Senin, 10 Desember 2012

Versi Lengkap: Inilah Akhlak Seorang Murid (Bag:1 - 4)

Salah satu ciri khas para sufi adalah persahabatan diantara mereka yang demikian akrab secara lahir dan bathin, saling menghargai dan saling memberikan kepercayaan kepada saudaranya. Menolong saudaranya tanpa diminta dan mengikhlaskan apa-apa yang dimilikinya kepada saudaranya jika saudaranya tersebut memerlukan bantuan. Sikap persaudaraan ini seperti yang dianjurkan oleh Rasulullah saw sebagaimana dalam sabda Beliau: “Perumpamaan dua orang yang bersaudara laksana dua belah tangan yang saling mencuci satu sama lain” (HR Abu Naim di dalam al-Hilayah).
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh_VxIkyp-D6z_6oGzXnqGB-1zvqds2iAr1tBa6qFwxD62cj8QfsfxWLQC1e2DjoMtwlxN-ZxKj76uQtaYO2d3hh75WNmAVSMlGbu29Q3MkuS-pWMxo7v8e5Q9O8MCMQzTL6zPXeJ5EfrI/s400/anak-islam.jpgDalam hadist lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw bersabda, “Orang mukmin bagi mukmin lainnya laksana sebuah bangunan, masing-masing bagian saling menguatkan”. Salah seorang ulama mengatakan, “Tidaklah seorang sahabat menemani sahabatnya, walau sesaat, melainkan akan dimintai pertanggung jawaban akan persahabatannya : apakah di dalam persahabatannya itu dia memenuhi hak-hak Allah atau malah menyia-nyiakannya”.
Dalam tulisan yang saya buat bersambung ini akan ada pembahasan secara lengkap adab atau aturan yang berlaku di kalangan sufi, para pengamal tarekat sesame murid dan juga adab kepada seluruh kaum musim. Adab ini perlu diperhatikan terutama orang-orang yang sedang berguru agar dia dapat memperoleh hikmah dalam proses berguru dan adab ini apabila diterapkan ditengah masyarakat luas akan terbentuk masyarakat yang baik, harmonis dan rukun.
Tulisan ini merujuk kepada karya-karya Tasawuf/Tarekat yang membahas tentang adab, baik adab Guru kepada murid, adab murid kepada guru maupun adab murid kepada sesame murid dan kaum muslim dan salah satu karya yang manjadi rujukan saya disini adalah karangan Syekh Amin Al-Kurdi, Beliau disampai ulama yang memiliki pengetahuan luas tentang tasawuf juga seorang Pengamal sekaligus Mursyid Tarekat sehingga referensi Beliau bisa mewakili orang-orang yang memang menekuni tarekat.
Ada beberapa adab yang harus dipenuhi oleh sesama murid dan adab ini juga perlu menjadi perhatian segenap kaum muslim diantaranya :
Pertama, Engkau mencintai mereka seperti mencintai diri sendiri. Tidak mengistimewakan diri sendiri atas mereka.
Kedua, Setiap kali berjumpa mereka, engkau harus bersedia memulai salam, mengajak bersalaman dan berbicara manis. Rasulullah saw bersabda, “Apabila dua orang muslim bersalaman, telapak tangan keduanya tiada lepas sebelum Allah memberikan ampunan pada keduanya” (HR. Ath-Thabrani)
Ketiga, Memperlakukan mereka dengan akhlak yang baik. Engkau harus memperlakukan mereka dengan perlakuan yang kau senangi bila mereka memperlakukanmu dengan perlakuan itu, dengan cinta dan kasih sayang. Akhlak yang baik itu merupakan penghimpun kebaikan. Cukuplah pujian Allah terhadap Rasulullah sebagai bukti, “Sesungguhnya engkau benar-benar berada dalam akhlak yang agung”. Rasulullah saw bersabda, “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling sempurna akhlaknya (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban).
Salah seorang ‘Arif berkata, “Tidaklah seorang mulia menjadi mulia kerena banyak shalat atau banyak puasa, tidak pula karena banyak mujahadah. Seorang menjadi mulia dengan akhlak yang baik”. Standar mulia seseorang tidak ditentukan oleh banyaknya ibadah, banyaknya zikir dan suluk tapi oleh akhlak, apa bila akhlaknya buruk maka tidak ada kemuliaan pada diri orang tersebut. Imam Al-Junaid berkata, “Ada empat hal yang bisa mengangkat seorang hamba mencapai derajat paling tinggi, meskipun amal dan ilmunya amat sedikit. Yakni : bijaksana, berendah diri (tawadhu’), dermawan dan budi pekerti yang baik”.
