ARTIKEL PILIHAN

GOOGLE TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

ARTIKEL PILIHAN

Tentang Senyum Nabi Muhammad saw: Rahasia Senyum Muhammad saw

Written By Situs Baginda Ery (New) on Minggu, 13 April 2014 | 13.57

dakwatuna.com - Ketika Anda membuka lembaran sirah kehidupan Muhammad saw., Anda tidak akan pernah berhenti kagum melihat kemuliaan dan kebesaran pribadi beliau saw.
Sisi kebesaran itu terlihat dari sikap seimbang dan selaras dalam setiap perilakunya,  sikap beliau dalam menggunakan segala sarana untuk meluluhkan kalbu setiap orang dalam setiap kesempatan.
Sarana paling besar yang dilakukan Muhammad saw. dalam dakwah dan perilaku beliau adalah, gerakan yang tidak membutuhkan biaya besar, tidak membutuhkan energi berlimpah, meluncur dari bibir untuk selanjutnya masuk ke relung kalbu yang sangat dalam.
Jangan Anda tanyakan efektifitasnya dalam mempengaruhi akal pikiran, menghilangkan kesedihan, membersihkan jiwa, menghancurkan tembok pengalang di antara anak manusia!. Itulah ketulusan yang mengalir dari dua bibir yang bersih, itulah senyuman!
Itulah senyuman yang direkam Al Qur’an tentang kisah Nabi Sulaiman as, ketika Ia berkata kepada seekor semut,
“Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; Dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. An Naml:19
Senyuman itulah yang senantiasa keluar dari bibir mulia Muhammad saw., dalam setiap perilakunya. Beliau tersenyum ketika bertemu dengan sahabatnya. Saat beliau menahan amarah atau ketika beliau berada di majelis peradilan sekalipun.
فهذا جرير -رضي الله عنه- يقول -كما في الصحيحين-: ما حَجَبني رسولُ الله -صلى الله عليه وسلم- منذُ أسملتُ، ولا رآني إلا تَبَسَّم في وجهي.
Diriwayatkan dari Jabir dalam sahih Bukhari dan Muslim, berkata, “Sejak aku masuk Islam, Rasulullah saw tidak pernah menghindar dariku. Dan beliau tidak melihatku kecuali beliau pasti tersenyum kepadaku.”
Suatu ketika Muhammad saw. didatangi seorang Arab Badui, dengan serta merta ia berlaku kasar dengan menarik selendang Muhammad saw., sehingga leher beliau membekas merah. Orang Badui itu bersuara keras, “Wahai Muhammad, perintahkan sahabatmu memberikan harta dari Baitul Maal! Muhammad saw. menoleh kepadanya seraya tersenyum. Kemudian beliau menyuruh sahabatnya memberi harta dari baitul maal kepadanya.”
Ketika beliau memberi hukuman keras terhadap orang-orang yang terlambat dan tidak ikut serta dalam perang Tabuk, beliau masih tersenyum mendengarkan alasan mereka.
يقول كعب -رضي الله عنه- بعد أن ذكر اعتذار المنافقين وحلفهم الكاذب: فَجِئْتُهُ فَلَمَّا سَلَّمْتُ عَلَيْهِ تَبَسَّمَ تَبَسُّمَ الْمُغْضَبِ، ثُمَّ قَالَ «تَعَالَ» . فَجِئْتُ أَمْشِي حَتَّى جَلَسْتُ بَيْنَ يَدَيْهِ.
Ka’ab ra. berkata setelah mengungkapkan alasan orang-orang munafik dan sumpah palsu mereka:
“Saya mendatangi Muhammad saw., ketika saya mengucapkan salam kepadanya, beliau tersenyum, senyuman orang yang marah. Kemudian beliau berkata, “Kemari. Maka saya mendekati beliau dan duduk di depan beliau.”
Suatu ketika Muhammad saw. melintasi masjid yang di dalamnya ada beberapa sahabat yang sedang membicarakan masalah-masalah jahiliyah terdahulu, beliau lewat dan tersenyum kepada mereka.
Beliau tersenyum dari bibir yang lembut, mulia nan suci, sampai akhir detik-detik hayat beliau.
- يقول أنس -كما في الصحيحين-: بينما الْمُسْلِمُونَ في صَلاَةِ الْفَجْرِ مِنْ يَوْمِ الإِثْنَيْنِ وَأَبُو بَكْرٍ يُصَلِّي بَهُمْ لَمْ يَفْجَأْهُمْ إِلاَّ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَدْ كَشَفَ سِتْرَ حُجْرَةِ عَائِشَةَ، فَنَظَرَ إِلَيْهِمْ وَهُمْ فِي صُفُوفِ الصَّلاَةِ. ثُمَّ تَبَسَّمَ يَضْحَكُ!
Anas bin Malik berkata diriwayatkan dalam sahih Bukhari dan Muslim, “Ketika kaum muslimin berada dalam shalat fajar, di hari Senin, sedangkan Abu Bakar menjadi imam mereka, ketika itu mereka dikejutkan oleh Muhammad saw. yang membuka hijab kamar Aisyah. Beliau melihat kaum muslimin sedang dalam shaf shalat, kemudian beliau tersenyum kepada mereka!”
Sehingga tidak mengherankan beliau mampu meluluhkan kalbu sahabat-shabatnya, istri-istrinya dan setiap orang yang berjumpa dengannya!
Menyentuh Hati
