ARTIKEL PILIHAN

GOOGLE TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

ARTIKEL PILIHAN

Adakah Hukum Karma dalam Islam?

Written By Situs Baginda Ery (New) on Kamis, 28 Oktober 2010 | 18.58

Seorang teman baru saja bercerita bahwa putranya wafat dalam usia 8 tahun tanpa sempat menikmati kehidupan seperti layaknya anak-anak. Sejak lahir sang putra tidak memiliki tulang belakang yang menyangga tubuh sehingga tak mampu duduk apalagi berdiri. Sepanjang hidup, putranya hanya berbaring di tempat tidur. Jika pun ingin duduk harus menyandar pada orang dewasa. Jika bepergian cukup digendong sebagaimana kita menggendong ransel. Saya tentu saja merasa sangat prihatin mendengar ceritanya. Tapi saya kemudian menjadi terkejut ketika teman ini bertanya “Apakah ada yang namanya hukum karma dalam Islam?”. Tentu ini bukan pertanyaan mudah karena saya bukan seorang ahli agama Islam. Sepanjang pengetahuan saya, hukum karma dipercaya teman-teman yang beragama Hindu.

Saya mencoba bertanya balik mengapa teman saya sampai pada pertanyaan itu. Katanya, sejak sebelum menikah dia sudah minta suaminya berusaha mencari pekerjaan lain karena status suami yang seorang penentu proyek pada sebuah instansi memungkinkan suaminya mendapat uang dengan cara yang aneh.

Mengapa aneh? Ya. Sang suami mendapat fee lumayan besar setiap kali kontraktor rekanan kantornya mengajukan proyek pembangunan maupun perbaikan jalan. Dengan tandatangannya, sebuah proyek ditentukan jalan atau tidak. Dan sang suami tak pernah mampu menolak tawaran fee yang menggiurkan meski secara kasat mata nampak jelas biaya yang diajukan tak sepadan dengan kemungkinan hasil yang didapat. Maksudnya, sang suami tahu persis dengan nilai proyek itu sebuah ruas jalan akan dibangun dengan panjang dan kualitas tertentu tapi pada realitanya ruas jalan lebih pendek dan kualitas jalan itu tak bertahan lama.

Sebagai istri, teman saya ini takut sekali jika uang-uang yang didapat sang suami akan membawa akibat buruk pada kehidupan mereka nantinya. Karena itu teman saya berulangkali meminta sang suami mencari pekerjaan lain yang lebih jelas dan lebih halal uangnya. Tapi selalu saja ketakutan teman saya itu tak digubris. Bahkan sang suami mentertawainya dengan mengatakan “Nggak mungkin uang yang saya dapat membawa akibat buruk bagi kita. Bahkan kita bisa membeli apa yang kita inginkan selama ini ya karena adanya uang itu”.

Ketika teman saya hamil, sekali lagi dia minta suaminya pindah kerja karena khawatir anaknya akan menerima akibat buruk dari uang yang tak jelas itu. Tapi usahanya sia-sia. Ketika teman ini melahirkan dan mendapati kenyataan sang putra terlahir dengan kondisi begitu mengenaskan, sang suami justru menyalahkan dan menuduhnya telah membuat bayi mereka cacat.

Mendengar cerita ini, saya makin terdiam. Sekilas saya ingat petuah kyai di tempat saya belajar dulu bahwa kita harus pastikan uang yang kita gunakan untuk makan benar-benar halal karena setiap makanan akan menjadi darah dan daging di tubuh dan akan mempengaruhi karakter seseorang.

Kepada teman ini, saya yakinkan bahwa Tuhan yang selalu Maha Pengasih tak akan memberi sesuatu di luar kesanggupan kita menanggungnya. Maka kita harus belajar berpikir positif kepada Tuhan bahwa dengan kejadian yang kita anggap buruk ini, sebenarnya Tuhan hanya sedang membantu kita untuk menjadi lebih kuat. Bukankah ada pepatah yang mengatakan “sesuatu yang tidak membunuhmu, hanya akan menjadikanmu lebih kuat”?