Pada awalnya Guru mengajarkan kepada kita semangat untuk bertauhid, fakus kepada zikir dan ubudiyah kepada Allah swt. Dalam tahap ini seorang murid tenggelam dalam lautan makrifat dan terlena bersama keagungan Allah. Itulah sebabnya bukan hal yang asing kalau kita lihat ada pengamal tarekat yang seolah-olah tidak peduli dengan orang-orang disekitarnya. Orang yang hanya berguru pada tahap ini akan menciptakan manusia yang sangat baik hubungan dengan Allah namun kadangkala bermasalah dengan lingkungannya.
Pada tahap selanjutnya Guru akan mengajarkan banyak hal tentang persahabatan, cinta kasih dan sikap saling menyayangi diantara sesama murid. Guru saya pernah menasehati kepada murid-muridnya, “Diantara kalian harus saling menyanjung”, makna menyanjung disini adalah memberikan pujian terhadap hal yang baik dari saudara. Beliau juga berkata, “Janganlah diantara kalian saling menjatuhkan dan mencari-cari kesalahan saudara sendiri”. Sangat mudah bagi kita untuk mencari kesalahan orang lain karena itu memang sifat alamiah manusia. Karena itu Guru memberikan nasehat kepada muridnya agar tidak mencari-cari kesalahan saudaranya yang akan berakibat perpecahan diantara sesama murid.
Orang-orang yang sedang berubudiyah di surau, sedang dalam tahap mencari akan fokus kepada mengejar hakikat makrifat atau fokus memperebutkan kasih sayang Guru atau populer dengan“berebut Kasih”. Memperoleh kasih sayang Guru sangatlah penting karena kasih sayang Allah ada di dalam kasih sayang Guru. Pada tahap selanjutnya, ketika kewajiban suluk telah terpenuhi bahkan mungkin Guru berkenan mengangkat si murid menjadi kepercayaannya menjadi seorang khalifah, hendaknya sikap berebut kasih ini berubah menjadi berbagi kasih. Kasih Guru itu tidak satu yang diperebutkan oleh jutaan murid tapi bersifat unlimited yang tidak terbatas, seberapapun banyak murid akan bisa mendapatkan kasih Guru.
Pada tahap selanjutnya pribadi kita hendaknya menjadi pembagi kasih, pembagi cerita, pembagi karunia kepada orang-orang yang sedang menempuh jalan kepada Allah agar mereka menjadi kuat dan bersemangat seperti yang pernah kita alami. Sikap ini perlu dipupuk dan dikembangkan karena pada intinya inilah hakikat tasawuf membentuk manusia yang berakhlak baik  dan ini pula menjadi inti ajaran Guru.

Keempat, Rendah hati terhadap saudara sesama muslim. Allah Ta’ala di dalam surat Al Hijr 88 berfirman, “Rendahkanlah dirimu kepada orang-orang mukmin
Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa rendah hati karena Allah, Allah akan meninggikannya. Dalam pandangan dirinya dia kecil, namun di mata orang-orang dia sungguh mulia. Dan barangsiapa bersikap sombong, Allah akan merendahkannya. Dalam pandangan dirinya dia besar, tetapi dalam pandangan orang-orang dia sungguh kecil, bahkan engkau akan melihat dia lebih hina dari anjing dan babi”. (HR. Ahmad, al-Bazzardan Ath-Thabrani).
Al-Imam asy-Syafii r.a berkata, “Rendah hati merupakan akhlak orang-orang mulia, sedangkan sombong merupakan akhlak orang-orang tercela. Manusia yang paling tinggi derajatnya adalah orang yang tidak melihat dirinya berderajat. Dan orang yang paling besar keutamaannya adalah orang yang tidak melihat dirinya memiliki keutamaan”.
Rasulullah saw bersabda, Allah Ta’ala mewahyukan kepadaku, “Berendah dirilah kalian hingga seseorang tidak bersikap angkuh terhadap seorang pun, tidak pula seseorang berbuat lalim terhadap seorangpun”. (HR. Imam Muslim dan Abu Dawud).
Di dalam satu ungkapan disebutkan, “Karena hukum Allah Ta’ala berlaku bahwa setiap tumbuhan hanya akan berbuah bila di tanam di tanah yang bahkan lebih rendah dari sandal, maka orang-orang pilihan menjadikan dii mereka sebagai tanah bagi saudara-saudaranya.”
