GOOGLE TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

ARTIKEL PILIHAN

Tradisi Berburu Kepala, Tradisi yang Pernah Ada dalam Suku Dayak

Written By Situs Baginda Ery (New) on Rabu, 11 Juli 2012 | 10.03


vivaborneoblog - Namanya Pak Had. Beliau adalah salah satu sesepuh keturunan Dayak Wehea di Slambing ini umurnya lebih dari 74 tahun. Pak Had adalah sosok Suku Dayak yang ramah dan suka mengantar pengunjung berkeliling Hutan Lindung Sungai Wehea, Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur Kalimantan Timur.

Salah satu yang bikin merinding tentang profesi Pak Had ini adalah ketika Pak Had mengakui bahwa dirinya pernah memakan otak manusia sewaktu ia masih muda dahulu. Ya, beliaulah saksi peradaban generasi di suku Dayak Wehea ini. Beliau pernah mengikuti tradisi menjelang dewasa, yaitu melakukan perburuan kepala manusia (Ngayau).

Asal usul kata ngayau umumnya terdapat kesepakatan di kalangan suku Dayak. Namun, kapan ngayau dimulai dan bagaimanakah sejarahnya, agaknya masih simpang siur dan sering muncul dalam berbagai versi. Hal itu disebabkan belum ada studi dan catatan sejarah mengenai asal mula ngayau secara detail dan kronologis.

Hanya ada catatan mengenai kesepakatan bersama seluruh etnis Dayak Borneo untuk mengakhirinya. Ini terjadi pada pada 22 Mei – 24 Juli 1894, ketika diadakan Musyawarah Besar Tumbang Anoi di Desa Huron Anoi Kahayan Ulu Kalimantan Tengah.

Benar adanya bahwa sebelum perjanjian Tumbang Anoi disepakati, terjadi praktik headhunting bahkan di kalangan sesama Dayak. Praktik ngayau antarsesama Dayak ini sukar dibantah dan memang demikianlah adanya. Dayak Jangkang misalnya, dahulu kala bermusuhan dengan Dayak Ribunt. Padahal, keduanya tidak berjauhan tempat tinggal.

Masuknya agama Katolik di tengah-tengah etnis Dayak, terutama dengan datangnya misi Katolik ke pulau Borneo di pengujung abad 18, membawa pengaruh baik. Perlahan-lahan ajaran Katolik tentang balas dendam mengubah cara pandang dalam ehidupan orang Dayak.

Ajaran Kristen yang radikal untuk tidak balas dendam dengan hukum “mata ganti mata, tulang ganti tulang” segera merasuk etnis Dayak. Ajaran cinta kasih ini menyadarkan masyarakat Dayak untuk segera menghentikan tradisi mengayau ini. Musyawarah ini dihadiri para kepala adat se-Kalimantan yang berkumpul dan bersepakat untuk menghentikan pengayauan antarsesama Dayak. Namun, pertemuan yang berbuah kesepakatan Tumbang Anoi sendiri diprakarsai pemerintah Hindia Belanda.

Kembali kecerita pak Had, menurutnya, tradisi perburuan kepala hanya dapat ditemui di Kalimantan ini sebagai sebuah tradisi sakral yang harus dilakukan para laki-laki yang baru beranjak dewasa dan ingin menikah. Biasanya, mereka dilarang tidur dan minum selama 12 hari sebelum melakukan perburuan kepala tersebut dimulai.

Saksi bisu berupa kerangka tengkorak kepala manusia bekas tradisi tersebut yang masih tersimpan di rumahnya. Namum, tradisi ekstream ini dihapuskan sejalan dengan perkembangan jaman. Mereka mengganti perburuan kepala manusia dengan berburu babi yang sering mengganggu tanaman pertanian mereka.

"Sekitar 2 atau 3 tahun yang lalu, ada salah satu pemuka adat yang meminta izin untuk meneruskan tradisi itu kembali, tapi di tolak mentah-mentah, ngeri juga kan kalo misalkan kepala saya yang diburu, saya juga kalo lagi trekking sama pak Had, saya pasti nanya dulu, 'pak kita teman kan? bukan musuh? gak berburu kepala saya kan?' ya takut aja pas di jalan saya malah jadi buruannya," begitu pengakuan Bang Kris, salah seorang pengunjung yang telah mengenal Pak Had.

Siapa sangka, atau dapat menjamin, jika pak Had yang sudah renta begitu sering dijadikan pemandu perjalanan di hutan lindung Wehea tersebut, tiba-tiba memenggal kepala tamu yang diantarnya karena memorinya tentang masa mudanya dulu. Staminanya Pak Had tidak kalah dengan yang masih muda, bahkan beliau lebih hebat dan lincah.

Kekuatannya hanya satu, yaitu rokok yang tidak pernah lepas dari mulutnya. Persediaan rokoknya disimpan dalam alat pancing yang beliau buat sendiri dari batang bambu dan bekas selongsong rokok, yang suka ia lingkarka dilehernya.

"Beliau tuh gak pernah pisah sama rokoknya, kayak ada lubang khusus di bibirnya untuk menaruh satu batang rokok. Lagi bicara saja, rokoknya tidak pernah ia pegang ditangan, tetep aja di sela kedua bibirnya. Bahkan saat tidur, beliau juga masih tetep ngerokok," jelas Pak Edi yang juga ikut mengunjungi Hutan Wehea. (Halida Agustini-Yul-Berbagai sumber)

0 komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com

BACA JUGA

DAFTAR LENGKAP ARTIKEL BLOG BAGINDAERY

Ikuti situs Bagindaery

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...