GOOGLE TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

ARTIKEL PILIHAN

Artikel Islami Tentang Berteman: Adab Berteman Dan Bersahabat

Written By Situs Baginda Ery (New) on Senin, 16 Desember 2013 | 20.05

Para pembaca, rahimakumullah, sudah merupakan sunnatullah (ketentuan Allah) bahwa manusia diciptakan dalam keadaan ia butuh kepada yang lain. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa ada yang menyertainya dalam kehidupannya.
https://fbcdn-sphotos-f-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn1/c0.0.403.403/p403x403/156068_433117243437226_1719964112_n.jpg
Islam dengan kesempurnaannya, telah mengatur tata cara dan adab-adab dalam berteman, karena seorang teman sangat berpengaruh terhadap temannya. Dengan bahasa lain, baik buruknya seseorang sangat bergantung pada teman dekatnya. Oleh karena itu, Islam memerintahkan kaum muslimin agar memilih teman yang baik. Dengan berteman dengan orang yang baik, sedikit banyak ia akan terpengaruh dengan kebaikan temannya. Sebaliknya, Islam melarang untuk berteman dengan orang yang jelek.
Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan:

« مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً »
“Permisalan teman yang baik dan teman duduk yang jelek seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. (Duduk dengan) penjual minyak wangi bisa jadi ia akan memberimu minyak wanginya, bisa jadi engkau membeli darinya, dan bisa jadi engkau akan dapati darinya aroma yang wangi. Sementara (duduk dengan) pandai besi, bisa jadi ia akan membakar pakaianmu, dan bisa jadi engkau dapati darinya bau yang tak sedap.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menerangkan bahwa teman dapat memberikan pengaruh positif atau negatif, sesuai dengan kebaikan atau kejelekannya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyerupakan teman bergaul atau teman duduk yang baik dengan penjual minyak wangi, engkau akan dapati satu dari tiga perkara sebagaimana tersebut dalam hadits. Paling minimnya, engkau dapati darinya aroma harum yang akan memberi pengaruh pada jiwamu, tubuh, dan pakaianmu. Sementara kawan yang jelek diserupakan dengan duduk di dekat pandai besi. Bisa jadi berterbangan percikan apinya hingga membakar pakaianmu, atau paling tidak engkau mencium bau tak sedap darinya yang akan mengenai tubuh dan pakaianmu.
Dengan demikian jelaslah, teman pasti akan memberi pengaruh kepada seseorang. Dengarkanlah berita dari Al-Qur`an yang mulia tentang penyesalan orang zhalim pada hari kiamat nanti karena dulunya ketika di dunia berteman dengan orang yang sesat dan menyimpang, hingga ia terpengaruh ikut sesat dan menyimpang.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (artinya):
Dan (ingatlah) hari ketika itu orang yang zhalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, “Aduhai, kiranya dulu aku mengambil jalan bersama-sama Rasul! Kecelakaan besarlah bagiku, andai kiranya dulu aku tidak menjadikan si Fulan itu teman akrabku. Sungguh ia telah menyesatkanku dari Al-Qur`an ketika Al-Qur`an itu datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.” (Al-Furqan: 27-29)
‘Adi bin Zaid, seorang penyair Arab, berkata:
عَنِ الْمَرْءِ لاَ تَسْأَلْ وَسَلْ عَنْ قَرِيْنِهِ
فَكُلُّ قَرِيْنٍ بِالْمُقَارَنِ يَقْتَدِي
إِذَا كُنْتَ فِي قَوْمٍ فَصَاحِبْ خِيَارَهُمْ
وَلاَ تَصْحَبِ اْلأَرْدَى فَتَرْدَى مَعَ الرَّدِي
Tidak perlu engkau bertanya tentang (siapa) seseorang itu, namun tanyalah siapa temannya
Karena setiap teman (cenderung) meniru temannya
Bila engkau berada pada suatu kaum, maka bertemanlah dengan orang yang terbaik dari mereka
Dan janganlah engkau berteman dengan orang yang rendah/hina, niscaya engkau akan hina bersama orang yang hina
