Rabu, 05 April 2017

ARTIKEL INSPIRASI ISLAMI: BELAJAR DARI PENGUSAHA (MERINTIS KEBAHAGIAAN DUNIA DAN AKHIRAT)

“Hidup adalah sebuah pengembaraan, maka manusia yang memilki visi, ibarat seorang pengembara yang telah melihat ujung pengembaraannya. Dia tau akan arah perjalanannya, sehingga berbagai halangan dan rintangan takkan mampu membuatnya menjauh dari arah yang ia tuju. Berlikunya jalan yang ia tempuh akan ia anggap sebagai konsekuensi logis dari pengembaraannya. Hasutan yang datang dari berbagai sisi, takkan mampu membelokkan hatinya dari jalan yang ia pegang teguh. Mengapa? Karena ia tahu, bahwa orang lain tidak mampu melihat ujung perjalanannya. Biarlah para penghasut berkutat dengan fatamorgananya, sedang para visioner akan berjuang keras mewujudkan cita-cita besarnya.“
Ar-Rahman
“Maka nikmat Rabbmu mana lagikah yang akan kamu dustakan?”
Alhamdulillah, sungguh rasa syukur selalu dan harus selalu mengiri perjalanan diri ini. Termasuk masa-masa saat ini, dimana saya banyak dikelilingi oleh para pengusaha-pengusaha luar biasa. Pengusaha-pengusaha yang berhasrat besar untuk menularkan semangat wirausaha kepada generasi muda. Lebih jauh lagi, saya dikelilingi oleh para pengusaha yang senantiasa menjadi tutor untuk mengajarkan bagaimana melaksanakan perniagaan yang tiada pernah merugi. 😀
Salah satu hikmah yang saya dapatkan melalui diskusi dengan beliau-beliau adalah pemahaman mengenai “proses”. Bahwa keberhasilan yang mereka rengkuh saat ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Target-target yang mereka capai, bukanlah datang melalui sebuah keberuntungan. Memang benar, ada sekelumit kesempatan yang hadir dan jarang dirasakan oleh semua orang, akan tetapi haruslah diingat, bahwa “kesempatan akan datang bagi mereka yang mempersiapkan. Orang-orang yang tidak siap, tidak akan menganggap suatu kesempatan sebagai kesempatan.”
Perjalanan yang dilalui untuk mengejar cita-cita mereka membutuhkan proses yang panjang dan berliku, terutama pada masa-masa merintis. Bahkan sering muncul istilah, saat-saat merintis adalah saat-saat dimana kaki menjadi kepala dan kepala menjadi kaki. Begitulah kiranya, proses jungkir-balik menjadi hal yang lumrah saat merintis.
Hampir semua pengusaha besar, pada masa-masa awal usahanya, menjadi konseptor sekaligus pelaksana. Tak hanya sebagai manajer, mereka juga turun langsung mengurusi keuangan, melakukan pencatatan, produksi, pemasaran, dan lain sebagainya. Selain itu, mereka juga harus bersabar menunggu saat-saat jerih payah yang mereka perjuangkan menjadi nyata atau wujud. Maka proses dimana usaha mereka belum membuahkan hasil memuaskan, adalah masa-masa ujian. Ada seorang pengusaha yang berkata pada saya, “masa-masa awal mencoba, biaya yang dikeluarkan bagi sebagian orang dianggap sebagai kerugian, namun bagi pengusaha hal tersebut bukanlah kerugian, melainkan investasi ilmu agar nantinya dapat mengembangkan usahanya hingga mencapai keuntungan yang diharapkan. Justru ketika orang berhenti dan tidak mengembangkan ilmu yang didapat dalam proses mencoba, itulah yang rugi, karena biaya investasi ilmunya tidak kembali.”
Keyakinan pada Visi
Mengapa? ya berbagai kata mengapa akan keluar. Mengapa mereka mau berjuang begitu kerasnya, bahkan mengerahkan seluruh daya dan upayanya untuk  memperjuangkan usaha mereka? Mengapa mereka mampu bersabar dan bertahan menunggu hasil jerih payahnya terwujud?
Semua hal itu tidaklah mungkin dapat dilalui tanpa adanya visi dan keyakinan. Visilah yang membuat orang mempunyai arah dalam hidup. Visilah yang akan menimbulkan keyakinan pada suatu hal yang belum wujud. Kenapa? karena visi adalah suatu kondisi yang ingin diwujudkan, dengan demikian visi adalah sesuatu yang belum wujud. Maka orang-orang yang memiliki visi adalah orang-orang yang akan mewujudkan visinya. Semakin tinggi keyakinan akan visi yang dimiliki, semakin tinggi pula keyakinan seseorang untuk bertahan dalam proses mewujudkan visinya.
Hidup adalah sebuah pengembaraan, maka manusia yang memilki visi, ibarat seorang pengembara yang telah melihat ujung pengembaraannya. Dia tau akan arah perjalanannya, sehingga berbagai halangan dan rintangan takkan mampu membuatnya menjauh dari arah yang ia tuju. Berlikunya jalan yang ia tempuh akan ia anggap sebagai konsekuensi logis dari pengembaraannya. Hasutan yang datang dari berbagai sisi, takkan mampu membelokkan hatinya dari jalan yang ia pegang teguh. Mengapa? Karena ia tahu, bahwa orang lain tidak mampu melihat ujung perjalanannya. Biarlah para penghasut berkutat dengan fatamorgananya, sedang para visioner akan berjuang keras mewujudkan cita-cita besarnya.
Kepercayaan besar akan visi adalah sebuah paradigma yang sulit ditemui saat ini. Paradigma yang bisa juga disebut “believing is seeing” inilah yang akan membuat orang bertahan untuk berjuang mewujudkan suatu hal yang belum wujud. Sedangkan paradigma yang saat ini diajarkan dimanapun, terutama di sekolah adalah “seeing is believing” sehingga sulit menemukan orang-orang visioner di tengah-tengah kehidupan ini. Orang-orang yang “seeing is believing” lebih menyukai pekerjaan-pekerjaan yang telah terukur dengan pasti dan telah dilalui orang-orang kebanyakan di sekitarnya. Maka wajarlah orang-orang seperti ini takkan mampu menjadi pendobrak, karena mereka hanya melihat yang ada di sekitarnya, bukan melihat pada hal-hal yang bersifat futuristik layaknya para visioner.
Sungguh sebenarnya keyakinan akan sesuatu yang belum terlihat wujudnya, atau “believing is seeing” adalah ajaran yang telah termaktub di dalam Al-Quran.
“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (Q.S. Al Baqoroh : 2-3)
Secara tidak langsung, orang-orang visioner, termasuk salah satunya para pengusaha, telah meniru perilaku yang disebutkan pada ayat tersebut, yaitu mempercayai hal yang gaib atau belum wujud. Berbeda dengan mayoritas orang saat ini yang lebih menyukai kejelasan, seperti bekerja dengan gaji yang besaran dan waktunya pasti.
Mengejar Visi yang Berdasar
Sungguh sulit memang membayangkan masa-masa prihatin para pengusaha sukses, namun mereka memang benar-benar pernah merasakan masa-masa jatuh dan bangun. Menakjubkan melihat kegigihan mereka untuk menggapai cita-cita maupun visi yang mereka yakini.
Hal ini seharusnya menjadi ayat bayyinah bagi kita. Saya teringat surat Al Baqoroh ayat 199 – 201 yang berbunyi sebagai berikut:
(2,199-203)
Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Rabb kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.
Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.
Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya. (Q.S. Al-Baqoroh: 199-201)
Ayat tersebut mengajarkan kepada kita bahwa ada manusia-manusia yang bervisi pada kebahagiaan dunia serta ada pula manusia-manusia yang bervisi pada kebahagiaan dunia dan akhirat.
Tanpa melihat latar belakang penyusunan visi yang dibuat oleh para pengusaha-pengusaha sukses, setidaknya kehidupan mereka menjadi idaman bagi kebanyakan orang saat ini. Dengan demikian, bisa kita pandang bahwa mereka telah mampu merengkuh kebahagiaan di dunia sehingga pantaslah jika kegigihan serta daya juang mereka dalam merintis usahanya menjadi gambaran dan teladan bagi kita dalam merintis kebahagiaan dunia.
Namun, seperti yang termaktub dalam surat Al Baqoroh ayat 199-200 di atas, mengejar kebahagiaan dunia saja tidaklah cukup. Kita harus mengejar kebahagiaan dunia dan akhirat. Dengan kata lain, kita harus mampu menciptakan sebuah tatanan yang mampu menghasilkan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat seperti yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW  dan para sahabatnya.
Pejuang Kebahagiaan Dunia dan Akhirat
Berkaca pada hal tersebut, maka bagaimanakah jatuh-bangunnya Rasul dan para sahabat dalam merintis kebahagiaan dunia dan akhirat? Bagaimanakah pengorbanan yang dilakukan oleh Rasul dan para sahabatnya? Bagaimanakah besarnya ujian yang dihadapi oleh mereka? Bagaimanakah ketangguhan daya juang mereka dalam rangka menggapai visi yang diidamkan?
Sungguh sulit memberikan jawaban gamblang akan pertanyaan-pertanyaan di atas. Namun, melihat ayat-ayat nyata mengenai perjuangan orang-orang yang sukses menggapai kebahagiaan di dunia, maka gambarannya, untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, pastilah dibutuhkan perjuangan yang jauh lebih besar daripada perjuangan menggapai kebahagiaan dunia.
Jika pada masa merintis, para pengusaha bersedia mengerjakan segala usahanya sendiri, maka pastinya satu orang muslim terdahulu juga mengerjakan berbagai kegiatan yang beban pengerjaannya puluhan atau bahkan ratusan orang. Itulah sebabnya, dahulu pasukan muslim, selalu bisa mengalahkan pasukan musuh yang jumlahnya berkali-kali lipat jumlah pasukan muslim. Hal itu tidak lain dan tidak bukan karena pasukan muslim telah terlatih untuk memegang tanggung jawab yang seharusnya dipikul oleh banyak orang. Firman Allah dalam surat Al Anfaal ayat 65.
“Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti” (Q.S. Al-Anfaal:65)
Maka bagi para muslim yang sedang merintis jalan menuju cita-cita agung, yakni kebahagiaan dunia dan akhirat, sudah pastilah akan memegang tampuk amanah besar dengan beban pengerjaan besar. Jika proses tersebut mampu dilewati, niscaya satu orang muslim akan bisa menyamai kapasitas ratusan orang sesuai dengan janji Allah tersebut.
Jika pada masa merintis, para pengusaha harus melewati jalan yang berlika-liku, maka begitu pula yang dialami oleh Rasul dan para sahabatnya. Mereka ditempa dengan berbagai ujian untuk bisa memasuki kehidupan yang didamba-dambakan. Seperti firman Allah dalam surat Al-Baqoroh ayat 214
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Jannah, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”
Jika para pengusaha sangat meyakini keberhasilan visi mereka, maka bayangkan, seperti apa Rasul dan para sahabatnya meyakini visi yang sangat berdasar dan merupakan janji dari Sang Khalik? Keyakinan inilah yang membuat semangat para muslim terdahulu berkobar luar biasa tanpa bisa dibendung.
Jika para pengusaha meyakini bahwa dalam proses merintis tidak ada kata merugi dan bahwa merugi adalah kondisi ketika orang menyerah di tengah perjalanan merintisnya, maka memang seharusnya seorang muslim tidak pernah boleh mundur dalam memperjuangkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Layaknya pasukan muslim saat menaklukan Andalusia, dimana panglima perang saat itu, Thariq bin Ziyad, membakar seluruh kapal muslim beserta dengan amunisi di dalamnya sehingga tidak ada pilihan selain maju menghadapi musuh. Keberanian yang berbuah kemenangan tersebut tidak lain dan tidak bukan karena keyakinan yang tinggi akan kebenaran janji Allah tanpa ada keraguan sedikitpun, seperti dalam firman-Nya
“Kebenaran itu dari Rabbmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu” (Q.S. Al Baqoroh : 147)
Semoga tulisan ini menjadi sebuah potret langkah yang mampu menjaga diri ini dan juga jiwa-jiwa lain agar senantiasa maju tak gentar serta tak mengenal lelah dalam memperjuangkan apapun cita-cita yang dimiliki, termasuk cita-cita mewujudkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Semoga diri ini dan para pembaca semakin yakin bahwa tidak ada kata merugi bagi para perintis kebahagiaan dunia dan akhirat sesuai dengan firman Allah dalam surat Fathir ayat 29.
Maka, janganlah takut, janganlah bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.