Kelima, Adab lainnya adalah meminta ridha mereka dan memandang mereka lebih baik daripada dirimu. Saling membantu di dalam kebaikan, taqwa dan mencintai Allah. Mendorong mereka senang melakukan hal-hal yang dicintai dan diridhai Allah. Membimbing mereka kepada kebenaran jika mereka lebih tua dari mereka, dan belajar kepada mereka bila engkau lebih muda.
Allah Ta’ala berfirman, “Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan taqwa, dan janganlah kalian tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan”. (QS. Al-Maidah, 2).
Rasulullah saw bersabda, “Apabila Allah menghendari seorang penguasa menjadi baik, Allah akan menjadikan menterinya seorang yang jujur. Apabila sang penguasa lupa, sang menteri akan mengingatkan, dan apabila sang raja tidak lupa, sang menteri akan membantunya. Apabila Allah menghendakinya tidak demikian, Dia akan menjadikan menterinya seorang yang buruk. Apabila sang raja lupa, sang menteri tidak mengingatkan. Apabila sang raja ingat, sang menteri tidak akan membantunya”. (HR. Abu Dawud).
Keenam, Mengasihi dan menyayangi semua saudaramu sesama muslim. Yakni dengan cara menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, serta melayani mereka meski dengan sekedar menyodorkan sandal yang hendak dipakainya. Rasulullah saw bersabda, “Orang yang tidak menghormati yang lebih besar dan tidak menyayangi yang lebih kecil bukanlah golonganku”. (HR. At-Tirmidzi).
Rasulullah saw bersabda, “Orang-orang yang penyayang di sayang oleh Yang Maha Penyayang Tabaraka wa Ta’ala. Maka sayangilah yang di bumi, niscaya yang dilangit akan menyayangimu”. (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).
Di dalam hadist qudsi disebutkan bahwa Allah Ta’a berfirman, “Jika kalian menginginkan kasih-Ku, maka sayangilah makhluk-Ku”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Adab ke enam tentang menyayangi sesama ini adalah merupakan pokok ajaran Tasawuf sebagai inti dari ajaran Islam. Islam menganjurkan pemeluknya untuk saling menyayangi, menebarkan kasih sayang kepada semua. Begitu juga terutama di dalam berguru, hendaknya kita memiliki sikap sayang terhadap sesama murid. Rasulullah saw memberikan kasih sayang kepada semua bahkan Beliau tetap menunjukkkan kasih sayang kepada musuh yang membenci Beliau. Hati yang telah disinari cahaya Ilahi akan melimpahkan sifat Rahman dan Rahim Tuhan dan menjadi pembawa rahmat bagi seluruh Alam.

http://www.suara-islam.com/images/berita/anak-buka%20bersama.jpgKetujuh, Bersikap lemah lembut dalam menasati mereka apabila engkau melihat mereka menyalahi aturan. Al-Imam asy-Syafi’I berkata, “Barangsiapa menasehati saudaranya dalam sembunyi, dia sungguh telah menasehatinya dan menghiasinya. Dan barangsiapa menasehati saudaranya di keramaian, dia sungguh telah mencemarkan dan melecehkannya.” Asy-Sya’rani berkata, “Orang yang tidak menutupi kekeliruan yang dia lihat dari saudara-saudaranya, berarti dia telah membuka pintu ketersikapan aib dirinya sendiri dari sekedar ketersingkapan aib mereka”.
Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa menutupi aib saudaranya, Allah akan menutup aib dirinya. Dan barangsiapa menyingkapkan aib saudaranya, Allah akan menyingkapkan aib dirinya hingga karenanya dia menjadi tercemar bahkan di dalam rumahnya sendiri”. (HR. Ibnu Majah).
Anda mungkin pernah menjumpai orang yang sangat senang menceritakan aib orang lain bahkan mencari-cari aib dan kesalahan orang lain untuk diceritakan kepada banyak orang dan dia dengan bangga menceritakan kesalahan orang lain tersebut. Semakin banyak dia menceritakan aib orang lain maka dia merasa semakin senang dan merasa semakin bersih dan suci. Orang seperti ini jenis manusia yang berperilaku buruk dan tidak bisa dijadikan teman.
Kalau ada ada teman yang bersikap tercela dan memiliki aib maka nasehati dia dengan lemah lembut agar dia mau meninggalkan sifat-sifat tercela tersebut dan anda ikut mendoakan dia agar dia mau memperbaiki kesalahannya. Bukan anda dengan bangga mengumumkan kepada seluruh orang, kalau perlu seluruh dunia wajib mengetahui keburukan teman anda. Ketahuilah bahwa mungkin saat ini dia khilaf, dia jatuh, jangan tertawakan dia karena anda juga berada di jalan yang sama yang tidak menutup kemungkinan akan terjadi juga seperti yang dia alami.
