Selasa, 07 April 2015

SEBUAH KISAH NYATA: Wanna Be Mom – Pengalamanku Laparoskopi & Perjuanganku belum selesai

Sebenarnya ini tulisanku tahun lalu tapi belum pernah aku share disini. Aku jadi pengen share karena sudah 2 bulan ini aku mulai rajin lagi konsultasi ke dokter spesialis kandungan. Harapan untuk mempunyai anak tetap aku iktiarkan karena itulah kewajibanku sebagai manusia.
*******************************




Ikhtiar aku dan suamiku untuk memiliki anak ternyata sampai pada vonis dokter bahwa saluran tubaku tersumbat dan alternative yang disarankan dokter adalah laparoskopi (LO) yang notabene biayanya cukup besar menurut kami.
Ternyata Allah SWT memang sangat sayang pada keluarga kami, tidak sengaja suamiku ngobrol-ngobrol dengan teman beda divisi. Ternyata dia juga pernah menjalani LO dan biayanya diganti oleh kantor. Ketika ditanyakan ke bagian HR, hal itu dibenarkan asal diagnosanya jelas.
Ya Allah aku sujud syukur mendengarnya. Mengapa selama ini aku tidak terpikir utk bertanya ke kantor suamiku. Aku malah lebih focus dengan kesedihanku.
Setelah mendapat kepastian biaya ada yang menanggung, aku mulai searching dokternya, yang pasti aku harus ditangani oleh dokter yang sudah ahli karena walau ini operasi invasif minimal namun organ reproduksiku yang di obok-obok. Aku khawatirnya efek dari operasi ini malah mengakibatkan hal lain yg tidak aku inginkan.
Setelah baca-baca di milis aku mendapat rekomendasi untuk datang ke dr. Wachyu Hadisaputra yang kebetulan praktek juga di RSIA YPK dimana selama ini aku selalu datang konsultasi walau dengan dokter lain. Informasi yang aku terima Dr. Wahyu merupakan dokter specialist endoscopy yang sudah sering melakukan LO dan banyak yang berhasil hamil setelah ditangani oleh dr. Wahyu karena itulah dengan semangat 45 aku telp YPK untuk daftar.
Aku mau cerita perjuanganku bertemu dengan dr. Wachyu, beliau merupakan dokter senior yang telah ahli dan terkenal sehingga pasien nya banyak dan karena itulah sistem pendaftarannya agak berbeda dengan dokter lain. Nomor pendaftaran diatur per grup disetiap jamnya, ada 4 grup untuk grup A ada 10 orang dari jam 5 sampai 6 sore, lanjut grup B dari 6 sore sampai 7 malam dan seterusnya. Waktu aku daftar, ternyata sudah masuk grup D (grup akhir) karena itu aku minta di undur saja minggu depannya lagi, alhamdulillah masuk ke grup B (asumsiku jam 7 malam). Tadi nya aku heran kok sampai segininya siy mau ketemu dokter Wachyu sampai aku berniat pindah rumah sakit saja ke RS Bunda. Tapi ternyata di RS lain untuk bertemu dengan dr.Wachyu menurutku lebih ”sadis” lagi yaitu berdasarkan kedatangan pasien. Kalo konsultasi dimulai jam 5 sore maka kita harus mulai ngantri dari jam 2 dan tidak boleh meninggalkan RS karena pada saat daftar ulang dan kita sedang tidak ada maka dianggap tidak hadir (nomor akan diberikan ke yang lain).
Akhirnya aku memilih datang ke YPK saja dan pada saat aku konsultasi asumsiku aku masuk grup B maka aku akan bertemu dr.Wachyu ya sekitar jam 7an, tapi ternyata aku baru bertemu dr. Wachyu sekitar setengah 9 sodara sodara…huft…lumayan juga nongkrong nungguin karena aku sudah mulai stay dari jam 5 sore. Pembelajaran bgt untuk konsultasi berikutnya aku harus masuk grup A *kepaltangan keatas
Saat bertemu beliau, aku sampaikan kondisiku beserta seluruh hasil pemeriksaanku selama ini. Melihat diagnosa dari HSG yang aku lakukan, dr.Wachyu langsung menyarankan aku LO (hmmm udah keprediksi). Namun yang bikin aku shock LO dilakukan 14 hari kedepan *gubrak . dr. Wachyu langsung melihat agenda nya, aku di jadwalkan operasi tanggal 23 Februari 2012, mulai masuk RS tgl 22 Februari sore.
Aku dan suami tidak sempat berpikir panjang langsung mengiyakan, waktu itu aku cuma berpikir untuk apa aku undur karena hal ini harus aku lakukan.
Aku dikasih surat pengantar untuk check kesehatanku yang harus dilakukan malam itu juga di Biotest menteng. Alhasil buru-buru kami ke Biotest karena jam kantornya tutup jam 9 malam. Alhamdulillah masih sempat sampai ke Biotest langsung aku test x-ray, ekg, darah dan alergi. Jam setengah sepuluh semua selesai dilakukan dengan total tagihan 1,8 juta *gubrak. Gak apa-apa ini bisa di klaim ke kantor, kata suamiku menenangkanku.
Ketika sampai di rumah, baru aku dan suamiku pusing bagaimana mencari dana untuk LO. Memang perusahaan akan menanggung biaya tersebut, namun karena RS YPK bukan rumah sakit rujukan maka biaya harus ditanggung dulu baru nanti bisa di reimburcement ke kantor suami. Biaya yang harus kami siapkan kurang lebih 25 juta sedangkan dana yang kami miliki sekitar 5 jutaan. Berarti kami harus sediakan 20juta dalam waktu 14 hari. Akhirnya aku dan suamiku atur strategi, kami ajukan pinjaman 10juta ke masing-masing kantor kami. Bismillah…