https://mahdikarim.wordpress.com

ARTIKEL INSPIRASI ISLAMI: Obat Kekosongan, Kehampaan, dan Keraguan Hati (Petunjuk Hidup

Seringkali manusia merenung sembari bertanya pada dirinya sendiri, “untuk apa aku melakukan ini, untuk apa aku melakukan itu?”. Hatinya hampa dan sering timbul rasa cemas pada diri. Keraguan menyelimuti setiap sudut relung jiwanya. “Sia-siakah yang kuperbuat selama ini?” dan masih banyak lagi pertanyaan terbersit dalam benaknya.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Mengapa muncul kekosongan dan kehampaan dalam hati? Mengapa keraguan bisa muncul?

Tentu kekosongan, kehampaan, dan keraguan akan muncul ketika seseorang tidak memiliki pegangan, pedoman, serta petunjuk dalam menjalani kehidupannya. Mereka terombang-ambing dalam arus kehidupan karena ketidaktahuannya akan arah akhir yang ingin dituju.
Ada pula manusia yang tetap merasa kosong, hampa, dan ragu meskipun telah memiliki pegangan dan pedoman. Mengapa hal ini terjadi? Ternyata memiliki pegangan dan pedoman saja tidak cukup ketika pedoman tersebut bukanlah petunjuk yang Haq (Benar).
Pedoman yang Haq
Telah kita yakini bersama bahwa manusia diciptakan oleh Allah. Selain menciptakan manusia, Allah juga menciptakan alam sebagai tempat manusia tinggal. Lalu untuk apa manusia tinggal di alam ini? Apakah Allah membiarkan begitu saja tanpa ada tujuan yang jelas?
Selain manusia dan alam, Allah juga menciptakan petunjuk untuk dijadikan pedoman dalam kehidupan manusia, apakah itu? Tentunya petunjuk itu adalah Al-Quran yang setiap konsepnya telah termaktubkan dalam lembaran-lembaran (mushaf) Usmani. Dengan demikian, sudah menjadi fitrah manusia untuk menjalankan Al-Quran (sebagai petunjuk) di Alam ini.
Ada dua penyebab kekosongan dan keraguan hati terjadi, pertama karena tidak memiliki pedoman, atau yang kedua pedoman yang ia yakini selama ini bukanlah pedoman yang haq.
Ibarat sekolah, manusia penghuninya adalah kepala sekolah, guru, murid, satpam, dan sebagainya. Tentunya tempat mereka tinggal adalah di sekolah tersebut. Lalu peraturan apa yang dijadikan petunjuk serta pedoman dalam menjalankan kehidupan di sekolah? Tentunya yang digunakan adalah peraturan sekolah.
Begitu pula di Rumah Sakit, manusia penghuninya adalah dokter, pasien, satpam, dan sebagainya. Tempat mereka tinggal adalah di Rumah Sakit tersebut. Peraturan yang digunakanpun adalah peraturan rumah sakit tersebut.
Dengan demikian, dalam kehidupan ini (yang berasal dari Allah), manusia sebagai ciptaan-Nya, yang tinggal di bumi Allah, seharusnya menggunakan petunjuk serta pedoman yang juga berasal dari Allah. Itulah pedoman dan petunjuk yang Haq, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Al-Quran.
Al-Quran sebagai petunjuk (Hudan), termaktub dalam banyak ayat di Al-Quran, beberapa diantaranya:
“Kitab ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk (Hudan) bagi mereka yang bertaqwa” (Q.S. Al-baqarah (2): 2)
“Al Quran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk (hudan) dan rahmat bagi kaum yang meyakini.” (Q.S. Al-Jatsiyah (45) : 20)
Dari kedua ayat tesebut, maka dengan tegas telah dijelaskan bahwa kitab Al-Quran adalah petunjuk. Petunjuk haruslah diikuti dan dijadikan tuntunan. Bukan hanya sekedar dibaca! Namun harus dimaknai untuk kemudian diterapkan dalam kehidupan.
Pesan terakhir Rasulullah
Selain termaktub dalam Al-Quran, Rasulullah juga berpesan ketika haji wada’. Pesan ini pulalah pesan terakhir Rasulullah semasa hidup di dunia.
تركت فيكم امرين ما ا ن تمسّكتم بهما لن تضلّو ا ا بدا, كتاب الله و سنّت رسوله
Artinya:
“Telah aku tinggalkan dua perkara untuk kalian, jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, niscaya kalian tidak akan tersesat selamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul”
Rasulullah Muhammad yang merupakan manusia paling terpercaya, yang setiap kata dan perbuatannya adalah wahyu, hanya menjamin 2 perkara di dunia ini, yaitu kitabullah dan sunnah rasul. Selain kedua itu, tidak ada jaminan akan kebenarannya yang tentu pula tidak ada jaminan bahwa kita akan dibawa pada jalan yang benar.
Jika memang kita mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sudah seharusnya kita percaya sepenuhnya, tanpa keraguan sedikitpun, kepada semua yang bersumber dari Allah dan Rasul-Nya.
Paham dan Ikuti Petunjuk yang Haq
Selama mengikuti petunjuk yang Haq, maka tidak akan ada lagi kekosongan, kehampaan, dan keraguan dalam hati. Sudah seharusnyalah manusia sebagai ciptaan-Nya, yang tinggal di bumi Allah, menggunakan petunjuk serta pedoman yang juga berasal dari Allah, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Al-Quran.
Al-Quran diciptakan salah satunya untuk menjadi petunjuk. Dengan demikian, Al-Quran diciptakan untuk difahami dan kemudian dilaksanakan dalam kehidupan. Bukan sekedar di baca!
Ibarat sebuah perjalanan, ketika kita ingin pergi ke suatu kota, maka kita akan mengikuti petunjuk yang tertera di papan penunjuk jalan. Ketika kita hanya membaca tanpa menjalankan instruksinya, maka sudah dipastikan kita akan tersesat. Ketika ingin ke Bogor, maka kita akan mengikuti petunjuk jalan yang mengarahkan ke Bogor, sedangkan ketika ingin ke kota lain, maka kita akan mengikuti arahan sesuai dengan tulisan yang tertera pada papan penunjuk.
Kita yang diciptakan oleh Allah dan akan kembali pada Allah (inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’un), maka tujuan akhir kita, termasuk dalam kehidupan di dunia ini, adalah Allah. Dengan demikian, kita harus mengikuti petunjuk yang berasal dari Allah, yaitu Al-Quran. Untuk dapat mengikuti petunjuk tersebut, kita harus memahami Al-Quran.
Oleh karena itu, mari tanyakan pada diri sendiri, sudah seberapa banyak waktu yang kita luangkan untuk memahami Al-Quran, bukan sekedar membacanya? Dan sudahkan kita melaksanakan apa yang termaktub dalam kitab Al-Quran?

