Rabu, 05 April 2017

ARTIKEL INSPIRASI ISLAMI: BELAJAR DARI PENGUSAHA (MERINTIS KEBAHAGIAAN DUNIA DAN AKHIRAT)

“Hidup adalah sebuah pengembaraan, maka manusia yang memilki visi, ibarat seorang pengembara yang telah melihat ujung pengembaraannya. Dia tau akan arah perjalanannya, sehingga berbagai halangan dan rintangan takkan mampu membuatnya menjauh dari arah yang ia tuju. Berlikunya jalan yang ia tempuh akan ia anggap sebagai konsekuensi logis dari pengembaraannya. Hasutan yang datang dari berbagai sisi, takkan mampu membelokkan hatinya dari jalan yang ia pegang teguh. Mengapa? Karena ia tahu, bahwa orang lain tidak mampu melihat ujung perjalanannya. Biarlah para penghasut berkutat dengan fatamorgananya, sedang para visioner akan berjuang keras mewujudkan cita-cita besarnya.“
Ar-Rahman
“Maka nikmat Rabbmu mana lagikah yang akan kamu dustakan?”
Alhamdulillah, sungguh rasa syukur selalu dan harus selalu mengiri perjalanan diri ini. Termasuk masa-masa saat ini, dimana saya banyak dikelilingi oleh para pengusaha-pengusaha luar biasa. Pengusaha-pengusaha yang berhasrat besar untuk menularkan semangat wirausaha kepada generasi muda. Lebih jauh lagi, saya dikelilingi oleh para pengusaha yang senantiasa menjadi tutor untuk mengajarkan bagaimana melaksanakan perniagaan yang tiada pernah merugi. 😀
Salah satu hikmah yang saya dapatkan melalui diskusi dengan beliau-beliau adalah pemahaman mengenai “proses”. Bahwa keberhasilan yang mereka rengkuh saat ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Target-target yang mereka capai, bukanlah datang melalui sebuah keberuntungan. Memang benar, ada sekelumit kesempatan yang hadir dan jarang dirasakan oleh semua orang, akan tetapi haruslah diingat, bahwa “kesempatan akan datang bagi mereka yang mempersiapkan. Orang-orang yang tidak siap, tidak akan menganggap suatu kesempatan sebagai kesempatan.”
Perjalanan yang dilalui untuk mengejar cita-cita mereka membutuhkan proses yang panjang dan berliku, terutama pada masa-masa merintis. Bahkan sering muncul istilah, saat-saat merintis adalah saat-saat dimana kaki menjadi kepala dan kepala menjadi kaki. Begitulah kiranya, proses jungkir-balik menjadi hal yang lumrah saat merintis.
Hampir semua pengusaha besar, pada masa-masa awal usahanya, menjadi konseptor sekaligus pelaksana. Tak hanya sebagai manajer, mereka juga turun langsung mengurusi keuangan, melakukan pencatatan, produksi, pemasaran, dan lain sebagainya. Selain itu, mereka juga harus bersabar menunggu saat-saat jerih payah yang mereka perjuangkan menjadi nyata atau wujud. Maka proses dimana usaha mereka belum membuahkan hasil memuaskan, adalah masa-masa ujian. Ada seorang pengusaha yang berkata pada saya, “masa-masa awal mencoba, biaya yang dikeluarkan bagi sebagian orang dianggap sebagai kerugian, namun bagi pengusaha hal tersebut bukanlah kerugian, melainkan investasi ilmu agar nantinya dapat mengembangkan usahanya hingga mencapai keuntungan yang diharapkan. Justru ketika orang berhenti dan tidak mengembangkan ilmu yang didapat dalam proses mencoba, itulah yang rugi, karena biaya investasi ilmunya tidak kembali.”
Keyakinan pada Visi
Mengapa? ya berbagai kata mengapa akan keluar. Mengapa mereka mau berjuang begitu kerasnya, bahkan mengerahkan seluruh daya dan upayanya untuk  memperjuangkan usaha mereka? Mengapa mereka mampu bersabar dan bertahan menunggu hasil jerih payahnya terwujud?
