Minggu, 06 Oktober 2013

Masakan Tradisional Aceh: Perkembangan Masakan Tradisional Aceh

by: http://disbudpar.acehprov.go.id/index.php/plan-your-holiday/culinary/120-perkembangan-masakan-tradisional-aceh.html
Pariwisata telah menjadi sebuah industri yang sangat penting dan strategis dalam rangka mendukung pembangunan sebuah bangsa atau daerah melalui pemberdayaan perekonomian dan penciptaan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat. Berbagai potensi yang ada di daerah yang memiliki keunikan serta nilai tambah terus dibangun dan dikembangkan dalam bentuk keindahan alam, atraksi budaya, sejarah masa lalu, keramah-tamahan masyarakat serta masakan khas daerah atau “wisata kuliner”. Wisata kuliner atau “Culinary Tourism” adalah sebuah industri yang baru berkembang dan telah berhasil menarik minat wisatawan untuk menambah pengalaman dan tantangan dengan menikmati berbagai jenis makanan sebuah daerah yang memiliki keunikan dan kesan tersendiri pada saat melakukan perjalanan wisata “the pursuit of unique and memorable culinary experience of all kinds, often while travelling (Erik Wolf, 2006)”.
http://acehprov.go.id/images/slide/Logo%20Visit%20Aceh%202013.png

Wisatawan yang berkunjung ke sebuah daerah tujuan wisata dapat menikmati berbagai jenis makanan dan minuman dengan rasa dan aroma yang khas yang disediakan oleh tuan rumah. Namun, hal yang dianggap penting dan perlu diperhatikan oleh tuan rumah dalam upaya menambah kesan positif serta pengalaman bagi wisatawan yang datang adalah dengan memperlihatkan secara langsung kepada wisatawan proses pembuatan makanan yang dikatakan “special dan khas” tersebut serta membangun kesan keramahan melalui interaksi masyarakat lokal dengan wisatawan.
Melalui promosi wisata kuliner selain jenis pariwisata lainnya, masyarakat lokal dapat menambah pendapatan, membangun tanggung jawab moral untuk memelihara khazanah masakan khas daerah, sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat. Namun demikian, produk masakan khas daerah perlu disediakan dengan mengutamakan pelayanan menarik, unik, alami, higenis dan cepat, sehingga akan menambah kesan positif dan menarik minat wisatawan untuk datang.
Aceh yang terletak di kawasan paling barat Republik Indonesia dengan berbagai kekayaan dan keanekaragaman sumber daya alam, dari hutan tropis yang luas dan lebat, sumber daya laut dan sungai, pertanian, perkebunan sampai peternakan, memiliki berbagai jenis masakan tradisional dengan resep masakan berasal dari warisan nenek moyang “indatu” yang disebut “Makanan Khas Aceh”. Masyarakat Aceh yang mayoritas beragama Islam pada umumnya mengkonsumsi nasi yang dipadu dengan beberapa jenis makanan utama lainnya, seperti sayuran, ikan, daging lembu, daging kerbau, daging kambing, daging ayam, daging itik, dan lain-lain.
Wisata kuliner Aceh yang terdiri dari makanan dan minuman khas Aceh dapat dijumpai dengan mudah pada berbagai tempat di Aceh yang berkisar dari produk mie, ikan (laut, sungai dan danau), kari (ikan, kambing, ayam kampung, bebek, lembu, angsa, domba dan rusa), ikan kayu, sayur-sayuran, kue khas Aceh, kopi dan bandrek. Masakan khas Aceh, seperti Mie Aceh dan Kari Aceh telah menjadi icon kuliner kuliner Aceh karena menggunakan bahan utama yang berasal dari tanah Aceh, seperti bahan rempahan.
Keunikan Makanan Khas Aceh
Masakan khas Aceh yang berbentuk makanan dan minuman sudah mulai terkenal dan menjadi pangsa pasar baru yang menjanjikan bagi masyarakat Aceh. Makanan khas Aceh mulai digemari oleh siapapun yang berkunjung ke Aceh karena keunikan dan kelezatannya serta keunikan dalam pembuatannya. Pada umumnya, makanan Aceh tidak menggunakan bahan penyedap atau bahan pengawet yang dapat membahayakan kesehatan tubuh, melainkan menggunakan sumber bahan alami dan segar yang berasal dari tanah Aceh. Resep makanan khas Aceh yang berasal dari warisan nenek moyang Aceh “indatu” dengan rasa dan aroma yang unik masih terus dikembangkan dan dipelihara sampai sekarang. Meskipun, beberapa daerah lainnya juga memasak makanan yang sama (makanan khas Aceh), namun rasa dan aromanya masih sangat jauh berbeda.
