Kamis, 03 Oktober 2013

Sebuah Sisi Lain dari Perasaan Seorang Pelacur

by: http://sosbud.kompasiana.com/2013/10/03/perasaan-seorang-pelacur-597892.html
Banyak cerita klise yang dilontarkan orang tentang aku. Kata orang, aku adalah primadona yang menjadi idola banyak lelaki pada tempat pelesiran diujung kota Jakarta. Ada yang mengatakan bahwa menjadi pelacur adalah pilihanku sendiri karena disangkanya aku ingin hidup mewah dengan cepat. Dan ada pula yang berpendapat, bahwa aku melakukan itu karena keterpaksaan. Padahal, sesungguhnya banyak orang yang tidak mengerti seandainya mereka menjadi aku.
Aku lahir dari sebuah perkawinan antara kebodohan dengan kemiskinan pada sebuah dusun kecil di sudut pulau Jawa. Kebodohan dan kemiskinan adalah kembar identik yang saling menguatkan. Menjadikan seseorang tidak bisa lagi membedakan yang mana sikap pasrah dengan kebebasan menentukan pilihan. Aku lahir dari rahim kerontangnya budi pekerti akibat dari kedunguan dan kemelaratan yang melingkupi kehidupanku.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjQGdFTS3TbtEzzs_ElUjD3Tp_VSifUrI1YO7wlZgHIC8BmZ2f5eoKq4BL7Who_U7hcEsrwyqMRqk3JsoYJwSDBJqYUU-XRoIuOcxuHpMjgUYl93BK8oy3NPX-PqfYqUuttOe8X_T7Xp8dS/s1600/yellow_litte__by_bingung.jpg 
Itu semua telah menjadikan pandangan hidupku menjadi bersahaja. Bahwa kehidupan manusia itu sudah ada yang mengatur. Kita hanya nrimo ing pandum. Aku hanya menerima saja kodratku sebagai perempuan. Walaupun itu bukanlah seorang perempuan dalam arti yang paling sederhana. Perempuan yang merasa tidak utuh tanpa kehadiran seorang lelaki didalam kehidupanku.
Di Jakarta, aku menjalani garis tanganku sebagai pemangku hasrat kelelakian. Hasrat banyak lelaki. Bukan hanya seorang laki-laki seperti yang kuakui sebagai bagian dari kebenaran. Seringkali aku bertanya-tanya dalam hati, kenapa aku harus menjadi pelacur. Kenapa aku harus menjadi air bagi panasnya api kelelakian. Sehingga aku mengalami kesulitan untuk menegakkan eksistensiku sendiri.
Aku, mau tak mau harus bergantung kepada banyak laki-laki. Ketergantungan yang telah membuat malam-malamku bertambah kaya akan wawasan kelelakian. Dalam pandanganku, laki-laki adalah manusia biasa dengan hasrat kuda jantan. Dalam ketelanjangannya, laki-laki adalah bayi merengek yang haus akan tetek ibunya. Aku sangat memahami, bahwa kepongahan seorang lelaki hanya digunakan untuk menutupi rasa tak percaya akan dirinya sendiri.
Telah sekian lama aku merasakan kegetiran hidup yang kulakoni sebagai perempuan milik umum. Adakah atribut yang tepat bagi sebuah obyek yang kini terdampar diatas wilayah yang tak terdapat dalam peta kehidupan bermartabat?. Pantaskah aku disebut sebagai mahluk yang bernama manusia?. Manusia yang telah kehilangan keakuannya?. Didalam waktu-waktu ketika sedang sendirian, aku selalu menanyakan kembali konsep tentang kewanitaanku.
Aku harus berhenti. Aku ingin mengembalikan kebenaran yang dulu pernah kuyakini, bahwa menjadi seorang wanita bagi seorang pria tertentu adalah inti keseimbangan alam yang kodratnya memang berpasang-pasangan. Aku ingin menjadi ibu rumah tangga biasa, seperti kebanyakan orang-orang. Namun pengalaman hidup telah mengajarkanku, bahwa angan-angan itu hampir mustahil dapat kuraih di Jakarta. Ada sepercik keraguan bahwa hal itu juga akan bisa aku dapatkan di kampung halaman, tapi instingnku mengatakan, bahwa aku harus mencoba.
* * * * *
Rumah sederhana di dusun terpencil itu lagi-lagi bersimbah airmata. Aku pulang kampung, setelah sekian lama menjadi sumber ketidakpastian bagi keluargaku. Bunga desa itu sudah kembali. Sebutir mutiara telah kembali kepelukan ibunya. Kepulanganku telah menutup luka kerinduan kedua orang tuaku. Aku menangis, tertelungkup dipangkuan wanita yang dulu pernah melahirkanku. Tak ada kata-kata terdengar, tumpahan perasaan hanya berupa kebisuan diantara sedu sedan.
Sejak kemunculanku ditengah para kerabat, banyak orang ingin tahu pengalamanku selama sekian waktu menghilang dari pergaulan desa. Orang-orang ingin mengerti pengalamanku dari hari ke hari semasa aku hidup di kota. Mungkin saja ada yang menarik dan luar biasa. Hasrat yang umum, karena aku adalah sekuntum kembang desa. Setiap orang mempunyai kecenderungan terhadap hal-hal yang berbau sensasi. Orang ingin tahu riwayat hidupku secara lengkap dan obyektif selama mengarungi kehidupan di ibukota. Namun aku telah mengunci diri. Aku bertekad untuk tidak pernah berkata apapun dan kepada siapapun tentang sejarah masa laluku yang kelam.
Aku menyadari, adalah hal yang mustahil rekaman cerita sepenggal kehidupanku terhapus dan hanya disimpan sebagai rahasia. Aku tahu betul, bahwa waktu tidak pernah berhenti membuat catatan. Apabila dia tidak menuliskannya diatas lembaran kertas, waktu akan menggoreskannya ditempat yang lain.
Sejarah adalah guru kehidupan yang tidak mungkin disingkirkan. Sepenggal pengalaman hidupku yang pedih perih telah menggores dalam-dalam dan membuat luka jiwaku. Luka itu kini telah menjadi bagian dari keseharianku. Aku terima rasa sakit tersebut sebagai garis tangan yang harus kulakoni, walaupun rasa sakit itu terus menerus menunda ambang batasnya.
Sejarah masa lalu seringkali membuat aku malu untuk berangan-angan menjadi seorang perempuan kebanyakan, seperti yang aku cita-citakan saat mau pulang kampung. Mungkinkah ada seorang lelaki yang bersedia mendampingi seorang wanita tanpa martabat kemanusiaan?. Sebuah faktor yang membedakannya dengan seekor satwa?. Tidak sekali-dua aku ingin mencurahkan kegundahan-kegundahanku kepada seseorang, tapi kepada siapa dan bagaimana?.
Pernah terlintas untuk menyatakan hal itu kepada ibuku, sebagai orang yang paling dekat dan paling mengerti diriku. Tapi, ketika hendak menepis prasangka-prasangka, mulutku terasa kelu. Keberanianku terkikis oleh suatu perasaan yang aku sendiri tidak mengerti itu apa. Aku terus tersandar diantara pilihan-pilihan, padahal hati kecilku membutuhkan sebuah kepastian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com