Di rumah saya mencoba mencari sebuah ayat Qur’an yang sepanjang jalan pulang tadi menari-nari di kepala terkait dengan pertanyaannya tentang hukum karma. Dan saya menemukan ayat ini : Karena itu barangsiapa yang mengerjakan kebaikan meski seberat debu, dia pasti akan melihatnya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan meski seberat atom pun, dia pasti akan melihat (balasan) nya pula” (Q.S.99: 7 & 8).

Saya tak tahu apakah kedua ayat di atas bisa diartikan bahwa hukum karma juga dipercaya dalam Islam. Tetapi saya kira kedua ayat tersebut dengan sangat jelas menggambarkan tentang hukum sebab akibat dan pastinya Tuhan ingin kita selalu berhati-hati dalam berpikir dan bertindak baik pada Nya, pada diri sendiri apalagi pada orang lain karena semua yang kita lakukan selalu saja kembali pada diri kita. Bukankah siapa menabur angin akan menuai badai?

Wallahu a’lam

Rahmah Hasjim, Jakarta, Oktober 2009

18.58 | 0 komentar | Read More

Rumah Mbah Maridjan-pun terkena awan panas.

Banyak yang bertanya-tanyi “Mengapa rumah penunggu Gunung Merapi, mBah Maridjan pun bisa tersapu awan panas, padahal sudah sejak beliau lahir tempat tinggalnya aman-aman saja ?“.

Kali ini dongengan geologi menjelaskan bukan dari sisi klenik dan metafisik. Tetapi mencoba menjelaskan berdasarkan pengamatan geologis daerah seputar Gunung Merapi, terutama sekitar Rumah Mbah Maridjan.

:( “Looh Pakdhe, memangnya penyebabnya itu klenik atau pertunjukan gejala Volcano geologi sih ?”

:D “Thole, penjelasan ini hanyalah salah satu dari sekian penjelasan yang ingin diketahui. Kamu boleh memilih mana yang kamu percayai. Bahkan simbah juga punya keyakinannya sendiri yang harus dihormati”

Lokasi rumah Mbah Maridjan

Rumah Mbah Maridjan berada pada dusun Kinahrejo yang berjarak sekitar 4.5 Km dari puncak merapi. Sebenarnya lokasi dusun Kinahrejo berupa sebuah punggungan bukit kecil yang merupakan lokasi dusun paling tinggi di selatan Gunung Merapi.

Lokasi Rumah Mbah Maridjan 4.5 Km dari Puncak Merapi.

Rumah Mbak Maridjan terletak di lereng selatan Gunung Merapi. Tempat tinggalnya sebnernya berada pada sebuah punggungan bukit yang memanjang. Disebelah timurnya ada (bekas) taman wisata Kali Adem, sedangkan disebelah baratnya ada tempat wisata Kaliurang. (Bekas) Taman wisata Kaliadem ini terkena Volcanic avalances (Awanpanas) pada tahun 2006 lalu. Gambar diatas yang berwarna putih menunjukkan lokasi bunker dimana ada dua korban didalamnya.

Luncuran Sebelum 2006

Luncuran sebaran awan panas 1911-2006 (sumber : Badan Geologi)

Sebelum tahun 2006, luncuran awan panas hampir salalu mengarah ke barat lihat peta diatas ini. Pada tahun-tahun 1911-2006, luncuran ini dikontrol morfologi puncak merapi, dimana dibagian barat terdapat lubang, sedangkan bagian timur terdapat dinding. Disebelah selatan ada sebuah batu besar yang disebut Gegerboyo (punggung buaya), karena mirip dengan punggungan buaya.

Memang luncuran juga pernah terjadi kearah selatan, bahkan hingga sangat jauuh. Namun secara umum luncuran awanpas Gunung Merapi ini mengarah ke barat. Pada tahun 1994, awanpanas pernah melanda sebelah timur Lokasi Wisata Kaliurang.

Awan Panas tahun 2006.