https://mahdikarim.wordpress.com

Jiwa yang Kusut, Hati yang Kosong

Kadang-kadang, kita merasakan ada sesuatu yang tidak kena dengan diri kita..JIWA KUSUT...seakan-akan ade 'something missing' ..Hati pula terasa kosong.

Hendak buat apa-apa pun seakan-akan tiada mood. Tiada semangat. Hendak senyum, susah sekali.. Sekadar senyuman hambar, boleh la..

Menghadap laptop, 'study', lantas bermain dota sekalipun tidak tenang. Anda pernah tak hadapi situasi seperti ini? Aku...kadang-kadang kerap kali juga.
Jiwa kusut, mungkinkah ade sesuatu yang perlu kita ambil tahu? Kenapa jiwa ini terasa kosong?



Genggam tangan. Tepuk Dada. Tanya diri, "Apa khabar hati?"

Adakah hati anda dipenuhi dengan zikrullah? atau mungkin anda alpa dan membiarkan hati anda dikotori elemen-elemen maksiat mungkin?

Sihatkah hati anda? atau mungkin ianya sakit? Atau lebih teruk lagi, adakah ianya telah mati? Sedikit perkongsian,beberapa tanda-tanda HATI YANG SAKIT dan HATI YANG SIHAT :


1. HATI YANG SAKIT tidak membisikkan kepada tuannya untuk mencapai tujuan hidup iaitu untuk mengenali Allah, mencintaiNya, merindui untuk bertemu denganNya, kembali kepadaNya dan mengutamakanNya dari segala bentuk syahwat (yakni keinginan diri kepada dunia, keseronokan, harta dan wanita). Ia lebih mengutamakan kepentingan diri dan syahwatnya dari mentaati Allah dan menyintaiNya. Hidupnya adalah dengan bertuhankan hawa nafsunya sendiri sebagaimana firman Allah;

“Tidakkah engkau melihat (wahai Muhammad) orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? Dapatkah engkau menjadi pelindungnya (dari kesesatan)?”. (al-Furqan; 43)

2. HATI YANG SAKIT tidak kisah dengan dosa dan maksiat. Apabila melakukan maksiat, ia tidak rasa berdosa, resah atau gelisah kerana melanggar perintah Allah. Berbeza dengan orang yang memiliki HATI YANG SIHAT, hatinya akan berasa sakit dan pedih apabila tersilap atau tersengaja melakukan dosa, lalu ia segera kembali kepada Allah dan bertaubat kepadaNya. Firman Allah tentang sifat-sifat orang bertakwa;

“(Dan antara tanda orang bertakwa ialah) orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka segera ingat kepada Allah lalu memohon ampun akan dosa mereka – dan sememangnya tidak ada yang mengampunkan dosa-dosa melainkan Allah, dan mereka juga tidak meneruskan perbuatan keji yang mereka telah lakukan itu, sedang mereka mengetahui (akan salahnya dan akibatnya)”. (Ali Imran: 135)

 Jadi, anda faham mengapa situasi JIWA KOSONG menghantui anda? Tepuk dada, tanya pula Hati,
                                                        
                                                             "Apa khabar Iman?"



 Berkata Imam Ibnu al-Qayyim; “Selagi hati selamat dari penyakitnya, ia akan berjalan menuju akhirat dan menghampirinya hingga menjadilah ia ahlul-akhirah (golongan yang beramal untuk akhirat). Namun apabila hati sakit, ia akan melebihkan dunia dan menjadikan dunia watannya hingga menjadilah ia alul-dunya (golongan yang beramal semata-mata untuk kepentingan duniawi”. (Ighasah al-Lahfan, halaman 94-95).

http://ashabulislam.blogspot.co.id

Pengangguran dalam pandangan Islam

Pengangguran Perspektif Islam

Dalam literatur ekonomi umum, tidak di temukan aturan yang mewajibkan seseorang harus berpartisipasi aktif dalam pasar tenaga kerja. Karena bekerja atau tidak adalak hak seorang individu. Kebanyakan faktor yang menjadikan individu memutuskan bekerja atau menganggur adalah upah atau gaji. Sedangkan dalam islam, selain faktor materi ada pula nilai-nilai moral yang harus diperhatikan oleh seseorang dalam mengambil keputusan. Upah atau gaji pasti dibutuhkan oleh setiap orang untuk memenuhi kehidupan diri dan keluarganya meskipun allah telah menjamin memberikan rizki kepada semua makhluk yang telah di ciptakan.
Dan tidak ada satu hewan melatapun di bumi melainkan allah-lah yang memberi rizkinya, dan dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semua tertulis dakam kitab yang nyata (laukhil mahfuzd)”  QS. Huud ayat 6
Walaupun dalam ayat tersebut allah telah menjaminnya, tetepi hal itu bukan berarti tanpa ada persyaratan yang harus dipenuhi. Syarat yang paling penting adalah usaha kita dalam mencari rizki yang di janjikan oleh allah, karena allah telah membuat sistem yaitu siapa yang bekerja maka dialah yang mendapat rizki dan siapa yang berpangku tangan akan kehilangan rizki.
Bermalas-malasan atau menganggur selain mendatanggan efek negative bagi pelaku secara langsung, juga akan mendatangkan dampak tidak langsung terhadap perekonomian. Karena pengangguran akan mengakibatkan ketidak optimalnya tingkat pertumbuhan ekonomi akibat sebagian potensi faktor produksi yang tidak termanfaatkan. Kelompok pengangguran akan menggantungkan hidupnya pada orang-orang yang produktif yang menjadikan angka ketergantungan meningkat yang akibatnya merosotnya pendapatan perkapita.
Islam mendorong pemeluknya untuk berproduksi dan menekuni aktivitas ekonomi dalam segala bentuk seperi pertanian, penggembalaan, berburu, industri, berdagang dll. Islam tidak semata-mata memerintahkan untuk bekerja, tetapi bekerja harus dengan baik (ihsan) penuh ketekunan dan prefesional. Ihsan dalam bekerja merupakan kewajiban yang wajib di lakukan oleh setiap muslim.
“Sesungguhnya allah mencintai jika seorang melakukan pekerjaaan yang di lakukan secara itqam (prefesional)” HR. Baihaqi
Menurut Qaradhawi (2005:6-8) pengangguran dapat di bagi menjadi dua, yaitu pengangguran jabariyah (karena terpaksa) dan pengangguran khiyariyah (karena pilihan). Kedua jenis pengangguran ini mempunyai posisi dan hukumnya masing-masing dalam syari’ah.
  1. Pengangguran Jabariyah (karena terpaksa)
adalah pengangguran dimana seorang tidak mempunyai hak sedikitpun memilih status ini dan terpaksa menerimanya. Pengangguran seperti ini umumnya terjadi karena seseorang yang tidak mempunyai keterampilan sedikitpun, yang sebenarnya bisa digali dan di pelajari sejak kecil. Atau dia mempunyai keterampilan tetapi itu semua tidak berguna kerena berubahnya lingkungan dan zaman. Atau dia sudah mempunyai keterampilan akan tetapi dia tidak dapat memanfaatkan karena kurangnya alat atau modal yang di butuhkan. Contoh ada seseorang yang ahli dalam bertani, tetapi dia tidak mempunyai alat untuk membajak ataupun sepetak lahan untuk dia garap.

