Translate

ARTIKEL PILIHAN

Segitiga Emas (Golden Triangle) ada di tengah kota Jogja

Written By Situs Baginda Ery ( New ) on Rabu, 21 Juli 2010 | 16.27

Daerah sigitiga di dunia adalah poros sebuah aktivitas yang sangat menarik untuk dibahas. Ada segitiga emas diwilayah utara Thailand sebagai pabrik terbesar narkotik dunia, segitiga Bermuda wilayah di Amerika yang penuh dengan misteri, sedangkan di peta pariwisata Jogjakarta dan Indonesia ada wilayah segitiga obyek wisata Yogyakarta yang meliputi candi Borobudur, Yogyakarta kota dan Candi Prambanan, namun didalam kota Jogjakarta sendiri ada “Segitiga Emas ” yang menjadi objek penting yang dibahas dalam posting kali ini.

Jogjakarta daerah Segitiga Emas sudah tidak asing lagi sebagi daerah tambang emas bagi pelaku dan pekerja pariwisata. Area ini adalah area tambang emas dan “Must visited area in Yogyakarta” dengan ditandai sebagai wilayah 5 star oleh para tour guide yang berasal dari wilayah Jogja sendiri ataupun tour guide dari luar kota Jogja, sehingga walaupun tidak tercantum dalam peta pariwista Yogyakarta wilayah ini dianggap jauh ebih penting dari pada obyek wisata utama Indonesia Candi Borobudur yang dianggap oleh dunia sebagai salah satu warisan budaya.

Wilayah ini meliputi wilayah dari Jl. Timoho ke selatan ke Kota Gede dan ke selatan barat wilayah Tirtodipuran Walau pada saat ini kharisma wilayah ini sudah berangsur-angsur pudar karena pergeseran kemempuan ekonomi pelancong yang datang ke Jogjakarta dan tumbuhnya segitiga emas yang lain di luar kota Jogja, akan tetapi wilayah ini telah menginspirasi banyak orang di Jogja untuk menjadi tour guide, bagaimana tidak hanya dengan sering sering mengantar tourist ke segitiga emas ini, mimpi seorang tour guide untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dapat ter-realisir dalam hitungan jam. Sejak tahun 70 an hingga sekarang wilayah ini telah menghidupi ribuan orang, baik yang secara langsung atau tidak langsung memikmati recehan yang mengalir dari wilayah ini.

Lalu bagaimana pengaruh spiritual wilayah ini bagi perkembangan orang yang berkerja sebagai tour guide di Jogjakarta?

Diibaratkan wilayah ini sudah mendarah daging di jiwa tour guide di Jogjakarta, hingga dalam menjalankan fungsinya sebagai ujung tombak pariwisata tour guide akan selalu terinspirasi untuk memperkenalkan wilayah ini kepada kaum pelancong yang dipandunya. Guide akan menolak bekerja apabila dalam tour itineray tidak tercantum program yang menyebutkan “Yogyakarta City tour”. Biasanya tour guide wegah guiding overland karena hasilya tidak seperti kunjungan ke Segitiga Emas, mau dibayar murah bahkan tidak dibayarpun mau asal ada kunjungan ke wilayah Segitiga Emas. Jika tourist yang dipandunya mengunjungi wilayah segitiga emas ini memberikan hasil guide akan tersenyum, namun jika sebaliknya jika tidak memberikan hasil guide akan memaki-maki baik secara lahir maupiun batin…!”Tamu elek.. wes ra servis-servisan diterke wae langsung mulih neng hotel.. mengko ngomong Kraton tutup ana upacara, Taman Sari yo tutup lagi ana renovasi..!” Expressi adalah bentuk kekecewaan dan tentunya juga bentuk penghargaan seorang guide terhadap pariwisata, sebuah penghargaan yang teramat rendah terhadap kampanye pariwisata, ketidaktahuan seorang guide bahwa untuk mendatangkan dan menyakinkan seorang tourist untuk berkunjung di Jogja butuh perjuangan yang teramat sulit dan sangat mahal, memakan waktu dan tenaga .

