecuali belikatnya-, kemudian Nabi s.a.w. bertanya: "Bagian apakah yang tertinggal dari kambing itu?" Aisyah menjawab: "Tidak ada yang tertinggal daripadanya, melainkan belikatnya." Beliau lalu bersabda: "Sesungguhnya semua anggotanya itu masih tertinggal, kecuali belikatnya yang tidak." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits shahih. Maknanya ialah supaya disedekahkanlah semuanya kecuali belikatnya, maka sabda beliau s.a.w. itu jelasnya ialah bahwa di akhirat semua itu masih tetap ada pahalanya -sebab disedekahkan- kecuali belikatnya yang tidak ada pahalanya -karena dimakan sendiri-.

Dari Asma' binti Abu Bakar as-Shiddiq radhiallahu 'anhuma, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda kepadaku: "Jangan engkau menyimpan apa-apa yang ada di tanganmu, sebab kalau demikian maka Allah akan menyimpan terhadap dirimu -yakni engkau tidak diberi rezeki lagi-." Dalam riwayat lain disebutkan: "Nafkahkanlah, atau berikanlah atau sebarkanlah dan jangan engkau menghitung-hitungnya, sebab kalau demikian maka Allah akan menghitung-hitungkan karunia yang akan diberikan padamu. Jangan pula engkau mencegah -menahan untuk memberikan sesuatu-, sebab kalau demikian maka Allah akan mencegah pemberianNya padamu." (Muttafaq 'alaih)

Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya ia mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Perumpamaan orang kikir dan orang yang suka menafkahkan itu adalah seperti dua orang lelaki yang di tubuhnya ada dua buah baju kurung dari besi -masing-masing sebuah-, antara dua susunya dengan tulang lehernya. Adapun orang yang suka menafkahkan, maka tidaklah ia menafkahkan sesuatu, melainkan makin sempurnalah atau mencukupi seluruh kulitnya sampai-sampai menutupi tulang-tulang jari-jarinya, bahkan menutupi pula bekas-bekasnya -ketika berjalan-. Adapun orang kikir maka tidaklah ia menginginkan hendak menafkahkan sesuatu, melainkan makin melekatlah setiap kolongan -ruang kosong- itu pada tempatnya. Ia hendak meluaskan kolongan tadi, tetapi tidak dapat melebar." (Muttafaq 'alaih) Aljubbah atau Addir'u artinya baju kurung. Artinya ialah bahwa seorang yang suka membelanjakan itu setiap ia menafkahkan sesuatu, maka makin sempurna dan memanjanglah sehingga tertariklah pakaian yang dikenakannya itu sampai ke belakangnya, sehingga dapat menutupi kedua kaki serta bekas jalan dan langkah-langkahnya.

Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa bersedekah dengan sesuatu senilai sebiji buah kurma yang diperolehnya dari hasil kerja yang baik -bukan haram- dan memang Allah itu tidak akan menerima kecuali yang baik. Maka sesungguhnya Allah akan menerima sedekah orang itu dengan tangan kanannya -sebagai kiasan kekuasaanNya-, kemudian memperkembangkan pahala sedekah tersebut untuk orang yang melakukannya, sebagaimana seorang dari engkau semua memperkembangkan anak kudanya sehingga menjadi seperti gunung -yakni memenuhi lembah gunung karena banyaknya-." (Muttafaq 'alaih) Alfaluwwu dengan fathahnya fa' dan dhammahnya lam serta syaddahnya wawu, ada juga yang mengucapkan dengan kasrahnya fa', sukunnya lam serta diringankannya wawu yakni wawunya tidak disyaddahkan -dan berbunyi Alfilwu-, artinya anak kuda.

Keterangan:
Hadis di atas menurut uraian Imam al-Maziri diartikan sebagai perumpamaan yakni yang lazim berlaku di kalangan bangsa Arab. Misalnya dalam percakapan mereka sehari-hari untuk memudahkan pengertian. Jadi seperti sedekah yang benar-benar diterima oleh Allah, lalu dikatakan "diterima dengan tangan kanannya," juga seperti perlipat gandaan pahala, dikatakan dengan "perawatan atau pemeliharaan yang sebaik-baiknya." Imam Tirmidzi berkata: "Para alim-ulama ahlus sunnah wal jama'ah berkata: "Kita semua mengimankan apapun yang terkandung dalam hadits itu dan tidak perlu kita fahamkan sebagai perumpamaan, namun demikian kitapun tidak akan menanyakan dan tidak pula memperdalamkan: "Jadi bagaimana wujud sebenarnya?" Misalnya mengenai tangan kanan Tuhan, perawatan dan pemeliharaan yang dilakukan olehNya dan lain-lain sebagainya."

