ARTIKEL PILIHAN

GOOGLE TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

ARTIKEL PILIHAN

Sebenarnya 21-12-2012 Bukan Hari Kiamat (Sesungguhnya)

Written By Situs Baginda Ery (New) on Sabtu, 22 Desember 2012 | 08.45

http://static.liputan6.com/201212/listrik-mati-nasa121219c.jpgKali ini saya Bahas sedikit mengenai Isu 21 Desember 2012 Kiamat Baiklah kawan Kiranya Semua Manusia di Dunia  mengetahui akan adanya Hari Akhir atau yang sering disebut dengan hari kiamat Baik dari berbagai agama atau kepercayaan yang mereka anut semua mempercayai adanya hari Kehancuran dunia. Namun menurut Suku Maya,suku yang tingal di teluk antara Guatemala dan Meksiko ini Mereka membuat perhitungan bahwa didalam satu tahun terdapat 18 bulan yang setiap bulannya terdiri dari 20 hari dan mereka menambahkan lagi 5 hari untuk peribadahannya sehingga setahun sama dengan 365 hari. Didalam penanggalannya itu mereka pun meramal akan terjadinya berbagai musibah, seperti kelaparan, banjir besar, perubahan iklim hingga berakhirnya bumi (kiamat) yang menurut penanggalan mereka jatuh pada tanggal 21 Desember 2012.Tanggal 21 Desember 2012 bertepatan dengan tahun 5126 M yaitu tanggal berakhirnya perhitugan panjang mereka yang sudah dimulai sejak tanggal 31 Agustus 3114 SM.


http://coretanyusuf.blogspot.com/2012/10/21-12-2012-bukan-hari-kiamat.html



Ada pula dalam buku-buku cina 
Seorang penulis yang bernama Fahd Amir al Ahmadi mengatakan bahwa banyak ilmuwan yang bersepakat dengan suku Maya ini akan adanya kejadian besar pada tahun 2012. Di Asia, hal yang sama telah ditunjukkan oleh berbagai buku yang ditulis oleh para astrolog Cina bahwa keturunan Dinasti Chang—yang menguasai Cina sejak tahun 1766 SM—akan berlangsung selama 3778 M (yang bertepatan dengan tahun 2012 M)
Di Perancis juga terdapat ramalan yang dibuat oleh seorang astrolog yang bernama Nostradamus bahwa planet-planet di angkasa akan berantakan pada akhir tahun 2000 yang akan mengakibatkan hancurnya kehidupan setelah 12 tahun.

Namun pernyataan diatas sama sekali jauh berbeda dengan pernyataan kiamat menurut isalam seperti beberapa ayat dan hadis yang tertulis di Al Qur'an :


Az Zukhruf 43:61. Dan sesungguhnya (Qur'an) benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikuti (Qur'an). Inilah jalan yang lurus.
Al Qamar 54:1. Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan
 Al Qiyyamah 75:8. dan apabila bulan telah hilang cahayanya
(Ini bisa berarti gerhana atau bulan sudah tidak mampu memantulkan cahaya matahari lagi karena hancur) 
AL Fushshilat 41:47: Kepada-Nyalah dikembalikan pengetahuan tentang hari Kiamat. Dan tidak ada buah-buahan keluar dari kelopaknya dan tidak seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan, melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Pada hari Tuhan memanggil mereka: "Dimanakah sekutu-sekutu-Ku itu?", mereka menjawab: "Kami nyatakan kepada Engkau bahwa tidak ada seorangpun di antara kami yang memberi kesaksian (bahwa Engkau punya sekutu)."
Muhammad 47:18: Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila Kiamat sudah datang?
Al Qiyamah 75:9: dan matahari dan bulan dikumpulkan,
Dari ayat ini bisa disimpulkan yang terjadi adalah gerhana matahari dimana kondisi bulan sudah hancur
Tanda kiamat dalam hadits
Dari Hudzaifah bin Asid Al Ghiffari RA, katanya, Rasulullah SAW menengok kami ketikakami sedang berbincang-bincang seraya bertanya: "Apa yang sedang kaliam perbincangkan?". Jawab sahabat "Kami sedang berbincang-bincang mengenai hari kiamat". Sabda beliau, "Sesungguhnya dia tidak akan terjadi sebelum 10 tanda: Ad Dukhan, Dajjal, Dabbah, Matahari terbit dibarat, Isa Anak Maryam turun, Ya'juj dan Ma'juj, Gerhana di timur, Gerhana di Baray, Gerhana di Jazirah Arab, Api menyala di Yaman, menghalau manusia ke padang Mahsyar."(HR Muslim No. 2466)
Kesimpulannya jika diurutkan dengan angka menjadi seperti dibawah ini:
1. Ad Dukhan
2. Dajjal
3. Dabbah
4. Matahari terbit dibarat
5. Isa Anak Maryam turun
6. Ya'juj dan Ma'juj
7. Gerhana di timur
8. Gerhana di Baray
9. Gerhana di Jazirah Arab
10. Api menyala di Yaman, menghalau manusia ke padang Mahsyar
Itulah beberapa kutipan yang diambil dari beberapa sumber mengenai Kiamat bahwa Sesungguhnya 21 desember 2012 bukan hari kiamat melainkan akhir perhitungan panjang yang sudah dimulai sejak tanggal 31 Agustus 3114 SM.
08.45 | 0 komentar | Read More