  1. Pengangguran Khiyariyah (karena pilihan).
Adalah seseorang yang mempunyai potensi dan kemampuan untuk bekerja tetapi memilih untuk berpangku tangan dan bermalas-malasan sehingga menjadi beban bagi orang lain. Dia tidak mengusahakan suatu pekerjaan sehingga menjadi  “sampah masyarakat”. Islam sangat memerangi orang-orang seperti ini, walaupun dari mereka ada yang mengatakan bahwa mereka meninggalkan pekerjaan dunia untuk menkonsentrasikan diri untuk beribadah kepada Allah.
Adanya pengangguran di kelompokkan menjadi dua ini berkaitan erat dengan solusi yang di tawarkan islam dalam mengatasi pengangguran. Untuk pengangguran jabariyah perlu bantuan pemerintah untuk mengoptimalkan potensi yang mereka miliki dengan bantuan yang mereka butuhkan. Bantuan itu, bukan sekedar uang atau bahan makanan yang cepat habis, melainkan alat-alat yang mereka butuhkan untuk dapat bekerja. Sebaliknya dengan pengangguran khiyariyah, mereka tidak seharusnya mendapat bantuan materi melainkan motivasi agar mereka bisa memfungsikan potensi yang mereka miliki.

https://jenongsendiri.wordpress.com

Hati-Hati Terhadap Perkara-Perkara Penggugur Amalan

Sesungguhnya dalam syariat islam itu ada amalan-amalan yang dapat menggugurkan dosa dan demikian pula sebaliknya ada perbuatan-perbatan yang dapat  menggugur amalan, diantaranya adalah:

1. Kufur dan syirik

Alloh berfirman:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”.[1] (Az Zumar 65)

2. Murtad

Alloh berfirman:

وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ وَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”.[2](Al Baqarah 217)

3. Nifaq dan Riya’

Allah ta’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi pada hari kiamat: “jika Allah memberi balasan kepada manusia dari amalan-amalan. Maka perhilah kalian kepada amalan yang engkau berbuat riya’ di dunia maka lihatlah apakah kalian mendapatkan pahala padanya.(HR Ahmad dan Al Baghawi dari sahabat Mahmud bin Labib dengan sanad shahih menurut syarat Muslim)

4. Mengungkit-ungkit Pemberian

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:



يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ



“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)…”[3] (Al Baqarah 246)

5. Hasad

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:



أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ ۖ

“Ataukah mereka dengki kepada manusia lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? ”.[4] (An Nisa’ 54)

Dalam sebuah hadits dari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

اياكم والحسد فان الحسد ياءكل الحسنات كما تاءكل النار الحطب, او قال العشب

(رواه ابو داود)

“Jahuilah oleh kalian perbuatan hasan karena sesungguhnya hasad itu akan memakan  (menghilangkan) kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar”.[5] (HR Abu Daud)

6. Meninggalkan Shalat ‘Ashr

Dari sahabat Buraidah Radhiyallahu a’hu Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من ترك صلاة العصر فقد حبط عمله

“Barangsiapa meninggalkan shalat ‘ashr maka gugurlah amalannya”.[6]



Syeikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata: barangsiapa yang meninggalkannya tanpa udzur maka gugurlah amalannya karena ini adalah perkara yang sangat agung, bahkan sabagian ulama’ beristinbath dengan hadits ini bahwa barangsiapa meninggalkannya maka ia yelah kafir, karena tidak ada perbuatan yang dapat menggugurkan amalan selain kemurtadan sebagaimana dalam firman Alloh yang berbunyi:



وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan”.[7] (Al An’am 88)

Dan ada sebagian yang berpendapat bahwa shalat ashr adalah khusuh karena barangsiapa yang meninggalkannya maka ia kafir, dan demikian pula dengan shalat-shalat wajib yang lainnya secara umum. Dan ini adalah dalil tentang agungnya shalat ‘ashr. Maka dari itu Allah Ta’ala memerintahkan untuk menjaganya secara lebih dibandingkan dengan shalat-shalat yang lainnya sebagaimana tertuang dalam firman-Nya:



حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’”.[8] (Al Baqarah 238)

[Syarh Riyadhus Shalihin]

Dan yang dimaksud dengan shalat wustha di sinilah adalah shalat ‘ashr, karena ada hadits yang shahih yang menjelaskan demikian.



شغلونا عن الصلاة الوسطى صلاة العصر، ملأ الله أجوافهم وقبورهم ناراً

(HR Ahmad)

7. Memelihara Anjing

Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam:



من اتخذ كلبا إلا كلب ماشية أو صيد أو زرع انتقص من أجره كل يوم قيراط .

“Barangsiapa yang memelihara anjing, kecuali anjing untuk menjaga kebun atau berburu atau menjaga ternakmaka akan berkurang amalannya setiap hari satu qirat (dalam riwayat lain dua qirat) ”. (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam Hadits yang shahih dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan satu qirat adalah seperti gunung uhud.

Al Qurthuby berkata: “yang demikian itu (satu dan dua qirat) mencakup dua jenis anjing yang mana salah satunya labih jelek dari yang lain, seperti anjing yang hitam yang Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam memeritahkan kita untuk membunuhnya”.

8. At Ta’li atas Allah Ta’ala

At Ta’ly adalah berbicara tentang Alloh tanpa ilmu.

Nabi bersabda “ sesungguhnya seseorang yang berkata Alloh tidak akan menganpuni si fulan maka kelak Alloh akan berkata  barangsiapa yang beranggapan atas-Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni si fulan, maka sungguh Aku telah mengampuni si fulan dan engkau telah menggugurkan amalanmu”. (HR Muslim dari sahabat Jundub bin Abdillah)

9. Menyelisihi Perintah Alloh dan Rasul-Nya

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari”.( Al Hujuraat 2)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu”. (Muhammad 33)

Sebaigan orang berpendapat bahwa yang orang -orang yang dimaksud dalam surat  Al Hujuraat ayat 2 adalah orang-orang yang hidup dizaman Nabi karena dizaman ini tidak mungkin karena Nabi telah meninggal dan kita tidak mungkin dapat meninggikan suara kita melebihi suara Nabi.  Namun, para ulama’ menjelaskan bahwa konteks ayat inimeliputi seluruh kaum muslimin bahkan sampai zaman ini. Lalu bagaimana seseorang dapat meninngikan suaranya melebihi suara Nabi ? Yaitu tatkala ada sebuah majlis yang di dalamnya dibacakan ayat-ayat Al Quran dan hadits-hadits Nabi kemudian seseorang itu meninngikan suaranya melebihi suara pembaca hadits tersebut, ada sebagian ulama’ pula yang menjelasan bahwa diantara bentuk meninggikan suara dalam ayat diatas adalah meninggikan suara atau berteriak di samping kuburan Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam.  Wallahu  a‘lam

10. Transaksi ‘Inah

Transaksi ‘inah itu termasuk bentuk akal-akalan dalam riba.

Di antara trik transaksi riba yang sudah diwanti-wanti sejak masa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang disebut dengan jual beli ‘inah.

Ada beberapa definisi mengenai jual beli ‘inah yang disampaikan oleh para ulama. Definisi yang paling masyhur adalah seseorang menjual barang secara tidak tunai kepada seorang pembeli, kemudian ia membelinya lagi dari pembeli tadi secara tunai dengan harga lebih murah. Tujuan dari transaksi ini adalah untuk mengakal-akali supaya mendapat keuntungan dalam transaksi utang piutang.

Semisal, pemilik tanah ingin dipinjami uang oleh si miskin. Karena saat itu ia belumpunya uang tunai, si empunya tanah katakan pada si miskin, “Saya jual tanah ini kepadamu secara kredit sebesar 200 juta dengan pelunasan sampai dua tahun ke depan”.  Sebulan setelah itu, si empunya tanah katakan pada si miskin, “Saat ini saya membeli tanah itu lagi dengan harga 170 juta secara tunai.”

Artinya di sini, si pemilik tanah sebenarnya melakukan akal-akalan.Ia ingin meminjamkan uang 170 juta dengan pengembalian lebih menjadi 200 juta. Tanah hanya sebagai perantara.Namun keuntungan dari utang di atas, itulah yang ingin dicari.Inilah yang disebut transaksi ‘inah.Ini termasuk di antara trik riba.Karena “setiap piutang yang mendatangkan keuntungan, itu adalah riba.”

Larangan jual beli ‘inah disebutkan dalam hadits,

إِذَاتَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Jika kalian berjual beli dengan cara ‘inah, mengikuti ekor sapi (maksudnya: sibuk dengan peternakan), ridha dengan bercocok tanam (maksudnya: sibuk dengan pertanian) dan meninggalkan jihad (yang saat itu fardhu ‘ain), maka Allah akan menguasakan kehinaan atas kalian. Allah tidak akan mencabutnya dari kalian hingga;lh kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Daud no. 3462. Lihat ‘Aunul Ma’bud, 9: 242)

Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ ابْتَاعَ طَعَامًا فَلاَ يَبِعْهُ حَتَّى يَسْتَوْفِيَهُ

“Barangsiapa yang membeli bahan makanan, maka janganlah ia menjualnya kembali hingga ia selesai menerimanya.”Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Aku berpendapat bahwa segala sesuatu hukumnya sama dengan bahan makanan.” (HR. Bukhari no. 2136 dan Muslim no. 1525)

Referesi:

