ARTIKEL PILIHAN

GOOGLE TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

ARTIKEL PILIHAN

Tampilkan postingan dengan label Artikel Motivasi dan Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Motivasi dan Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Tidak Ada Kata Terlambat untuk Belajar (Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata, “Tidak ada setelah berbagai hal yang wajib yang lebih utama dari menuntut ilmu.”)

Written By Situs Baginda Ery (New) on Senin, 14 November 2016 | 15.03

Ada yang merasa bahwa ia sudah terlalu tua, malu jika harus duduk di majelis ilmu untuk mendengar para ulama menyampaikan ilmu yang berharga dan akhirnya enggan untuk belajar. Padahal ulama di masa silam, bahkan sejak masa sahabat tidak pernah malu untuk belajar, mereka tidak pernah putus asa untuk belajar meskipun sudah berada di usia senja. Ada yang sudah berusia 26 tahun baru mengenal Islam, bahkan ada yang sudah berusia senja -80 atau 90 tahun- baru mulai belajar. Namun mereka-mereka inilah yang menjadi ulama besar karena disertai ‘uluwwul himmah (semangat yang tinggi dalam belajar). Menuntut ilmu agama adalah amalan yang amat mulia. Lihatlah keutamaan yang disebutkan oleh sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu,  “Tuntutlah ilmu (belajarlah Islam) karena mempelajarinya adalah suatu kebaikan untukmu. Mencari ilmu adalah suatu ibadah. Saling mengingatkan akan ilmu adalah tasbih. Membahas suatu ilmu adalah jihad. Mengajarkan ilmu pada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Mencurahkan tenaga untuk belajar dari ahlinya adalah suatu qurbah (mendekatkan diri pada Allah).”
Imam yang telah sangat masyhur di tengah kita, Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata, “Tidak ada setelah berbagai hal yang wajib yang lebih utama dari menuntut ilmu.”
Berikut 10 contoh teladan dari ulama salaf di mana ketika berusia senja, mereka masih semangat dalam mempelajari Islam.
Teladan 1 – Dari para sahabat radhiyallahu ‘anhum
Imam Bukhari menyebutkan dalam kitab shahihnya, “Para sahabat belajar pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baru ketika usia senja”.
Teladan 2 – Perkataan Ibnul Mubarok
Dari Na’im bin Hammad, ia berkata bahwa ada yang bertanya pada Ibnul Mubarok, “Sampai kapan engkau menuntut ilmu?” “Sampai mati insya Allah”, jawab Ibnul Mubarok.
Teladan 3 – Perkataan Abu ‘Amr ibnu Al ‘Alaa’
Dari Ibnu Mu’adz, ia berkata bahwa ia bertanya pada Abu ‘Amr ibnu Al ‘Alaa’, “Sampai kapan waktu terbaik untuk belajar bagi seorang muslim?” “Selama hayat masih dikandung badan”, jawab beliau.
Teladan 4 – Teladan dari Imam Ibnu ‘Aqil
Imam Ibnu ‘Aqil berkata, “Aku tidak pernah menyia-nyiakan waktuku dalam umurku walau sampai hilang lisanku untuk berbicara atau hilang penglihatanku untuk banyak menelaah. Pikiranku masih saja terus bekerja ketika aku beristirahat. Aku tidaklah bangkit dari tempat dudukku kecuali jika ada yang membahayakanku. Sungguh aku baru mendapati diriku begitu semangat dalam belajar ketika aku berusia 80 tahun. Semangatku ketika itu lebih dahsyat daripada ketika aku berusia 30 tahun”.
Teladan 5 – Teladan dari Hasan bin Ziyad
Az Zarnujiy berkata, “Hasan bin Ziyad pernah masuk di suatu majelis ilmu untuk belajar ketika usianya 80 tahun. Dan selama 40 tahun ia tidak pernah tidur di kasur”.
Teladan 6 – Teladan dari Ibnul Jauzi
Kata Adz Dzahabiy, “Ibnul Jauzi pernah membaca Wasith di hadapan Ibnul Baqilaniy dan kala itu ia berusia 80 tahun.”
Teladan 7 – Teladan dari Imam Al Qofal
Al Imam Al Qofal menuntut ilmu ketika ia berusia 40 tahun.
Teladan 8 – Teladan dari Ibnu Hazm
Ketika usia 26 tahun, Ibnu Hazm belum mengetahui bagaimana cara shalat wajib yang benar. Asal dia mulai menimba ilmu diin (agama) adalah ketika ia menghadiri jenazah seorang terpandang dari saudara ayahnya. Ketika itu ia masuk masjid sebelum shalat ‘Ashar, lantas ia langsung duduk tidak mengerjakan shalat sunnah tahiyatul masjid. Lalu ada gurunya yang berkata sambil berisyarat, “Ayo berdiri, shalatlah tahiyatul masjid”. Namun Ibnu Hazm tidak paham. Ia lantas diberitahu oleh orang-orang yang bersamanya, “Kamu tidak tahu kalau shalat tahiyatul masjid itu wajib?”(*) Ketika itu Ibnu Hazm berusia 26 tahun. Ia lantas merenung dan baru memahami apa yang dimaksud oleh gurunya.
Kemudian Ibnu Hazm melakukan shalat jenazah di masjid. Lalu ia berjumpa dengan kerabat si mayit. Setelah itu ia kembali memasuki masjid. Ia segera melaksanakan shalat tahiyatul masjid. Kemudian ada yang berkata pada Ibnu Hazm, “Ayo duduk, ini bukan waktu untuk shalat”(**).
Setelah dinasehati seperti itu, Ibnu Hazm akhirnya mau belajar agama lebih dalam. Ia lantas menanyakan di mana guru tempat ia bisa menimba ilmu. Ia mulai belajar pada Abu ‘Abdillah bin Dahun. Kitab yang ia pelajari adalah mulai dari kitab Al Muwatho’ karya Imam Malik bin Anas.
* Perlu diketahui bahwa hukum shalat tahiyatul masjid menurut jumhur –mayoritas ulama- adalah sunnah. Sedangkan menurut ulama Zhohiriyah, hukumnya wajib.
** Menurut sebagian ulama tidak boleh melakukan shalat tahiyatul masjid di waktu terlarang untuk shalat seperti selepas shalat Ashar. Namun yang tepat, masih boleh shalat tahiyatul masjid meskipun di waktu terlarang shalat karena shalat tersebut adalah shalat yang ada sebab.
Teladan 9 – Teladan dari Syaikh ‘Izzuddin bin ‘Abdis Salam
Beliau adalah ulama yang sudah sangat tersohor dan memiliki lautan ilmu. Pada awalnya, Imam Al ‘Izz sangat miskin ilmu dan beliau baru sibuk belajar ketika sudah berada di usia senja.
Teladan 10 – Teladan dari Syaikh Yusuf bin Rozaqullah
Beliau diberi umur yang panjang hingga berada pada usia 90 tahun. Ia sudah sulit mendengar kala itu, namun panca indera yang lain masih baik. Beliau masih semangat belajar di usia senja seperti itu dan semangatnya seperti pemuda 30 tahun.
Jika kita telah mengetahui 10 teladan di atas dan masih banyak bukti-bukti lainnya, maka seharusnya kita lebih semangat lagi untuk belajar Islam. Dan belajar itu tidak pandang usia. Mau tua atau pun muda sama-sama punya kewajiban untuk belajar. Inilah yang penulis sendiri saksikan di tengah-tengah belajar di Saudi Arabia, banyak yang sudah ubanan namun masih mau duduk dengan ulama-ulama besar seperti Syaikh Sholeh Al Fauzan, bahkan mereka-mereka ini yang duduk di shaf terdepan.
Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata,
مَنْ لَا يُحِبُّ الْعِلْمَ لَا خَيْرَ فِيهِ
“Siapa yang tidak mencintai ilmu (agama), tidak ada kebaikan untuknya.”
Ya Allah berkahilah umur kami dalam ilmu, amal dan dakwah. Wabillahit taufiq.


Referensi:
‘Uluwul Himmah, Muhammad bin Ahmad bin Isma’il Al Muqoddam, terbitan Dar Ibnul Jauzi, hal. 202-206.
Mughnil Muhtaj ila Ma’rifati Ma’ani Alfaazhil Minhaaj, Syamsuddin Muhammad bin Al Khotib Asy Syarbini, terbitan Darul Ma’rifah, cetakan pertama, 1418 H, 1: 31.

@ KSU, Riyadh, KSA, 4 Jumadats Tsani 1433 H
www.rumaysho.com

15.03 | 0 komentar | Read More

TERNYATA INILAH RAHASIA BESAR DIBALIK FILM KIAMAT SUDAH DEKAT ANDRE STINKY (Andre Taulany)

Written By Situs Baginda Ery (New) on Jumat, 24 Juni 2016 | 18.18

bagindaery.blogspot.com

Belajar Islam dari Film Kiamat Sudah Dekat

 
i Keimanan.

Menurut ulama salaf (termasuk Imam Ahmad, Malik dan Syafi’i), iman adalah sesuatu yang diyakini hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota tubuh.[1] Iman atau yang biasa juga disebut sebagai aqidah merupakan konsep-konsep yang harus diyakini manusia sehingga seluruh perbuatan dan perilakunya bersumber pada konsepsi tersebut. Dari pengertian di atas, dapat dipahami bahwa iman dan akhlak merupakan dua hal yang saling berkaitan erat. Jika keimanan seseorang telah kuat, maka segala tindakannya akan didasarkan kepada pikiran-pikiran yang telah dibenarkannya dan hatinya pun akan terasa tenteram. Nabi SAW pernah bersabda bahwa orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang mukmin yang paling baik akhlaknya. Hadits ini pun sering digunakan sebagai rujukan dalam upaya  pembentukan kepribadian muslim.

Pembentukan kepribadian pada dasarnya merupakan upaya untuk mengubah sikap menuju arah kecenderungan terhadap nilai-nilai keislaman. Seperti halnya orang yang sedang belajar, indikasi bahwa seseorang telah melakukan kegiatan belajar ialah adanya perubahan tingkah laku, sebuah perubahan yang sebelumnya tidak ada atau mungkin masih lemah pada orang tersebut. Perubahan tingkah laku tersebut meliputi salah satu atau beberapa aspek, antara lain pengetahuan, pemahaman, kebiasaan, keterampilan, apresiasi, emosional, hubungan sosial, jasmani, budi pekerti (etika), sikap dan lain sebagainya.

Nilai dalam pendidikan berusaha menguji dan mengintegrasikan nilai-nilai tersebut di dalam kehidupan manusia serta membinanya dalam kepribadian anak. Untuk mengatakan sesuatu itu baik atau buruk bukanlah suatu hal yang mudah, maka oleh sebab itu diperlukan hal-hal yang dapat dijadikan sebagai indikator nilai-nilai tersebut.    

Dalam film Kiamat Sudah Dekat (KSD), terdapat beberapa dialog[2] yang menunjukkan sikap atau bentuk keimanan seseorang, antara lain:

a. Iman Kepada Allah SWT.
- Ucapan Fandi dalam menanggapi pernyataan Haji Romli:
“Bagi saya, cukuplah karunia yang Allah berikan buat saya dan keluarga saya berupa iman kepada Allah”.

Hal itu dicerminkan pula dalam keseharian hidup Fandi yang melakukan salah satu perintah Allah SWT yaitu perintah menjalankan shalat lima waktu (shalat fardhu), yang sebelumnya tidak pernah dilakukannya sama sekali.
- Penyerahan diri kepada Allah SWT, Tuhan yang menguasai segala sesuatu, tempat memohon dan meminta pertolongan. Hal ini dapat dicermati dari do’a Fandi sebagai berikut:
“Ya Allah, aku tidak meragukan kekuasaanMu. Ombak yang tenang di lautan ini bisa seketika Kau buat menjadi gelombang besar dan menenggelamkan segala apa yang mengapung di atasnya. Bahkan bila Kau berkehendak, Kau bisa membuat matahari terbit dari barat dan tenggelam di timur. Itu teramat mudah bagimu, ya Allah. Jadi, apa susahnya melumerkan kekerasan hati Haji Romli dan menjodohkan aku dengan Sarah. Please Allah...Please!”.

b. Iman Kepada Hari Akhir/Kiamat.
Hal ini dapat dilihat dari dialog antara Fandi dengan ayahnya, Pak Yoga, sebagai berikut:
Pak Yoga: “Kamu belajar sembahyang?”
Fandi mengangguk.
Pak Yoga:”Kenapa?”
Fand        :”Kiamat sudah dekat Pa”.
Pak Yoga:”Apa hubungannya dengan kamu sembahyang?”
Fandi    :”Papa dan mama pernah denger tentang neraka? Nah, orang yang tidak menyembah Tuhan tempatnya di.......”.

