Minggu, 21 Juli 2013

Misteri Fenomena Aa Gym dan Ariel Bukanlah Poligami vs Zina

http://static.pulsk.com/images/2013/02/24/ff731f8fd47330874c80afda280c839c.jpgSebenarnya hal ini sudah agak kedaluarsa untuk dibahas, tetapi saya akan berhutang janji bila tidak menuliskannya. Semoga saja pembahasan saya tetap bermanfaat bagi pembaca.
Beberapa waktu lalu beredar opini di masyarakat yang mengangkat fenomena kasus Aa’ Gym VS Ariel Noah (saat kasusnya mencuat lebih dikenal sebagai Ariel Peter Pan). Banyak pihak tak habis pikir dengan kelakukan masyarakat Indonesia. Betapa tidak, seorang ustadz berbudi santun dihujat habis-habisan hanya karena menikah lagi secara resmi sesuai aturan agama atau poligami, sedangkan seorang penyanyi yang melakukan zina dengan beberapa wanita, yang bahkan berstatus ibu dan istri, dielu-elukan, dibela habis-habisan, tetap dipuja. Mereka, yang merasa masih bisa berpikir waras, menganggap fenomena ini sebagai indikator sakitnya masyarakat kita. Bila kita cermati lebih luas, sebenarnya gejala ’sakit’ ini tidak hanya menjangkiti masyarakat Indonesia, tapi sudah terjadi pada masyarakat seluruh dunia, bahkan sejak dulu kala. Bukankah sejak dahulu para pemuja penyanyi atau selebriti tak pernah peduli dengan kualitas moral pujaannya? Selama pujaannya masih tetap tampil memuaskan. Pemuja John Lenon tak peduli dengan gaya hidup John yang hippies. Pemuja Ozzy Osbourne tak peduli berapa kali pun dia ditangkap polisi karena narkoba. Pemuja Lady Gaga mungkin bersedia ikut memuja setan bila diminta.
Memang benar, dari sudut pandang moral dan susila, masyarakat kita sudah mulai sakit tertular gaya hidup hedonisme dari luar Indonesia, dan hanya agamalah yang jadi obatnya.
Kali ini saya tidak akan membahas fenomena ini dari sudut pandang moral atau susila maupun agama. Saya akan membahasnya dari suatu sudut pandang yang mungkin membuat Anda menganggap fenomena ini sangat wajar, yaitu sudut pandang teori marketing atau pemasaran.
Ustadz Abdullah Gymnastiar memiliki sikap yang santun dan lemah lembut. Seorang suami dan bapak yang baik, sholih, kaya tapi tidak sombong. Segala ciri tentang suami dan bapak idaman ada pada Aa Gym. Sebagai seorang da’i, pembawaan Aa Gym yang santai rendah hati, dengan materi yang renyah tapi faktual dan berbobot sangat mengena di hati umat pendengarnya.
“Contoh tuh Aa Gym, meskipun sukses bisnis gak neko-neko, setia sama istrinya, sayang sama anak. Gak hanya pintar ngomong tapi selalu nyontohin dengan sikap dan tindakan…!!” Begitulah kira-kira yang disampaikan ibu-ibu kepada suaminya. Sang suami terdiam, tidak menjawab, tapi dalam hatinya membenarkan kata-kata istrinya.
Aa Gym sanggup menguatkan brand image produknya. Sering sekali Aa Gym tampil di muka umum bersama istri dan menunjukkan sikap keharmonisan, sehingga menguatkan posisinya di segment pasar pasangan rumah tangga terutama ibu-ibu. Beberapa kali Aa Gym tampil macho menunggangi motor gede, yang membuat segment pasarnya meluas ke anak muda dan semakin menguat.
Perpaduan antara kepiawaian berbicara di panggung, seorang suami yang romantis dan setia, bapak yang bijaksana, ditambah keberhasilan dalam bisnis, jadi sebuah paket produk yang luar biasa berkualitas: ‘Ustadz Keluarga Bahagia dan Kaya”. Paket produk Aa Gym ini semakin lama semakin menguatkan posisi dan menguasai ‘pasarnya’ dalam satu kesatuan. Satu kesatuan, melekat satu sama lain, sehingga bila salah satu aspek dalam paket ini ‘rusak’ maka keseluruhan paket produk akan dianggap ‘rusak’ oleh para pelanggannya.
