ARTIKEL PILIHAN

GOOGLE TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

ARTIKEL PILIHAN

Sepotong Kisah Indah Islami: Pahit - Manisnya Kehidupan di Pesantren

Written By Situs Baginda Ery (New) on Minggu, 12 April 2015 | 13.54

Bagi teman-teman yang pernah merasakan kehidupan di pesantren tentunya terkadang merasakan indahnya hidup di pesantren. Ada suka dan ada duka, hidup berjama’ah dengan teman-teman. Merasakan indahnya kebersamaan, makan bersama, tidur bareng, sholat berjamaah, belajar bareng dan seabrek kegiatan yang sudah ditetapkan oleh pesantren.



Ketika pagi menjelang jam 03.00 kegiatan  pesantren sudah mulai muncul aktivitasnya, ada yang sholat tahajjud, ada yang sudah mandi ada yang tadarrus , belajar dan berbagai macam aktivitas yang layakynya dilakukan oleh seorang santri.
Memang kehidupan dipesantren dapat membuka wacana seseorang tentang bagaimana seharusnya menjalani kehidupan tanpa keegoisan semata, ketika ada sahabatnya sakit bersama-sama membantu, mencucikan baju, menjaganya sampai merawatnya hingga sembuh. Subhanallah, benar-benar indah bukan??
Ketika shubuh menjelang, bersama-sama kita pergi ke masjid, sholat shubuh berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan tadarrus dan kajian, lantas piket membersihkan pesantren agar nampak indah dan bersih. Selepas itu mandi dan ke kempus. Ketika sore menjelang, kembali kita menyibukkan diri untuk tetap mengingat Allah, sholat magrib, tahsin, kajian dan belajar.
Akan tetapi, terasa lebih indah apabila semua itu dilaksanakan semata-mata untuk mencari ridho Allah. Seberapapun amal kita apabila dilakukan dengan niat “tabarruj” maka tidak ada berkahnya. Bukan pahala yang didapat.




Satu hal yang membuat aku menjadi bertahan dipesantren adalah sikap zuhud dan kekeluargaannya yang bikin aku betah. Sewaktu pertama kali aku tinggal dipesantren benar-benar dech…. Serasa berada di “dunia lain”, aku yang tak biasa makan bersama dalam 1 piring, aku yang tak biasa mencuci baju sendiri, aku yang tak biasa mengepel lantai,nyapu, buang sampah,membersihkan kamar mandi (piket), merasakan ini benar-benar sebuah paksaan. Tetapi setelah 1 tahun aku tinggal dipesantren aku baru bisa merasakan betapa nikmatnya hidup di pesantren. Seakan selalu mengingat akhirat dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Insya Allah….
Namun, dibalik semua itu tidak semua anak yang dimasukkan oleh orang tuanya ke dalam pesantren adalah anak yang benar-benar baik, ada juga anak yang memang “nakal” dan tujuan orangtuanya memasukkan ke dalam pesantren adalah agar dia dapat terwarnai oleh teman-temannya yang sholeh-sholehah. Bukan malah dia yang terwarnai akan tetapi kadang-kadang kehadiran santri “bengal” ini justru mewarnai teman-temannya agar menjadi “nakal” seperti dirinya.
Dan aku merasakannya di dunia pesantren ini, ada aja ulah santri yang terkadang hampir-hampir saja aku ikut terjerumus. tanpa rasa takut ada aja yang dengan bangga menyanyikan lagu-lagu yang “kurang sopan” seperti dangdutan dan lain-lain. Ada yang dengan Pedenya menggunakan hot pants deuh…. deuh….. cape dah. 




Adalagi yang selalu saja menyalahkan teman-temannya, menganggap dirinya paling benar. Ada juga yang merasa dirinya paling cantik, paling imut dan paling bersih padahal kalau kita berkunjung kerumahnya aja ups… kotor bin kumuh. Ada lagi yang selalu mencari-cari kesalahan oranglain….. ada yang cuek, ada yang suka membuang sampah sembarangan (bisa-bisanya makan lantas sampahnya diletakkan disamping kasurnya ughhh), yang lebih parah dunia pesantren identik dengan kudis dan “kutu” kalau satu santri udah kena pasti dijamin yang lain akan kena waduh ngeri………. ada -ada saja kejadiannya. yah inilah kehidupan pesantren kita harus bisa membedakan yang baik dan yang benar. Karena semua itu adalah proses kita sebagai manusia dalam hidup.
Salam Pesantren :)
http://edukasi.kompasiana.com/2011/01/17/pahit-manisnya-kehidupan-di-pesantren-333781.html
13.54 | 0 komentar | Read More

