ARTIKEL PILIHAN

GOOGLE TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

ARTIKEL PILIHAN

Berita Politik Terpanas 2014: Tak Ada yang Mau dengan Aburizal Bakrie

Written By Situs Baginda Ery (New) on Minggu, 01 Juni 2014 | 15.25

1399867943322608590
Aburizal Bakrie (Antaranews.com)
Pada 30 November 2013, saya menulis di Kompasiana tentang tekad Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie alias Ical, maju sebagai calon presiden (capres) dari Golkar,  dengan artikel berjudul Tekad Capres Aburizal Bagaikan Katak Hendak Menjadi Lembu. Di situ saya mengatakan bahwa ambisi Aburizal untuk  menjadi presiden lewat pen-capres-annya di Pilpres 2014 itu ibaratnya “bagaikan katak hendak menjadi lembu,” alias suatu keinginan yang tak mungkin terwujud.
Sekarang mulai kelihatan apa yang pernah saya tulis itu menjadi kenyataan. Untuk bisa maju sebagai calon presiden saja sudah hampir mustahil bagi Aburizal. Pertama, karena perolehan suara Golkar yang jauh dari presidential threshold, sedangkan rencana koalisi dengan parpol lain belum juga menunjukkan tanda-tanda kepastian.
Kedua, karena begitu sulitnya Aburizal mendapat orang yang mau mendampinginya sebagai cawapres. Yang kedua ini yang paling unik se-Indonesia Raya. Belum pernah terjadi dalam sejarah Indonesia, seorang bakal capres begitu sulitnya mendapat pendampingnya.
Biasanya justru banyak orang yang berhasrat dipinang untuk dijadikan pendamping seorang cawapres, tetapi pada Aburizal Bakrie ini justru sebaliknya. Tidak ada yang mau. Orang-orang bukannya mendekat, tetapi menghindar, karena khawatir didekati Aburizal untuk dipinang sebagai cawapres-nya. Takut, sungkan untuk bagaimana menolaknya. Padahal, Aburizal Bakrie sudah mengdeklarasikan dirinya sebagai capres dari Golkar sejak 1 Juli 2012.
Luar biasanya, meskipun sudah berderet-deret orang yang satu per satu menolak dijadikan cawapres-nya, yang bersangkutan begitu menghayati prinsip “maju tak gentar” mencari pasangannya, sampai-sampai akhirnya rela “turun pangkat” ditukar posisinya; dia yang menjadi cawapres, biar orang lain yang capres-nya. Tetapi, luarbiasanya, lagi-lagi itu juga belum berhasil.
Berikut adalah daftar nama tokoh-tokoh yang satu per satu menolak ketika hendak dicalonkan sebagai cawapres, pasangannya Aburizal:
1. Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi)
Bulan Februari 2013, melihat begitu tingginya elektabilitas Jokowi dalam survei-survei calon presiden, timbul gagasan dari Partai Golkar, yang antara lain dicetuskan oleh Bambang Soesatyo, untuk menggandengkan Aburizal-Jokowi sebagai pasangan capres-cawapres di Pilpres 214. Tentu saja gagasan tidak masuk akal ini tidak ditanggapi sama sekali oleh baik PDIP, maupun Jokowi. Ini pernah saya bahas dalam artikel dengan judul Duet Ical-Jokowi Seperti Fabel Harimau dengan Rubah
2. Gubernur Jawa Timur Soekarwo:
Pada 19/11/2013, ketika ditanya wartawan tentang kesediaannya untuk menerima pinangan Aburizal sebagai cawapres-nya. Soekarwo menyatakan penolakannya. Katanya,  ”Sudah saya sampaikan kepada Pak Aburizal Bakrie secara langsung saat bertemu di Surabaya. Saya ini baru dipilih rakyat sebagai Gubernur Jatim 2013-2018. Tidak etis rasanya kalau saya tinggalkan,” ujarnya (Tribunnews.com).
3. Jenderal TNI Moeldoko:
Panglima TNI Jenderal Moeldoko merupakan salah satu tokoh yang diusulkan pengurus daerah Partai Golkar untuk menjadi calon wakil presiden mendampingi calon presiden Partai Golkar Aburizal Bakrie. Menanggapi ini, Moeldoko mengambil sikap tak berkomentar.
