ARTIKEL PILIHAN

GOOGLE TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

ARTIKEL PILIHAN

HIDUPNYA HANYA INGIN BERSAMA ALLAH SWT (Kisah yang begitu dahsyat)

Written By Situs Baginda Ery (New) on Selasa, 12 Maret 2013 | 13.20


Hampir semua teman saya berebut mendaftar jadi PNS. Mereka pun bertanya-tanya: “Kenapa dilepaskan peluang emas itu?” “Saya tidak tergiur,” itu jawaban yang bisa saya jawab. Bukan apa-apa, bagiku ada yang lebih mulia dan menantang dari sekedar jadi PNS dengan gaji tetap dan pensiunan terjamin. Apalagi, adanya kenaikan gaji guru serta tunjangan sertifikasi.


Tapi, tetap saja, iming-iming itu tak menyurutkan niatku. Langkah berbeda itu murni muncul dari sebuah idealisme yang tumbuh ketika menimba ilmu di sebuah pesantren. Sebuah idealisme untuk menjadi seorang ustad dan dai. Aneh bagi banyak orang memang. Tapi itulah diriku.


Gila dan bodoh, mungkin umpatan itu yang akan dikatakan kebanyakan orang ke pada saya. Bagaimana tidak? Peluang emas sudah ada di depan mata, justru saya biarkan begitu saja. Padahal, di luar sana, begitu banyak orang sibuk mencari kerja. Entah berapa lamaran pekerjaan yang telah ditolak, setidaknya itu saya ketahui dari berita di surat kabar baik cetak atau elektronik. Tiap hari, hampir ada saja cerita sarjana yang menganggur dan akhirnya hanya jadi pekerja serabutan.


http://learningfromlives.files.wordpress.com/2012/01/sepi.jpgSaya sendiri, selepas kuliah bahasa inggris di sebuah perguruan tinggi swasta ternama di kota Pempek, Palembang tak mengajukan secarik lamaran pekerjaan pun. Apalagi mendaftar jadi pegawai PNS, tak terbersit sedikitpun di hatiku. Padahal, di daerah saya, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), peluang jadi PNS masih sangat terbuka lebar. Tingkat sarjana di daerah ini belum begitu signifikan seperti di Jawa.


Bahkan, suatu saat, saya bertemu dekan fakultas bahasa Inggris yang pernah menjadi dosen pembimbing skripsiku. Dia menawariku menjadi dosen di kampusnya. Dia bilang, kualitas speaking dan Inggrisku mubazir jika disia-siakan. Dengan dijadikan dosen, tentu dengan peluang lainnya, setidaknya dapat beasiswa S2. Tapi, lagi-lagi hatiku menolak: ini bukan tujuanku!



Mengetahui hal itu, orangtuaku marah. Katanya, betapa sulitnya orang mencari pekerjaan, eh peluang sudah di depan mata justru diabaikan. Saya sebenarnya bisa memaklumi orangtuaku. Orangtua manasih yang nggak ingin anaknya jadi orang sukses secara materi dan karir? Tapi, lambat laun setelah saya jelaskan, akhirnya keduanya mau menerima. Subhanallah, jarang ada orangtua seperti itu.


Honor tak seberapa


Saya pun mulai menjalani sebagai guru madrasah di sebuah pesantren merangkap sebagai pengasuh. Pesantren yang terletak di Kec Rambutan itu menampung santri yang tidak mampu. Mereka datang dari berbagai tempat di sekitar Palembang. Tak jarang juga yang berasal dari daerah transmigrasi.


Di pesantren ini hanya ada MTs dan SMA. Untuk SMA hanya baru menerima santri putri, karena masih terkendala gedung sekolah. Mencari santri di Palembang bisa dibilang cukup sulit. Animo orangtua menyantrikan anaknya rendah. Tak seperti di daerah Jawa, Madura misalnya. Hampir setiap desa di pulau garam ini ada pesantren dan jumlah santrinya cukup banyak. Sementara, di Palembang, hemat saya, para orangtua lebih suka menyekolahkan anak mereka ke sekolah negeri. Kendati pesantren ini sudah berusia 15 tahun lebih, tapi santrinya sekitar 150 orang.