Selain itu, dapat pula dilihat dalam dialog Fandi dengan teman-teman bandnya tentang surga dan neraka:
Yongky      :”Fandi nggak mau masuk neraka, makanya dia shalat”.
Barry         :”Kalo shalat emang bisa masuk surga?”
Fandi         :”Yang jelas sih gue nggak bakal betah hidup di neraka”.

2.   Materi Syari’ah.

      Hukum syar’i yang bersumber dari Al-Qur’an merupakan aturan yang ditetapkan untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah (vertikal) dan hubungan manusia dengan makhluk lain (horizontal). Syari’ah yang telah tertanam dalam hati dapat menjadi pengontrol perilaku dalam kehidupan sehari-hari untuk selalu menjalankan perintah dan menjauhi segala hal yang dilarang oleh Allah SWT. Setiap sikap dan perbuatan manusia dapat dikatakan sebagai ibadah andaikata dilaksanakan sesuai aturan Allah SWT.

Pelaksanaan ibadah memiliki satu tujuan, yaitu penghambaan kepada Allah semata dan menerima ajaran Allah, baik untuk urusan duniawi maupun ukhrawi. Beberapa materi syari’ah baik ibadah maupun muamalah dalam film Kiamat Sudah Dekat (KSD) antara lain:

a. Ibadah Shalat.

           Ibadah yang wajib dikerjakan lima kali dalam sehari ini telah menjadi rutinitas Haji Romli dan anaknya (Sarah), Bu Endang dan anaknya Saprol serta Fandi yang terebih dahulu mempelajarinya. Hal yang menarik dalam film ini salah satunya ialah bagaimana proses Fandi dalam mempelajari shalat baik dari segi gerakan maupun bacaannya. Selain belajar dari Saprol, Fandi pun mempelajari gerakan-gerakan shalat melalui media gambar yang ditempel di dinding kamarnya agar lebih mudah diikuti ketika mengerjakan shalat, sehingga lama kelamaan tanpa melihatpun Fandi mampu mengerjakan shalat dengan baik dan benar.

         Dalam mempelajari bacaan shalat, Fandi meminta bantuan Saprol untuk membuat rekaman bacaan shalat yang menurutnya sangat asing didengar dan sulit untuk dipahami. Rekaman kaset yang berisi bacaan shalat tersebut dibawanya (Fandi) kemana pun dia pergi, bahkan dia berusaha menghafal bacan shalat ketika mengerjakannya dengan menggunakan walkman di telinganya.

b. Membaca Al-Qur’an.

Hal ini tampak dalam adegan ketika Sarah melakukan shalat seraya membaca surat At-Tin. Begitu pula dalam adegan saat Fandi membaca Al-Qur’an surat Al-‘Alaq dan surat At-Tin setelah Saprol memperkenalkan dan mengajarkannya huruf Arab serta bacaan Al-Qur’an.

c. Thaharah.

Thaharah biasa juga disebut dengan bersuci. Dalam film ini sekilas dalam adegan awal nampak secara tidak sengaja Fandi sudah mulai diperkenalkan dengan etika memasuki mushalla (tempat ibadah), yaitu bersuci. Ini terjadi saat Fandi hendak membersihkan muka dan bajunya, tiba-tiba Fandi membaca papan kecil yang bertuliskan: ”ALAS KAKI HARAP DILEPAS”, yang pada akhirnya dia pun melepaskannya.

Pada saat yang lain, Fandi diperkenalkan kepada kewajiban berwudhu saat hendak mengerjakan shalat. Hal ini tercermin dalam dialog:
Fandi            :”Fandi mau shalat dulu, Ma”
Bu Yoga       :”Eh, jangan lupa wudhu! Iya kan Pa?”
Fandi            :”Wudhu?”
Pak Yoga      :”Ya, disini (buku) ditulis bersuci mulai dari membasuh tangan, wajah, kepala, kaki.
Fandi            :”Itu harus Pa?”
Pak Yoga      :”Wajib! Kalau tidak, shalat kita tidak sah”.
          
            Adapun gerakan-gerakan wudhu yang disebutkan oleh Pak Yoga di atas merupakan bagian-bagian dari rukun wudhu.

d. Ibadah Haji.

Salah satu rukun Islam yang kelima ini sempat terungkapkan dalam pengajian keluarga Pak Yoga yang dihadiri oleh Ustadz Jamal (Dicky Chandra). Pada kesempatan tersebut, Pak Yoga mengungkapkan keinginannya untuk menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Ustadz Jamal pun menyetujuinya. Hal ini disebabkan ibadah haji merupakan kewajiban bagi orang yang mampu dan terbukti keluarga Pak Yoga merupakan keluarga yang mampu secara finansial serta mempunyai keinginan (niat) untuk menunaikannya. 

Niat merupakan suatu hal yang ringan namun berat timbangannya di sisi Allah. Tidak semua orang kaya mampu melaksanakan haji karena niat yang tidak cukup, sedangkan tidak semua kefakiran menjadi penghalang orang naik haji.

Semua orang yang berhaji tentu berharap hajinya akan mabrur. Haji mabrur menurut K. H. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), yaitu haji yang diterima dan diberkahi.[3] Untuk menjadi haji mabrur dibutuhkan dua hal, yaitu;

1) Niat yang lurus
2) Amalan yang benar
Artinya selain menyempurnakan syarat dan rukun haji diperlukan pula keikhlasan, tuma’ninah dan khusyu’. Indikasi haji mabrur adalah adanya perubahan antara sebelum dan sesudah haji.

e. Perkawinan.[4]

Allah SWT menciptakan segala sesuatu di alam ini secara berpasang-pasangan. Tentang aturan atau tata cara berpasang-pasangan atau perjodohan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, Allah menentukannya melalui dengan cara atau perkawinan.

Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa.[5]

Perkawinan Fandi dan Sarah menjadi ending dari cerita film Kiamat Sudah Dekat (KSD). Ini terjadi setelah Fandi dapat memenuhi segala persyaratan yang diajukan oleh Haji Romli yaitu agama Islam yang ditunjukkan melalui praktek shalat, membaca Al-Qur’an dan keikhlasan yang dimilikinya. Perkawinan tersebut menjadi berkah setelah penolakan Haji Romli atas hubungan pacaran yang dikehendaki Fandi. Bagi Haji Romli, syarat-syarat nikah bukan hanya soal tanggung jawab, nafkah dan penghasilan, seperti yang disanggupi oleh Fandi. Namun keimanan (agama) yang menjadi tolok ukur sebagai persyaratan utamanya.  

f. Khitan.

Khitan ialah syari’at yang diwajibkan kepada Nabi Ibrahim AS ketika beliau menginjak umur 80 tahun.. Khitan pun disyari’atkan pula dalam Islam sehingga termasuk dalam syari’at Islam.
Materi ini terdapat pula dalam film tersebut, tepatnya dalam dialog antara Haji Romli dan Fandi.
 Haji Romli            :”Elu udah dikhitan belon?”
 Fandi        :”Khitan ...?”
 Haji Romli            :”Sunat...Sunat”.
 Fandi        :”Sunat ...?”
 Haji Romli            :”Dipotong”. (Sambil mempraktekkan gerakan gunting).
 Fandi        :”Dipotong ...?”
 Haji Romli            :”Astaghfirullah ... sini !”
 (Haji Romli membisikkan sesuatu ke telinga Fandi).
 Fandi        :”Oh ... itu ?! Udah Pak Haji. Ha ... ha ... ha, Pak Haji ini ada-ada saja.
                   (Fandi berusaha mengingat-ingat sesuatu).
                    Aduh lupa saya Pak Haji, udah apa belon ya ...?”   

3.   Materi Akhlak.
Seperti telah diungkapkan di awal, iman dan akhlak merupakan dua sisi yang saling berkaitan. Iman sebagai konsep dan akhlak adalah aplikasi dari konsep tersebut dalam hubungannya dengan sikap dan perilaku sehari-hari. Menurut Abdullah Al-Darraz, pendidikan akhlak dalam pembentukan kepribadian muslim berfungsi sebagai pemberi nilai-nilai keislaman.[6]
Materi akhlak merupakan bagian dari hal-hal yang harus dipelajari dan dilaksanakan dalam dunia pendidikan agar tercermin nilai-nilai ajaran Islam dalam sikap hidup sehari-hari. Jadi, pembentukan kepribadian pada dasarnya adalah upaya untuk mengubah sikap ke arah kecenderungan terhadap nilai-nilai keislaman.

Sesuai dengan pembagian akhlak yang terdapat dalam Bab II, maka klasifikasi film Kiamat Sudah Dekat (KSD) yang termasuk dalam materi akhlak adalah:
a.       Akhlak Kepada Allah SWT.

Ikhlas.
Tawakkal.
Syukur.
Istiqamah.
Iffah.
Mengucap Salam.
Saling Tolong Menolong.
Fandy membantu membayar rumah kontrakan Bu Endang selama dua tahun berturut-turut.
Teman-teman bandnya dan Saprol membantu Fandi mencari buku-buku keagamaan yang bertemakan ikhlas.
Sarah memberikan sandal bakiaknya kepada Fandi yang bertelanjang kaki.
Berlaku Adil.

Sikap ini ditunjukkan secara tidak sengaja oleh Fandi ketika dirinya harus merelakan Sarah bersanding dengan Farid, seorang pemuda yang masih kuliah di Mesir dan merupakan anak dari sahabat Haji Romli. Hal ini menjadi bertolak belakang dengan impiannya, padahal sejak awal tujuan Fandi adalah mendapatkan Sarah setelah memenuhi syarat-syarat yang diajukan ayahnya (Haji Romli).[7]

Menurut para psikolog, motivasi utama dalam setiap pekerjaan ialah dorongan untuk mendapatkan pengakuan dari masyarakat yaitu “gaining approval and avoiding disapproval”, atau mengharapkan pujian dan menolak cacian.[8] Bagi orang yang sungguh-sungguh mentauhidkan Allah SWT, maka harapan approval hanya merupakan pemberian dariNya. Sedangkan sifat yang lahir dari hawa nafsu dapat menggerogoti keikhlasan seseorang.

Menurut Ibnu Athaillah, penulis kitab Hikam, amal perbuatan hanyalah bentuk, sedangkan substansinya ialah ikhlas.[9] Aktivitas keagamaan tanpa adanya sikap ikhlas merupakan kesia-siaan, tak ubahnya seonggok tubuh tanpa jiwa atau roh.

Tawakkal ialah membebaskan diri dari segala ketergantungan kepada selain Allah dan menyerahkan keputusan segala sesuatu kepadaNya.[10]

Dalam film ini sikap tersebut muncul dari keputus asaan di saat harapannya menipis sehingga menyerahkan semuanya kepada Allah SWT agar diberikan pilihan yang terbaik. Ini dapat dilihat dari nasihat Haji Romli kepada Fandi:

“Nak Fandi, nggak semua yang kita pingin bisa tercapai. Kalau Allah nggak ngasih, mungkin ditunda atau diganti dengan yang lebih baik. Atau karena Allah sayang ama kita. Allah senang, mendingan kita yang terus memohon apalagi memohon ampun”.

Sikap tawakkal pun ditunjukkan Fandi dalam do’anya:
“Please Allah...tunjukkan bagaimana agar aku mengerti ilmu ikhlas itu, please!”.

