Translate

ARTIKEL PILIHAN

Panji Sang Penakluk, Titisan Dewi Ular

Written By Situs Baginda Ery ( New ) on Kamis, 03 Juni 2010 | 14.36

http://2.bp.blogspot.com/_74KwvEavWc4/SsAtUpuNJvI/AAAAAAAAARA/ZRudvoyp3PY/s400/5146_1018921891036_1764816922_33877_7324870_n.jpghttp://2.bp.blogspot.com/_74KwvEavWc4/SsAtWMqv-aI/AAAAAAAAARY/0izDH1MDqzY/s400/2960_1003568387208_1764816922_2098_392166_n.jpg

Di tangannya segala jenis ular ganas dan berbisa menjadi tidak berdaya. Tapi ular-ular itu ditangkap bukan untuk disakiti, melainkan dijadikan sahabat dan tinggal bersama di dalam rumah. Kalau digigit, itu mah biasa. Dari mana pula bocah 15 tahun ini mendapatkan ilmunya?

Ular sepanjang 1,5 m itu mendesis keras. Kepala dan sepertiga badannya kemudian diangkat naik dengan mulut yang terbuka. Tubuhnya meliuk-liuk liar, menandakan siap menyerang siapa pun yang berani mengusiknya. Awas!

Siapa pun orangnya, dijamin bakal langsung bergidik melihat ular jenis sanca (Phyton molurus) yang sedang marah seperti itu. Walau tidak berbisa, lilitan dan patukannya yang cepat, bisa berakibat fatal.

Rumus itu rupanya tak berlaku bagi Muhamad Panji. Dengan gerakan tubuh yang lincah namun tetap waspada, ia mencoba menjinakkan si sanca.

"Kalau menghadapi ular marah, usahakan menarik perhatiannya biar dia lelah," bisik Panji tentang strategi yang dia gunakan untuk menangkap ular. "Kalau sudah lelah, diketok-ketok kepalanya juga akan diam aja."

Benar saja. Lima menit bercanda bersama Panji, sanca mulai kelihatan loyo. Dengan gerakan tangkas, Panji lalu meraih kepala disusul ekornya. Dan ular besar itu cuma bisa pasrah saat dimasukkan ke dalam karung putih, bekas wadah tepung terigu yang telah disiapkan.

"Sanca yang ini memang masih galak," tutur Panji memperkenalkan ular peliharaannya yang baru ditangkap dua bulan sebelumnya, tak jauh dari rumahnya di daerah Tanjung Garut, Purwakarta, Jawa Barat.

Paling-paling mual
Orang yang tidak mengenal Panji bisa-bisa akan menganggap murid kelas 3 SMPN 2 Cempaka, Purwakarta, ini sedang mengobral nyawa. Padahal, menangkap ular sebenarnya sudah dilakukannya sejak usia dua tahun. Sejak balita, ia memelihara binatang melata itu seperti orang lain memelihara kucing, anjing, atau burung perkutut.

Dari orangtuanya, Panji sering mendengar kisah tentang kesukaan dirinya bermain bersama ular-ular liar yang dia sebut "sahabat-sahabatnya" itu. Salah satu kisahnya, ketika usianya baru dua tahun, ia sudah kedapatan menangkap dan bermain-main dengan seekor ular pucuk (Dryophis prasinus), atau kadang disebut juga ular daun. Saat itu keluarga Panji bertempat tinggal di Kuala Kapuas, Kalimantan Timur, yang berhutan lebat.

Walau sebenarnya ular pucuk masuk kategori tidak berbahaya, tapi orangtuanya kaget bukan main. Yana, ayahnya, langsung merebut dan membuang hewan melata itu. Tapi Panji yang masih balita itu malah menangis habis-habisan. "Baru diam setelah dicarikan ular lagi," tutur Panji yang sempat berpindah ke Aceh bersama keluarga, sebelum menetap di Purwakarta, Jawa Barat.

Sejak itulah Panji selalu bermain dengan sahabat-sahabatnya yang selalu ditemui di sekitar lingkungan rumahnya. Ular-ular itu dipelihara di rumah, diajak bermain, dan diberi makan. Kalau bosan tinggal dilepas lagi di tempat asalnya.

