GOOGLE TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

ARTIKEL PILIHAN

SOSIAL DAN BUDAYA: Selamat Hari Natal, Lonceng Gereja dan Suara Azan

Written By Situs Baginda Ery (New) on Rabu, 25 Desember 2013 | 11.44

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEil9x7xgx68k0mnxiqG5Rd4Q-kxZLh-t2CuJpxPo7wBAWGG04l9k5sdP4HH_wO2WgIc1tguIYyo_x6YuN17lpPpPd59C2GKEVt4-oC8TsRGKI2mG3-1Mrv30dqLn0yFgx7b6pzQzQQrA35N/s1600/salju.PNG




http://sosbud.kompasiana.com/2013/12/25/selamat-hari-natal-lonceng-gereja-dan-suara-azan-622568.html
Sangat menarik artikel berjudul Ganti “Selamat Hari Natal” dengan “Selamat Hari Raya”. Gitu Aja Kok Repot? yang ditulis oleh Carolkwms. Artikel tersebut menceritakan kegerahan kaum Kristen konservatif di Amerika dengan kenyataan makin tergesernya ucapan “Merry Christmas” dengan “Happy Holidays” atau “Season Greetings“. Mereka menganggap ini bagian dari “War on Christmas“.
Berikut saya akan kutip sebagian artikel tersebut,
“Kaum non-kristiani makin banyak jumlahnya di Amerika Serikat. Mereka tidak meyakini Yesus, mereka juga tidak percaya natal itu hari lahir Yesus. Mengucapkan selamat hari raya dianggap sebagai bentuk toleransi. Memaksakan menggunakan ucapan Selamat Natal sama dengan memaksa orang non-Kristen percaya dengan apa yang diyakini kaum Kristen.”
“Baru-baru ini, dalam acara yang dipandunya di stasiun TV FoxNews, O’Reilly mengatakan bahwa sembilan tahun lalu ketika mereka memulai reportase terkait hari natal, beberapa perusahaan besar di Amerika melarang karyawan mereka mengucapkan Selamat Natal.”
Saya ingin menggaris bawahi kata “kaum non kristiani”. Menurut saya  kata itu tidak menunjuk pada umat agama lain, misalnya Yahudi, Islam, Budha, Scientology atau yang lain. Saya yakin, kampanye mereduksi “Selamat Hari Natal” menjadi “Selamat Hari Raya” dilakukan oleh pihak kaum sekuler atau ateis. Di beberapa negara sekuler, serangan terhadap keyakinan sebuah agama memang lebih keras disuarakan oleh kaum sekuler atau ateis, ketimbang dilakukan oleh umat agama lain.
Saya teringat, pada tahun 2010 pernah ada kampanye pembatasan lonceng gereja di negara Eropa, yang bahkan merupakan jantung agama Katolik, yaitu di Italia. Kompas online dalam artikelnya menuliskan,
Sebuah kelompok ateis Italia yang berkampanye untuk hidup tenang, Rabu (4/8/2010), menyerukan pembatasan ketat bunyi lonceng gereja di kota Pisa, Tuscana, setelah ada keluhan tentang kebisingan dari penduduk setempat.
Persatuan Rasionalis Ateis dan Agnostik (URAA), yang juga berkampanye untuk pelarangan salib di sekolah-sekolah negeri Italia, telah mengirimkan proposal kepada dewan lokal dana akan dibahas pada bulan September, kata Giovanni Mainetto, pejabat URAA di Pisa.
Di website-nya, URAA menawarkan nasihat tentang bagaimana memerangi bunyi lonceng gereja dan mengacu pada kasus-kasus masa lalu di mana imam telah didenda karena “secara serius mengorbankan” kedamaian dan istirahat penduduk yang tinggal dekat menara lonceng.
Apa yang saya ambil hikmahnya dari berita di atas? Ini adalah upaya-upaya mereduksi nilai-nilai agama yang dilakukan oleh kaum sekuler dan ateis. Dan yang membuat sedih, tampaknya mereka berhasil dalam upayanya itu. Contohnya adalah dua kasus di atas, yaitu soal lonceng gereja di Italia dan soal ucapan selamat hari Natal di Amerika. Di Turki, pada masa pemerintahan sekuler juga pernah ada kebijakan yang melarang azan menggunakan bahasa Arab. Waktu itu dibuat kebijakan mengganti suara azan dengan bahasa Turki. Untuk kasus di Turki, ini adalah keberhasilan kampanye sekulerisme dengan menggunakan kekuatan institusi negara.
Lalu bagaimana di Indonesia. Alhamdulillah, ucapan Selamat hari Natal dan Selamat Idul Fitri tetap bertahan dan tidak (belum?) ada yang berupaya mengusiknya. Tapi pernah ada yang mempersoalkan alunan suara azan, yang dianggap mengganggu oleh sebagaian orang. Di Kompasiana pernah diramaikan dengan pro dan kontra yang mempersoalkan suara azan. Menurut saya, kasus ini muaranya identik dengan kasus suara lonceng gereja di Italia yang saya sebut di atas.
Saya juga kaget, bahwa kelompok ateis dan agnostik di Italia tersebut juga mengkampanyekan pelarangan salib di sekolah-sekolah negeri. Apakah itu untuk pelarangan simbol salib yang dipajang di dinding sekolah negeri? Atau termasuk penggunaan kalung salib yang dikenakan oleh para siswa? Ini perlu diperjelas. Untuk masalah salib dilarang dipajang di dinding sekolah negeri, mungkin saya setuju. Ini sama halnya jika memasang kaligrafi Allah dan Muhammad misalnya di dinding sekolah negeri. Tapi jika dilarang mengenakan kalung salib bagi siswa, saya tidak setuju. Ini sama halnya jika dilarang mengenakan jilbab bagi siswa di sekolah negeri. Jika itu merupakan keyakinan beragama secara individu, tidak boleh ada yang melarang, di mana pun.
Jadi marilah kita saling menghormati keyakinan umat agama lain. Apakah kita akan mencontoh apa yang terjadi di Amerika dan Italia di atas? Saya rasa tidak. Kita semua sebagai umat beragama, akan berjuang untuk tetap mempertahankan keyakinan dan identitas keberagamaan kita. Selain itu juga ada nilai-nilai moral, terutama nilai-nilai keluarga yang bersifat universal, yang diyakini oleh setiap umat beragama, yang harus kita pertahankan dari pengaruh nilai-nilai liberal yang merusak tatanan nilai keluarga yang kita anut.

0 komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com

BACA JUGA

DAFTAR LENGKAP ARTIKEL BLOG BAGINDAERY

Ikuti situs Bagindaery

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...