GOOGLE TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

ARTIKEL PILIHAN

Sebuah Renungan Diakhir Tahun, Mau Dibawa Ke Manakah Kehidupan Kita?

Written By Situs Baginda Ery (New) on Selasa, 29 Desember 2015 | 11.01

Hari ini saya baru saja pulang dari sebuah acara malam bina iman taqwa (MABIT) akhir tahun di Masjid Ukhuwah Islamiyah, Universitas Indonesia. Acaranya berlangsung selama 2 hari, dari tanggal 26 – 27 Desember 2015. Walaupun hanya 2 hari, namun begitu banyak pembelajaran yang saya dapatkan di sana. Berkali – kali, saya merasa diri saya tertampar oleh pemaparan materi dari para pembicara. Begitu selesai mengikuti acara MABIT ini, tangan ini terasa gatal sekali ingin segera menuliskannya di blog.
Kali ini saya ingin menyampaikan kembali apa yang saya terima dari Ust. Legisan Sugimin, salah satu pemateri di acara MABIT tersebut. Saya sudah mengetahui beliau sejak lama, karena beliau adalah salah seorang trainer utama di ESQ. Dulu, sewaktu awal – awal saya berlatih menjadi trainer, ESQ lah yang banyak membantu saya terutama tentang pembinaan mental dan karakter. Tidak disangka, setelah sekian tahun tidak berjumpa, saya menjumpai beliau di MABIT kali ini.
Apa yang beliau sampaikan sebenarnya adalah sebuah renungan sederhana. Beliau tidak membawakan materi layaknya training ESQ pada umumnya. Waktu pemaparannya pun singkat, hanya 30 – 40 menit. Namun, bagi saya sendiri, apa yang disampaikannya membuat saya mengingat lagi akan apa itu arti dari eksistensi manusia. Ust. Legisan membawakan materi renungan dengan topik : “Mau Dibawa Ke Mana Kehidupan Kita?”

Apa Hal yang Seringkali Paling Kita Rindukan Saat kita Merantau?

Itulah pertanyaan pertama yang dilontarkan ust Legisan kepada saya, dan kepada seluruh audience yang hadir pada waktu itu. Tentu saja serentak kami para audience menjawab : “Kami RINDU PULANG!”. Teringat waktu itu saya meninggalkan istri di rumah sendirian dalam keadaan sakit untuk ikut mabit. Namun, mungkin tidak seberapa dibandingkan dengan peserta lain yang datang dari jauh atau adalah seorang perantau yang jauh dari kampung halamannya.
Tentu saja, ketika kita pergi merantau maka hal yang paling kita rindukan adalah pulang. Saat sekolah atau kuliah saja, jika jam pelajaran sudah habis, kita akan senang sekali karena sudah waktunya untuk pulang.
Tetapi, inilah pertanyaan yang membuat hati saya bergetar.
“Jika kesempatan hidup yang diberikan Allah SWT ini diibaratkan dengan merantau, siapakah di antara kalian yang rindu untuk pulang kembali kepadaNya?”
Sontak mendapatkan pertanyaan ini saya jadi terdiam. Sungguh, nyaris sepanjang hidup saya yang sudah puluhan tahun, sedikit sekali, jarang, atau mungkin tidak pernah terbesit keinginan untuk pulang kepada Allah. Padahal, seperti yang kita tahu, pada hakikatnya kehidupan manusia adalah sementara dan semua manusia pasti akan pulang kembali kepadaNya.
Mengapa ya, saya kok tidak terbesit kerinduan untuk pulang? Mengapa tidak terbesit keinginan untuk bertemu Allah dan RasulNya?
Mengapa kok justru ‘kepulangan’ menjadi sebuah hal yang menakutkan dan selalu ingin sebisa mungkin ditunda waktunya?
Apakah karena kita lupa asal usul kita? Apakah karena kita lupa bahwa kampung kita dulu adalah di akhirat sana? Apakah kita lupa bahwa Allah SWT Tuhan kita?
Semua renungan yang membuat saya berpikir…. dan diingatkan kembali bahwa sebenarnya kehidupan ini adalah sebuah perjalanan untuk mempersiapkan bekal untuk pulang. Saya semakin merinding saat ternyata ‘waktu kepulangan’ kita itu tidak ada yang tahu. Saya melihat banyak teman – teman seangkatan saya yang sudah mendahului saya untuk pulang. Saya jadi membayangkan, jika saya ‘pulang’ saat ini ke hadapan Allah, sudahkah saya siap mempertanggungjawabkan apa yang saya lakukan di dunia?
Saya mengibaratkan saat ini Allah menitipkan sebuah truk kontener kosong kepada kita. Tinggal keputusan kitalah ingin membawa truk kontener ini kembali seperti apa. Apakah ingin kembali dengan muatan yang baik (amal pahala)? Ingin mengembalikan truk kontener yang kosong melompong,  atau ingin dipenuhi dengan muatan – muatan yang merusak kontener tersebut (dosa/kelalaian)?
Semua orang pasti akan pulang, hanya saja tinggal bagaimana nantinya manusia membawa hidupnya ke arah mana.