Besoknya aku datang ke atasanku untuk mengajukan pinjaman koperasi, namun koperasi belum pasti bisa sediakan mengingat saat itu banyak karyawan lain yang duluan mengajukan pinjaman juga. Aku mulai panik kemana lagi harus mencari uang itu, namun saat aku cerita ke salah satu sahabatku mengenai hal ini, alhamdulillah sahabatku bersedia meminjamkan uangnya. Aku sangat bersyukur karena Allah memberikan cobaan beserta jalan keluarnya. Aku sangat berterima kasih pada sahabatku itu, beliau tidak berpikir panjang kapan aku bisa kembalikan uangnya *thanks ya Gha J
Aku juga mendapat kabar dari suamiku, kantornya tidak bisa memberikan pinjaman namun Alhamdulillah atasannya bersedia memberikan pinjaman. Alhamdulillah sujud syukur atas kemudahan yang kami dapatkan. Aku makin yakin inilah jalan yg harus aku tempuh karena begitu banyak bantuan yang diberikanNya.
H-1, aku sengaja mengajukan cuti sejak tgl 22 kalo suamiku ngambil cuti tgl 23 saja. Entah karena ini operasi yg pertama kali aku lakukan seumur hidupku, aku sangat takut dan sampai berpikir bagaimana jika yang terburuk terjadi. Padahal suamiku berulang kali menyampaikan ini bedah kecil namun perasaanku tetap tidak tenang. Apalagi saat sampai di rumah sakit, bukan hanya takut tapi aku juga jadi sedih karena salah satu resiko yang bisa saja terjadi adalah pengangkatan saluran tuba falopi dan jika itu terjadi berarti aku sudah tidak bisa hamil normal lagi. Karena melihat kondisiku, suami meminta ke suster untuk bertemu dokter dulu. Saat itu dr. Wachyu sedang ada pasien, aku dipertemukan dengan dr. Cepi yang ternyata anaknya dr. Wachyu. Beliau memberikan penjelasan yang cukup detail tentang tindakan yang dilakukan, resikonya dan jaminan bahwa jika pun harus mengangkat tuba falopiku maka itu atas persetujuan suamiku. Alhamdulillah setelah bertemu dr.Cepi aku mulai tenang dan mau mengikuti apa yang diminta suster.
Sebelum tidur aku diminta minur air pencahar, rasanya asin banget sampai aku hampir muntah karena gak enak. Aku juga check alergi antibiotik, ganti baju rumah sakit dan minum susu yang disediakan oleh RS. Namun tidak lama aku mulai merasakan efek obat pencahar yang aku minum. Lebih dari 7 kali aku bolak balik toilet, sampai aku tidak bisa tidur. Menjelang pagi, aku dibangunkan untuk persiapan operasi.
Aku disuruh suster untuk duduk di kursi roda, padahal aku mampu jalan dan tidak merasakan apapun kecuali perutku yg mulas karena minum pencahar. Tapi suster memaksanya, katanya itu prosedurnya. Ya sudah aku ikuti aja, jarang-jarang kan duduk di kursi roda (anggap aja pengalaman hehe). Masuk ke ruangan operasi ternyata suamiku sudah menunggu, aku sedih lihat suamiku karena semalaman tidur di ruang tunggu jadi kelihatan kucel banget. Aku tanya apakah sudah sarapan atau belum, tampaknya suamiku gak mau bikin aku khawatir. Dia hanya bilang sudah sarapan padahal aku yakin belum.