1. Al Quran

2. Syarh Riyadhus Shalin

3. Aplikasi Al Quran dengan kitab-kitab Tafsir Mu’tabar

4. Artikel Syeikh Salim bin ‘Ied Al Hilaly Hafidhahullah yang berada di http://www.salafy.or.id



[1]Az Zumar 65

[2]Al Baqarah 217

[3]Al Baqarah 246

[4]An Nisa’ 54

[5]HR Abu Daud

[6]HR Bukhari dan Muslim

[7]AL An’am 88

[8]Al Baqarah 238


https://fatwahamidan.wordpress.com/

Inilah Amalan Ringan Penggugur Dosa

Tak ada manusia yang luput dari dosa. Di sisi lain, manusia pasti butuh ampunan Allah. Karena itu, Allah memberikan keutamaan dan kemurahan kepada hamba-Nya dengan mensyariatkan amalan-amalan yang dapat menghapus dosa di samping taubat.
Pada umumnya setiap amalan yang dilakukan oleh seorang muslim berpotensi menjadi kaffarah atas dosa yang dilakukannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Bertakwalah kamu di manapun kamu berada. Bila kamu berbuat kejahatan, segera iringi dengan perbuatan baik, sehingga dosamu terhapus lalu pergauliah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).
Hanya Dosa-Dosa Kecil
Ketika menjelasakan hadits, “Barangsiapa membaca subhanallahi wa bihamdihi 100 kali dalam sehari, dihapuskan kesalahannya walaupun seperti buih di lautan.” (Muttafaq ‘Alaihi), Syaikh Abdullah Al-Bassam rahimahullah dalam kitab beliau Taudihul Ahkam berkata, “Para ulama membatasi dosa-dosa yang dapat diampuni dengan amalan ini dengan dosa-dosa kecil saja, adapun dosa-dosa besar maka ia tidak dihapus kecuali dengan taubat nasuha.”
Kemudian, dosa yang dihapus adalah dosa atau kesalahan pada hak Allah saja, jika berkaitan dengan hak manusia, maka harus diselesaikan  dengan yang bersangkutan. Meminta maaf atau mengembalikan haknya berupa barang atau utang.
Selanjutnya  kami akan memaparkan beberapa amalan ringan sehari-hari yang dapat dikerjakan oleh seorang muslim setelah  bantuan dan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagiannya dijelaskan dalam al-Qur’an dan sebagiannya lagi dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antaranya sebagai berikut:
  1. Istighfar (dibarengi taubat)
Rasulullah   shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika seorang hamba berbuat dosa, lalu ia berkata, “Wahai Rabbku, ampunilah aku.” Rabbnya menjawab, “Hamba-Ku telah mengetahui bahwa ia memilki Rabb (Tuhan) Yang Maha Mengampuni dosa dan menghukumi setiap dosa. Aku telah mengampuni hamba-Ku.” Kemudian ia berbuat dosa lainnya, lantas ia pun mengatakan kepada Rabbnya, “Wahai Rabbku, aku betul-betul telah berbuat dosa lainya, ampunilah aku.” Rabbnya menjawab, “Hamba-Ku telah mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang Maha Mengampuni dosa dan menghukumi setiap dosa. Aku telah mengampuni hamba-Ku. Lakukanlah sesukamu (maksudnya selama engkau berbuat dosa lalu bertaubat, maka Allah akan mengampunimu, pen).” Maka ia pun melakukan dosa lain yang ketiga atau keempat.” (HR. Muslim).

  1. berwudhu dengan sempurna
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang berwudhu lalu memperbagus wudhunya, dosa-dosanya akan keluar dari tubuhnya (yang terkena air wudhu) sampai keluar dari ujung jemarinya.” (HR. Muslim).
Yang perlu diperhatikan adalah hendaknya kita berwudhu sesuai dengan tuntunan dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
  1. Berjalan menuju masjid untuk menunaikan shalat wajib
Keluarnya seorang hamba untuk menunaikan apa yang telah Allah wajibkan kepadanya merupakan tanda keimanan yang kuat dari hamba tersebut. Dan balasan yang akan ia dapatkan adalah dihapuskan dosa-dosa sejumlah langkah kakinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,  “Barangsiapa yang bersuci sejak dari rumahnya lalu berjalan menuju rumah dari rumah-rumah Allah untuk menunaikan kewajiban shalat, maka setiap langkahnya menghapus satu dosa dan langkah yang satunya mengangkat satu tingkat derajatnya.” (HR. Muslim).
Adapun untuk wanita muslimah, cukup baginya untuk shalat di rumah tanpa harus keluar menuju masjid, tetapi tidak mengapa juga baginya untuk shalat berjamaah di masjid dengan memerhatikan adab dan etika seorang muslimah di luar rumah. Seperti tidak memakai wangi-wangian dan berdandan berlebihan karena itu dapat menjadi fitnah bagi kaum laki-laki. Dan shalatnya muslimah di rumah itu lebih baik baginya, berbeda dengan laki-laki yang wajib shalat berjamah di masjid.
  1. Shalat Wajib
Shalat wajib lima waktu yang Allah wajibkan juga merupakan amalan yang dapat menghapus dosa seorang hamba muslim. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan perumpamaan orang yang menjaga shalat lima waktu seperti seorang yang mandi lima kali sehari di mana tak tersisa sedikit pun kotoran di tubuhnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu lima kali sehari, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (Muttafaq ‘Alaihi).
  1. Bertepatan ucapan amin-nya dengan amin malaikat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila imam mengucapkan, “Ghairil maghdhubi ‘alaihim walaadhooliin” ucapkanlah amin, karena barangsiapa yang aminnya bertepatan dengan aminnya malaikat maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq ‘Alaihi).
Hadits di atas menunjukkan keutamaan shalat berjamaah di masjid, kerena kita tidak bisa mendapatkan aminnya malaikat tanpa ikut dalam shalat jamaah.
  1. Duduk di masjid menunggu waktu shalat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apakah kalian mau aku tunjukkan sesuatu yang dengannya Allah menghapuskan dosa dan meningkatkan derajat?” Sahabat menjawab, “Tentu wahai Rasulullah”. Beliau menjawab, “Sempurnakanlah wudhu walaupun dalam kondisi tidak menyenangkan, memperbanyak langkah menuju masjid dan menunggu shalat setelah shalat, maka itulah ribath, itulah ribath.” (HR. Muslim, Tirmidzi dan Malik).
Di hadits yang sama-sama diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa malaikat mendoakan seorang muslim yang duduk di masjid dalam keadaan suci untuk menunggu waktu shalat.
“Tidaklah seorang di antara kalian duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, melainkan para malaikat akan mendoakannya; “Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah dia.”
Dan waktu di antara shalat Maghrib dan Isya adalah saat yang paling memungkinkan bagi kita untuk mengamalkan hadits ini.
  1. Memperbanyak sujud
Memperbanyak sujud dalam shalat maksudnya adalah memperbanyak shalat itu sendiri. Seperti shalat sunnah rawatib, dhuha, tahajjud dan witir.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Tsauban radhiyallahu ‘anhu, “Hendaklah engkau memperbanyak sujud (perbanyak shalat) kepada Allah. Karena tidaklah engkau memperbanyak sujud kepada Allah melainkan Allah akan meninggikan derajatmu dan menghapuskan dosamu.” (HR. Muslim)
  1. Membebaskan utang orang yang kesulitan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ada seorang pedagang memberikan utang kepada orang-orang,  jika ia mendapati orang yang lagi kesulitan (tidak bisa melunasi utangnya) ia berkata kepada pelayannya, “Abaikan saja utangnya, semoga Allah juga mengabaikan dosa-dosa kita.” Maka Allah pun mengabaikan dosa-dosanya.” (Muttafaq ‘Alaihi).
Profesi sebagai pedagang bukanlah batasan pada hadits di atas, semua kalangan yang memilki piutangpun termasuk di dalamnya yaitu mendapatkan penghapusan dosa apabila dia mengamalkannya. Dan bukan berarti pula orang yang memilki utang untuk bermudah-mudahan dalam membayar, hendaknya ia segera melunasi apabila telah punya kemampuan untuk itu.
  1. Membaca zikir-zikir penghapus dosa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  telah mengabarkan kepada kita di dalam hadits-hadits beliau tentang zikir-zikir yang apabila dibaca atau diucapkan dapat menghapus dosa orang yang membacanya. Bahkan kita tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membaca zikir tersebut. Di antaranya:
Zikir setelah shalat wajib
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang bertasbih selesai shalat 33 kali, bertahmid 33 kali, bertakbir 33 kali, maka itu 99 kali dan menggenapkannya seratus dengan kalimat
لَا اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كٌلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ
“Tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah Yang Mahaesa, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya segala puja. Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.”
Diampunilah dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Muslim).
Di hadits yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang makan lalu membaca,
الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنِيْ هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلاَ قُوَّةٍ
“Segala puji bagi Allah yang telah memberi aku makan dan memberi rezeki tanpa daya dan kekuatanku.”
Diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”  (HR. Tirmidzi , hasan gharib)
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca
سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ
Dalam sehari 100 kali, maka kesalahannya dihapus sekalipun seperti buih di lautan.”
Tidak mesti membaca 100x dalam satu hitungan, menurut pendapat terkuat bahwa 100 x adalah akumulasi bacaan dalam sehari. Bisa jadi pagi 40, siang 30 dan malam 30. Wallahu A’lam
Mukmin Takut Dosa
Sebuah atsar masyhur yang datang dari sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu menunjukkan salah satu ciri orang beriman adalah merasa tidak tenang dan gelisah dengan dosa walaupun sedikit. Beliau berkata, “Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosanya seakan-akan ia duduk di bawah gunung dan khawatir gunung tersebut akan menimpanya. Sedangkan seorang yang fajir (yang gemar bermaksiat), ia akan melihat dosanya seperti seekor lalat yang lewat begitu saja  di hadapan batang hidungnya.” (HR. Bukhari).
Sebagai penutup kami mengajak pembaca sekalian untuk senantiasa waspada terhadap dosa-dosa, entah itu yang besar atau yang kecil. Karena dosa dapat mematikan hati dan menghambat rezeki. Dan marilah kita senantiasa memohon kepada Allah ilmu yang bermanfaat dan memohon kepada-Nya agar dimudahkan dalam mengamalkan ilmu tersebut.
Andang Supriana Enda
Buletin al-Fikrah STIBA Makassar edisi 13 Tahun XVI 04 Rajab 1436 H/24 April 2015 M

http://stiba.ac.id/

GUGURKAN DOSA-DOSA KITA: PENGGUGUR DOSA

Penggugur-Penggugur Dosa 

Khutbah Jum'at  18-4-2014 M / 18-6-1435 H
oleh Syaikh Ali bin Abdirrohman Al-Hudzaifi hafizohulloh (Imam Masjid Nabawi dan Dosen di Universitas Islam Madinah)