Yang perlu digaris bawahi dalam hal ini adalah sikap tawakkal tidak cukup berserah diri pada Allah SWT semata, namun harus diiringi pula dengan ikhtiar (usaha) semaksimal mungkin dengan keyakinan bahwa kehendakNya pasti berlaku.

Sikap syukur kepada Allah Swt merupakan bagian dari pengakuan terhadap kebaikan dan pemberian yang kita terima dari sisiNya sebagai Tuhan Pencipta segala makhluk dan alam semesta.[11]

Adapun bentuk dari rasa syukur dalam film Kiamat Sudah Dekat (KSD) tergambar dalam ucapan Fandi di depan Haji Romli dan Sarah:

“Saya bersyukur bisa mengenal Sarah dan Pak Haji. Waktu pertama mengenal Sarah, kami sekeluarga adalah orang yang tak mengerti agama sama sekali. Apa yang saya dan keluarga saya alami merupakan karunia yang besar dari Allah. Sungguh membahagiakan. Terima kasih Pak Haji, sekali lagi terima kasih”.

b.      Akhlak Pribadi.
Dalam terminologi akhlak, istiqamah merupakan sikap teguh dalam mempertahankan keimanan dan keislaman sekalipun menghadapi berbagai macam tantangan dan godaan.[12]   

Dalam dialog di bawah ini tercermin peringatan untuk bersikap istiqamah, yaitu setelah Haji Romli melihat hasil belajar Fandi tentang shalat.

Haji Romli:”Bagus, kalo udah bisa shalat, ya musti dijalanin”.
Fandi         :”Saya selalu shalat Pak Haji. Tiap hari”.

Iffah merupakan sikap untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik dan juga berarti kesucian tubuh. Salah satu bentuk dari iffah ialah menjaga kehormatan diri, seperti menjaga penglihatan, pergaulan dan pakaiannya. Hal seperti ini tercermin dari sikap dan perilaku Sarah dan Bu Endang yang berpakaian menutup auratnya. Bahkan Sarah selalu menjaga diri dari pergaulan bebas dengan lain jenis yang bukan muhrimnya di manapun berada.

c.       Akhlak Dalam Keluarga.

Birrul walidain atau berbuat kebajikan kepada kedua orang tua nampak dalam suasana keluarga, baik dari keluarga Fandi, Saprol, Sarah dan Farid. Meski terdapat masalah atau ketidak cocokan pendapat, sikap birrul walidain ini tak pernah luntur. Sikap ini pun dianjurkan dalam Al-Qur’an:

Bagaimanapun keadaannya, orang tua merupakan keluarga yang harus dijaga. Hal ini disebabkan betapa mulianya berbuat baik kepada orang tua di sisi Allah SWT. Sebaliknya, durhaka kepada keduanya merupakan perbuatan yang sangat hina dan dilarang Allah SWT.

d.      Akhlak Bermasyarakat.

Diantara perkara yang menjadi hak antar orang Islam salah satunya ialah mengucap salam ketika bertemu di jalan maupun saat bertamu ke rumah orang lain. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

يآَأَيُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْالاَتَدْخُلُُوْا بُيُوْتًا غَيْرَبُيُوْتِكُمْ حَتىَّ تَسْتَأْنِسُوْاوَتُسَلِّمُوْا عَلَى أَهْلِهَا... (النور : 27)

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu masuk rumah selain rumahmu sebelum kamu minta izin dan memberi salam kepada penghuninya ...”. (Q.S. An-Nur: 27).[13]

Sikap demikian terdapat dalam beberapa dialog dalam film tersebut. Salah    satunya adalah sikap Fandi dan Saprol saat bertamu ke rumah Haji Romli.

Fandi + Saprol                   :”Assalamu’alaikum”.
Haji Romli + Sarah                        :”Wa’alaikum salam”.
Saprol                                :”Bolehkah kami bertamu Pak Haji?”

Bacaan salam merupakan do’a. Maka orang yang mengucap salam dan yang menjawabnya berarti saling mendo’akan. Adapun tata tertib bersalam adalah salam yang minimal, hendaknya dijawab yang minimal pula atau lebih baik dari salam tersebut.

Sikap ini ditunjukkan dalam beberapa kesempatan, antara lain:

Islam memerintahkan kepada umat manusia untuk bersikap adil dalam segala aspek kehidupan, baik terhadap diri sendiri, keluarga, orang lain bahkan kepada musuh sekalipun.

Sikap adil ini dituntut Sarah kepada ayahnya, Haji Romli saat memberikan sebuah syarat (ilmu ikhlas) kepada Fandi. Sarah ingin agar ayahnya pun adil kepada calon yang disukai ayahnya tersebut (Farid) dengan memberikan sebuah syarat yang sama (ilmu ikhlas) seperti Fandi sebelum dirinya berhak memutuskan siapa yang akan menjadi suaminya. Hal ini ditunjukkan dalam dialog berikut ini:

Sarah                     :”Sarah minta babe berlaku adil kepada sesama muslim!”
Haji Romli             :”Maksud lu?”
Sarah                     :”Farid juga harus mempunyai ilmu ikhlas!”

Pada akhirnya, Haji Romli pun menyetujui permintaan Sarah dan diterapkan pula syarat yang sama bagi Farid.

Selain akhlak yang termasuk di atas, terdapat pula beberapa akhlak tercela (madzmumah) dalam film tersebut, seperti:

Mencuri.

Adegan ini dapat disaksikan ketika Saprol dua kali mengambil (mencuri) dua pasang sepatu Fandi tanpa meminta izin kepadanya dan tidak mengembalikannya.

Berbohong.

Adegan ini terjadi ketika Saprol menjawab pertanyaan ibunya yang bertanya tentang sesuatu yang dibawanya, yaitu ketika pada suatu hari Saprol pulang ke rumah dengan membawa sepatu Fandi yang baru diambil (dicuri) nya. Ketika itu Saprol menjawab bahwa sepatu tersebut dikasih oleh temannya, seorang pemain band rock.

Berlaku Kasar/Kejam.

Adegan ini terjadi ketika pemilik kontrakan (Abdul Jabbar) berusaha mengusir Bu Endang dan anaknya (Saprol) dari rumahnya yang telah habis masa kontraknya dengan kasar.

Pergaulan Bebas.

Adegan ini terlihat dari tingkah laku Merry (teman Sarah) yang bergaul bebas dengan lawan jenisnya. Ataupun dari adegan yang dapat disaksikan bagaimana Kania (adiknya Fandi) bergaul dengan temannya.

Sombong.

Sikap ini ditunjukkan oleh Fandi kepada Haji Romli bahwa dia (Fandi) mampu membiayai Sarah dengan kekayaannya apabila saat itu pula dia dinikahkan oleh Haji Romli dengan putrinya (Sarah).


[1]   Yunahar Ilyas, Kuliah Aqidah Islam, cet Ke-6 (Yogyakarta: LPPI, 2001), hal. 4.
[2]  Penulisan dialog-dialog ini tidak mengalami penambahan ataupun pengurangan kalimat sama sekali, kecuali adanya penambahan tanda baca dengan maksud memperjelas ucapan dalam dialog tersebut. Penulisannya sendiri disesuaikan seperti apa yang diucapkan oleh aktor/aktris yang bermain dalam film Kiamat Sudah Dekat (KSD).
[3] Abdullah Gymnastiar, Meraih Bening Hati dengan Manajemen Qalbu, ( Jakarta: Gema Insani, 2002), hal. 137.
[4]  Penggunaan kata perkawinan merujuk kepada istilah perundang-undangan di Indonesia. Perkawinan di sini diartikan sama (sinonim) dengan kata pernikahan, terlepas dari makna (per)kawin(an) yang berkonotasi negatif.
[5]   M. Thalib, Fiqih Nabawi, (Surabaya: Al-Ikhlas, t.t), hal. 208.
[6] Dikutip dalam Jalaluddin dan Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam: Konsep dan Perkembangan Pemikirannya, cet Ke-2 (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), hal. 95.
 [7]  Peristiwa “ikhlas” ini terjadi setelah Fandi memperoleh “pencerahan spiritual” dari persyaratan yang diajukan Haji Romli untuk.mendapatkan putrinya.
 [8]   K. Permadi, Iman dan Takwa Menurut Al-Qur’an, (Jakarta: Rineka Cipta, 1995), hal. 49.
 [9]    Dikutip dalam K. Permadi, Iman dan Takwa Menurut Al-Qur’an, hal. 50.
 [10]   Yunahar Ilyas, Kuliah Aqidah Islam, hal. 44.
[11]   Ahmad Mudjab Mahalli, Membangun Pribadi Muslim, (Yogyakarta: Menara Kudus, 2002), hal. 116.
 [12]   Yunahar Ilyas, Kuliah Aqidah Islam, hal. 97.
[13]  Departemen Agama Republik Indonesia (Depag RI), Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Semarang: CV. Toha Putra, 1989) hal. 547.


http://www.tongkronganislami.net/
18.18 | 0 komentar | Read More

Artikel Terbaik Motivasi Kerja: 7 RAHASIA MEMBANGKITKAN SEMANGAT KERJA YANG SANGAT AMPUH

Written By Situs Baginda Ery (New) on Rabu, 03 Februari 2016 | 09.29

Apakah Anda merasa memerlukan membangkitkan semangat kerja yang mulai menurun? Banyak penyebab seseorang yang motivasi kerjanya mulai turun. Mulai dari ketidak puasan terhadap perusahaan atau atasan, lingkungan yang kurang menyenangkan, rekan kerja yang kurang kita sukai, termasuk kondisi ekonomi yang tidak juga beranjak.

Pertanyaanya, saat semangat dalam bekerja menurun, apakah kita mengikutinya? Kita biarkan semangat turun, akhirnya prestasi kita jeblok. Apakah ini akan baik? Atau membuat segalanya makin buruk. Anda bisa saja di PHK, bisa saja terjalin hubungan yang tidak baik, bahkan bisa mengganggu kesehatan. Emosi yang terus negatif akan mengganggu kesehatan.
Untuk itu, Anda harus segera membangkitkan semangat kerja Anda segera mungkin. Berikut ada 7 langkah bagaimana membangkitkan semangat kerja.

Langkah #1 Cara Membangkitkan Semangat Kerja Ingat Niat Kerja

Apa sich niat Anda bekerja?
Saya kita sudah banyak yang faham. Kerja memang mengharapkan gaji setiap bulan. Tapi untuk apa gaji itu? Untuk menafkahi keluarga. Dan ini adalah kewajiban, ini adalah bagian dari ibadah. Jadi, niat bekerja itu sesungguhnya adalah ibadah.
Jika niat ibadah, artinya kita bekerja bukan untuk atasan, bukan untuk perusahaan, bukan untuk rekan kerja. Semua itu hanya wasilah. Tapi sebenarnya kita bekerja untuk Allah. Ibadah itu untuk Allah, sehingga rasanya tidak layak kita bekerja sekedarnya.
Yuk, kita luruskan kembali niat kita bekerja sebagai salah satu ibadah. Untuk itu, maka tekadkan pada diri kita untuk bekerja lebih semangat lagi.

Langkah #2 Ingat Tujuan, Cita-cita, dan Harapan

Selain bekerja itu sebagai ibadah, bekerja juga sebagai jalan kita meraih tujuan, cita-cita, dan harapan kita. Apakah Anda memiliki cita-cita untuk meraih jenjang karir yang lebih tinggi? Tunjukan dengan semangat tinggi. Jika Anda ingin bekerja untuk mendapatkan gaji lebih besar, tunjukan dengan semangat yang tinggi.
Bahkan, jika Anda akan pensiun dalam beberapa tahun lagi, tidak ada salahnya bekerja dengan semangat tinggi sebagai contoh untuk generasi muda dan meninggalkan kesan positif bagi perusahaan dan rekan kerja Anda.
Mengingat tujuan, cita-cita, dan harapan Anda adalah salah satu cara membangkitkan semangat kerja.

