ARTIKEL PILIHAN

GOOGLE TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

ARTIKEL PILIHAN

Tampilkan postingan dengan label Kisah Sedih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Sedih. Tampilkan semua postingan

Kisah Nyata Sedih: Sedihnya, Duka Wanita Bersikukuh Nikahi Kekasihnya Yang Telah Meninggal

Written By Situs Baginda Ery (New) on Selasa, 04 Maret 2014 | 10.27

Photo copyrigt nydailynews.com
Vemale.com - Tak terbayang bagaimana dukacita Pascale ketika ia harus kehilangan kekasihnya sebulan sebelum mereka akan menggelar pernikahan. Setelah tujuh tahun membina hubungan cinta. kandas begitu saja karena takdir memanggil kembali kekasih Pascale untuk kembali 'pulang'.
Pascale memang tenggelam dalam kesedihan, namun dia juga tetap berusaha untuk bisa mewujudkan impiannya menikah dengan sang kekasih, Michael. Ia pun menuliskan sebuah surat pada Presiden Prancis, Hollande, untuk bisa menikahi kekasihnya yang telah meninggal.

Pascale dan almarhum kekasihnya | Photo copyright mirror.co.ukPascale dan almarhum kekasihnya | Photo copyright mirror.co.uk
Beruntunglah untuk bisa melakukan harapannya ini, jalan Pascale menuju pernikahan, dilancarkan. Meski ia harus menunggu balasan presiden selama 20 bulan lamanya. Sebuah penantian yang menyakitkan dan tak mudah bagi Pascale.

'Although he is gone, he is still my man,' kata Pascale| Photo copyright nydailynews.com'Although he is gone, he is still my man,' kata Pascale| Photo copyright nydailynews.com
Bagi wanita ini, meski ia telah ditinggalkan oleh Michael, namun ia masih memiliki cinta mendalam bagi pria itu. "Meski ia sudah meninggal, namun dia tetap menjadi pria yang menaklukkan hatiku."
"Aku akan menjadi istrinya dan membawa namanya," kata Pascale dengan penuh harap. Mungkin bagi orang lain, Pascale hanya menikahi kisah cinta yang telah mati. Namun baginya, ini adalah cinta yang bisa membuatnya tetap hidup penuh arti.
10.27 | 0 komentar | Read More

Kisah Mengharukan Ayah dan Anak: Kisah Haru Ayah Yang Antarkan Putrinya ke Pelaminan

Written By Situs Baginda Ery (New) on Rabu, 26 Februari 2014 | 08.39

(c) cleveland.com
Vemale.com - Ini mungkin adalah kisah ayah dan anak kesekian yang akan membuat Anda tersentuh. Ada banyak ikatan kasih sayang yang unik antara ayah dan putrinya di dunia ini. Terutama bagi mereka yang akan menikah.
Bagi seorang ayah, anak perempuannya adalah harta yang sangat berharga. Oleh karena itu, pernikahan menjadi salah satu momen yang paling sakral bagi keduanya. Saat itu sebagai seorang ayah, ia menyerahkan putrinya pada pria yang akan menjaga anak gadisnya seumur hidup.
Namun bagi beberapa ayah, hal ini tidaklah mudah. Kadang, ada keterbatasan yang mereka miliki, entah itu penyakit atau keadaan yang membuat mereka tak memungkinkan untuk ada di sisi putrinya ketika menikah. Sedangkan bagi Scott Nagy, mengantarkan sang putri ke pelaminan di hari pernikahannya adalah janji yang harus ia penuhi.

(c) cleveland.com(c) cleveland.com
Scott Nagy mengalami kanker dan dirinya harus terbaring di atas ranjang dengan banyak selang infus menancap di tubuhnya. Meski begitu ia mengatakan pada pihak rumah sakit bahwa ia harus hadir di pernikahan putrinya. "Ini adalah janji yang aku buat Maret kemarin, untuk mengantarkannya ke pelaminan," ujarnya.
"Dia adalah putri kecilku. Sudah kewajibanku untuk membawanya ke pelaminan di hari pernikahan," tambahnya.

(c) cleveland.com(c) cleveland.com
Mendengar permintaan itu, suster dan pihak rumah sakit membantu Scott untuk bisa hadir di pernikahan putrinya. Masih dengan ranjang rumah sakit dan beberapa alat medis yang harus ada di tubuhnya, para perawat dengan telaten memasangkan pakaian jas rapi untuk Scott.

