Translate

ARTIKEL PILIHAN

MISTERI SUNGAI KAPUAS KALIMANTAN (penunggu s.kapuas dan keris misterius)

Written By Situs Baginda Ery ( New ) on Selasa, 10 Juli 2012 | 11.13

Puaka di Sungai Kapuas.. Kisah Misteri Penunggu Sungai Kapuas

Sungai Kapuas, sebuah sungai terpanjang di Indonesia yang mungkin orang Indonesia sendiri tidak banyak yang mengenalnya. Sungai Kapuas membentang dari arah Putussibau Kabupaten Kapuas Hulu dan bermuara di Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat. Aku punya cerita tentang masa kecilku yang tidak akan aku lupakan tentang misteri ‘penunggu’ atau penjaga di Sungai Kapuas ini. Ini cerita ketika aku masih duduk dikelas 2 SMP, atau sekitar tahun 1994.

Dari zaman dahulu kala aku sering mendengar mitos adanya “puaka” dan istana jin didasar sungai kapuas.. tapi benarkah itu? Hingga kini aku sendiri tidak tahu kebenarannya. Puaka adalah sebutan masyarakat setempat yang artinya penunggu atau hantu penunggu, atau identik dengan sesuatu mahluk yang besar dan tinggal sejak lama disuatu wilayah. Aku tinggal di pinggir sungai kapuas, tepatnya di kelurahan tanjung kapuas kota Sanggau kalimantan Barat. Waktu itu kegiatan Mandi Cuci Kakus kami lakukan di meting (jamban, kakus) yang terapung dipinggiran sungai.

Aku sangat hobby sekali berenang, setiap mandi sore aku selalu menghabiskan waktu di sungai kapuas ini. Sungai kapuas adalah sungai yang sangat besar, lebarnya bisa mencapai 600 meter dan dalamnya ketika pasang bisa lebih dari 15 meter. Sungai ini terlihat tenang namun sebenarnya lumayan deras dan menghanyutkan, sehingga anak2 kecil di kampungku itu sering sekali bermain dengan menghanyutkan diri dari hulu sungai ke hilir sungai. Menghanyutkan diri maksudnya menaiki pelampung yang terbuat dari ban dalam bekas yang besar, kalo ban dalam motor terlalu kecil hehe.. Istilah dalam bahasa Sanggau dikenal dengan nama “nganyut” artinya menghanyutkan.

Bermain nganyut ini sangat mengasyikkan dan dilakukan beramai-ramai.. karena kalo sendirian gak seru. Caranya cukup dengan membawa sebuah pelampung besar kemudian berjalan melewati tepi sungai ke arah hulu sejauh-jauhnya. Kemudian setelah mendapatkan tempat yang cukup jauh, kami berenang menuju ketengah –tengah sungai atau sejauh2nya dari tepi sungai. Arus yang deras tanpa riak membuat kami seolah2 berjalan dengan sendirinya diatas pelampung tersebut, dengan demikian kami bisa sambil menikmati pemandangan ditepi sungai maupun langit.

Setelah sampai dihilir sungai atau jamban tempat pertama kali kami berkumpul, pelampung kami kayuh hingga ketepi dan naik keatas jamban… selanjutnya kami bisa mengulanginya berulang kali sampai puas.

Waktu itu hari sangat cerah, langit2 nampak biru dengan cuaca yang tidak terlalu panas. Aku pun bertemu dengan teman2 sekampungku untuk sama2 nganyut di sungai kapuas… Tak diduga ternyata yang ikut bermain sangat ramai sekali, kalau tidak salah mungkin sekitar 5-6 pelampung besar, satu pelampung bisa muat untuk 3 orang.

Di tengah sungai, kami dengan riangnya menikmati pemandangan sambil menghanyut oleh aliran sungai.. ada yang cerita2, ada yang bernyanyi, ada yang salto2 dari atas pelampung dan ada yang melamun. Entah kenapa ada juga beberapa kawan yang ngomong2 kotor dan makian ketika kami ditengah sungai itu… Tiba-tiba, langit menghitam… cuaca yang cerah tiba2 gelap dan angin tiba2 bertiup dengan kencang.. hujan deraspun turun mendadak. Kala itu aku justru kegirangan dan bertepuk tangan, karena kalo mandi disungai ketika hujan sangatlah asyik rasanya.

