ARTIKEL PILIHAN

GOOGLE TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

ARTIKEL PILIHAN

Saya Lebih Suka TV One Dibanding Metro TV, Kamu?

Written By Situs Baginda Ery (New) on Minggu, 01 Juni 2014 | 15.28

Saya Lebih Suka TV One Dibanding Metro TV
.
1401533631391346921
images : kaskus
.
Saya suka nonton TV. Yang sering saya tonton MNC TV, Global TV, RCTI, TV One.
Yang lain saya agak jarang tonton. Alasannya sederhana saja, di rumah saya kebetulan ke empat Stasiun TV ini gambarnya dapat ditangkap dengan baik oleh antenna TV. Yang lain kurang bagus, ada semutnya. Mungkin saya harus ganti antenna, atau membetulkan posisi antenna.
.
14015337451695936760
images : comicvine.com
Lantas, kenapa saya lebih suka TV One ? Karena nggak ada Sponge Bob nya.
Sekali muncul Sponge Bob di layar TV, anak saya langsung jadi penguasa TV. Saya tidak bisa nonton TV lagi. Ternyata nonton Sponge Bob menimbulkan efek yang kurang baik juga pada anak saya. Anak saya jadi hapal dengan semboyan WIN-HT. Sebenarnya kalau anak saya jadi hapal Pancasila sih nggak apa-apa. Tapi kalau yang diingatnya yang bersih peduli dan tegas itu hanya Wiranto dan Hary Tanoe, dan bukan bapaknya, ya saya keberatan. Semboyan WIN-HT sering muncul di tengah acara film anak-anak.

Saya nonton TV tidak pernah mikir, ini TV punya siapa.
Setelah badai WIN-HT berkurang di MNC, Global,RCTI, sekarang muncul badai yang lebih besar di TV One. Setiap hari setiap saat ada Prabowo-Hatta. Kegemaran nonton TVOne jadi terganggu. Acara TV jadi penuh dengan Prabowonya, nggak ada Jokowinya.
.
Siaran di TV One : katanya JK pernah bilang Jokowi itu belum pantas menjadi Presiden. Tapi tidak pernah ditayangkan mengenai penjelasan JK mengenai statementnya tersebut. Itu kan statement JK empat bulan setelah Jokowi dilantik jadi Gubernur DKI
Siaran TV One : katanya Jokowi terlibat korupsi dalam pembelian bus Trans Jakarta. Tidak pernah ditayangkan pernyataan Jaksa Agung, bahwa Jokowi tidak terlibat, sehingga tidak ada alas an Jaksa Agung memanggil Jokowi
Siaran TV One : menjadi siaran yang sarat menjelek-jelekkan calon Presiden Jokowi. Sudah tidak ada kebebasan Pers lagi. Pemberitaan sudah tidak objektif, berimbang, adil, dan netral. TV One sudah tidak mengutamakan kepentingan publik, tapi lebih mengutamakan kepentingan pemiliknya.
.
.
.
Metro TV ?
Saya no comment, karena antenna TV saya belum saya betulkan . . . . .
.
.
.
.
.
Jonatan Sara

http://hiburan.kompasiana.com/televisi/2014/06/01/saya-lebih-suka-tv-one-dibanding-metro-tv-655854.html
15.28 | 0 komentar | Read More

Berita Terpanas Tahun Ini: Metro TV dan TV One Saling “Memojokkan”