Saat dikonfirmasi Kompas.com, Selasa (19/11/2013), tentang penyebutan namanya di Partai Golkar, Moeldoko menolak berkomentar. Ia khawatir hal itu malah menjadi tidak produktif. ”Saya tidak ingin berkomentar daripada nanti jadi polemik,” ujar Moeldoko (Kompas.com).
Nama Moeldoko pun tak pernah disebutkan lagi sampai sekarang.
4. Akbar Tandjung:
Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar, Akbar Tandjung, mengaku siap menjadi calon wakil presiden. Namun, dia menolak bila menjadi pendamping Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie.
“Saya menjadi cawapresnya Aburizal? Ya enggak dong, masa dua-duanya dari Golkar,” kata Akbar dalam jumpa pers di kediamannya, Jakarta, Minggu (13/4/2014 / Tribunnews.com).
5. Wiranto:
Pada 16 April 2014, Ketua Umum DPP Partai Hanura Wiranto menyatakan, Partai Hanura bisa saja koalisi dengan Partai Golkar, tetapi untuk menjadi cawapres-nya Aburizal, dia tidak bersedia (Jakartaobserver.com).
6. Pramono Edhie Wibowo:
Nama anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Pramono Edhie Wibowo juga pernah ditawari mendampingi Aburizal di Pilpres 2014 ini.  Pada 25 April 2014, Pramono menyatakan tidak bisa menjadi cawapres Aburizal Bakrie, karena dia terikat dengan Konvensi Capres dari parpol-nya sendiri (sumutpos.co).
7. Mahmud MD:
April 2014 lalu, Aburizal sedang berada di Bali, mengirim pesawat pribadinya khusus untuk menjemput mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD yang waktu itu berada di Surabaya. Mahfud diundang makan siang bersamanya di Bali. Pada kesempatan makan siang itu, Aburizal menawari Mahfud untuk menjadi cawapres-nya. “Bagaimana kalau kita berpasangan?” Mahfud meniru tawaran Aburizal kepadanya.
Mahfud bilang, dia belum bisa menjawabnya saat itu. Dia harus berkonsultasi dengan para petinggi PKB sebelum memutuskannya. Selesai makan siang, Mahmud minta diantar kembali ke Surabaya, karena ada acara penting yang harus dihadirinya. Di Surabaya, Mahfud berkonsultasi dengan para petinggi PKB tentang tawaran Aburizal itu. Jawabannya secara aklamasi: Tidak! Bukan hanya itu, para petinggi PKB meminta Mahfud untuk tidak lagi melakukan komunikasi politik dengan Partai Gorlkar dan Aburizal Bakrie.
Mahfud pun mengirim SMS kepada Aburizal, “Maaf, Pak. Bapak cari orang lain saja ..” (whatindonesianews & Majalah Tempo).
8. Lukman Hakim Saifuddin
Seolah-olah mengikuti saran Mahfud MD, pinangan untuk dijadikan cawapres-nya pun dikirim kepada Wakil Ketua Umum PPP Lukman Hakim Saifuddin disertai dengan puja-puji terhadapnya, tetapi lagi-lagi yang didapat Aburizal adalah penolakan.
“Terkait dengan adanya pemberitaan tentang saya yang akan dipasangkan dengan ARB sebagai capres-cawapres karena saya dinilai sebagai salah satu kader terbaik PPP, saya merasa bahwa saya bukanlah yang terbaik di PPP,” kata Lukman Minggu (11/5/2014).
Lukman mengatakan, dia tak memiliki kapasitas untuk menjadi cawapres. Dia mengapresiasi pinangan itu, namun tak akan menerimanya.
“Saya menilai diri saya sendiri bukanlah pribadi yang tepat untuk mengemban amanah dan tanggungjawab tersebut. Saya tentu amat mengapresiasi pihak-pihak yang mengusulkan saya sebagai cawapres, tapi dengan segala hormat saya kepada mereka, saya harus jujur menyatakan bahwa jabatan itu untuk saat ini bukanlah posisi yang layak dan pantas untuk saya duduki,” ujarnya (detik.com).