Oleh karenanya, perhatikan dan timbang-timbanglah dengan siapa engkau berkawan.
Dampak Teman yang Buruk
Ingatlah! Berteman dengan orang yang tidak baik agamanya, akhlak, sifat, dan perilakunya, akan memberikan banyak dampak yang jelek. Diantara yang dapat disebutkan di sini:
1. Memberikan keraguan pada keyakinan kita yang sudah benar, bahkan dapat memalingkan kita dari kebenaran. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (artinya):
Lalu sebagian mereka (penghuni surga) menghadap sebagian yang lain sambil bercakap-cakap. Berkatalah salah seorang di antara mereka, “Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) memiliki seorang teman. Temanku itu pernah berkata, ‘Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang yang membenarkan Hari Berbangkit? Apakah bila kita telah meninggal dan kita telah menjadi tanah dan tulang-belulang, kita benar-benar akan dibangkitkan untuk diberi pembalasan?” Berkata pulalah ia, “Maukah kalian meninjau temanku itu?” Maka ia meninjaunya, ternyata ia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka yang menyala-nyala. Ia pun berucap, “Demi Allah! Sungguh kamu benar-benar hampir mencelakakanku. Jikalau tidak karena nikmat Rabbku (Allah), pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret ke neraka.” (Ash-Shaffat: 50-57)
Dengarkanlah kisah Abu Thalib yang wafat di atas kekafiran, karena pengaruh teman yang buruk. Tersebut dalam hadits Al-Musayyab bin Hazn, ia berkata, “Tatkala Abu Thalib menjelang wafatnya, datanglah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Beliau dapati di sisi pamannya ada Abu Jahl bin Hisyam dan Abdullah bin Abi Umayyah ibnil Mughirah. Berkatalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, ‘Wahai pamanku, ucapkanlah Laa ilaaha illallaah, kalimat yang dengannya aku akan membelamu di sisi Allah.’ Namun kata dua teman Abu Thalib kepadanya, ‘Apakah engkau benci dengan agama Abdul Muththalib?’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam terus menerus meminta pamannya mengucapkan kalimat tauhid. Namun dua teman Abu Thalib terus pula mengulangi ucapan mereka, hingga pada akhirnya Abu Thalib memilih agama nenek moyangnya dan enggan mengucapkan Laa ilaaha illallaah. (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)
2. Teman yang jelek akan mengajak orang yang berteman dengannya untuk melakukan perbuatan yang haram dan mungkar seperti dirinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang orang-orang munafik (artinya):
Mereka menginginkan andai kalian kafir sebagaimana mereka kafir hingga kalian menjadi sama. (An-Nisa`:89)
3. Tabiat manusia, mudah terpengaruh dengan kebiasaan, akhlak, dan perilaku teman dekatnya. Seseorang akan berperilaku seperti kebiasaan temannya, dan juga menurut jalan, serta perilaku temannya. Maka hendaknya setiap kita merenungkan dan memikirkan dengan siapa kita bersahabat. Siapa yang kita senangi agama dan akhlaqnya, maka kita jadikan ia sebagai teman; dan yang sebaliknya kita jauhi. Karena yang namanya tabiat akan saling meniru, dan persahabatan itu akan berpengaruh, baik ataupun buruk. (Tuhfatul Ahwadzi, Kitab Az-Zuhd, bab ke-45)
Karenanya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
« الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ »
Seseorang itu menurut agama teman dekat/shahabatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat dengan siapa ia bersahabat. (H.R. Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Shahih, lihat Ash-Shahihah no. 927)
4. Melihat teman yang buruk akan mengingatkan kepada maksiat, sehingga terlintas maksiat dalam benak seseorang. Padahal sebelumnya ia tidak terpikir tentang maksiat tersebut.