Dan itulah yang terjadi saat Aa Gym menikah lagi.
Nazril Irham yang bernama artis Ariel adalah penyanyi dengan suara indah yang romantis. Aksi panggungnya sanggup memukau penonton baik laki-laki maupun perempuan. Wajah dan postur tubuh Ariel enak dipandang. Kecerdasan Ariel menggubah lagu-lagu cinta melengkapi daya tariknya. Sebuah produk berkualitas tinggi, paket produk yang sangat laku dan diminati. Seorang Ariel adalah penyanyi bersuara emas, macho, cerdas, ramah, dan tidak sombong. Ariel adalah sebuah paket produk yang berkualitas, namun tidak ada item moral dalam keunggulannya. Maka bila Ariel melakukan tindakan amoral bahkan criminal, tidaklah menurunkan kualitas paket produknya, tidak menganggu posisi pasarnya. Seburuk apapun moral Ariel, berapa tahun pun Ariel dipenjara, posisi di pasarnya akan tetap tinggi selama dia tetap macho, tampan, bernyanyi dan beraksi di panggung dengan bagus.
Sebenarnya pelanggan yang meninggalkan Aa Gym hanyalah orang-orang yang sensitif terhadap praktik poligami, orang-orang yang mengidentikkan poligami dengan ketidaksetiaan, sayangnya pelanggan jenis ini yang mendominasi pasar Aa Gym. Pelanggan Ariel juga banyak yang meninggalkannya saat dia terlibat kasus perzinahan, yaitu orang-orang yang sangat sensitif dengan susila dan moral. Beruntungnya Ariel, pelanggan jenis ini hanya minoritas di pasarnya.
Kejadian yang dialami Aa Gym dan bisnisnya tidak bisa dibandingkan dengan kasus yang menimpa Ariel, dua hal yang berbeda. Mereka adalah dua produk yang beda jenis dan beda pasar. Pasar Aa Gym adalah para pencari figur teladan, sedangkan pasar Ariel adalah para pencari kesenangan atau penikmat musik. Ibu-ibu yang mendominasi pasar Aa Gym, yang menjadikannya sebagai sosok suami dan bapak teladan merasa geram dan dikhianati saat Aa Gym menikah lagi. Para gadis atau wanita muda yang terpesona dengan penampilan Ariel tidak menyalahkannya karena berzina, bahkan cemburu dan menyalahkan wanita-wanita yang berzina dengannya.
Aa Gym tidak bersalah karena melakukan poligami, itu yang saya yakini dan juga diyakini sebagian besar umat Islam. Aa Gym hanya sedikit keliru strategi dan meleset memperhitungkan pasar yang dikuasainya, apalagi semua lini bisnisnya melekat pada sosok citranya. Mungkin lain cerita bila sebelumnya pelan-pelan Aa Gym melakukan edukasi pasar tentang poligami.
Kalau sedikit melebar, sebenarnya banyak ustadz atau tokoh yang berpoligami selain Aa Gym tapi pasar mereka tidak terganggu secara significant. Pasar mereka terlihat tidak terganggu karena tidak semembahana pasar Aa Gym, atau pelanggan menyukai produk mereka tanpa aspek ’suami yang setia dan tidak berpoligami’. Produk mereka memiliki kekuatan tertentu selain itu.
Anda boleh menolak poligami seperti menolak zina, tapi yang jelas Anda harus hati-hati dengan aspek-aspek yang menjadi kekuatan produk Anda. Anda harus jeli dan teliti dalam memahami karakter pasar yang Anda bidik maupun yang sudah Anda kuasai.
sumber: http://filsafat.kompasiana.com/2013/04/02/fenomena-aa-gym-dan-ariel-bukanlah-poligami-vs-zina-547132.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com