Makanan khas Aceh juga dipercaya dapat menambah stamina, sekaligus dapat menyembuhkan penyakit karena bahan utama yang digunakan untuk memasak mengandung berbagai jenis rempah-rempah dan tumbuh-tumbuhan tertentu yang hanya tumbuh di Aceh, seperti kayu manis, lengkuas, jahe, kunyit, serai, cenkeh, belimbing wuluh, asam sunti (belimbing wuluh yang dikeringkan dan diperam dengan garam), batang pisang muda, bunga kala, dll. Makanan khas Aceh selain dimasak untuk konsumsi keluarga di rumah, juga dapat dinikmati pada beberapa restauran atau warung di Aceh dan di beberapa kota besar, seperti di Medan, Jakarta, dll. Juga makanan Aceh dapat dinikmati secara gratis pada hari-hari besar agama Islam dan kebudayaan, seperti perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, pesta perkawinan, mek meugang, syukuran maupun pesta-pesta rakyat lainnya. Dijamin tidak seorang pun yang dapat menahan keinginannya untuk tidak menikmati makanan Aceh, seperti Mie Aceh dan Kari Kambing. Bahan makanan khas Aceh umumnya bersumber dari sumber daya laut, pertanian, perkebunan, perternakan, perkebunan, sungai/danau dan beberapa jenis burung.
Jenis makanan yang berasal dari laut atau sungai dapat berupa ikan hiu, ikan tuna, ikan karang, cumi-cumi, udang, kepiting, jenis ikan sungai, dll. Jenis makanan yang berasal dari pertanian terdiri dari dedaunan (palawija), beras, kala, daun dan bunga pepaya, pisang muda, batang pisang muda, jantung pisang, dll. Jenis makanan yang berasal perkebunan terdiri dari buah nangka muda, dll. Sementara, jenis makanan yang berasal perternakan terdiri lembu, kambing, itik, domba, ayam kampung, kerbau, rusa, angsa dan beberapa jenis burung lainnya. Semua produk alam tersebut dapat digunakan sebagai bahan utama pembuat makanan khas Aceh, seperti kari kambing, mie Aceh, mie caluk, tumis, sup Aceh “asam keuung”, ikan kayu, kuah pliek, kanji rumbi, dendeng Aceh, sate matang, dll. “Rujak Aceh” yang berasal dari berbagai buah segar juga sangat menantang untuk dicoba setelah menikmati makanan utama dengan rasa sedikit pedas.
Pasca konflik dan Tsunami, khususnya selama berlangsungnya Proses Rekonstruksi Aceh telah muncul trend atau kebiasaan baru bagi masyarakat, khususnya masyarakat pendatang untuk melakukan kegiatan makan di luar rumah dengan menu utamanya adalah masakan dan minuman khas Aceh. Meskipun demikian, mengingat Aceh telah terbuka bagi wisatawan asing, beberapa restauran yang menyajikan berbagai jenis makanan daerah dan luar negeri (Padang, Cina, Eropah) juga tersedia di Aceh, seperti restauran Padang, Sahid Mina Restaurant, Banda Seafood Restaurant, Kebab Turkey, Pizza Hut, Texas Chicken, KFC, AW, dll. Namun, makanan khas Aceh tetap menjadi makanan yang sangat digemari karena rasa dan kelezatannya. Berikut deskripsi beberapa makanan khas Aceh yang telah terkenal, sekaligus menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke Aceh:
“Mie Aceh” juga telah menjadi makanan favorit masyarakat Aceh dan mulai digemari oleh berbagai masyarakat di luar Aceh. Mie Aceh yang terdiri dari Mie Rebus, Mie Goreng dan Mie Goreng Basah diberi campuran sayuran dan berbagai bahan rempahan lainnya, seperti bawang putih, bawang, cabai merah, dll. Untuk menambah kenikmatan, Mie Aceh juga dapat dicampur dengan kepiting, udang, telur, cumi-cumi dan daging sapi sesuai selera konsumen.
