putrahermanto.wordpress.com
Rumah Gadang
REPUBLIKA.CO.ID, PADANG --
Berdasarkan hasil hitung cepat sementara (quick count) sejumlah lembaga
survei, pasangan nomor urut satu Prabowo Subianto-Hatta Rajasa menang
telak di Sumatra Barat. Bahkan, Sumatra Barat menjadi lumbung suara
terbanyak dari provinsi lainnya yang dimenangkan pasangan tersebut.
Pengamat politik dari Universitas Negeri Padang (UNP) Nora Eka Putri
menilai ada banyak faktor yang menyebabkan Prabowo-Hatta meraih suara
terbanyak di Sumatra Barat. Pertama, solidnya kerja tim sukses
partai-partai pendukung Koalisi Merah Putih yang mengusung
Prabowo-Hatta.
"Jajaran tim sukses diisi oleh elite-elite penguasa. Mulai dari
gubernur hingga ke kepala daerah tingkat kabupaten/kota," kata Nora saat
dihubungi
Republika, Senin (14/7).
Menurut Nora, hampir semua kepala-kepala daerah di Sumatra Barat
berasal dari partai pendukung koalisi merah putih seperti PKS, Golkar,
dan Demokrat.
Sebaliknya, partai pendukung Jokowi-JK seperti PDIP dan PKB sudah
sejak lama tidak pernah mendapatkan suara yang banyak di Tanah Minang
tersebut baik dalam pemilu legislatif maupun presiden.
Kedua, lanjut Nora, warga Sumatra Barat adalah pemilih rasional yang
sulit tertipu oleh pencitraan yang dilakukan capres. Mereka memilih
pemimpin itu selain berdasarkan ketokohannya, juga berdasarkan
kualitasnya.
"Jadi citra Jokowi yang dinilai sebagai pemimpin sederhana itu tak
mempan bagi warga Sumbar. Mereka memilih pemimpin berdasarkan visi,
misi, dan kinerjanya," ujar staf pengajar Ilmu Politik UNP tersebut.
Tayangan televisi yang menyiarkan secara langsun acara debat
capres-cawapres sangat membantu tingkat rasionalitas warga Sumatra
Barat. Mereka bisa menilai para kandidat itu berdasaekan visi dan
misinya.
"Selain itu, katakanlah JK memiliki kedekatan dengan warga Sumatra
Barat karena istrinya berasal dari Kabupaten Tanah Datar, tapi kedekatan
ini tak berpengaruh. Karena pemilih di Sumatra Barat sangat rasional.
Di kabupaten tersebut saja JK kalah," tambah Nora.
Ketiga, psikologis warga Sumatra Barat yang budayanya terkenal
religius. Menurut Nora, pernyataan kubu Jokowi-JK yang akan menghapus
perda bernuansa syariah di setiap daerah jika menjadi presiden, kecuali
Aceh, membuat masyarakat Sumatra Barat berpikir panjang jika harus
memilih Jokowi-JK.
Karena, kebanyakan tingkat pemerintahan daerah di Sumatra Barat
menerapkan perda syariah tersebut dan didukung oleh masyarakat. Karena,
falsafah adat Minangkabau di Sumatra Barat yakni "Adat Basandi Syarak,
Syarak Basandi Kitabullah", sangat diresapi oleh warga.
Keempat, faktor sejarah PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik
Indonesia) dan Masyumi. Menurut Nora, warga Sumatra Barat masih
memiliki emosional yang kuat jika mengingat hubungan antara PRRI dan
pusat di masa lalu.
Di mana, Sumatra Barat yang pada waktu era Presiden Sukarno, menjadi
basis massa Masyumi mendukung PRRI. Sedangkan pada waktu itu Sukarno
terkait erat dengan penumpasan PRRI yang menjadi catatan kelam sejarah
Sumbar.
"Bung Karno itu kan terkait dengan PNI dan pada akhirnya juga
berkaitan dengan PDIP sebagai partai pengusung utama Jokowi," kata Nora.
Apalagi, ayah Prabowo yakni Sumitro Djodjohadikusumo juga sebagai
tokoh pendukung PRRI pada waktu itu. Sehingga, hal ini sedikit banyaknya
memiliki pengaruh bagi pemilih di Sumatra Barat untuk mendukung
Prabowo.
Seperti diketahui, Pasangan Prabowo-Hatta menang telak di Sumatera
Barat dalam pemilihan presiden (pilpres), Rabu (9/7). Versi real qount
PKS, suara Prabowo-Hatta 78,53 persen dan Jokowi-JK 21,47 persen.
Sedangkan hitung cepat (quick count) RRI, Koalisi Merah Putih meraih
kemenangan 78,06 persen. Persentase tertinggi kemenangan Prabowo-Hatta
di Sumatera Barat.
Persentase kemenangan Koalisi Merah Putih itu tertingga diraih di
Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) dengan torehan 78,06 persen. Adapun,
kemenangan Jokowi-JK tertinggi didapat di Sulawesi Barat *Sulbar) dengan
koleksi 82,54 persen
Sementara itu Ketua Tim Kampanye Daerah Jokowi-JK Sumatra Barat Alex
Indra Lukman menyatakan, kalahanya pasangan Jokowi-JK di Sumatra Barat
tidak masalah.
"Memang untuk Sumatra Barat capres-cawapres kami kalah suara, tapi
secara nasional kami menang. Dan perlu diketahui bahwa pencoblosan yang
dilakukan masyarakat Sumbar pada siang tadi adalah pemilihan pilpres,
bukan pilgub atau pileg," katanya, Kamis (10/7).