Artikel Islami: Sepotong Episode ( Sebuah kisah masa lalu hadir di benakku )

sebuah kisah masa lalu hadir di benakku
saat kulihat surau itu
menyibak lembaran masa yang indah
bersama sahabatku
http://islamstory.com/sites/default/files/generasi-penerus-islam.jpg 
Alunan merdu dengan petikan gitar ini, sayup2 terdengar merdu di telinga ini. Seolah membawaku larut dalam suasana untuk mengenang kembali sebuah episode perjalanan hidup ini. “Sepotong Episode (masa lalu)” dari Edcoustic membawaku kembali untuk bernostalgia ke masa2 itu. Ada apa dengan episode masa lalumu Brur?? Ga ada apa2, biasa aja. hehehe…
Hanya saja, mungkin karena melihat tingkah laku anak2 yang tiap ba’da maghrib berkumpul di surau (musholla) itu lah yang membuat saya merasa kembali kepada episode dimana saya pun dulu pernah seperti itu. Sebuah kisah saat saya seusia dengan mereka. Bercanda tertawa bersama teman-teman dalam mencari kebenaran cahaya. Dan sungguh, saya merindukan suasana itu.
sepotong episode masa lalu aku
episode sejarah yang membuatku kini
merasakan bahagia dalam diin-Mu
merubah arahan langkah di hidupku
Episode masa lalu, catatan detik demi detik jejak perjalanan saya, tapak demi tapak langkah perjalanan kita di dunia ini. Mungkin sebagian besar dari kita pernah merasakan suasana seperti itu. Di kala senja, ramai2 berbondong, berlari-lari menuju ke madrasah ataupun ke surau untuk belajar tentang alif yang tegak lurus, ataupun ba, ta, tsa yang seperti wajan yang bertitik, atau lam yang seperti gagang payung. Aahh,, indahnya masa itu.
Berkali-kali, berulang-ulang bahkan sampai jenuh ketika masih saja salah mengucapkan mana yang “sa, sya, tsa, & za”. Detik ini benar mengucap “sa”, terkadang beberapa menit kemudian ucapan itu berubah menjadi “sya” atau bahkan ke “za”.
Masihkah ingat ketika belajar mengeja bersama, dibimbing oleh ustadz yang begitu sabarnya. Alif fathah A, alif kasroh I, ALif dhomah U, A I U… weww,, indah toh masa2 itu?? Dan adakah rindu di hati pada masa2 itu?
Yaa, seperti itulah, terus dan terus tapi tak pernah putus asa. Hari ini salah, besok masih tetap terus belajar.
setiap sudut surau itu menyimpan kisah
kadang kurindu cerita yang
tak pernah hilang kenangan
bersama mencari cahaya-Mu
Setiap sudut itu, seolah menjadi cerminan buat saya. Seakan merasakan itulah gambaran diri saya kala itu. Ketika ramai bercanda sendiri bersama teman-teman, tentunya mendapat teguran dari sang ustadz, dan seketika itu pula kami terdiam memperhatikan. Namun selang beberapa menit, kembali bercanda sendiri lagi, seperti itu dan seperti itu lagi. Aah,,, memang lah seperti itu anak-anak. Dari situ, sayapun belajar untuk memakluminya.
Subhanallah, di surau kecil ini, telah saya temukan kembali bagian episode perjalanan ini. Di surau ini semoga tercipta generasi2 yang mencintai din-Mu. Di surau ini, bersama kami melangkah untuk mencari cahaya-Mu…..

