Minggu, 15 Juni 2014

Sisi Lain Politik: Mengurai Rekam Jejak Prabowo

http://hermansaksono.com/wp-content/uploads/2009/07/wpid-prabowo-sedang-pidato-berapi-api.jpgBegitu bicara rekam jejak Prabowo Subianto yang selalu ditongolkan pasti itu lagi, itu lagi dan melulu itu diulang-ulang seakan tidak ada cerita lain selain dituding sebagai pelaku pelanggaran HAM terkait peristiwa penculikan aktivis pro demokrasi 1997/1998, penembakan mahasiswa Universitas Trisaksi – Jakarta atau Kerusuhan 13 -14 Mei 1998. Jadi kok kayaknya tidak tidak ada cerita lain selain cerita isu basi yang lebih mengacu pada asumsi ketimbang fakta yang jelas-jelas tidak terbukti dan tidak teruji kebenaran. Apa tidak ada rekam jejak yang lain?
Sampai ada pembentukan opini publik yang mengatakan bahwa Prabowo bukan diberhentikan tapi dipecat dengan tidak hormat dari dinas militer. Lalu muncul pula beredar di publik bocoran SK Dewan Kehormatan Perwira (DKP) prihal rekomendasi pemberhentian Letjen TNI-AD Prabowo Subianto dari dinas militer. Dan bocornya SK DKP yang bersifat rahasia ke publik ditenggarai sebagai kampanye negatif yang sengaja ditebarkan oleh lawan politik mantan Danjen Kopassus yang kini mencalonkan diri sebagai calon presiden Indonesia jelang Pilpres 2014. 

Kita ini terkadang naif dan tidak fair. Kita dengan begitu mudahnya mengadili seseorang dengan mencari kejelekannya. Dicari kejelekannya untuk dicaci, dimaki, dihujat dan dipersalahkan dengan segala tudingan yang mengarah pada pembunuhan karakter (character assasination). Sebaliknya, baiknya, prestasi atau jasanya tidak dipujikan. Malah kalau perlu baiknya, prestasinya dan jasanya ditutup-tutupi yang ditongolkan kejelekan atau kesalahannya.
Kenapa kita tidak berlaku fair dalam mengurai rekam jejak seseorang dengan memberi gambaran berimbang dan objektif proposional, tidak cuma dicari-cari kejelekannya saja yang ditongolkan, sementara baiknya, prestasinya dan jasanya tidak beberkan dan dipujikan.
Begitu halnya ketika menyorot rekam jejak Prabowo sebagai capres di Pilpres 2014, kita seharusnya juga harus fair, objektif proposional dan berimbang menyajikan rekam jejaknya. Jangan cuma dicari-cari kejelekannya, sementara baiknya, prestasinya dan jasanya tidak diomongin, tidak dibeberkan.
Apa benar pria kelahiran Jakarta, 17 Oktober 1952, yang perjalanan karir militernya  banyak dihabiskan di medan tempur di satuan komando pasukan elit Kopassus ini sama sekali tidak punya rekam jejak lainnya untuk ditongolkan selain yang itu lagi, itu lagi dan itu melulu?
Dalam bukunya, “Membangun Kembali Indonesia Raya – Strategi Besar Transformasi Bangsa”, Prabowo menuliskan tentang dirinya; Saya adalah seorang Perwira Tinggi TNI yang memimpin pasukan-pasukan tempur. Seluruh hidup saya, saya curahkan dalam profesi keprajutitan. Sejak berumur 18 tahun, saya sudah bertekad ingin mengabdikan diri sebagai seorang prajurit dan sejak muda saya memang sungguh-sungguh ingin menjadi prejurit sejati membela bangsa, negara, Tanah Air dan Republik Indonesia.
Usai menamatkan pendidikan tentara di Akabri, putra bagawan ekonomi Sumitro Djojokadikusumo yang menguasai empat bahasa asing langsung ditempatkan di kesatuan pasukan elit Kopassus. Di satuan komando pasukan elit TNI-AD ini Prabowo menjalani karir militernya dengan cemerlang, termasuk saat di medan tempur.
Di antara rekam jejaknya yang kemudian mengukir nama dan prestasinya di medan tempur yaitu saat pasukan Den 28 Kopassus yang dipimpinnya, di mana Prabowo (26 tahun) yang saat itu berpangkat Kapten, berhasil melumpuhkan Nicolau Lobato, pimpinan puncak gerombolan Fretilin dalam sebuah pertempuran di lembah Mindelo, Timor Timur, 31 Desember 1978.
Sekembali dari bertugas di Timor Timur, karir Prabowo terus menanjak dan berkilau. Di tahun 1983, ia dipercaya sebagai Wakil Komandan Detasemen 81 Penanggulangan Teroris (Gultor) – Kopassus. Berikutnya, setelah menyelesaikan pelatihan anti teror sebagai lulusan terbaik di “Special Forces Officer Course” di Fort Benning, Amerika Serikat, Prabowo diberi tanggungjawab sebagai Komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara.