Dari Abu Hurairah r.a. pula dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Pada suatu ketika ada seorang lelaki berjalan di suatu tanah lapang -yang tidak berair-, lalu ia mendengar suatu suara dalam awan: "Siramlah kebun si Fulan itu!" Kemudian menyingkirlah awan itu menuju ke tempat yang ditunjukkan, lalu menghabiskan airnya di atas tanah lapang berbatu hitam itu. Tiba-tiba sesuatu aliran air dari sekian banyak aliran airnya itu mengambil air hujan itu seluruhnya, kemudian orang tadi mengikuti aliran air tersebut. Sekonyong-konyong tampaklah olehnya seorang lelaki yang berdiri di kebunnya mengalirkan air itu dengan alat keruknya. Orang itu bertanya kepada pemilik kebun: "Hai hamba Allah, siapakah nama Anda?" Ia menjawab: "Namaku Fulan," dan nama ini cocok dengan nama yang didengar olehnya di awan tadi. Pemilik kebun bertanya: "Mengapa Anda tanya nama saya?" Orang itu menjawab: "Sesungguhnya saya tadi mendengar suatu suara di awan yang inilah air yang turun daripadanya. Suara itu berkata: "Siramlah kebun si Fulan itu! Nama itu sesuai benar dengan nama Anda. Sebenarnya apakah yang Anda lakukan?" Pemilik kebun menjawab: "Adapun Anda menanyakan semacam ini, karena sesungguhnya saya selalu melihat -memperhatikan benar-benar- jumlah hasil yang keluar dari kebun ini. Kemudian saya bersedekah dengan sepertiganya, saya makan bersama keluarga saya yang sepertiganya dan saya kembalikan pada kebun ini yang sepertiganya pula -untuk bibit-bibitnya-." (Riwayat Muslim)
https://id-id.facebook.com/notes/kumpulan-hadits-nabi-muhammad-saw/riyadhus-shalihin-murah-hati-dan-dermawan-serta-membelanjakan-dalam-arah-kebaika/310990375578774
17.46 | 0 komentar | Read More

Ketahuilah Hukum dan Tata Cara Melaksanakan Sholat Taubat

Tanya:
Kapankah pelaksanaan shalat taubat? Berapa jumlah rakaat? Dan doa apa saja yang harus dibaca?

Jawab:
Riwayat shalat taubat adalah dari ‘Ali bin Abi Thâlib radhiyallahu ‘anhu, dari Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,


مَا مِنْ رَجُلٍ يَذْنَبُ ذَنْبًا، ثُمَّ يَقُوْمُ فَيَتَطَهَّرُ ثُمَّ يُصَلِّيْ (فِيْ رِوَايَةٍ: ثُمَّ يُصَلِّيْ رَكْعَتَيْنِ) ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللهَ إِلَّا غَفَرَ اللهُ لَهُ، ثُمَ قَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ {وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ}

