ARTIKEL PILIHAN

GOOGLE TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

ARTIKEL PILIHAN

Misteri Gunung Merapi

Written By Situs Baginda Ery (New) on Kamis, 28 Oktober 2010 | 18.53

GUNUNG Merapi dipercaya sebagai tempat keraton makhluk halus. Panembahan Senopati pendiri kerajaan Mataram memperoleh kemenangan dalam perang melawan kerajaan Pajang dengan bantuan penguasa Merapi. Gunung Merapi meletus hingga menewaskan pasukan tentara Pajang, sisanya lari pontang-panting ketakutan. Penduduk yakin bahwa Gunung Merapi selain dihuni oleh manusia juga dihuni oleh makhluk- makhluk lainnya yang mereka sebut sebagai bangsa alus atau makhluk halus.

Penduduk di daerah Gunung Merapi mempunyai kepercayaan tentang adanya tempat-tempat angker atau sakral. Tempat angker tersebut dipercayai sebagai tempat-tempat yang telah dijaga oleh mahkluk halus, dimana itu tidak dapat diganggu dan tempat tersebut mempunyai kekuatan gaib yang harus dihormati. Penduduk pantang untuk melakukan kegiatan seperti menebang pohon, merumput dan mengambil ataupun memindahkan benda-benda yang ada di daerah tersebut. Selain pantangan tersebut ada juga pantangan untuk tidak berbicara kotor, kencing atau buang air besar, karena akan mengakibatkan rasa tersinggung makhluk halus yang mendiami daerah itu.

Tempat-tempat yang paling angker di Gunung Merapi adalah kawah Merapi sebagai istana dan pusat keraton makhluk halus Gunung Merapi. Di bawah puncak Gunung Merapi ada daerah batuan dan pasir yang bernama “Pasar Bubrah” yang oleh masyarakat dipercaya sebagai tempat yang sangat angker. “Pasar Bubrah” tersebut dipercaya masyarakat sebagai pasar besar Keraton Merapi dan pada batu besar yang berserakan di daerah itu dianggap sebagai warung dan meja kursi makhluk halus.

Bagian dari keraton makhluk halus Merapi yang dianggap angker adalah Gunung Wutoh yang digunakan sebagai pintu gerbang utama Keraton Merapi. Gunung Wutoh dijaga oleh makhluk halus yaitu “Nyai Gadung Melati” yang bertugas melindungi linkungan di daerah gunungnya termasuk tanaman serta hewan.

Selain tempat yang berhubungan langsung dengan Keraton Merapi ada juga tempat lain yang dianggap angker. Daerah sekitar makam Sjech Djumadil Qubro merupakan tempat angker karena makamnya adalah makam untuk nenek moyang penduduk dan itu harus dihormati.

Selanjutnya tempat-tempat lain seperti di hutan, sumber air, petilasan, sungai dan jurang juga dianggap angker. Beberapa hutan yang dianggap angker yaitu “Hutan Patuk Alap-alap” dimana tempat tersebut digunakan untuk tempat penggembalaan ternak milik Keraton Merapi, “Hutan Gamelan dan Bingungan” serta “Hutan Pijen dadn Blumbang”. Bukit Turgo, Plawangan, Telaga putri, Muncar, Goa Jepang, Umbul Temanten, Bebeng, Ringin Putih dan Watu Gajah.

Beberapa jenis binatang keramat tinggal di hutan sekeliling Gunung Merapi dimiliki oleh Eyang Merapi. Binatang hutan, terutama macan putih yang tinggal di hutan Blumbang, pantang ditangkap atau dibunuh. Selanjautnya kuda yang tinggal di hutan Patuk Alap-alap, di sekitar Gunung Wutoh, dan di antara Gunung Selokopo Ngisor dan Gunung Gajah Mungkur adalah dianggap/dipakai oleh rakyat Keraton Makhluk Halus Merapi sebagai binatang tunggangan dan penarik kereta.

Di puncak Merapi ada sebuah Keraton yang mirip dengan keraton Mataram, sehingga di sini ada organisasi sendiri yang mengatur hirarki pemerintahan dengan segala atribut dan aktivitasnya. Keraton Merapi itu menurut kepercayaan masyarakat setempat diperintah oleh kakak beradik yaitu Empu Rama dan Empu Permadi.