Ngaji ke surau
*Sepotong Episode (masa lalu) – Edcoustic

https://mabrurisirampog.wordpress.com/2012/11/01/sepotong-episode/
13.50 | 0 komentar | Read More

Arti Sebuah Perbedaan [ STUDIA Edisi 347/Tahun ke-8 (25 Juni 2007) ]

Saat mengendarai sepeda motor sepulang kerja, di depan saya ada sebuah mobil sedan. Karena jalanan cukup sempit saya nggak bisa menyalipnya dengan mudah. Apalagi dari arah berlawanan sering ada mobil juga. Setiap kali direm, di bagian belakang mobil sedan itu, di balik kaca belakangnya, ada tulisan teks berjalan dengan warna merah yang membuat saya harus berpikir keras untuk menyerap maknanya. Kalimat itu tertulis: “Jangan berani untuk sama”.
https://saputra51.files.wordpress.com/2012/02/saling-memaafkan.jpg?w=372&h=221
Jangan berani untuk sama? Ya, ada baiknya juga memang kalimat tersebut, meski kalimat itu menurut saya sangat bersayap alias bisa berarti banyak. Tergantung siapa yang menerjemahkannya dan untuk menjelaskan beragam maksud. Tentu sesuai pula dengan persepsi masing-masing orang. Itulah sebabnya kalimat tersebut saya nilai sebagai kalimat “bersayap”.

Kalimat “Jangan berani untuk sama”, bisa berarti bahwa kita nggak perlu minder untuk berbeda dengan yang lain. Bahkan perbedaan itu sangat boleh jadi justru sebuah keberanian. Tentu, kalo untuk sesuatu yang sama, nggak usah (terlalu) berani. Begitu kira-kira. Sebuah pilihan yang mungkin saja sudah dipertimbangkan sangat matang. Nggak asal aja.

Misalnya nih, kalo ada temen yang punya hobi mantengin info olahraga sepakbola mancanegara (dari mulai baca sampe nonton setiap pertandingannya di televisi), ya kita nggak perlu harus merasa sama dengan hobi temen kita itu. Apalagi jika kita nggak terlalu suka dengan segala hal yang berkaitan dengan sepakbola. Tapi, karena ingin dianggap gaul soal sepakbola dan supaya diterima dalam komunitas itu, akhirnya kita memberanikan diri untuk punya hobi yang sama. Hmm.. itu salah besar karena nggak mau jujur sama diri sendiri. Betul nggak sih? Meski tentu saja, dalam hal ini, kalo pun pengen sama hobinya dengan teman kita itu, silakan saja. Mubah aja kok.

Persamaan dan perbedaan

Sobat muda muslim, persamaan dan perbedaan itu memang bisa berarti banyak dan bisa banyak persepsi. Itu sebabnya, kita preteli dikit-dikit, pilah-pilah supaya bisa menentukan sikap. Nggak asal beda aja, atau nggak cuma merasa sama dengan yang lain. Setuju kan?

Nah, kalo kita ‘syarah’ (dianalisis dan diperjelas) lagi, insya Allah kita bisa nentuin sikap. Misalnya tentang keputusan kita memilih menjadi aktivis rohis. Tentunya kita memilih berbeda dengan kebanyakan teman lain yang justru saat itu lebih cenderung gabung di klub ekskul olahrga, tari, pecinta alam, atau kegiatan lainnya. Berbeda dari teman lain dengan menjadi aktivis rohis, tentunya ini adalah sebuah keberanian. Iya kan? Berani untuk beda dengan teman yang ‘biasa’ aja, dan berani untuk sama dengan aktivis rohis.

Lalu bagaimana dengan teman kita yang justru ingin berbeda dari komunitas anak rohis? Ia nggak berani untuk sama dengan anak rohis. Tapi berani untuk berbeda dari anak rohis dengan menjadi anak gaul yang hobinya dugem dan gaul bebas dengan lawan jenis. Baginya, menjadi aktivis dugem dan gaul bebas adalah sebuah keberanian untuk tidak sama dengan anak rohis.

Memang sih itu pasti bergantung sudut pandang. Maka, sebuah standar wajib dimiliki. Supaya nggak semua orang bisa mengklaim bahwa dirinya benar. Boleh aja sih merasa dirinya benar, tapi harus bisa buktiin dengan kuat kalo dirinya tuh benar.

Lha, kalo yang kayak gini gimana jadinya? Hmm.. itu sebabnya, menurut saya kalimat itu disebut “bersayap” alias banyak arti tergantung persepsi orang yang menerjemahkannya. Waduh, gimana urusannya dong? Mana yang benar dan mana yang salah? Kapan boleh berbeda dan kapan seharusnya sama?