(c) cleveland.com(c) cleveland.com
Sarah, putrinya, dengan tak berhenti menitikkan air mata, menceritakan bahwa ia berusaha sebisa mungkin untuk memajukan rencana pernikahan yang tadinya akan dilangsungkan tahun depan. Semua karena kesehatan ayahnya yang makin memburuk. "Ini memang harapanku sejak kecil, agar ayahku bisa menemaniku ke pelaminan saat menikah."

(c) cleveland.com(c) cleveland.com
Sang istri, Jean Nagy, mengatakan bahwa sejak pertama kali masuk rumah sakit, Scott sudah mewanti-wantinya bahwa ia harus ada di pernikahan Sarah. Ayah yang satu ini bahkan masih sempat memilihkan pakaian pengantin yang cocok untuk putrinya.
Meski dokter kurang yakin dengan kondisi kesehatan Scott, namun ketika ia hadir di pernikahan Sarah, semua berjalan dengan baik dan ia nampak sangat bahagia. Senyum terus mengembang di wajah Scott. Justru Sarah yang tak hentinya menangis terharu. Saat Scott menggandeng tangan Sarah dan mereka mulai menyusuri pelaminan, applause serta air mata haru mengiringi perjalanan ayah dan anak ini.

(c) cleveland.com(c) cleveland.com
Tekad Scott untuk bisa memenuhi janjinya ini sampai membuat perawatnya Jacky Uljanic dan Julie Ray, merasa terkesan. "Dia adalah inspirasi kami. Semua ini terasa berharga," ujar Jacky setelah mengantar Scott.

(c) cleveland.com(c) cleveland.com
Sebuah pesan yang Scott sampaikan ke media adalah, "Tak ada garansi dalam hidup. Saat kau bisa memenuhi janjimu pada seseorang, ini adalah bonus."
Ya, Scott memang dalam keadaan yang terbatas. Namun dengan usaha dan doa, dia bisa memenuhi janjinya pada sang anak. Kesungguhan tekadnya membuat banyak pihak di rumah sakit ikut mewujudkan apa yang tadinya mungkin kelihatan tak mungkin bagi pria ini. Salut untuk dedikasi luar biasa Scott Nagy pada keluarganya.
08.39 | 0 komentar | Read More

Kisah yang Sangat Mengharukan: Kisah Cinta Suami Istri

Cerita Haru: Kisah Cinta Suami Istri

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.
Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!
Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.
Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”
Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus

