Senin, 06 April 2015

Mengungkap Sisi Lain: Ryan Tumiwa, “Sarjana” Pengangguran dan Suntik Mati

14073928411364272789
Ignatius Ryan Tumiwa (Wartakotalive.com/Wahyu Tri Laksono) 


Akhir-akhir ini kita dihebohkan oleh berita terkait Ryan Tumiwa. Lelaki kurus yang terkenal karena keinginannya ingin mengakhiri hidupnya, namun tidak ingin melakukannya dengan cara yang ilegal. Ia ingin mengakhiri hidupnya dengan cara yang sah dan diakui negara. Ia tidak ingin melanggar hukum. Sungguh sebuah kasus yang aneh. Biasanya berita yang kita dengar atau lihat di TV adalah seseorang yang sudah tidak sanggup menahan beban hidupnya kemudian gantung diri, minum obat nyamuk, melompat dari ketinggian dan lain sebagainya. Mengapa Ryan tidak melakukan hal yang sama?

Berita di media massa menunjukan ryan adalah seseorang yang berpendidikan. Ia menyandang gelar master dibidang ekonomi dan merupakan alumnus Universitas Indonesia dengan IPK sangat memuaskan. Sayang pendidikan yang diterimanya tidak mampu membuat hidupnya lebih baik, ia sempat bekerja dan kehilangan pekerjaan, kemudian terhimpit ekonomi dan sebatang kara sehingganya ia merasa hidupnya tidak memiliki arti lagi.
Apa yang dilakukan Ryan dengan mempertanyakan UUD pasal 34 UUD 1945 mengenai fakir miskin dan anak terlantar dan mengenai jaminan/tunjangan bagi pengangguran (jobless) seperti dirinya adalah hal yang cerdas. Untuk diketahui, di beberapa negara maju seperti di Jerman, tunjangan dan jaminan untuk pengangguran benar-benar ada dan di jamin oleh pemerintah, apalagi untuk seseorang yang pernah bekerja dan memiliki ijazah seperti Ryan. Sayangnya lapangan pekerjaan di Indonesia tidak mampu menyerap seluruh “Sarjana” di Indonesia. Peran lembaga-lembaga ketenaga-kerjaan di Indonesia juga sepertinya kurang maksimal. Ryan adalah satu dari seribu “Sarjana” di Indonesia yang tidak beruntung.


Ryan sempat mengunjungi Komnas HAM dan DEPKES namun menerima penolakan sehingga akhirnya frustasi dan bertekad mengajukan gugatan ke MK guna melegalkan suntik mati yang ingin dilakukannya. Banyak yang menertawakan bahkan mencibir ryan sebagai seseorang yang kurang berusaha dan hanya ingin mencari sensasi. Kasus Ryan seharusnya membuat pemerintah malu dan merupakan tamparan keras bagi pemerintah. Ryan Tumiwa adalah gambaran masayarakat yang hidupnya tidak beruntung, ryan adalah gambaran betapa susahnya hidup di Indonesia, ryan adalah gambaran bagaimana terkadang Negara absen dalam kehidupan masyarakatnya, ryan juga adalah gambaran betapa masa depan kehidupan di Indonesia penuh dengan ketidak pastian,  juga bagi mereka yang ber-Ijazah.


Banyak “Sarjana” yang saat ini juga masih bingung dengan pekerjaan dan masa depannya, bahkan ada yang sudah bertahun-tahun melamar pekerjaan namun tidak memperolehnya. Beberapa sarjana ada yang mencoba peruntungan di dunia usaha, ada juga yang banting stir bekerja apa saja yang tersedia walau tidak sejalan dengan ilmu yang diperolehnya di bangku kuliah dulu. Saya yakini banyak sarjana di Indonesia yang bernasib hampir sama dengan Ryan Tumiwa  hanya saja apa yang dilakukan Ryan Tumiwa terlalu “sensasional” untuk dilakukan, apalagi harus mengakhiri hidup. Terkesan kurang “fight”.
Hidup memang perjuangan dan penuh beban. Beberapa orang lebih beruntung dari yang lain, beberapa orang bekerja sangat keras untuk berhasil, beberapa lagi terlihat selalu beruntung dalam karirnya. Tetapi jika terlalu banyak orang yang hidup dibawah standar kehidupan yang layak di negara yang kaya akan sumber daya alamnya, lebih baik kita tidak usah bernegara saja!.

Komentar Pilihan:

Pingwin Pranata:
anehnya fenomena ini…..peran negara terhadasp perlindungan-lesejahteraan rakyaknya sesuai UU yg disyahkan diingkari….pemimpinbangsa ini tutup mata denga sistem KKN-KOLUSI_NEPOTISME yg masih masive terjadi, dari segala bidang kepegawean/usaha.

Hendi Setiawan:
Turut prihatin. Tentu saja negara tak akan mengakui “bunuh diri secara legal”. Seharusnya kita bersyukur sudah diberi hidup dan kehidupan oleh Allah Yang maha Pengasih dan Penyayang. Agama Islam melarang penganutnya bunuh diri, termasuk dosa besar, semoga kita dijauhkan dari perbuatan putus asa.
Ryan Tumiwa itu usianya berapa sampai segitu putus asa? Sayang saya tak dpt membantu memberi pekerjaan. Saya hanya mampu memberi semangat spt saya lakukan pada empat anak2 saya yg sdh lulus perguruan tinggi (semua sdh bekerja).
Seharusnya dgn ijazah pasca sarjana ekonomi, banyak lowongan kerja yg bisa diisi, apa jadi guru, dosen, atau bekerja apa sajalah, jangan pilih2 dulu. Sudahkah mencoba konsultasi dgn Kantor Dinas Tenaga kerja terdekat?


Dahlia Yustina:
sampai sebegitunya kah…?, miris sy melihat keadaan ini. mengapa sampai begitu berputus asa, apakah jalan memang sudah benar2 tertutup….bukankah dlm kitab suci disebutkan…” allah tidak akan mengubah nasib seseorang jika orang tersebut tidak mau mengubahnya ” , mhon maaf mas jika kata2 sy ini salah, tapi saya pikir banyak jalan
menuju roma….salam


 
http://hukum.kompasiana.com/2014/08/07/ryan-tumiwa-sarjana-pengangguran-dan-suntik-mati-671935.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com