Translate

ARTIKEL PILIHAN

Dibalik Sebuah Bencana [ Tragedi Situ Gintung & Banjir Tanah Datar ]

Written By Situs Baginda Ery ( New ) on Selasa, 26 April 2011 | 18.51

Hampir sepekan sudah, musibah jebolnya tanggul Situ Gintung Tangerang berlalu. Musibah yang diebut media sebagai “tsunami kecil”. Lebih dari seratus jiwa menemui ajalnya dalam peristiwa ini. Mereka hanyut, tenggelam terbawa arus. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Belum lagi usai pemberitaan dari situ gintung, musibah berupa banjir bandang melanda Kabupaten Tanah Datar Sumatra Barat. Kerugian harta benda, hilangnya rumah warga dan kehilangan anggota keluarga menjadikan peristiwa tersebut sebagai peristiwa yang memilukan. Bagaimana tidak, musibah ini musibah yang kesekian kalinya, silih berganti menimpa bangsa ini. Musibah seakan sudah bukan menjadi hal yang aneh lagi bagi bangsa Indonesia yang kebetulan terletak di daerah tropis. Daerah yang sering dikatakan sebagai daerah rawan bencana.

Bencana alam adalah salah satu dari berbagai jenis musibah yang menimpa umat manusia. Bencana alam, baik yang berupa gempa, banjir, badai dan lainnya telah Allah ta’ala ciptakan sebagai cobaan atau adzab bagi umat manusia. Bencana banjir, gempa hebat dan lainnya tetap muncul sebagai rentetan peristiwa hidup dalam sejarah kaum Muslimin.

Kita sebagai kaum yang beriman, melihat musibah tersebut sebagai suatu Cobaan. Sebagian meyebutnya dengan “bala” yang berasal dari kata “ibtalaa” yang bermakna menguji atau mencoba. Bala atau cobaan adalah sejenis ujian yang diberikan oleh Allah ta’ala kepada Hamba-Nya untuk menguji tingkat keimanan mereka. Wujudnya bisa berupa kesusahan ataupun kesenangan. Bisa berupa petaka atau karunia.

Sebuah pepatah arab juga menyebutkan :

“bil balaa i yukramul mar u aw yuhaa nu”
Hanya dengan ujian, seorang akan diberi predikat sebagai orang yang mulia atau orang yang hina.

Seorang muslim dengan imannya boleh diibaratkan seperti sebongkah emas murni. Ia mampu menempatkan dirinya dengan nyaman jika suatu ketika harus berhadapan dengan aneka cobaan yang bagaimanapun wujudnya. Keimanan seorang mukmin membuat dera musibah dan hantaman bencana tak ubahnya elusan di pipi datau sapaan manja seorang anak kecil.

Dengan modal syukur dan tabah, cobaan terlihat indah di matanya. Cobaan dipandang sebagai sebuah pengalaman. Tahu artinya pahit, mengerti artinya manis, merasakan pahit getir dan asam garam kehidupan, menjadi jaminan bahwa seorang mukmin telah lulus ujian.

Sabagai kaum muslimin, kita tidak bisa menutup mata. Selain sebagai cobaan musibah yang terjadi bisa juga Allah ‘azza wa jalla turunkan sebagai azab di dunia. Kadang, terasa sulit bagi kita menarik benang merah untuk membedakan antara cobaan dan adzab. Keduanya berbeda secara nyata, namun secara sederhana dapat dikatakan : Ketika seseorang bersenang-senang, ia berada dalam ujian dan cobaan. Ketika bencana datang menerpa, ia sebenarnya juga sedang mendapatkan cobaan. Namun, jika seseorang bersenang-senang, berfoya-foya, tanpa pernah menyadari ia sedang duji Allah azza wa jalla, malah dengan nekad menabrak aturan-aturan Allah ta’ala, tidak mempedulikan hal-hal yang haram. Lalu, bencanapun datang. Tak ragu lagi, kalau bencana itu adzab baginya. Adzab diberikan ketika manusia telah tenggelam dalam buaian dunia, hidup hanya untuk bersenang-senang, melumuri hidup dengan kemaksiatan bahkan kekafiran.

Sebagaimana firman Allah ta’ala yang artinya :
“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka gembira dengan apa yng telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am : 44 )

Musibah yang kerap melanda ini adalah sebuah ketetapan-ketetapan Allah azza wa jalla yang harus diterima dengan kesabaran. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya : “Allah azza wa jalla kagum terhadap perkara kaum Muslimin. Sesungguhnya seluruh perkara mereka adalah baik. Jika mendapat nikmat maka dia bersyukur, sehingga itu

baik baginya. Jika ditimpa musibah, maka dia bersabar, sehingga itu menjadi baik baginya.”

Selanjutnya, selayaknya kita sebagai seorang muslim untuk memohon ampunan atas segala dosa dan bersungguh-sungguh memohon supaya Allah ‘azza wa jalla menghilangkan musibah-musibah yang menimpa bangsa ini. Wallahu a’lam.

=================================================

rujukan : Tersenyumlah ! Bersyukur di Balik Musibah, Pustaka at-Tazkia, hal : 77-79

0 komentar:

Poskan Komentar

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com

YANG TERBARU DARI BAGINDAERY

ARTIKEL PILIHAN

BACA JUGA

DAFTAR LENGKAP ARTIKEL BLOG BAGINDAERY

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...