ARTIKEL PILIHAN

GOOGLE TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

ARTIKEL PILIHAN

Indonesian Idol Rasa Amerika ( Tentang Indonesian Idol )

Written By Situs Baginda Ery (New) on Minggu, 23 Februari 2014 | 11.29

Saya tak sepenuhnya menonton acara Indonesian Idol yang ditayangkan RCTI tadi malam. Hanya menonton beberapa kontestan terakhir saja. Jadi tidak sempat menonton insiden kecil di mana Ahmad Dani ‘mempermalukan’ Tantri ‘Kotak. Tapi saya tidak mempersoalkan itu. Ada masalah lain yang membuat saya ilfil dengan komentar juri seperti Dani, Tantri dan Anang saat mengomentari kontestan yang bernama Nowela. Kata Dani, Nowela punya kualitas yang setaraf dengan penyanyi Amerika. Hal senada juga disampaikan Tantri. Anang malah bilang kalau Nowela selayaknya tidak tampil di Indonesian Idol, tapi ikut American Idol. Kualitas suaranya sudah sangat internasional. Terlihat Nowela senang dipuji seperti itu. Lantas di mana masalahnya?
Menurut saya di situlah letak masalahnya. Bagi saya komentar Ahmad Dani, Tantri, dan Anang justru seperti bumerang karena secara tidak langsung telah mengecilkan arti Indonesian Idol, karena dari ucapan tersebut, ada 2 poin yang bisa disimpulkan.
Pertama, secara tidak langsung para juri mengakui kalau kualitas Indonesian Idol di bawah American Idol. Seorang Nowela, telah membuat Indonesian idol, menyamai kualitas American Idol, kualitas kontestan lainnya (maaf), masih standar Indonesia. Tidakkah ini jelas kalau para juri terlihat American minded?
Dua, untuk menjadi penyanyi berkualitas, nyanyikanlah lagu-lagu Amerika seperti penyanyi asli, maka kualitasnya akan terlihat. Kalau menyanyikan lagu negeri sendiri, maaf saja, bisa-bisa kualitasnya tidak terlihat, bisa jadi tidak berkualitas. Pantas saja ya, hampir semua kontestan menyanyikan lagu barat, biar terlihat berkualitas.
Komentar Dani, Tantri, dan Anang membuat saya merenung sejenak tapi tidak sampai mengheningkan cipta betapa Amerika sentrisnya pola pikir mereka. Semoga ini bukan representasi pola pikir orang Indonesia umumnya. Memang tak bisa dipungkiri kalau Amerika adalah kiblat musik dunia. Soal musik dan film mereka memang rajanya. Mereka jadi panutan terlebih-lebih bagi orang-orang dari dunia ketiga, seperti Indonesia. Kalau sudah menyamai mereka (menurut kita), maka kita sudah selevel dengan mereka. Sudah layak kiranya untuk go international. Syukur-syukur mereka akan melirik penyanyi Indonesia. Tapi benarkah demikian?
Rasanya tidak sulit untuk menarik pelajaran dari seorang Agnez Monica yang kebetulan pernah menjadi juri di Indonesian Idol. Untuk menggapai impiannya di Amerika, Agnez mati-matian meniru gaya penyanyi Amerika. Mulai dari penampilan, aksi panggung, speaking english like an american, bahkan menggelapkan kulit segala biar diterima oleh publik di sana. Apakah sudah berhasil? Ini Agnez Mo lho, yang punya seabrek pengalaman dan prestasi di Indonesia? Sampai detik ini penggemarnya masih menunggu harap-harap cemas albumnya akan nangkring di tangga lagu Amerika. Dan itu belum tercapai sampai detik ini.
Menurut saya sih, bursa musik di Amerika selain persaingannya yang ketat, mereka juga agak diskriminatif dengan penyanyi dari negara lain terutama Asia. Walau pun sudah mati-matian meniru mereka, mereka takkan gampang berpaling untuk menyukainya. Toh, bagi mereka tentu lebih asyik untuk mendengar penyanyi asli mereka sendiri dari pada penyanyi asing yang meniru-niru mereka dalam bernyanyi.
Kembali lagi ke pembahasan tentang komentar juri yang bikin saya ilfil itu, alangkah baiknya tidak mengucapkan kata-kata itu lagi. Sebab sesuai dengan judulnya, bukan kah namanya Indonesian Idol, yakni sebuah acara ajang pencarian bakat untuk menjadi idola di Indonesia, bukan idola di Amerika sana? Tugas para jurilah menilai, dan mengkritisi bagaimana supaya mereka menjadi Idola Indonesia. 
http://hiburan.kompasiana.com/televisi/2014/02/22/indonesian-idol-rasa-amerika-637064.html
11.29 | 0 komentar | Read More