http://statis.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2013/05/metro-tvone.jpg 
Adanya Bos-bos TV nasional yang bergabung ke Partai Politik membuat siaran TV kita semakin seru, Berita-beritanya membuat kita terbelalak. Saling memojokkan pihak lawan, Berita-berita yang bisa menjatuhkan lawan, akan disiarkan secara terus-menerus.
Kepemilikan saham sangat kentara sekali dalam berita yang ditampilkan> TV One dan MetroTV contoh nyata bagaimana berita yang ditampilkan. Kedua TV berita tersebut saling mendukung Calon Presiden yang didukung Koalisi Bosnya.
Kita ambil contoh tanggal 12 Mei (peringatan kerusuhan 1998) bagaimana Metro TV tiap hari, siang malam memberitakan masalah penculikan aktivis 1997, tiap hari siang malam, wawancara dengan para aktivis yang pernah diculik. Kemudian masalah perpecahan ditubuh Golkar, Masalah Lumpur lapindo, bahkan siaran langsung dari Prong, Sidoarjo, Jawa Timur. Berita –berita ini secara tidak langsung ditujukan untuk memojokkan Prabowo dan ARB.
TV One, tidak mau kalah, Video Jusuf Kalla yang meremehkan Jokowi, karena dianggap belum berpengalaman untuk memimpin negeri ini, terus menerus diputar dan disiarkan, walaupun bentuknya dibahas dalam Talk Show. Bahasa Inggris Jokowi, saat diwawancarai Stasiun TV asing, karena bahasa Inggris Jokowi dianggap “blepotan” atau kurang fasih, oleh TV One diulang-ulang diberitakan. Yang terakhir adalah surat permintaan penundaan pemeriksaan oleh Kejaksaan Agung RI, Surat itu seperti bocoran, walaupun dinatah oleh Jokowi bahwa surat oitu palsu.
Bagi masyarakat, siaran kedua TV nasioanl tersebut sangat menarik, walaupun kadang –kadang sangat kentara sekali, terkadang kasar, Tetapi terlalu memanjakan dalam memberitakan, Partainya. Namun  banyak masyarakat yang sudah mengerti kedua TV tersebut, siapa pemiliknya, bergabung kemana Capres mana pemiliknya. Kita berharap Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menegur kedua TV tersebut agar  jangan terlalu kasar dalam menyiarkan berita pihak lawan.
http://hiburan.kompasiana.com/televisi/2014/05/31/metro-tv-dan-tv-one-saling-memojokkan-658891.html
15.27 | 0 komentar | Read More

Berita Terpanas Tentang Metro TV dan TV One: Metro TV dan TV One Terancam Dicabut Izin Siarnya

Sudah bukan rahasia umum lagi kalau media-media sekarang ini  baik itu media cetak, online maupun televisi sudah tidak netral lagi dalam melakukan pemberitaan, terutama saat-saat seperti ini menjelang pemilu presiden yang akan dilaksanakan pada tanggal 9 Juli nanti.
Masyarakat Indonesia yang cerdas ini sudah bisa menilai bahwa media-media, terutama televisi dalam melakukan penyiarannya sudah berpihak kepada salah satu capres yang ada. Terlebih lagi yang sangat-sangat kentara adalah dua televisi berita yaitu TVOne dan Metrotv.
TVOne yang merupakan milik Aburizal Bakrie yang tiada lain adalah ketua umum Golkar yang secara kebetulan adalah pendukung Prabowo, sedangkan Metrotv adalah milik politikus Nasdem yang brewokan yaitu Surya Paloh yang kebetulan juga adalah pendukung utama Jokowi. Bisa dipastikan kedua TV berita itu akan memberikan penyiaran yang tidak seimbang. Bahkan Jokowi, sebagai capres tidak segan-segan dan terang-terangan meminta kepada Metrotv untuk melakukan serangan udara dan melakukan pencitraan terhadap dirinya.
Melihat fenomena itu, Komisi Penyiaran Indonesia pun gerah dibuatnya. KPI yang mempunyai misi terwujudnya sistem penyiaran nasional yang berkeadilan dan bermartabat untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat itu menilai kedua televisi itu sudah tidak proporsional dan sudah tidak netral lagi dalam melakukan penayangan berita.
Bahkan lebih parahnya lagi kedua televisi itu dianggap sudah menyalahi fungsi lembaga penyiaran sebagai perekat sosial. Bukannya semakin merekatkan, justru kedua media itu dianggap telah memantik konflik dalam masyarakat yang sekarang ini sudah cerdas, dan semakin kritis dalam menyikapi pemberitaan
Oleh karena itu, KPI mencoba bersikap tegas dengan memberikan surat peringatan kepada kedua televisi yang sudah tidak netral itu.
Tetapi ternyata apabila sudah diperingatkan kedua televisi itu tetap kekeuh menyiarkan pemberitaan yang tidak berimbang, KPI tidak segan-segan akan memberikan teguran yang sangat keras. Bahkan apabila tetap bandel dan seolah-olah anjing menggonggong kafilah tetap berlalu KPI pun dengan terpaksa akan merekomendasikan ke Kementrian Komunikasi dan Informatika untuk mencabut izin siarnya.
Nah lo….
Terus bagaimana dengan Kompasiana tercinta ini, sudah netralkah? Tanya pada rumput yang bergoyang :)
http://nasional.kompas.com/read/2014/05/31/0919349/KPI.Dua.Televisi.Cenderung.Tak.Proporsional.Beritakan.Kandidat.Pilpres
15.26 | 0 komentar | Read More

BACA JUGA

DAFTAR LENGKAP ARTIKEL BLOG BAGINDAERY

Ikuti situs Bagindaery

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...