Saya pun tak mau berhenti hanya berfikir di situ. Mungkin saja kondisi itu karena kualitas di pesantren ini masih rendah. Jadi, belum banyak masyarakat yang berminat. Wajar saja, di pesantren ini, jumlah guru bisa dihitung jari. Itupun kadang masuk kadang tidak. Tak pelak, santri pun jadi jarang belajar. Kualitas mereka juga tak seberapa. Mereka kebanyakan memiliki semangat juang tinggi tapi sedikit ilmu.


Setidaknya, realitas itulah yang membulatkan niatku mengabdi di pesantren ini. Saya tak perduli tentang dosen, karir, PNS atau jabatan lainnya. Bagiku, mengabdi di pesantren ini lebih dari cukup. Para santri yang haus ilmu lebih dari ladang gersang yang harus disirami air. Ibarat di kegelapan, mereka butuh lentera. Lentera yang menerangi mereka dari kebodohan tentang agama dan ilmu. Kondisi inilah yang selalu memompa semangatku untuk menyirami mereka dengan ilmu.


Kendati untuk hal itu, saya harus menjalani kondisi yang bagi kebanyakan orang, mungkin tak menyenangkan. Makan seadanya dan honor tak seberapa. Bahkan, terkadang jika uang operasional sekolah minus, saya tak mendapat honor. Pesantren yang saya tempati pun jauh dari hiruk pikuk kota. Sepi dan sunyi. Sekitarnya hanya hutan karet. Meski demikian, saya merasakan telaga kebahagiaan yang selalu mengisi relunga kalbuku.


Ketika melihat antusiasme mereka belajar dan mengaji al-Qur’an, serasa melihat padi yang sedang menguning di hamparan sawah yang luas. Indah memesona. Apalagi jika memimpin mereka bersujud di sepertiga malam yang senyap, ada kebahagiaan yang tak terlukiskan, lebih indah dari sekadar gemerlap malam yang indah oleh temaram bulan dan bintang.


Meski lauk makan hanya tempe, tahu, kecambah, kangkung, daun singkong dan ikan asin, tapi karena makan bersama-sama jadi terasa nikmat. Lebih nikmat dari sekedar pizza, fried ckicken, ayam panggang dan makanan lezat lainnya, yang biasa menjadi makanan orang Jakarta dan orang kota. Bagiku, makan kangkung di tempat itu, tak ternilai, jika hanya dibandingkan dengan fried chicken atau pizza.


Betul apa yang dikatakan pendiri Pesantren Gontor, Ponorogo Imam Zarkasyi: "Jadilah kalian orang besar, orang besar bukanlah orang yang memiliki pangkat yang tinggi, harta yang melimpah, atau ilmu yang luas dikenal orang di mana-mana, akan tetapi orang yang ikhlash mengajar ngaji walau di surau kecil di daerah terpencil."


Saya tak menyesali keputusan ini. Saya rela dianggap bodoh oleh orang banyak. Saya hanya seorang guru kecil di pesantren kecil dan terpencil. Saya hanya berharap kemuliaan di hadapan Allah SWT. Ya, saya hanya berharap terpilih menjadi “orang besar” di mata Allah, ketimbang jadi orang besar di mata manusia.
13.20 | 0 komentar | Read More