Ketika terjadi gempa jogja pada 27 Mei 2006 terjadi gempa Jogja dengan kekuatan magnitude hingga 6.3 diduga sebagai penyebab runtuhnya dinding selatan atau runtuhnya Geger Boyo. Keruntuhan geger boyo ini menyebabkan luncuran awanpanas pada erupsi tahun 2006 mengarah ke selatan. Luncuran ini sempat memunculkan tragedi yg pernah ditulis sebelumnya disini : aman terkendali" href="http://rovicky.wordpress.com/2010/10/28/2010/10/25/efusif-bukan-berarti-aman-terkendali/">Tragedi Bunker Merapi 2006 – Efusif bukan berarti aman terkendali

Luncuran awan panas pada tahun 2006 ini mengarah keselatan setelah runtuhnya Gegerboyo. Luncuran awanpanas ini mengenai bukit dan berbelok sedikit kebarat kemudian menuju kebawah hingga menutup bunker yang menelan dua korban jiwa.

Arah luncuran Awanpanas 2006 dan 2010.

Luncuran awanpanas 2010

Tahun 2010 ketika terjadi luncuran tentusaja daerah rendahan yang sebelumnya dipakai untuk lewatnya awanpanas terisi oleh material-material yang terbawa tahun 2006, juga hasil endapan lahar yang terangkut oleh air hujan. Sehingga menyebabkan jalur tempat luncuran sebelumnya menjadi “terisi” dan dangkal.

Karena topografi serta morfologi bentuk alurnya berubah tentusaja aliran awanpanas juga berubah mengikuti jalur yang lain. Sangat naas bagi daerah Dusun Kinahrejo, yang sebelumnya aman menjadi jalur aliran debu ujung dari awan panas ini.

Hal inilah yang menyebabkan mengapa jalur luncuran awanpanas 2010 berbeda dengan jalur tahun 2010.

Perubahan jalur awanpanas

Secara grafis digambarkan disebelah ini.

Awan panas pada dasarnya terisi oleh material campuran pasir, batu, kerakal, kerikil, pasir hingga debu volkanik. Untuk melihat bagaimana luncurannya silahkan dilihat di video sebelumnya disini :

Awan Panas Merapi dalam Video [Pyroclastic flow]

Setiap aliran awanpanas didalamnya terdapat material piroklastik terisi oleh material campuran pasir, batu, kerakal, kerikil, pasir hingga debu volkanik memiliki volumenya hingga jutaan meterkubik. Material ini akan mengisi jalur-jalur ini sehingga menyebabkan alurnya berubah.

Ketika ada luncuran berikutnya tentusaja akan mengikuti pola airan yang “baru”, dan tidak mengikuti aliran yang lama.

BERUBAH !

Pelajaran yang bisa dipetik dari peristiwa ini adalah, alam itu selalu berubah sehingga manusia harus ikut bersama-sama alam berubah supaya tidak terkejut adanya perubahan-perubahan yang mungkin akan mengancam dirinya.

:( “Oooh jadi bukan berarti Mbah Marijan sudah tidak sakti lagi ya Pakdhe?”

:D “Looh Thole, Mbah Maridjan pernah ngendiko (mengatakan), bahwa beliau haya penunggu gunung, bukan pawang penakluk gunung. Itulah sebabnya beliau tetap setia menunggu gunung ini sesuai dengan tugas dan kewajiban yang diyakininya sebagai amanah”

Selamat Jalan Mbah Maridjan. Semoga Yang Maha Kuasa dan Maha Mengerti akan menerima siMbah disisi terbaikNya. Amien.

18.57 | 0 komentar | Read More

Mbah Maridjan Waktuku Sudah Dekat

Selasa lalu, kumandang azan asar terdengar nyaring dari masjid yang berjarak 100 meter dari kediaman Mbah Maridjan. Lelaki 83 tahun itu bergegas ke masjid untuk menunaikan salat.

Si Mbah tampil beda sore itu. Ia mengenakan baju koko kuning berlengan panjang, kain sarung, dan peci hitam. Padahal biasanya ia memakai baju batik lengan panjang. "Saya lihat baju itu ada renda-rendanya," kenang fotografer tabloid Nova, Daniel Supriyono, di RS Sardjito,Yogyakarta, kemarin.