Seperti halnya pemerintahan sebagai sebagai Kepala Negara (Empu Rama dan Empu Permadi) melimpahkan kekuasaannya kepada Kyai Sapu Jagad yang bertugas mengatur keadaan alam Gunung Merapi. Berikutnya ada juga Nyai Gadung Melati, tokoh ini bertugas memelihara kehijauan tanaman Merapi. Ada Kartadimeja yang bertugas memelihara ternak keraton dan sebagai komando pasukan makhluk halus. Ia merupakan tokoh yang paling terkenal dan disukai penduduk karena acapkali memberi tahu kapan Merapi akan meletus dan apa yang harus dilakukan penduduk untuk menyelamatkan diri. Tokoh berikutnya Kyai Petruk yang dikenal sebagai salah satu prajurit Merapi.

Begitu besarnya jasa-jasa yang telah diberikan oleh tokoh-tokoh penghuni Gunung Merapi, maka sebagai wujud kecintaan mereka dan terima kasih terhadap Gunung Merapi masyarakat di sekitar Gunung Merapi memberikan suatu upeti yaitu dalam bentuk upacara-upacara ritual keagamaan. Sudah menjadi tradisi keagamaan orang Jawa yaitu dengan mengadakan selamatan atau wilujengan, dengan melakukan upacara keagamaan dan tindakan keramat.

Upacara Selamatan Labuhan diadakan secara rutin setiap tahun pada tanggal kelahiran Sri Sultan Hamengku Buwono X yakni tanggal 30 Rajab. Upacara dipusatkan di dusun Kinahrejo desa Umbulharjo. Di sinilah tinggal sosok Mbah Marijan sebagai juru kunci Gunung Merapi yang sering bertugas sebagai pemimpin upacara labuhan. Gunung Merapi dan Mbah Marijan adalah dua hal yang sulit dipisahkan. Keberadaan lelaki tua Mbah Marijan dan kawan-kawannya itulah manusia lebih, mau membuka mata dan telinga batinnya untuk melihat apa yang tidak kasad mata di sekitar Gunung Merapi.

Di Selo setiap tahun baru Jawa 1 Suro diadakan upacara Sedekah Gunung, dengan harapan masyarakat menjadi aman, tentram dan sejahtera, dengan panen yang melimpah. Upacara ini disertai dengan menanam kepala kerbau di puncak Merapi atau di Pasar Bubrah.

Sumber : harian pos metro balikpapan

18.53 | 0 komentar | Read More

Ribuan Orang Berteriak "Mbah Maridjan Sae!"

Sejumlah orang penting hadir di pemakaman Mbah Maridjan. The last man standing on Merapi.
Kamis, 28 Oktober 2010, 13:15 WIB
Elin Yunita Kristanti

VIVAnews -- Pemakaman keluarga Srumen, Glagaharjo, Cangkringan di kaki Gunung Merapi yang biasanya senyap, hari ini, Kamis 28 Oktober 2010 ramai.

Ribuan orang datang untuk melepas jenazah Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi.

Setelah sampai ke area pemakaman, jenazah Mbah Maridjan harus menunggu 45 menit, menunggu para pelayat selesai membacakan tahlil di sekitar liang lahatnya.

Pada pukul 12.00 WIB, jenazah dibawa ke liang lahat. Sejumlah tokoh menghadiri pemakaman seperti Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie, Direktur Utama PT Sido Muncul Irwan Hidayat, aktor Donny Kesuma, dan Bupati Sleman Bupati Sleman Sri Purnomo.

Sementara pihak keraton diwakili putri Sultan Hamengkubuwono X, GKR Pembayun dan adik Sultan, GBPH Prabu Kusumo.

Saat jenazah hendak dimasukkan ke lubang kubur, kiai menanyakan pada para pelayat, pendapat mereka tentang Mbah Maridjan semasa hidup.

"Mbah Maridjan sae nopo awon para rawuh." [Mbah Maridjan, baik apa tidak].

Dijawab keras-keras oleh ribuan pelayat, "Sae!".

Kemudian, jenazah dimasukkan ke liang, seluruh pelayat mengumandangkan 'La illahaillallah' berulang kali.