Katakanlah Cinta yang Sesungguhnya

Kata-kata bukanlah makna sebenarnya. Karena kata bukan wujud hakiki. Kata laut yang kita ucap atau tuliskan hanyalah alat yang digunakan untuk menunjuk laut yang sebenarnya. Itulah mengapa kebanyakan dari kita biasa mengeluh ; “ hal tersebut sudah ada di pikiran, hanya saja tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata. “ Tapi jangan jadikan  hal ini sebagai alasan untuk kita tidak menyatakan cinta  pada seseorang yang kita cintai. Tapi Jangan juga terlalu percaya dengan kata-kata belaka. Biasanya cuma gombal, loh !
Pada hakikatnya,  yang diperlukan dalam berkomunikasi adalah makna dari suatu kata, bukan kata-kata itu sendiri. Hanya saja, kata-kata adalah alat yang digunakan untuk memahamkan kita guna mencapai makna yang ingin kita sampaikan. Retorika atau seni menyusun dan menyampaikan kata-kata terkadang hanya terkesan indah dan bertele-tele. Hingga tak jarang membuat kita tersesat untuk memahami maknanya. Cara inilah yang umum digunakan para pria nakal, politisi busuk hingga kaum munafik. Imam ‘Ali mengajarkan kita definisi yang paling sederhana tentang kaum munafik ; “ ia adalah seseorang yang indah pada mulutnya, tapi sangat busuk hatinya. “
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgcOHqiguaI5vtZU8oPvlOzomdh3zNfDlRhDW5Y0Z8erlvNu8N6amma4zYacuQp7WDrB_40EoPPCdwg-8QXN-YsEktTVoq8OpUpxElyhfMZDQQx5hGDFLT02-xbwzRXZexZ-GQRYkmj7Ibu/s1600/cinta_allah_320_320_0_9223372036854775000_0_1_0.jpgKata adalah kumpulan huruf-huruf yang menunjuk makna tertentu dan disepakati oleh kelompok tertentu. Dari definisi di atas jelaslah sudah bahwa kata berfungsi sebagai penunjuk makna. Bukan makna itu sendiri. Namun, kehadiran kata menjadi begitu penting untuk memperlancar komunikasi. Contohnya jika kita ingin menjelaskan tentang laut sementara kita berada di gunung. Mana mungkin laut tersebut kita pindahkan ke gunung atau ke akal lawan bicara kita tersebut. Apalagi, ada pula makna-makna yang tidak dapat kita inderai. Cinta, misalnya. Apakah dengan lelaki mengatakan “ aku cinta kamu “, wanita mesti langsung percaya. Itulah mengapa sebagian lelaki terkesan lebay saat berkata ; “ belah saja dadaku untuk membuktikan  cintaku padamu. Atau seperti kisah teman saya yang nyaris lompat dari lantai 2 hanya untuk menunjukkan keseriusan cintanya.
Kata yang kita ucapkan disebut ucapan. Dan kata yang kita tuliskan disebut tulisan. Nilai lebih tulisan ada pada kemampuan transformasinya yang luas dan bertahan lama. Dari generasi terdahulu hingga ke generasi berikutnya. Dari belahan dunia timur ke belahan dunia barat. Lalu bagaimana dengan bahasa tubuh ? Sama seperti kata,  bahasa tubuh tidaklah mutlak, sama dan universal antara satu kelompok dan kelompok lainnya. Terlebih antara satu individu dengan individu lainnya. Jadi, jangan keburuan geer dengan respon bahasa tubuhnya. Bisa saja dia tersenyum karena tidak enakan saja atau karena hal lain, kita mengira dia sudah tertarik. Hmmm… Ingat ! Kegeeran akan terus menyelimuti hingga penolakan tegas menyadarkan kita.
