ARTIKEL PILIHAN

GOOGLE TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

ARTIKEL PILIHAN

Suara Mahasiswa: Islam Agama Ramah dan Anti Kekerasan

Written By Situs Baginda Ery (New) on Minggu, 13 April 2014 | 13.06

http://sphotos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/t1.0-9/269648_231347636890354_4688471_n.jpg
 


oleh A. Tajuddin Arafat*

Nabi Muhammad saw mengajarkan kepada kita bahwa penegakan keadilan mengharuskan adanya aktifitas yang terus menerus. Nama dari aktifitas ini adalah jihad. Usaha mewujudkan anti-kekerasan merupakan pangkal utama dari jihad ini. Kata jihad tidak “harus” berarti perang suci. Jihad berarti perjuangan (kerja keras) atau usaha. Berdasar pada sebuah Hadis Masyhur dari Nabi Muhammad saw, bahwa jihad secara tradisi dibagi ke dalam al-jihad al-akbar (perjuangan besar), sebuah usaha batin dalam menghadapi sifat dasar kita yang lebih rendah (nafsu); dan al-jihad al-ashgar (perjuangan kecil), sebuah usaha lahir dalam menghadapi ketidakadilan sosial. Perjuangan kecil ini bukanlah dalam semua hal, namun hanya beberapa. Hal itu memasukkan pula mengajar, dan pencarian aktif akan sebuah budaya damai, maupun perlawanan terhadap penindasan dan kekerasan sosial.
"dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam" (Q.S. Al-Anbiya`: 107)

“orang muslim sejati adalah orang muslim yang menjaga keselamatan muslim yang lain dari lisan dan tangannya” (Hadis Rasulullah)


Islam, begitu pula agama lainnya, tidak lepas dari apa yang namanya ikhtilaf (perbedaan) di dalamnya. Bisa dikatakan bahwa sikap berbeda itu merupakan naluri atau fitrah yang wajar terjadi dalam hal apapun dan bagi siapapun. Berbeda dalam segala hal, baik yang bersifat formal maupun nonformal, dari yang global sampai yang partikular. Karena perbedaan itulah, Islam –dengan sifat eklektik ajarannya- menjadi sebuah agama yang mudah dicerna oleh pemahaman lokal setempat yang sarat dengan budaya dan tradisi. Perbedaan itu akan bisa dianggap wajar jika satu dengan yang lainnya saling memahami, toleran dan apresiatif. Namun jika perbedaan itu menimbulkan kekacauan, keributan, kekerasan dan saling menghantam satu sama lainnya itu perlu ditinjau kembali, bagaimana bisa? dan kenapa bisa terjadi?.

Dalam tradisi Islam, kita mengenal istilah ikhtilaful a'immah rahmatun lil ummah (perbedaan pendapat para imam adalah rahmat bagi umat). Walaupun kalimat ini bukanlah hadis atau jika boleh dikatakan hadis termasuk hadis maudhu’, tetapi signifikansi dari kandungan kalimat ini merupakan gambaran tentang bagaimana kita bisa memahami secara apresiatif terhadap orang lain atau terhadap pandangan seseorang yang mungkin lagi berseberangan dengan kita. Berseberangan atau perbedaan tersebut bisa menjadi rahmat jika diartikan secara positif dan berbasis keramahan, seperti yang dianjurkan oleh al-Qur’an dan Sunnah Nabawi.

Lebih jauh, Islam, sekali lagi, tidak membuat pembedaan antara agama dan realita keduniaan. Hal ini dimaksudkan bahwa Islam tidak membedakan antara urusan-urusan dunia ini dan nanti (akhirat), ia melihatnya sebagai satu kesatuan utuh –sebuah refleksi/pantulan (tajalli) dari kesatuan Allah (tauhid). Salah satu tujuan dari kehidupan kaum Muslim adalah membuat kesatuan ini menjadi sebuah pengalaman nyata bagi manusia. Dan salah satu rintangan utama untuk pengalaman manusia dari kesatuan iman dan kehidupan itu adalah adanya ketidakadilan sosial dalam realitas masyarakat.

