ARTIKEL PILIHAN

GOOGLE TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

ARTIKEL PILIHAN

Kisah Inspirasi Hidayah Islami: Sang Penari Denise Akui Konsep Ketuhanan Islam Paling Masuk Akal

Written By Situs Baginda Ery (New) on Sabtu, 18 Januari 2014 | 11.41

Menari adalah dunia Denise Horsley. Hobinya itu mengantarkannya melanglang buana, mendapatkan penghasilan lumayan, dan menjadi asisten dosen di fakultas seni di sebuah universitas di London. (foto: emel.com)
Menari adalah dunia Denise Horsley. Hobinya itu mengantarkannya melanglang buana, mendapatkan penghasilan lumayan, dan menjadi asisten dosen di fakultas seni di sebuah universitas di London.
Wanita berusia 25 tahun ini lincah di atas panggung, dan sesekali berjilbab di kesehariannya. Tak ada yang menyangka, jebolan London College of Dance/Middlesex University tahun 1998 ini melalui pergulatan batin panjang sebelum memeluk Islam.

Perkenalannya dengan Islam dimulai saat ia duduk di bangku kuliah. Ia enggan menceritakan siapa yang mengenalkan pertama kali, namun peraih gelar sarjana tari dengan nilai tertinggi ini menjadi sangat ingin tahu belajar tentang Islam.

"Semakin saya membaca banyak tentang Islam, semakin saya mengakui agama ini sungguh masuk akal," katanya. Di sela-sela kesibukannya, ia kerap menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan Masjid Regent's Park hanya untuk membaca terjemahan Alquran.



Seperti Alkitab, Quran menyebutkan nabi, malaikat, mukjizat, perbuatan baik dan buruk, pahala dan hukuman, pertobatan dan pengampunan, surga dan neraka, Adam dan Hawa, Taurat, Injil dan banyak hal lainnya yang akrab baginya. "Namun pertanyaan yang telah berlama-lama mengendap dalam pikiran saya sejak sekolah Katolik akhirnya terjawab, tentang konsep ketuhanan," ujarnya.

Suatu saat di bulan Ramadhan tahun 2009, ia memberanikan diri datang ke ruang shalat di masjid itu. "Saya memutuskan untuk menghadiri shalat Taraweh selama bulan Ramadhan. Menuju masjid, di dalam mobil saya gugup, bagaimana saya harus bershalat," ujarnya mengenang.



Ia mengamati shalat berjamaah yang sungguh menyentuh hatinya. Tekad Denise untuk menjadi Muslimah tak lagi bisa terbendung. Pertanyaan pertama yang dilontarkannya, "Bisakah seorang penari menjadi Muslimah?"

Komunitas masjid menyambutnya dengan hangat. Denise pun menyatakan syahadat.

Kini, ia tetap menjadi penari, dan makin rajin belajar agama. "Keluarga saya menerima dan bahkan sangat bahagia, karena saya menemukan sesuatu yang membuat saya begitu bersemangat," ujarnya.



Ia menyatakan, citra Islam sangat tergantung pada bagaimana Muslim dan Muslimah bersikap. "Tuhan telah menciptakan Anda dan membawa Anda dalam perjalanan hidup Anda karena suatu alasan, jadi biarkan orang melihat keindahan Islam melalui Anda," ujarnya.