“Tidak seorangpun melakukan suatu dosa lalu ia bangkit untuk berthaharah lalu sholat (Dalam satu riwayat: kemudian dia sholat dua raka’at) kemudian dia beristighfar (memohon ampun) kepada Allah kecuali Allah akan mengampuninya. Lalu beliau membaca ayat ini, ‘Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.’.”
[Diriwayatkan  oleh Ibnu Abi Syaibah 2/159/7642, Ahmad 1/2, 8 dan 10 dan dalam Fadhâ`il Ash-Shahâbah no. 142 dan 642, Al-Humaidy 1/2 dan 4, Ath-Thayâlisy no. 1, Abu Daud 2/86/1521, At-Tirmidzy 2/257/406 dan 5/228/3006, An-Nasa`i dalam Al-Kubrâ 6/109/10247, 6/110/10250 dan 6/315/11078 dan dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 414 dan 417, Ibnu Majah 1/446/1395, Husain bin Hasan Al-Marwazy dalam Zawâ`iduz Zuhd no. 1088, Ibnu Jarir dalam tafsirnya 4/96, Abu Ya’la no.1 dan 11-15, Ibnu Hibban 2/389-390/623 -Al-Ihsan-, Al-Baihaqy dalam Syu’abul Îmân 5/401-402/7077-7078, Dhiya` Al-Maqdasy dalam Al-Mukhtârah 1/82-86/7-11 dan Ibnu ‘Ady dalam Al-Kâmil 1/430. Semuanya dari jalan ‘Utsman bin Al-Mughirah dari ‘Ali bin Rabi’ah dari Asma` bin Al-Hakam dari Ali bin Abi Thâlib.
Ad-Dzahaby menghasankan dalam Tadzkîratul Huffâzh 1/11 dan Ibnu Katsir dalam tafsirnya.
Ibnu ‘Adi berkata setelah menyebutkan dua jalan bagi hadits diatas, “Hadits ini jalannya hasan dan saya berharap ia adalah shahih”.
Imam Ad-Dâraquthny dalam ‘Ilal-nya 1/176-180 menyebutkan beberapa perselisihan tentang hadits di atas lalu beliau menegaskan bahwa jalan ‘Utsman bin Al-Mughirah yang paling baik sanadnya dan paling Shahîh.
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata tentang hadits di atas dalam biografi Asma` bin Al-Hakam dari Tahdzîbut Tahdzîb : “Jayyidul Isnad (Baik sanadnya)”.
Syaikh Al-Albâny menshahihkannya dalam Shahîh At-Targhîb Wat Tarhîb 1/427/680.
‘Utsmân bin Al-Mughîrah ada mutâba’ah (penguat/pendukung) dari Mu’âwiyah bin Abil ‘Abbâs sebagaimana dalam riwayat Ath-Thabarâny di Mu’jamul Ausath 1/185/584, Abu Bakr Al-Ismâ’ily dalam Mu’jam Syuyûkh-nya 2/697 dan Al-Khathîb Al-Baghdâdy dalam Mûdhih Auwam Al-Jam’i wat Tafrîq 2/490.]

Ada beberapa fiqih yang bisa dipetik dari hadits di atas,
  1. Terdapat syari’at pelaksanaan shalat taubat.
  2. Bentuk pelaksanaannya: berwudhu dengan baik, lalu shalat dua raka’at kemudian Istigfar (memohon pengampunan) kepada Allah.
  3. Karena tidak ada tuntunan khusus tentang bagaimana shalat dua raka’at itu, maka asalnya sama dengan shalat sunnah lainnya.
  4. Tidak ada riwayat yang shahih yang menunjukkan bacaan surah khusus setelah Al-Fatihah pada dua raka’at tersebut maka asalnya boleh membaca apa saja dari surah yang mudah baginya.
  5. Al-Mubarakfury berkata dalam Tuhfatul Ahwadzy 2/368 (Cet. Darul Kutub), “Yang diinginkan dengan Istighfar  adalah bertaubat disertai penyesalan, meninggalkan (dosa tersebut), ber-‘Azm (berniat dengan sungguh-sungguh) untuk tidak mengulanginya selama-lamanya dan mengembalikan hak-hak (orang lain) kalau memang hal tersebut terjadi.”
Wallâhu A’lam.

Sumber: Dzulqarnain.net
17.42 | 0 komentar | Read More

Inilah Tuntunan Islam Dalam Membalas Kebaikan

Para pembaca rahimakumullah, berterima kasih atas pemberian orang lain adalah perangai terpuji. Setiap muslim hendaknya menghiasi diri dengannya. Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman (artinya):

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).”
(Ar-Rahman: 60)
Adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan umatnya agar membalas kebaikan orang lain, sebagaimana sabdanya:

“Barangsiapa diperlakukan baik (oleh orang), hendaknya ia membalasnya. Apabila ia tidak mendapatkan sesuatu untuk membalasnya, hendaknya ia memujinya. Jika ia memujinya, maka ia telah berterima kasih kepadanya; namun jika menyembunyikannya, berarti ia telah mengingkarinya…”
(HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad. Lihat Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 157)

Pada umumnya, seseorang merasa berat hati untuk mengeluarkan tenaga, harta, waktu, dan yang semisalnya jika tidak ada imbal balik darinya. Oleh karena itu, barangsiapa yang mencurahkan semua itu untuk saudaranya dengan hati yang tulus, orang seperti ini berhak dibalas kebaikannya dan disyukuri pemberiannya.

Apabila kita diperintahkan untuk berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepada kita dan memaafkannya, tentu balasan orang yang berbuat baik kepada kita hanyalah kebaikan.