Nabi Muhammad saw mengajarkan kepada kita bahwa penegakan keadilan mengharuskan adanya aktifitas yang terus menerus. Nama dari aktifitas ini adalah jihad. Usaha mewujudkan anti-kekerasan merupakan pangkal utama dari jihad ini. Kata jihad tidak “harus” berarti perang suci. Jihad berarti perjuangan (kerja keras) atau usaha. Berdasar pada sebuah Hadis Masyhur dari Nabi Muhammad saw, bahwa jihad secara tradisi dibagi ke dalam al-jihad al-akbar (perjuangan besar), sebuah usaha batin dalam menghadapi sifat dasar kita yang lebih rendah (nafsu); dan al-jihad al-ashgar (perjuangan kecil), sebuah usaha lahir dalam menghadapi ketidakadilan sosial. Perjuangan kecil ini bukanlah dalam semua hal, namun hanya beberapa. Hal itu memasukkan pula mengajar, dan pencarian aktif akan sebuah budaya damai, maupun perlawanan terhadap penindasan dan kekerasan sosial.


Walhasil, sikap ramah merupakan kunci utama bagi tercapainya Islam yang cinta budaya damai. Sikap ramah tidak akan terwujud tanpa adanya apresiasi terhadap ”yang lain” dan saling memberi apresiasi tidak akan tercapai jika tidak ada perbedaan antara satu dengan yang lainnya. Lebih jelasnya bahwa kita tidak akan apresiatif kepada teman kita, jika kita tidak merasa bahwa kita berbeda dengannya.


Jika dari sisi normatif sudah dijelaskan tentang bagaimana kita seharusnya ber-Islam. Maka berbijaksanalah, ketika kita memandang fenomena dan realitas masyarakat yang ada sekarang ini melalui pemahaman yang berbasis ramah dan anti-kekerasan. Sekali lagi, Islam itu ramah terhadap siapapun, apapun, dimanapun dan kapanpun. Sehingga Islam yang notabene sebagai sebuah agama formal bagi penganutnya seharusnya digambarkan dengan praktek dan perilaku yang mencerminkan sikap cinta damai dan ramah itu sendiri. Terakhir, mengutip apa yang dikatakan oleh para perennialis: nilai-nilai universal agama mengajarkan akan yang Esa dan ketundukan kepada-Nya, meskipun wujud realitanya sangat beragam dan warna-warni. []





*Mahasiswa Fak. Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang


http://islamlib.com/?site=1&aid=1710&cat=content&cid=24&title=islam-adalah-agama-ramah-dan-anti-kekerasan
13.06 | 0 komentar | Read More

Menggapai ridho Allah: Sikap ramah dan lemah lembut merupakan salah satu ajaran yang dianjurkan oleh agama Islam