“Kari Aceh” adalah jenis makanan khas Aceh yang paling digemari di Aceh dan “Kuah Beulangong” dalam Bahasa Aceh dan “Kuah Beulanga” dalam Bahasa Indonesia. Kari Aceh memiliki rasa yang sedikit pedas yang berwarna kuning. Terdapat empat jenis masakan kari Aceh dengan bahan utama yang berbeda, yaitu kari kambing, kari daging lembu, kari itik dan kari ayam. Santan buah kelapa dan berbagai bahan masakan lainnya, seperti buah nangka, atau buah pisang muda, cabai merah, cabai keling, kelapa gongseng, dll. merupakan bahan-bahan utama yang menjadikan masakan kari Aceh menjadi istimewa. Dalam banyak kesempatan, kari Aceh dimasak secara tradisional dengan menggunakan sebuah belanga besar yang dirancang khusus. Pada umumnya, hanya orang-orang lelaki dewasa yang memiliki keahlian memasak yang mampu memasak masakan kari, sehingga akan menjadi daya tarik dan pengalaman tersendiri bagi wisatawan untuk berkunjung.
“Ikan Kayu” atau “Kemamah” merupakan masakan khas Aceh lainnya dengan cita rasanya yang sangat menantang. Persis seperti bentuknya, ikan kemamah terbuat dari ikan tuna yang telah direbus dan dikeringkan yang kemudian diiris-iris. Ikan kemamah dapat dimasak dengan menggunakan berbagai bahan masakan, seperti santan kelapa, kentang, cabai hijau dan bahan rempahan lainnya. Selama perang Aceh melawan Belanda di hutan belantara, jenis masakan ini sangat terkenal karena sangat mudah dibawa dan dimasak.
“Mie Caluk” berbeda dengan mie Aceh yang digoreng atau direbus. Mie caluk juga menjadi masakan favorit masyarakat Aceh karena mie ini menggunakan saus atau bumbu kacang. Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan mie caluk juga menggunakan bahan rempahan, sehingga rasa dan aromanya sangat khas dan menggoda. Aceh juga memiliki beberapa jenis makanan penganan khas lainnya, seperti Kekarah, Timphan, Adee, kueh supet, dll. Semua jenis penganan tersebut memiliki rasa, bentuk serta bahan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya.
“Kekarah” adalah jenis penganan tradisional Aceh yang berasal dari Aceh pesisir yang dulunya sering dibuat untuk kegiatan pesta perkawinan, kenduri ritual adat dan bingkisan untuk kunjungan silaturahmi dengan sesama anggota keluarga dan kerabat di kalangan masyarakat Aceh pada Hari Besar Islam (Hari Raya). Sekarang Kekarah dapat jumpai dan dinikmati dimana saja dengan aroma dan rasa yang unik, baik di warung kopi ataupun di toko-toko makanan. Kekarah akan terasa sangat lezat bila dinikmati dengan kopi Aceh yang hangat bersama anggota keluarga dan teman-teman.
“Timphan” adalah penganan khas Aceh yang sering dibuat pada hari-hari besar agama Islam, seperti menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Penganan ini dibuat dari adonan tepung, telur dan parutan kelapa serta dibalut dengan daun pisang muda yang segar. Timphan sangat terkenal di Aceh serta menarik masyarakat Aceh yang berada di luar Aceh untuk “rindu kampung” dan pulang ke Aceh, khususnya pada saat hari besar agama Islam, seperti Hari Raya Idul Fithri dan Hari Raya Idul Adha. Banyak ungkapan atau peribahasa dengan kata Timphan, seperti “Uroe got buleun got timphan ma peugoet beumeutemeng rasa” (Hari baik bulan baik timphan ibu buat harus dapat kurasakan).
“Adee” jenis penganan yang berasal dari Pidie Jaya yang dulunya juga sering dibuat untuk kegiatan keagamaan, pesta perkawinan, kenduri ritual adat dan bingkisan untuk kunjungan silaturahmi dengan sesama anggota keluarga dan kerabat di kalangan masyarakat Aceh, khususnya Hari Besar Islam (Hari Raya). Adee yang terbuat dari adonan tepung, telur dan santan kelapa memiliki rasa dan aroma yang lezat dan telah terkenal sebagai bingkisan oleh-oleh dari Aceh. Adee dapat dijumpai dan dinikmati dimana saja di Banda Aceh dengan aroma dan rasa yang unik atau di tempat asalnya di Pidie Jaya sambil melihat langsung proses pembuatan Aceh secara tradisional.