Khutbah Pertama:

          Segala puji bagi Allah pemilik langit dan bumi, Yang menerima taubat  dari para hamabaNya dan memaafkan kesalahan-kesalahan. Barang siapa yang mendekat kepadaNya maka Dia pun akan mendekat kepadanya, dan akan melimpahkan kepadanya banyak kebaikan, dan melindunginya dari perkara-perkara yang membinasakannya.  Aku memuji Robku dan bersyukur kepadaNya, aku bertaubat kepadaNya dan memohon ampunan kepadaNya.

Aku bersaksi bahwasanya tidak ada yang berhak untuk disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba Allah dan utusanNya, yang telah diperkuat dengan mukjizat-mukjizat.

Ya Allah berilah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan UtusanMu Muhammad dan juga kepada keluarganya dan para sahabatnya yang telah mendahului dalam melakukan kebaikan dan kebajikan dan yang telah mendahului dalam dalam mencegah dari perkara-perkara yang haram. Kemudian daripada itu :

          Maka hendaklah kalian bertakwa kepada Allah dan ta'atlah kepadaNya, sungguh ketakwaan adalah sebaik-baik amalan kalian dan sebaik-baik bekal kalian yang dengannya Allah menurunkan keridhoanNya kepada kalian, melindungi kalian dari adzabnya.

Wahai para hamba Allah, arahkanlah wajah-wajah kalian kepada penghapus dan penggugur dosa-dosa dan penutup aib kalian, barang siapa yang bertaqorrub kepada Allah maka Allah mendekat kepadanya, dan barang siapa yang berpaling dari Allah maka Allah akan berpaling darinya, dan dia tidak akan memberikan kemudorotan kecuali hanya kepada dirinya sendiri, ia sama sekali tidak akan memberikan kemudorotan kepada Allah. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

كل بن آدم خطاء وخير الخطائين التوابون

"Setiap anak Adam senantiasa melakukan dosa, dan sebaik-baik para pendosa adalah mereka yang senantiasa bertaubat" (HR At-Tirmidzi dari hadits Anas radhiallahu 'anhu).

Dan dari Abu Huroiroh radhiallahu 'anhu bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

والذي نفسي بيده، لو لم تذنبوا لذهب الله بكم ولجاء بقوم يذنبون فيستغفرون الله فيغفر لهم

"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, kalau seandainya kalian tidak berdosa maka Allah akan membinasakan kalian dan sungguh Allah akan mendatangkan suatu kaum yang berdosa lalu mereka beristighfar kepada Allah lalu Allah mengampuni mereka" (HR Muslim)

Allah telah menciptakan anak Adam dengan sifat ini, ia taat dan terkadang ia bermaksiat, ia beristiqomah akan tetapi terkadang tergelincir, ia ingat dan terkadang lupa, ia berbuat adil dan terkadang ia berbuat dzolim, dan tidak ada yang maksum kecuali Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada seluruh anak yang lahir dengan menjadikannya di atas fitroh –yaitu Islam-, maka barang siapa yang tetap di atasnya dan menerima apa yang dibawa oleh para rasul dan nabi 'alaihimus salam maka ia telah mendapatkan hidayah/petunjuk, dan Allah menerima kebaikan-kebaikannya dan memaafkan kesalahan-kesalahannya. Dan barang siapa yang fitrohnya dirubah oleh syaitan manusia dan syaitan jin serta dirubah oleh hawa nafsunya, syahwatnya, bid'ah dan kesyirikan, maka ia telah tersesat dan merugi, dan Allah tidak menerima kebaikan-kebaikannya dan tidak akan menghapus keharaman-keharaman yang dilakukannya.

Dari 'Iyadh bin 'Ammar radhiallahu 'anhu ia berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkhutbah dan berkata ;

إن ربي أمرني أن أعلمكم ما جهلتم مما علمني يومى هذا كل مال نحلته عبدا حلال وإني خلقت عبادي حنفاء كلهم وإنهم أتتهم الشياطين فاجتالتهم عن دينهم وحرمت عليهم ما أحللت لهم وأمرتهم أن يشركوا بي ما لم أنزل به سلطانا

"Sesungguhnya Robku Azza wa Jalla telah memerintahku untuk mengajarkan kepada kalian hal-hal yang tidak kalian ketahui dari hal-hal yang telah Allah ajarkan kepadaku pada hari ini, (yaitu) seluruh harta yang yang Aku berikan kepada seorang hamba adalah halal, dan sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hambaku seluruhnya dalam kondisi hanif (menuju kepada tauhid dan condong menjauh dari kesyirikan), dan sesungguhnya mereka didatangi oleh para syaitan lalu para syaitan menyesatkan mereka dari agama mereka, dan para syaitan mengharamkan apa yang aku halalkan bagi mereka, dan memerintahkan mereka untuk berbuat kesyirikan kepadaKu apa yang tidak aku turunkan dalilnya" (HR Muslim)

Maka barang siapa yang merubah fitrohnya yang telah diciptakan oleh Allah dengan kekufuran maka Allah tidak akan menerima kebaikannya dan tidak akan mengampuni kesalahannya jika ia meninggal dalam kondisi kafir. Allah berfirman

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (١٦١)خَالِدِينَ فِيهَا لا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلا هُمْ يُنْظَرُونَ (١٦٢)

Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam Keadaan kafir, mereka itu mendapat la'nat Allah, Para Malaikat dan manusia seluruhnya. Mereka kekal di dalam la'nat itu; tidak akan diringankan siksa dari mereka dan tidak (pula) mereka diberi tangguh. (QS Al-Baqoroh : 161-152)

Allah juga berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِمْ مِلْءُ الأرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَى بِهِ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ (٩١)

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, Maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun Dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. bagi mereka Itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong. (QS Ali Imron : 91)

Akan tetapi barang siapa yang menjaga fitrohnya yang Allah telah menciptakan manusia di atas fitroh tersebut, lalu mengikuti para nabi 'alaihimus salam, dan nabi yang terakhir adalah pemimpin seluruh manusia Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, maka dialah yang Allah terima kebaikannya dan menggugurkan keburukan-keburukannya lalu memasukannya ke surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selamanya, dan itulah kemenangan yang besar.

Seorang muslim itulah yang Allah akan meliputinya dengan rahmatNya maka Allah menerima ketaatannya dan dengan taubatnya maka Allah menghapuskan dosa-dosa dan kesalahannya, lalu di akhirat Allah masukan ke dalam surgaNya.

Dan penggugur dosa banyak, dan pintu-pintu kebaikan terbuka, jalan-jalan kebaikan dimudahkan, maka beruntunglah orang yang menempuhnya dan beramal sholeh.