Perlu diketahui juga, dalam Islam orang yang memberi lebih baik daripada orang yang menerima. Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Tangan yang di atas (pemberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (penerima pemberian).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, hendaknya kita menjadi umat yang suka memberi daripada banyak menerima. Jika kita menerima pemberian, berbalas budilah!, karena seperti itulah contoh dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam menerima hadiah (pemberian selain shadaqah) dan membalasnya.” (Shahih Al-Bukhari no. 2585)

Berbalas budi –di samping merupakan perangai yang disukai oleh Islam dan terpuji di tengah masyarakat– adalah salah satu cara untuk mencegah timbulnya keinginan mengungkit-ungkit pemberian yang bisa membatalkan amal pemberiannya.

Bentuk Balas Budi

Bentuk membalas kebaikan orang sangat banyak ragam dan bentuknya. Tentu saja setiap orang membalas sesuai dengan keadaan dan kemampuannya. Jika seseorang membalas dengan yang sepadan atau lebih baik, inilah yang diharapkan. Jika tidak, maka memuji orang yang memberi di hadapan orang lain, mendoakan kebaikan, dan memintakan ampunan baginya, juga merupakan bentuk membalas kebaikan orang.

Dahulu, orang-orang Muhajirin datang kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dengan mengatakan, “Wahai Rasulullah, orang-orang Anshar telah pergi membawa seluruh pahala. Kami tidak pernah melihat suatu kaum yang paling banyak pmberiannya dan paling bagus bantuannya pada saat kekurangan selain mereka. Mereka juga telah mencukupi kebutuhan kita.” Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Bukankah kalian telah memuji dan mendoakan mereka?” Para Muhajirin menjawab, “Iya.” Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Itu dibalas dengan itu.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa`i. Lihat Shahih At-Targhib no. 963)

Maksudnya, selagi orang-orang Muhajirin memuji orang-orang Anshar karena kebaikan mereka, para Muhajirin telah membalas kebaikan mereka.
Di antara bentuk pujian yang paling bagus untuk orang yang berbuat baik adalah ucapan:
جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا
“Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.”
Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Barangsiapa diperlakukan baik lalu ia mengatakan kepada pelakunya,
جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا
“Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan,” ia telah tinggi dalam memujinya.” (Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2035, cet. Al-Ma’arif)

Mensyukuri yang Sedikit Sebelum yang Banyak
Seseorang belum dikatakan mensyukuri Allah Subhanallahu wa Ta’ala jika belum berterima kasih terhadap kebaikan orang. Hal ini seperti yang disabdakan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam:

“Tidak bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterima kasih kepada manusia.”
(HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dan Abu Dawud dalam Sunan-nya)
Hadits ini mengandung dua pengertian:
1. Orang yang tabiat dan kebiasaannya tidak mau berterima kasih terhadap kebaikan orang, biasanya ia juga mengingkari nikmat Allah Subhanallahu wa Ta’ala dan tidak mensyukuri-Nya.
2. Allah Subhanallahu wa Ta’ala tidak menerima syukur hamba kepada-Nya apabila hamba tersebut tidak mensyukuri kebaikan orang, karena dua hal ini saling berkaitan.

Ini adalah makna ucapan Al-Imam Al-Khatthabi v seperti disebutkan dalam ‘Aunul Ma’bud (13/114, cet. Darul Kutub Al-Ilmiyah).
Orang yang tidak bisa mensyukuri pemberian orang meskipun hanya sedikit, bagaimana ia akan bisa mensyukuri pemberian Allah Subhanallahu wa Ta’ala yang tak terbilang?! Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman (artinya):
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.” (An-Nahl: 18)

Orang-orang yang Harus Disyukuri Pemberiannya

Di antara manusia yang wajib disyukuri kebaikannya adalah kedua orang tua. Ini sebagaimana firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala (artinya):

“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu.”
(Luqman: 14)

Kedua orang tua telah mengorbankan semua miliknya demi kebaikan anaknya. Mereka siap menanggung derita karena ada seribu asa untuk buah hatinya. Oleh karena itu, sebaik apa pun seorang anak menyuguhkan berbagai pelayanan kepada kedua orang tuanya, belumlah mempu membalas kebaikan mereka, kecuali apabila mereka tertawan musuh atau diperbudak lalu sang anak membebaskannya dan memerdekakannya. Hak kedua orang tua sangatlah besar sehingga sangat besar pula dosa yang ditanggung oleh seseorang manakala mendurhakai kedua orang tuanya.