Tenang sobat, nggak usah keburu bingung atau stres. Ini justru menurut saya adalah bagian dari kelemahan kita sebagai manusia. Dengan demikian, kita memang nggak bisa menentukan sesuatu itu benar atau salah sesuka hati, pikiran, atau perasaan kita (termasuk hawa nafsu kita). Bahaya. Karena apa? Karena bisa jadi banyak persepsi. Singkatnya, kita perlu standar yang mengatur batasan-batasan tersebut. Ya, kudu ada ukuran yang fixed. Nggak bisa sembarangan.

Inilah barangkali alasan kenapa “ukuran panjang satu meter” pun sudah ditetapkan secara internasional. Alat pengukur lain harus dikalibrasi (diuji, dicocokan) dengan standar yang dibuat. Supaya ada kesamaan dan kejelasan penilaian. Bayangin deh kalo untuk sebuah ukuran saja harus ada sekian ukuran yang ditentukan sesuai selera masing-masing, kita pasti bingung pilih yang mana. Iya kan? Misalnya aja ukuran panjang “sedepa” itu diukur lewat panjang rentangan dua tangan tiap orang yang beda-beda. Kalo kemudian masing-masing orang meyakini sesuai pengukurannya, kita pusing. Karena setiap ukuran panjangnya jadi sesuai ‘ukuran’ rentangan tangan masing-masing. Padahal, orang yang tinggi dengan yang pendek pasti beda ukuran rentang tangannya. Betul apa bener?

Boleh beda, tapi ada saatnya wajib sama

Sobat muda muslim, saya menulis artikel ini dengan judul, “arti sebuah perbedaan” tentu bukan tanpa alasan, lho. Begini nih penjelasannya. Berbeda boleh saja kok. Asal, itu dalam sebuah koridor yang dibolehkan untuk berbeda. Misalnya, untuk selera makan, ya nggak bisa disamain tiap orang. Rasa suka kepada lawan jenis juga nggak bisa disamain untuk semua orang. Warna baju juga boleh berbeda kok. Termasuk boleh juga berbeda pendapat dalam masalah furu’iyah (cabang). Misalnya, kita nggak bisa maksa orang untuk melakukan sholat shubuh dengan melakukan qunut atau tidak. Karena kedua pendapat itu masing-masing memiliki dalil. Untuk kasus ini nggak perlu ributlah. Nggak perlu mengklaim salah satu benar dan satunya pasti salah. Karena yang seharusnya disalahkan adalah yang nggak sholat shubuh. Seharusnya kedua belah pihak bersatu padu untuk menyadarkan yang masih belum mau sholat shubuh. Tul nggak seh?

Bagaimana dengan yang tidak boleh berbeda (dan itu harus sama), dalam masalah apa aja? Nah, menurut saya di sini berlaku pernyataan bahwa “bagi yang mau sama”, dapet gelar berani. Misal, sebagai muslim kita wajib menjadikan Islam sebagai the way of life kita. Bukan agama lain, atau kepercayaan lain (termasuk ideologi lain) untuk menuntun hidup kita. Ya, cuma Islam. Di sinilah kita wajib sama dan kudu berani untuk sama. Karena kesamaan ini jelas ada dalilnya. Ketika kita sudah menyatakan sebagai muslim, maka seluruh kehidupan kita harus rela diatur oleh Islam. Bukan yang lain.

Lho kok Islam sih? Ya iyalah, memangnya mau aturan yang mana? Apakah kepala sekolahmu nggak marah dan murka kalo sekolah di sekolahnya, tapi kamu malah milih aturan sekolah lain, atau setidaknya nggak percaya dengan aturan di sekolahmu sendiri. Adil nggak sih? Begitu juga dengan Islam. Kalo udah menyatakan masuk Islam, berarti kudu setia diatur sama Islam. Iya ndak?