duniabaca.com
08.38 | 0 komentar | Read More

Tentang Angin, Hujan, Hatiku

Written By Situs Baginda Ery (New) on Minggu, 23 Februari 2014 | 11.30

Aku berlari mendekati tebing, kesal sekali, mengapa aku melupakan janji itu, padahal aku telah berjanji padamu, pagi ini aku akan ke sini. Selama ini aku tak pernah lupa, selalu aku tepati janji itu. Entah kenapa hari ini aku lupa. Pasti kau lelah lalu meninggalkanku, menuju pulang.
Benar saja, tebing telah sepi, tak ada siapapun. Kau pulang dan mungkin kecewa, karena aku tak datang hari ini. Dengan langkah lunglai aku berjalan pulang.
Tiba-tiba, dari arah langit barat, terdengar suara menggemuruh. Guntur! Agaknya hari ini akan turun hujan. Pantas saja, tadi udara panas sekali. Jangan-jangan, hujan segera datang cepat. Aku panik. Angin mulai menerpa pelan, lalu lama kelamaan agak keras, menyapu rambutku hingga tersibak ke atas. Satu hal yang perlu diketahui, aku takut hujan! Mendung datang cepat dan gelap. Kilat sreet.. Tiba-tiba guntur! Aku semakin panik. Tadi pada saat aku menuju tebing, cuaca masih terang, maka aku tak membawa payung. Kenapa tiba-tiba mendung datang, gelap disertai gemuruh, oh. Tanggung! Hujan telah datang, dan deras pula. Aku berlari ke sebuah pohon agak besar dan dibawahnya ada batu besar hingga aku bisa duduk, berteduh disitu.
Akhirnya aku menyesali diri, kenapa aku terlalu ceroboh untuk segera berlari ke tebing, tanpa pikir panjang. Padahal aku tahu, aku pasti terlambat dan kau pasti telah pulang.
Tapi, itulah, terlambat untuk bersesal diri, akhirnya aku duduk dibawah pohon besar sambil menunggu hujan reda. Lumayan, nyaris tak membuat basah bajuku, meski hujan cukup deras.
Sekelebat bayangan terlintas di kepalaku. Kita biasa datang di tempat ini, saat ada sesuatu yang ingin diungkapkan. Kau dan aku berteman, dekat sekali. Tak pernah ada cerita yang terlewatkan di antara kita. Selalu saja cerita itu mengalir, bagai sungai yang deras di musim hujan, seperti saat ini. Kamu selalu saja bisa membuat aku tersenyum, walau hatiku baru tak ingin tersenyum. Katamu, cantikku akan hilang bila tak tersenyum. Ah, aku tahu, itu hanya akal-akalanmu saja, juga hanya kata manismu. Tiba-tiba senyum mengembang tipis dari bibirku.
“Ada yang lucu hai bidadari, sehingga kau tersenyum sendiri ditengah hujan begini.” Suara itu! Mengagetkanku, hingga aku melompat dari tempat duduk.
“Kamu?? Mengagetkanku!” seruku. Segera kuucapkan maaf padamu, bahwa tadi pagi aku melewatkan janjiku. Dan seperti biasa kau mengatakan, tak apa-apa untuk bidadariku yang cantik.
“Sudahlah, ayo kita pulang. Badanmu kuyup begini, bajumu basah, nanti sakit.” Lalu kau berikan mantel kepadaku, melindungiku dari hujan. Aku segera merapat kearahmu, untuk berbagi mantel.
“Kau tahu, ini namanya romantis,” katamu, saat aku merapat ke arahmu. Ah, biar saja, aku tak perduli. Kau adalah temanku, karena kau tak pernah mengatakan apapun padaku, atau mengatakan bahwa aku adalah kekasihmu. Atau sebuah ungkapan cinta atau bla bla bla.. Tidak pernah ada kata itu.
Kita pulang, dengan berjalan menuruni tebing, berbagi mantel. Angin masih saja menerpa, hujan agak sedikit reda. Dan hatiku, entahlah, ini apa namanya, aku senang saat kau bilang romantis, dan aku merasa nyaman saat berbagi mantel denganmu.
http://fiksi.kompasiana.com/cermin/2014/02/22/angin-hujan-hatiku-636981.html
11.30 | 0 komentar | Read More

Tentang Kehilangan ( Kehilanganmu sudah berhasil membuatku mencintai kesepian melebihi kesepian itu sendiri )