Kharisma wilayah ini ternyata di jaman ketika kemampuan ekonomi kaum pelancong di Jogja tidak lagi seperti dulu, menimbulkan dampak negatif yang mengimbas langsung ke tour guide, dampak negative yang dapat terlihat jelas adalah

1. Ketika memasuki era kebebasan di bidang pariwista guide di Jogja ternyata tidak punya peranan yang penting dalam pengembangan pariwista di Jogja selain sebagai pekerja pariwista “memandu tourist”, mereka tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan untuk menanfaatkan pariwisata sebagai ladang selain menengadahkan tangan ke travel biro untuk mendapatkan pekerjaan dan order. Dalam kenyataan keseharian walaupun begerak dalam dunia pariwista, ketika disodori untuk membuat tour quotation, tour guide tahu bagaimana cara menyusun sebuah rencana kegiatan tour ke sebuah obyek wisata ?? Betul ini disebabkan karena sikap masa bodoh untuk mempelajari dan mengetahui management sebuah perjalanan wisata, yang menjadi diketahuinya adalah berapa guide fee yang didapat, berapakah sisa expend yang dapat dibawa pulang, dan berapakah hasil dari shopping yang diterima.

Di internet jika kita mencari informasi tentang tour guide maka hanya dijumpai tour guide yang berasal dari Bali yang telah berani mempromosikan dirinya sebagai tour organizer yang profisional, hal ini berlawanan dengan tour guide di Jogja , disearch engine tidak ditemukan satupun yang berani memprosikan dirinya sebagai tour organizer yang handal, karena memang tidak ada kemauan untuk berkembang dan keberanian, untuk lepas dari posisinya sebagai pekerja yang dalam memiliki nama-nama berbeda sesuai dengan tempat dimana ia berkerja seperti dalam posting sebelum ini.

Sikap hanya ingin mengambil hal-hal yang praktis, sikap masa bodoh dan kemautidaktahuan tour guide adalah pengaruh spiritual dari aura negatif “segitiga emas” yang ada di kota Jogja.

2. Karena dininabobokan dengan sebutan sebagai “Ujung Tombak Pariwista” dengan bersenjatakan Undang-Undang, tour guide di Jogja masih beranggapan bahwa tanpa guide pariwista tidak dapat berjalan …. sehingga mereka mengeluarkan senjatanya untuk mendapatkan fee lebih tinggi… padahal ini keliru sama sekali… ada hal yang lebih tinggi nilanya dari sekedar dari pada guide fee tapi mengapa tour guide hanya memilih guide fee, mark-up expend dan komisi saja, yang nilainya sangat kecil ??. Dalam pariwisata sah-sah saja tour guide menjadi tour organizer, memiliki usaha transport, memiliki boutik suvenir atau menjadi apa saja yang dia inginkan, namun apa bila memilih bertahan dengan hal-hal yang tidak produktif yang sesaat, mimpi jadi orang kaya dengan mengantar tamu ke Segitiga Emas hingga tujuan semula bekerja sebagi tour guide terlupakan, maka ini jelas itu pengaruh dari aura negatif “segitiga emas” masih belum hilang dari kehidupan seorang tour guide.

Dari point-point di atas terlihat betapa besar pengaruh spiritual Segitiga Emas di kehidupan seorang guide, sehingga membuat tour guide Jogja mandul untuk berkspressi dan berkreatifitas.

Dalam filosophi bisnis pariwisata tidak dikenal sama sekali batas…. semua orang bebas bergerak untuk mendapatkan keuntungan dari pariwisata karena pariwisata milik orang banyak tidak ada monopoli, semua bebas bersaing siapa yang memberikan layanan yang terbaik dan disukai orang dialah pemenangnya!!. Di era bebas, segala batasan ataupun undang-undang boleh diabaikan apabila malah menghambat.. . Dalam bisnis perjalanan wisata, sebuah perjalanan wisata tanpa tour guide pun, bisnis pariwisata harus dapat berjalan lancar dan tour guide pun tidak dapat protes “itu harus melanggar undang-undang !”. Bangga merasa dilindungi undang-undang, dan mengabaikan kreatifitas di era keterbuakaan adalah salah satu dari bentuk pengaruh segitiga emas.

2. Sunan Kalijogo Sang Inspirator

Sejarah telah membuktikan, bahwa kesaktian jalan Timoho sabagai primadona penting dalam sindikat segitiga emas , terasa bahkan sejak sebelum calon pelancong mendarat di airport internasional , seperti Cengkareng ,misalkan ! perlu di tambahkan, bahwa wilayah segitiga emas, tidak hanya menginspirasi pelaku pariwisata lokal , tetapi , setidaknya juga se antero jawa Bali , bahkan ada Guide yang berasal dari Medan , Utara Sumatera , yang memandu rombongan turis eropa selama 21 hari , pun , selalu me njadikan jalan Timoho sbg tambang emas , mempercepat terealisasinya mimpi pencukupan kebutuhan material.