Cerita Bendera pada Sebuah Desa [Hari Pahlawan]

Written By Situs Baginda Ery (New) on Jumat, 21 Desember 2012 | 22.52

Rudi anak seorang petugas desa. Hari ini mendapat mandat untuk mengibarkan Bendera Merah Putih di Lapangan Balai Desa. Itu pesan bapaknya melalui pesan pendek. Tugas bapaknya seperti ini disetiap pagi. Mengibarkan Sang Pusaka di kerekan depan kantor tempat bapak bekerja. Tetapi minggu ini beliau sedang ke Jakarta. Untuk berdemo tentang nasib para petugas desa. Untuk menuntut upah setimpal agar periuk-nasi rumah terisi ala-kadarnya. Sayang bapak Rudi menolak menjadi sekertaris desa dua tahun yang lalu. Yang sekarang Kang Maman di tunjuk jadi carik 3 bulan lalu itu malah dijadikan Pegawai Negeri.
“Itu bukan rejeki kita” kata bapak dahulu.
Tapi siapa tahan dengan gaji yang tak seimbang dengan pekerjaan? Ditambah lahan bengkok tak produktif akibat cuaca kurang bersahabat? Kali ini puncak rasa cemburu seorang lelaki karena masalah penghasilan menjadi membengkak akut. Bapak Rudi iri dengan Kang Maman. Tapi masih dengan akal sehat - itupun karena bisikan ibu yang menyejukkan- kemudian bapak Rudi menjadi anggota perkumpulan pengurus desa. Alih-alih bapak becek-cok tanpa sumber masalah jelas. Ataupun bapak Rudi mencalonkan menjadi kepala desa, dan tak pasti menjadi kepala desa. Ia mengikuti organisasi itu. Disana bapak Rudi mendapatkan bahwa nasib sama juga dialami oleh banyak pengurus desa. Lalu ada aba-aba dari pengurus pusat nasional. Mereka ke Istana untuk bersama-sama memperjuangkan segelintir nasib penghuni Balai Desa.
“Bapak mau jalan-jalan ke Jakarta nok, nanti bapak bawa oleh-oleh” kata bapak kepada adik Rudi. Masih merengek dan ingin ikut dengan bapaknya. Itu 3hari lampau.
Rudi kemudian menuju ke Balai Desa. Menggunakan sepeda tua milik bapaknya. Karena ini hari Pahlawan. Bapak Rudi menyuruh membawa bendera baru yang disimpan di rumah. Melajulah Rudi menggenjot dan menyelempangkan bendera di pundak. Sampai pada tikungan pertama ia mendapatkan Kang Udin yang hendak pergi ke sawah.
“Gimana Rud? Sudah dapat pekerjaan belum?” “Belum Kang. Kemarin sudah ngrim ke Outsourching. Ini nunggu panggilan.” Rudi adalah lulusan SMK. Jika bulan ini tidak mendapat panggilan pekerjaan. Ia akan hijrah ke Jakarta untuk mencari pekerjaan disana. Disana toh… ada sepupunya.
Rudi juga enggan meneruskan menjadi pengurus desa seperti Bapak. Jiwa muda berpetualang Rudi masih mendominasi. Sama seperti separuh teman-teman di desa yang merantau ke berbagai penjuru. Ia juga mendapati keputusan sama dengan dirinya. Bapak tak menyarankan untuk meneruskan pekerjaan sama dengan dirinya, ibu juga memerdekakan ia berkerja menjadi apapun dimanapun. Asal halal, itu kesepakatan bersama.