Tetapi tawa riang ku tadi mendadak menjadi mencekam, tiba2 sebuah petir besar menyambar kearah yang tidak jauh dari kami… sambarannya nyaris mengenai air tersebut. Tak ayal lagi formasi pelampung kami pun berantakan karena semua ketakutan, semuanya langsung berenang menuju tepi sungai. Anehnya, ketika kami sudah sampai ditepi sungai… hujanpun mendadak berhenti, dan tiba2 angin hitam yang tadinya ada sedikit demi sedikit terhapus dan pergi.

Kejadian aneh ini sama sekali tidak kami sadari.. hehe maklum masih anak kecil, belum ngerti dan masih lugu. Kami pun pulang kerumah masing2 dan kembali janjian untuk bertemu lagi besok.

Besoknya seperti biasa kami berkumpul lagi, kali ini jumlahnya makin banyak.. mungkin sekitar 8-10 pelampung aku tidak ingat. Dan kali ini kami pun lebih jauh lagi menuju hulu sungai agar makin lama terhanyutnya., belum lagi kami pun makin ketengah dan mungkin lebih ketengah lagi dari hari kemarin. Seperti biasa, kami menikmati pemandangan dari tengah sungai melalui pelampung yang terhanyut tersebut. Ada yang nyanyi, ada yang ketawa2, ada yang cerita2, ada yang melamun… itulah aku, aku melamun memandangi seberang sungai sambil bersenandung.

Tiba2 aku melihat ada gelombang yang cukup besar datang dari arah tengah sungai menuju ketepi sungai. Aku mengira itu adalah gelombang akibat speed boat yang lewat.. dan akupun sama seperti kemarin bertepuk2 tangan gembira.. “woii gelombang woii gelombang!!” kataku kegirangan.. kawan2 pun merasa girang karena kalau ada gelombang akan lebih seru bisa mengayun2 di pelampung.

Tetapi apa yang terjadi ? ketika gelombang yang datang dari jauh itu mendekat, ternyata gelombang tersebut lebih tinggi dari yang kami bayangkan.. besarnya seperti ombak laut.. sekitar satu meter begitu. Kami pun semuanya terpelanting dan terbawa ke tepi sungai akibat dorongan gelombang besar aneh itu.

Jamban2 yang ada ditepi sungai juga terhempas ketepi akibat gelombang besar itu, ada yang lagi nyuci dijamban juga terjatuh karena sapuan gelombang tersebut. Apa ya..? kami pun keheranan.. karena tidak ada speed biat yang melintas dan tidak ada hal2 lain yang menyebabkan adanya gelombang di sungai saat itu. Kemudian datanglah Pak Itam menghampiri kami.. orang tua yang paling disegani dikampungku datang menghampiri kami dan memarahi kami.. “Kalian… puaka marah dengan kalian tahu nggak!! Besok2 jangan lagi main2 ditengah kapuas..!! kalian dengar ?” kami pun mengangguk dan membubarkan diri.

Setelah kejadian itu aku tak pernah bermain lagi di sungai… Hingga kini kejadian misterius ini masih aneh bagiku. Mana ada hujan yang sangat lebat mendadak berhenti dan langsung cerah dalam waktu singkat, dan selama bertahun2 aku mandi di sungai baru kali itu aku melihat gelombang sebesar itu yang hampir tidak pernah terjadi di sungai.

Puaka Sungai Kapuas Berbentuk Ular ?

Entah benar entah tidak, menurut cerita yang masih dicari kebenarannya… dikatakan bahwa Sungai Kapuas yang membentang di Kota Sanggau Kapuas memiliki kerajaan di alam ghaib. Selain itu ada pula Puaka (Mahluk Ghaib) yang menjaga sungai tersebut.

Diceritakan bahwa ada seekor ular besar yang melintang didasar sungai kapuas (di alam ghaib nya). Dimana ekornya tepat di muara Sungai Sekayam dan kepalanya ada di daerah pancur aji.. Daerah pancur aji ini terletak di tikungan sungai kapuas, apabila air pasang maka akan ada pusaran besar di tikungan tersebut.

Pancur Aji memiliki Air terjun setinggi 7 tingkat, untuk mencapai tingkat teratasnya sangat sulit dan perlu mendaki.. Dulu saya pernah menuju ke tingkat 7 dari air terjun ini, waktu itu saya mendatanginya melewati sungai kapuas dan masuk lewat anak sungai yang kecil di tepi sungai kapuas. Sekarang ada tempat wisata Pancur Aji di kota Sanggau, namun saya tidak tahu apakah air terjun di tempat wisata ini adalah Pancur Aji yang pernah saya datangi 10 tahun yang lalu.. karena waktu itu saya masuk lewat anak sungai.