Rekam jejak lainnya yang kemudian mendapat pujian dunia, ia tunjukkan dan dibuktikan atas keberhasilan satuan komando yang dipimpinnya dalam operasi pembebasan sandera peneliti Ekspedisi Lorentz di desa Mapanduma, kabupaten Jayawijaya, Irian Jaya, yang dilakukan oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) di bawah pimpinan Kelly Kwalik dan Daniel Yudas Koyoga,  tahun 1996. Dalam operasi pembebasan sandera ini selain peneliti asal Indonesia, terdapat pula empat peneliti warga Inggris, Jerman dan Belanda, yang disandera oleh OPM pimpinan Kelly Kwalik.
Atas keherhasilannya melakukan operasi pembebasan sandera Mapanduma, nama Kopassus langsung melejit disandingkan dengan satuan pasukan elit Israel menangani aksi teror yang dilakukan oleh kolompok teroris dengan sasaran para atlet dan diplomat Israel dalam Olimpiade Munich – Jerman, September 1972, yang dikenal dengan peristiwa ‘Black September’.
Atas pencapaian prestasinya ini pula Kopassus yang saat itu dikomandani Brigjen TNI-AD Prabowo mendapat pujian dan disandingkan sebagai pasukan elit ketiga terbaik di dunia setelah satuan pasukan elit anti teror Israel dan pasukan elit Inggris atas keberhasilannya dalam operasi drama pembebasan sandera yang terjadi di Kedutaan Iran di London – Inggris, April 1980, yang dilakukan teroris asal Iran.
Rekan jejak lainnya yang perlu dicatat yaitu saat mengkomandoi satuan pasukan elit Kopassus atas pencapaian keberhasilannya menaklukkan pucak gunung tertinggi dunia dan menancapkan Sang Saka Merah Putih di Mount Everest, tahun 1996. Tim yang terdiri dari anggota Kopassus, Wanadri, FPTI dan Mapala UI ini diprakarsai oleh Danjen Kopassus Mayor Jenderal TNI-AD Prabowo Subianto. Peristiwa ini sekaligus mencatat nama Asmujiono sebagai orang pertama asal Asia Tenggara yang berhasil mendaki dan menaklukkan puncak gunung tertinggi dunia Mount Everest
“Waktu itu kita mendengar bahwa Malaysia sudah mencanangkan akan mengibarkan bendera kebangsaan mereka pada tanggal 10 Mei 1997. Saya tidak rela bangsa Indonesia, sebagai bangsa 200 juta jiwa, harus kalah dengan bangsa lain di kawasan kita. Karena mencapai puncak tertinggi di dunia sudah menjadi salah satu tonggak ukuran prestasi suatu bangsa” sebagaimana ditulis di buku “Di Puncak Himalaya Merah Putih Kukibarkan”.

Kenapa rekam jejak ini tidak pernah ditongolkan sebagai isu politik jelang Pilpres 2014. Kok yang itu lagi, itu lagi, dan melulu itu lagi yang ditongolkan isu pelanggaran HAM lagi, isupelanggaran HAM, dan itu-itu melulu. Sementara prestasi dan jasanya selama mengabdi sebagai tentara kok tidak pernah dipujikan dan diacungi jempol. Lalu prestasi-prestasinya itu dikemanakan? Ini yang akhirnya kita anggap sebagai hal yang naif, tidak fair, tidak objektif proposional dan tidak berimbang.
Prabowo memang tidak lebay untuk lalu mencak-mencak membela diri. Dia mencoba menyikapi secara arif dengan lebih memilih dan mempasrahkan biarlah sejarah itu sendiri yang akan berbicara menguak tabir semuanya itu seiring proses perjalanan waktu. Karena bukan tidak mungkin proses waktu itu sendiri justru yang akan membelanya, di mana kini sedikit demi sedikit mulai terkuak dengan sendirinya, termasuk dengan kisah di balik bocornya SK DKP yang dimaksudkan sebagai kampanye negatif untuk menyerang diri Prabowo di jelang Pilpres 2014, justru malah kini berbalik menjadi boomerang bagi pembocornya dan sekutu politiknya.
Saat ini rakyat sudah pintar dan cerdas dalam memilah dan memilih mana itu isu yang benar atau hanya berupa kampanye negatif yang diperuntukkan menyerang lawan politiknya. Makanya saat ditanya wartawan soal SK DKP itu, Prabowo hanya menjawab dengan tertawa. Jawaban tertawa Prabowo ini mengartikan; becik ketitik ala ketara, siapa yang berbuat baik akan tampak, siapa yang berbuat jelek akan terungkap dengan sendirinya. Semoga!
http://politik.kompasiana.com/2014/06/14/mengurai-rekam-jejak-prabowo-661827.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com