Langkah #3 Untuk Siapa Saja Anda Bekerja

Cara selanjutnya membangkitkan motivasi kerja adalah dengan mengingat untuk siapa kita bekerja? Untuk keluarga bukan? Untuk mereka yang Anda sayangi dan menyayangi Anda.
Jangan kecewakan mereka dengan semangat kerja yang rendah. Justru Anda harus menjadi contoh bahwa Anda begitu semangat dalam bekerja. Sejauh mana semangat Anda, sadar tidak sadar, akan membekas di pikiran bawah sadar keluarga Anda. Anak-anak akan meneladani Anda.
Bagi Anda yang belum berkeluarga, mungkin Anda ingin membahagiakan orang tua Anda. Berbakti kepada orang tua adalah satu ibadah, bahkan ibadah dengan pahala yang besar. Sebaliknya, durhaka adalah dosa yang besar. Pantaskah kita bekerja dengan semangat yang lembek padahal untuk berbakti kepada orang tua?

Langkah #4 Sadari Apa Yang Menjadi Perusak Semangat Anda

Anggaplah Anda sudah semangat kembali dengan 3 langkah diatas. Mungkin Anda akan mengatakan, tapi …
Ya, ada banyak hal yang bisa merusak semangat kerja Anda seperti disebutkan diatas. Silahkan Anda sadari, apa saja sich yang merusak semangat Anda.
Apakah gaji yang kecil, tidak puas dengan perusahaan, tidak puas dengan atasan, kecewa dengan rekan kerja, bekerja tidak sesuai passion? Apa lagi?

Langkah #5 Renungkan Mana Yang Lebih Penting

Sekarang renungkan. Mana yang lebih penting, apakah niat ibadah ditambah cita-cita Anda ditambah orang-orang yang Anda sayangi atau perusak semangat Anda?
Saya yakin, ibadah karena Allah jauh lebih penting dibandingkan atasan yang cerewet. Saya yakin, cita-cita Anda untuk hidup lebih baik, jauh lebih penting dibandingkan rekan kerja yang usil. Orang-orang yang kita cintai pun, jauh lebih penting dari masalah apa pun yang ada.
Jangan sampai, hal-hal terpenting dalam hidup Anda dikalahkan oleh pengganggu-pengganggu itu.

Langkah #6 Yakinlah Bahwa Diri Anda Mampu

Yakinlah bahwa diri Anda mampu mengatasi, mampu bertahan, dan mampu menghadapi semua perusak motivasi Anda. Anda mampu, sebab Allah tidak akan membebani kita di luar kemampuan kita.
Pancangkan tekad dalam hati Anda, bahwa Anda TIDAK AKAN KALAH, demi ibadah kepada Allah, demi cita-cita Anda, dan demi orang-orang yang Anda sayangi.
Tekadkan dan yakinlah Anda mampu!

Langkah #7 Resapkan Ke Dalam Sanubari

Buatlah catatan renungan dari langkah 1 sampai langkah 6. Saya yakin, jika Anda mengikutinya Anda sudah semangat lagi. Namun, agar semangat itu lebih tahan lama, resapkan ke dalam sanubari Anda. Caranya adalah dengan membuat catatan-catatan dari langkah 1 sampai 6 yang membuat Anda semangat.
Dengan mencatat saja, itu akan lebih kuat tertanam dalam pikiran Anda. Apalagi jika Anda baca kembali pada kesempatan-kesempatan tertentu secara rutin.

Perusak-perusak Motivasi Itu Bisa Anda Atasi

Ada beberapa hal yang bisa merusak atau menurunkan motivasi kita saat bekerja. Jika Anda mengetahui teknik-tekniknya, semua itu bisa dengan mudah diatasi dan Anda bisa mendapatkan motivasi Anda segera. Apa saja penyebab-penyebabnya dan bagaimana cara mengatasinya? Saya sudah bahas di video Instant Motivation Weapon.

Penutup

Motivasi atau semangat jangan dianggap enteng. Saat motivasi Anda turun, kerja Anda jelek, maka ini bisa merusak karir Anda, bahkan saat Anda berniat akan pindah. Untuk itu harus segera dibangkitkan kembali, jangan dibiarkan dengan ketujuh langkah cara membangkitkan semangat kerja.

http://www.motivasi-islami.com/7-langkah-cara-membangkitkan-semangat-kerja-yang-ampuh/
09.29 | 0 komentar | Read More

ARTIKEL TERBAIK MOTIVASI: Motivasi Diri Sendiri dan Orang Lain

BAGAIMANA MEMBANGUN MOTIVASI BAGI DIRI SENDIRI DAN ORANG LAIN?

Pada dasarnya, membangun motivasi bagi diri sendiri maupun orang lain itu sama. Ada unsur yang harus kita perhatikan agar kita bisa membangun motivasi. Kedua unsur itu adalah pain dan pleasure, yaitu kesengseraan dan kesenangan.

Orang melakukan sesuatu untuk menghindari kesengsaraan seperti sakit, kemiskinan, penderitaan, kehilangan, penolakan, dan sebagainya. Begitu juga, orang mau bertindak karena dia mengejar kesenangan seperti cinta, kebahagiaan, kekayaan, keceriaan, dan sebagainya.

motivasi
Dia mau capek-capek naik gunung untuk merasakan kesenangan setelahnya.
Lalu, bagaimana agar dua hal itu bisa membangun motivasi bagi diri sendiri dan orang lain?

3 Langkah Membangun Motivasi

Ada 3 langkah yang perlu kita tempuh

Penyadaran. Langkah pertama perlunya sebuah kesadaran, apa sich yang tidak diinginkan dan apa yang yang diinginkan? Jadi, langkah pertama berpusat pada keinginan. Untuk penyadaran, akan lebih mudah untuk menuliskannya. Coba tulis 100 keinginan Anda. Banyak orang yang tidak memiliki motivasi, karena keinginan diri sendiri saja tidak disadarinya.
Penegasan. Setelah Anda mulai sadar apa saja yang Anda inginkan, saatnya melakukan pengasan. Caranya buatlah tujuan. Apa bedanya keinginan dan tujuan? Tujuan lebih jelas dan spesifik. Untuk membantu memudahkan tujuan, buatlah dengan metode SMART.
Pemantapan. Setelah sadar, kemudian ditegaskan dengan goal setting yang SMART, selanjutnya lakukan pemantapan, agar benar-benar masuk ke dalam hati Anda. Baca secara berulang, tempel tulisannya di tempat yang mudah dilihat, dan sebagainya.
Untuk membangun motivasi bagi orang lain, Anda bisa melakukannya dengan komunikasi. Bimbinglah mereka untuk melakukan 3 langkah diatas. Dan, yang terpenting adalah menjadi contoh atau teladan bagi orang lain.

Membangun Motivasi Lebih Kuat Lagi

bagaimana membangun motivasi bagi diri sendiri dan orang lain
Jika sesuatu tidak menantang Anda, maka dia tidak akan mengubah Anda.
Kadang, pain dan pleasure kurang menggerakan. Banyak lho, orang yang sebenarnya punya keinginan dan selalu dia ingat, tetapi masih kurang motivasinya untuk bertindak. Maka, untuk membangun motivasi yang lebih kuat lagi dengan menjadikan tujuan Anda sebagai tantangan.

Mungkin, Anda ingin meraih penghasilan Rp 10.000.000 per bulan. Ini sudah cukup untuk makan dan membayar semua tagihan. Tapi, akan lebih dahsyat jika Anda membuat tantangan. Mengapa tidak membuat tujuan penghasilan Rp 100.000.000 per bulan.

“Ah, tujuan jangan muluk-muluk, kalau tidak tercapai sakit.”

Sakit tidaknya bukan karena gagal meraih tujuan, tetapi bagaimana Anda menyikapi kegagalan itu.

Lagi pula, saya lebih baik gagal meraih penghasilan Rp 100.000.000 dari pada berhasil meraih penghasilan Rp 10.000.000. Anggap saja, saya hanya berhasil meraih setengahnya. Berapa penghasilan saya?

Tantangan lebih memotivasi, lebih menggali potensi, dan menjadikan pikiran kita lebih kreatif untuk mencari ide-ide brilian. Kita pun akan sadar, jika tujuan kita menantang maka kita harus bertindak lebih masif, terstruktur, dan sistematis. Tidak bisa bertindak asal-asalan.


Tantangan akan mengubah Anda menjadi lebih semangat dan lebih kreatif.

Saat Motivasi Tiba-tiba Hilang

Pernahkah merasakan, semangat sudah menggebu-gebu, tetapi ternyata saat memulai bertindak, kita menjadi loyo kembali. Mengapa itu bisa terjadi?

Ada banyak penyebab. Salah satunya kebingungan. Saat mengetahui banyak yang harus dilakukan, dia bingung harus melakukan apa dulu. Atau tidak ada kejelasan, apa yang harus dilakukan sekarang.

Bagaimana cara mengatasinya?

Selain kebingungan, masih ada beberapa penyebab lain yang menjadikan kita kehilangan motivasi saat akan mulai bertindak. Saya membahas khusus masalah ini dan solusinya di video saya Instant Motivation Weapon.

Pada video tersebut saya bahas teknik-teknik instant yang akan menjadikan Anda termotivasi kembali saat ada sesuatu yang menghancurkan motivasi Anda. Video ini harus dimiliki oleh Anda yang memiliki tujuan besar dan menantang, jangan sampai hambatan kecil malah menghancurkan motivasi Anda.

Tidak sedikit, hanya karena masalah kecil akhirnya mengubur mimpi besarnya. Jangan sampai dech. Anda harus memiliki senjata untuk menghancurkan semua musuh yang bisa merusak motivasi Anda.

Jadilah Inspirasi Orang Lain

Anda tidak perlu menjadi orang yang sukses dulu untuk menginspirasi orang lain. Anda bisa menjadi teladan dari sisi semangat dan pantang menyerah Anda. Tunjukan kepada orang yang ingin Anda bangun motivasinya bahwa Anda memiliki determinasi yang tinggi dan pantang menyerah.

Buatlah orang lain berkata, “Saya tidak menyerah dan tetap semangat meraih tujuan karena terinspirasi olehmu.”

Tentu saja, tidak harus sampai berkata seperti itu, sebab tindakan mereka jauh lebih penting dibandingkan kata-kata. Jadikan mereka mengikuti semangat Anda. Jadikan Anda sebagai figur yang memiliki motivasi tinggi.

Jadi, pada dasarnya, agar bisa memotivasi orang lain, maka motivasi diri sendiri terlebih dahulu.

http://www.motivasi-islami.com/bagaimana-membangun-motivasi-bagi-diri-sendiri-dan-orang-lain/
09.26 | 0 komentar | Read More

Kumpulan Kisah Keajaiban Nyata Seputar Tahajud

Written By Situs Baginda Ery (New) on Selasa, 29 Desember 2015 | 11.07

Bapak/Ibu/Sdr/i yang dirahmati Allah SWT, banyak sekali kita baca atau dengar tentang kisah, kejadian, peristiwa dan pengalaman yang sangat menarik seputar tahajud dan para pelakunya, diantaranya adalah :


1. Tahajud Atasi Depresi (oleh: dr Sulistyo M Agustini SpPK)

Depresi akrab dengan kehidupan dr Sulistyo M Agustini SpPK, pembina Korps Sukarelawan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Malang, Jawa Timur. Ia gampang cemas dan panik. Ia pun kerap merasa tertekan batinnya.

Gangguan ini dialami Agustini sejak kecil. Tepatnya, sejak ditinggal sang ibu, almarhumah S Hermiani, ketika usianya baru menginjak 12 tahun. “Sejak ibu meninggal, saya sakit-sakitan, sampai berkeluarga saya juga sering sakit-sakitan, tapi saya tidak mengerti itu dampak dari depresi yang lama karena saya tidak pernah merasakan itu menjadi suatu gejala atau gangguan psikologis,” ujarnya.

Ia melewati semuanya sendirian. Jatuh bangun sendirian, begitu dia mengistilahkan. “Setiap saya mengalamai sakit tak ada bimbingan sehingga persoalan-persoalan hidup tidak bisa teratasi sendiri,'' ujar Agustini.

