ARTIKEL PILIHAN

GOOGLE TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

ARTIKEL PILIHAN

Tujuh golongan yg akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya di hari tdk ada naungan kecuali naungan-Nya.

Written By Situs Baginda Ery (New) on Sabtu, 10 Agustus 2013 | 20.31


Teringat tatkala khatib jumat lalu berkhutbah, yang diantara khutbah jumatnya berisikan hal-hal yang mengarahkan kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Berikut kesimpulan singkat yang diperoleh tentang tujuh golongan manusia yang Insya Allah akan mendapatkan naungan Allah SWT di hari akhir nanti.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tujuh golongan manusia yang akan diberi perlindungan oleh Allah SWT dalam naunganNya di hari yang tiada naungan melainkan hanya perlindungan Allah yaitu: seorang imam (pemimpin) yang adil, fata (pemuda) yang senantiasa beribadah kepada Allah, rijal (lelaki) yang hatinya sentiasa terpaut dengan masjid, dua orang yang saling cinta mencintai karena Allah di mana keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, seorang lelaki yang diajak oleh wanita rupawan serta berkedudukan tinggi untuk melakukan zina, lalu ia menjawab: “aku takut kepada Allah”, seseorang yang bersedekah dengan sesuatu sedekah lalu menyembunyikan sedekahnya itu sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dibelanjakan oleh tangan kanannya, seseorang yang mengingati Allah di tempat yang sunyi lalu mengalir air matanya. ”(Riwayat Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Tujuh golongan yang akan mendapat naungan dari Allah SWT di hari dimana tidak ada naungan kecuali hanya dari naunganNya yakni:

1. Pemimpin yang adil

Pemimpin disini bisa presiden, kepala keluarga, imam shalat, bahkan pemimpin untuk dirinya sendri. Contoh, untuk imam shalat, yang dimaksud imam yang adil adalah tidak membeda-bedakan saat ia sholat sendiri maupun sedang mengimami jamaahnya. Hal ini diartikan untuk bersikap rata dan adil dalam tingkat kekhusyuan shalatnya dan tidak membeda-bedakan panjang pendeknya surat yang dibaca. Sehingga akan terhindar pula dari sifat ria dan ingin dipuji akan setiap amal yang dilakukannya. Maka, memohon dan berlindunglah pula kepada Allah akan buruknya sifat ria yang terkadang dilakukan di luar batas sadar kita.
2. Pemuda yang senantiasa beribadah kepada Allah semasa hidupnya

Anak muda yang shalih. Memang ujian pada masa muda itu sangat beragam dan dahsyat. Oleh sebab itu, apabila ada anak muda yang mampu melewati masa keemasannya dengan bertaqarrub (mendekatkan) diri kepadaNya, berusaha untuk menjauhkan diri dari berbagai kemaksiatan, serta mampu mengendalikan nafsu syahwatnya. Insya Allah, Allah SWT akan memberikan perlindunganNya pada hari kiamat kelak. Ini merupakan imbalan dan penghargaan yang Allah berikan kepada anak-anak muda yang shalih. Ingat, janganlah kita beranggapan bahwa masa muda kita harus dipergunakan untuk hidup senang-senang, beranggapan pula bahwa hanya orang yang telah berlanjut usia saja yang hanya mendekati kematian. Siapa yang bisa menjamin bahwa kematian tidak akan datang pada kaulah muda, sehingga ia beranggapan untuk menghabiskan waktunya saat ini untuk hidup bersenang-senang selagi masih muda.

3. Orang yang hatinya terikat pada masjid

Seseorang yang hatinya selalu terikat pada masjid sehingga menjadikan masjid sebagai tempat yang paling dirinduinya, tempat untuk mencurahkan segalanya kepada Allah SWT, tidak ada hal apapun yang dapat menghalanginya dan keluarganya kecuali keinginan untuk selalu berjamaah di masjid atau musholla, adalah salah satu tanda hati sudah terikat kepada masjid, jadi sudah sewajarnya apabila manusia-manusia yang hatinya selalu terikat pada tempat yang paling dicintaiNya, akan mendapatkan perlindungan di hari akhir. Rindu akan masjid berarti rindu kepada Allah SWT.