Sumber: (Republika.co.id)
11.41 | 0 komentar | Read More

ISLAM ITU TIDAK RUMIT DAN TIDAK MEMBINGUNGKAN

Masih asyik dengan beberapa hal yang membuatku melupakan banyak hal yang kubingungkan. Namun, tetap saja aku ingin menulis keluhanku akan semua hal yang ada di sekitarku. Aku merasa bahwa hanya ingin bercerita. Aku tak biasa membahas sesuatu hal yang berat. Ya karena maresa ilmuku kurang mumpuni. Takutnya malah terlihat bodoh dengan membahas sesuatu yang tidak kumengerti.
Bengong(bingung memulai dari mana)….
Mulai sajalah…http://hanifnurfauzi.files.wordpress.com/2010/09/jalan-lurus.jpg
            Berawal dari perbincangan di malam hari dengan seorang kawan mengenai islam. Kami sepakat bahwa kami merasa terjebak dalam sebuah sistem yang rumit. Kami bingung menentukan kondisi dimana kami bisa merasa nyaman dengan keislaman kami. Bukan malah merasa islam menjadi belenggu bagi kami. Kami masih berusaha menemukan itu. sayang belum untuk saat ini.
            Islam itu sebanarnya adalah agama yang menentramkan. Solusi dari sebuah kehidupan. Bukankah begitu?
            Tapi…Kenapa justru islam yang saya rasakan menjadi sedemikian rumit untuk di mengerti dan dilaksanakan. Jefri lang seorang muallaf asal Amerika mengatakan dalam bukunya struggling for surrender bahwa umat islam sekarang terlalu terobsesi dengan aturan. Padahal Al-Qur’an bukan hanya berisi aturan semata tapi bertebaran ayat tentang kisah penuh hikmah. Kalau aku menelaah Nama surat dalam Al-Qur’anpun kebanyakan nama subjek bukan sebuah kata kerja. Itu membuat ku harus mencari cara agar aku bisa mencintai keislamanku tanpa merasa tekekang.
            Ingatkah kita dari kisah tentang seorang pelacur yang masuk surga karena memberikan minum kepada seekor anjing ?
Atau kisah serorang pembunuh yang sudah membunuh 1000 nyawa manusia yang bisa masuk surga hanya karena langkahnya lebih mendekati tempat kebaikan dibanding tempat kejahatan?
Tidakkah islam bisa dibuat semudah itu?
            Kalau harus bercermin dari kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabat. Mereka berdakwah, mereka berislam. Tapi mereka begitu bahagia dengan kesemua itu. Seolah mereka tidak terjebak dalam dakwah sebagai rutinitas. Mereka menjadikan dakwah adalah kenikmatan. Menjadikan islam sebagai sumber kebahagian mereka. membentuk korelasi positif. Jika mereka dekat dengan islam maka mereka juka semakin bahagia. Begitu sebaliknya. (pokoknya mereka tidak menyempitkan islam dan dakwah pada satu golongan tertentu)
            Sekarang umat islam lebih suka membuat aturan-aturan yang begitu mengenkang. Niatnya mungkin baik. Sayang mereka melupakan bahwa motivasi internal itu lebih kuat mendorong seseorang untuk melakukukan seuatu. Percuma saja membuat sedemikian banyak aturan yang bertujuan meningkatkan keislaman tapi malah justru cuma akan dijadikan kegiatan kultural dan mengekang. Hasilnya banyak umat islam yang keimanannya naik dan turun begitu cepat. Karena mereka hanya tersentuh kulitnya saja. Mereka belum menemukan motivasi internal, yaitu motivasi dari hati nurani mereka. aku lebih suka menyebutnya sebagai keimanan.
            Umat islam sekarang juga terjebak dalam manhaj-manhaj yang mereka buat. Mereka asyik memperdebatkan ini dan itu. Sampai lupa orang seperti aku yang sangat butuh untuk diperhatikan. Mereka asyik untuk saling jualan manhajnya masing-masing. Ini lo manhaj ku lebih dekat islami. Manhaj yang lain juga bilang begitu. Parahnya kadang mereka tak sungkan menghina manhaj lain yang meraka anggap salah. Aduh… kita bersaudarakan?
            Umat islam sekarang juga suka sekali membuat label – label berdasarkan standar manhaj masing-masing. Sebut saja kalau saya tidak ikut pertemuan mingguan disalah satu manhaj tertentu maka saya tak akan lebih dihargai dibanding si X yang rajin datang saat pertemuan. Bahkan untuk memberikan jabatan tertentu, mereka harus melihat seberapa dia mengaplikasikan semua ajaran manhajnya. Bukan melihat seberapa dia punya kapabilitas untuk jabatan itu. mereka tidak mau, kalau orang yang terpilih nanti tak memperjuangkan manhajnya. Itu melanda semua manhaj. Aku tak paham?
            Kasus lain, suatu manhaj tertentu juga begitu. Mereka melihat dari pakaian. Kalau secara pakaian mereka mengenakan hal yang serupa. Maka mereka akan menjadi sosok yang ramah terhadapnya. Berbeda kasus kalau pakai pakaian yang sangat jauh berbeda. Kontras. Mereka akan cenderung menjauhinya. Bukankah kita sama?
            Semua hal itu yang mebuatku sedang rajin membaca buku islam. Aku ingin berusaha bisa menjadikan islam sebagai sumber cahayaku. Aku bisa nyaman dengan keislamanku. Bukan meresa tepenjara dalam sangkar. Aku tak ingin terlalu sibuk dengan segala kegiatan yang cuma bersifat rutinitas tanpa makna. Aku tak ingin berubah menjadi manusia hidup tanpa punya hati. Melakukan ibadah ini dan itu tapi hasilnya sama saja. Aku masih merasa jauh dari kata cinta dari Allah(I Love You Allah)…
            Ini pikiran yang melandaku beberapa hari ini. aku takut bertindak seperti keluhanku…