Bila diperhatikan dari pengalaman misteri diatas, bahwa ada gelombang mendatar dan mengarah hanya kesebelah tepi sungai.. artinya ada sebuah benda atau mahluk panjang yang mengibaskan tubuhnya secara satu arah sehingga membentuk gelombang aneh itu.. benar gak ya?

Kalau itu gelombang karena speed boat, jelas tidak mungkin.. karena tidak ada speed yang melintas dan tidak mungkin ada speed yang membuat gelombang seaneh itu. Dan mengapa hanya satu arah? Seharusnya gelombang yang berasal dari tengah sungai akan mengarah dari sisi tepi kiri dan tepi kanan sungai. (lihat gambar). Sedangkan gelombang yang kami lihat adalah dari seberang sungai ke arah tepi sungai tempat kami menghanyut.




Secara logika jelas ini tidak masuk akal, hmm… saya mencoba menguak kebenaran misteri ini bertahun2 tapi tetap bingung. Dan ketika saya kembali mengingat puaka yang diceritakan orang2 zaman dulu itu mungkin saja benar.. bisa jadi puaka tersebut mengibaskan ekornya atau membuat gelombang satu arah dengan ekornya.. apa mungkin benar??

Jelas tidak ada bukti yang bisa menguatkan misteri penunggu sungai kapuas di kota Sanggau ini, tetapi misteri ini tetap aku ingat sampai kapanpun. Kejadian aneh yang membingungkan dan tidak pernah terekspose sebelumnya… masih dicari kebenarannya.




(foto) Misteri Penemuan Keris Raksasa di Sungai Kapuas, Kalimantan Tengah


Klik untuk memperbesar

Keris Raksasa, Klik untuk memperbesar

KUALA KAPUAS – Dua orang penyelam tradisional temukan keris dan kacip raksasa sepanjang 1,5 meter disungai Kapuas, tepatnya di bawah jembatan Pulau Telo, Kecamatan Selat Kabupaten Kapuas……

Warga Kelurahan Murung Keramat, pada Kamis (9/7) lalu, digegerkan dengan penemuan keris dan kacip atau pisau pembelah buah pinang raksasa oleh dua orang penyelam tradisional yakni Wawan (21) dan Yanto (28) warga RT 2 Kelurahan Murung Keramat, sekitar pukul 15.00 wib.

Penemuan itu pun berawal, ketika keduanya sekitar pukul 10.00 wib berangkat melakukan rutinitas sebagai penyelam di sungai Kapuas untuk mencari benda-benda di dasar sungai seperti kayu, besi, dan barang lainnya yang memiliki nilai jual.

Dengan menggunakan perahu kelotok, Wawan dan Yanto mendatangi lokasi penyelaman, dengan menggunakan peralatan penyelaman, seperti kompresor. Ketika itu, Wawan bertugas selaku penyelaman, sedangkan Yanto menjaga perahu dengan mengontrol kompresor sebagai alat bantu pernapasan.

Setelah beberapa jam menyelam, sekitar pukul 15.00 wib, Wawan muncul diatas permukaan sungai dengan membawa sebatang besi yang berbentuk senjata keris. Wawan mengaku terkejut ketika mengetahui benda yang didapatnya itu adalah benda yang berupa senjata keris yang mempunyai tujuh kelokan dengan ukuran yang sangat besar.

“Saya terkejut ketika benda yang saya dapatkan setelah diangkat ternyata sebuah keris yang ukurannnya besar sekali. Seumur hidup baru kali ini saja yang melihat keris seukuran raksasa,” ujar Wawan ditemui wartawan dikedimannya, Minggu (19/7).

Setelah mendapatkan benda tersebut, mereka berdua tidak langsung pulang, namun mencoba kembali menyelam dengan rasa penasaran bahwa masih terdapat benda lainnya. Dan ternyata benar, Wawan menemukan kembali sebatang besi yang berbentuk kacip atau alat untuk membelah buah pinang, yang juga berukuran raksasa, tak jauh dari lokasi ditemukannya keris.

Penemuannya itu pun kemudian dibawanya pulang kerumah, warga pun lalu berbondong-bondong menyaksikan dari dekat hasil temuan Wawan dan Yanto tersebut. kesempatan itupun tak disia-siakan oleh Wawan dengan membuka kotak amal dirumahnya.

Sementara itu, besi yang berbentuk keris itu memiliki ukiran-ukiran unik di pangkalnya, namun gagang keris tersebut tidak ada. Demikian juga dengan kacip, bagian ujungnya berbentuk menyerupai burung tingang ciri khas Dayak Kalteng.
Menurut wawan, terdapat beberapa kejanggalan ketika para pengunjung ada yang berani menyentuh keris tersebut, tangan mereka seperti kaku ketika menyentuh besi-besi yang diperkirakan telah berumur 300 tahun lamanya. Karena itu, Wawan pun belum berminat untuk menjual keris dan kacip raksasa hasil temuannya itu.