Konsentrasi Rudi terpecah karena perbincangan mengenai pekerjaan tadi. Sepeda Rudi tak mampu menghindari batu licin yang tergenangi air hujan semalam. Jatuhlah ia bersama bendera dan lamunan pekerjaan.
“Aduh… biyung… Benderanya kotor” ia menganggkat bendera yang menggenang bersama air cekungan disisi jalan. “Oi Rud makanya kalau jalan jangan ngelamunin si Rohimah. Haha…” kata seseorang dibelakang. Setelah Rudi menoleh ia mengenal bahwa itu teman sedesanya.
“Ah kamu Lan…”
“Tadi malam kamu nggak ada di Konser Dangdut RT 2?” tanya Alan. Melihat Rudi yang bangkit. Ia mematikan motor dan menolong. Owh bukan… bukan menolong Rudi, tapi sepedanya.
“Aku jaga rumah. Bapak ke Jakarta Lan. Kamu pulang kapan? Kok malam tadi sudah dangdutan?” tanya Rudi. Tapi matanya masih meratapi bendera baru yang terkena cipratan tanah.
Alan itu anak Kang Maman. Carik desa ini. Alan melanjutkan kuliah di Semarang. Ia mendapat pendidikan yang lebih tinggi seperti Rudi impikan. Rudi menginginkan itu. Tapi kenyataanya bapaknya tak mampu meneruskan ke Universitas. Dan masih banyak adik-adik bersekolah jauh dibawah umurnya. Tak patut ia menyalahkan apapun. Langkah selanjutnya hanya bekerja, menjadi mandiri dan mengangkat harkat keluarganya.
“Kemarin Rud. Mau kemana? Ke Balai Desa? Ayo tak bantu kesana.” “Oke. Terimakasih. Aku bisa kesana sendiri.”
“Nanti malam aku ke rumahmu ya, Rud.”
“Oke. Tak tunggu Lan” melihat Alan cepat berlalu dengan motor.
Ia menapak pedal sepeda menuju Balai Desa yang sudah di jangkauan mata. Kali ini bendera, ia tak panggul dipundak. Rudi menjepitnya di boncengan belakang. Risih karena kotor dapat menjalar ke bajunya.
Di istirahatkan sepeda pada sebuah dinding waktu ia mencapai Balai Desa. Lalu ia mencari ide untuk membersihkan Bendera. Sepi juga pagi ini. Pak Kades dan Pak Carik mungkin ke Kabupaten dan Kecamatan menghadiri Upacara Hari Pahlawan. Lalu petugas desa lain bersama bapak Rudi masih di Jakarta. Ia membuka kunci Balai Desa lalu menuju ke kamar mandi. Membuka kran tapi tak mengalir air kran itu. Melongok pada bak ternyata kosong.  Bagaimana ia bisa mencuci bendera? Harus pulangkah?
” Hujan! ” teriak Rudi. Terdengar rintik keras menerpa atap seng Balai Desa.
Ia kemudian keluar. Lalu cepat-cepat mengerek Bender Merah Putih menuju puncak tiang. Berharap hujan mampu melunturkan cipratan tanah. Mampu membersihkan Sang Saka. Mampu meluluhkan galau mudanya akan sebuah pekerjaan. Dan iri hati karena keadaan tak sesuai harapan.
note = Biyung:ibu, carik:sekretaris desa,
Kudus 10 November 2011 16:04 @Kompasiana- Fiksiana. Untuk semua petugas kelurahan dan balai desa se-Indonesia. Bagi saya meraka adalah Pahlawan Akar Rumput. Dan petugas pengibar bendera di desa/kelurahan.  Mengibarkan Sang Saka Merah Putih diwilayah mereka. I Love It.
22.52 | 0 komentar | Read More

: Sebuah Cerita Pendakian (Estafet Merbabu-Merapi)