Sabtu, 20 Mei 2010
17:00
Kalau teman-temanku membaca ini,
Meraka akan mengatakanku apa ya?
Pembangkang?
Tidak bisa diatur?
Liberal?
 kader yang berguguran dalam dakwah?
(aduh kenapa kalian menyempitkan kata dakwah hingga sesempit itu)
Aduh saya cuma ingin menulis,
rasanya plong setelah selesai menulis!!!!
http://3kata20huruf3spasi.blogspot.com/2010/08/islam-itu-tidak-rumit.html
11.38 | 0 komentar | Read More

Islam, Fundamentalisme, dan Postmodernisme

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgtQ2ZXkNqEukOPxXUMS9Ly40df3GZip5OP7DJbfVMirYKklL99LBbLxng0iIc8j7OXc-VoAHPpCZcwzVNJZmQ6Zh22QswdqQucv3XiCd10t3r6TTfOCqRboc9amAvLHPtMYAVihRfruZpl/s1600/jalan+lurus+2.jpg
Menyambung tulisan yang lalu tentang postmodernisme, nampaknya menarik juga untuk mengelaborasi pemikiran lama yang pernah dikemukakan oleh Ernest Gellner dalam Postmodern, Reason, and Religion (1992) yang menyikapi secara “kritis” postmodernisme dan agama. Ia menyebut tiga “situasi” penting yang mempengaruhi format keagamaan, khususnya Islam. Ketiga situasi itu adalah: fundamentalisme religius, fundamentalisme rasional, dan relativisme atau postmodernism.
Gellner nampaknya agak “kurang adil” karena yang disorot adalah Islam saja, itupun cenderung negatif, padahal fundamentalisme juga ada di setiap agama apapun. Fundamentalisme Islam yang ia maksud ini digambarkan dalam karakter yang keras, tidak akomodatif alias insklusif, dan kesemuanya berujung kepada “keteguhan” kepada sesuatu yang absurd (mungkin puritanisme dan skriptularisme) dan bukan hanya sekadar keyakinan terhadap suatu kebenaran atau dogma.
Selanjutnya fundamentalisme rasional ia gambarkan sebagai suatu keadaan yang berbeda dengan pandangan postmodernisme yang  mengingkari adanya kebenaran tunggal. Relativisme rasional justru mempertahankan adanya kebenaran tunggal, jadi sikapnya malahan absolutis dan menolak masyarakat akan memiliki pandangan tunggal secara definitif. Dalam pandangan kaum postmo, agama harusnya bersifat toleran terhadap pluralitas. Agama bukan sebuah sistem gagasan yang abstrak melainkan terkait dengan adanya nilai-nilai filofsofis ilmiah dan tidak terpaut dengan kepentingan ideologis belaka.
Sialnya, para pemikir Barat sering terpotong dalam memahami agama, terutama Islam, dan mereka sendiri sering tidak konsisten dengan pernyataannya sendiri. Mereka bicara soal pluralitas atau toleransi, namun dalam membahas Islam sering tendensius dan tidak memahami terlebih dahulu “filosofi-filosofi” dasar teologi Islam yang sesungguhnya. Islam sering dicitrakan dan dipahami sebagai biang kekerasan, karena ada kepentingan yang terganggu jika Islam berkembang lebih subur. Mereka jadi takut kepada Islam, dan sialnya bukan dari ajaran Islam itu sendiri, namun dari tafsiran masing-masing kelompok.
