ARTIKEL PILIHAN

GOOGLE TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

ARTIKEL PILIHAN

Kompasiana Adalah Sarana Terbaik Tempat Menulis Seorang Mahasiswa

Written By Situs Baginda Ery (New) on Selasa, 09 April 2013 | 15.08

http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/03/1332981765952393769.jpg

Saya Sarankan Mahasiswa Menulis di Kompasiana

Judul di atas pada dasarnya adalah saran untuk para mahasiswa saya. Mengapa menyarankan seperti itu? Kurang lebih alur pikiran saya berangkat dari dua keprihatinan yang saya rasakan.
Pertama, ketika mengkoreksi tugas mata kuliah, seringkali saya menjumpai penulisan yang tidak tepat segi kaidah bahasa. Contoh sederhana misalnya tentang penggunaan  awalan (misalnya awalan di-). Misalnya dipukul, seringkali mereka menulisnya di pukul atau di kampus, mereka menulisnya dikampus.  Belum lagi seringkali saya jumpai kalimat KTB (kalimat tidak bunyi) yaitu kalimat yang gak jelas maksudnya. Atau seringkali ada hubungan antar paragraf yang gak nyambung. Bayangkan saja mereka harus merevisi lalu mencetak kembali tugas mata kuliah atau harus mengirimkan kembali kalau pengumpulannya melalui email. Menjadi tidak efisien hanya gara-gara tidak familiar cara menulis dengan benar.
Keprihatinan yang Kedua adalah rajinnya mahasiswa menulis status di FB,  yang lebih banyak bersifat narsis ketimbang pengetahuan. Cukup memprihatinkan karena kepekaan mahasiswa lebih pada hal-hal yang bersifat narsis. Kalau ada fenomena di masyarakat, saya ingin tahu apa yang ada di pikiran mahasiswa, kalau hanya menulis narsis di FB saya kira hal itu tidak cukup.
Berangkat dari dua keprihatinan saya tersebut maka hipotesa saya adalah mahasiswa lemah dalam ketrampilan menulis dan kurang peka dalam memperhatikan fenomena di masyarakat.
Awalnya saya ragu untuk menyarankan mahasiswa menulis di Kompasiana. Mengapa demikian? kampus kami bukan mempelajari jurnalistik atau ilmu komunikasi. Kampus kami mempelajari akuntansi. Kalau kuliah di jurusan ilmu komunikasi atau ilmu jurnalistik maka wajar (atau bahkan harus) menyarankan mahasiswanya menulis di Kompasiana.
Namun keraguan saya cukup terkikiskan ketika menjumpai banyaknya kompasianer yang rajin menulis tapi mereka justru bukan berlatar belakang komunikasi atau jurnalistik. Fakta ini berbanding lurus dengan asumsi saya bahwa mahasiswa memiliki bakat yang beraneka ragam (multi talenta). Di sisi lain, asumsi saya juga menyatakan bahwa tidak semua mahasiswa berniat kuliah untuk menjadi akuntan atau auditor. Ada mahasiswa yang kuliah sekedar ikut-ikutan teman atau karena memenuhi keinginan orang tua. Mahasiswa kategori ini perlu diberikan ruang untuk mengembangkan ketrampilan di luar kompetensi kuliah.
Apa tujuan saya agar mereka menulis di Kompasiana? Pertama, dalam konteks pembelajaran, saya ingin mereka mengeluarkan pengetahuan yang mereka miliki. Apa saja yang ada di pikiran mereka saya berharap ada media untuk aktualisasi. Kedua, agar mahasiswa memiliki kepekaan persoalan di luar kampus. Menuliskannya menjadi sebuah reportasi atau opini tentu bukanlah hal yang mudah tapi perlu dilatih (saya juga belum tentu bisa…..hehehe).  Ketiga, agar mereka mempunyai ketrampilan selain ketrampilan di bidang akuntansi atau auditor.
Mengapa pilihannya Kompasiana? Topik tulisan di Kompasiana lebih variatif, saya berharap mahasiswa dapat menyalurkan minat pengetahuan mereka sesuai kanal-kanal di Kompasiana. Kekuatan Kompasiana terletak pada komunikasinya yang bersifat interaktif. Mahasiswa menulis dan memperoleh umpan balik dalam bentuk komentar. Bukan majalah kampus? majalah kampus memang ada tetapi frekuensi penerbitannya sangat terbatas  (setahun hanya 2 kali). Blog pribadi? perlu ketekunan untuk mengelolanya dan tidak mudah karena harus membagi waktu dengan kuliah dengan tugas yang seabrek banyaknya. Kompasiana lebih simpel, mahasiswa tinggal menulis apa yang dipikiran dan minatnya lalu disesuaikan dengan kanal di Kompasiana.
Bayangan saya, kalau mahasiswa rajin menulis kelak mereka akan memiliki ketrampilan menulis dan memiliki kepekaan terhadap persoalan di masyarakat. Mahasiswa senang dosennya pun senang. Mudah-mudahan gayung pun bersambut, pantun pun berbalas. Semoga.
sumber: http://edukasi.kompasiana.com/2012/08/06/saya-sarankan-mahasiswa-menulis-di-kompasiana-483129.html
15.08 | 0 komentar | Read More