Muhammad saw. telah meluluhkan hati siapa saja dengan senyuman. Beliau mampu “menyihir” hati dengan senyuman. Beliau menumbuhkan harapan dengan senyuman. Beliau mampu menghilangkan sikap keras hati dengan senyuman. Dan beliau saw. mensunnahkan dan memerintahkan umatnya agar menghiasi diri dengan akhlak mulia ini. Bahkan beliau menjadikan senyuman sebagai lahan berlomba dalam kebaikan. Rasulullah saw.  bersabda,
فقال: (وتبسمك في وجه أخيك صدقة) رواه الترمذي وصححه ابن حبان.
“Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.” At Tirmidzi dalam sahihnya.
Meskipun sudah sangat jelas dan gamblang petunjuk Nabi dan praktek beliau langsung ini, namun Anda masih banyak melihat sebagaian manusia masih berlaku keras terhadap anggota keluarganya, tehadap rumah tangganya dengan tidak menebar senyuman dari bibirnya dan dari ketulusan hatinya.
Anda merasakan bahwa sebagian manusia -karena bersikap cemberut dan muka masam- mengira bahwa giginya bagian dari aurat yang harus ditutupi! Di mana mereka di depan petunjuk Nabi yang agung ini! Sungguh jauh mereka dari contoh Nabi muhammad saw.!
Ya, kadang Anda melewati jam-jam Anda dengan dirundung duka, atau disibukkan beragam pekerjaan, akan tetapi Anda selalu bermuka masam, cemberut dan menahan senyuman yang merupakan sedekah, maka demi Allah, ini adalah perilaku keras hati, yang semestinya tidak terjadi. Wal iyadzubillah.
Pengaruh Senyum
Sebagian manusia ketika berbicara tentang senyuman, mengaitkan dengan pengaruh psikologis terhadap orang yang tersenyum. Mengkaitkannya boleh-boleh saja, yang oleh kebanyakan orang boleh jadi sepakat akan hal itu. Namun, seorang muslim memandang hal ini dengan kaca mata lain, yaitu kaca mata ibadah, bahwa tersenyum adalah bagian dari mencontoh Nabi saw. yang disunnahkan dan bernilai ibadah.
Para pakar dari kalangan muslim maupun non muslim melihat seuntai senyuman sangat besar pengaruhnya.
Dale Carnegie dalam bukunya yang terkenal, “Bagaimana Anda Mendapatkan Teman dan Mempengaruhi Manusia” menceritakan:
“Wajah merupakan cermin yang tepat bagi perasaan hati seseorang. Wajah yang ceria, penuh senyuman alami, senyum tulus adalah sebaik-baik sarana memperoleh teman dan kerja sama dengan pihak lain. Senyum lebih berharga dibanding sebuah pemberian yang dihadiahkan seorang pria. Dan lebih menarik dari lipstik dan bedak yang menempel di wajah seorang wanita. Senyum bukti cinta tulus dan persahabatan yang murni.”
Ia melanjutkan, “Saya minta setiap mahasiswa saya untuk tersenyum kepada orang tertentu sekali setiap pekannya. Salah seorang mahasiswa datang bertemu dengan pedagang, ia berkata kepadanya, “Saya pilih tersenyum kepada istriku, ia tidak tau sama sekali perihal ini. Hasilnya adalah saya menemukan kebahagiaan baru yang sebelumnya tidak saya rasakan sepanjang akhir tahun-tahun ini. Yang demikian menjadikan saya senang tersenyum setiap kali bertemu dengan orang. Setiap orang membalas penghormatan kepada saya dan bersegera melaksanakan khidmat -pelayanan- kepada saya. Karena itu saya merasakan hidup lebih ceria dan lebih mudah.”
Kegembiraan meluap ketika Carnegie menambahkan, “Ingatlah, bahwa senyum tidak membutuhkan biaya sedikitpun, bahkan membawa dampak yang luar biasa. Tidak akan menjadi miskin orang yang memberinya, justeru akan menambah kaya bagi orang yang mendapatkannya. Senyum juga tidak memerlukan waktu yang bertele-tele, namun membekas kekal dalam ingatan sampai akhir hayat. Tidak ada seorang fakir yang tidak memilikinya, dan tidak ada seorang kaya pun yang tidak membutuhkannya.”
Betapa kita sangat membutuhkan sosialisasi dan penyadaran petunjuk Nabi yang mulia ini kepada umat. Dengan niat taqarrub ilallah -pendekatan diri kepada Allah swt.- lewat senyuman, dimulai dari diri kita, rumah kita, bersama istri-istri kita, anak-anak kita, teman sekantor kita. Dan kita tidak pernah merasa rugi sedikit pun! Bahkan kita akan rugi, rugi dunia dan agama, ketika kita menahan senyuman, menahan sedekah ini, dengan selalu bermuka masam dan cemberut dalam kehidupan.
Pengalaman membuktikan bahwa dampak positif dan efektif dari senyuman, yaitu senyuman menjadi pendahuluan ketika hendak meluruskan orang yang keliru, dan menjadi muqaddimah ketika mengingkari yang munkar.
Orang yang selalu cemberut tidak menyengsarakan kecuali dirinya sendiri. Bermuka masam berarti mengharamkan menikmati dunia ini. Dan bagi siapa saja yang mau menebar senyum, selamanya ia akan senang dan gembira. Allahu a’lam