Sama dengan PKB, saat ini tokoh-tokoh PPP juga dilarang melakukan komunikasi politik dengan Golkar / Aburizal Bakrie.
Rela “Turun Pangkat”,  Menjadi Cawapres, Belum Berhasil Juga
Setelah mendapat penolakan bertubi-tubi, Aburizal kelihatannya hampir menyerah. Dari semula, katanya, sesuai dengan Rapimnas Golkar, dia hanya mau diajukan sebagai capres, tidak cawapres, tetapi kemudian sekarang mengibah pernyataannya sendiri itu dengan menyatakan kesediaaanya “turun pangkat” menjadi cawapres. Kesediaannya itu dia utarakan berkaitan dengan penjajakan koalisi antara Partai Golkar dengan Partai Gerindra, disertai rencana mengajukan pasangan capres-cawapres Prabowo-Aburizal.
“Pak Prabowo mau jadiin (saya) cawapres? Ya, udah enggak apa-apa,” kata Aburizal kepada wartawan di sela-sela rapat pengurus harian Partai Golkar di Kantor DPP Golkar, Jakarta, Selasa (6/5/2014) malam (Tribunnews.com).
Tetapi, rupanya kedua tokoh itu (Aburizal dan Prabowo) belum apa-apa sudah merasa tidak mempunyai kecocokan. Rencana koalisi pun hampir pasti batal. Rupanya, dua-duanya bersikeras, masing-masing merasa paling pantas sebagai capres. Pernyataan Aburizal yang bersedia menjadi cawapres-nya Prabowo, ternyata hanya tipu-tipu. Ambisinya untuk menjadi presiden belum padam.
Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo menyebut, kedua partai tersebut gagal menjalin koalisi dan mengusung Prabowo Subianto dan Aburizal Bakrie sebagai pasangan capres dan cawapres.
“Sudah pasti tidak jadi cawapres,” kata Hashim di Gerindra Media Center, Jakarta Selatan, Jumat (9/5/2014).
Hashim menuturkan, ada beberapa pertimbangan yang mengakibatkan tertutupnya peluang Prabowo-Ical menjadi pasangan. Keinginan keduanya menjadi capres pun menjadi satu di antara beberapa alasan.
“Memang tidak ada kesamaan. Tidak cocok,” ujarnya (Kompas.com).
Sedangkan, dari Partai Golkar,  Wakil Ketua Umumnya, Fadel Muhammad mengatakan, pembahasan tersebut berjalan di tempat. Golkar pun kemungkinan akan tetap membuat poros sendiri ketimbang bergabung ke Partai Gerindra.
“Sekarang jalan di tempat. Pembicaraannya kelihatannya masih mentok antara satu dan dua,” ujar Fadel saat dihubungi, Minggu (11/5/2014).
Fadel menyatakan, koalisi Golkar dengan Gerindra terancam batal. Posisi calon presiden Golkar Aburizal “Ical” Bakrie dikatakan terjepit. Menurutnya, Aburizal ditetapkan sebagai capres berdasarkan rapimnas 2012 lalu. Lantaran putusan itu, Aburizal pun tak bisa secara otomatis menurunkan kelasnya menjadi cawapres.
“Kalau mau jadi cawapres (Aburizal) akan dianggap ingkar dari keputusan Rapimnas. Tapi di internal pun sampai sekarang nggak solid dukung Pak ARB (jadi cawapres),” tutur Fadel (Kompas.com).
Sedangkan, Tempo.co, 10 Mei 2014, memberitakan, demi bisa diterima PDIP sebagai cawapres-nya Jokowi, Aburizal sampai ke Bali menyusul Ketua Umum PDIP yang sedang berada di sana. Namun lagi-lagi, jalan buntu yang ditemukan Aburizal (Tempo.co).
Jokowi membenarkan pihaknya menjalin komunikasi dengan Partai Golongan Karya. Tetapi dia menegaskan bahwa tidak ada pembicaraan cawapres, apalagi kursi menteri dalam pertemuan itu.
“Kita tidak mau bicara itu. Percayalah. Kalau bicara itu, kita akan kembali ke masa lalu,” ujarnya di Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (11/5/2014) (Kompas.com).
