Suasana pembangunan gedung-gedung
pencakar langit di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu
(7/4/2013).BPS merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III di
level 5,62 persen | KOMPAS IMAGES/VITALIS YOGI TRISNA
KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah kembali mencatatkan
rekor terendah baru minggu lalu (Rabu, 13/11/2013) dalam hampir lima
tahun terakhir. Mengantisipasi tekanan terhadap rupiah lebih lanjut,
sehari sebelumnya, Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 25 basis
poin menjadi 7,5 persen. Kenaikan BI Rate yang cukup kerap—lima kali
dalam lima bulan terakhir yang totalnya 175 basis poin—merupakan salah
satu pertanda pembenahan sektor riil mandul.
Kebijakan fiskal bisa dikatakan tidak membantu sama sekali,
bahkan dalam beberapa hal kontraproduktif. Pemerintah lebih memilih
jalan pintas dengan penuh kesadaran: pertumbuhan ekonomi dikorbankan!
Dalam pertemuan tahunan perbankan minggu lalu, Gubernur Bank
Indonesia mengimbau perbankan untuk menahan laju kredit dan tidak
jorjoran menaikkan suku bunga untuk menyerap dana masyarakat. Dengan
alasan meredam pemburukan akun semasa (
current account), Bank
Indonesia menargetkan pertumbuhan kredit tahun depan di kisaran 15
persen-17 persen, jauh lebih rendah ketimbang pertumbuhan kredit bulan
September lalu sebesar 23,1 persen.
Menteri Keuangan pun telah berulang kali mengatakan pertumbuhan
ekonomi tahun ini dan tahun depan bakal terus tertekan, bahkan hampir
pasti di bawah 6 persen pada tahun 2014. Tak ayal, tingkat pengangguran
pada Agustus 2013 naik, baik dibandingkan Agustus 2012 maupun Februari
2013, menjadi 6,25 persen.
Semua petinggi penentu kebijakan ekonomi mengambinghitamkan
ketidakpastian ekonomi dunia dan rencana pemotongan stimulus oleh Bank
Sentral Amerika Serikat (The Fed) sebagai biang keladi pemburukan
ekonomi Indonesia. Padahal, sumber masalah lebih banyak berasal dari
dalam negeri, terutama kegagalan pemerintah menghadirkan pertumbuhan
berkualitas. Pertumbuhan sektor penghasil barang terus melambat. Yang
paling kentara adalah sektor industri manufaktur, dari tingkat
tertingginya pada triwulan III-2012 sebesar 6,4 persen menjadi hanya 4,9
persen pada triwulan III-2013.
Pembenahan infrastruktur tak kunjung menampakkan hasil nyata,
bahkan dalam banyak hal memburuk. Ranking komponen infrastruktur dalam
indeks kinerja logistik melorot dari peringkat ke-69 pada tahun 2010
menjadi ke-84 pada tahun 2012. Pemadaman listrik semakin kerap.
Kemacetan menggila. Kondisi bandara bertambah semrawut. Alih-alih
menawarkan penyelesaian menyeluruh, pemerintah pusat malahan menumpahkan
kesalahan kepada pemerintah daerah. Alih-alih menyuntikkan dana lebih
berarti dari anggaran negara (APBN), pemerintah justru kian mengandalkan
swasta dengan mengedepankan skema private-public partnership, sedangkan
alokasi dana untuk subsidi energi terus menggelembung, tahun ini dan
tahun depan diperkirakan naik lagi menjadi sekitar Rp 350 triliun.
Pertumbuhan ekonomi yang semakin tidak berkualitaslah yang
menjadi biang keladi dari pemburukan kinerja ekonomi Indonesia, bukan
faktor eksternal. Bukanlah pertumbuhan ekonomi dunia mulai membaik?
Bukankah pertumbuhan perdagangan dunia tahun ini lebih tinggi ketimbang
tahun lalu?