13.57 | 0 komentar | Read More

Sikap Ramah Dirahmati Allah [ "Tidaklah seseorang memiliki kasih sayang terhadap sesama, kecuali Allah SWT akan menghiasinya dengan kemuliaan. Dan tidaklah seseorang berlaku bengis terhadap sesamanya, kecuali Allah akan mencabut rasa kasih sayang dari dirinya dan mencampakkannya ke tempat yang hina" ( Al Hadis ). ]

"Tidaklah seseorang memiliki kasih sayang terhadap sesama, kecuali Allah SWT akan menghiasinya dengan kemuliaan. Dan tidaklah seseorang berlaku bengis terhadap sesamanya, kecuali Allah akan mencabut rasa kasih sayang dari dirinya dan mencampakkannya ke tempat yang hina" ( Al Hadis ).
http://seputaraceh.com/wp-content/uploads/2012/11/Hormati-orang-tua.jpg
PIKIRAN BENING hanya dimiliki oleh muslim yang berhati bersih. Hati bersih tandanya dirahmati Allah. Dan Orang yang dirahmati Allah, sejak didunia inipun ia sudah bisa menikmati "sorga" dunia sebelum sorga di akhirat. Cirinya ujar Nabi SAW: "Bila engkau bangun pagi, sehat badanmu, senang perasaanmu dan ada yang dimakan buat hari itu, seolah-olah dunia ini engkau yang punya".
Dalam hadis lain beliau bersabda : "Yang dinamakan kekayaan, bukan semata-mata banyaknya harta benda tetapi kekayaan sejati ialah ketenangan jiwa". Ketahuilah, orang yang jiwanya tenang, tatkala menghadapi sakaratul maut yang teramat dahsyat sakitnya itu, ia malah di elus-elus dengan panggilan indah oleh malaikat maut : "Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepangkuan Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai-Nya".