Misteri Antara Mahasiswa dan Rokok

http://branchoftheworld.files.wordpress.com/2012/03/bahaya-rokok.jpgPada bungkus dan iklan rokok telah terpampang jelas kata-kata mengenai bahaya rokok bagi kesehatan. Tetapi mengapa masih banyak orang melakukannya? Apakah kalian mahasiswa baru juga merokok?
Orang mulai merokok ketika mereka masih remaja. Sejumlah studi menegaskan bahwa kebanyakan perokok mulai merokok antara umur 11 dan 13 tahun; dan 85% sampai 95% sebelum umur 18 tahun (Laventhal dan Dhuyvettere dalam Smet, 1994).
Menurut Lewin (Komasari dan Helmi, 2000) perilaku merokok merupakan fungsi dari lingkungan dan individu. Artinya, perilaku merokok selain disebabkan faktor-faktor dari dalam diri juga disebabkan faktor lingkungan. Selain itu Levanthe (dalam Smet,1994) mengatakan bahwa merokok tahap awal dilakukan dengan teman-teman (46%), seorang anggota keluarga bukan orang tua (23%), dan orang tua (14%). Hal ini mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Komasari dan Helmi (2000) yang mengatakan bahwa ada tiga faktor penyebab perilaku merokok pada remaja yaitu kepuasan psikologis, sikap permisif orang tua terhadap perilaku merokok remaja, dan pengaruh teman sebaya.
Faktor penyebab yang paling tinggi adalah faktor psikologis. Artinya, pertimbangan-pertimbangan emosional lebih dominan daripada pertimbangan-pertimbangan rasional bagi perokok. Nah, untuk itu bagi kalian mahasiswa baru yang ingin hidup baru yang sehat, berikut ini ada beberapa alasan “rasional” yang mungkin tidak kalian ketahui untuk berhenti merokok:
  • Health issues
    • Merokok sangat berbahaya untuk kesehatan dan merusak tubuh

    • Aku kehilangan sense of smell

    • Mengalami ketergantungan sungguh-sungguh mengganggu

    • Merokok membuat bau nafas amat tidak sedap

    • Aku sering mengalami sakit tenggorokan karena merokok

    • Aku akan punya energi lebih jika tidak merokok

  • Cosmetic issues
    • Merokok meninggalkan bau yang mengganggu

    • Merokok membuat tanganku berwarna kekuningan karena nikotin

    • Aku menjadi berkeriput karena merokok

    • Gigiku tidak putih lagi karena merokok

  • Social issues
    • Teman yang tidak merokok menjauhiku

    • My second-hand smoke is dangerous to those around me

    • Asap rokokku mengganggu orang lain

    • Puntung dan abu rokok membuat kotor lingkungan

  • Financial issues
    • Aku membuang-buang uang hanya karena rokok

    • Aku membuat bajuku berlubang karena terbakar rokok

    • Aku harus mengganti gordain karena mulai menguning

    • Aku harus membayar lebih untuk premi asuransi sumber


sumber: http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2013/04/09/menjadi-mahasiswa-baru-sehat-544402.html
15.03 | 0 komentar | Read More