Di tengah ketidakpastian kebijakan The Fed tentang pemotongan
stimulus, bukankah selama ini arus modal asing yang masuk ke Indonesia
selalu positif dalam jumlah yang tergolong lumayan besar? Bahkan, pada
triwulan III-2013, investasi asing langsung neto triwulan mencapai rekor
tertinggi sepanjang sejarah, sebesar 5,1 miliar dollar AS. Dalam
sembilan bulan terakhir (Januari-September), investasi asing langsung
sudah mencapai 12,8 miliar dollar AS, hampir menyamai keseluruhan tahun
lalu sebesar 14 miliar dollar AS.
Investasi portofolio juga tak bisa dikatakan jeblok. Selama
Januari-September 2013, arus neto investasi portofolio mencapai 8 miliar
dollar AS, hanya sedikit di bawah keseluruhan tahun lalu sebesar 9,2
miliar dollar AS. Investasi portofolio paling buruk terjadi pada
triwulan IV-2012, tetapi itu pun masih positif walaupun kecil sebesar
190 juta dollar AS.
Jadi, peningkatan defisit neraca pembayaran pada triwulan
III-2013 menjadi 2,6 miliar dollar AS—dari 2,5 miliar dollar AS pada
triwulan sebelumnya—sehingga terus menekan rupiah lebih disebabkan oleh
tekanan pada akun semasa.
Janganlah pemburukan neraca pembayaran ditumpahkan pada ekspansi
perekonomian yang dipandang terlalu cepat sebagaimana disinyalir
Gubernur Bank Indonesia dalam pidatonya minggu lalu. Gubernur BI justru
harus lebih yakin dengan ucapannya sendiri pada acara yang sama: “…
struktur produksi yang terbentuk dalam satu dekade terakhir lambat laun
terasa semakin ketinggalan zaman (obsolete)”. Itulah wujud
senyata-nyatanya dari pertumbuhan tidak berkualitas.
Pertumbuhan yang tak berkualitas itulah yang menjadi penyebab
utama pemburukan akun semasa sejak tahun 2012. Telaahan struktur akun
semasa lebih rinci akan sampai pada kesimpulan itu. Penyumbang positif
terbesar akun semasa selama puluhan tahun adalah surplus transaksi
perdagangan nonmigas.
Selama kurun waktu 2008-2011, surplus transaksi perdagangan
nonmigas naik pesat, dari 15,1 miliar dollar AS tahun 2008 menjadi 35,4
miliar dollar AS tahun 2011. Namun, pada tahun 2012 anjlok menjadi hanya
13,8 miliar dollar AS, lebih rendah daripada tahun 2008. Pemburukan
masih berlanjut tahun ini. Selama Januari-September 2013 surplus
transaksi perdagangan nonmigas tercatat 8,9 miliar dollar AS, lebih
rendah daripada periode yang sama tahun lalu sebesar 10,6 miliar dollar
AS.
Transaksi perdagangan minyak pun kian parah. Tahun 2009 defisit
perdagangan minyak baru 4 miliar dollar AS. Tahun 2010 naik menjadi 8,7
miliar dollar AS, lalu naik dua kali lipat lebih menjadi 17,5 miliar
dollar AS setahun berikutnya, dan terus naik menjadi 20,4 miliar dollar
AS tahun 2012. Selama Januari-September tahun ini kenaikan terus
berlanjut dibandingkan periode yang sama tahun lalu, masing-masing 17,5
miliar dollar AS dan 14,8 miliar dollar AS. Pada triwulan III-2013
sekalipun, kenaikan masih terjadi dibandingkan dengan triwulan
sebelumnya maupun triwulan yang sama tahun lalu.
Penguasa sudah benar-benar terjangkit penyakit kronis sebagaimana
pepatah ”gajah di pelupuk mata tak kelihatan, kuman di seberang lautan
tampak nyata”.
Jangan cuma perbanyak doa. Bekerja keraslah dengan patut.