Diantara ciri hati yang bersih, dalam dirinya selalu tersembul rasa kasih sayang bukan saja terhadap sesama manusia tetapi juga dengan mahluk lain. Dimana saja ia berada selalu memberi rahmat bagi lingkungan disekitarnya. Ucapannya menentramkan, wajahnya menyejukkan, sikapnya menawan, kehadirannya selalu dinanti-nantikan orang. Rasulullah SAW bersabda : "Orang muslim itu adalah orang yang membuat muslim yang lain terselamatkan dari kejahatan lidah dan tangannya".

Pernah Nabi SAW. bertamu ke rumah seseorang. Sebelum masuk, beliau mendengar si tuan rumah berkata agak keras memarahi pembantunya. Untuk menghormati Nabi SAW, si Tuan rumah memberi jamuan kepada beliau. Kebetulan saat itu si Tuan rumah sedang puasa. Rasul SAW. menyuruh si Pemilik rumah itu untuk makan juga, karena kata beliau kurang lebih : "Tidak ada gunanya kamu berpuasa karena telah berkata kasar kepada pembantumu". Ujar Dr. Aidh Al Qarni : "Kebahagiaanku dan kebahagiaanmu itu terletak dalam bagaimana membahagiakan orang lain, bagaimana menciptakan kegembiraan pada diri mereka dan bagaimana menempatkan potensi, kemampuan dan kebaikan mereka."

Orang yang dalam dirinya tidak terdapat rasa kasih sayang akan jauh dari rahmat Allah. Karena itu sangat beralasan kalau Umar bin Khattab RA tidak jadi mengangkat salah seorang sahabatnya menjadi gubernur di Syam, gara-gara sikapnya yang tidak ramah terhadap keluarganya sendiri. "Bagaimana kamu bersikap ramah terhadap rakyatmu nanti, kalau terhadap keluargamu sendiri saja kamu tidak bisa ramah", tegas Khalifah kedua ini kepadanya.

Al Hasan meriwayatkan bahwa Rasul SAW berkata : "Tidak akan masuk surga kecuali orang yang bersifat kasih". Para sahabat berkata, "Kita semua pengasih." Ujar Nabi SAW : "Bukan kasih sayang kalian terhadap diri kalian sendiri, tetapi kasih sayang kalian terhadap umat manusia secara umum."

Orang yang tidak bersifat kasih, maknanya dalam dirinya ada rasa sombong, angkuh, merasa serba hebat. Padahal simaklah firman Allah dalam hadis qudsi : "Keagungan itu pakaian-Ku dan kesombongan adalah selendang-Ku. Barangsiapa yang menandingi Aku dalam kedua hal tersebut maka Aku akan membinasakannya." Sehingga Rasul SAW. bersabda : "Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sifat kesombongan walaupun seberat biji sawi."

Saad bin Muazd RA. dikenal oleh penduduk Madinah orang yang taat beribadah. Sering terlihat menghabiskan waktunya iktikaf di masjid Nabawi. Ketika ia meninggal, Rasul SAW dan para sahabat ramai mengantarkannya ke pemakaman. Usai prosesi penguburan Nabi SAW. berkata : "Sayang kuburannya disempitkan oleh Allah". Para sahabat heran dan bertanya sebabnya : "Karena selama hidupnya sering mengecewakan keluarganya", tegas Rasul SAW. Berdasarkan hadis Rasulullah SAW. tersebut maka K.H.Abdullah Gymnastiar menulis antara lain : "Bila kita melakukan ibadah salat dengan khusyuk namun kita gampang meninggalkan kewajiban kita kepada isteri dan anak-anak kita, maka kita tidak mungkin dapat dekat dengan Allah."