Padahal Islam itu ya hanya satu, sebagaimana dibawa dan diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Konkretnya, Rasulullah tidak pernah kenal apa itu NU, Muhammadiyah, HTI, FPI, LDII, dst, apalagi MTA. Silakan organisasi, aliran atau mazhab itu hadir, namun Islam ya hanya satu, yakni Islamnya Muhammad SAW. Apa itu? Ya mari kita cari bersama-sama.
Banyak orang berpikir rumit tentang Islam, padahal Islam itu simpel. Selain mengajarkan hal-hal yang ghaib, Islam juga mengajarkan ilmu biologi, kimia, fisika, astronomi, matematika, kebudayaan, lingkungan (bagaimana memperlakukan sehelai rumput dan seekor semut), hukum ekonomi, etika jual beli (di pasar, baik arti sempit atau luas), pemerintahan, demokrasi, etika sosial, bahkan sampai etika bersenggama pun diajarkan. Anda menyingkirkan batu di jalan, ya itu Islam. Anda mencangkul dan mengayuh becak sambil berucap Alhamdulillah atau Allohu Akbar, ya itulah Islam. Islam bukan hanya berujud dalam symbol seperti : peci, sorban, dahi hitam, tasbih, jubah, dst, namun ajaran-ajaran konkret yang siapapun, pasti dapat melakukannya.
Ini tentu berbeda dengan pemikiran Gellner yang menggolongkan “Islam tinggi” dan “Islam rendah”, yakni Islam yang dibawa oleh kaum cendekiawan dan orang awam yang tidak berilmu (secara formal). Sekali lagi, untuk ber-Islam, tidak harus ilmunya setinggi Gus Dur atau Cak Nur terlebih dahulu, namun siapapun bisa menjalankannya. Soal fundamentalis, ya orang Islam harus fundamental, artinya meyakini dan melaksanakan hal-hal yang fundamen (dasar), yaitu ibadah mahdoh. Ibadah ini harus dipahami secara “fundamentalis” karena ini tidak dapat ditawar lagi. Demikian  juga masalah Iman  (rukun iman) juga harus dipahami dalam perspektif “fundamentalis”, dan karenanya bagaimana mungkin sering ada tawaran untuk acara “dialog iman”? Iman kok didialogkan, pasti tidak ketemu. Dalam istilah Cak Nun, agama (iman) itu ibarat isteri yang tidak dapat diperbandingkan dan dipertukarkan.
Kalau demikian Islam kaku dan dogmatis? Ya jelas tidak karena yang harus dipahami secara “fundamentalis” adalah ibadah mahdoh (yang Allah SWT “hanya” minta 3,5 % di Al Qur’an), sebaliknya dalam “Fundamentalisme Rasional” (sebagaimana dikatakan Gellner tsb), Islam sangat “welcome” terhadap kreativitas berpikir alias dialektis, kritis, eksklusif, akomodatif, dst. Bukankah kunci “rasionalitas” dalam Islam adalah sangat jelas, yakni iqro’ dan “berpikir”? Allah memerintahkan Muhammad dan kita untuk rajin iqro’ dan menantang manusia untuk selalu berpikir. Bukankah banyak ayat-ayat Allah yang berbunyi: ….inilah tanda-tanda kebesaran Allah, terutama bagi mereka yang mau berpikir….dst? Lalu kurang apa lagi ajaran ini?