Mas ku menenangkanku, apapun hasil operasiku nanti keputusannya tidak akan mengizinkan tuba falopiku diangkat. Nanti akan dipikirkan jalan lain selain mengangkat organ tubuhku. Mendengar itu aku tenang, aku banyak berdoa semoga operasiku dilancarkan dan hasilnya juga bagus.
Aku masuk ke ruangan yg membuat aku menggigil, apalagi kondisinya aku hanya memakai baju operasi yg tipis. Sambil tiduran aku perbanyak dzikir karena di titik itu aku benar-benar pasrah, hanya Allah lah tempatku bergantung.
Dipindahkan ke kamar lain yg subhanallan dinginnya luar biasa, aku disuruh tidur di ranjang yg diatasnya bergantung lampu yg sangat menyilaukan dan disamping ranjang banyak alat-alat operasi. Aku menggigil menahan dingin, dokter memberiku selang yg harus aku hirup dan tidak berapa lama aku tidak sadar apa-apa lagi.
Ketika terbangun aku sudah berada di kamar yg pertama aku datangi, dibungkus selimut dan badanku menggigil. Suamiku sudah di sampingku sambil menciumiku, rasanya ngantuk luar biasa tapi aku kedinginan. Aku dengar suamiku bilang operasinya berjalan lancar dan hasilnya alhamdulillah bagus, tidak ada pengangkatan tuba falopi. Aku senang mendengarnya, namun aku tidak bisa membuka mataku karena setiap melihat sinar mataku sakit dan berair. Suster memberiku tetes mata yg diminta di kompreskan di mataku namun kondisi mataku tidak membaik.
Aku dipindahkan ke kamar rawat dan tidak berapa lama keluargaku datang. Aku sangat terharu mereka datang, senang sekali apalagi ada Rafif. Namun aku tidak bisa membuka mata, rasa silau tidak hilang bahkan mataku terus-terusan mengeluarkan air mata. Jadi aku ngobrol sambil tutup mata saja. Aku tanya dokter katanya itu efek dari obat anastesi dan pelan-pelan akan hilang kok.
Alhamdulillah besoknya mataku sudah normal dan dokter sudah mengijinkanku pulang namun tentu dengan banyak catatan, minggu depannya aku dijawalkan untuk balik lagi ke YPK untuk buka jahitan sekalian ada treatment lanjutan (suntik antibiotika). Dokter juga wanti-wanti ke suamiku aku gak boleh angkat beban berat dan banyak istirahat #tuh mas cateet yaa. Dr Wachyu juga ngasih surat keterangan istirahat selama 10 hari, jadi aku bisa leha-leha dirumah niy lupakan kerjaan kantor #ditampar bolak-balik bosku
Saat konsultasi terakhir, buka jahitan dan suntik antibiotika senang banget dr Wachyu bilang: Selamat ya Bu, ibu sekarang sudah bisa hamil dengan normal. Tapi nitip jangan minum jamu dan jaga kondisi tubuh dengan rajin olah raga dan makan yang sehat ;)
Alhamdulillah aku bersyukur pada Mu ya Rabb, semoga Engkau berikan hamba dan suami hamba kesempatan mempunyai keturunan yang sholeh dan sholehah. Berilah kami kesabaran dalam berikhtiar dan keikhlasan menerima apapun takdir yang telah Engkau gariskan, amiin allahumma amiin.
https://devinilasari.wordpress.com/2013/10/01/wanna-be-mom-pengalamanku-laparoskopi/