1345914845521105137
Matahari Terbit dari Puncak Syarif
Kalau boleh diibaratkan, Merbabu itu layaknya seorang laki-laki gagah yang meminang Merapi, seorang perempuan yang misterius. Dua gunung ini berdiri sangat berdekatan dan hanya dipisahkan oleh sebuah desa bernama Desa Selo. Tulisan kali ini bercerita tentang rute perjuangan pendakian selama melakukan estafet dua buah gunung berpasangan ini.
Merbabu – Gunung Pertama: perjalanan awal
Perjalanan menuju puncak gunung Merbabu bisa dimulai dari empat jalut utama: Kopeng, Wekas, Cuntel, dan Selo. Pendakian kali ini akan dimulai dari Wekas mengingat perjalanan dimulai dari Magelang dan kendaraan pengangkut yang menuju jalur pendakian hanya menuju Desa Wekas.
Sebuah gapura yang berada di Desa Kaponan akan mengantarkan para pendaki menuju tempat pendaftaran. Di sini pendaki bisa membayar ojek untuk menuju pendaftaran atau memilih berjalan kaki dengan jarak sekitar 5 km yang menanjak dan ditemani vegetasi berupa pohon-pohon cemara. Sesekali pendaki akan bertemu dengan penduduk desa yang tersenyum hangat memberikan sebuah salam pembuka untuk para pendaki.
13459149151487006849
Pemandangan Awal Pendakian Merbabu
Selepas melakukan pendaftaran, pendakian bisa dilanjutkan menuju puncak Merbabu. Vegetasi awal yang menemani pendaki biasanya adalah hutan-hutan dengan tumbuhan yang lumayan tinggi, merupakan ciri khas daerah pegunungan bagian tengah. Hal ini wajar mengingat pendakian dimulai sudah pada level sekitar 1700 mdpl.
Pendakian melalui jalur ini merupakan pendakian yang melewati jalur perpipaan. Sesekali bunyi air yang mengalir di pipa akan menemani pendaki yang lewat jalur ini. Air di pipa ini merupakan air yang digunakan oleh penduduk di sekitar Merbabu sebagai sumber air bagi mereka.
1345914973737557316
Jalur Perpipaan di Jalur Pendakian
Lebih jauh, jalur pendakian ini masih akan dihiasi oleh rumah-rumah warga sekitar sebelum para pendaki masuk ke dalam jalur pendakian yang sudah tertutup oleh hutan. Hutan di gunung Merbabu ini memang cukup ramai dipenuhi penduduk desa. Sebagian besar dari mereka bekerja di ladang dan bertani. Tanaman tembakau pun tidak jarang ditemui di desa ini dan tembakau yang sedang dijemur oleh penduduk merupakan pemandangan yang biasa ditemukan. Sementara itu, keramahan dan senyum dari para penduduk adalah sebuah sapaan hangat yang menghiasi jiwa para pendaki.
Perjalanan melalui jalur ini merupakan model perjalanan yang menanjak dan hampir tidak ada “bonus” jalan landai. Air yang bisa diambil para pendaki akan berakhir di sebuah sabana luas yang biasa dijadikan tempat untuk bermalam bagi para pendaki. Di daerah inipun, air yang diambil harus berasal dari pipa yang mengalirkan air ke rumah penduduk sebab air lainnya akan berasa asam karena sudah tercampur dengan aroma belerang.
Perjalanan mendaki dilanjutkan hingga menuju sebuah cabang antara puncak menara pemancar dan
13459150301599095522
Menara Pemancar di Merbabu
jalanan menuju pos helipad dengan vegetasi yang sudah memendek dan penyambutan dari bunga edelweis dimulai. Pos helipad sendiri merupakan daratan yang tidak terlalu luas dan dibatasi oleh tebing yang curam. Sementara itu, menara pemancar merupakan pos dengan sebuah bangunan menara yang dibangun pada jaman Soeharto. Pos helipad dapat difungsikan sebagai tempat bermalam sebelum melakukan pendakian ke puncak.
Menunggu matahari terbenam di pos ini adalah pengalaman yang sangat indah. Hal ini ditambah dengan terdapatnya gunung Sumbing dan Sindoro di sebelah barat yang selalu menguntit selama pendakian dari Wekas.
13459158711407265179
Matahari Terbenam di Balik Gunung Sindoro dan Sumbing
Tiga puncak utama dan si Jembatan Setan