Beruntung, kemudian ia kenal dengan Prof Dr Moh Sholeh Mpd PNI, ahli terapi shalat tahajud yang juga Guru Besar IAIN Surabaya. Dengannya, ia mengaku banyak belajar bagaimana shalat khusyuk dan shalat tahajud. Ia pun mempraktikkannya secara rutin. Makin hari, ia terasa makin terikat batinnya dengan Sang Khalik. “Batin menjadi tenteram dan tidak merasa sendiri lagi,” ujarnya tentang manfaat tahajud.

Di tengah malam ia selalu bermohon kepada Allah. Ya Allah hari ini saya banyak persoalan, saya hanya manusia lemah, saya mohon kekuatan-Mu. ”Ternyata itu yang membuat saya makin tenang menjalani berbagai persoalan. Saya bisa lebih sabar, emosi saya bisa dikendalikan,'' ujarnya kepada Republika Senin (26/3).

Menurut dokter yang dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang jurusan Patologi Klinik ini, sudah beberapa tahun ini ia men-dawam-kan shalat tahajud. Ia juga tak segan untuk meresepkan tahajud kepada pasien-pasiennya. “Jadi apapun sakitnya sebaiknya dibantu dengan shalat tahajud, dengan memohon kesembuhan pada Allah. Meminum obat itu hanya satu sarana untuk menyembuhkan.

Ia mengaku kini makin hari hidupnya makin tenang. ''Alhamdulillah, dengan shalat tahajud rasanya hidup ini tidak ada sulitnya. Pasti ada solusinya yang langsung diberi oleh Allah SWT,'' ungkap ibu tiga anak ini.

Kebesaran Allah SWT kembali terbukti saat ia melaksanakan ibadah haji tahun 2002. Sejak berangkat dari Tanah Air, mantan kepala Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Kabupaten Malang ini merasa saat puncak pelaksanaan ibadah haji, kemungkinan besar dirinya sedang datang bulan. Apalagi dia adalah tipe wanita yang sikus haidnya selalu tepat.

Namun diluar dugaannya, ampai selesai wukuf di Padang Arafah, ia belum datang bulan. Padahal, ia tidak mengonsumsi obat-obatan apapun. “Alhamdulillah saya diberikan kemudahan, saya di sana tidak hidup dengan siklus yang sebenarnya. Bagi saya itu menjadi suatu keanehan yang luar biasa,” ujarnya. Maka seluruh sunah dan rukun haji dilaksanakannya tanpa hambatan.

Kejadian di Masjid Nabawi juga menambah keimanannya. Saat itu, dia jatuh sakit sehingga berpikir tidak akan bisa melakukan shalat Arbain. “Saya sudah pasrah karena badan saya demam, panas tinggi seperti terbakar. Bahkan saya merasa tidak bakal hidup lebih lama lagi,” ujarnya.

Ia duduk di pinggiran masjid, sampai kemudian datang seorang wanita tua yang membawa air zamzam di tangannya. Wanita itu mendoakannya dengan doa waktu Nabi Ibrahim dibakar oleh Raja Namrud dan membasuhnya dengan air itu. Ia juga diminta untuk melakukan shalat Tobat.

Ia pun bergerak untuk melakukan shalat. Di rakaat kedua, ia merasa badannya ringan. Usai shalat, ia merasa panas tubuhnya menurun. “Saya bahkan sempat membaca Alquran meskipun tajwid saya waktu itu tidak bagus,” ujarnya. “Subhanallah!” kata itu yang selalu keluar dari bibirnya jika mengingat kebesaran Allah yang dilimpahkan baginya.

2. Kisah pedang malam Al Fatih (Sang Pembuka)

Islam menaklukkan eropa, dipimpin oleh seorang pemuda yang sangat saleh, berusia 21 tahun. Namnya Muhammad Al Fatih kesuksesan hidup ia raih, dikenang jutaan manusia sepanjang abad. Harum nama Al Fatih berkat keshalehan, keberanian dan kemuliaan akhlaknya. Umurnya muda remaja semerbak wangi, 21 tahun. Sebagai jenderal beliau memimpin laskar islam menaklukkan benteng terkuat imperium Byzantium, Konstantinopel. Kota ini diubahnya menjadi kota Istambul. Dari sini beliau menebarkan kasih sayang islam di bumi eropa.

Jika saudara bertanya siapakah yang berjasa sehingga kini benih islam tumbuh di jantung eropa, seperti Bosnia Herzegovina, misalnya? Jawabanya, sejarah tak pernah melupakan jasa orang orang turki yang gagah berani. Diantaranya Muhammad Al Fatih yang baru berusia 21 tahun.

Apa rahasia dibalik semua kesuksesan beliau? Ternyata rahasianya beliau sangat kuat shalat malamnya yaitu tahajud. Bukankah Rosululloh SAW menegakkan shalat tahajud sepanjang malam dan setiap hari? Bukankah beliau Rosululloh SAW shalat tahajud merupakan kewajiban yang tak bisa beliau tinggalkan dalam setiap perjuanganya.

Jika sudara bertanya, apakah benar Muhammad Al Fatih sudah melakukan tindakan besar yang megubah sejarah peradaban dunia? Ya, dalam sejarah, hal ini tidak aneh. Bukankah sahabat Rosululloh SAW bernama Usamah juga menjadi panglima perang dalam usia 18 tahun. Sementara yang menjadi prajuritnya adalah Umar bin Khatab sahabat besar Rosululloh SAW. Ini menunjukkan betapa kualitas keimanan dan kekuatan ruhani Usamah menjadi salah satu ukuran yang dipertimbangkan Rosululloh SAW ketika menetapkan Usamah memimpin ekspedisi militer menghadapi kekuatan super power Romawi?

Bukankah dalam usia belasan tahun Usamah bin Ladin bergabung dengan Mujahidin Afganistan melawan super power Rusia. Bukankah dalam usia 17 tahun Ibnul Khatab, warga saudi arabia, (sebelum akhirnya menjadi komandan lapangan di ladang jihad Chechnya, dan menggapai syahid dalam usia 35 tahun April 2002) menerjunkan diri dengan teguh hati ke medan jihad Afghanistan dan mengurungkan niatnya melanjutkan kuliah di Universitas terkemuka di Amerika.

Namun Sang Pedang Malam, orang asia bernama Muhammad Al Fatih merontokkan super power Romawi pada 1453, agak unik. Beliau ahli shalat malam (tahajud), ahli qiyamul lail. Beliau selau kontak dengan energi terbesar di alam semesta ini, Allah SWT. Beliau selalu taqorrub, mendekatkan diri kepada Allah SWT, The Big Boss of Universe.

Sejak kecil Muhammad Al Fatih dididik oleh seorang wali. Beliau tumbuh menjadi remaja yang memiliki kepribadian unggul. Beliau jadi Sultan, dalam usia 19 tahun menggantikan sang ayah.

Bagaimana sifat Muhammad Al Fatih sehingga beliau mampu memetik keberhasilan dalam hidupnya dengan sangat efektif, merebut benteng Konstantinopel yang kokoh itu. “sifatnya tenang, berani, sabar menanggung penderitaan, tegas dalam membuat keputusan dan mempunyai kemampuan mengawasi diri (self control) yang luar biasa. Kemampuanya dalam memimpin dan mengatur pemerintahan sangat menonjol.”

Muhammad Al Fatih sangat tegas terhadap musuh. Namun, lembut qolbunya bagai selembar sutra dalam menghadapi rakyat yang dipimpinnya. Kebiasaan Sultan Muhammad Al Fatih, unik. Beliau selalu berkeliling di malam hari, memeriksa kondisi teman dan rakyatnya. Sengaja beliau berkeliling untuk memastikan agar rakyat dan kawan-kawanya menegakkan shalat malam dan qiyamullail.

Qiyamul lail, shalat tahajud, inilah senjata utama Muhammad Al Fatih dalam mengarungi kehidupan di dunia yang fana ini. Inilah Pedang Malam, yang selalu diasahnya dengan tulus ikhlas dan khusuk, ditegakkan setiap malam. Dengan pedang malam ini timbul energi yang luar biasa dari pasukan Muhammad Al Fatih. Sjarah mencatat Muhammad Al Fatih yang baru berusia 21 tahun berhasil menggapai sukses besar, menerobos benteng Konstantinopel, setelah dikepung beberapa bulan maka takluklah Konstantinopel.

Suatu hari timbul soal ketika pasukan islam hendak melaksanakan shalat jum’at yang pertama kali di kota itu. “Siapakah yang layak menjadi imam shalat jum’at?” tak ada jawaban. Tak ada yang berani yang menawarkan diri ! lalu Muhammad Al Fatih tegak berdiri. Beliau meminta kepada seluruh rakyatnya untuk bangun berdiri. Kemudian beliau bertanya. “ Siapakah diantara kalian yang sejak remaja, sejak akhil baligh hingga hari ini pernah meninggalkan meninggalkan shalat wajin lima waktu, silakan duduk!!” Subhanalloh……!!! Maha suci Allah ! tak seorangpun pasukan islam yang duduk. Semua tegak berdiri. Apa artinya? Itu berarti, tentara islam pimpinan Muhammad Al Fatih sejak masa remaja mereka hingga hari ini, tak seorangpun yang meninggalkan shalat fardhu. Tak sekalipun mereka melalaikan shalat fardhu. Luar biasa…..!!!!!!

Lalu Muhammad Al Fatih kembali bertanya: “ Siapa diantara kalian yang sejak baligh dahulu hingga hari ini pernah meninggalkan shalat sunah rowatib?kalau ada yang pernah meninggalkan shalat sunah sekali saja silakan duduk!!!”. Sebagian lainya segera duduk. Artinya, pasuka islam sejak remaja mereka ada yang teguh hati, tidak pernah meninggalkan shalat sunah setelah maghrib, dua roka’at sebelu shubuh dan shalat rowatib lainaya. Namun ada yang pernah meninggalkanya. Betapa kualitas karakter dan keimanan mereka sebagai muslim sungguh bernilai tinggi, sungguh jujur, pasukan islam Al Fatih.

Dengan mengedarkan matanya ke seluruh rakyat dan pasukanya Muammad Al Fatih kembali berseru lalu bertanya: “ Siapa diantara kalian yang sejak masa akhil baligh sampai hari ini pernah meninggalkan shalat tahajud di kesunyian malam? Yang pernah meninggalkan atau kosong satu malam saja, silakan duduk!!” apa yang terjadi…???? Terlukislah pemandangan yang menakjubkan sejarawan barat dan timur. Semua yang hadir dengan cepat duduk!!”Hanya ada seorang saja yang tetap tegak berdiri. Siapakah dia???dialah, Sultan Muhammad Al Fatih, sang penakluk benteng super power Byzantium Konstantinopel. Beliaulah yang pantas menjadi imam shalat jumat hari itu. Karena hanya Al Fatih seorang yang sejak remaja selalu mengisi butir-butir malam sunyinya dengan bersujud kepada Allah SWT, tak kosong semalampun.

Sejak abad kedelapan sahabat Rosululloh berusaha merebut benteng ini. Salah satunya Abu Ayyub Al Anshari namun gagal. Baru setelah enam abad kemudian benteng itu berhasil direbut dibawah pimpinan Muhammad Al Fatih.Karena jasanya inilah beliau diberi gelar Al Fatih (sang pembuka) yaitu membuka kota Byzantium yang dulunya adalah Konstantinopel. Beliau adalah seorang pemberani, ahli strategi militer, juga istiqomah dalam shalat tahajudnya.

Itulah sebuah kisah sejarah yang sungguh indah dalam bungkai ketakwaan kepada Allah SWT. Kisah Pedang Malam yang merupakan rahasia sukses dari seorang pribadi penggubah sejarah, bernama Muhammad Al Fatih, orang asia asal Turki, yang baru berusia 21 tahun. Shalat Tahajud merupakan modal yang sangat penting untuk membangun kekuatan ruhiyah dalam kesuksesan Al Fatih dikemudian hari. Sehingga islam jaya, berpendar-pendar cahayanya selama 500 tahun di bumi eropa sejak abad ke-15. Semuanya berasal dari Pedang Malam Al Fatih yang amat begitu luar biasa.