Wanna Be Mom – Perjuanganku belum selesai


Setelah melewati operasi Laparoskopi yang menghebohkan dan dinyatakan sehat (2 saluran telurku sudah bebas hambatan) aku dan suami berhenti minum obat-obatan medis. Secara 2 tahun sebelumnya berbagai macam jenis obat sudah masuk ke tubuhku bahkan tenggorokanku serasa udah melebar karena terbiasa minum obat kapsul yang besar-besar dalam satu tegukan :D
Tidak terasa satu tahun lebih sudah terlewati namun aku belum juga diberikan kesempatan menjadi seorang ibu. Alhamdulillah ada yang berbeda setelah LO haidku sakitnya berkurang, yang biasanya di hari pertama haid gak mampu masuk kerja karena seharian muntah dan pusing sekarang jadwal libur sehari dalam sebulan tidak aku pake lagi. Berat badanku juga udah mulai naik, makanku banyak loh #itu mah bawaan lahir kalee :D
Sebenarnya sepanjang satu tahun ini aku dan suami tetap berikhtiar melalui pengobatan alternatif, seperti di urut (aku hindari urut di bagian perut) atau di akupuntur karena aku pikir efek sampingnya lebih kecil daripada minum obat-obatan kimia. Namun beberapa kali pindah terapis ternyata Allah SWT belum mengabulkan keinginan kami.
https://mahmudshah.files.wordpress.com/2014/09/fc61c-horse1.jpg?w=468



Karena lewat jalur alternatif belum berhasil, Juli 2013 lalu aku mendapat rekomendasi untuk datang ke dokter yang ada di daerah Pamulang hasil ngobrol-ngobrol dengan teman kantor, ternyata temanku juga sudah menunggu 7 tahun dan berhasil mempunyai anak setelah mengikuti terapi dari dokter tersebut. Dengan semangat aku datang ke dr.Muchlis di RSIA Buah Hati Pamulang. Seperti biasa karena ini dokter senior, antriannya cukup sadis tapi masih lebih sadis dr. Wachyu di RSIA YPK. Aku mendapat urutan nomor 26 dan perlu menunggu 2,5jam sampai akhirnya ketemu dr.Muchlis. Setelah melihat sejarah pengobatanku diantara banyak dokter yang aku datangi, dr Muchlis bilang hampir semua hal sudah pernah aku jalani dan aku ditangani oleh ”para pendekar” untuk bidang infertil yang mungkin menjadi seniornya dr.Muchlis selama ini. Malah beliau bingung harus ngasih tindakan apa karena aku sudah melakukan test apapun yg seharusnya dilakukan. Lah piye toh Dok kok bingung #aku ikutan bingung. Akhirnya dr. Muchlis memberiku resep obat yang harus aku minum setiap hari selama 4x siklus haid dan jika bulan ke-4 belum berhasil maka aku diminta kembali ke dr Muchlis untuk treatment lebih lanjut. Huaaaa minum obat lageee #nangis bombay
Bulan pertama aku minum obat tersebut bersamaan dengan puasa Ramadhan, entah karena efek obat atau karena puasa, berat badanku langsung terjun bebas turun 5 kg. Aku sangat kurus sampai tulang-tulangku menonjol dan saat haid datang sakitnya sama seperti saat sakit haid sebelum LO. Seharian tidak bisa ngapa-ngapain karena bolak balik muntah dan kepala pusing banget. Karena efeknya sangat mengkhawatirkan, atas ijin suamiku aku memutuskan untuk menghentikan minum obat tersebut.