Gunung Merbabu memiliki tiga puncak utama: Syarif, Kenteng Songo, dan Trianggulasi. Ketiga puncak ini berdiri berentetan dengan Kenteng Songo berada di tengah.
Perjalanan dari pos helipad menuju puncak Syarif lebih didominasi oleh jalanan berbatu hingga menuju sebuah percabangan. Cabang di sebelah kiri akan mengantarkan pendaki ke Puncak Syarif sedangkan cabang sebelah kanan akan mengantarkan pendaki ke Kenteng Songo dan Trianggulasi.
Puncak Syarif sendiri merupakan sebuah lahan yang cukup luas yang bisa digunakan untuk bermalam. Di daerah ini pun, pendaki bisa melihat ke arah seberang adanya gunung Merapi yang berdiri berdampingan dengan gunung Merbabu.
Perjalanan dari Puncak Syarif menuju Puncak Kenteng Songo adalah perjalanan yang menegangkan. Di sini pendaki harus melewati suatu jalan yang dinamakan Jembatan Setan. Jembatan ini merupakan sebuah jalan setapak yang bagian kanan-kirinya adalah tebing yang curam. Pendaki harus berhati-hati di daerah sini. Hal ini ditambah dengan perjalanan menuju Puncak Kenteng Songo yang harus dilalui dengan sedikit melipir batu-batuan dan jalanan berpasir.
13459163151102672891
Puncak Syarif dan Jembatan Setan
1345915101189976619
Batu-batu di Puncak Kenteng Songo
Namun semua itu akan terbayar di Kenteng Songo. Di sini pendaki bisa melihat adanya kumpulan batu yang berlubang. Penduduk memercayai bahwa jika batu-batu itu dilihat dengan mata batin, jumlahnya akan berjumlah sembilan buah. Namun jumlah di sana tidak sebanyak itu. Dari puncak ini, selain bisa melihat adanya batu-batuan tentang Kenteng Songo, ada juga satu pemandangan menarik lainnya: Gunung Merapi yang mistis. Dari daerah ini, suasana mistis akan menyelimuti para pendaki yang melihat dengan jelas gunung Merapi di depannya.
Sementara itu, puncak Trianggulasi akan dicapai para pendaki setelah melewati jalanan yang tidak terlalu jauh. Inilah puncak tertinggi di Gunung Merbabu. Setelah ini, perjalanan turun akan dilakukan melewati daerah Selo sebab akan dilakukan proses estafet menuju Gunung Merapi.
Perjalanan turun
13459151951367981067
Gunung Merapi dari Puncak Kenteng Songo
Perjalanan menuju daerah Selo ini merupakan perjalanan yang tidak mudah. Hal ini wajar mengingat jalur Selo terkenal di antara para pendaki sebagai jalur terpanjang menuju puncak Merbabu. Jalur ini harus melewati jalanan berpasir dan sabana yang kering dengan semilir angin gunung yang dingin. Namun keunikan yang ditawarkan Selo kepada pendaki Merbabu adalah pemandangan Gunung Merapi yang selalu ada setiap saat: menguntit dari belakang jika pendaki naik dan bertatapan langsung ketika pendaki turun.
Perjalanan turun lewat Selo mengingatkan penulis dengan pendakian Argopuro. Jajaran perbukitan adalah makanan yang harus dilalap oleh para pendaki di sana untuk mencapai puncak ataupun untuk turun dari puncak. Jalanan berpasir tidak jarang membuat pendaki terpeleset dan akhirnya turun layaknya bermain prosotan di taman bermain. Pemandangan yang ditawarkan adalah kumpulan sabana, tumbuh-tumbuhan pendek, dan juga kumpulan edelweis.
1345916382166684054
Bukit-bukit di Jalur Pendakian Selo
Pemandangan ini akan berubah menjadi hutan tropis ketika pendaki sudah melewati seluruh jajaran perbukitan di daerah jalur Selo. Pada saat itu, jalur pendakian akan diliputi dengan tanaman-tanaman khas hutan tropis dengan tanaman yang memiliki diameter batang yang lebih besar. Perjalanan  turun terus dilakukan hingga menemui pos pelaporan jalur pendakian Selo.
Transit dan tukang ojek Desa Selo
Perjalanan transit menuju pendakian bisa mengandalkan tenaga pendaki sendiri. Jalan yang harus ditempuh sekitar 3-4 jam perjalanan. Selain itu, perjalanan menuju Merapi juga bisa menggunakan jasa ojek di Desa Selo. Tarif yang ditawarkan untuk ojek berkisar pada Rp 15.000 sampai Rp 20.000.