Maa syaaAllah, Luar biasa……Sultan Muhammad Al Fatih (Sang Pembuka)……!!!!

3. Catatn dari Sholat Tahajud

Ini kisah nyata yang dialami dan dituturkan temanku waktu halaqoh ahad kemarin. Namanya Syamsul. Beliau mempunyai seorang istri dan baru saja mempunyai seorang anak. Dua minggu sebelum kelahiran anaknya, Syamsul mengadu ke ustadz kami, mengutarakan masalah yang diderita istrinya. Posisi bayi dalam kandungan istrinya terbalik, sehingga pada saat lahir nanti harus lewat operasi cesar. Tentu saja operasi lewat cesar membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Syamsul berharap ustadz kami dapat membantu memberikan bantuan untuk biaya cesar tersebut.

Ustadz kami yang sudah sangat berpengalaman menghadapi masalah finansial yang dihadapi oleh mad’u (murid-muridnya), rekan-rekannya dan tetanga-tetangganya bersikap sangat tenang.

“Jangankan antum yang masih punya waktu dua minggu, dalam waktu 1×24 jam saja Allah mampu membalikkan apa yang manusia tidak mampu melakukannya. Antum jangan menempatkan saya di garis depan. Jadikanlah Allah di garis depan. Mintalah pertolongan Allah. Kalo antum mau meminta, Allah pasti mengabulkan. Kuncinya adalah shalat tahajjud (qiyamullail). Qiyamullail itu kondisi di mana Allah tidak akan menolak permintaan hambanya”


Nasihat ustadz kami ini seringkali diulang setiap halaqoh. Beliau banyak mencontohkan hal-hal yang tidak masuk akal yang dialaminya. Sampai akhirnya minggu kemarin, ustadz bertemu Syamsul saat halaqoh:

“Gimana kabarnya?” sapa ustadz saat bersalaman dengan Syamsul.

“Alhamdulillah.. sehat ustadz” jawab Syamsul.

“Gimana istrinya? Sudah melahirkan?”

“Alhamdulillah ustadz.. sudah kemarin di rumah sakit”

“Gak pake cesar, kan?”

“Alhamdulillah.. ustadz.. bisa lahir normal”

“Nah bener kan.. tahajjudnya berapa kali?”

“Setiap malam ustadz”

“Alhaamdulillah.. selamat ya.. Memang tahajjud itu bisa merubah apa yang tidak bisa di rubah oleh manusia”

“Benar sekali ustadz, dokter juga sampai kaget. kok bisa? wah ini bisa lahir tanpa cesar. Gitu katanya. Sehari sebelum melahirkan saya bawa ke dokter tempat biasa istri periksa. Dokter kaget dan terheran-heran, kok bisa poisisnya berubah 180 -360 derajat. Entahlah berapa derajat yang jelas waktu di cek dokter menyatakan bisa lahir normal. Pada saat ketuban pecah saya telpon dokter.. dokter langsung menyuruh di bawah kerumah sakit saja. Langsung saat itu saya bawa kerumah sakit… (ceritanya panjang dan saya gak bisa merekam semuanya)

…pada bukaan ke empat sudah dirangsang agar bayinya keluar. Tapi belum keluar juga. Sama dokter disuruh jalan-jalan dulu. saya bawa istri jalan-jalan…(cerita selanjutnya saya kurang paham soal bukaan-bukaan sampai bukaan ke-10 (?) apa itu?

…istri saya kesulitan melahirkan. Dokter rumah sakit bilang jika lima menit lagi tidak lahir juga, mau tidak mau harus operasi cesar, karena jika tidak, akan membahayakan janin. Saya terus membaca ayat-ayat Alquran. Kebetulan saya sedikit-dikit hafal surat Alwaqiah, (sebelumnya ustadz menganjurkan memperbanyak membaca Surat Alwaqiah-red) Alhamdulillah, saya ulang-ulang terus. Tepat pada menit kelima, saat itu adzan dzuhur, entah sedang bunyi hayya’alasshalah entah hayya’alal falah..saya gak ingat persis, soalnya udah gak konsentrasi lagi. Alhamdulillah istri bisa melahirkan. Pas jam 12.25 ..”

“Ya begitu. Allah sering memberikan pertolongan pada saat-saat kritis. Ibaratnya penalty.”

“Benar sekali ustadz….(Syamsul merinci biaya-biaya yang dikeluarkan untuk persalinan istrinya dan keajaiban lain - kalo saya sebut sbg pertolongan Allah-yang di alaminya di rumah sakit”

Banyak lagi yang dibicarakan. Ustadz mencontohkan kasus ikhwah lain dan Allah memberikan pertolongan dengan shalat tahajjud.

“Kalo kita sudah berusaha dan meminta sedemikian rupa namun tidak dikabulkan juga, berarti ada hikmah di balik itu. Mungkin Allah sedang menguji kita atau justru sedang menegur kita” terang ustadz.

4. Dari Catatan Sholat Tahajud

Siapa yang tidak ingin tampil cantik? Kecantikan merupakan merupakah satu hal yang sangat diinginkan oleh para wanita. Mereka para kaum Hawa itu banyak yang telah mencoba berbagai kiat, baik dengan menggunakan berbagai kosmetik, pemutih atau menggunakan lulur, ekstrak bengkoang dan lain-lain agar wajahnya putih alami dan berseri.

Terlepas dari keberhasilan semua trik-trik di atas yang notabene masih dipertanyakan terlebih lagi mengandung zat-zat kimia yang berbahaya, kenapa tidak menggunakan kiat yang satu ini?

Apa kiatnya? Yaitu shalat tahajjud di malam hari.

Berkata Imam Ibnul Qayyim, Sesungguhnya shalat malam itu dapat memberikan sinar yang tampak di wajah dan membaguskannya Ada sebagian istri yang memperbanyak pelaksanaan shalat malam. Ketika ditanyakan kepada mereka mengenai hal tersebut, mereka menjawab, Shalat malam itu dapat membaguskan wajah dan kami senang jika wajah kami menjadi lebih bagus.Demikian yang dituliskan oleh Mahmud Mahdi Al-Istanbuli di bukunya Kado Perkawinan halaman 312 ketika mengutip perkataan Ibnul Qayyim di buku Raudha Ath-Thalibin.

Perlu juga diingat bahwa kiat ini bukan cuma monopoli kaum Hawa saja, kaum Adam pun perlu juga menerapkannya.

5. Dari Catatan Sholat tahajud

Kaya dan Bahagia dengan Tahajud

Ternyata, memperoleh kekayaan tidak melulu melalui kerja keras. Namun, bisa diperoleh melalui keajaiban shalat tahajud. Yaitu, di samping melakukan tahajud dengan benar, khusyuk, ikhlas, dan dilakukan secara istiqamah, juga melakukan kontemplasi penuh secara integral pada diri dan kehidupan kita. Artinya, bahwa shalat tahajud merupakan sebuah syari’at dan media bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Yang mana, ketika shalat tahajud ini didirikan dengan sepenuh jiwa dan pikiran yang berlandaskan karena adanya keterpanggilan oleh Tuhan, memandang perbedaan sebagai peluang, mengambil manfaat dari kesulitan, menjunjung cita-cita yang luhur, melihat gambaran secara menyeluruh, menghargai kelebihan orang lain, memedulikan kepentingan orang lain, mencari jawaban-jawaban baru, menebarkan jaring seluas-luasnya, merasa percaya diri secara objektif, mengenali diri sendiri sedalam-dalamnya, dan menyambut kesempatan dengan antusias, akan diperoleh suatu kekuatan dan keajaiban yang besar bagi si pelaku tahajud.

Keajaiban ini, akan datang dengan sendirinya, di antaranya akan diperoleh kekayaan yang melimpah ruah dan kebahagiaan, selama kita melaksanakannya dengan mengikutsertakan hal-hal di atas sebagai bagian dari landasan bagaimana kita bertahajud.

Kenapa demikian? Penulis, M. Shodiq Mustika dan Rusdin S. Rauf mengungkapkan, sebab tahajud telah benar-benar terbukti memberikan efek kelapangan rezeki dan kebahagiaan sebagaimana diungkapkan oleh Rasulullah dalam salah satu hadits dan juga telah banyak dialami oleh hamba-hamba Allah yang taat melaksanakan shalat tahajud.

Dengan ungkapan yang membumi dan sangat menarik, penulis menjelaskan bagaimana kausalitas tahajud hingga mengakibatkan seseorang menjadi kaya dan bahagia. Kemudian, dari masing-masing pokok pikiran dan pembahasan, yaitu sebuah adaptasi terhadap dua belas prinsip transformasi yang diajukan oleh Danah Johar & Ian Marshall dalam buku Spiritual Capital, dijelaskan secara menyeluruh sampai ke sendi-sendi aspek tahajud, kekayaan, kebahagiaan, masalah, kesulitan, motivasi, dan lain sebaginya, berikut bagaimana kita bisa menarik benang merah di dalamnya.

Selain itu, di dalam buku “Keajaiban Shalat Tahajud” yang diterbitkan QultumMedia ini, kita akan mendapati betapa kita telah melalaikan suatu potensi, pasilitas, dan mutiara indah dalam hidup kita, yang mungkin saja di antaranya karena ketidaktahuan kita akan letak potensi, pasilitas, dan mutiara indah tersebut, yakni shalat tahajud ini. Padahal, andaikan semua orang mengetahuinya sejak dulu, niscaya mereka telah berebut untuk memperolehnya.

Raihlahlah keajaiban tahajud ini, niscaya akan kaya dan bahagia selamanya!

qultummedia.com
6. Ingin kebal ? Tahajud aja !
Salat tahajud membuat pelakunya mendapat tempat istimewa di hadapan Allah. Selain itu, juga bermanfaat bagi kesehatan raga karena dapat meningkatkan kekebalan tubuh dan mengusir penyakit.

Pernahkah Anda berpikir kenapa setiap kali kita mesti berdoa?

Ada yang menjawab ini adalah kewajiban kita sebagai ciptaan Tuhan. Ada juga yang menjawab ini sudah tersurat dalam kita suci. Masih banyak lagi rasionalisasi bila dikaji.

Apa yang kita anggap tanggung jawab dan kewajiban itu memberi pengaruh positif terutama untuk kejiwaan kita. Anda mungkin tidak sadar kalau kepatuhan-kepatuhan kita terhadap ritual keagamaan, semisal salat serta bentuk ritual lainnya, juga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Ambil contoh salat tahajud. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan dosen Fakultas Tarbiyah dan Guru Besar Program Pascasarjana di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya, Prof. Dr. Mohammad Sholeh, M.Pd, PNI, salat tahajud yang dijalankan dengan gerakan tepat. rutin, dan tentu saja tulus ikhlas, bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Prof. Sholeh yang dihubungi lewat telepon menyebutkan, penelitian yang dilakukannya di tahun 2000 selama satu semester ini dalam rangka menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Airlangga. Surabaya.

“Jadi ini demi sebuah disertasi,” tutur bapak dua anak ini. Disertasinya berjudul: "Pengaruh Salat Tahajud Terhadap Peningkatan Perubahan Respon Ketahanan Tubuh Imunologik: Suatu Pendekatan Psikoneuroimunologi."

Pertolongan Allah

Bagi kaum muslim, salat tahajud bukan wajib. Karenanya tidak banyak yang melakukan sembahyang ini sampai berhari-hari dan terus menerus.

Dalam riwayat Abu Daud dan At Turmudzy diceritakan, Ali RA, pernah berkata. “Salat witir itu tidak diharuskan sebagaimana salat fardu, tetapi Rasulullah SAW selalu mengerjakannya serta bersabda, “Sesungguhnya Allah itu witir (ganjil, yakni esa) dan suka pada witir, maka salat witirlah kamu sekalian wahai Ahlul Quran” (kitab Riyadlus Shalihin).

Kebiasaan menyepi di waktu malam ini bermula ketika menjelang kenabian Muhammad SAW. Waktu itu Muhammad sedang gundah gulana, menyepi di gua Hira. Sebagai seorang yang saleh dan berhati bersih, pria tengah baya ini merasakan betapa mundurnya kehidupan moral di Mekah waktu itu.