Misteri Sebuah Skripsi Mahasiswa

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEitukRb0yTAO0nCNONorekH4ckE1Im-_UEoNThYKitgR4A0UuVoeL03ktzhc3Ku0ebV2cRzKKwc6VPngghFqgmJrGUluA7wJAcwiW8tESjtVaCAN_B5fvTgFNF5GWt-KgoVh-djp0T6mS8/s1600/setan+skripsi+2.JPG
Hal galau yang melebihi putus cinta adalah skripsi. Bagaimana tidak, skripsi merupakan titik pamungkas dari perkuliahan, yang pengerjaannya diliputi berbagai tantangan dan rintangan yang membuat depresi mahasiswa yang tak tahan mental.
Seperti saya sendiri, hehe. Menyelesaikan 144 SKS dng waktu 3,5 tahun tak langsung membuat saya lulus cepat. Masalahnya, sisa 2 SKS yang harus saya selesaikan molor sampai waktu yang saya sendiri tak tahu sampai kapan. 2 SKS itu adalah skripsi, yang membuat bobot badan saya menyusut dengan sendirinya, hehe.
Dulu, sewaktu saya masih semester-semester awal, sempat ngeledekin kakak tingkat yang wajahnya tirus sekali karena skripsi. Ternyata setelah saya yang mengalami, saya sudah nangis berapa kali karena skripsi, sampai-sampai makanpun ingin muntah kembali, jika pikiran tiba-tiba melayang ke skripsi.
Saya merasakan depresi akut. Dan saya butuh penyelesaian. Pernah saya berfikir untuk putus saja, saking menderitanya pikiran saya, namun teringat kembali perjuangan saya masuk PTN, hari-hari saya kuliah di perantauan, dan wajah ayah ibu saya yang pasti akan kecewa jika saya tak mampu menyelesaikan studi.
Maka, saya harus tetap semangat, dan mencari penyebab dan hal apa yang membuat saya menjadi depresi, sehingga saya bisa mengatasi masalah saya dalam menyelesaikan skripsi ini. Setelah saya analisa, beberapa hal yang membuat skripsi jadi seperti monster adalah :
1. Tingkah dosen.
Bagi dosen yang kebetulan baca, jangan tersinggung ya bapak ibu sekalian, karena tidak hanya saya saja yang mengeluh masalah ini, tapi rata-rata mahasiswa yang lagi skripsi, tantangan terbesarnya adalah tingkah dosen yang bikin ilfil.
Contohnya, saya janjian bimbingan dengan dosen penguji dirumahnya, saya pun ke rumah ibu ini, disitu saya harus menunggu karena beliau lagi istirahat setelah aktifitas. Agak berapa lama beliau keluar, dan bilang masih capek, saya disarankan bimbingan di kampus besok pagi saja. Akhirnya saya pulang dengan agak gondok dikit.
Besoknya pagi-pagi saya sudah datang dikampus. Beliau sampai jam sembilan belum datang juga. Baru jam sepuluh datang, saya pun senang beliau datang, tapi apa hal? beliau berkata mau menghadiri seminar dulu, saya pun menunggu sampai siang. Pukul satu beliau keluar, dan bilang capek. Akhirnya hari itu bimbingan tidak jadi lagi karena beliau langsung pulang.
Belum lagi dosen pembimbing yang sangat sulit dicari keberadaannya, dan proyeknya banyak sehingga mau bimbingan saja sulitnya minta ampun :(
2. Biaya
Sebagai mahasiswa eksak, kadang saya ngiri dengan mahasiswa sosial yang gampang sekali menyelesaikan skripsi. Ini terlihat dari model skripsi mereka yang contohnya : nyebar angket kemudian di analisa, atau mempelajari hal-hal di institusi tertentu sebagai studi kasus yang tidak terlalu membutuhkan banyak waktu dan biaya.
Sedang untuk mahasiswa eksak seperti saya, yang butuh penelitian di laboratorium dengan bahan yang sulit dan mahal, jika penelitiannya berkali-kali gagal, membuat saya menjadi depresi. Selain biaya sudah banyak keluar, namun hasil yang diharapkan tak kunjung selesai, dan kewajiban masuk lab harus terus dilaksanakan jika berharap skripsi selesai. Ya ini konsekuensi sebagai mahasiswa eksak, tapi tetap saja hal ini bikin mahasiswa depresi, kecuali yang beruntung ikut proyek dosen.
3. Mengejar Deadline
Inginnya, selesai kuliah tepat waktu, apalagi teman-teman seangkatan satu persatu sudah pada lulus, dan orang tua sudah bertanya “kapan lulus?”, haduh tambah bikin depresi berat.
Nah, bagaimana caranya agar skripsi selesai dan kita tidak depresi.
1. &angan anggap skripsi sebagai beban. &adi dijalani saja, tapi harus dengan sungguh-sungguh. Masalah tingkah dosen yang bikin ilfill, pikir saja, kapan lagi kita bersusah_susah seperti itu, anggap saja ini ujian mental kita sebelum kita benar-benar terjun di masyarakat. Dan nanti bisa dijadikan sebagai bahan kenang-kenangan kita waktu kuliah :)
2. Untuk biaya, kalau mminta ke orang tua kasihan mereka, nah sekarang waktunya untuk belajar mandiri, dengancara bekerja part time, ataupun mencari tambahan dengan berbagai peluang usaha, seperti jualan pulsa, jualan produk-produk kosmetik MLM, atau jualan makanan baik dijual langsung atau bisa juga menyewa stan. Nah kan ternyata hikmah skripsi bisa berwirausaha :)
3. Teman yang cepat menyelesaikan kuliah, kita jadikan inspirasi buat kita agar bisa menyelesaikan kuliahta sadari saja kalau jalan setiap orangberbeda-beda, selama kita bersemangat dan melakukan secara optimal, maka hasil akhir bukan menjadi kuasa kita, sehingga kita tidak depresi mengapa kok belum lulus-lulus juga.
Bagi yang senasib dengan saya, saya ucapkan selamat mengerjakan skripsi dengan damai :)
sumber: http://muda.kompasiana.com/2013/04/09/ketika-skripsi-selaksa-monster-549444.html
14.58 | 0 komentar | Read More

BACA JUGA

DAFTAR LENGKAP ARTIKEL BLOG BAGINDAERY

Ikuti situs Bagindaery

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...