Pernah digigit? "Sering banget," jawabnya. Ia mengaku pernah digigit semua jenis ular ganas yang ada di Jawa dan Sumatera, kecuali ular laut. Tapi berkat kemampuan yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa, ia tidak pernah merasakan efek yang hebat. "Paling mual. Kalau pusing, minum obat sakit kepala."

Kedekatan dengan binatang buas dan mematikan itu membuat Panji cukup disegani di lingkungan rumahnya. Sebenarnya, ia tidak bermaksud menjadi jagoan ular. Cuma, banyak orang yang langsung ciut nyalinya melihat Panji dengan enaknya menenteng-nenteng ular berbisa.

Ular-ular sahabatnya itu sesekali dia bawa ke sekolah. Tak pelak hewan melata itu pun jadi mainan dan tontonan teman-temannya. Kalau sudah begitu, suasana pun heboh dan membuat kelas jadi terganggu. Panji mengaku, ia justru senang karena itu berarti ia tidak perlu belajar. Wah, dasar anak-anak!

Suatu kali, gurunya pernah mengadakan razia tas mendadak. Panji yang kebetulan sedang membawa seekor sahabatnya benar-benar dalam situasi sulit. Ia akhirnya cuma bisa pasrah. "Buka aja tasnya, Bu," Panji mempersilakan gurunya. Keruan saja si Ibu guru itu pun lari sambil meloncat-loncat karena menemukan seekor kobra di dalam tas sekolah Panji!

Kabar tentang kemampuan Panji itu menyebar di lingkungan sekitar rumahnya. Suatu kali ada seorang tukang ojek yang menantang, "Panji, mana ularnya? Gue nggak takut. 'Ntar gue bacok!"
Tantangan itu mungkin cuma sekadar canda, tapi Panji meladeninya lalu bergegas menjemput sahabatnya di rumah. Kontan kerumunan tukang ojek yang mangkal langsung bubar ketika Panji melemparkan kobra sepanjang 1,5 m di tengah-tengah mereka. Akibatnya, beberapa sepeda motor sampai roboh.

Mitos ular jadi-jadian
Bukan cuma sekadar bermain. Lama-kelamaan Panji juga tertarik mendalami seluk beluk ular dan reptil lainnya. Ia pernah beberapa kali bertanya kepada para peneliti ular yang akhirnya menyarankannya untuk membaca buku-buku tentang ular. Walau beberapa bacaan berbahasa Inggris, ia tetap serius mempelajari nama-nama Latin ular, kehidupan, predator, serta mangsanya.

Segenap ilmu tentang ular ternyata berguna ketika Panji kemudian diminta stasiun televisi Lativi untuk membawakan acara "Panji Sang Penakluk". Acara itu menggambarkan tentang sosok Panji yang bertualang ke beberapa daerah untuk mencari reptil di alam. Sesekali sang pembawa acara menerangkan sedikit latar belakang hewan-hewan itu.

Panji menolak jika ada anggapan kalau ular-ular dalam acaranya itu sengaja disiapkan lebih dulu untuk memberi kesan selalu beruntung bertemu ular. Menurut Panji, ular sebenarnya terdapat di mana-mana, apalagi di alam bebas. "Cuma, begitu merasakan kedatangan manusia, mereka kabur." Nah, dengan instingnya Panji mencari tempat-tempat persembunyian ular-ular itu.

Dengan insting itu pula, ia menangkap ular-ular liar untuk dijadikan peliharaan. Awalnya, tentu saja ular akan bersikap galak, bahkan menyerang. Ular kobra malah akan mengejar orang yang menyakitinya, sampai ke atas pohon sekalipun, dan baru melepaskan si penyerang setelah mematuk.

Untuk bisa menangkap ular, Panji selalu memperhatikan karakternya. Karena itu cara yang digunakan untuk menangkap berbeda-beda, tergantung jenis ular dan juga situasinya. Salah satu cara Panji menangkap ular seperti yang dia contohkan di awal tulisan ini. Biasanya, dalam beberapa menit saja, ular akan bisa ditaklukkan.