4. Dua orang yang saling mengasihi karena Allah SWT

Dua orang insan (sepasang suami isteri) yang saling mencintai karena Allah dan keduanya berkumpul dan berpisah  pula karena Allah. Makna yang didapat adalah kebersamaan dan persahabatan. Kita melakukan sesuatu bersama-sama dengan saudara kita, dan kita melakukannya semata-mata karena mengharap ridha Allah. Saat saudara kita lupa dan ingkar kepada Allah, kita mengingatkannya. Begitu pula sebaliknya, sehingga tercipta hubungan yang harmonis dengan saling mengingatkan dan berlomaba untuk melakukan amal shalih. Itu adalah cermin persahabatan yang dirahmati Allah.

5. Seorang laki-laki yang diajak oleh seorang perempuan yang mempunyai kedudukan dan rupa yang cantik untuk melakukan hal tercela tetapi dia berkata "aku takut kepada Allah"

Mampu melawan beratnya tantangan ketika menghadapi godaan lawan jenis. Hal ini dicontohkan pada saat Nabi Yusuf AS berada dalam istana raja dan mendapat godaan yang luar biasa dari Siti Julaikha, seorang wanita kaya yang sangat rupawan. Nabi Yusuf bermunajat kepada Allah SWT dan berkata ‘lebih baik hidup di penjara dari pada di istana’ karena beliau tahu betapa Allah akan melindunginya di yaumil akhir apabila dapat melawan godaan yang sangat berat itu. Sungguh, Rasulullah pula pernah menegaskan dan menjelaskan bahwa perang yang terbesar adalah perang melawan nafsu dan perang-perang yang pernah beliau lalui bersama para sahabat dan umatnya ketika itu masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan perang melawan hawa nafsu.

6. Bersedekah tetapi merahasiakannya

Ihklas dalam beramal dan bersedekah seolah-olah tangan kiri tidak tahu apa yang diberikan oleh tangan kanan. Jangan bersikap ria dan ingin dilihat orang lain dalam melakukan perbuatan kebaikan, sungguh sia-sialah pahalanya. Semua berawal dari niat, bahkan dalam beramal sekalipun. Dalam hadist Arbain, keutamaan berniat sebelum melakukan amalan ditempatkan pada hadist yang paling pertama. Dilambangkan dalam bersedekah, berusaha agar tangan kiri tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya. Sungguh luar biasa manfaat dan hikmah di balik sedekah. Janganlah kita enggan untuk mengeluarkan sedikit rejeki kita untuk orang yang membutuhkannya.
7. Dzikrullah di waktu sunyi sehingga mengalir air matanya.

Hal ini mengandung pengertian untuk bertahajud dan berdzikir kepada Allah, terbangun pada tengah malam, berserah diri, merasa dirinya sangat kecil dan tiada artinya di hadapanNya, memohon ampun dan bertafakur (mengingat) dosa-dosa di masa lalu sehingga tak terasa bercucuran air matanya, bertaubat dengan sebaik-baiknya taubat kepada Allah, Insya Allah dijamin perlindungannya di akhir waktu kelak. Sulit memang, terbangun tengah malam untuk bermunajat mengadu padaNya, tapi semoga tulisan ini pula sekaligus menjadi motivasi yang ampuh untuk saya secara pribadi, untuk kita bersama.

Mudah-mudahan kita bisa melakukan amal shalih dengan sebaik-baiknya dari beberapa kriteria yang telah disebutkan dan kita harus berusaha menjadi salah satu dari golongan tersebut. Beramal shalih mengharapkan syafaat Rasulullah SAW dan perlindungan Allah SWT, bahagia di dunia dan akhirat. Amin.
by: http://insanshalih.blogspot.com/2010/12/7-golongan-mendapat-naungan-allah-swt.html
"Tujuh golongan yg akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya di hari tdk ada naungan kecuali naungan-Nya. 1. Pemimpin yg adil, 2. Pemuda yg sentiasa beribadat kepada Allah semasa hidupnya, 3. Orang yg hatinya sentiasa berpaut pada masjid-masjid 4. Dua orang yg saling mengasihi karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, 5. Seorang lelaki yg diundang oleh seorang perempuan yang mempunyai kedudukan dan rupa paras yg cantik utk melakukan kejahatan tetapi dia berkata, 'Aku takut kepada Allah!', 6. Seorang yg memberi sedekah tetapi dia merahsiakannya seolah-olah tangan kanan tidak tahu apa yg diberikan oleh tangan kirinya dan 7. Seseorang yg mengingati Allah di waktu sunyi sehingga mengalirkan air mata dr kedua matanya" (HR. Bukhari & Muslim) - See more at: http://www.dudung.net/artikel-islami/untukmu-yang-selalu-kunanti.html#sthash.VSroCNR5.dpuf
20.31 | 0 komentar | Read More