Penggugur dosa yang pertama adalah bertauhid kepada Allah, maka ikhlas dalam ibadah dan menjauhkan diri dari seluruh bentuk kesyirikan maka itu adalah pengumpul seluruh kebaikan di dunia dan di akhirat, serta pelindung dari seluruh keburukan. Dari Ubadah bin As-Shomit radhiallahu 'anhu ia berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

من شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأن محمدا عبده ورسوله وأن عيسى عبد الله ورسوله وكلمته ألقاها إلى مريم وروح منه والجنة حق والنار حق أدخله الله الجنة على ما كان من العمل

"Barang siapa yang bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada syarikat bagiNya,  dan bahwasanya Muhammad adalah hamba Allah dan rasulNya, dan Isa adalah hamba Allah dan RasulNya, dan kalimatNya yang Allah lemparkan ke rahim Maryam dan Isa adalah ruh dari ruh-ruh (ciptaan) Allah, dan bahwasanya surga adalah benar adanya dan neraka adalah benar adanya maka Allah akan memasukannya ke dalam surga bagaimanapun amalnya" (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Dan dari Abu Dzar radhiallahu 'anhu ia berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

قال لي جبريا بشر أمتك أنه من مات لا يشرك بالله شيئا دخل الجنة

"Berilah kabar gembira bagi umatmu bahwasanya barang siapa yang meninggal dalam kondisi tidak berbuat syirik sama sekali kepada Allah maka ia masuk surga" (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Dan dari Ummu Hani' radhiallahu 'anhaa ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

وَقَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ لَا يَتْرُكُ ذَنْبًا، وَلَا يُشْبِهُهَا عَمَلٌ

"Dan perkataan Laa ilaah illallahu tidak membiarkan dosa dan tidak ada amalan yang menyerupainya" (HR Al-Haakim)

          Dan diantara penggugur dosa adalah bertaubat kepada Allah, barang siapa yang bertaubat dari dosa apapun maka Allah menerima taubatnya. Dari Abu Huroiroh radhiallahu 'anhu dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ia berkata :

من تاب قبل ان تطلع الشمس من مغربها تاب الله عليه

"Barang siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari barat maka Allah akan menerima taubatnya" (HR Muslim)

Dan Allah gembira dengan taubatnya seorang hamba dan Allah memperbesar pahalanya, Allah berfirman

وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ (٢٥)

Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS Asy-Syuroo : 25)

          Dan wudhu yang dilakukan dengan ikhlas dan baik termasuk penggugur dosa. Dari Abu Huroiroh radhiallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

إذا توضأ العبد المسلم أو المؤمن فغسل وجهه خرج من وجهه كل خطيئة نظر إليها بعينيه مع الماء أو مع آخر قطر الماء فإذا غسل يديه خرج من يديه كل خطيئة كان بطشتها يداه مع الماء أو مع آخر قطر الماء فإذا غسل رجليه خرجت كل خطيئة مشتها رجلاه مع الماء أو مع آخر قطر الماء حتى يخرج نقيا من الذنوب

"Jika seorang hamba muslim atau mukmin berwudhu lalu ia membasuh wajahnya maka keluar dari wajahnya seluruh dosa yang merupakan buah dari pandangan kedua matanya bersama air atau bersama tetesan air yang terakhir. Jika ia membasuh kedua tangannya maka keluar dari kedua tangannya seluruh dosa yang dilakukan oleh pukulan tangannya bersama air atau bersama tetesan air yang terakhir. Jika ia membasuh kedua kakinya maka keluarlah seluruh dosa yang dilangkahkan oleh kedua kakinya bersama dengan air atau bersama tetesan air yang terakhir, hingga iapun keluar dalam kondisi bersih dari dosa-dosa" (HR Muslim).

          Dan sholat merupakan penggugur dosa yang terbesar, dari Utsman radhiallahu ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

لا يتوضأ رجل مسلم فيحسن الوضوء فيصلي صلاة إلا غفر الله له ما بينه وبين الصلاة التي تليها

"Tidaklah seorang lelaki muslim berwudhu lalu ia baguskan wudhunya lalu ia sholat kecuali Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang ada antaranya hingga sholat yang berikutnya" (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Huroiroh radhiallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

الصلوات الخمس والجمعة إلى الجمعة ورمضان إلى رمضان مكفرات ما بينهن إذا اجتنب الكبائر

"Sholat-sholat lima waktu, dan sholat jum'at hingga sholat jum'at, ramadhan hingga Ramadhan berikutnya adalah penggugur dosa yang ada diantaranya selam dijauhi dosa-dosa besar" (HR Muslim)

Dari Utsman bahwasanya ia berwudhu lalu ia berkata :

رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يتوضأ نحو وضوئي هذا وقال من توضأ نحو وضوئي هذا ثم صلى ركعتين لا يحدث فيهما نفسه غفر الله له ما تقدم من ذنبه

"Aku melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berwudu seperti wudhuku ini, lalu ia berkata : "Barang siapa yang berwudhu seperti wudhuku ini lalu ia sholat dua raka'at yang ia tidak mengajak jiwanya berbicara pada dua raka'at tersebut maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu" (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Dan dari Ibnu Mas'ud radhiallahu 'anhu bahwasanya ada seseorang yang mencium seorang wanita maka iapun mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu iapun menceritakan dosanya tersebut maka turunlah firman Allah

وَأَقِمِ الصَّلاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ (١١٤)

Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (QS Huud : 114)

Maka lelaki itu berkata, "Wahai Rasulullah apakah ayat ini untukku?", maka Nabi berkata, "Untuk siapa yang mengamalkannya dari umatku" (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Dari Anas radhiallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau berkata :

إِنَّ لِلَّهِ مَلَكًا يُنَادِي عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ: يَا بَنِي آدَمَ، قُومُوا إِلَى نِيرَانِكُمْ الَّتِي أَوْقَدْتُمُوهَا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، فَأَطْفِئُوهَا بِالصَّلَاةِ

"Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang menyeru setiap kali sholat : "Wahai anak-anak Adam, bangulah kepada api yang kalian nyalakan untuk membakar diri kalian, lalu padamkanlah api tersebut dengan sholat" (HR At-Thobroni)

Haji dan Umroh juga menggugurkan dosa. Dari Ibnu Mas'ud radhiallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ، فَإِنَّهُمَا تَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذَّنُوبَ، كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ

Teruslah melakukan haji dan umroh, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana alat pandai besi menghilangkan karatan/kotoran besi, emas, dan perak" (HR An-Nasaai dan At-Tirimidzi dan ia berkata : Hadits Hasan Shahih)

          Dan memohon ampunan dari Allah termasuk penggugur dosa, dari Abu Huroiroh radhiallahu 'anhu

أذنب عبد ذنبا فقال اللهم اغفر لي ذنبي فقال تبارك وتعالى أذنب عبدي ذنبا فعلم أن له ربا يغفر الذنب ويأخذ بالذنب ثم عاد فأذنب فقال أي رب اغفر لي ذنبي فقال تبارك وتعالى عبدي أذنب ذنبا فعلم أن له ربا يغفر الذنب ويأخذ بالذنب ثم عاد فأذنب فقال أي رب اغفر لي ذنبي فقال تبارك وتعالى أذنب عبدي ذنبا فعلم أن له ربا يغفر الذنب ويأخذ بالذنب اعمل ما شئت فقد غفرت لك

"Seorang hamba melakukan dosa lalu ia berkata : "Ya Allah ampunilah dosaku", maka Allah berkata : "Hambaku telah melakukan dosa maka ia tahu bahwasanya ia memiliki Rob yang mengampuni dosa dan menghukum karena dosa", lalu sang hamba kembali lagi melakukan dosa lalu berkata : "Robku ampunilah dosaku", maka Allah berkata ; "Hambaku melakukan dosa dan ia tahu bahwasanya ia memiliki Rob yang mengampuni dosa dan mengadzab karena dosa, lakukanlah apa yang kau inginkan sungguh Aku telah mengampuni dosa-dosamu" (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Dan dari Anas radhiallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ia berkata :

مَنْ قَالَ قَبْلَ صَلَاةِ الْغَدَاةِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ثَلَاثَ مِرَارٍ: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ، غُفِرَتْ ذُنُوبُهُ وَإِنْ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ زَبَدِ الْبَحْرِ

"Barang siapa yang sebelum sholat subuh pada hari jum'at berkata sebanyak tiga kali : "Astaghfirullah alladzi laa ilaah illaa Huwa wa atuubu ilaihi" maka akan diampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di lautan" (HR At-Thobroni)

Dari Bilal bin Yasaar bin Zaid ia berkata : Ayahku menyampaikan kepadaku dari kakekku bahwasanya ia mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

مَنْ قَالَ: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ، وَأَتُوبُ إِلَيْهِ، غُفِرَ لَهُ، وَإِنْ كَانَ قَدْ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ

"Barang siapa yang mengucapkan sebanyak tiga kali أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ، وَأَتُوبُ إِلَيْهِ, maka akan diampuni dosa-dosanya meskipun ia telah kabur dari medan pertempuran" (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Dan seorang muslim yang memohonkan ampunan bagi saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya tersebut maka lebih cepat dikabulkan bagi yang mendoakan dan yang didoakan. Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiallahu 'anhu berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

قَالَ إِبْلِيسُ لِرَبِّهِ: بِعِزَّتِكَ وَجَلَالِكَ لَا أَبْرَحُ أُغْوِي بَنِي آدَمَ مَا دَامَتِ الْأَرْوَاحُ فِيهِمْ، فَقَالَ لَهُ رَبُّهُ: بِعِزَّتِي وَجَلَالِي لَا أَبْرَحُ أَغْفِرُ لَهُمْ مَا اسْتَغْفَرُونِي

"Sesungguhnya Iblis berkata kepada Robnya Azza wa Jalla, "Demi kemuliaanMu aku akan terus menggoda anak-anak Adam selama roh mereka masih bersama mereka. Maka Allah berkata : "Demi kemuliaanKu dan keagunganKu, Aku akan senantiasa mengampuni mereka selama mereka selalu memohon ampunan kepadaKu" (HR Ahmad, Abu Ya'la Al-Maushili, dan Al-Haakim, dan Al-Haakim berkata : sanadnya shahih)


          Diantara penggugur dosa adalah bentuk-bentuk dzikir, diantaranya adalah subhaanallah, walhamdulillah, walaa ilaaha illallah, wallahu akbar, walaa haula walaa quwwata illa billah. Dari Abu Huroiroh radhiallahu 'anhu ia berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

ومن قال سبحان الله وبحمده في يوم مائة مرة حطت خطاياه ولو كانت مثل زبد البحر

"Barang siapa yang berkata dalam sehari "Subhaanallahu wa bihamdihi" seratus kali maka gugur dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di lautan" (HR Al-Bukhari dan Muslim)

          Dan sedekah termasuk penggugur dosa, dari Mu'adz radhiallahu 'anhu ia berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

والصدقة تطفئ الخطيئة كما تطفئ الماء النار

"Sedekah memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api" (HR At-Tirimidzi)

Termasuk penggugur dosa adalah berbuat kebaikan kepada istri dan anak-anak putri. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda

خيركم خيركم لأهله وأنا خيركم لأهلي

"Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya, dan aku adalah yang terbaik bagi istriku" (HR At-Tirmidzi dari hadits Aisyah)

Dan dari Aisyah radhiallahu 'anhaa ia berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wasalam bersabda :

من ابتلى من البنات بشيء فأحسن إليهن كن له سترا من النار

"Barang siapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak wanita, lalu ia berbuat baik kepada mereka maka mereka akan menjadi penghalang api neraka baginya" (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Dan yang semisal anak-anak wanita adalah saudari-saudari wanita, dan berbuat baik kepada makhluk Allah memperbesar pahala dan menolak keburukan-keburukan.