Ingin Hidup Seperti Lalat atau Hidup Seperti Lebah?

Karena kita semua sudah sadar bahwa kehidupan ini adalah untuk mencari bekal untuk pulang, tinggal kita pilih ingin membawa kehidupan kita seperti apa. Apakah ingin seperti lalat, atau seperti lebah?
Lalat, identik sebagai sebuah makhluk yang dekat dengan penyakit dan kotoran. Dia senang berkumpul di daerah sampah, atau hal – hal yang busuk atau berbau. Tidak hanya itu, yang dihasilkan lalat pun adalah penyakit apabila ada bakteri atau kotoran yang dibawanya. Sementara lebah, identik dengan kecerdasan dan manfaat. Dia berkumpul dan mengambil sesuatu yang baik (nektar bunga), untuk kemudian menghasilkan sesuatu yang baik pula (madu).
Saya jadi merenungi kehidupan saya sendiri. Selama ini, saya identik ke yang mana ya? Apakah saya hidup seperti lalat? atau saya hidup seperti lebah?
Apakah selama ini saya sudah dikelilingi oleh orang – orang baik, menyerap ilmu yang baik?
Atau, selama ini waktu saya dihabiskan untuk berkumpul bersama orang – orang yang tidak membuat saya maju? Atau, saya menghabiskan waktu untuk menyerap informasi yang tidak berguna?
Sungguh, jika bisa, saya ingin mengamalkan filosofi hidup lebah dalam diri saya.
Dia datang dari satu bunga ke bunga yang lain, lalu membuat sarang dan menghasilkan madu.
Begitu pula dengan seseorang yang datang dari satu guru ke guru yang lain, kemudian menghasilkan sesuatu yang bisa memberikan manfaat kepada orang lainnya.
Saya harap, tulisan singkat ini bisa menjadi ‘setetes madu’ yang saya hasilkan untuk Anda nikmati manisnya, dan blog ini merupakan sarang madunya ^^.
Rindukah Anda untuk pulang?
Apapun profesi Anda saat ini, entah pelajar, mahasiswa, pemimpin, entrepreneur, pengusaha, atau profesional sekalipun. Ujung – ujungnya pertanyaan inilah yang harus dijawab : Mau dibawa ke manakah hidup Anda setelah ini? Ingin hidup seperti lebah? atau hidup seperti lalat?
Andalah yang menentukan.
Salam CerdasMulia,
Arry Rahmawan
Founder CerdasMulia Institute
http://arryrahmawan.net/mau-dibawa-ke-manakah-kehidupan-kita-renungan-akhir-tahun/

0 komentar:

Poskan Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com

YANG TERBARU DARI BAGINDAERY

BACA JUGA

DAFTAR LENGKAP ARTIKEL BLOG BAGINDAERY

Ikuti situs Bagindaery

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...