Semua hal itu tidaklah mungkin dapat dilalui tanpa adanya visi dan keyakinan. Visilah yang membuat orang mempunyai arah dalam hidup. Visilah yang akan menimbulkan keyakinan pada suatu hal yang belum wujud. Kenapa? karena visi adalah suatu kondisi yang ingin diwujudkan, dengan demikian visi adalah sesuatu yang belum wujud. Maka orang-orang yang memiliki visi adalah orang-orang yang akan mewujudkan visinya. Semakin tinggi keyakinan akan visi yang dimiliki, semakin tinggi pula keyakinan seseorang untuk bertahan dalam proses mewujudkan visinya.
Hidup adalah sebuah pengembaraan, maka manusia yang memilki visi, ibarat seorang pengembara yang telah melihat ujung pengembaraannya. Dia tau akan arah perjalanannya, sehingga berbagai halangan dan rintangan takkan mampu membuatnya menjauh dari arah yang ia tuju. Berlikunya jalan yang ia tempuh akan ia anggap sebagai konsekuensi logis dari pengembaraannya. Hasutan yang datang dari berbagai sisi, takkan mampu membelokkan hatinya dari jalan yang ia pegang teguh. Mengapa? Karena ia tahu, bahwa orang lain tidak mampu melihat ujung perjalanannya. Biarlah para penghasut berkutat dengan fatamorgananya, sedang para visioner akan berjuang keras mewujudkan cita-cita besarnya.
Kepercayaan besar akan visi adalah sebuah paradigma yang sulit ditemui saat ini. Paradigma yang bisa juga disebut “believing is seeing” inilah yang akan membuat orang bertahan untuk berjuang mewujudkan suatu hal yang belum wujud. Sedangkan paradigma yang saat ini diajarkan dimanapun, terutama di sekolah adalah “seeing is believing” sehingga sulit menemukan orang-orang visioner di tengah-tengah kehidupan ini. Orang-orang yang “seeing is believing” lebih menyukai pekerjaan-pekerjaan yang telah terukur dengan pasti dan telah dilalui orang-orang kebanyakan di sekitarnya. Maka wajarlah orang-orang seperti ini takkan mampu menjadi pendobrak, karena mereka hanya melihat yang ada di sekitarnya, bukan melihat pada hal-hal yang bersifat futuristik layaknya para visioner.
Sungguh sebenarnya keyakinan akan sesuatu yang belum terlihat wujudnya, atau “believing is seeing” adalah ajaran yang telah termaktub di dalam Al-Quran.
“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (Q.S. Al Baqoroh : 2-3)
Secara tidak langsung, orang-orang visioner, termasuk salah satunya para pengusaha, telah meniru perilaku yang disebutkan pada ayat tersebut, yaitu mempercayai hal yang gaib atau belum wujud. Berbeda dengan mayoritas orang saat ini yang lebih menyukai kejelasan, seperti bekerja dengan gaji yang besaran dan waktunya pasti.
Mengejar Visi yang Berdasar
Sungguh sulit memang membayangkan masa-masa prihatin para pengusaha sukses, namun mereka memang benar-benar pernah merasakan masa-masa jatuh dan bangun. Menakjubkan melihat kegigihan mereka untuk menggapai cita-cita maupun visi yang mereka yakini.
Hal ini seharusnya menjadi ayat bayyinah bagi kita. Saya teringat surat Al Baqoroh ayat 199 – 201 yang berbunyi sebagai berikut:
(2,199-203)
Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Rabb kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.
Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.
Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya. (Q.S. Al-Baqoroh: 199-201)
Ayat tersebut mengajarkan kepada kita bahwa ada manusia-manusia yang bervisi pada kebahagiaan dunia serta ada pula manusia-manusia yang bervisi pada kebahagiaan dunia dan akhirat.
Tanpa melihat latar belakang penyusunan visi yang dibuat oleh para pengusaha-pengusaha sukses, setidaknya kehidupan mereka menjadi idaman bagi kebanyakan orang saat ini. Dengan demikian, bisa kita pandang bahwa mereka telah mampu merengkuh kebahagiaan di dunia sehingga pantaslah jika kegigihan serta daya juang mereka dalam merintis usahanya menjadi gambaran dan teladan bagi kita dalam merintis kebahagiaan dunia.
Namun, seperti yang termaktub dalam surat Al Baqoroh ayat 199-200 di atas, mengejar kebahagiaan dunia saja tidaklah cukup. Kita harus mengejar kebahagiaan dunia dan akhirat. Dengan kata lain, kita harus mampu menciptakan sebuah tatanan yang mampu menghasilkan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat seperti yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW  dan para sahabatnya.