Termasuk penggugur dosa adalah memperbanyak kebaikan setelah melakukan keburukan dan berakhlak mulia. Dari Mu'adz radhiallahu 'anhu ia berkata ; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

اتق الله حيثما كنت وأتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن

"Bertakwalah kepada Allah kapanpun dan dimanapun engkau berada, dan berbuatlah kebaikan setelah keburukan niscaya kebaikan tersebut akan menghapus keburukan tersebut, dan berakhlak yang mulialah kepada manusia" (HR At-Tirmidzi)

Wahai hamba muslim, semangatlah engkau untuk bersegera dalam melakukan kebajikan yang dimudahkan bagimu, dan janganlah engkau meremehkan kebaikan apapun, karena sesungguhnya engkau tidak tahu bisa jadi kebaikan yang sedikit ini dialah yang memasukan engkau ke surga. Al-Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan dari hadits Abu Huroiroh radhiallahu 'anhu ia berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda

بينما رجل يمشي بطريق وجد غصن شوك على الطريق فأخره فشكر الله له فغفر له

"Tatkala ada seorang lelaki berjalan di suatu jalan ia mendapati ada tangkai pohon berduri di tengah jalan, maka iapun meminggirkannya maka Allahpun membalas jasanya, maka Allahpun mengampuninya"

Dan juga dari Abu Huroiroh ia berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

بينما رجل يمشي بطريق اشتد عليه العطش فوجد بئرا فنزل فيها فشرب ثم خرج فإذا كلب يلهث يأكل الثرى من العطش فقال الرجل لقد بلغ هذا الكلب من العطش مثل الذي كان بلغ بي فنزل البئر فملأ خفه ثم أمسكه بفيه فسقى الكلب فشكر الله له فغفر له

"Tatkala seorang lelaki berjalan di suatu jalan iapun sangat kehausan, lalu ia mendapati sebuah sumur, maka iapun turun ke sumur tersebut lalu minum dan keluar dari sumur tersebut. Tiba-tiba ada seekor anjing yang menjulurkan lidahnya dan menjilat-jilat tanah karena kehausan. Maka sang lelaki berkata : "Sungguh anjing ini telah kehausan sebagaimana tadi aku kehausan". Maka iapun turun kembali ke sumur lalu ia penuhi sepatunya dengan air, lalu ia memegang sepatu tersebut dengan mulutnya lalu ia memberi minum kepada anjing tersebut, maka Allahpun membalasnya, lalu mengampuni dosanya"

Maka para sahabat bertanya : "Wahai Rasulullah, apakah kita mendapatkan pahala pada hewan-hewan tersebut?". Maka Nabi berkata : في كل كبد رطبة أجر  "Pada setiap yang memiliki hati yang basah (masih hidup) ada pahala" (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Diantara penggugur dosa adalah musibah-musibah yang menimpa seorang muslim jika ia bersabar menghadapinya dan mengharapkan pahala dan tidak marah. Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiallahu 'anhu ia berkata : "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda ;

ما يصيب المسلم من نصب ولا وصب ولا هم ولا حزن ولا أذى ولا غم حتى الشوكة يشاكها إلا كفر الله بها من خطاياه

"Tidaklah ada suatu musibahpun yang menimpa seorang muslim, baik keletihan atau sakit atau kesedihan atau kegelisahan atau gangguan atau gundah gulana bahkan duri yang menusuknya kecuali Allah akan menjadikan hal itu sebab untuk menghapus dosa-dosanya" (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ يَوْمَ لا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (٨)

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb Kami, sempurnakanlah bagi Kami cahaya Kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." (Qs At-Tahrim : 8)

Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam Al-Qur'an Al-'Adzim.



Khutbah Kedua:

          Segala puji bagi Allah pemilik keagungan dan kebaikan, penguasa kerajaan yang tidak bisa dicapai siapapun, aku memuji Robku dan aku bersyukur kepadaNya serta aku bertaubat kepadanya dan aku beristighfar (memohon ampunan) kepadaNya. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allah semata tidak ada syarikat baginya, Dialah Raja, Yang Maha Suci dan Maha Sejahtera, dan aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba Allah dan RasulNya, yang telah mengajak kepada Darus salaam (surga). Ya Allah berilah shalawat dan salam dan berkahilah hambaMu dan RasulMu Muhammad dan kepada keluarganya dan para sahabatnya yang mulia. Amma bad'u

          Maka hendaknya kalian bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan berpeganglah dengan tali Islam yang kuat. Wahai hamba-hamba Allah sebagaimana penggugur dosa itu banyak, maka dosa-dosa juga merupakan perkara yang besar tidak boleh diremehkan, baik itu dosa kecil maupun dosa besar, sesungguhnya setiap dosa ada pencatatnya dan ada penuntutnya dari Allah. Seorang muslim harus selalu berada diantara khouf (rasa takut) dan rojaa' (pengharapan), karena merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga) merupakan tanda kehinaan dan kerugian. Allah berfirman :

فَلا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ (٩٩)

Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi. (QS Al-A'roof : 99)

Demikian pula berputus asa dari meraih rahmat Allah adalah kesesatan yang nyata. Allah berfirman ;

اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ وَأَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (٩٨)

Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya dan bahwa Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al-Maidah : 98)

Bisa jadi kemaksiatan yang kecil di matamu merupakan sebab terjerumusnya engkau dalam kesengsaraan yang abadi, dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhumaa dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

دخلت امرأة النار في هرة ربطتها فلم تطعمها ولم تدعها تأكل من خشاش الأرض

"Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang diikatnya, tidak ia beri makan dan tidak pula ia lepas untuk mencari makan sendiri berupa serangga/binatang" (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Dan dari Abdullah bin 'Amr radhiallahu 'anhumaa ia berkata :

كان على ثقل النبي صلى الله عليه وسلم رجل يقال له كركرة فمات فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم هو في النار فذهبوا ينظرون إليه فوجدوا عباءة قد غلها

Ada seorang yang bekerja membawa barang-barang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam seorang yang dikenal dengan Karkiroh, lalu orang itupun meninggal, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata : "Ia di neraka". Maka merekapun pergi dan melihat orang ini, maka mereka mendapati sebuah pakaian yang diambilnya dengan diam-diam (HR Al-Bukhari)

Dan pada peperangan Khoibar ada beberapa orang dari sahabat melewati seseorang, lalu mereka berkata tentang orang tersebut ; "Si fulan mati syahid". Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata :

كلا إني رأيته في النار في بردة غلها أو عباءة

"Tidak benar, aku telah melihatnya di neraka karena mengambil kain atau pakaian dengan curang" (HR Muslim dari hadits Umar radhiallahu 'anhu)

Dan dalam sebuah hadits Nabi bersabda :

إن العبد ليتكلم بالكلمة من رضوان الله لا يلقي لها بالا يرفعه الله بها درجات وإن العبد ليتكلم بالكلمة من سخط الله لا يلقي لها بالا يهوي بها في جهنم

"Sesungguhnya seseorang berbicara dengan sebuah perkataan yang diridhoi oleh Allah ia tidak menyangka perkataan tersebut mencapai apa yang dicapainya, maka Allah mengangkatnya beberapa derajat dengan sebab perkataan tersebut. Dan sesungguhnya seseorang berbicara dengan sebuah perkataan yang mendatangkan kemurkaan Allah yang ia tidak memperdulikan perkataan tersebut, ternyata ia terjatuh di neraka dengan sebab perkataan tersebut ". (HR Al-Bukhari)

Dan yang paling berbahaya bagi seseorang adalah perbuatan dzolim dan permusuhan kepada orang lain, atau menghalangi hak-hak mereka. Keburukan yang paling buruk yang ada pada manusia adalah "pelit" untuk memberikan kebaikan dan menyakiti orang lain dengan keburukan-keburukan.
Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firanda
https://www.firanda.com