“Yang ingin membeli sih banyak, cuma saya tak berniat menjualnya dulu, karena saya belum mendapatkan petunjuk, baik dari mimpi maupun bisikan gaib,” katanya. (cbn/Kzone)

sumber : http://kapuascbn981.blogspot.com/2009/07/penyelam-temukan-keris-dan-kacip.html

Bisa Jadi, Berkaitan dengan Sejarah Kerajaan Bataguh

81343largeSebilah keris raksasa ditemukan di Sungai Kapuas, tepatnya di wilayah Kelurahan Pulau Telo, Kecamatan Selat, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, Kamis, 16 Juli lalu. Kalangan tokoh adat dan ahli sejarah pun membahas penemuan yang tergolong langka tersebut.

Kesimpulan sementara, senjata tradisional khas Indonesia itu berkaitan dengan Kerajaan Bataguh yang diyakini pernah berdiri di Kapuas. ”Saat itu, Kerajaan Bataguh dipimpin Nyai Undang,” ungkap Manli, salah seorang tokoh adat Dayak.

Bentuknya memang bukan senjata khas warga Dayak, Kalimantan Tengah. Diperkirakan, senjata tersebut ikut tenggelam bersama kapal yang bisa jadi menyerang Kerajaan Bataguh. Peperangan itu diperkirakan terjadi sekitar 1400 Masehi. ”Kerajaan Bataguh mempunyai luasan yang besar di Kapuas, dan Pulau Telo adalah salah satunya,” ujar Manli.

Dia menjelaskan, sebelumnya juga pernah ditemukan meriam di Sungai Kapuas dan tidak jauh dari Pulau Telo. Tepatnya di Mandomai, Kecamatan Kapuas Barat. Temuan tersebut memperkuat analisis sejarah tentang adanya peperangan Kerajaan Bataguh dengan orang asing.

Di ujung keris raksasa yang ditemukan itu terdapat tujuh lubang. Konon, lubang tersebut menunjukkan bahwa keris itu sudah memakan nyawa orang. ”Seperti halnya senjata khas Dayak mandau, apabila terdapat lubang di ujungnya, itu menandakan bahwa senjata tersebut pernah menghilangkan nyawa seseorang,” ujarnya.

Ketua Dewan Adat Dayak Kabupaten Kapuas Anggie Ruhan menyatakan hal yang sama. Dia juga menduga adanya kaitan antara keris tersebut dan Kerajaan Bataguh. Kedua benda itu diperkirakan berumur 300 tahun lebih.

Dikatakan, penemu benda itu disebut ”ketuahan” (keberuntungan) dalam bahasa Dayak karena tidak semua orang bisa mendapatkan. ”Benda tersebut mempunyai daya magis. Penemu merupakan orang terpilih,” katanya.

Berkaitan dengan beberapa temuan bersejarah itu, dia menyarankan pembangunan museum di sekitar Kapuas. Dengan begitu, benda-benda bersejarah yang ditemukan bisa tersimpan dengan aman. ”Beberapa kali usul pembangunan museum telah diajukan, namun hingga kini tak kunjung realisasi,” ungkapnya.

Menurut dia, museum berfungsi sebagai pusat dokumentasi dan penelitian ilmiah. Juga dapat menjadi pusat perkenalan kebudayaan antardaerah dan antarbangsa serta sebagai media pembinaan pendidikan kesenian dan llmu pengetahuan.

Keris raksasa itu ditemukan penyelam tradisional, Wawan, 21, dan temannya, Yanto, 28, di Sungai Kapuas, Kelurahan Pulau Telo, Kecamatan Selat, Kabupaten Kapuas. Keris sepanjang 1,3 meter tersebut berada di bawah jembatan Pulau Telo.

Sejauh ini, kata Wawan, belum ada yang menawar keris itu. Dia pun berlum berniat menjual. ”Banyak warga yang berdatangan untuk melihat-lihat saja,” ujar Wawan saat dihubungi Kapos melalui telepon. (ria/jpnn/ruk)JAWA POS

0 komentar:

Poskan Komentar

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com

YANG TERBARU DARI BAGINDAERY

ARTIKEL PILIHAN

BACA JUGA

DAFTAR LENGKAP ARTIKEL BLOG BAGINDAERY

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...