Mungkin sebaiknya Aburizal Bakrie mencari orang yang bersedia menjadi cawapres-nya itu, di antara pengungsi korban Lumpur Lapindo, ya?
Aburizal Bakrie memang keren, eh, serem, ya?
1399868007762891048
Kartun Panji Koming, Kompas Minggu, 11/05/2014
***
Artikel-artikel terkait:

http://politik.kompasiana.com/2014/05/12/tak-ada-yang-mau-dengan-aburizal-bakrie-652479.html
15.25 | 0 komentar | Read More

Artikel Politik Paling Panas 2014: Lidah Jokowi Mulai Bercabang

13921041261500076243
Jokowi Sumber: merdeka.com
Selama ini kalau Jokowi disodorkan hasil survei selalu dijawab tidak mau memikirkan hasil survei. Tidak mau menanggapi hasil-hasil survei. Hanya mau kerja saja.
Itu kalau hasil survei yang disodorkan mengangkat nama Jokowi. Dan kebetulan hasil survei selama ini memang begitu. Misalnya dalam hal tingkat popularitas dan elektabilitasnya sebagai Capres. Selalu menjadi jawara.
Tapi jika hasil survei yang disodorkan merugikan dirinya. Jokowi malah sewot. Itu terjadi ketika LSN mengeluarkan hasil survei yang menunjukkan tingkat kepuasan warga Jakarta terhadap kinerja Jokowi menurun. Kapabilitas Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta mulai diragukan. Pada Oktober 2013, tingkat kepuasan berada di angka 68,3%. Namun, angka tersebut menurun drastis di awal 2014 ini menjadi  46,9%.
Boro-boro tidak ambil pusing dengan hasil survei ini. Tidak bisa mengatakan “tidak mikir” lagi. Jokowi malah menanggapi dengan sinis. Dia menyindir bahwa banyak hasil rurvei titipan. Khususnya pada tahun politik seperti sekarang ini.
Sebenarnya kalau diingat-ingat. Sikap Jokowi ini bukanlah hal yang baru. Tapi media tidak terlalu menyorotnya. Sudah sering Jokowi melakukan pola yang sama. Tidak konsisten dengan perkataan  awalnya.
Misalnya masalah banjir dan macet. Pada hari Selasa, tanggal 28 Juni 2011 lalu. Jokowi mengatakan banjir dan macet di Jakarta bisa diatasi dengan dua jurus jitu.
Pertama, adanya kemauan untuk menggunakan anggran Pemprov DKI Jakarta mengatasi hal tersebut. Makanya dibutuhkan skill dalam manajemen anggaran (ternyata serapan anggaran masa pemerintahan Jokowi jeblok). Anggaran DKI Jakarta besar sekali. Satu periode bisa sampai Rp 135 triliun. Harusnya masalah seperti itu rampung dengan anggaran sebesar ini. Karena tinggal eksekusi,  APBD DKI mencukupi. Katanya saat itu.
Kedua, dalam pengerjaan mengatasi macet dan banjir tersebut tidak diboncengi oleh kepentingan lainnya.
Bila dua hal di atas terpenuhi, Jokowi yakin, persoalan macet dan banjir yang selama ini menjadi momok yang menakutkan bagi warga Ibukota bisa teratasi.
Lebih lanjut Jokowi sesumbar: “Kelihatannya nggak sulit-sulit amat. Hahaha, menurut pengalaman yang saya punya di sini.” (Jokowi masih menjadi Walikota Solo)
Okelah kita katakan Jokowi masih belum memiliki waktu yang cukup mengatasi masalah yang dikatakannya tidak terlalu sulit tersebut.
Tapi sangat mengecewakan saat Jokowi mulai bersilat lidah untuk masalah banjir dan macet. Menyalahkan pemerintah pusat, gubernur sebelumnya, menyalahkan pemda lainnya, sampai menyalahkan curah hujan yang terlalu tinggi. Dia melupakan dua jurus jitu yang pernah diucapkannya.
Setelah menyaksikan cabang lidah Jokowi untuk masalah survei, macet dan banjir. Saya yakin itu bukan yang terakhir. Jokowi akan melanjutkan kebiasaannya.