Keunikan dari ojek yang ditawarkan di sini adalah bahwa ojek ini bisa dipesan meskipun tidak terlihat adanya pangkalan ojek. Setelah ditelusuri, ternyata pengojek di desa ini sebagian besar adalah penduduk sekitar sendiri.
Dalam sebuah perbicangan dengan salah seorang pengojek, ia mengaku bahwa pengojek adalah profesi sampingannya di saat musim pendakian. “Biasanya saya bertani atau berladang atau membantu orang membuat pintu dan kusen. Ojek ini hanya untuk membantu para pendaki,” katanya.
Mayoritas profesi dari penduduk Desa Selo memang adalah petani. Hal ini terlihat jelas dari lahan-lahan pertanian yang akan menyambut pendaki di daerah ini. Sebagian besar dari mereka memilih untuk menanam sayur-sayuran. Hal ini berbeda dengan tanaman tembakau yang lebih mendominasi ketika penulis mendaki dari daerah Wekas. “Kalau tembakau di daerah ini hanya sedikit sebab kualitasnya juga tidak baik. Tidak tahu kalau di daerah sana (Wekas),” tambah pengojek itu ketika penulis berbincang tentang profesinya sebagai petani.
Merapi – Gunung Kedua
Proses estafet gunung ini akan diakhiri di Gunung Merapi: sebuah gunung api yang baru saja “mengamuk” di tahun 2010 lalu.
13459156992012881951
NEW SELO
Perjalanan yang terkenal untuk menaklukkan Merapi di kalangan pendaki adalah perjalanan “tek-tok.” Perjalanan ini merupakan perjalanan naik-turun gunung dalam waktu sehari atau tanpa bermalam di gunung. Oleh karena itu, pendakian jenis ini juga terkenal di kalangan pendaki sebagai salah satu model ultra light hiking yang tidak perlu membawa tas carier dalam ukuran besar.
Pendakian jenis “tek-tok” lebih baik dilakukan pendaki dengan mengambil jam 12 malam atau jam 01.00 pagi hari. Perjalanan cepat akan membawa pendaki ke puncak merapi dalam waktu 5 jam. Oleh karena itu, pemilihan waktu yang tepat akan membawa pendaki tepat di puncak Merapi pada saat matahari terbit.
Perjalanan pasir yang terjal
Perjalanan menuju puncak Merapi didominasi oleh model perjalanan yang didominasi oleh trek pasir dan batu-batuan setelah sebelumnya tulisan “NEW SELO” ala Hollywood akan menyambut para pendaki. Hutan pertama yang ada di daerah ini didominasi oleh tumbuhan yang tidak terlalu tinggi. Perjalanan pun terasa amat gersang sebab tidak seperti di Merbabu yang masih diselimuti hutan tropis.
1345915768691609963
Menuju Puncak Merapi
Perjalanan sejati menuju puncak akan diawali di daerah Pasar Bubrah. Daerah ini merupakan sebuah daerah datar yang seringkali digunakan oleh pendaki untuk bermalam. Di daerah ini tidak ada tumbuhan dan hanya pasir dan batuan yang begitu berlimpah.
13459152691226171879
Pasar Bubrah
Pasar Bubrah menuju puncak adalah tempat tersulit pendakian dimulai. Medan yang berpasir dan menanjak akan membuat pendaki kesulitan untuk naik. Sekali melangkahkan kaki, maka akan kembali terperosok masuk ke bawah. Begitu seterusnya hingga tidak jarang membuat pendaki harus merangkak untuk menuju puncak. Perjalanan menuju puncak pun lama kelamaan akan didominasi oleh batu-batuan keras dan hal ini membuat pendakian lebih mudah meskipun kemiringannya tetap curam.
Namun semua upaya itu akan dibayar dengan melihat kawah Merapi yang masih aktif dan juga semburan asapnya yang di sekitar lereng. Bau belerang yang menyengat juga menjadi ciri khas dari gunung ini. Matahari terbit di sebelah Gunung Lawu pun menjadi panorama yang bersifat bebas ketika langit cerah.
13459159711153931978
Matahari Terbit dari Puncak Merapi
13459156211792489940
Kawah Merapi dan Lava Pijarnya
Cerita dari mereka untuk Merbabu dan Merapi