Ada dua atau lebih kata tapi hanya memiliki satu makna. Seperti kata kamu dan engkau. Ada pula dua atau lebih makna tapi hanya memiliki satu kata. Contohnya kata apel. Apel yang pertama menunjuk pada salah satu jenis buah. Sementara apel yang kedua menunjuk pada acara formal yang biasa dilakukan instansi atau sekolah-sekolah. Dan entah darimana datangnya, adapula yang menganggap berkunjung  ke rumah seseorang yang kita cintai disebut ngapel. Iya kalau ngapel, padahal ngepel. Hahaha…
Lain lagi dengan kata yang hanya memiliki satu makna dan juga satu kata. Tapi adakah kata yang tidak menunjuk makna apapun ? Tidak ! sebagaimana kata adalah kesepakatan. Bahkan bahasa alienpun memiliki makna. Hanya saja kita tidak memahami maknanya. Tapi kalau Anda kelewar pintar, Anda mungkin memahaminya. Biasanya, untuk mendongkrak status sosial atau paling tidak agar terlihat keren, kita mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak kita pahami betul apa makna dari kata tersebut. KEPO misalnya. KEPO bukanlah kata dasar. KEPO adalah singkatan dari Knowing Every Particular Object. Tidak paham artinya ? Hmmm… sama ! Cari di google translate, gih !
Sampai di sini, dapat kita temui beberapa macam karakter. Ada yang sesuai antara apa yang dikatakan dan kenyataan yang terjadi. Ada yang tidak sesuai antara apa yang dikatakan dan kenyataan yang terjadi. Dan ada pula yang malu mengatakan apa yang nyata terjadi. Apalagi kalau dia ternyata mencintai tapi malu mengatakannya. Huh ! Untuk kalimat berikut, karakter manakah ia ; “ Aku dapat meyakinkan semua orang bahwa aku tidak mencintaimu, kecuali diriku sendiri. “ Jadi, katakanlah cintamu yang sebenar-benarnya kau rasakan. Karena sesakit-sakitnya cinta yang ditolak, lebih sakit lagi cinta dalam hati.
Namun, jangan hanya manis di bibir saja, kawan ! Seperti kata Anton Chekov ; Jangan hanya katakan, tapi tunjukkan. Semoga beliau juga sudah menunjukkannya. Kalau menurut teman saya (agar dia cukup terkenal, sebaiknya saya mengatakan namanya ; dias) ; “Kebaikan bukan sekadar untuk dikatakan, tapi dilakukan “. Kalau kita yakin mencintainya adalah sebuah kebaikan, mengapa tidak mengatakan padanya ? Mengutip Al-Qur’an surah An-Nisa ayat 63, Tuhan berfirman ; “Dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.”  Apalagi yang kamu tunggu ? Katakanlah cintamu yang sesungguhnya. Dan jawabannya hanya ada 3 kemungkinan. (1) Ditolak, tapi kata bisa saja bukan makna yang sebenarnya. Mungkin dia hendak menguji keseriusan cinta kita. (2) Diam, sementara dalam Hukum Perdata, diam adalah bentuk kesepakatan yang pasif. (3) Diterima, Alhamdulillah dong ! Semoga Anda cukup “gila” untuk menyepakati apa yang saya katakan. Hehehe…
Semoga bermanfaat !
13.16 | 0 komentar | Read More