Tak hanya jadi perhatian media dalam negeri. Pemakaman Mbah Maridjan juga diliput sejumlah media asing seperti CNN dan Reuters -- bukti bahwa nama Mbah Maridjan mendunia.

Pria bernama Mas Penewu Suraksohargo ini adalah juru kunci Merapi sejak tahun 1982.

Nama Mbah Maridjan naik daun saat Merapi meletus pada 2006 lalu. Saat itu, ia menolak untuk mengungsi meski dibujuk langsung oleh Sultan Hamengku Buwono X.

Sikap Mbah Maridjan menuai kecaman sekaligus pujian. Karena keberaniannya dan setia pada tugasnya merawat Merapi.

Letusan Merapi tahun Oktober 2010 ini jadi tugas terakhir bagi sang kuncen.

Dia ikut tewas ketika kampung asrinya, Kinahrejo diterjang awan panas Merapi 'wedhus gembel'.

Pada Rabu pagi 27 Oktober 2010 pagi, pria yang mengabdi di Merapi sejak 1982 itu ditemukan tewas di rumahnya. Dalam posisi bersujud.

Meski ada yang mengatakan ia gagal mengelakkan bencana, Mbah Maridjan adalah gambaran seorang yang setia dan amanah mengembang tugas hingga ajal. The last man standing on Merapi.

(Laporan: Fajar Sodiq| Yogyakarta, umi)

• VIVAnews
18.53 | 0 komentar | Read More

Mbah Maridjan Dimakamkan di Kaki Merapi

Mbah Maridjan dimakamkan di pemakaman keluarga. Hanya 5 kilometer dari kampungnya.
Kamis, 28 Oktober 2010, 07:58 WIB
Elin Yunita Kristanti
Mbah Marijan (FOTO ANTARA/Regina Safri)

VIVAnews -- Tugas Mbah Maridjan sebagai juru kunci Gunung Merapi sudah paripurna.

Selasa 26 Oktober 2010 petang, awan panas Merapi 'wedhus gembel' menerjang Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Yogyakarta. Juga ke rumah Mbah Maridjan.

Rabu pagi 27 Oktober 2010 pagi, kuncen Merapi itu ditemukan tewas di rumahnya. Dalam posisi bersujud.

Belasan orang juga ditemukan meninggal di sekitar rumah Mbah Maridjan, termasuk sahabat kami, editor VIVAnews,com, Yuniawan Wahyu Nugroho.

"Mbah Maridjan dimakamkan hari ini pukul 10.00 WIB, dari RS Sardjito berangkat pukul 09.00 WIB," kata kerabat Mbah Maridjan, Agus Winaryo, Kamis 27 Oktober 2010.

Saat ini pihak keluarga sudah berdatangan ke Sardjito. Ada istri Mbah Maridjan dan sejumlah anaknya: Asih, Panut, Widodo, dan Lastri.

Diungkapkan Agus, salat jenazah akan dilakukan di masjid RS Sardjito. "Masyarakat yang ingin menyalatkan dipersilakan sebelum jam 09.00 WIB," kata dia.

Mbah Maridjan, kata dia, dimakamkan di Srumen, Glagaharjo, Cangkringan.

Sementara jenazah korban lainnya akan dimakamkan secara massal di Sidorejo, Umbulharjo, Cangkringan.

"Simbah dimakamkan di makam keluarga, karena mbahnya ada di sana. Dari makam Sidorejo hanya dibatasi Sungai Gendol," tambah dia.

Makam Mbah Maridjan dekat dengan kampungnya Kinahrejo -- kampung asri yang berubah jadi padang tandus pasca diterjang awan dan abu Merapi.

"Kira-kira hanya 5 kilometer dari kampungnya," tambah Agus.

Makam pria bernama asli Mas Penewu Suraksohargo ada di kaki Merapi -- gunung yang ia jaga dan pelihara sampai ajal menjemput.

(Laporan: Fajar Sodiq| Yogyakarta, umi)

• VIVAnews
18.53 | 0 komentar | Read More

BACA JUGA

DAFTAR LENGKAP ARTIKEL BLOG BAGINDAERY

Ikuti situs Bagindaery

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...