1393074010768364483
Ilustrasi/Admin (Shutterstock)
Kehilanganmu sudah berhasil membuatku mencintai kesepian melebihi kesepian itu sendiri.
Masih terekam jelas di ingatanku, senja itu kau berhasil membungkam kosakata yang hendak kusampaikan, sebuah ungkapan rindu tak tertahan. Ketika sebuah abjad, merasa tidak mampu untuk berdiri sendiri diatas putihnya sehelai kertas tanpa bantuan sepasang tangan yang merangkai huruf tersebut.
Ketika warna sayap kupu-kupu yang kupelihara warnanya memudar perlahan, dan aku berharap dengan paletmu, warna-warna ceria itu kembali hadir.
Tetapi tanpa ditandai angin hardikmu datang dengan tiba-tiba laksana badai, dan kau arahkan telunjukmu kepadaku searah lurus jalanan sepi berjelaga.
Bertemankan pilu, bersahabatkan susah hati, aku patuh mengikuti telunjukmu yang terarah lurus, tanpa menangis kukemasi pecahan hati yang berserak, memasukannya dalam lipatan harapan, agar kelak bisa kembali merekat walau berbekas.
Pada ketiak luka yang mengangga aku berjalan pasif, kelebat kenangan tentang kita serupa relief bermunculan dengan teratur. Frasanya sungguh rapi.
Bahkan pada sudut trotoar waktu yang kulewati, bekas jejak kita beriringan masih nampak ranum merona.
Pun pada setiap persimpangan yang kita lalui, disana terdapat beratus bahkan beribu ceceran rindu yang tersemai.
***
Dulu, katamu, padaku.
“..tidak mungkin seorang Romeo mampu meramu hidangan perjamuan cinta tanpa Juliet disisinya..” ucapmu ketika kita melewati persimpangan tanpa temaram lampu.
Saat itu, malam menunduk malu, betapa kita tak ubahnya pemilik semesta. Dan aku..aku merasa “hidup” ketika aku merasa akan “mati”.
Dalam batin kutetapkan syahadat “Dan mimpiku bukan puing, aku berdiri membangun mimpi di atas mimpi”
Bisikku pada semesta “Malam tetaplah pekat, biarkan aku berada lebih lama dipelukkan kekasihku, karena disanalah senyumku terkembang tak berjeda”
Aku pun terlelap, dengan sebuah rasa percaya bahwa mimpi bisa di bangun di atas sebuah mimpi.
***
Purnama ketujuh,
Masih berkalungkan keterkejutan, aku berusaha membakar timbunan-timbunan kenangan yang beranak pinak itu, kenangan yang nampak usang dan mengguning pada sisi-sisinya. Harapku setelah semua terbakar, aku menjadi lupa akan luka kehilangan.
Akan tetapi kenangan itu seumpama kertas, walau terbakar menjadi abu tetap saja meninggalkan jejak.
Pagi yang sama seperti pagi tujuh purnama yang lalu, kali inipun masih kutemukan memori tentangmu diantara riuhnya embun yang berebut mencari perhatian mentari, dengan kisah tentang kita yang sudah berubah letak perannya. Kisah sang pecinta tanpa yang tercinta.
Dirimu sekarang adalah Romeo yang merindukan Cleopatra, padahal itu bukan jalan cerita yang benar
Keputusanmu merindukan Cleopatra menenggelamkan puluhan perahu-perahu yang kuarahkan berlabuh dihatimu. Padahal disana berlaksa harapan dan mimpi sudah siap merapat.
Kau dan aku kini berjarak sejauh matahai dengan Pluto, sejauh cakrawala dengan bumi yang kita pijak bersamaan.
Aku selalu menitipkam harapan pada sayap-sayap malam, agar waktu di senja yang menghitam itu bisa kembali. Walau berjelaga, tapi penuh semiotika yang mengurai ingatan bahwa kau dan aku pernah melebur menjadi kita.
Tanya besar kerap mencuat ketika kesepian hadir, “Mengapa derap sang waktu selalu menjadi hakim agung pada sebuah kisah, sehingga tidak pernah ada sekalipun pilihan tersedia..”
Dan pertanyaan yang berasal dari rahim kesepian akan melahirkan bayi-bayi kehampaan.
***
Percakapan pada sebatang pohon,
Ada yang mengatakan bahwa perasaan sedih hanyalah aliran sesat yang berasal dari otak, bisa dikendalikan menggunakan sugesti. Jadi, apapun yang dirasakan biarkan sugesti yang melawannya.
Omong kosong pekikku dalam hati.
Bagaimana bisa sebuah perasaan mendiskripsikan dirinya sendiri, padahal benci dan rindu berada di tempat yang sama. Di hati yang sama. Cerita yang sama.
Terlebih jalan cerita romansa Romeo dan Juliet sudah melenceng dari kehendak sang penulis.
Menemukan kemudian kehilangan merupakan dua sisi romantisme, yang tidak bisa dipungkiri suka dukanya.
Seumpama sebuah pohon, rindu ini kini merambat sendiri, satu-satunya yang kelak mempertemukan pecinta dan tercinta adalah akar pohon itu sendiri.
***
Masih tentang sebuah kehilangan, yang menjadi hal terberat bagiku sekarang adalah selalu ingin mengingatmu di tengah usahaku melupakanmu dan melepaskanmu, yang memilih dirinya.
Dan,
Tenyata mengingat tentangmu…sama halnya mengeja duka dari A sampai Z
***
*Kutulis ini ketika Wamena tengah di rundung sakrataul maut sebab setia yang terberai

http://fiksi.kompasiana.com/cermin/2014/02/22/tentang-kehilangan-633931.html
11.22 | 0 komentar | Read More

Kisah Nyata Menyentuh Hati: Semuanya bagi Kepentingan Tuhan ( Bagi Kepentingan Tuhan )

Written By Situs Baginda Ery (New) on Sabtu, 12 Oktober 2013 | 17.27


Nick Vujicic, dilahirkan dengan cacat langka yang disebut tetra-amelia. Ia tak punya lengan mulai dari bahu, dan hanya memiliki satu kaki kecil dengan dua jari, yang tumbuh dari paha kirinya. Di luar kekurangan itu, Vujicic sangat sehat.