Syahdan, di parkiran, bandara, saat menunggu sang pelancong mendarat, sesama SOPIR angkutan wisata , mereka berbincang, dari masalah macetnya jalan jalan di ibukota, kelkuh kesah orang tua, saat harus menyiapkan beaya pendidikan untuk anak anak mereka, sampai kemudian, hal hal yg membuat mereka ter stimulasi untuk segera sampai Jogja, konon, pada saat pelancong banyak melakukan pembelian di segitiga emas Jogja , bahkan, tidak usah di injak pedal gasnya pun, mereka akan sampai rumah dgn selamat, sambil menunjukkan kepada anak istri yang telah ditinggalkannya dalam 10 hari rangkaian tour ke Jawa dan bali.

Dengan senda gurau yang khas, mereka bahkan menyebut kunjunga ziarah ke WALI ke 10, dalam penyebaran agama Islam di pulau jawa, kita mengenal WALI SONGO, slah satunya adalah Sunan Kalijogo, kebetulan sekali jalan Timoho adalah nama jalan dimana kampus STAIN berada, yang dulu bernama IAIN SUNAN KALI JOGO, nah karena itulah, kalau kita hanya mengenal jumlah Wali totalnya adalah 9, yang kemudian juga di namakan Wali Songo.

Terispirasi dengan nama besar Walisongo sebagai IAIN maka di selatan rel jalan Timoho oleh para driver dikatakan ada titisan wali yang ke-10, bernama Sunan Picaso !! kunjungan wisata untuk touris asing ke Jogja, hanya akan afdol setelah dilengkapi dengan kunjungan atau ziarah ke Wali yang ke-10

3. Awas ada KKK ( Klux Klux Klan ?? ) di kota Jogjakarta

Sejarah mencatat bahwa di Amerika, ada gerakan rasis, melawan kulit berwarna, mereka orang kulit putih ortodoks, turunan Irlandia, anti kulit berwarna ( kulit hitem afrika , kulit kuning asia, dan kulit merah indian mexico ) Nah, nama gerakan itu adalah KKK , kepanjangan dari Kluk Kluk Klan, adalah KLAN dari gerakan Kluk Kluk, populer disebut, Triple K, nama lainya juga kaum Red Neck, alias leher merah , mereka sangat membenci pendatang (aku kan pernah jadi pendatang / imigran di USA ), mereka lupa, bahwa, mereka pun awal mulanya juga pendatang , kan !!

OK , KKK yang satu ini tidak ada hubunganya dengan yang di America, tetapi KKK yang ini berada dalam pariwista Jogjakarta, itu juga bisa dimaknai sbg Golden Triangle Act, adalah kunjungan ke Kraton, diteruskan ke Kabul dan di akhiri di Kotagede, jadi bahan cerita didapat dan ajarakan ke tourist di Kraton adalah: Explorasi budaya yg di kaitkan dgn kerajinan perak dan batik sebagai subject materi utama dan diperkenalkan sebagai pemanasan, selesai Kraton, bukannya ke Taman Sari atau Pasar Burung, tetapi ke Timoho ke Kabul dan Kotagede sehingga yang disebut wilayah K K K = Kraton-Kabul -Kotagede. Area yang merupakan tambang emas bagi komponen pariwisata di Jogja.

Golden Triangle di Jogja sangat berperan dalam perkembangan pariwisata Jogja sehingga keberadaannya sangat pentung dan secara langsung ataupun tidak sangat mempengaruhi perkembangan pariwisata Jogja, dampak yang yang nyata adalah:
1. Kemampuan financial pekerja pariwisata yang meningkat sehingga berimbas di dalam kehidupan keluarga pekerja pariwisata sehari-hari.
2. Harga tour dapat ditekan karena dengan keberhasilan kunjungan ke Area Segitiga, akan terjadi subsidi silang yang dapat menekan kos perjalanan wisata di Jogja?

Catatan:
Artikel ini tidak dapat sama sekali dipertanggungjawabkan
karena merupakan personal persepsi, interpretation yang tidak teruji secara akademis dan ditulis untuk hanya kalangan internal sendiri. Penggunaan materi dan kosa kata tanpa seijin penulis arikel dapat dituntut secara hukum sebagai bentuk pelecehan dan perbuatan yang tidak menyenangkan.

0 komentar:

Poskan Komentar

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com

YANG TERBARU DARI BAGINDAERY

ARTIKEL PILIHAN

BACA JUGA

DAFTAR LENGKAP ARTIKEL BLOG BAGINDAERY

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...