ARTIKEL SPESIAL: Untukmu Yang Selalu Kunanti

by: http://www.dudung.net/artikel-islami/untukmu-yang-selalu-kunanti.html

Untukmu Yang Selalu Kunanti...  
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgB86LlpS5c7K9tGRrhff8xeVL8iHgk_pHAUMYfBOX5Q1YDC4uajhlq85DPFH7YXbsKQzgTXwdKzPp0ElMHcHjNJ2T_v0wcCM3UCNNw7SdqJLfwXuiV5YvnMTUrKAQJPX6OzK0xZlDp5is/s320/menanti.jpg

Jika lelah yang kurasa sekarang, aku yakin kau juga merasakannya. Lelah menantimu. Lelah menanti janji Allah untuk segera mempertemukan kita dalam kesempatan untuk menggenapkan separoh dari agama ini. Lelah… dan teramat lelah….!!!!

Itulah yang sekarang kurasakan. Lelah untuk tetap menjaga hati dan iman ini. Lelah untuk istiqomah menanti hingga janji Allah tiba. Lelah untuk tetap tersenyum dalam menghadapi setiap pertanyaan..

“Kapan menikah…..?”

Di tengah kelelahan itu, izinkan aku sekedar melukiskan kekeluan hati yang sulit terucap dengan lisan. Dan izinkan pula aku sedikit mengutip surat cinta dari Allah, sebagai kewajiban kita untuk saling mengingatkan dalam hal kebaikan dan kesabaran…

“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (syurga) (QS An-nur : 26)”

Huuf….!!!!

Lega rasanya, bisa sedikit menyampaikan ini. Meski jika boleh sedikit jujur, kutulis petikan firman Allah itu hanya sekedar menghibur hatiku yang teramat lelah. Menghibur hatiku yang terkadang perih melihat kebahagiaan temanku atau  bahkan yang usianya di bawahku telah mendapat izin Allah untuk melangsungkan pernikahan. Hatiku yang terkadang iri melihat temanku melahirkan anaknya dan terasa lengkap sudah dirinya diciptakan sebagai seorang perempuan. Yang telah berkesempatan untuk menjadi seorang ibu.

Lelah…!!! Dan teramat lelah….!!!!

Untuk sebuah penantian yang aku sendiri tidak tahu kapan berakhirnya. Selaksa doa yang terus terlantun seakan menjadi arang untuk mengobarkan asa. Sebuah harapan untuk segera menemui hari yang paling membahagiakan. Ya… Hari pernikahan. Hari dimana kita bisa menunpahkan segala rasa cinta yang ada dengan halal dan penuh ridha Allah.

Sekilas, hatiku tersenyum kecil saat membayangkan hal itu. Tapi, senyum itu terpaksa harus ku tepis karena kenyataan saat ini masih jauh dengan sebuah harapan yang ada. Sebuah kenyataan ternyata kau belum ada di depanku. Belum datang untukku. Meski aku tahu, kau telah dipersiapkan Allah untukku.

Aku tidak tahu kenapa sampai sekarang Allah belum mempertemukan aku denganmu. Padahal, doa dan usaha tak pernah berhenti menghiasi langkahku. Usaha untuk menyempurnakan ikhtiar dan doa untuk menggenapkan tawakal. Semuanya telah kulakukan.