Allah Swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan..” (QS al-Baqarah [2]: 208)

Dalam menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir menyatakan: “Allah Swt. telah memerintahkan hamba-hambaNya yang mukmin dan mempercayai RasulNya agar mengadopsi sistem keyakinan Islam (‘akidah) dan syari’at Islam, mengerjakan seluruh perintahNya dan meninggalkan seluruh laranganNya selagi mereka mampu.” (Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir I/247)

Imam an-Nasafiy menyatakan bahwa, ayat ini merupakan perintah untuk senantiasa berserah diri dan taat kepada Allah Swt. atau Islam (Imam an-Nasafiy, Madaarik al-Tanzil wa Haqaaiq al-Ta’wiil, I/112).

Imam Qurthubiy menjelaskan bahwa, lafadz “kaaffah” merupakan “haal” dari dlamiir “mu’miniin”. Makna “kaaffah” adalah “jamii’an.” (Imam Qurthubiy, Tafsir Qurthubiy, III/18)

Diriwayatkan dari Ikrimah bahwa, ayat ini diturunkan pada kasus Tsa’labah, ‘Abdullah bin Salam, dan beberapa orang Yahudi. Mereka mengajukan permintaan kepada Rasulullah saw. agar diberi ijin merayakan hari Sabtu sebagai hari raya mereka (padahal mereka sudah masuk Islam). Selanjutnya, permintaan ini dijawab oleh ayat tersebut di atas.

Terus nih, Imam Thabariy juga menyatakan: “Ayat di atas merupakan perintah kepada orang-orang beriman untuk menolak selain hukum Islam; perintah untuk menjalankan syariat Islam secara menyeluruh; dan larangan mengingkari satu pun hukum yang merupakan bagian dari hukum Islam.” (Imam Thabariy, Tafsir Thabariy, II/337)

Ini artinya, kita nggak boleh menawar-nawar lagi untuk melakukan ibadah yang bukan berasal dari Islam. Misalnya aja, bagi seorang mualaf, karena dulunya setiap minggu ke gereja untuk kebaktian, maka setelah masuk Islam udah nggak boleh lagi tuh ikutan kebaktian di gereja. Karena emang udah bukan lagi ajaran dari Islam. Sebaliknya wajib taat sama Islam.

Sobat muda muslim, dengan ayat ini, berarti kita kudu total dalam memeluk Islam. Nggak boleh belang-belang. Nggak boleh setengah-setengah. Jangan sampe berbagai aturan kita pake untuk ngatur hidup kita, padahal kita muslim. Itu namanya “malapraktek”. Kita ngakunya muslim, tapi nyuri barang orang lain jadi hobi kita. Kita bilang ke mana-mana bahwa kita aktivis rohis, ternyata kita malah melakukan pacaran. Ortu kita rajin ngajinya, tapi yang diulik bukan al-Quran, melainkan primbon Jawa atau ajaran sekularisme. Lha, ini jelas salah prosedur, guys!

Di sinilah kita harus berani untuk sama. Nggak boleh nekat berbeda. Allah kembali menjelaskan dalam firmanNya, “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS al-Ahzab [33]: 36)

Sebagai kesimpulan, bahwa “arti sebuah perbedaan” itu kudu jelas batasannya. Ada saatnya kita boleh berbeda, tapi ada saatnya kita harus sama. Tapi standar boleh dan tidaknya kita berbeda atau sama itu hanya aturan Islam. Ya, itu karena kita sebagai seorang muslim.

Guys, jangan sampe kita berani untuk beda, tapi ternyata “bedanya” kita itu malah dibenci dalam ajaran Islam. Karena apa? Karena perbedaan yang kita kampanyekan justru melanggar ajaran Islam. Misalnya, kita sebagai muslim berani beda dengan cara mengkampanyekan pentingnya demokrasi dan sekularisme sebagai the way of life kita. Atau, kita menganggap bahwa Islam nggak boleh diterapkan sebagai ideologi negara. Wah, itu sih namanya perbedaan yang tak pantas disandang dan bahkan mencoreng kepribadian kita sebagai Muslim. Bukan pahala yang didapat, tapi dosa. Ati-ati ya Bro! Yuk, kita berani sama menjadi seorang muslim yang taat dan pejuang Islam. Itu baru oke! [solihin: sholihin@gmx.net]
https://osolihin.wordpress.com/2007/06/19/arti-sebuah-perbedaan-2/
13.48 | 0 komentar | Read More

BACA JUGA

DAFTAR LENGKAP ARTIKEL BLOG BAGINDAERY

Ikuti situs Bagindaery

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...