http://ltqalhikmah.com/wp-content/uploads/2013/01/kartun_salaman.jpg
Sikap ramah dan lemah lembut merupakan salah satu ajaran yang dianjurkan oleh agama Islam. Sifat Ar-Rifq (lemah lembut) merupakan sifat yang dicintai oleh Allah SWT dan juga dengannya akan bisa meraih segala kebaikan dan keutamaan. Berlemah lembut dan menebarkan keramahan dalam interaksi sosial tidak saja mendatangkan kemuliaan , tapi juga membuat orang lain merasa damai dan nyaman dalam hidupnya. Orang yang ramah dan lembut tutur katanya hampir selalu diterima dalam pergaulan, selain itu tutur kata yang lembut juga akan merontokkan dan meluluhkan pendirian yang salah. Kita sebagai umat Islam juga punya teladan yang luar biasa mengenai cara bersikap yang lemah lembut kepada sesama yaitu Rasulullah SAW. Beliau tidak pernah berkata kasar kepada sahabat-sahabatnya,beliau juga selalu memberikan sikap yang tulus kepada sesamanya.
Dalam sebuah hadist ,Rasulullah SAW bersabda :“Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Lembut yang mencintai kelembutan dalam seluruh perkara.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Sebagaimana disebutkan pula dalam hadits yang lain, Rasulullah saw bersabda :“Orang yang dijauhkan dari sifat lemah lembut, maka ia dijauhkan dari kebaikan.” (HR.Muslim)
Dikisahkan bahwa suatu ketika Rasulullah sedang duduk-duduk bersama para shahabat radhiyallahu ‘anhum di dalam masjid. Tiba-tiba muncul seorang ‘Arab badui (kampung) masuk ke dalam masjid, kemudian kencing di dalamnya. Maka, dengan serta merta, bangkitlah para shahabat yang ada di dalam masjid, menghampirinya seraya menghardiknya dengan ucapan yang keras. Namun Rasulullah melarang mereka untuk menghardiknya dan memerintahkan untuk membiarkannya sampai orang tersebut menyelesaikan hajatnya. Kemudian setelah selesai, Rasulullah meminta untuk diambilkan setimba air untuk dituangkan pada air kencing tersebut. (HR. Al Bukhari)
Kemudian beliau memanggil ‘Arab badui tersebut dalam keadaan tidak marah ataupun mencela. Rasulullah pun menasehatinya dengan lemah lembut: “Sesungguhnya masjid ini tidak pantas untuk membuang benda najis (seperti kencing, pen) atau kotor. Hanya saja masjid itu dibangun sebagai tempat untuk dzikir kepada Allah, shalat, dan membaca Al Qur’an.” (HR. Muslim)
Melihat sikap Rasulullah yang demikian lembut dan halusnya dalam menasehati, timbullah rasa cinta dan simpati ‘Arab badui tersebut kepada beliau Rasulullah. Maka ia pun berdoa: “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad, dan janganlah Engkau merahmati seorangpun bersama kami berdua.” Mendengar doa tersebut Rasulullah tertawa dan berkata kepadanya: “Kamu telah mempersempit sesuatu yang luas (rahmat Allah).” (HR. Al Bukhari dan yang lainnya)
(Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa doa Arab badui tersebut diucapkan sebelum ia buang air kecil. Wallahu a’lam)
Perhatikanlah wahai saudara saudariku..
Betapa hati manusia itu, pada asalnya, adalah cenderung kepada sikap yang lembut dan tidak kasar. Betapa indah dan lembutnya cara pengajaran dari tauladan kita Nabi Muhammad saw terhadap seorang yang belum mengerti. Dengan sikap hikmah Rasulullah, akhirnya melahirkan rasa simpati dan membuka mata hati Arab badui tersebut dalam menerima nasehat. Berbeda halnya tatkala perbuatannya tersebut disikapi dengan kemarahan, yang akhirnya melahirkan sikap ketidaksukaan. Selalu memberikan kemudahan kepada orang lain dan tidak mau mempersulit urusan merupakan ciri khas akhlak Rasulullah saw. Sabda Rasulullah saw: “Hanya saja kalian diperintah untuk memudahkan dan bukan untuk mempersulit.” (HR.Al Bukhari)
Rasulullah saw juga menyatakan:“Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi mencintai kelembutan. Dia memberikan pada sifat kelembutan yang tidak diberikan kepada sifat kekerasan, dan tidak pula diberikan kepada sifat-sifat yang lainnya.” (HR. Muslim)
https://www.facebook.com/permalink.php?id=275089835843993&story_fbid=450328878320087
13.00 | 0 komentar | Read More

Tentang Bersikap Ramah: Rasulullah Menyuruh Kita Bersikap Ramah

Kaligrafi Muhammad SAW. Ilustrasi
Kaligrafi Muhammad SAW. Ilustrasi


Oleh Ida Fauziyah

Rasulullah SAW bersabda, "Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia." (HR Thabrani dan Daruquthni, dari Jabir RA).