Perbudakan, perampokan, penindasan terhadap wanita, dan segala keburukan lain membuat hidup menjadi tidak menyenangkan. Mau apa aku ini? Itulah pertanyaan yang muncul dalam dirinya.

Suatu malam, Muhammad menyendiri dan merenungkan semua hal yang menimpa diri dan tanah kelahirannya. Tengah malam sampai menjelang pagi, Muhammad merasakan benar-benar kesedihan yang mendalam sekaligus berpasrah pada Sang Pencipta atas diri dan tanah kelahirannya.

Saat itulah, kemudian muncul pesan dari Malaikat Jibril yang sampai sekarang dikenal sebagal wahyu pertama dalam Alquran. Nabi sering menyendiri di malam hari ini merupakan kegiatan yang intinya mau mengatakan bahwa dirinya hanyalah manusia biasa. Tiada yang dapat dilakukannya tanpa pertolongan dari Allah. Kegiatan menyendiri yang diberi bentuk salat di kemudian hari ini lalu biasa dilakukan para pengikut Nabi, tatkala mengalami berbagai persoalan yang dirasa sangat berat. Namun, selama waktu itu, sejak kewajiban salat ini muncul sampai satu dekade terakhir ini, tidak banyak yang tahu bahkan kaum muslim sekalipun, apa sebenarnya yang terjadi ketika mereka melakukan tahajud.

Memang banyak ulama menyebutkan kalau salat bisa memperbaiki aklak, tetapi bagaimanakah semua itu berlangsung?

Inilah yang mendorong Prof. Sholeh melakukan penelitian mengenai salat tahajud.

Teliti 51 Siswa SMU

Pria jebolan Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri ini di tahun 2000 meneliti sekitar 51 siswa SMU Luqman Hakim, Pondok Pesantren Hidayatullah, Surabaya.

“Saya minta mereka melakukan salat tahajud selama dua bulan penuh setiap hari,” ungkap pria yang menyelesaikan S2 pada bidang psikologi konseling di IKIP Malang ini.

Responden mengambil jumlah rakaat yang tidak terlalu banyák yaitu 8 rakaat, dengan 2 rakaat salam. Kemudian ditambah salat witir 3 rakaat atau 1 rakaat. Semua responden mesti menjalankan salat pada pukul 02.00 sampal 03.30. seperti dicontohkan oleh Rasulullah.

Tentu tidak semua berhasil, sehingga 51 siswa yang diteliti ini akan dipilah lagi. “Mereka yang tidak pernah mengkuti senam pernapasan, tidak pernah ikut toriqoh (zikir), dan tidak pernah melakukan tahajud, saya masukkan dalam kelompok sendiri untuk dilihat lebih lanjut hasilnya,” papar Prof. Sholeh.

Ternyata dari 51 siswa, 23 orang hanya sanggup bertahan menjalankan salat tahajud selama
sebulan. Peserta yang tidak memenuhi syarat dengan alasan misalnya salatnya tidak lengkap sampai dua bulan, meski bisa melampaui sebulan penuh atau tidak sampai sebulan, minum obat kortikosteroid, melakukan hal-hal lain selain tahajud yang memengaruhi sistem tubuh misalnya zikir, dijadikan kelompok sendiri.

Sampai akhirnya, tinggal 19 siswa yang sanggup bertahan melakukan salat tahajud selama dua bulan. Jadi ada dua kelompok. Mereka yang berhasil sampai dua bulan tanpa tambahan kegiatan lain dan mereka yang tidak selesai salat sampal dua bulan.

Ke-19 orang ini menurut Prof. Sholeh mengalami perubahan secara mendasar. “Mereka yang menjalani salat dengan tulus ikhlas, penuh dua bulan, gerakannya tepat, kekebalan tubuhnya meningkat,” katanya.

Sementara yang tidak, perubahan secara berarti dari segi fisik maupun psikis tidak terlihat. Meningkatnya kekebalan tubuh inilah yang memungkinkan seseorang akan sulit kena penyakit, dari infeksi sampai kanker.

Setidaknya ada beberapa parameter yang diukur Prof. Sholeh di tiga laboratorium (Klinik Prodia, dan Paramita) di Surabaya, untuk membuat kesimpulan ini. Dengan mengukur kadar hormon kortisol (glukokortikoid alami utama yang dikeluarkan korteks adrenal. Zat ini memengaruhi metabolisme glukosa, protein, dan lemak) bisa diketahui apakah seseorang mengalami stres atau tidak.

Pada mereka yang berhasil melakukan salat tahajud sampai dua bulan, hormon ini meningkat. Ini pertanda orang tersebut ikhlas dan tidak stres,” katanya. Meningkatnya hormon ini akan disertai dengan meningkatnya kandungan serotonin, epinefrin, dan endorfin. Hormon-hormon inilah yang membuat kita merasa tenang dan tenteram.

Sebaliknya, tingkat acetylcholine pada ke-19 orang ini menurun. Acetylcholine adalah ester asam asetat dari kolin yang berfungsi sebagai neurotransmitter atau bahan kimia yang berfungsi menyampaikan pesan dari sel saraf yang satu ke sel saraf yang lain.

“Bila bahan kimia ini meningkat, itu tandanya orang lagi stres. Akibat lanjutannya orang akan mudah marah, cemas, dan khawatir’ tuturnya. Stres juga ditandai oleh meningkatnya kandungan vasopressin atau hormon yang dikeluarkan hipotalamus (bagian otak).

“Bila tingkat vasopressin tinggi dan menumpuk terus-menerus, daya tahan tubuh orang akan menurun. Orang akan mudah kena kanker. “Dengan sendirinya berbagai sistem imun yang ada di tubuh seperti makrofag, basofil, monosit, dan lainnya tidak akan terproduksi,” katanya.

Dirikanlah Salat

Jadi, sekarang kalau orang bicara bahwa salat bisa memperbaiki tingkat moral seseorang, ada alasan yang bisa dikemukakan secara ilmiah.

Dengan salat yang benar, dijalani tulus dan pasrah, serta rutin akan membuat fisik maupun psiki menjadi sehat.

Ketenangan hati, pikiran, dan ketenteraman jiwa akan menjadi status dasar mereka yang rajin salat. Orang bisa berpikir logis, matang, dan benar-benar masuk akal. Orang menjadi tahu diri dan tidak seenaknya. Selain itu, penyakit fisik akan enggan mampir ke tubuh mereka yang rajin salat karena sistem kekebalan tubuh meningkat pesat.

Jadi, salat tak hanya membuat manusia mendapatkan tempat (maqam) terpuji di sisi Allah, melainkan juga membuat sehat lahir batin. Kalau begitu, dirikan salat!

Sumber: Kompas Cyber Media
11.07 | 0 komentar | Read More

Sebuah Renungan Diakhir Tahun, Mau Dibawa Ke Manakah Kehidupan Kita?

Hari ini saya baru saja pulang dari sebuah acara malam bina iman taqwa (MABIT) akhir tahun di Masjid Ukhuwah Islamiyah, Universitas Indonesia. Acaranya berlangsung selama 2 hari, dari tanggal 26 – 27 Desember 2015. Walaupun hanya 2 hari, namun begitu banyak pembelajaran yang saya dapatkan di sana. Berkali – kali, saya merasa diri saya tertampar oleh pemaparan materi dari para pembicara. Begitu selesai mengikuti acara MABIT ini, tangan ini terasa gatal sekali ingin segera menuliskannya di blog.
Kali ini saya ingin menyampaikan kembali apa yang saya terima dari Ust. Legisan Sugimin, salah satu pemateri di acara MABIT tersebut. Saya sudah mengetahui beliau sejak lama, karena beliau adalah salah seorang trainer utama di ESQ. Dulu, sewaktu awal – awal saya berlatih menjadi trainer, ESQ lah yang banyak membantu saya terutama tentang pembinaan mental dan karakter. Tidak disangka, setelah sekian tahun tidak berjumpa, saya menjumpai beliau di MABIT kali ini.
Apa yang beliau sampaikan sebenarnya adalah sebuah renungan sederhana. Beliau tidak membawakan materi layaknya training ESQ pada umumnya. Waktu pemaparannya pun singkat, hanya 30 – 40 menit. Namun, bagi saya sendiri, apa yang disampaikannya membuat saya mengingat lagi akan apa itu arti dari eksistensi manusia. Ust. Legisan membawakan materi renungan dengan topik : “Mau Dibawa Ke Mana Kehidupan Kita?”

Apa Hal yang Seringkali Paling Kita Rindukan Saat kita Merantau?

Itulah pertanyaan pertama yang dilontarkan ust Legisan kepada saya, dan kepada seluruh audience yang hadir pada waktu itu. Tentu saja serentak kami para audience menjawab : “Kami RINDU PULANG!”. Teringat waktu itu saya meninggalkan istri di rumah sendirian dalam keadaan sakit untuk ikut mabit. Namun, mungkin tidak seberapa dibandingkan dengan peserta lain yang datang dari jauh atau adalah seorang perantau yang jauh dari kampung halamannya.
Tentu saja, ketika kita pergi merantau maka hal yang paling kita rindukan adalah pulang. Saat sekolah atau kuliah saja, jika jam pelajaran sudah habis, kita akan senang sekali karena sudah waktunya untuk pulang.
Tetapi, inilah pertanyaan yang membuat hati saya bergetar.
“Jika kesempatan hidup yang diberikan Allah SWT ini diibaratkan dengan merantau, siapakah di antara kalian yang rindu untuk pulang kembali kepadaNya?”
Sontak mendapatkan pertanyaan ini saya jadi terdiam. Sungguh, nyaris sepanjang hidup saya yang sudah puluhan tahun, sedikit sekali, jarang, atau mungkin tidak pernah terbesit keinginan untuk pulang kepada Allah. Padahal, seperti yang kita tahu, pada hakikatnya kehidupan manusia adalah sementara dan semua manusia pasti akan pulang kembali kepadaNya.
Mengapa ya, saya kok tidak terbesit kerinduan untuk pulang? Mengapa tidak terbesit keinginan untuk bertemu Allah dan RasulNya?
Mengapa kok justru ‘kepulangan’ menjadi sebuah hal yang menakutkan dan selalu ingin sebisa mungkin ditunda waktunya?
Apakah karena kita lupa asal usul kita? Apakah karena kita lupa bahwa kampung kita dulu adalah di akhirat sana? Apakah kita lupa bahwa Allah SWT Tuhan kita?
Semua renungan yang membuat saya berpikir…. dan diingatkan kembali bahwa sebenarnya kehidupan ini adalah sebuah perjalanan untuk mempersiapkan bekal untuk pulang. Saya semakin merinding saat ternyata ‘waktu kepulangan’ kita itu tidak ada yang tahu. Saya melihat banyak teman – teman seangkatan saya yang sudah mendahului saya untuk pulang. Saya jadi membayangkan, jika saya ‘pulang’ saat ini ke hadapan Allah, sudahkah saya siap mempertanggungjawabkan apa yang saya lakukan di dunia?
Saya mengibaratkan saat ini Allah menitipkan sebuah truk kontener kosong kepada kita. Tinggal keputusan kitalah ingin membawa truk kontener ini kembali seperti apa. Apakah ingin kembali dengan muatan yang baik (amal pahala)? Ingin mengembalikan truk kontener yang kosong melompong,  atau ingin dipenuhi dengan muatan – muatan yang merusak kontener tersebut (dosa/kelalaian)?
Semua orang pasti akan pulang, hanya saja tinggal bagaimana nantinya manusia membawa hidupnya ke arah mana.

Ingin Hidup Seperti Lalat atau Hidup Seperti Lebah?