Namun, ketika sudah bersekolah, tak urung kekurangan fisiknya menjadi pusat olokan. Ia sampai memohon agar Tuhan menumbuhkan tangan dan kakinya. Namun, kondisi tak berubah. Ia pun depresi. Pada usia 8 tahun, ia pernah mencoba bunuh diri.


masa kecil Nick Vujicic

Pada "waktu Tuhan" yang tepat, ia dimampukan untuk melihat hidupnya dengan cara pandang baru, bahwa dalam kondisinya itu Tuhan justru dapat memakainya menjadi inspirasi bagi banyak orang. Maka, ia menyerahkan hidup untuk melayani Tuhan di banyak negara.

"Jika saya dapat memercayai Tuhan dalam keadaan saya, Anda pun dapat memercayai Tuhan dalam keadaan Anda," simpulnya. Tuhan pun memampukannya meraih banyak pencapaian, bahkan dalam beberapa hal ia lebih baik daripada orang normal.

Nick Vujicic pada hari pernikahannya

Vujicic memercayai rencana Tuhan yang baik baginya. Bahwa hidup bukan demi kepentingannya pribadi, melainkan untuk kepentingan Tuhan. Apa pun kondisinya, ia dapat melayani Tuhan dengan cara dan kesempatan terbaik yang ia miliki. Pekerjaan Tuhan pun dinyatakan di dalam dia.

Kini giliran kita. Tujuan hidup kita pun bukan demi kenyamanan atau kesuksesan pribadi kita. Akan tetapi, untuk kemuliaan-Nya. Pandanglah hidup secara demikian. Maka, tak ada hidup yang tak berguna. Sebaliknya, setiap hidup dapat menjadi alat berharga bagi kemuliaan-Nya. —AW

Setiap hidup pasti berguna, bila diberikan menjadi tempat Tuhan berkarya.

* * *

Sumber: e-RH, 16/5/2011 (diedit seperlunya)

Judul asli: Bagi Kepentingan Tuhan

==========
17.27 | 0 komentar | Read More

Kisah Nyata Sedih dan Mengharukan : Sayang, aku menderita, tolonglah aku

Written By Situs Baginda Ery (New) on Senin, 23 September 2013 | 22.03

by: https://www.facebook.com/orangmanado/posts/10151478025163590
True story by.Thich Nhat Hanh
Ada seorang pria yang masih muda belia, ia harus mengikuti wajib militer. Sehingga dia menjadi tentara dan pergi berperang. Dia harus meninggalkan istrinya sendirian di rumah dalam keadaan hamil.

http://elianajungworld.files.wordpress.com/2012/02/5318125313_a94e6bf5c8.jpg 
Mereka menangis cukup lama saat berpisah. Mereka tidak tahu apakah sang pria ini akan kembali dengan selamat, karena tidak ada yang tahu. Pergi berperang sangatlah beresiko.

Anda bisa saja mati seketika dalam waktu beberapa minggu, beberapa bulan, atau mungkin anda terluka parah, atau jika anda sangat beruntung, anda akan selamat, pulang ke rumah, bertemu orang tua, istri dan anak-anak anda.

Pria muda tersebut cukup beruntung; dia selamat. Beberapa tahun kemudian, dia dibebastugaskan. Istrinya sangat gembira mendengar kabar bahwa suaminya akan pulang. Dia pergi ke pintu gerbang desa dan menyambut suaminya, dia ditemani anak laki-lakinya yang masih kecil. Anak kecil itu dilahirkan saat ayahnya masih bergabung dengan pasukan militer.

Pada saat mereka bertemu kembali, mereka menangis dan saling berpelukan, mereka menitikkan air mata kegembiraan. Mereka sangat beryukur, pria muda tersebut selamat dan pulang ke rumah. Saat itu adalah pertama kalinya pria muda itu melihat anak laki-lakinya yang masih kecil.