Hadis di atas kembali mengingatkan jati diri kemanusiaan kita agar selalu bersikap ramah dalam berinteraksi sosial di antara sesama. Suatu sikap yang dalam satu bulan terakhir ini menjadi pertanyaan kita semua, khususnya menyangkut sikap kita sebagai manusia untuk menghargai hak-hak kemanusiaan sesama.

Aksi bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS), Kepunton, Solo, (25/9) lalu merajalelanya korupsi di berbagai bidang dan pelbagai kerusuhan yang menjurus konflik SARA seperti kasus di Ambon beberapa waktu lalu, makin menguatkan bahwa kita mulai tidak ramah dengan nilai-nilai kemanusian dan kemajemukan. Kita mulai tidak acuh dan tak ramah dalam mengawal bumi pertiwi yang kita cinta ini.

Bila melihat hadis di atas, sangat jelas dan tegas bahwa objek yang dituju dari hadis tersebut adalah "orang beriman". Jadi, sikap keramahan itu menjadi satu hal yang mutlak harus diintegrasikan dalam diri orang yang beriman. Artinya, kualitas keimanan seseorang itu salah satunya bisa diukur dari seberapa jauh ia sebagai seorang mukmin dalam kehidupan sosialnya itu melaksanakan "keramahan" kemanusiaannya (baca menghargai dan menghormati).

Praksisnya, bila orang beriman itu hidup dalam kemajemukan, maka ia bisa menghargai dan menerima segala perbedaan. Bila ia seorang pejabat, maka ia bisa menyuarakan dan amanah pada aspirasi rakyatnya. Dan bila ia seorang pemimpin, maka ia bisa menyalurkan segala energi kepemimpinannya untuk mewujudkan kemakmuran rakyatnya.

Implementasi wujud keramahan tersebut menjadi hal paling esensial, mengingat hakikat orang beriman itu tidak hanya pandai melafalkan sumpah tertentu, akan tetapi yang lebih penting dari itu adalah wujud konkret tindakannya di masyarakat.  "Al-imanu tashdiiqun bil qalbi, wa ikrarun bil lisan, wa a'malun bil arkan" (orang beriman itu tidak hanya membenarkan dalam hati, dan mengikrarkan di lisan, tapi lebih dari itu adalah melaksanakan dalam bentuk perbuatan).

Dengan memperhatikan esensi orang beriman ini, maka  kalimat berikutnya dari hadis tersebut sangat kontekstual, bahwa sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Artinya, keberadaan kita sebagai manusia (dalam posisi apa pun) akan sangat ditentukan seberapa jauh kita bisa memberi manfaat bagi sekelilingnya. Kalau prinsip ini dijadikan pegangan utama, maka tentu tidak ada namanya anasir-anasir tindakan merendahkan kemanusiaan yang muncul di hati.

Tidak ada namanya "kezaliman struktural" manakala kita diberi amanah menjalankan kekuasaan. Tak ada namanya ketakutan akan turunnya pencitraan ketika kita senantiasa berpegang pada kebenaran. Semua tindakan akan tersubordinasikan untuk meraih tujuan hakiki orang beriman, yaitu rida Allah SWT. Semoga Allah senantiasa memberi hidayah kepada kita semua untuk selalu berada pada garis kebenaran-Nya, sampai kita semua menghadap-Nya dengan husnul khatimah. Amin ya Rabbal 'alamin.

Tulisan ini telah dimuat di Republika cetak dengan judul Manusia paripurna
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/10/06/lsme9u-rasulullah-menyuruh-kita-bersikap-ramah
13.00 | 0 komentar | Read More

BACA JUGA

DAFTAR LENGKAP ARTIKEL BLOG BAGINDAERY

Ikuti situs Bagindaery

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...