5. Teman yang buruk akan menghubungkanmu dengan orang-orang yang jelek, yang akan memudharatkanmu.
6. Teman yang buruk akan menggampangkan maksiat yang engkau lakukan, sehingga maksiat itu menjadi remeh/ringan dalam hatimu, dan engkau akan menganggap tidak apa-apa mengurang-ngurangi dalam ketaatan.
7. Berteman dengan orang yang jelek, dapat menyebabkanmu terhalang untuk berteman dengan orang-orang yang baik/shalih, sehingga terluputkan kebaikan darimu sesuai dengan jauhnya engkau dari mereka.
8. Duduk bersama teman yang jelek tidaklah lepas dari perbuatan haram dan maksiat, seperti ghibah, namimah, dusta, melaknat, dan semisalnya. Bagaimana tidak, sementara majelis orang-orang yang jelek umumnya jauh dari dzikrullah, yang mana hal ini akan menjadi penyesalan dan kerugian bagi pelakunya pada hari kiamat nanti. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:
« مَا مِنْ قَوْمٍ يَقُومُونَ مِنْ مَجْلِسٍ لاَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ فِيهِ إِلاَّ قَامُوا عَنْ مِثْلِ جِيفَةِ حِمَارٍ وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةً »
Tidak ada suatu kaum yang bangkit dari sebuah majelis yang mereka tidak berdzikir kepada Allah dalam majelis tersebut, melainkan mereka akan bangkit dari semisal bangkai keledai[1] dan majelis tersebut akan menjadi penyesalan bagi mereka. (H.R. Abu Dawud. Shahih, lihat Ash-Shahihah no. 77)
Penutup
Demikian… Semoga ini menjadi peringatan dan semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita semua untuk bisa berteman dengan orang-orang yang baik agamanya, serta menjauhkan kita dari teman-teman yang jelek. Amin Yaa Mujibas Sa`ilin…
Wallahu a’lam bishshawab.
(Dinukil secara ringkas dengan perubahan dan tambahan oleh Ummu Ishaq Al-Atsariyyah dari Kitab Al-Mukhtar lil Hadits fii Syahri Ramadhan, hal. 95-99)
(Disalin dengan sedikit perubahan dan tambahan dari artikel dengan judul yang sama dalam majalah Asy Syariah Vol. IV/No. 43/1429 H/2008)
Sumber: http://www.buletin-alilmu.com/hati-hati-dari-teman-yang-buruk
Segala puji hanya bagi Allah subhanahu wa ta’ala, shalawat dan salam mudah-mudahan tetap tercurah kepada seorang Nabi yang tidak ada Nabi sesudahnya, yaitu Nabi kita Muhammad shalallahu alaihi wasallam, juga kepada keluarga dan para sahabat beliau, serta pengikut setianya hingga hari kiamat.
Amma ba’du:
Sesungguhnya persahabatan memiliki adab-adab yang sedikit sekali orang yang menjaganya. Oleh karena itulah banyak kita dapati rasa cinta berubah menjadi permusuhan, persahabatan berubah menjadi kebencian dan dendam. Seandainya dari dua orang yang bersahabat masing-masing memegang teguh adab-adab persahabatan, tentunya tidak akan terjadi perpecahan di antara mereka, dan setanpun tidak akan mendapatkan jalan untuk memecah belah keduanya.
Di antara adab persahabatan yang wajib dijaga adalah:
1. Hendaknya persahabatan itu terjadi karena Allah subhanahu wa ta’ala.
2. Seorang sahabat hendaknya memiliki akhlak dan konsisten dengan agamanya. Nabi shalallahu alaihi wasallam telah bersabda:
اَلْمَرْءُ عَلىَ دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ
“Seseorang itu berada di atas agama sahabatnya, maka hendaknya salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang menjadi sahabatnya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan dihasankan oleh al-Albani)
3. Seorang sahabat hendaknya memiliki akal yang bagus.
4. Seorang sahabat adalah orang yang adil, bukan fasiq, orang yang mengikuti sunnah dan bukan orang yang mengikuti bid’ah.
5. Menutup aib sahabatnya dan tidak menyebarkannya.
6. Menasehatinya dengan lemah lembut serta penuh kasih sayang, dan tidak berkata-kata kasar kepadanya.
7. Sabar dalam memberikan nasihat, dan tidak putus asa dalam memperbaikinya.