Yah… tapi kembali lagi mau tidak mau aku harus berkompromi dengan semua ketetapan Allah. Meski aku telah meminta dengan sepenuh harap, Allah tidak akan pernah memberikan apa yang aku inginkan. Tapi Allah hanya memberikan apa yang aku butuhkan. Meski berulang kali hati kecilku mengatakan bahwa aku telah siap untuk menikah, Tapi, hanya Allah yang jauh lebih tau tentang kesiapan diriku daripada diriku sendiri.

Telah berulang kali datang di hatiku orang yang kusangka dia adalah dirimu. Mencoba memasuki hati dan mencoba mengambil tempat yang kuperuntukkan untukmu. Tapi, berulang kali juga mereka harus keluar dan mengaku kalah karena berbagai sebab. Dan sekarang, ternyata aku masih menunggumu. Menunggu kedatangan seseorang yang aku sendiri belum tahu siapa dirimu.

Lelah… dan teramat letih…!!!

Jika aku mengucapkan satu kata. “MENUNGGU”

Penantian yang aku sendiri  juga belum tahu kapan berakhirnya. Sedangkan di sekitarku, telah banyak pemandangan indah yang kulihat. Ibu-ibu muda yang usianya di bawah umurku telah sempurna menjadi seorang perempuan dengan melahirkan buah hati mereka yang lucu-lucu. Kembali lagi hatiku harus menjerit dalam Tanya

“Kapan tiba waktunya untukku…..?”

Menjalani hidup sebagai seorang istri, sebagai seorang ibu rumah tangga dan menjalani fitrah seorang perempuan sebagai seorang “IBU” bagi buah hatiku.

Selaksa doa dalam sujud harap tak pernah lekang di tiap sepertiga malam terakhirku. Mencoba mengadu pada tiap doa yang terlantun. Mencoba mengiba dalam tiap tangis yang terus membasahi sajadah. Dan Mencoba bertanya dalam heningnya istikharah.

“Dimana dia ya Allah….???? Seorang laki-laki yang telah kau janjikan untukku. Seorang laki-laki sebagai penyempurna agamaku, penjaga ketaatanku sekaligus penggenap langkah dakwahku….??????”

Lelah… dan teramat letih…!!!

Jika hati ini mencoba mengeja setiap rencana Allah. Tapi satu keyakinan yang akan terus membuatku tersenyum di tengah hati yang semakin lelah. Janji Allah mungkin tidak datang dengan “SEGERA”. Tapi akan selalu datang dengan “PASTI”. Seperti apa yang telah Allah janjikan dalam surat An-Nur : 26. Sekarang, aku memang tidak tahu siapa dirimu dan dimana keberadaanmu. Tapi aku yakin, kau akan dipertemukan Allah denganku saat masing-masing kita telah baik di mata Allah.

Jika aku menginginkan kau seorang yang baik dimata Allah, maka izinkanlah aku untuk selalu memperbaiki diriku dengan kebaikan sesuai ketentuan Allah.

Jika aku menginginkan kau memberikan cintamu hanya untukku, maka izinkan mulai sekarang aku menjaga hati dan cinta ini hanya untukmu.

Jika sekarang aku menginginkanmu menjaga akhlak dan pandanganmu untukku, maka, izinkanlah mulai sekarang aku menjaga akhlak dan pandanganku hanya untukmu.

Sehingga, ketika telah tiba waktunya bagi Allah untuk mempertemukan kita, indahnya cinta yang terbingkai dengan syurga pernikahan akan menjadi penggenap separoh dari agama ini.

Jika aku boleh jujur, penantian panjang ini layaknya malam yang semakin gelap dan pekat. Hanya cahaya iman dan sabar yang akan menjadi penerang. Tapi aku yakin, malam yang semakin gelap dan pekat itu, tidak akan berlangsung selamanya. Karena semakin waktu berangkat jauh membawa gelapnya malam, semakin dekat pula waktu menuju pagi dengan sambutan mentari yang cerah.

Ya… di saat pagi itulah Allah akan mempertemukan kita sesuai janji-Nya. Pagi yang cerah dengan sapaan mentari yang ramah. Bersama kidung cinta yang akan terus terlantun membawa nyanyian syurga yang Allah turunkan untuk kita. Gerbang pernikahan yang indah dengan hiasan bunga ridha dan restu dari Allah.

Insya Allah akhi…

Waktu itu pasti akan datang bersama izin dari Allah.