( Bacaan Menarik Untuk Semua Yang Sering Dilanda Cinta ) KETAHUILAH MAKNA CINTA YANG SESUNGGUHNYA DALAM AGAMA ISLAM

http://wisataoutboundmalang.com/wp-content/uploads/2012/04/Perjalanan-Hidup.jpg
Kata pujangga cinta letaknya di hati. Meskipun tersembunyi, namun getarannya tampak sekali. Ia mampu mempengaruhi pikiran sekaligus mengendalikan tindakan. Sungguh, Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat. Cintalah yang mampu melunakkan besi, menghancurkan batu karang, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta (Jalaluddin Rumi).

Namun hati-hati juga dengan cinta, karena cinta juga dapat membuat orang sehat menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila, orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya itu disambut oleh para pecinta palsu. Cinta yang tidak dilandasi kepada Allah. Itulah para pecinta dunia, harta dan wanita. Dia lupa akan cinta Allah, cinta yang begitu agung, cinta yang murni.

Cinta Allah cinta yang tak bertepi. Jikalau sudah mendapatkan cinta-Nya, dan manisnya bercinta dengan Allah, tak ada lagi keluhan, tak ada lagi tubuh lesu, tak ada tatapan kuyu. Yang ada adalah tatapan optimis menghadapi segala cobaan, dan rintangan dalam hidup ini. Tubuh yang kuat dalam beribadah dan melangkah menggapai cita-cita tertinggi yakni syahid di jalan-Nya.
Tak jarang orang mengaku mencintai Allah, dan sering orang mengatakan mencitai Rasulullah, tapi bagaimana mungkin semua itu diterima Allah tanpa ada bukti yang diberikan, sebagaimana seorang arjuna yang mengembara, menyebarangi lautan yang luas, dan mendaki puncak gunung yang tinggi demi mendapatkan cinta seorang wanita. Bagaimana mungkin menggapai cinta Allah, tapi dalam pikirannya selalu dibayang-bayangi oleh wanita/pria yang dicintai. Tak mungkin dalam satu hati dipenuhi oleh dua cinta. Salah satunya pasti menolak, kecuali cinta yang dilandasi oleh cinta pada-Nya.
Di saat Allah menguji cintanya, dengan memisahkanya dari apa yang membuat dia lalai dalam mengingat Allah, sering orang tak bisa menerimanya. Di saat Allah memisahkan seorang gadis dari calon suaminya, tak jarang gadis itu langsung lemah dan terbaring sakit. Di saat seorang suami yang istrinya dipanggil menghadap Ilahi, sang suami pun tak punya gairah dalam hidup. Di saat harta yang dimiliki hangus terbakar, banyak orang yang hijrah kerumah sakit jiwa, semua ini adalah bentuk ujian dari Allah, karena Allah ingin melihat seberapa dalam cinta hamba-Nya pada-Nya. Allah menginginkan bukti, namun sering orang pun tak berdaya membuktikannya, justru sering berguguran cintanya pada Allah, disaat Allah menarik secuil nikmat yang dicurahkan-Nya.
Itu semua adalah bentuk cinta palsu, dan cinta semu dari seorang makhluk terhadap Khaliknya. Padahal semuanya sudah diatur oleh Allah, rezki, maut, jodoh, dan langkah kita, itu semuanya sudah ada suratannya dari Allah, tinggal bagi kita mengupayakan untuk menjemputnya. Amat merugi manusia yang hanya dilelahkan oleh cinta dunia, mengejar cinta makhluk, memburu harta dengan segala cara, dan enggan menolong orang yang papah. Padahal nasib di akhirat nanti adalah ditentukan oleh dirinya ketika hidup didunia, Bersungguh-sungguh mencintai Allah, ataukah terlena oleh dunia yang fana ini. Jika cinta kepada selain Allah, melebihi cinta pada Allah, merupakan salah satu penyebab do’a tak terijabah.
Bagaimana mungkin Allah mengabulkan permintaan seorang hamba yang merintih menengadah kepada Allah di malam hari, namun ketika siang muncul, dia pun melakukan maksiat.
Bagaimana mungkin do’a seorang gadis ingin mendapatkan seorang laki-laki sholeh terkabulkan, sedang dirinya sendiri belum sholehah.
Bagaimana mungkin do’a seorang hamba yang mendambakan rumah tangga sakinah, sedang dirinya masih diliputi oleh keegoisan sebagai pemimpin rumah tangga..
Bagaimana mungkin seorang ibu mendambakan anak-anak yang sholeh, sementara dirinya disibukkan bekerja di luar rumah sehingga pendidikan anak terabaikan, dan kasih sayang tak dicurahkan.
Bagaimana mungkin keinginan akan bangsa yang bermartabat dapat terwujud, sedangkan diri pribadi belum bisa menjadi contoh teladan
Banyak orang mengaku cinta pada Allah dan Allah hendak menguji cintanya itu. Namun sering orang gagal membuktikan cintanya pada sang Khaliq, karena disebabkan secuil musibah yang ditimpakan padanya. Yakinlah wahai saudaraku kesenangan dan kesusahan adalah bentuk kasih sayang dan cinta Allah kepada hambanya yang beriman…
Dengan kesusahan, Allah hendak memberikan tarbiyah terhadap ruhiyah kita, agar kita sadar bahwa kita sebagai makhluk adalah bersifat lemah, kita tidak bisa berbuat apa-apa kecuali atas izin-Nya. Saat ini tinggal bagi kita membuktikan, dan berjuang keras untuk memperlihatkan cinta kita pada Allah, agar kita terhindar dari cinta palsu.
Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang betul-betul berkorban untuk Allah Untuk membuktikan cinta kita pada Allah, ada beberapa hal yang perlu kita persiapkan yaitu:
1) Iman yang kuat
2) Ikhlas dalam beramal
3) Mempersiapkan kebaikan Internal dan eksternal. kebaikan internal yaitu berupaya keras untuk melaksanakan ibadah wajib dan sunah. Seperti qiyamulail, shaum sunnah, bacaan Al-qur’an dan haus akan ilmu. Sedangkan kebaikan eksternal adalah buah dari ibadah yang kita lakukan pada Allah, dengan keistiqamahan mengaplikasikannya dalam setiap langkah, dan tarikan nafas disepanjang hidup ini. Dengan demikian InsyaAllah kita akan menggapai cinta dan keridhaan-Nya.
13.15 | 1 komentar | Read More

BACA JUGA

DAFTAR LENGKAP ARTIKEL BLOG BAGINDAERY

Ikuti situs Bagindaery

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...