Berdasarkan tradisi, mereka harus membuat persembahan di altar leluhur, untuk memberitahu para leluhur bahwa keluarga telah bersatu kembali. Pria itu meminta istrinya pergi ke pasar untuk membeli bunga, buah-buahan, dan barang persembahan lain yang diperlukan untuk membuat persembahan di altar. Pria itu membawa anaknya pulang dan mencoba membujuk anaknya untuk memanggilnya ayah. Tetapi anak tersebut menolak.

“Tuan, kamu bukanlah ayah saya. Ayah saya adalah orang lain. Dia selalu mengunjungi kami setiap malam, dan setiap kali ia datang, ibu saya akan berbicara dengannya lama sekali. Saat ibu duduk... ayah saya juga duduk, saat ibu tidur, dia juga tidur. Jadi, kamu bukanlah ayah saya.

Ayah muda tersebut sangat sedih, sangat terluka. Dia membayangkan ada pria lain yang datang ke rumahnya setiap malam dan menghabiskan waktu semalaman dengan istrinya. Semua kebahagiaannya lenyap seketika. Kebahagiaan datang sangat singkat, diikuti dengan ketidakbahagiaan.

Ayah muda tersebut sangat menderita sehingga hatinya menjadi sebongkah batu atau es. Dia tidak dapat lagi tersenyum. Dia menjadi sangat pendiam. Dia sangat menderita. Istrinya, yang sedang berbelanja, tidak tahu sama sekali mengenai hal itu.

Sehingga, sewaktu ia pulang ke rumah, ia sangat terkejut. Suaminya tidak mau menatap wajahnya lagi. Dia tidak mau berbicara. Dia menjadi sangat dingin, seakan-akan ia memandang rendah istrinya. Wanita itu tidak mengerti. Mengapa? Sehingga sang istri mulai menderita. Menderita sangat mendalam.

Setelah persembahan selesai dibuat, perempuan tersebut meletakkannya di altar. Suaminya menyalakan dupa, berdoa kepada para leluhur, membentangkan tikar, melakukan empat sujud dan memberitahukan bahwa ia sudah pulang ke rumah dengan selamat dan kembali ke keluarganya.

Setelah mempersembahkan dupa, berdoa dan melakukan empat sujud, ayah muda tersebut menggulung tikar, dan ia tidak mengizinkan istrinya melakukan hal yang serupa, karena ia berpikir bahwa istrinya tidak pantas untuk menampakkan dirinya di depan altar para leluhur. Wanita muda itu kemudian merasa malu, “terhina” karena peristiwa itu, dan dia menderita lebih dalam lagi.

Menurut tradisi , setelah upacara selesai, mereka harus membereskan persembahan, dan keluarga tersebut harus duduk dan menikmati makanan dengan suka cita dan kegembiraan, tetapi pria muda tersebut tidak melakukannya. Setelah ritual persembahan pria muda tersebut kemudian pergi ke desa, dan menghabiskan waktunya di kedai arak. Pria muda tersebut mabuk karena dia tidak dapat menanggung penderitaannya.

Pada masa itu, saat mereka sangat menderita, mereka biasanya pergi ke kedai arak dan minum banyak alkohol. Ia tidak pulang ke rumah hingga larut malam, sekitar pukul satu atau dua dini hari dia baru pulang ke rumah dalam keadaan mabuk. Dia mengulangi perbuatannya tersebut hingga beberapa hari, tidak pernah berbicara dengan istrinya, tidak pernah menatap istrinya, tidak pernah makan di rumah, wanita muda tersebut sangat menderita dan ia tidak dapat menanggungnya.

Pada hari keempat ia melompat ke sungai dan mati. Dia sangat menderita. Pria tersebut juga sangat menderita. Tapi tidak seorangpun dari mereka berdua yang datang pada salah satu pihak dan meminta bantuan, karena “harga diri”-mu harus memanggil dengan nama aslinya, “harga diri” penghambat.

Saat anda menderita dan anda yakin bahwa penderitaanmu disebabkan oleh orang yang paling anda cintai, anda lebih suka menderita sendiri. Harga diri mencegahmu menemui orang lain dan meminta bantuan.