Entah kapan, aku sendiri juga belum tahu. Biarkan Allah yang merenda ini dengan indah. Antara harapan dan kenyataan, ada jarak dan waktu. Jarak itu bisa satu centimeter, bisa juga satu kilometer. Atau bahkan lebih. Waktu itu bisa satu hari atau bisa juga satu tahun. Atau bahkan lebih. Dan di dalam jarak dan waktu itulah, kita isi dengan kesabaran dan doa. Sabar bukan berarti diam. Sabar bukan berarti pasiv. Sabar bukan berarti hanya duduk menunggu. Tapi sabar adalah ekspresi usaha tanpa henti. Ayunan langkah kaki untuk terus berikhtiar meraih apa yang Allah janjikan. Jodoh memang mutlak kekuasaan Allah. Jodoh memang ada di tangan Allah. Tapi, kalau kita tidak berusaha menjemputnya, akan terus di tangan Allah. Tidak akan pernah sampai di tangan kita. Biarkan aku mencoba menjemputmu dengan memperbaiki diri. Biarkan aku menantimu dengan memperbaiki iman. Biarkan aku menunggumu dengan terus melangkahkan kaki semampuku dalam usaha dan ikhtiar.

Akhi….

Di tengah lelahnya hati ini, izinkan aku tetap menunggu dengan iman yang tak pernah surut. Meski kadang godaan rasa putus asa terus menghinggap di hati. Aku hanya perlu menyandarkan cinta dan harapan pada Allah. Karena, menyandarkan harapan pada manusia hanya akan menemui kekecewaan. Biarkan penantian yang aku sendiri belum tahu kapan berakhirnya ini menjadi ladang ibadah yang disediakan Allah untukku. Dan orang-orang yang sedang menanti sepertiku.

 Terus perbaiki diri akhi….

Aku masih setia menantimu.