8. Sabar atas gangguan sahabatnya.
9. Hendaknya menjadi penolong bagi sahabat dalam keadaan apapun.
10. Menziarahinya karena Allah subhanahu wa ta’ala, bukan karena mashlahat duniawi.
11. Menanyakannya jika dia tidak ada, dan mencari keluarganya jika safar.
12. Menjenguknya jika dia sakit, mengucapkan salam jika bertemu, memenuhi undangannya jika dia mengundang, menasehatinya jika dia meminta nasihat, mengucapkan yarhamukallah jika dia bersin, dan mengikuti jenazahnya jika dia mati.
13. Menyebarkan kebaikannya, dan menyebutkan keutamaannya.
14. Menyukai kebaikan baginya, sebagaimana ia suka kebaikan untuk dirinya sendiri.
15. Mengajari perkara agama yang tidak ia diketahui, serta memberi petunjuk kepada sesuatu yang di dalamnya terdapat maslahat agama dan dunia.
16. Membelanya serta menolak ghibah jika dia dibicarakan pada sebuah majelis.
17. Menolongnya, baik dalam keadaan berbuat zalim maupun terzalimi. Menolong dalam keadaan zalim artinya mencegahnya dari kezaliman, serta melarang berbuat zalim.
18. Tidak bakhil kepadanya jika dia membutuhkan pertolongan. Sahabat sejati adalah sahabat ketika dalam keadaan sulit.
19. Memenuhi kebutuhannya, bersegera dalam memenuhi apa yang maslahat baginya, dan ridha dengan sedikit kebaikannya.
20. Lebih mengutamakannya atas dirinya sendiri, dan mendahulukannya daripada orang lain.
21. Menyertai dalam kebahagiaannya, dan menolong dalam kesedihannya.
22. Memperbanyak do’a baginya tanpa sepengetahuannya.
23. Berbuat adil kepadanya saat terjadi perselisihan.
24. Tidak melupakan kasih sayangnya, karena orang yang merdeka adalah orang yang menjaga kasih sayang walaupun sekejap.
25. Tidak memperbanyak caci-maki terhadapnya.
26. Berusaha memberikan udzur kepadanya dan tidak memaksanya untuk meminta udzur (maaf).
27. Menerima udzurnya jika dia minta udzur.
28. Menyambutnya dengan baik saat ia berkunjung, menebarkan senyum di hadapannya, serta memuliakannya dengan segenap pemuliaan.
29. Memberinya hadiah, dan tidak melupakan kebaikan-kebaikannya.
30. Melupakan kesalahannya.
31. Tidak mengharap balasan (kebaikan)nya.
32. Memberitahukan kecintaannya kepadanya. Sebagaimana sabda Nabi shalallahu alaihi wasallam:
إِذَا أَحَبَّ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُعْلِمْهُ أَنَّهُ يُحِبُّهُ
“Jika salah seorang di antara kalian mencintai saudaranya, maka hendaklah ia memberitahukan bahwa dia mencintainya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud dan dishahihkan oleh al-Albani)
33. Tidak mencela (menghina)nya dengan sebuah dosa yang ia lakukan, dan tidak pula dengan kejahatan yang ia lakukan (melainkan menasehatinya).
34. Bersikap tawadhu` kepadanya dan tidak sombong. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (٢١٥)
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (QS. As-Syu’ara`: 215)
35. Tidak banyak berdebat, dan jangan sampai hal ini dijadikan jalan untuk memboikot atau memusuhinya.
36. Tidak berburuk sangka kepadanya. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
“Berhati-hatilah kalian dari persangkaan, karena persangkaan itu adalah sedusta-dusta ucapan.” (HR. Muslim)
37. Tidak membuka rahasianya, tidak mengingkari janji bersamanya, dan tidak mengikuti keinginan musuh dalam urusannya.
38. Bersegera mengucapkan selamat dan memberikan kabar gembira saat ia mendapat kebaikan.
39. Tidak meremehkan sesuatu dari kebaikannya sekecil apapun.
40. Selalu menyemangatinya untuk meraih kemajuan dan kesuksesan.
sumber : 
dannyferdiansyah.wordpress.com. [Majalah Qiblati edisi: 0302]

0 komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com

BACA JUGA

DAFTAR LENGKAP ARTIKEL BLOG BAGINDAERY

Ikuti situs Bagindaery

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...