Perjalanan menuju puncak Merbabu dan Merapi adalah sebuah perjalanan sosial: berinteraksi dengan sesama pendaki dan tersenyum sembari bertanya jalan. Seorang pendaki yang bertemu penulis bercerita bahwa ini merupakan pendakiannya menuju puncak Merbabu yang ketiga kalinya dan baru kali ini ia mencapai puncak. “Kemarin-kemarin suasananya tidak mendukung,” katanya.
Lebih jauh, ia juga menceritakan tentang cerita yang berkembang di sekitar Merbabu. ‘Kata orang di sini ada pasar setan. Hanya aktif di malam hari. Teman saya pernah ke sana. Ia membeli patung Budha dengan harga seratus ribu rupiah dan waktu itu harganya lima puluh ribu. Anehnya, ketika ia keluar pasar setan, uang kembalian berubah menjadi daun dan patungnya tetap ada bahkan sampai dijual dengan harga ratusan juta,” katanya menambahkan.
Cerita pasar setan memang cerita yang cukup berkembang di daerah gunung. Teman dari rekan penulis juga bercerita bahwa ia pernah melakukan transaksi di pasar setan. “Namun ya, siapa yang tahu. Teman saya memang punya ‘kelebihan’,” kata pendaki itu.
13459155171063692951
Pendaki Mancanegara di Merapi
Perjalanan sosial ini juga kembali terulang di Merapi. Hanya saja kali ini penulis bertemu dengan wisatawan mancanegara yang kebetulan sedang berlibur. Kumpulan wisatawan ini berasal dari berbagai negara di Eropa: Republik Ceko, Perancis, dan Jerman. Salah seorang wisatawan ini langsung berdecak kagum ketika berada di puncak Merapi. Mengabadikan lewat video dan dan foto adalah hal yang biasa untuk mereka.
Salah seorang wisatawan mancanegara yang diajak berbincang oleh penulis menyatakan bahwa tidak ada gunung di Eropa yang seterjal ini. “Ini merupakan gunung yang paling menakutkan yang pernah saya daki,” katanya. Ia juga menambahkan bahwa Indonesia memiliki potensi yang sangat baik untuk wisata alam dan budaya. Hal inilah yang menjadikan alasan bagi ia dan kawan-kawannya untuk menghabiskan perjalanan selama sekitar tiga minggu di Indonesia yang rencananya akan diakhiri di Bali.
Tentang vandalisme dan sampah
13459161311653309944
Vandalisme di Kenteng Songo
Cerita-cerita pendakian ini tidak akan berhenti untuk hal-hal heroic penuh perjuangan menuju puncak ataupun cerita-cerita mistis. Cerita estafet gunung ini pun akan bercerita tentang rusaknya alam oleh jejak mereka yang mengaku “pecinta alam.”
Tidak ubahnya di dua gunung itu, sampah terlihat sangat berserakan di daerah-daerah yang datar. Selain itu, tangan-tangan jahil terlihat sangat sering mencoret-coret batuan yang seharusnya dijaga sebagai upaya mencintai alam. Sayang, predikat mereka sebagai pecinta alam mungkin hanya sebatas eksistensi belaka. Padahal, pencinta alam sudah selayaknya tidak meninggalkan apapun kecuali jejak kaki.
1345916178100720368
Sampah di Jalur Pendakian Merapi
Dan tentang mereka yang meninggal
1345914484988131703
Nisan atas Nama Simuh
Cerita-cerita pendakian ini akan berakhir dengan kesamaan dua gunung ini untuk menyimpan nisan sebagai peringatan bagi mereka yang meninggal di gunung. Hal ini mirip dengan nisan Gie yang ada di Semeru.
13459146301028469933
Nisan di Merapi
134591457082549675
Nisan atas Nama Sugiyanto
Tercatat sekitar dua buah nisan (Simuh dan Sugiyanto) ada di Gunung Merbabu dan satu nisan atas nama tiga orang (Achmad, Paulus, dan Arseno) ada di Gunung Merapi. Nisan-nisan ini setidaknya mengingatkan pendaki bahwa kematian selalu ada di depan mata dan puncak gunung yang telah ditaklukan tidak seharusnya membuat pendaki besar kepala namun merasa bahwa ternyata pendaki hanyalah sebagian kecil dari alam yang masih harus menghadapi kenyataan akhirnya: kematian.
22.47 | 0 komentar | Read More

BACA JUGA

DAFTAR LENGKAP ARTIKEL BLOG BAGINDAERY

Ikuti situs Bagindaery

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...