Pejuang Kebahagiaan Dunia dan Akhirat
Berkaca pada hal tersebut, maka bagaimanakah jatuh-bangunnya Rasul dan para sahabat dalam merintis kebahagiaan dunia dan akhirat? Bagaimanakah pengorbanan yang dilakukan oleh Rasul dan para sahabatnya? Bagaimanakah besarnya ujian yang dihadapi oleh mereka? Bagaimanakah ketangguhan daya juang mereka dalam rangka menggapai visi yang diidamkan?
Sungguh sulit memberikan jawaban gamblang akan pertanyaan-pertanyaan di atas. Namun, melihat ayat-ayat nyata mengenai perjuangan orang-orang yang sukses menggapai kebahagiaan di dunia, maka gambarannya, untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, pastilah dibutuhkan perjuangan yang jauh lebih besar daripada perjuangan menggapai kebahagiaan dunia.
Jika pada masa merintis, para pengusaha bersedia mengerjakan segala usahanya sendiri, maka pastinya satu orang muslim terdahulu juga mengerjakan berbagai kegiatan yang beban pengerjaannya puluhan atau bahkan ratusan orang. Itulah sebabnya, dahulu pasukan muslim, selalu bisa mengalahkan pasukan musuh yang jumlahnya berkali-kali lipat jumlah pasukan muslim. Hal itu tidak lain dan tidak bukan karena pasukan muslim telah terlatih untuk memegang tanggung jawab yang seharusnya dipikul oleh banyak orang. Firman Allah dalam surat Al Anfaal ayat 65.
“Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti” (Q.S. Al-Anfaal:65)
Maka bagi para muslim yang sedang merintis jalan menuju cita-cita agung, yakni kebahagiaan dunia dan akhirat, sudah pastilah akan memegang tampuk amanah besar dengan beban pengerjaan besar. Jika proses tersebut mampu dilewati, niscaya satu orang muslim akan bisa menyamai kapasitas ratusan orang sesuai dengan janji Allah tersebut.
Jika pada masa merintis, para pengusaha harus melewati jalan yang berlika-liku, maka begitu pula yang dialami oleh Rasul dan para sahabatnya. Mereka ditempa dengan berbagai ujian untuk bisa memasuki kehidupan yang didamba-dambakan. Seperti firman Allah dalam surat Al-Baqoroh ayat 214
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Jannah, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”
Jika para pengusaha sangat meyakini keberhasilan visi mereka, maka bayangkan, seperti apa Rasul dan para sahabatnya meyakini visi yang sangat berdasar dan merupakan janji dari Sang Khalik? Keyakinan inilah yang membuat semangat para muslim terdahulu berkobar luar biasa tanpa bisa dibendung.
Jika para pengusaha meyakini bahwa dalam proses merintis tidak ada kata merugi dan bahwa merugi adalah kondisi ketika orang menyerah di tengah perjalanan merintisnya, maka memang seharusnya seorang muslim tidak pernah boleh mundur dalam memperjuangkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Layaknya pasukan muslim saat menaklukan Andalusia, dimana panglima perang saat itu, Thariq bin Ziyad, membakar seluruh kapal muslim beserta dengan amunisi di dalamnya sehingga tidak ada pilihan selain maju menghadapi musuh. Keberanian yang berbuah kemenangan tersebut tidak lain dan tidak bukan karena keyakinan yang tinggi akan kebenaran janji Allah tanpa ada keraguan sedikitpun, seperti dalam firman-Nya
“Kebenaran itu dari Rabbmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu” (Q.S. Al Baqoroh : 147)
Semoga tulisan ini menjadi sebuah potret langkah yang mampu menjaga diri ini dan juga jiwa-jiwa lain agar senantiasa maju tak gentar serta tak mengenal lelah dalam memperjuangkan apapun cita-cita yang dimiliki, termasuk cita-cita mewujudkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Semoga diri ini dan para pembaca semakin yakin bahwa tidak ada kata merugi bagi para perintis kebahagiaan dunia dan akhirat sesuai dengan firman Allah dalam surat Fathir ayat 29.
Maka, janganlah takut, janganlah bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.

https://mahdikarim.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com