Saat menangkap, Panji menggunakan teknik ilmiah dan bisa dipelajari setiap orang. Beda dengan teknik pawang ular yang mungkin menggunakan mantera-mantera tertentu sehingga ular jadi lemas. Tapi, demi keselamatan, ia mengombinasikan teknik itu dengan "bakat alam"-nya sendiri. Sampai sekarang Panji tidak pernah berguru kepada siapa pun, dan belum menularkan kemampuannya kepada siapa pun.

Ular hasil tangkapannya akan dia pelihara seperti lazimnya binatang peliharaan lain. Dimandikan pakai sampo, makanannya anak ayam negeri atau tikus putih. Ular berukuran panjang 2 m biasanya menghabiskan dua ekor ayam setiap minggu. Kalau sudah bosan, ular dilepas lagi di sekitar lingkungan rumahnya, kawasan pedesaan yang masih alami.

Karena seringnya berhubungan dengan ular, Panji juga sering mendengar perihal mitos di seputar dunianya. Beberapa mitos kemungkinan hanya sekadar dongeng, tapi ada juga yang sempat dialaminya sendiri. Misalnya, beberapa kali Panji menangkap ular jadi-jadian alias dari alam gaib. Biasanya, ular gaib seperti itu akan hilang sendiri dalam beberapa hari walau sudah dimasukkan ke dalam peti yang tertutup rapat.

Sering kali ular jadi-jadian itu minta dilepaskan lewat mimpi. Sosoknya bisa berwujud perempuan cantik, orangtua berambut putih, atau manusia bertanduk. Bicaranya, atau marah-marahnya, menggunakan bahasa Indonesia, Jawa, atau Sunda, yang intinya minta dilepaskan. Biasanya makhluk gaib seperti itu menyamar dalam bentuk ular kobra atau welang. "Bedanya, kalau jadi kobra, matanya agak putih, tidak hitam kayak biasanya."

Walau ular sudah dipelihara dan dikenal baik, Panji tetap berhati-hati. Sewaktu kelas 4 SD, ia pernah bermain-main dengan king kobra berumur dua tahun dan panjangnya 2,5 m (panjang maksimalnya 7 m).

Karena sedikit sombong di hadapan teman-temanya, ia tidak sadar si kobra merayap di belakang dan tiba-tiba mematuknya di bagian betis. "Lumayan, betis robek," kata Panji sambil memperlihatkan bekas gigitan yang menyisakan warna biru kehitaman akibat racun bisanya.

Karena sudah terbiasa, Panji tidak panik saat digigit ular. Kalau gigitannya di telapak tangan, ia akan segera memperlebar lukanya pakai silet, lalu mengikat lengannya pakai tali. Lalu darah dikeluarkan dengan cara dipijit-pijit. Darah yang terkena racun biasanya berwarna kebiruan. Bedanya, kalau orang lain bisa langsung semaput sehabis digigit karena panik, Panji bisa mengerjakan semua itu dengan tenang.

Panji menganggap gigitan itu reaksi biasa dari ular yang terusik. Tidak harus disakiti atau malah dibunuh. Cukup diusir saja. Panji mengaku tidak suka terhadap orang yang sering mengonsumsi ular, entah darahnya, empedu, atau dagingnya.

Pernah ia menegur seorang penjual ular sanca yang termasuk hewan dilindungi. Tapi pedagang itu rupanya tidak senang dan berkilah hanya sekadar cari makan. "Jawabannya begitu sih, saya jadi malas ngomongnya."

Coba menangkap buaya
Kesukaannya kepada reptil satu ini membuat Panji penasaran juga pada buaya. Kelas 6 SD, ia pernah mencoba menangkap buaya di sebuah penangkaran milik temannya di Sukamandi, Jawa Barat.

"Nekat ya, itu kan buaya muara," kata temannya berusaha mencegah. Buaya muara (Crocodylus porosus) memang salah satu buaya terganas di dunia.

Panji tak peduli. Ia terjun ke kolam yang berisi tiga ekor buaya muara. "Kalau untung ya menang, kalau enggak, paling kaki buntung," begitu prinsip kenekatannya kala itu.