Bagaimana seandainya sang suami tersebut menemui istrinya? Situasinya mungkin akan berbeda. Malam itu, dia harus tetap tinggal di rumah karena istrinya sudah meninggal dunia, untuk menjaga anak laki-lakinya yang masih kecil. Dia mencari lampu minyak tanah dan menyalakannya.

Saat lampunya menyala, tiba-tiba anak kecil itu berteriak: “ini dia Ayahku!” dia menunjuk bayangan ayahnya di dinding. “Tuan, ayahku biasanya datang tiap malam dan ibu berbicara banyak dengannya, dia menangis di depannya, setiap kali ibu duduk, ayah juga duduk. Setiap kali ibu tidur, ayah juga tidur.”

Jadi, ‘ayah’ yang dimaksudkan anak tersebut hanyalah bayangan ibunya. Ternyata, wanita itu biasanya berbicara dengan bayangannya setiap malam, karena dia sangat merindukan suaminya.

Suatu ketika anaknya bertanya kepada ibunya: “Setiap orang di desa memiliki ayah, kenapa aku tidak punya?” Sehingga pada malam tersebut, untuk menenangkan anaknya, sang ibu menunjuk bayangannya di dinding, dan berkata, “Ini dia ayahmu!” dan ia mulai berbicara dengan bayangannya.

“Suamiku sayang, kamu sudah pergi begitu lama. Bagaimana mungkin aku membesarkan anak kita sendirian? Tolong, cepatlah pulang sayang.” Itulah pembicaraan yang sering ia lakukan. Tentu saja, saat dia lelah, ia duduk, dan bayangannya juga duduk. Sekarang ayah muda tersebut mulai mengerti. Persepsi keliru sudah menjadi jernih. Tetapi semua itu sudah terlambat, istrinya sudah mati.

Andai saja pria muda tersebut menemui istrinya dan mengatakan: “Sayang, aku sangat menderita beberapa hari ini. Sepertinya aku tidak dapat hidup lagi. Tolong aku. Tolong beritahu aku siapa pria yang selalu datang setiap malam, kamu ajak bicara, menangis di depannya, setiap kali kamu duduk, ia duduk.” Hal yang sangat mudah untuk dilakukan. Temui dia dan katakan. Jika pria tersebut melakukannya, wanita muda itu akan punya kesempatan untuk menjelaskan, dan tragedi tersebut dapat dihindari.

Mereka dapat memulihkan kebahagiaan dengan mudah, secara langsung. Tetapi ia tidak melakukannya karena ia terluka sangat mendalam, dan harga diri telah mencegahnya untuk menemui istrinya dan meminta bantuan.

Tidak hanya pria tersebut yang melakukan kesalahan, wanita itu jga melakukan kesalahan yang serupa. Dia juga sangat menderita, tetapi ia terlalu sombong untuk meminta bantuan. Dia seharusnya menemui suaminya dan mengatakan: “Sayang, aku tidak mengerti. Aku sangat menderita. Aku tidak mengerti mengapa kamu tidak mau menatapku, kamu tidak mau berbicara denganku, kamu sepertinya merendahkan aku. Tampaknya kamu merasa bahwa aku ini tidak ada sama sekali.

Apakah aku telah melakukan kesalahan sehingga aku pantas diperlakukan seperti ini?” itulah yang seharusnya ia lakukan. “Sayang, aku menderita, tolong aku!”.

Jika dia mengatakannya, pria muda tersebut, suami muda tersebut akan menjawab seperti ini: “Kenapa? Apakah kamu tidak tahu jawabannya? Siapa orang yang selalu datang setiap malam, orang yang selalu kamu ajak bicara?” maka wanita itu seharusnya memiliki kesempatan untuk menjelaskannya.