Misalnya nanti, saat diperalat menjadi vote getter. Ditunjuk menjadi Cawapres Megawati. Entah apa yang akan dikatakan Jokowi. Karena dia tidak mungkin mengatakan tidak pada Megawati.
Mau tidak mau Jokowi harus memutar balik komitmennya, yang pernah mengatakan akan menuntaskan amanat warga Ibukota selama lima tahun.
Kita tunggu dan tonton saja aksi selanjutnya dari media darling yang lugu dan polos ini. Dan berdoa, mudah-mudahan lidahnya tidak bercabang lagi. Lebih-lebih jika sudah kena demam 2014. Kasian masyarakat DKI. ***
http://politik.kompasiana.com/2014/02/11/lidah-jokowi-mulai-bercabang-634364.html
15.22 | 0 komentar | Read More

Artikel Tentang Politik Paling Baru 2014: Kesabaran Ahmad Yani Menghajar Silat Lidah Adian Napitupulu

http://devilupita.files.wordpress.com/2011/03/mata-najwa.jpg 
Tulisan ini adalah tulisan terakhir yang membahas acara Mata Najwa di Metro TV. Sesi pertama dan sesi kedua sudah saya bahas di sini dan di sini. Di sesi ketiga ini, menampilkan perwakilan dari pihak pengusung Jokowi – Jusuf Kalla adalah Adian Napitupulu. Ahmad Yani tampil sebagai perwakilan kubu Prabowo – Hatta.
Sebelum sesi ketiga dimulai, diawali dengan gambar-gambar dari Jokowi dan Prabowo. Gambar Jokowi berbaju merah bercelana pendek naik sepeda genjot atau onthel. Sedangkan Prabowo naik kuda beserta pakaian kebesaran warna putih-putih. (Entah apa maksud dari Metro TV menayangkan gambar-gambar ini sedangkan Jokowi sendiri pernah juga naik kuda waktu acara festival budaya di Monas tahun 2013 lalu. Apakah Metro TV berpihak ke Jokowi?).
Ahmad Yani sebagai politikus PPP dengan jabatan Majelis Pakar DPP PPP tampil lebih dulu untuk berorasi. Ahmad Yani mengemukakan beberapa hal dalam orasi ini. Ada persoalan-persoalan besar yang dihadapi bangsa Indonesia hari ini dan ke depannya dan oleh karenanya kita membutuhkan figur pemimpin yang punya gagasan, ide-ide besar, punya ambisi bukan ambisius. Yang kita butuhkan adalah pemimpin yang jujur, tegas dan apa adanya. Bukan pemimpin yang tidak genuine, pemimpin yang dipoles, pemimpin yang dibuat sedemikian rupa denga pencitraan yang dibuat tidak sesuai dengan yang sesungguhnya. Oleh karena itu, bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin yang berani menegakkan………..(waktu habis, sayangnya. Ahmad Yani tidak secerdas Fadli Zon. Dia terlalu sabar dalam berbicara. Hal seperti ini sangat berbahaya karena membuang banyak waktu dan tidak bisa mengefektifkan waktu yang dia berikan).
Selanjutnya, giliran Adian Napitupulu, caleg terpilih dari PDI-P dapil Jawa Barat V. Adian mengemukakan, Jokowi itu jawaban dari harapan-harapan kita yang sudah capek dengan kekerasan, penculikan, intimidasi, ancaman dan sebagainya. Jokowi adalah jawaban dari penantian kita selama 16 tahun yang sudah letih menanti lahirnya seorang pemimpin baru yang akan mampu membawa Indonesia menjadi baru bukan Indonesia yang baru dengan pemimpin yang lama. Jokowi adalah jawaban dari semua persoalan. Dia berbicara tentang nasionalisme, menghargai perbedaan, dia tidak memandang perbedaan sebagai lawan tetapi sebagai kekayaan bagi bangsa ini. Satu hal yang saya (Adian Napitupulu) pelajari dari Jokowi adalah dia ingin membangun Indonesia sebagai taman bunga. Ada warna merah, putih, kuning dan semuanya hidup berdampingan tanpa menggunakan kekerasan satu dengan yang lainnya. Jokowi adalah jawaban dari semua mimpi-mimpi kita. Jokowi adalah karunia yang harus kita perjuangkan. Dan yang pasti, kalau Jokowi presiden…….(waktu habis. Kelihatan jelas silat lidah yang diucapkan oleh Adian Napitupulu ini. Terlalu banyak mengumbar kata-kata bermetafora hanya untuk memabukkan pemirsa acara Mata Najwa. Apalagi ada istilah “karunia” dan “jawaban dari semua mimpi“ yang diumbar menunjukkan adanya kultus individu. Terlihat jelas silat lidahnya anggota DPR RI terpilih dari Jawa Barat ini).