Kalau ada yang menceritakan kejelekan orang lain kepada anda, maka doakanlah agar orang yang dianggap buruk perilaku tersebut dengan doa yang baik agar perilakunya bisa berubah menjadi baik dan jangan pernah menceritakan kepada orang lain apalagi menceritakan kepada public yang lebih banyak mudharat dari manfaatnya. Semua kita harus menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna, suatu saat nanti kita akan terjatuh kepada kerikil yang sama dan kalau kita berusaha membantu orang lain yang terjadi suatu saat kita juga akan dibantu orang lain
Bagi seorang sahabat, tidak ada kesalahan dari sahabatnya yang ada adalah kebaikan dan kebaikan seperti kisah berikut, Suatu hari, seorang lelaki yang telah bersahabat dengan Ibrahim bin Adham, ketika hendak berpisah, berkata kepada Ibrahim bin Adham, “Sayyidi, kenapa anda tidak pernah mengingatkan aku akan aib yang ada pada diriku?” lalu Ibrahim bin Adham menjawab, “Saudaraku, aku tidak pernah melihat satu pun aib dalam dirimu, karena aku melihatmu dengan mata cinta. Bertanyalah kepada selain aku tentang aibmu”.
Kedelapan, Berprasangka baik kepada mereka. Apabila engkau melihat ada aib pada mereka, berucaplah dalam diri, “Sungguh, aib itu ada pada diriku. Karena seorang muslim adalah cermin bagi muslim lainnya. Yang dilihat seseorang pada cermin hanyalah bayangan dirinya sendiri”.
Manusia paling mudah menyalahkan orang lain agar dia berada di posisi benar. Kalau anda mengatakan kawan anda penipu, penjahat dan lain-lain, apakah anda tidak sadar sebenarnya yang anda lihat itu adalah cermin dari diri anda sendiri. Kalau anda mengatakan teman anda penipu dan telah menipu anda, tidakkah anda renungi kenapa anda bisa berteman dengan penipu dan kenapa Allah mengizinkan orang tersebut menipu anda. Di dunia ini telah berlaku hukum Ketertarikan, sesuatu yang sifatnya sama akan menarik energy yang sama pula. Kambing tidak akan mungkin berkawan dengan harimau dan Ayam tidak akan mungkin berteman dengan musang.
Kalau anda mengatakan teman anda seorang pencuri, penipu, preman, penzina dan segudang keburukan lain dan anda merasa menjadi korban dari perilaku buruk teman anda sendiri, saya ucapkan selamat kepada anda, selamat bercermin karena sebenarnya yang anda lihat itu bukan orang lain, tapi itu adalah diri anda sendiri. Kalau anda menceritakan keburukan teman anda berarti anda tanpa sadar sedang menceritakan diri anda sendiri.
Alangkah lebih baik kita belajar dari kesalahan, belajar menyadari bahwa diri kita tidaklah sempurna. Rasulullah saw junjungan kita memberikan nasehat mulia agar kita mau menutupi aib saudara kita. Menceritakan hal-hal buruk tanpa sadar mengundang hal-hal yang jauh lebih buruk.
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgA8tDPn6j6WXT0C_MPfBeV7fzl7k1vneVQJqyQ-DLd0oZhYjXyQ1qs3zK2YOG8iif2cmYejgnB3Wj7o7YJNVcXfuAdb_DTB4nIhCDVbicom7__-ZcIqXZGFWFfAjhdm-3efU8XEqyETxch/s1600/index.jpg
Kesembilan, Menerima permintaan maaf saudaramu apabila dia meminta maaf, walaupun dia berbohong. Sebab orang yang meminta kerelaanmu secara lahir, walaupun bathinnya membencimu, ia sungguh telah mentaatimu dan menghormatimu, sekiranya dia tidak terang-terangan menentangmu. Tentang hal ini seorang ‘arif berkata Terimalah udzur orang yang meminta maaf kepadamu tulus maupun dusta permohonanya itu. sungguh, orang yang lahirnya ridha kepada mu telah menaatimu dan yang membantahmu dalam sembunyi pun telah menghormatimu.
Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa saudaranya datang meminta maaf dari kesalahannya, hendaklah dia menerimanya, entah dia bersungguh-sungguh maupun berpura-pura. Siapa yang tidak melakukannya, dia tidak akan sampai ke telagaku di Hari Kiamat”. (HR. Al-Hakim).