______
Yaya Hikmatul Qalam
qoulan_sadida@yahoo.co.id

Untukmu Yang Selalu Kunanti...      
Jika lelah yang kurasa sekarang, aku yakin kau juga merasakannya. Lelah menantimu. Lelah menanti janji Allah untuk segera mempertemukan kita dalam kesempatan untuk menggenapkan separoh dari agama ini. Lelah… dan teramat lelah….!!!!
Itulah yang sekarang kurasakan. Lelah untuk tetap menjaga hati dan iman ini. Lelah untuk istiqomah menanti hingga janji Allah tiba. Lelah untuk tetap tersenyum dalam menghadapi setiap pertanyaan..
“Kapan menikah…..?”
Di tengah kelelahan itu, izinkan aku sekedar melukiskan kekeluan hati yang sulit terucap dengan lisan. Dan izinkan pula aku sedikit mengutip surat cinta dari Allah, sebagai kewajiban kita untuk saling mengingatkan dalam hal kebaikan dan kesabaran…
“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (syurga) (QS An-nur : 26)”
Huuf….!!!!
Lega rasanya, bisa sedikit menyampaikan ini. Meski jika boleh sedikit jujur, kutulis petikan firman Allah itu hanya sekedar menghibur hatiku yang teramat lelah. Menghibur hatiku yang terkadang perih melihat kebahagiaan temanku atau  bahkan yang usianya di bawahku telah mendapat izin Allah untuk melangsungkan pernikahan. Hatiku yang terkadang iri melihat temanku melahirkan anaknya dan terasa lengkap sudah dirinya diciptakan sebagai seorang perempuan. Yang telah berkesempatan untuk menjadi seorang ibu.
Lelah…!!! Dan teramat lelah….!!!!
Untuk sebuah penantian yang aku sendiri tidak tahu kapan berakhirnya. Selaksa doa yang terus terlantun seakan menjadi arang untuk mengobarkan asa. Sebuah harapan untuk segera menemui hari yang paling membahagiakan. Ya… Hari pernikahan. Hari dimana kita bisa menunpahkan segala rasa cinta yang ada dengan halal dan penuh ridha Allah.
Sekilas, hatiku tersenyum kecil saat membayangkan hal itu. Tapi, senyum itu terpaksa harus ku tepis karena kenyataan saat ini masih jauh dengan sebuah harapan yang ada. Sebuah kenyataan ternyata kau belum ada di depanku. Belum datang untukku. Meski aku tahu, kau telah dipersiapkan Allah untukku.
Aku tidak tahu kenapa sampai sekarang Allah belum mempertemukan aku denganmu. Padahal, doa dan usaha tak pernah berhenti menghiasi langkahku. Usaha untuk menyempurnakan ikhtiar dan doa untuk menggenapkan tawakal. Semuanya telah kulakukan.
Yah… tapi kembali lagi mau tidak mau aku harus berkompromi dengan semua ketetapan Allah. Meski aku telah meminta dengan sepenuh harap, Allah tidak akan pernah memberikan apa yang aku inginkan. Tapi Allah hanya memberikan apa yang aku butuhkan. Meski berulang kali hati kecilku mengatakan bahwa aku telah siap untuk menikah, Tapi, hanya Allah yang jauh lebih tau tentang kesiapan diriku daripada diriku sendiri.
Telah berulang kali datang di hatiku orang yang kusangka dia adalah dirimu. Mencoba memasuki hati dan mencoba mengambil tempat yang kuperuntukkan untukmu. Tapi, berulang kali juga mereka harus keluar dan mengaku kalah karena berbagai sebab. Dan sekarang, ternyata aku masih menunggumu. Menunggu kedatangan seseorang yang aku sendiri belum tahu siapa dirimu.
Lelah… dan teramat letih…!!!
Jika aku mengucapkan satu kata. “MENUNGGU”
Penantian yang aku sendiri  juga belum tahu kapan berakhirnya. Sedangkan di sekitarku, telah banyak pemandangan indah yang kulihat. Ibu-ibu muda yang usianya di bawah umurku telah sempurna menjadi seorang perempuan dengan melahirkan buah hati mereka yang lucu-lucu. Kembali lagi hatiku harus menjerit dalam Tanya
“Kapan tiba waktunya untukku…..?”
Menjalani hidup sebagai seorang istri, sebagai seorang ibu rumah tangga dan menjalani fitrah seorang perempuan sebagai seorang “IBU” bagi buah hatiku.
Selaksa doa dalam sujud harap tak pernah lekang di tiap sepertiga malam terakhirku. Mencoba mengadu pada tiap doa yang terlantun. Mencoba mengiba dalam tiap tangis yang terus membasahi sajadah. Dan Mencoba bertanya dalam heningnya istikharah.