Karena kita semua sudah sadar bahwa kehidupan ini adalah untuk mencari bekal untuk pulang, tinggal kita pilih ingin membawa kehidupan kita seperti apa. Apakah ingin seperti lalat, atau seperti lebah?
Lalat, identik sebagai sebuah makhluk yang dekat dengan penyakit dan kotoran. Dia senang berkumpul di daerah sampah, atau hal – hal yang busuk atau berbau. Tidak hanya itu, yang dihasilkan lalat pun adalah penyakit apabila ada bakteri atau kotoran yang dibawanya. Sementara lebah, identik dengan kecerdasan dan manfaat. Dia berkumpul dan mengambil sesuatu yang baik (nektar bunga), untuk kemudian menghasilkan sesuatu yang baik pula (madu).
Saya jadi merenungi kehidupan saya sendiri. Selama ini, saya identik ke yang mana ya? Apakah saya hidup seperti lalat? atau saya hidup seperti lebah?
Apakah selama ini saya sudah dikelilingi oleh orang – orang baik, menyerap ilmu yang baik?
Atau, selama ini waktu saya dihabiskan untuk berkumpul bersama orang – orang yang tidak membuat saya maju? Atau, saya menghabiskan waktu untuk menyerap informasi yang tidak berguna?
Sungguh, jika bisa, saya ingin mengamalkan filosofi hidup lebah dalam diri saya.
Dia datang dari satu bunga ke bunga yang lain, lalu membuat sarang dan menghasilkan madu.
Begitu pula dengan seseorang yang datang dari satu guru ke guru yang lain, kemudian menghasilkan sesuatu yang bisa memberikan manfaat kepada orang lainnya.
Saya harap, tulisan singkat ini bisa menjadi ‘setetes madu’ yang saya hasilkan untuk Anda nikmati manisnya, dan blog ini merupakan sarang madunya ^^.
Rindukah Anda untuk pulang?
Apapun profesi Anda saat ini, entah pelajar, mahasiswa, pemimpin, entrepreneur, pengusaha, atau profesional sekalipun. Ujung – ujungnya pertanyaan inilah yang harus dijawab : Mau dibawa ke manakah hidup Anda setelah ini? Ingin hidup seperti lebah? atau hidup seperti lalat?
Andalah yang menentukan.
Salam CerdasMulia,
Arry Rahmawan
Founder CerdasMulia Institute
http://arryrahmawan.net/mau-dibawa-ke-manakah-kehidupan-kita-renungan-akhir-tahun/
11.01 | 0 komentar | Read More
Sebuah mobil Ferrari terbaru berwarna merah menyala dengan atap terbuka, melintas cepat di salah satu jalan protokol Jakarta. Meninggalkan beberapa orang di belakangnya yang terkagum-kagum dengan mulut menganga. Setelah menyalip beberapa kendaraan dengan kecepatan luar biasa, mobil Ferrarri itu berhenti di depan sebuah gedung ternama. Sesosok lelaki paruh baya keluar dengan sepenuh jumawa, mengenakan kacamata hitam dan mendongakkan kepala. Bangga betul ia sepertinya. Mengerling sepenuh bangga dengan orang-orang di sekitarnya. Mengelus-elus kap depan mobilnya yang berkilau dengan sepenuh cinta. Beberapa orang yang terlihat tertarik hanya berani mengamati dengan lirikan mata. Sementara beberapa orang yang merasa risih hanya melengos dan memalingkan muka. Adegan masih belum paripurna. Seorang perempuan cantik dengan rambut panjang ikal tergerai melenggang anggun dengan gaun merah muda. Mendekati mobil Ferrarri merah menyala dan pria paruh baya yang tengah berjumawa. Aih, tak adil betul dunia sepertinya. Begitu orang-orang di sekitarnya menggumam dalam durja. Sudah kaya raya, punya permaisuri cantik pula. Apalagi yang kurang dari kehidupannya? Dalam diam orang-orang mulai membersit perasaan iri dalam jiwa, mulai melempar tanya kepada Yang Kuasa: O, Tuhan. Betapa tak adilnya kau ciptakan dunia? Orang-orang masih saja mengamati dengan iri hati melalui sudut mata, hingga akhirnya…
“Mang Jupri, ngapain di sana? Ayo, buruan, saya harus segera ke bandara.”
“oh, baik, baik nyonya. Maaf, maaf. Segera memenuhi panggilan nyonya.”
Maka tak lebih dari satu menit mobil Ferrarri merah menyala yang mencuri perhatian itu lenyap dari pandangan mata. Meninggalkan orang-orang di sekitarnya yang mengulum senyuman sarkas sembari menahan tawa.

Ilustrasi kisah di atas bisa menimbulkan reaksi yang berbagai rupa pada orang-orang yang berbeda. Namun bagi saya pribadi, saya sering menggunakan kisah dan imajinasi seperti di atas setiap kali rasa bangga dan sombong mulai menghinggapi hati. Jika kita melihat dari kacamata orang-orang sekitar memandang Jupri, bukankah apa yang ia lakukan sesungguhnya adalah hal yang sangat konyol, tidak pantas, dan justru membuat geli? Ia jumawa dan berbangga hati atas mobil Ferrari yang ia kendarai, namun sesungguhnya mobil tersebut bahkan bukan miliknya pribadi. Ia yang sebenarnya hanya berstatus sebagai seorang ‘supir’ sebuah mobil Ferrarri, dan bukannya pemilik asli.
Bukankah kita akan merasa bahwa perbuatan tersebut menjadi teramat lucu? Efek yang ditimbulkan di akhir bukanlah perasaan iri maupun dengki, namun merasa kasihan dan justru malah merendahkan. Belagu. Jika kita menyebutnya dengan istilah anak muda zama sekarang. Memang, jika dilihat dari segi kepatutan, tidak pantas bila seseorang berbangga dan bersombong ria atas sesuatu yang sesungguhnya bukan milik kita.
Sejujurnya, saya menuliskan ini dengan tujuan sebagai pengingat bagi diri sendiri, bahwasanya sesungguhnya posisi saya di dalam panggung sandiwara dunia ini tak lebih atau bahkan justru lebih rendah daripada Jupri, Si Sopir Ferrarri. Saya merasa, bahwa segala apa yang saya raih, saya dapatkan, dan saya gunakan hingga saat ini adalah berkat kebaikan dan kasih sayang Allah, Tuhan Pemilik Seluruh Alam. Bahwa sesungguhnya semua yang ada di sekitar saya: tubuh saya, wajah saya, orang tua saya, keluarga saya, sahabat-sahabat saya, pencapaian-pencapaian saya, ilmu-ilmu saya, harta saya, dan lain sebagainya, pada hakikatnya hanyalah sebuah “pinjaman” yang diberikan Allah dengan sepenuh kasih sayang dan kebaikan. Layaknya ketika kita memberikan pinjaman kepada orang lain, maka ada beberapa hukum yang berlaku di dalamnya:
  1. Barang pinjaman berarti amanah. Menjaganya dengan baik adalah sebuah kewajiban. Jika kita meminjamkan barang kepada seseorang dan barang tersebut kembali dalam keadaan rusak, kita akan kesal bukan? Maka begitu pulalah kewajiban kita sebagai manusia untuk menjaga segala nikmat yang telah dipinjamkan kepada kita..
  2. Barang pinjaman sebaiknya dipergunakan dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin. Masih menggunakan analogi yang sama, misalkan jika kita meminjamkan sebuah buku kepada seorang teman. Kita akan jauh lebih senang jika buku tersebut dibaca dan bermanfaat bagi peminjam, daripada tergeletak berdebu di sudut ruangan. Terlebih lagi jika manfaat yang didapatkan si peminjam kemudian disebarkan ke orang-orang lainnya. Maka akan semakin berbahagialah diri kita.
  3. Barang pinjaman dapat diminta kembali sewaktu-waktu, sesuai dengan keinginan pemiliknya. Sebagai pihak yang dipinjami, kita tidak boleh protes, ketika Sang Pemilik membutuhkannya atau memintanya kembali. Begitu pula dengan berbagai hal yang kita pakai saat ini, ataupun orang-orang terdekat yang kita kasihi.
Pada intinya, pinjaman berarti sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan kepada Sang Pemilik. Maka, sesungguhnya setiap hal yang berada di sekitar kita, baik itu berupa harta, jabatan, kesempatan, ilmu, prestasi, tubuh, panca indra, kata-kata, kesempatan, waktu, keluarga, sahabat, sanak saudara, dan segala hal-hal terkecil yang meliputi diri kita, adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawabannya.
“Tiap-tiap diri bertanggungjwab atas apa yang telah diperbuatnya.” (Al Mudatsir :38)
Jika melihat dari sudut pandang bahwa hidup sesungguhnya adalah sebuah pinjaman, maka tidak sepatutnya kita merasa sombong dengan apa yang kita miliki, iri dengan apa yang orang lain miliki, atau terlebih lagi, merendahkan orang lain atas apa yang tidak mereka miliki. Analoginya begini. Jika kite semua sama-sama seorang pembantu rumah tangga, saya diberi tempat bekerja sebuah rumah mewah yang bagus dan teman saya diberi tempat bekerja sebuah rumah joglo sederhana di pinggiran desa, apakah kemudian kedudukan saya akan menjadi lebih tinggi dari teman saya? Tentu saja tidak. Karena kami berdua sama-sama seorang pembantu rumah tangga. Justru mungkin saja, teman saya yang hidup di rumah joglo sederhana di pinggiran desa gajinya malah lebih besar dan kehidupannya lebih bahagia daripada saya, karena majikan saya sangat galak dan suka membentak misalnya. Tak ada yang menjamin, bahwa ketika “pinjaman” yang diberikan kepada orang lain lebih baik dari kita, maka dirinya menjadi lebih mulia di mata Sang Peminjam. 
Saya seringkali merenungkan hal ini ketika sedang berada di perjalanan ataupun angkutan umum. Saya seringkali berandai-andai, bagaimana jika saya tidak terlahir di keluarga saya yang sekarang? Bagaimana jika saya misalnya, terlahir dari Rahim seorang pengemis di tepi jalan, atau misalnya saya terlahir dari keluarga seorang supir metromini? Apakah saya akan menjadi seperti saya yang sekarang? Dengan segala macam kenikmatan dan anugerah yang diberikan? Akankah saya begitu mencintai Tuhan? Ataukah saya justru akan berpaling dan berbalik ke belakang menuju kekafiran dan kemunafikan? Jujur saja, saya tidak tahu. Karena kehidupan yang saya jalani sejauh ini adalah kehidupan saya, bukan kehidupan orang-orang yang saya amati di sekitar saya. Saya tidak tahu bagaimana rasanya menjadi mereka, ataupun bagaimana saya akan memandang kehidupan dari sudut pandang mereka.
Mengingat hal ini, maka saya pun memilih untuk semakin banyak bersyukur dan banyak merenungi firman Allah yang paling saya sukai,
“Maka Nikmat Tuhanmu Yang Manakah Yang Kamu Dustakan?” (Ar-Rahman 55:55).
Bentuk rasa syukur ini pun bermacam-macam, mulai dari tidak mengeluhkan setiap hal yang terjadi tidak sesuai keinginan, menerima dengan sepenuh keikhlasan atas apa yang diberikan, memberi dan berbagi kebahagiaan, menjaga apa yang sudah dimiliki, hingga memberikan kebermanfaatan terbaik dari setiap potensi yang dianugerahkan kepada diri.
Terakhir, sebagai penutup dari tulisan ini, saya menuliskan ini bukan berarti bahwa saya sudah baik dan sudah mengamalkan sepenuhnya hal-hal yang saya ceritakan di atas. Saya hanya ingin berbagi hasil pemikiran dan kontemplasi saya pribadi, yang semoga bisa bermanfaat bagi siapapun yang meluangkan waktu untuk membaca catatan kecil ini. Saya pribadi pun sejujurnya masih jauh panggang dari api dalam melaksanakan hal-hal yang saya sampaikan. Namun, saya berharap bahwa tulisan ini bisa menjadi pengingat bagi diri saya sendiri, sekaligus memotivasi diri untuk terus menjadi lebih baik lagi. 

https://www.selasar.com/kreatif/hakikat-kehidupan-sekumpulan-pinjaman-yang-harus-dikembalikan
07.34 | 0 komentar | Read More

BACA JUGA

DAFTAR LENGKAP ARTIKEL BLOG BAGINDAERY

Ikuti situs Bagindaery

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...