Jenis minuman khas Aceh selain makanan adalah kopi dan bandrek. Aceh Tengah dan Bener Meriah yang berada pada ketinggian 1500 m dpl dengan udaranya yang sejuk tdengan perkebunan kopinya yang terhampar luas. Kopi yang dihasilkan oleh daerah-daerah tersebut sudah sangat terkenal di luar Aceh dan luar negeri yang terdiri dari jenis kopi Arabica dan Robusta dengan kualitas ekspor.
Kopi Aceh terkenal sangat istimewa dan lezat. Kopi telah menjadi minuman utama masyarakat Aceh setiap harinya, baik di rumah, di kantor atau pada berbagai acara pertemuan. Masyarakat Aceh akan kehilangan selera makannya bila tidak mengkonsumsi kopi. Tidak mengherankan bahwa Aceh selain dikenal dengan ”ratusan bangunan mesjid”, juga dikenal dengan ”ratusan warung kopi”. Minum kopi bagi masyarakat Aceh telah menjadi bagian dari kegiatan sosial. Dengan minum kopi dipercayakan dapat mempererat hubungan silaturahmi dan persahabatan, sekaligus hiburan.
Pasca konflik dan selama Proses Rekonstruksi Aceh, kopi Aceh semakin diminati oleh para pendatang, khususnya masyarakat internasional yang sedang melakukan kegiatan sosial di Aceh. Tidak mengherankan, diluar jam kantor atau hari-hari libur, banyak kaum muda-mudi Aceh, anggota keluarga dan para pekerja melakukan pertemuan dan percakapan di warung-warung kopi yang terkenal di Aceh sambil minum kopi dan penganan khas Aceh. Kelezatan kopi Aceh telah terkenal di luar Aceh dan luar negeri serta telah menjadi daya tarik tersediri bagi mereka yang akan berkunjung ke Aceh. Akibat kopi Aceh semakin terkenal, maka permintaan kopi Aceh, baik sebagai seoleh-oleh atau untuk tujuan bisnis juga mengalami peningkatan, khususnya masyarakat di luar Aceh.
Kota Banda Aceh adalah salah satu kota terkenal untuk berbagai jenis makanan khas Aceh. Sebagai Ibukota Provinsi Aceh, Banda Aceh memiliki beberapa lokasi wisata kuliner yang sering dikunjungi oleh masyarakat. Khusus untuk malam hari juga terdapat sebuah tempat khusus yang dirancang dengan baik sebagai lokasi wisata kuliner Aceh yang diberi nama “Rex Peunayong”.
Rex Peunayong adalah sebuah kawasan terbuka dan telah menjadi sebuah tempat yang sangat strategis dan ramai dikunjungi oleh masyarakat Aceh dan pengunjung lainnya untuk menikmati suasana malam di Banda Aceh, sekaligus menikmati berbagai makanan khas Aceh. Rex Peunayong merupakan sebuah kawasan yang dekat dengan pusat pertokoan dan penginapan. Berbagai makanan hangat juga tersedia di Rex Peunayong dari mie Aceh, kerang rebus, sate padang, nasi goreng, ayam goreng sampai kepada martabak Aceh. Rex Peunayong juga menyediakan berbagai minuman, dari kopi Aceh, teh, jus buah-buahan segar sampai kepada minuman tradisional untuk kesehatan, sekaligus menghangatkan tubuh, seperti bandrek susu dan minuman herbal (jamu) lainnya.
Selain di Rex Peunayong, pada siang harinya di kawasan Banda Aceh dan Aceh Besar, khususnya di Rumah Makan Khas Aceh juga menyediakan berbagai makanan khas Aceh, seperti kari kambing, ayam tangkap, ikan bakar, sate matang, ikan kayu, dll. Banyak masyarakat di luar Aceh yang berkunjung ke Aceh selalu menanyakan Rumah Makan Khas Aceh untuk menikmati berbagai masakan khas Aceh yang sedikit lebih pedas.
Kenikmatan dan kelezatan makanan kas Aceh tidak diragukan lagi, dan semakin digemari oleh siapa saja yang datang ke Aceh. Fakta kenikmatan makanan Aceh tersebut telah diungkapkan dan dinyatakan oleh Bondan Winarno, seorang pelopor wisata kuliner Indonesia dengan ungkapan enaknya “ehm mak yoooos”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com