Dalam masyarakat masih sering kita jumpai orang-orang yang susah memberikan maaf kepada orang lain dan senang menyimpan dendam. Semakin dia tidak memaafkan orang akan merasa semakin tinggi pula derajatnya. Lirik lagu atau dialog dalam film sepertinya mendukung hal demikian atau bisa jadi apa yang disuarakan dalam lagu atau percakapan dalam film memang gambaran dari sebagian kecil masyarakat kita. Kata “Tiada maaf bagimu”, “Pintu maafku sudah tertutup untkmu”, “Tak sudi aku memaafkanmu”,  adalah contoh kata dari sekian kata negatif yang sering digunakan untuk mewakili rasa kecewa atau rasa dendam yang masih tersimpan di hati.
Orang yang meminta maaf atas kesalahannya adalah sikap mulia dan orang yang memberi maaf lebih mulia lagi. Rasul mewajibkan kepada kita untuk memaafkan saudara kita walaupun dalam hati kecil kita tahu dia tidak dengan sungguh-sungguh meminta maaf kepada kita. Rasul mengajurkan kita untuk bersikap positif dan berbaik sangka terhadap permohonan maaf dari saudara kita.
Salah hal yang harus kita sadari bersama bahwa menyimpan dendam seperti menyimpan racun yang lama kelamaan akan merusak diri sendiri. Guru Sufi yang Mulia memberikan nasehat, “Jangan diantara kalian tidak saling bertegur sapa lebih dari 24 jam, nanti setan akan masuk ke hati kalian”. Lebih tegas lagi Rasulullah saw bersabda : “Tidak halal bagi seorang muslim menjauhi saudaranya lebih dari tiga hari. Barangsiapa yang manjauhi saudaranya lebih dari tiga hari, dia akan mati lalu masuk neraka.” (H.R. Abu Dawud).
Jadi, sebagai seorang muslim dan sebagai murid dari Guru Sufi hendaknya kita meneladani sifat yang dimiliki oleh Rasulullah saw dan sahabat-sahabat Beliau, saling menyayangi dan mengasihi sesama dan tanpa berat hati memaafkan semua kesalahan saudara kita karena kita juga bukan manusia sempurna yang tidak luput dari kekhilafan dan suatu saat ketika kita melakukan kesalahan maka kita juga memerlukan maaf dari saudara kita. Memberi maaf kepada saudara  akan menaikkan derajat kita secara jasmani dan rohani, melepaskan penyakit yang tersimpan di hati dan akan membuat hidup kita lebih cerah.
Tulisan Inilah Akhlak Seorang Murid saya tulis untuk mengingatkan kita semua betapa Islam adalah agama yang luar biasa mulia menjadikan akhlak sebagai pokok ajarannya dan Rasul di utus kedunia dengan tujuan untuk memperbaiki akhlak manusia. Ketinggian ilmu tidak akan bermanfaat apa-apa bila akhlak kita tidak baik. Terlebih lagi dalam dunia Tasawuf/Tarekat yang merupakan inti sari ajaran Islam, persoalan akhlak adalah hal yang sangat pokok. Segala sesuatu di dalam dunia Sufi dimulai dengan adab atau aturan sopan santun yang harus dijalankan oleh murid untuk menuntun dia kepada perilaku yang baik.
Kita mengenal Adab Masuk Suluk, Adab Keluar Suluk, Adab murid kepada Guru dan empat tulisan Inilah Akhlak Seorang Murid yang telah saya tulis adalah membahas tentang Adab Seorang murid kepada saudara seguru dan kepada seluruh kaum muslimin. Inilah Akhlak Seorang Murid saya siapkan sebanyak 7 tulisan, 3 tulisan lagi insya Allah akan saya lanjutkan bulan depan.
Di bulan Oktober yang penuh berkah ini mari kita renungi perjalanan hidup kita, perjalanan berguru dengan Wali Allah. Sekian tahun kita berguru dan membaca tulisan di atas, membaca ahklak yang harus dimiliki oleh seorang murid kemudian tanyakan dalam hati kita masing-masing, apakah kita sudah pantas menyandang predikat menjadi murid seorang Wali Allah atau gelar itu hanya sebuah kebanggaan tanpa pernah kita berada di kedudukan mulia itu?
Semoga tulisan ini bermanfaat…
Gambar Oleh:BagindaEry
Artikel by:sufimuda





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com