“Sebenarnya aku ingin dengan Allah, tapi aku tak tahu bagaimana caranya. Aku tidak punya kemampuan untuk itu.” Demikian
komentar banyak remaja dan pemuda muslim yang penulis dengar ketika
berinteraksi dengan mereka. Atau ada dari mereka yang mengungkapkan,
“Terkadang aku bisa merasa dekat dengan Allah ketika aku banyak
menghabiskan waktu dengan teman-teman shaleh yang dapat mempengaruhiku.
Namun tatkala mereka tidak lagi dekat dengan diriku, maka aku pun
menjauh dari Allah.”
Sejatinya, Allah-lah sebaik-baik tempat
mengadukan persoalan tersebut. Seandainya kita berdoa kepadanya memohon
perubahan pada diri kita, maka –insya Allah—Dia akan mengabulkan
permohonan kita. Allah berfirman,
“Dan apabila hamba-hamba-Ku
bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah
dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon
kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan
hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam
kebenaran” (Al-Baqarah 186).
Apabila kita membayangkan bahwa
di hadapan kita terdapat sebuah pemandangan indah, maka di antara
pemandangan indah tersebut senantiasa ada kabut dan selubung yang
menghalanginya. Dari sisi kita memandang, kita dapat menyaksikan
pemandangan indah tersebut, namun tidak semuanya dapat kita lihat. Kita
berhasrat untuk melihat semua pemandangan elok tersebut, namun ironinya
kita hanya bisa duduk diam di tempat dan tidak bangkit menghalau kabut
serta tirai yang menghalangi, untuk kemudian mendapatkan pemandangan
sempurna.
Dengan demikian, kita mesti menghalau semua tirai
penghalang tersebut dengan mengambil langkah-langkah berikut: Pertama,
harus ada keinginan dan hasrat. Kedua, menggali keterampilan. Ketiga,
selalu menjaga keterampilan tersebut untuk siap melihat pemandangan
indah setiap saat.
Terkadang, banyak orang yang berpikir untuk
selalu dekat dengan Allah, namun tidak memiliki hasrat kuat untuk meraih
kedekatan tersebut. Ini mengingat, keimanan tak ubahnya seperti benih;
harus ditanam di tanah subur dan disirami air. keimanan mumpuni
meniscayakan proses yang menghabiskan waktu dan determinasi.
Selanjutnya,
untuk memulai, kita harus menelisik tugas terpenting yang telah Allah
tentukan kepada kita. Setiap aksi yang kita lakukan mesti bermuara pada
penyucian hati dari segala yang dapat membuat Allah murka. Hal ini
memang tidak mudah, terutama bagi para remaja dan pemuda. Jadi, langkah
pertama agar bisa dekat dengan Allah adalah menyadari tugas kita yaitu
beribadah dan taat kepada-Nya.
Di dalam sebuah hadits Qudsi,
Rasulullah menginformasikan bahwa Allah bersabda, “Tiada seorang hamba
yang mendekatkan diri kepada-Ku seperti dia menunaikan segala
kewajiban-Ku ke atas dirinya. Dan sesungguhnya dia akan mendekatkan diri
kepada-Ku dengan memperbanyak nawafil (sunnah) sehingga Aku
mencintainya. Maka apabila Aku sudah mencintainya, jadilah Aku seumpama
kaki yang dia berjalan dengannya dan tangan yang dia memukul dengannya
dan lidah yang ia berucap dengannya dan hati yang ia berfikir dengannya.
Dan apabila dia memohon kepada-Ku, niscaya Aku akan memberinya dan
apabila dia berdoa kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkannya.”
Melaksanakan
ibadah yang benar menjadi cara bagi seseorang untuk bisa saleh dan
berbuat kebaikan sebagaimana yang telah disebutkan hadits di atas.
Beribadah dan taat kepada Allah merupakan langkah besar untuk bisa dekat
dengan Sang Pencipta. Ketika seseorang telah meraih ketakwaan dan
keshalehan, maka secara otomatis dia akan menjadi orang yang beriman dan
senantiasa berbuat kebaikan dan selalu terdepan dari orang lain dalam
melakoni kebaikan.
Allah berfirman mengenai hal ini,
“Dan orang-orang yang beriman paling dahulu, mereka itulah yang didekatkan kepada Allah. Berada dalam jannah kenikmatan” (Al-Waqi’ah 10-12).
Dia
senantiasa mengingat kerendahan dirinya di hadapan Allah, dia akan
berdoa kepada-Nya dengan penuh harap dan cemas. Dan pastinya, dia selalu
berhasrat untuk dekat dengan-Nya.
Selanjutnya, secara natural
orang tersebut akan menyadari bahwa kemurahan hati dan derma merupakan
cara lain untuk mendekatkan dirinya kepada Allah. Ini mengingat, Dia
mencintai orang-orang yang bersedekekah kepada yang membutuhkan dan
membenci orang-orang yang keras hati dan kikir.
Dia juga akan
melaksanakan semua ibadah untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Setelah ini
semua, ketika dia tetap tidak merasa dekat dengan Allah
sebagaimana dikehendakinya, maka ada baiknya jika dia menengok ke
lingkungan, teman-teman, anggota keluarga, dan gaya hidupnya. Apakah
teman-temannya melalaikan Allah? Apakah mereka melakukan
aktivitas-aktivitas yang dibenci-Nya? Apakah mereka menghabiskan banyak
waktunya di depan televise menyaksikan program-program yang membuat
Allah murka? Atau apakah teman-teman dan anggota keluarnya menjadi
factor yang menyebabkan dirinya lemah dalam menjalankan
perintah-perintah agama?
Pasalnya, pengaruh teman dekat begitu
besar, lebih dari yang dibayangkan seseorang. Seseorang harus
berhati-hati memilih teman dekat. Karena jika salah memilih teman, maka
dia akan memalingkan kita dari Allah. Hal ini sebagaimana
difirmankan-Nya,
“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan
anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang
berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi” (Al-Munafiqun 9).
Hal-hal
tersebut mungkin sangat tidak mudah, terutama bagi generasi muda.
Kendati demikian, mereka harus menyadari bahwa mereka adalah pembawa
panji Islam dan memiliki andil untuk mempengaruhi teman-teman mereka.
Selain berbagai nasihat di atas, untuk menjaga kedekatan dengan Allah, setiap muslim harus selalu mengingat Allah (zikir).
Allah berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah
(dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan
bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang” (Al-Ahzab 41-42).
Akhirnya,
ketika kita meyakini dan mempercayai Kalamullah, maka kita telah
menemukan solusi untuk bisa dekat dengan-Nya. Semoga!
(ganna/voa-islam.com)