“Dimana dia ya Allah….???? Seorang laki-laki yang telah kau janjikan untukku. Seorang laki-laki sebagai penyempurna agamaku, penjaga ketaatanku sekaligus penggenap langkah dakwahku….??????”
Lelah… dan teramat letih…!!!
Jika hati ini mencoba mengeja setiap rencana Allah. Tapi satu keyakinan yang akan terus membuatku tersenyum di tengah hati yang semakin lelah. Janji Allah mungkin tidak datang dengan “SEGERA”. Tapi akan selalu datang dengan “PASTI”. Seperti apa yang telah Allah janjikan dalam surat An-Nur : 26. Sekarang, aku memang tidak tahu siapa dirimu dan dimana keberadaanmu. Tapi aku yakin, kau akan dipertemukan Allah denganku saat masing-masing kita telah baik di mata Allah.
Jika aku menginginkan kau seorang yang baik dimata Allah, maka izinkanlah aku untuk selalu memperbaiki diriku dengan kebaikan sesuai ketentuan Allah.
Jika aku menginginkan kau memberikan cintamu hanya untukku, maka izinkan mulai sekarang aku menjaga hati dan cinta ini hanya untukmu.
Jika sekarang aku menginginkanmu menjaga akhlak dan pandanganmu untukku, maka, izinkanlah mulai sekarang aku menjaga akhlak dan pandanganku hanya untukmu.
Sehingga, ketika telah tiba waktunya bagi Allah untuk mempertemukan kita, indahnya cinta yang terbingkai dengan syurga pernikahan akan menjadi penggenap separoh dari agama ini.
Jika aku boleh jujur, penantian panjang ini layaknya malam yang semakin gelap dan pekat. Hanya cahaya iman dan sabar yang akan menjadi penerang. Tapi aku yakin, malam yang semakin gelap dan pekat itu, tidak akan berlangsung selamanya. Karena semakin waktu berangkat jauh membawa gelapnya malam, semakin dekat pula waktu menuju pagi dengan sambutan mentari yang cerah.
Ya… di saat pagi itulah Allah akan mempertemukan kita sesuai janji-Nya. Pagi yang cerah dengan sapaan mentari yang ramah. Bersama kidung cinta yang akan terus terlantun membawa nyanyian syurga yang Allah turunkan untuk kita. Gerbang pernikahan yang indah dengan hiasan bunga ridha dan restu dari Allah.
Insya Allah akhi…
Waktu itu pasti akan datang bersama izin dari Allah.
Entah kapan, aku sendiri juga belum tahu. Biarkan Allah yang merenda ini dengan indah. Antara harapan dan kenyataan, ada jarak dan waktu. Jarak itu bisa satu centimeter, bisa juga satu kilometer. Atau bahkan lebih. Waktu itu bisa satu hari atau bisa juga satu tahun. Atau bahkan lebih. Dan di dalam jarak dan waktu itulah, kita isi dengan kesabaran dan doa. Sabar bukan berarti diam. Sabar bukan berarti pasiv. Sabar bukan berarti hanya duduk menunggu. Tapi sabar adalah ekspresi usaha tanpa henti. Ayunan langkah kaki untuk terus berikhtiar meraih apa yang Allah janjikan. Jodoh memang mutlak kekuasaan Allah. Jodoh memang ada di tangan Allah. Tapi, kalau kita tidak berusaha menjemputnya, akan terus di tangan Allah. Tidak akan pernah sampai di tangan kita. Biarkan aku mencoba menjemputmu dengan memperbaiki diri. Biarkan aku menantimu dengan memperbaiki iman. Biarkan aku menunggumu dengan terus melangkahkan kaki semampuku dalam usaha dan ikhtiar.
Akhi….
Di tengah lelahnya hati ini, izinkan aku tetap menunggu dengan iman yang tak pernah surut. Meski kadang godaan rasa putus asa terus menghinggap di hati. Aku hanya perlu menyandarkan cinta dan harapan pada Allah. Karena, menyandarkan harapan pada manusia hanya akan menemui kekecewaan. Biarkan penantian yang aku sendiri belum tahu kapan berakhirnya ini menjadi ladang ibadah yang disediakan Allah untukku. Dan orang-orang yang sedang menanti sepertiku.
 Terus perbaiki diri akhi….
Aku masih setia menantimu.
______
Yaya Hikmatul Qalam
qoulan_sadida@yahoo.co.id
- See more at: http://www.dudung.net/artikel-islami/untukmu-yang-selalu-kunanti.html#sthash.VSroCNR5.dpuf
20.25 | 0 komentar | Read More