Selanjutnya, debat dilakukan dalam posisi berhadap-hadapan dengan duduk di kursi. Sama persis dengan debat dari Maruarar Sirait vs Fadli Zon di sesi kedua.
Najwa Shihab langsung menanyakan soal rekam jejak di masa lalu yang bisa mempengaruhi persepsi orang terhadap Prabowo. Ahmad Yani menjawab bahwa hal itu tidak berpengaruh karena soal masa lalu Prabowo sudah selesai karena hal itu menjadi isu 5 tahunan sekali. Pada waktu berpasangan Megawati dengan Prabowo Subianto, isu itu tidak terangkat ke permukaan. Kenapa sekarang mulai diangkat – kata Ahmad Yani. (Sebuah pernyataan yang sangat keras menghujam Adian Napitupulu, apalagi waktu Ahmad Yani mengucapkan pernyataan itu, di saat yang bersamaan Adian menggeser posisi duduknya, menandakan bahwa dia mengalami kepanikan dan kekhawatiran).
Prabowo – kata Ahmad Yani – sudah menjalani proses yang ada karena sudah diadili dalam Dewan Kehormatan Tinggi Majelis Militer. Semuanya sudah klir, sudah selesai. Kenapa masalah ini selalu diangkat dan dijadikan isu. Ahmad Yani mempertanyakan hal itu.
Tentang persoalan masa lalu Prabowo yang menjadi isu juga ditanyakan oleh Najwa Shihab kepada Adian. Adian pun menjawab, yang menjadikan hal itu sebagai persoalan adalah negara, bukan partai. Negara menyampaikan bahwa Prabowo terindikasi dalam beberapa peristiwa pelanggaran HAM. Negara yang saya (Adian) maksudkan adalah Komnas HAM. Itu bukan pernyataan partai politik. Bukan pernyataan NGO. Itu pernyataan Komnas HAM. Komnas HAM itu lembaga negara yang dibiayai oleh negara. Jadi kalau kemudian sampai hari ini misalnya Komnas HAM menyatakan bahwa Prabowo itu musuh bagi umat manusia. Itu bukan pernyataan Adian. (Bisa disimak silat lidah dari Adian. Padahal, Komnas HAM sudah menyatakan bahwa Prabowo Subianto tidak bersalah dari surat edaran tentang operasi setan gundul beberapa tahun silam).
Berikutnya, Najwa Shihab melontarkan pernyataan seputar rekam jejak masa lalu Prabowo, apakah hal itu juga menjadi kriteria yang penting atau tidak, ketika akhirnya Ahmad Yani memutuskan untuk mendukung Prabowo. Seberapa pentingkah hal itu pada akhirnya.
Ahmad Yani menjawab bahwa bagi PPP hal itu adalah yang paling penting tatkala kita melihat bahwa Prabowo ini punya gagasan – gagasan besar. Pemimpin itu tidak cukup dia pergi kesana kemari. Sukarno dan Hatta punya gagasan dan ide-ide besar. Muhammad Natsir punya gagasan dan ide-ide besar. Pemimpin dunia itu pastilah punya gagasan dan ide-ide besar. Kalau kita lihat, Ahmadinejad punya gagasan dan ide-ide besar, (Vladimir) Putin punya gagasan dan ide-ide besar tentang bagaimana menegakkan negara dan kedaulatan bangsa. Dan itu kami melihat ada pada Prabowo. Kita lihat visi-misinya, tegas menjaga harkat, martabat dan kedaulatan entah itu pangan, energi maupun yang lainnya.