Jokowi Diserang Semakin Masif Jelang Pilpres ( Tentang Jokowi )

Jokowi Capres 2014 (Sumber:Kompas.com)
Jokowi Capres 2014 (Sumber:Kompas.com)

Sejak menjelang pilpres dan tahun politik 2014 ini serangan kepada Jokowi semaikin masif dan membabi buta. Segala cara dilakukan agar Jokowi jatuh elektabilitasnya disaat-saat genting menjelang Pilpres dan pilpres 2014 ini. Serangan masif ditujukan kepada Jokowi bukan saja dari musuh-musuh Politik namun juga dari para bawahan beliau di pemerintahan DKI Jakarta, yang merasa gerah dengan kebijakan Jokowi selama ini.
Penyerangan juga semakin gencar melalui media=media milik lawan-lawan Politik yang sudah jelas-jelas mempunyai capres namun elektabilitasnya selalu saja dibawah Jokowi. Maklum saja para capres rata-rata memiliki media seperti televisi maupun maintream media dan juga media online.
Segala kebijakan Jokowi baik yang sudah diatur dalam perda maupun hanya dalam wacana sudah mendapatkan kritikan yang cukup pedas dan diusahakan diblowup sedemikian rupa agar kebijakan itu menjadi batu sandungan Jokowi.
Lihat saja pemberitaan di satu media yang selalu menyoroti Jokowi terlalu berlebihan. Sepertinya mereka terserang penyakit “Jokowi Phopia” yang akut. Mereka sangat takut jika Megawati Soekarno Putri benar-benar mendeklarasikan Jokowi sebagai Capres dari PDIP.
Serangan begitu gencar ketika banjir tahunan Jakarta yang lalu. padahal daaerah yang banjir di Jakarta ya daerahnya itu-itu saja. Namun terus disorot di televisi. Yang lucunya lagi banjir yang hanya beberapa centimeter diberitakan sampai 7 meter.
Apalagi isu busway yang Jokowi memang kecolongan dan ditipu oleh pemenang tender. Padahal bisa saja itu ulah aparat dibawah Jokowi yang sengaja ingin menjatuhkan Jokowi. lalu berita penyadapan jokowi dan pengunduran diri bu Risma yang sengaja dibenturkan dengan partai pengayom Jokowi yaitu PDIP.
Namun apapun yang diberitakan media tentang Jokowi baik yang buruk sekalipun namun rakyat tetap mengharapkan Jokowi menjadi capres 2014 ini. Jokowi sudah kadung menjadi “idola” rakyat dan perduli rakyat dan itu sudah terbukti.
Walau bagaimanapun Jokowi tak akan goyah jika serangan itu hanya ulah media yang tak ada nilai kebenarannya sedikit pun. Jokowi akan tetap dibela rakyat kecil dan selalu didoakan tetap berjalan lurus untuk semakin melanggengkan jalan beliau menuju Istana tahun 2014 ini.
http://politik.kompasiana.com/2014/02/22/jokowi-diserang-semakin-masif-jelang-pilpres-633876.html
11.27 | 0 komentar | Read More

Tentang Kehilangan ( Kehilanganmu sudah berhasil membuatku mencintai kesepian melebihi kesepian itu sendiri )