Seusai si Mbah salat, Daniel bersama reporter Ahmad Tarmizi tergopoh-gopoh menya-laminya. Lalu Mbah Maridjanmasuk ke dalam rumah, diikuti dua laki-laki - satu orang mengenakan baju batik, satu lagi baju seragam yang biasa dikenakan awak media.

Daniel lalu bergabung dengan wartawan-wartawan lain dan beberapa warga. Ada sekitar 15 orang yang bercengkerama santai sambil mengudap di teras rumah si Mbah.

Pukul 16.30 WIB, rombongan wartawan turun, kecuali dua tamu si Mbah tadi dan sebagian warga. Cuaca mulai gelap. Pada saat bersamaan, ujar relawan Taruna Siaga Bencana Yogyakarta, Krista Martana, 29 tahun, serombongan orang naik ke Ki-nahrejo dengan mobil.

Misi para kerabat si Mbah inijelas, yaitu membujuk sang juru kunci Merapi agar turun. Mereka juga ingin memenuhi permintaan si Mbah. "Si Mbah telepon minta uang pitungatus rupiah (Rp 700)," kata Krista.

Misi gagal. Bintang iklan minuman berenergi itu menolak mengungsi. Tak lama berselang, awan panas meluluhlantakkan Dusun Kinahrejo, tempat Mbah Maridjan tinggal. Awan panas inilah yang merenggut jiwa sang kuncen Merapi bersama beberapa orang lainnya.

Setelah peristiwa itu, para kerabatnya menangkap maksud permintaan si Mbah. "Pitungatus bisa diartikan pitulungan (pertolongan). Jadi, si Mbah sebenarnya minta pertolongan,"kata Krista. Namun mereka tidak tahu jenis pertolongan yang dimaksudkan.

Selain permintaan tersebut, pada Jumat, 22 Oktober, si Mbah sempat menyampaikan pesan kepada koleganya, Wangsaf Yudi, yang akrab disapa Ki Demang. "Seusai salat Jumat, dia bilang wektuku iki wis cedhak"(waktuku sudah dekat)," ujar Ki Demang.

Biasanya, saat Merapi mulai batuk-batuk, si Mbah menyepi di Bukit Petir, sedangkan pada hari kematiannya itu si Mbah tetap di rumah. Dalam posisi bersujud, Mas Penewu Suraksohar-go alias Mbah Maridjan mengakhiri 28 tahun pengabdiannya sebagai juru kunci Merapi.

PW) AGUSTIN I KH FWOIKJl

Entitas terkaitAwan | Bintang | Bukit | Cuaca | Daniel | Dusun | Ki | Krista | Lelaki | Mbah | Merapi | Misi | Padahal | Pitungatus | Pukul | RS | Seusai | Wangsaf | Ahmad Tarmizi | Mas Penewu | Mbah Maridjan | Si Mbah | AGUSTIN I KH | Lalu Mbah Maridjanmasuk | Taruna Siaga Bencana | Mbah Maridjan Waktuku Sudah Dekat |
Ringkasan Artikel Ini
Mbah Maridjan Waktuku Sudah Dekat. Lalu Mbah Maridjanmasuk ke dalam rumah, diikuti dua laki-laki - satu orang mengenakan baju batik, satu lagi baju seragam yang biasa dikenakan awak media. Ada sekitar 15 orang yang bercengkerama santai sambil mengudap di teras rumah si Mbah. Selain permintaan tersebut, pada Jumat, 22 Oktober, si Mbah sempat menyampaikan pesan kepada koleganya, Wangsaf Yudi, yang akrab disapa Ki Demang. Biasanya, saat Merapi mulai batuk-batuk, si Mbah menyepi di Bukit Petir, sedangkan pada hari kematiannya itu si Mbah tetap di rumah.
18.55 | 0 komentar | Read More

BACA JUGA

DAFTAR LENGKAP ARTIKEL BLOG BAGINDAERY

Ikuti situs Bagindaery

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...