Pertanyaan yang sama terhadap rekam jejak masa lalu Jokowi juga ditanyakan ke Adian. Adian pun menjawab bahwa semua hal itu penting. Karena, tindakan adalah manifestasi dari pikiran. Adian menyatakan, ada hal yang berbeda antara berpikir besar, bertindak besar dan bicara besar. Menurut saya (Adian), Jokowi berpikir besar dan bertindak besar. Yang lain bicaranya saja yang besar. Tindakannya kita belum tahu. Contohnya, Jokowi di Solo permilihan periode pertama dipilih 90% rakyat Solo. Artinya, rakyat melihat hasil karyanya. Karya Jokowi dalam membangun satu kota, dia bangun Solo kemudian pindah Jakarta, terpilih. Dia lakukan beberapa kerja besar. Contohnya ketika Jokowi belum jadi gubernur Jakarta sangat macet. Saat sekarang….(langsung diputus Najwa Shihab, “sekarang masih macet bang Adian”, yang menjadi tertawaan banyak orang. Silat lidah Adian digagalkan oleh Najwa Shihab).
Menurut Adian, tingkat kemacetan berubah dari 12 km/jam menjadi 19 km/jam. Artinya, ada perubahan. Maksud saya (Adian),, kita berbicara data. Bukan karena emosi. Memang, ciri-ciri orang mau kalah itu emosi – kata Adian – yang langsung disambut dengan tertawaan banyak orang. Ahmad Yani pun juga terlihat tertawa sangat lepas. (Padahal, yang terlihat emosi sampai menggeser posisi duduk adalah Adian sedangkan Ahmad Yani malah kalem- kalem saja. Tenang-tenang saja).
Najwa Shihab menanyakan tentang bukti Prabowo membangun kota. Ahmad Yani menjawab bahwa memang Prabowo belum pernah menjabat di sipil pemerintahan. Tapi dalam hal kemiliteran, dia sudah membuktikan kapasitasnya pada dinas kemiliteran. Tetapi Adian menyanggah bahwa Jokowi belum pernah dipecat sebagai pejabat sedangkan Prabowo pernah dipecat. Ahmad Yani membalas dengan menyatakan bahwa hingga hari ini tidak ada fakta hukum yang menjadikan Prabowo terlibat. Itu adalah bukti bahwa Prabowo menerima dengan jiwa besarnya hukuman yang sudah diberikan olehnya walau tidak ada fakta hukum yang mengaitkan dirinya.
Adian mengatakan bahwa banyak orang bilang Jokowi meninggalkan Jakarta. Hal itu dibantah oleh Adian. Jokowi tidak meninggalkan Jakarta. Karena – kata Adian – Jokowi membangun Jakarta tidak dari balaikota Jakarta tetapi dari Istana Negara. (Argumen ngawur dikemukakan oleh silat lidah Adian Napitupulu. Kenapa harus jadi presiden dahulu untuk membangun Jakarta sedangkan saat menjadi gubernur, Jokowi malah tidak mengurus sungguh-sungguh atau setengah hati. Sebuah argumen yang rancu dan absurd. Selain itu, dengan menjadi presiden, fokus konsentrasinya adalah pembangunan nasional terutama di pelosok – pelosok luar pulau Jawa. Khawatirnya, begitu Jokowi jadi presiden kemudian ditanyakan persoalan Jakarta, Jokowi malah menjawab, “itu bukan wewenang saya, ‘kan ada gubernur Jakarta. Gimana sih kamu ini?”).
Ahmad Yani mempertanyakan soal prestasi Jokowi dalam mebangun kota Solo. Kemudian, untuk Jakarta, Ahmad Yani juga mempertanyakan tentang janji – janji apa yang sudah ditepati oleh Jokowi. Contohnya, banjir masih terjadi. Kemacetan malah semakin macet. Orang yang tidak punya akal sehat saja yang menyatakan Jakarta tidak macet. (Pernyataan tamparan keras dari Ahmad Yani kepada Adian yang tadi sudah berucap soal kemacetan Jakarta berkurang).
Adian malah melakukan debat argumen yang tidak nyambung dengan menyatakan bahwa apa yang terjadi bila Prabowo terpilih sebagai presiden yang sekaligus sebagai panglima tertinggi militer kemudian melantik semua jenderal padahal dia adalah orang yang sudah dipecat dari Mahkamah Militer. Dijawab oleh Ahmad Yani bahwa hal itu tidak masalah. (Adian Napitupulu seperti terkunci. Diam seribu bahasa.)