Demikian pula, kewajiban seorang istri untuk berterima kasih kepada suaminya sangatlah besar. Seorang suami telah bersusah-payah mencarikan nafkah serta mencukupi kebutuhan anak dan istrinya. Oleh karena itu, seorang istri hendaknya pandai-pandai berterima kasih atas kebaikan suaminya. Jika tidak, ia akan diancam dengan api neraka.

Dahulu ketika melakukan shalat gerhana, diperlihatkan surga dan neraka kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Diperlihatkan kepada beliau api neraka yang ternyata kebanyakan penghuninya adalah wanita. Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam menyebutkan bahwa sebabnya adalah mereka banyak melaknat dan mengingkari kebaikan suaminya. (Lihat Shahih Muslim no. 907)

Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam
bersabda:
“Wahai para wanita, bersedekahlah kalian dan perbanyaklah istighfar (memohon ampunan kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala), karena aku melihat kalian sebagai penghuni neraka terbanyak.”
Ketika Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam menyampaikan wasiat tersebut, ada seorang wanita bertanya, “Mengapa kami menjadi mayoritas penghuni neraka?” Beliau menjawab, “Kalian banyak melaknat dan mengingkari (kebaikan) suami.” (Mukhtashar Shahih Muslim no. 524)

Apabila seorang istri disyariatkan untuk mengingat kebaikan suaminya, demikian pula seorang suami hendaknya mengingat-ingat kebaikan istrinya.
Adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam senantiasa mengingat-ingat jasa dan perjuangan istrinya tercinta, Khadijah bintu Khuwailid radhiyallahu ‘anha. Hal ini seperti yang disebutkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Aku belum pernah merasa cemburu terhadap istri-istri Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam seperti cemburuku atas Khadijah radhiyallahu ‘anha, padahal aku belum pernah melihatnya. Akan tetapi, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam sering menyebutnya. Terkadang beliau menyembelih kambing lalu memotong bagian kambing itu dan beliau kirimkan kepada teman-teman Khadijah radhiyallahu ‘anhu. Terkadang aku berkata kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, ‘Seolah tidak ada wanita di dunia ini selain Khadijah!’ Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam lalu bersabda, ‘Sesungguhnya Khadijah dahulu begini dan begitu (beliau menyebut kebaikannya dan memujinya). Saya juga mempunyai anak darinya’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dari hadits di atas diketahui bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam sering mengingat-ingat kebaikan istri beliau yang pertama yang memiliki setumpuk kebaikan. Dialah Khadijah radhiyallahu ‘anha. Ia termasuk orang yang pertama masuk Islam, membantu Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dengan hartanya, dan mendorong Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam untuk senantiasa tegar menghadapi setiap masalah. Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim selalu menjaga kebaikan istrinya, temannya, dan kawan pergaulannya dengan mengingat-ingat kebaikan mereka dan memujinya.

Ada contoh lain dari praktik salaf umat ini dalam membalas kebaikan orang lain. Shahabat Jarir bin Abdillah Al-Bajali radhiyallahu ‘anhu sangat kagum dengan pengorbanan orang-orang Anshar. Oleh karena itu, ketika melakukan perjalanan dengan shahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu –yang termasuk orang Anshar–, beliau memberikan pelayanan dan penghormatan kepada Anas radhiyallahu ‘anhu, padahal beliau lebih tua darinya. Anas radhiyallahu ‘anhu menegur Jarir radhiyallahu ‘anhu supaya tidak memperlakukan dirinya dengan perlakuan istimewa. Akan tetapi, Jarir radhiyallahu ‘anhu beralasan bahwa orang-orang Anshar telah banyak berbuat baik kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, sehingga ia (Jarir radhiyallahu ‘anhu) bersumpah akan memberikan pelayanan dan penghormatan kepada orang-orang Anshar. (Lihat Shahih Muslim no. 2513)

Wallahu Ta’ala A’lam Bishshowab.

Oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Mu’thi y

Sumber :buletin-alilmu.com
Judul asli: Membalas Kebaikan
17.38 | 0 komentar | Read More

Gaya Baru Saya Dengan Topi Di Kepala

Written By Situs Baginda Ery (New) on Rabu, 26 Maret 2014 | 13.32

Admin Sekali-Sekali Mencoba Eksis Di Dunia Blogger :D





bagindaery.blogspot.com



bagindaery.blogspot.com