1393074010768364483
Ilustrasi/Admin (Shutterstock)
Kehilanganmu sudah berhasil membuatku mencintai kesepian melebihi kesepian itu sendiri.
Masih terekam jelas di ingatanku, senja itu kau berhasil membungkam kosakata yang hendak kusampaikan, sebuah ungkapan rindu tak tertahan. Ketika sebuah abjad, merasa tidak mampu untuk berdiri sendiri diatas putihnya sehelai kertas tanpa bantuan sepasang tangan yang merangkai huruf tersebut.
Ketika warna sayap kupu-kupu yang kupelihara warnanya memudar perlahan, dan aku berharap dengan paletmu, warna-warna ceria itu kembali hadir.
Tetapi tanpa ditandai angin hardikmu datang dengan tiba-tiba laksana badai, dan kau arahkan telunjukmu kepadaku searah lurus jalanan sepi berjelaga.
Bertemankan pilu, bersahabatkan susah hati, aku patuh mengikuti telunjukmu yang terarah lurus, tanpa menangis kukemasi pecahan hati yang berserak, memasukannya dalam lipatan harapan, agar kelak bisa kembali merekat walau berbekas.
Pada ketiak luka yang mengangga aku berjalan pasif, kelebat kenangan tentang kita serupa relief bermunculan dengan teratur. Frasanya sungguh rapi.
Bahkan pada sudut trotoar waktu yang kulewati, bekas jejak kita beriringan masih nampak ranum merona.
Pun pada setiap persimpangan yang kita lalui, disana terdapat beratus bahkan beribu ceceran rindu yang tersemai.
***
Dulu, katamu, padaku.
“..tidak mungkin seorang Romeo mampu meramu hidangan perjamuan cinta tanpa Juliet disisinya..” ucapmu ketika kita melewati persimpangan tanpa temaram lampu.
Saat itu, malam menunduk malu, betapa kita tak ubahnya pemilik semesta. Dan aku..aku merasa “hidup” ketika aku merasa akan “mati”.
Dalam batin kutetapkan syahadat “Dan mimpiku bukan puing, aku berdiri membangun mimpi di atas mimpi”
Bisikku pada semesta “Malam tetaplah pekat, biarkan aku berada lebih lama dipelukkan kekasihku, karena disanalah senyumku terkembang tak berjeda”
Aku pun terlelap, dengan sebuah rasa percaya bahwa mimpi bisa di bangun di atas sebuah mimpi.
***
Purnama ketujuh,
Masih berkalungkan keterkejutan, aku berusaha membakar timbunan-timbunan kenangan yang beranak pinak itu, kenangan yang nampak usang dan mengguning pada sisi-sisinya. Harapku setelah semua terbakar, aku menjadi lupa akan luka kehilangan.
Akan tetapi kenangan itu seumpama kertas, walau terbakar menjadi abu tetap saja meninggalkan jejak.
Pagi yang sama seperti pagi tujuh purnama yang lalu, kali inipun masih kutemukan memori tentangmu diantara riuhnya embun yang berebut mencari perhatian mentari, dengan kisah tentang kita yang sudah berubah letak perannya. Kisah sang pecinta tanpa yang tercinta.
Dirimu sekarang adalah Romeo yang merindukan Cleopatra, padahal itu bukan jalan cerita yang benar
Keputusanmu merindukan Cleopatra menenggelamkan puluhan perahu-perahu yang kuarahkan berlabuh dihatimu. Padahal disana berlaksa harapan dan mimpi sudah siap merapat.
Kau dan aku kini berjarak sejauh matahai dengan Pluto, sejauh cakrawala dengan bumi yang kita pijak bersamaan.
Aku selalu menitipkam harapan pada sayap-sayap malam, agar waktu di senja yang menghitam itu bisa kembali. Walau berjelaga, tapi penuh semiotika yang mengurai ingatan bahwa kau dan aku pernah melebur menjadi kita.
Tanya besar kerap mencuat ketika kesepian hadir, “Mengapa derap sang waktu selalu menjadi hakim agung pada sebuah kisah, sehingga tidak pernah ada sekalipun pilihan tersedia..”
Dan pertanyaan yang berasal dari rahim kesepian akan melahirkan bayi-bayi kehampaan.
***
Percakapan pada sebatang pohon,
Ada yang mengatakan bahwa perasaan sedih hanyalah aliran sesat yang berasal dari otak, bisa dikendalikan menggunakan sugesti. Jadi, apapun yang dirasakan biarkan sugesti yang melawannya.
Omong kosong pekikku dalam hati.
Bagaimana bisa sebuah perasaan mendiskripsikan dirinya sendiri, padahal benci dan rindu berada di tempat yang sama. Di hati yang sama. Cerita yang sama.
Terlebih jalan cerita romansa Romeo dan Juliet sudah melenceng dari kehendak sang penulis.
Menemukan kemudian kehilangan merupakan dua sisi romantisme, yang tidak bisa dipungkiri suka dukanya.
Seumpama sebuah pohon, rindu ini kini merambat sendiri, satu-satunya yang kelak mempertemukan pecinta dan tercinta adalah akar pohon itu sendiri.
***
Masih tentang sebuah kehilangan, yang menjadi hal terberat bagiku sekarang adalah selalu ingin mengingatmu di tengah usahaku melupakanmu dan melepaskanmu, yang memilih dirinya.
Dan,
Tenyata mengingat tentangmu…sama halnya mengeja duka dari A sampai Z
***
*Kutulis ini ketika Wamena tengah di rundung sakrataul maut sebab setia yang terberai

http://fiksi.kompasiana.com/cermin/2014/02/22/tentang-kehilangan-633931.html
11.22 | 0 komentar | Read More

BACA JUGA

DAFTAR LENGKAP ARTIKEL BLOG BAGINDAERY

Ikuti situs Bagindaery

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...