Adian yang semakin emosi memberondong Ahmad Yani dengan mengatakan pencitraan itu orang naik kuda, naik helikopter ketemu rakyat. (Tampaknya, Adian lupa bahwa Jokowi juga naik kuda waktu acara festival budaya di Monas tahun 2013 lengkap dengan pakaian Kaisar Cina-nya. Kembali, silat lidah Adian terbukti menusuk Jokowi).
Di akhir acara, Najwa Shihab memberikan kesempatan komentar positif dari Ahmad Yani dan Adian Napitupulu tentang sosok 2 tokoh ini (Prabowo dan Jokowi). Ahmad Yani berkomentar bahwa blusukan Jokowi adalah hal yang positif dari Jokowi. Selanjutnya, Adian mengatakan bahwa Prabowo adalah pengurus kuda yang baik dan Prabowo membutuhkan ibu negara. (Dalam forum debat yang terhormat seperti ini Adian malah mengungkapkan pernyataan bunuh diri yang malah merendahkan dirinya. Pernyataan yang tidak lucu dan kampungan ini malah menjadi senjata makan tuan bagi pihak Adian selaku pendukung Jokowi – Jusuf Kalla).
Inilah catatan saya selama menonton acara Mata Najwa Shihab bertema “Jokowi atau Prabowo” yang ditayangkan di Metro TV pada sesi ketiga, yang menampilkan head to head, Adian Napitupulu vs Ahmad Yani.
Semoga tulisan saya ini bisa menjadi pertimbangan anda untuk menghadapi pilpres tanggal 9 Juli 2014 nanti, agar lebih hati-hati dalam memilih pemimpin kita di tahun 2014 ini.
Salam.
NB1: Tulisan ini adalah sesi ketiga acara Mata Najwa bertema “Memilih Jokowi atau Prabowo”. Bagi yang langsung membaca tulisan ini, silahkan bisa juga membaca tulisan saya sesi pertama dan sesi kedua
Bisa dibaca di sini, sesi pertama:http://politik.kompasiana.com/2014/05/29/kejujuran-mahfud-md-menghancurkan-mencla-mencle-anies-baswedan-660982.html
Dan untuk sesi kedua, bisa dibaca di sini:http://politik.kompasiana.com/2014/05/30/kecerdasan-fadli-zon-membungkam-omong-kosong-maruarar-sirait-661190.html
NB2: Semua seri tulisan saya yang membahas acara Mata Najwa “Jokowi atau Prabowo” ini ada 3 tulisan yang terbagi atas setiap sesi. Semua tulisan ini saya tulis sendiri dari judul hingga akhir tulisan. Saya tidak mempunyai tim sukses yang khusus menulis semua tulisan ini. Saya juga tidak sekedar menulis poin-poinnya saja lalu dibuatkan tulisan oleh tim saya sehingga harus ditulis Muhammad Asad dan tim. Tidak. Semua tulisan saya berupa 3 seri tulisan ini seluruhnya hasil karya saya sendiri. Sehingga, saya tidak melanggar etika jurnalistik dengan menyebut tulisan saya ini ditulis oleh Muhammad Asad, bukan Muhammad Asad dan Tim. Demikian klarifikasi dari saya. Terimakasih.
Total 3 tulisan saya ini berjumlah lebih dari 4000 kata. Tulisan pertama berjumlah 1000-an kata. Tulisan kedua berjumlah 1500-an kata dan tulisan ketiga berjumlah 1600-an kata. Dari segi jumlah kata, masing-masing tulisan saya ini sudah lebih dari layak untuk dimuat di harian cetak Kompas yang menerbitkan tulisan Revolusi Mental. Sekian.
http://politik.kompasiana.com/2014/05/31/kesabaran-ahmad-yani-menghajar-silat-lidah-adian-napitupulu-661502.html
15.22 | 0 komentar | Read More

BACA JUGA

DAFTAR LENGKAP ARTIKEL BLOG BAGINDAERY

Ikuti situs Bagindaery

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...