Translate

ARTIKEL PILIHAN

Begadang, Antara Manfaat & Mudharatnya

Written By Situs Baginda Ery ( New ) on Rabu, 07 Juli 2010 | 00.13

Begadang.., jangan begadang

Masih ingat lagu raja dangdut yang sangat terkenal di masa kecil saya dulu itu (ana hanya terdengar lho, bukan termasuk fans nya dia). Kalo dilihat dari kaca mata Islam ada benarnya juga ya… tapi tak mesti begadang itu haram lho. Ada juga begadang yang syar’i, yang dipuji dalam dalam Islam. Apa itu..???. Simak dong postingan berikut, kalau ingin buktinya dan dalil-dalilnya.

Masalah begadang, kita angkat dalam postingan kali ini, karena begitu pentingnya masalah ini untuk dibahas dengan karena alasan-alasan sebagai berikut:

  1. Begadang sering dialami atau dilakukan oleh banyak orang,
  2. Adanya dosa yang diakibatkan oleh begadang (ketika dilakukan dalam hal yang tidak bermanfaat),
  3. Banyaknya hal yang akan tersia-siakan atau lenyap disebabkan karena begadang (seperti mengabaikan kewajiban atau mengakhirkannya),
  4. Begadang terkadang mengakibatkan kelelahan sehingga menyebabkan rasa berat atau malas melakukan shalat witir,
  5. Dan begadang merupakan bagian dari waktu yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.

Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan kita dalam sabdanya;

Tidak ada begadang kecuali bagi seorang yang melakukan shalat atau menempuh perjalanan (H.R. Ahmad dari Ibnu Mas’ud).*

Waktu yang dimiliki oleh setiap orang beragam sesuai dengan keadaan mereka masing-masing. Seorang sahabat Nabi, Salman al-Farisi meriwayatkan bahwa manusia terbagi dalam tiga keadaan setelah shalat isya’, sebagaimana perkataan beliau; “…. Jika manusia telah melakukan shalat isya’, maka mereka berada dalam tiga keadaan; diantara mereka ada yang mendapatkan kebaikan dan tidak tertimpa keburukan, ada yang ditimpa keburukan namun dan tidak mendapatkan kebaikan, dan ada yang tidak mendapatkan kebaikan dan juga tidak tidak tertimpa keburukan.”

Kemudian Salman al-Farisi menjelaskan lebih lanjut bahwa orang yang melakukan sholat isya’, lalu mengambil kesempatan dari kelalaian orang lain dan gelapnya malam dengan melaksanakan shalat malam akan masuk dalam golongan yang pertama. Sedangkan orang yang tidur, maka dia tidak mendapatkan kebaikan dan tidak juga ditimpa keburukan. Adapun selain dari kedua keadaan tersebut tentulah termasuk kelompok yang kedua, akan ditimpa keburukan dan tidak akan mendapatkan kebaikan (Qiyamul lail: 12, al-Marwazi).

Dengan berlandaskan berbagai hal diatas, maka begadang adalah sesuatu yang dilarang, bahkan diharamkan jika menyebabkan meninggalkan shalat subuh. Terlebih lagi jika begadang tersebut dilakukan dalam hal-hal yang diharamkan.

Alangkah baiknya jika kita menyimak apa yang diriwayatkan Imam Malik dalam kitabnya al-Muwatha’; “Sesungguhnya Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu pernah kehilangan Sulaiman bin Abi Hatsmah pada shalat subuh. Lalu beliau pergi ke pasar, sementara tempat tinggal Sulaiman berada antara pasar dan masjid Nabawi. Kemudian beliau terjumpa dengan Syifa, ibu Sulaiman. Beliau berkata kepadanya, “Aku tidak melihat Sulaiman pada shalat subuh!”. Lalu ia menjawab, “Sesungguhnya dia shalat malam, lalu tertidur”. Beliau radhiyallahu ‘anhu lalu berkata, “Melakukan shalat subuh dengan berjama’ah lebih aku sukai daripada melakukan shalat malam” (al-Muwatha’, kitab ash-Shalah: 101).

Lihatlah bagaimana Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu mencela Sulaiman bin Abi Hatsmah. Padahal begadang yang ia lakukan untuk mengerjakan shalat malam. Hal itu karena melalaikan sesuatu yang lebih utama darinya; shalat subuh berjama’ah.

Imam asy-Syathibi berkata, “Imam Malik tidak suka menghidupkan seluruh bagian malam”, boleh jadi Imam Malik tidur dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai teladan. Kemudian Imam asy-Syathibi berpendapat bahwa, “tidak mengapa begadang, selama tidak berdampak negatif terhadap shalat subuh” (al-I’tisham: 25-26).

Bagaimana jadinya jika begadang yang dilakukannya bukan dalam ketaatan atau kebaikan?. Imam Ibnu Hibban rahimahullah berkata dalam shahihnya, “Telah diungkapkan sebuah khabar yang menunjukkan larangan begadang setelah isya’ (terakhir) dalam hal yang bukan merupakan sebab-sebab akhirat”. Ibnu Hibban juga menyebutkan adanya riwayat yang menunjukkan sesungguhnya larangan begadang sama sekali tidak dimaksudkan kepada begadang dalam masalah ilmu.

Kemudian ia menuturkan sebuah hadits yang sanadnya bersambung kepada Umar ibnu Khathab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begadang pada suatu malam di rumah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu karena ada suatu urusan kaum muslimin. Pada malam yang lain, beliau begadang sementara aku bersama beliau” (Shahih Ibnu Hibban, III/369-370).

Kesimpulannya bahwa begadang bisa dilakukan jika dalam hal-hal kebaikan, seperti: belajar, menunggu waktu shalat, berjaga-jaga di daerah perbatasan dalam kondisi perang (ribath) atau melakukan sesuatu bagi kemaslahatan kaum muslimin. Begadang yang semacam ini adalah terpuji, selama hal itu tidak menyebabkan pengabaian sesuatu yang lebih penting.

Ibnu Taimiyah rahimahullah menamakan begadang seperti ini dengan “Begadang Syar’i”.

Alhamdulillah…. smoga bermanfaat ye..

Ma’alim fi Thariq Thalab al-Ilmi, Abdul Aziz bin Muhammad as-Sadhan (Edisi Indonesia: Bimbingan Menuntut Ilmu; Tahapan, Adab, Motivasi, Hambatan, dan Solusi).

————————————————————————————————————————————

* Sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hal ini tidak disebutkan derajat hadits tersebut.

0 komentar:

Poskan Komentar

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com

YANG TERBARU DARI BAGINDAERY

ARTIKEL PILIHAN

BACA JUGA

DAFTAR LENGKAP ARTIKEL BLOG BAGINDAERY

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...