Abu Hurairah RA menceritakan hadis dari Rasulullah SAW. Intinya seorang lelaki yang sedang safar di gurun pasir merasa sangat haus. Ia menemukan air di sebuah sumur. Usai minum ia melihat seekor anjing yang juga tengah haus. Ia lalu turun mencedok air dengan menggunakan sepatunya dan diberikan ke anjing itu. Ternyata Allah SWT. memujinya dan mengampuni dosanya. Kemudian Rasulullah bersabda : "Setiap perbuatan baik pada yang bernyawa ada pahalanya".

Al Hasan meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. berkata : "Para abdal dari ummatku tidak masuk surga karena banyaknya salat dan puasa (yang sunat). Allah menyayangi mereka karena kesucian hati, kedermawanan dan kasih sayang mereka terhadap kaum Muslimin". ( Al Hakim, Ibnu Abid Dunya, Darquthni ).

Turmuzi, Abu Daud dan Ahmat meriwayatkan, bahwa Rasul SAW. bersabda : "Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Tuhan Ar-Rahman. Sayangilah yang dibumi niscaya yang dilangit akan menyangi kalian."

Karena itu kilah seorang ulama besar : "Sifat kasih sayang harus dimiliki oleh setiap pemimpin, baik pemimpin agama atau bukan. Karena sifat kasih sayang membawa kita untuk berlapang dada, bersabar dan tidak lekas putus asa demi untuk berhasilnya tujuan yang dicita-citakan."

Ujar Andrie Wongso, motivator tersohor Indonesia : "Kasih dan perhatian adalah kekuatan. Jika setiap hari kita mau memberikan kasih dan perhatian kepada orang-orang di sekeliling kita, hidup akan terasa bahagia dan lebih bermakna."
Sumber: Milis SD-SMPIT-Istiqamah
13.15 | 0 komentar | Read More

Jadilah Manusia yang Baik: Manusia Terbaik: Paling Bermanfaat, Ramah, dan Suka Menolong

 sebaik-baik manusia - suka menolong
MANUSIA terbaik itu adalah orang yang bermanfaat bagi sesama, ramah, dan suka menolong. 

Kita sangat familiar dengan hadits yang berbunyi خير الناس أنفعهم للناس (khoirunnas anfa'uhum linnas). Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.

Hadits shahih tentang sebaik-baik manusia ini diriwayatkan dari Jabir. Ia berkata,”Rasulullah Saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni).

Dalam riwayat lain disebutkan, dari Ibnu Umar, bahwa seorang lelaki mendatangi Nabi saw dan berkata,”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling diicintai Allah  dan amal apakah yang paling dicintai Allah Swt?” 

Rasulullah Saw menjawab,”Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat buat manusia dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan kedalam diri seorang muslim atau engkau menghilangkan suatu kesulitan atau engkau melunasi utang atau menghilangkan kelaparan." 

Rasulullah Saw meneruskan sabdanya: "Dan sesungguhnya aku berjalan bersama seorang saudaraku untuk (menuaikan) suatu kebutuhan lebih aku sukai daripada aku beritikaf di masjid ini—yaitu Masjid Madinah—selama satu bulan. Dan barangsiapa yang menghentikan amarahnya maka Allah akan menutupi kekurangannya dan barangsiapa menahan amarahnya padahal dirinya sanggup untuk melakukannya maka Allah akan memenuhi hatinya dengan harapan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk (menunaikan) suatu keperluan sehingga tertunaikan (keperluan) itu maka Allah akan meneguhkan kakinya pada hari tidak bergemingnya kaki-kaki (hari perhitungan).” (HR. Thabrani).

Dari kedua hadits tersebut, kita bisa menarik kesimpulan, sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lain, ramah, dan suka menolong sesama atau memberikan kebahagiaan bagi manusia lainnya. Semoga kita termasuk manusia terbaik. Amin! Wallahu a'lam. (www.risalahislam.com).*
13.08 | 0 komentar | Read More

BACA JUGA

DAFTAR LENGKAP ARTIKEL BLOG BAGINDAERY

Ikuti situs Bagindaery

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...