Mengapa Allah menyuruh kita untuk rasional (menggunakan akal pikiran)? Jawabnya jelas: manusia disuruh atau diperintah memanajemen bumi ini (sebagai khalifah). Bagaimana seorang khalifah kok tidak cerdas (ahsanu taqwim)? Allah selalu sharing dengan manusia. Allah bikin pohon, kita disuruh bikin meja kursi. Allah bikin dan menyediakan bijih besi, manusia disuruh bikin mobil, pesawat, kapal, dan sebagainya yang kesemuanya dapat digunakan juga untuk ibadah mahdoh, misalnya pergi haji ke Mekah. Karenanya, selain ibadah mahdoh, manusia atau umat Islam disuruh ijtihad dan berpikir keras, dan itu semua bukan bid’ah meski Rasulullah tidak melakukannya. Jika itu patokannya, maka kita tidak bisa pergi ke Mekkah naik haji karena Rasulullah tidak pernah naik mobil, kapal atau pesawat.
Bagaimana jadinya dunia jika Islam hanya memerintahkan kita beribadah mahdoh saja? Bagaimana jadinya jika Islam isi ayatNya hanya ngayem-ayemi dengan janji-janji surga yang absurd atau menawarkan pertolongan keselamatan dan khabar gembira saja? Pasti tidak akan tercipta mobil, pesawat, kapal, dan aneka alat bantu lainnya yang memudahkan manusia untuk meringankan bebannya. Yang penting kesemuanya harus kembali kepadaNya. Jadi ibadah horizontal (muamallah) juga vertikal (tauhid), dan vertikal juga horizontal. Ilmuwan-ilmuwan Islam seperti Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Al Kindi, Al Farabi, Ibnu Rusy, dst, adalah sederetan orang Islam yang sanggup mendialektikkan antara iqro’ dan berpikir untuk menjelaskan relasi antara manusia, alam dan Tuhan.
Kenyataan itu tentu berbeda dengan paham dualisme Cartesian dan mekanisme Hobbesian yang mengantarkan masyarakat Barat menjadi anti Tuhan dan dekat ke materialisme. Anti Tuhan itu bisa tidak percaya adanya Tuhan, percaya namun tidak dengan sifat, janji, dan dzatNya, atau tidak percaya kepada Tuhan (bukan “adanya” Tuhan). Dalam pandangan ini, tidak ada kaitan antara alam, manusia dengan Tuhan, dan kalaupun ada, maka alam raya ini bagai jam raksasa yang bekerja menurut gerak mesin oleh yang mahasuper (Tuhan), untuk selanjutnya Tuhan “pensiun” atau lepas tangan, agar alam dan manusia bergerak sendiri dan tidak memerlukan Tuhan.
Kalau ajaran Islam-nya Rasulullah itu kita laksanakan dengan “konsekuen dan konsisten” (pinjam istilah di jaman Orba terkait P4), maka tentu tidak ada ketegangan antara doktrin atau ajaran Islam dengan realitas dan perkembangan sosial sebagaimana terjadi di berbagai belahan dunia seperti “qual al-qodim” nya Imam Syafii di Irak atau “qaul al-jadid” yang dikembangkan di Mesir (saya berharap Cak Nun bisa menjelaskan lebih jauh dalam tulisan khusus). Hal ini terjadi karena Islam menawarkan dialektika dengan perubahan sosial, dan karenanya kita dianjurkan iqro’, ijtihad, dan berpikir keras. Islam adalah sistem nilai, dan realitas sosial adalah yang “disifati-nya”, jadi tak ada masalah.
Singkatnya, apa yang mau ditawarkan Barat dengan ilmu-ilmunya itu, kalau Islam sudah lama mengajarkannya?
http://www.caknun.com/2013/islam-fundamentalisme-dan-postmodernisme/
11.34 | 0 komentar | Read More

BACA JUGA

DAFTAR LENGKAP ARTIKEL BLOG BAGINDAERY

Ikuti situs Bagindaery

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...