Setelah pria muda tersebut sadar akan kesalahannya, dia menangis dan terus menangis. Dia menjambak rambutnya. Memukul dadanya. Tapi semuanya sudah terlambat!!!
22.03 | 0 komentar | Read More

Kisah Sedih: KISAH SEORANG WANITA YANG DICERAIKAN SUAMINYA KARENA MISKIN DAN MENDERITA KANKER

by: http://fiksi.kompasiana.com/cermin/2013/02/24/kisah-seorang-wanita-yang-diceraikan-suaminya-karena-miskin-dan-menderita-kanker-537824.html
Ada seorang wanita bernama Linda yang hidupnya sungguh menderita.Linda diceraikan oleh Ari suaminya karena miskin dan menderita kanker.
Sepuluh tahun yang lalu Linda adalah seorang sekretaris di perusahaan multinasional.Di perusahaan itu sebagai sekretaris Linda mendapat gaji yang cukup besar.Dengan gaji yang cukup besar ,Linda menikmati hidup yang cukup nyaman.Linda bisa mempunya sebuah rumah dan sebuah mobil.Linda juga cukup dermawan.Linda bahkan membiayai beberapa keponakannya sekolah sampai lulus kuliah.Bahkan ada keponakannya yang dibiayai sampai lulus menjadi seorang dokter.
Lima tahun yang lalu Linda kahirnya menikah dengan seorang tukang ojek yang bernama Ari.Lima tahun pertama mungkin perkawinannya tidak ada konflik karena Linda masih bekerja dan mampu membiayai kehidupannya.Suami Linda Ari memang tidak memberikan nafkah materi kepada istrinya.Justru Ari dan kedua orangtuanya yang bergantung hidup secara ekonomi  kepada Linda.Linda yang memberikan uang kepada Ari dan mertuanya setiap bualan.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhaAIuJG-WndY2nY3Ca5QerycftaONnhxutokpvhW5_K59zXXQjP49WHz6AiU9Os3XrDmr6er-puhhFRbeBgZ5N2WTzYNdQRc1IfyNoYzj7D7LHk6pNB1jRq4_0yqn4UYm42sdK37ThHC8/s320/tumblr_lzoxakjxLO1qfffyto1_400.jpg 
Suatu hari perusahaan tempat Linda bekerja bangkrut dan semua karyawannya diberhentikan.Linda yang akhirnya kehilangan pekerjaan ternyata juga diketahui menderita kanker rahim.Karena sakitnya yang sudah cukup parah membuat Linda tidak lagi bisa bekerja.Linda dan Ari hanya bisa hidup dari tabungan yang ada.Akhirnya rumah dan mobil linda terjual untuk biaya hidup dan membiayai pengobatan kanker Linda.
Karena sudah tidak punya rumah akhirnya Linda dan Ari tinggal di rumah orangtua Ari.Rumah orangtua Ari yang kecil bertambah penuh karena sudah dua adik perempuan Ari yang sudah berkeluarga juga tinggal di sana.Dengan kedatangan Ari dan Linda,Orangtua Ari sebenarnya keberatan.Akan tetapi karena Linda selama ini yang memberikan uang tiap bulan terpaksa mereka menerima Ari dan Linda untuk tinggal di sana.
Di rumah Ari,Linda diperlakukan tidak manusiawi.Linda harus memasak,mencuci baju seluruh penghuni rumah dan membersihkan rumah setiap hari.Linda yang sakit ,akhirnya penyakitnya bertambah parah karena harus bekerja keras setiap hari
Suatu hari,dokter memvonis Linda harus operasi dan rahimnya harus diangkat jika mau sembuh dari penyakitnya.Ari yang lemah dan tidak bertanggung jawab akhirnya malah mengusir Linda dan menceraikannya.Linda akhirnya tinggal di rumah sepupunya yang kasihan melihat Linda.Keponakan Linda ,sang dokter yang pernah dibiayai Linda,membayar penuh biaya operasi Linda.Dengan jamkesmas yang didapat Linda ditambah jaminan keponakannya yang seorang dokter,akhirnya Linda bisa dioperasi.
Ari yang setelah mengusir dan juga menceraikan Linda tidak pernah sekalipun memperdulikan Linda.Ari malah akhirnya menikah lagi dengan perempuan lain.Karena Linda sakit dan tidak bisa lagi memberinya uang,Ari meninggalkan Linda begitu saja.
Linda akhirnya dengan modal yang diberikan sepupunya membuka warung kecil di rumah sepupunya itu.Linda berusaha untuk kembali menata hidupnya walaupun ternyata kankernya masih ada.Linda berusaha tegar untuk menghadapi kehidupannya.
21.58 | 0 komentar | Read More

BACA JUGA

DAFTAR LENGKAP ARTIKEL BLOG BAGINDAERY

Ikuti situs Bagindaery

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...