Kolam itu kebetulan berair keruh. Tubuh buaya itu diperiksanya dengan kaki. Setelah dapat dirasakannya, Panji mulai menangkap. Buaya meronta sambil berputar, tapi Panji sigap melemparkannya ke darat. Mulut buaya itu menganga pertanda siap menyerang. Dengan bantuan tali dan tongkat, Panji mencoba mengincar mulutnya yang kemudian berhasil diikat. Lalu menyusul, semua kaki diikat. Beres sudah.

Teknik menangkap buaya itu kemudian disempurnakan setelah menonton tayangan Steve Irwin di televisi. Steve adalah pembawa acara petualangan asal Australia yang akhirnya meninggal terkena sabetan ikan pari pada tahun 2006. Panji begitu mengidolakannya.

"Orang melihat (acara) Steve, yang asyik-asyiknya aja. Kalau saya belajar tentang teori menangkapnya," aku Panji yang kemudian mempraktikkan saat menangkap buaya liar sewaktu syuting di Jambi.

Panji yang terlihat lebih cerdas dari anak seusianya ini bercita-cita suatu saat akan membuat suatu lembaga penelitian tentang ular. Antara lain ia ingin membuat buku tentang ratusan spesies ular di Indonesia, bagian dari sekitar 2.700 spesies ular di dunia.
Mungkin ular-ular akan mendesis senang jika mendengar cita-cita Panji.

Dewi Ular Membayar Janji
Ny. Lina, ibunda Panji, berkisah: kemampuan yang didapat anaknya sesungguhnya berawal dari mimpi yang dialaminya saat Panji masih berusia dua bulan dalam kandungan. Dalam mimpi itu Ny. Lina bertemu Dewi Ular, bersosok ular besar berkepala perempuan cantik. "Anakmu nanti bakal bawa rezeki, tapi jangan kaget ya," kata Lina menirukan pesan Dewi Ular pada 1992 itu.

Awalnya, Ny. Lina hanya bisa termenung memikirkan arti pesan itu. Sampai akhirnya ia mengerti setelah menyaksikan sendiri keganjilan demi keganjilan perilaku putranya semasa kecil. Sejak disapih sampai sekitar kelas 6 SD, Panji tidak doyan nasi. Makannya sehari-hari cuma telur ayam kampung mentah dan daun-daunan.

Kalau diberi telur, berapa pun jumlahnya, Panji akan melahap sampai habis. Kadang daun sayuran mentah yang ada di kebun ikut dilahap. Panji juga sangat senang daging ayam atau sapi, tapi yang sudah dimasak. Anehnya, sebanyak apa pun daging dimakan, "Perutnya tetap kempis," tutur Ny. Lina. Panji juga terbiasa makan langsung dari piring, tanpa memakai tangan atau sendok.

Ny. Lina dan Yana (ayah Panji) yang menikah pada 1991 mengaku sempat merasa sedih melihat keadaan anak semata wayangnya itu. Apalagi banyak kerabat dan tetangganya yang membicarakan keganjilan Panji. Para tetangga juga takut kalau harus bertamu ke rumah mereka.

Sejak dikontrak Lativi untuk membawakan acara "Panji Sang Penakluk", rupanya "janji" Dewi Ular perlahan-lahan mulai terlihat. Kehidupan ekonomi keluarga kecil bahagia ini semakin terangkat. Panji membeli motor dan merenovasi rumah orangtuanya dari hasil keringatnya sendiri.

Kini Panji bakal mempunyai adik, karena ibunya sedang hamil dua bulan. Belum ada firasat mimpi apa-apa dari dewi atau dewa mana pun. "Udah, biar Panji aja yang kayak gitu," kata perempuan keturunan Betawi ini tanpa bermaksud menyesal memiliki anak si penakluk ular.

0 komentar:

Poskan Komentar

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com

YANG TERBARU DARI BAGINDAERY

ARTIKEL PILIHAN

BACA JUGA

DAFTAR LENGKAP ARTIKEL BLOG BAGINDAERY

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...