Cerpen Asyik Buat Remaja : Hujan ( Rintik hujan mulai membasahi atap rumahku… entahlah, mungkin dia sudah tidak kuat menampung segala air yang ada di dalam dirinya )

by: http://cerpenmu.com/cerpen-cinta/hujan-2.html
Rintik hujan mulai membasahi atap rumahku… entahlah, mungkin dia sudah tidak kuat menampung segala air yang ada di dalam dirinya… dan mulai menumpahkan segalanya ke atas bumi. Aku ingin seperti hujan, yang jika sudah tak kuat menampung segala permasalahan hidup bisa menumpahkan semuanya begitu saja.. “ren.. sendirian aja?” kata Daniel, sahabat terbaikku, “haha.. iya nih.. gue lagi nikmatin setiap rintik hujan yang sedang menumpahkan segala masalahnya..” jawabku, “setiap hujan gue selalu sudah melihat lo di teras kecil depan kamar lo, menikmati teh hangat dan menikmati setiap rintik hujan yang turun..” katanya lembut, “Ya, entah kenapa gue… gue suka sama suasana hujan yang penuh misteri, penuh teka-teki..” jawabku sambil tetap melihat langit, tanpa sadar ternyata sedari tadi Daniel sedang memandangiku sembari tersenyum, “Kenapa?” tanyaku polos, “hidung lo.. bikin greget!” katanya dengan tersenyum manis, dia segera mencubit manja hidungku, “aww! sakit tahu!” dengusku kesal, “when you love someone, you must say to him/her, ‘I Love You’, if not, you will regret…”, katanya sembari menatap langit yang sudah mulai reda, kata-katanya… benar… sangat benar… “I know.. i will remember it..” jawabku tersenyum.. dia melihatku dan membalas senyumanku, apakah aku bisa melakukan itu? ‘If not, you will regret’… kata-kata itu sedikit membuatku bingung, memang aku akan menyesal jika tidak menyatakan yang sesungguhnya, tetapi… “heh! ngapain lo ngelamun?” tanyanya menepuk pundakku, “ehehe.. nggak kok.. eh gue laper nih, cari makan di luar yuk?” ajakku untuk mencairkan suasana.. “Yuk! dari tadi kek’.. gue yang bayar..” katanya, “serius? oke!” jawabku, kamipun segera pergi mencari sebuah tempat makan…
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhjMm4AJH1ol2uu_ZXAi047S3TWt7lH3LpB249SXhdZEbkKHXI-oNnkKvgGunaTrjBS9DR9fCEjqBCWQrJZIqUbjRAngjJqE-VUC8fZYSZe5bvESAJpLPfQqnEYCwTB5H2rYSNRZDmaOlw/s320/standing+in+the+rain.jpg“Dan.. gue punya satu masalah yang.. ya menurut gue susah untuk diselesaikan” kataku pada Daniel sembari menikmati satu cangkir cokelat panas atau biasa di sebut hot chocolate.. “apa?” tanyanya, “uhm.. gue suka sama satu cowok, dia baik banget sama gue, tapi… tapi…” aku mulai terdiam, aku bingung.. “tapi apa? tapi lo takut nyatain duluan? Karen.. karen.. sudah gue bilang tadi, ‘when you love someone, you must say to him/her I Love You, if not, you will regret’, udah lupa?” katanya padaku, Aku ingin seperti itu! Tapi tidak bisa… aku harus bagaimana?
“Kita mau kemana lagi ren?” tanyanya di perjalanan seusai makan, “Dan gue mau ngomong sama lo” kataku, “apa?” tanyanya, “gue suka sama lo, 5 tahun kita sahabatan, 3 tahun gue suka sama lo, 3 tahun gue mendam perasaan ini diam-diam, gue terus teringat sama kata-kata lo bahwa kita harus nyatain sebelum menyesal, gue lakukan itu sekarang, gue sayang sama lo…” kataku diiringi turunnya hujan dengan derasnya secara tiba-tiba.. Daniel segera menghentikan motornya, menyuruhku turun dan segera menatapku dalam-dalam, “Karen? Jadi… permasalahan lo ini? Lo suka sama gue tapi takut bilang? ren! apa yang lo lakukan tadi sudah benar! gue juga sayang sama lo..” jawabnya segera memelukku, aku segera melepaskan dan berkata “serius! gue mau cinta yang real, tulus, ikhlas.. bukan karena paksaan..” kataku, “Karen, lo masih ngeraguin gue? I Love you! and I’m so truth.. believe, I’m promise will love you forever..” katanya segera memelukku kembali, aku segera membalas pelukan itu dan tersenyum senang, hilang masalahku bersama dengan redanya hujan.. “You is mine now, i will make our relationship sweet like my smile.. haha” katanya, “Yeee… eh lihat deh, di langit ada pelangi yang sedang tersenyum melihat kita!” kataku sembari tersenyum padanya.. Ya, kisahku diawali oleh hujan dan di akhiri oleh hujan..
Cerpen Karangan: Ilean Febiola
Blog: febiolailean.blogspot.com
Haaaiii ^^ udah baca cerpenku? mau kenal lebih dekat denganku? follow aja @xIleanx_ ya ^^ thanks for read and like ^^

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga…?”

"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke email: bagindaery@gmail.com untuk ditampilkan disitus bagindaery.blogspot.com dan dibaca ribuan orang tiap harinya
19.49 | 0 komentar | Read More

BACA JUGA

DAFTAR LENGKAP ARTIKEL BLOG BAGINDAERY

Ikuti situs Bagindaery

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...