Diskusi dengan suami, akhirnya kami sepakat mendatangi kembali dr.Wachyu karena ku pikir beliau sudah tahu sejarah pengobatan yang sudah aku ambil selama ini. Bissmillah…
Menurutku bertemu dengan dr.Wachyu harus siap mental, sama seperti dulu yg langsung dijadwalkan operasi LO saat pertemuan pertama, kemaren pun aku terkaget-kaget dengan diagnosa yang dokter berikan, dipertemuan pertama kata dr. Wachyu di rahimku ada sedikit infeksi, dokter langsung ngasih tindakan dan disuruh minum obat antibiotik selama satu minggu dan vit E selama 30 hari. Berhubung sudah banyak jenis antibiotik yang resisten dibadanku *gara-gara sejak kecil sakit dikit dikasih antibiotik jadi antibiotik yang aku minum harganya lebih mahal. Bayar konsultasi dan obat-obatan #jebret Rp 800rb harus aku keluarkan huaa gak relaa..
Minggu berikutnya aku dijadwalkan bertemu lagi dengan dr Wachyu katanya akan check kondisi telurku karena sudah masuk masa subur (14 hari dari hari pertama haid). Proses check telur melalui transvaginal berdasarkan hasil pemeriksaan ada yang aneh karena dokter tidak menemukan telur di rahim sebelah kiri maupun kanan padahal katanya ovariumku normal. Ya Rabb apa lagi yang harus aku hadapi :(
Dokter memberikan resep obat yang harus aku makan selama 30 hari #obat again hua… kata dokter itu obat yang mengatur gula darah ditubuhku supaya hormonku seimbang. Aku masih belum ngerti apa yang disampaikan dokter, aku masih ngotot ogah minum obat terus-terusan karena pernah pengalaman minum obat dari dr. Muchlis dan hasilnya aku tambah kurus dan haidku sakit. Tapi dokter juga ngotot bahwa haidku sakit itu kebetulan saja terjadi saat aku minum obat karena menurut dokter juga tidak ada hubungannya. Akhirnya aku ngalah, bissmillah aku akhirnya beli juga obat yang diresepkan dokter. Kali ini konsultasi, tindakan dan obat totalnya Rp 600rb #ngobok-ngobok dompet hadeuuh
Karena ogah rugi, aku balik lagi ke dokter minta resume medis atas tindakan yang dokter lakukan untuk klaim ke kantor suamiku. Ketika aku lihat dokter tulis diagnosa di kuitansi disana tertulis PCO, saat itulah baru aku sadar. Ya Rabb perjuanganku ternyata belum selesai, sekarang aku harus menghadapi PCO. Aku masih belum percaya karena hasil test hormon beberapa tahun lalu menunjukkan aku tidak ada masalah. Kondisi ini sama sulitnya dengan tersumbatnya saluran telur yang memerlukan operasi namun sekarang yang harus aku hadapi adalah ketidakseimbangan hormon dan dari artikel yang aku baca kondisi ini akan aku hadapi seumur hidupku.





Sepanjang perjalanan pulang aku diam dan perbanyak istighfar karena istighfarlah yang bisa menenangkan aku dari rasa sedih dan putus asa, ya Allah kenapa sulit sekali aku mempunyai anak jika mengingat perjuanganku selama 8 tahun ini.
Suamiku tahu aku terpukul dengan diagnosa dokter, sambil memelukku suamiku bilang, ”ini adalah cobaan yang Allah berikan kita dan insyaAllah kita bisa melewatinya, sabar ya sayang” #nangis bombay. Itulah salah satu yang membuatku jatuh cinta mati sama suamiku, bisa menenangkan aku yang sangat labil #iloveyou mas
Perjuanganku ternyata belum selesai namun InsyaAllah aku tetap yakin dan semangat.
رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ
 Rabbana hablana min azwajina wa zurriyatina qurrata a’yunin, waj’alna lil muttaqiina imaama.
Artinya: Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Al-Furqan: 74).
Aamiin Allahumma Aamiin
https://devinilasari.wordpress.com/2014/03/20/wanna-be-mom-perjuanganku-belum-selesai/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com