Jumat, 10 April 2015

Islam & Seni: Pandangan Islam tentang seni

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjs7BJ9wb91tZYG-C6Pz8CB8i7mzRtRvg70a-FK3jjBncauGEzGE1ibqPVG-1J_PTacsohNcYRGLoqT0WLuaUgXA2quodTwoiv2Hr9ITqX0Fw9oRDvaq-H0Dr2YssJNbH0h7rWjR-IiRbY/s1600/Abstract+Paintings+Wallpapers+01.jpg 

PANDANGAN ISLAM TENTANG SENI
Standard Kompetensi
Setelah membaca bab ini peserta didik atau mahasiswa diharapkan mampu
  1. Menjelaskan pengertian seni secara umum
  2. Menjelaskan problematika seni dalam Islam
  3. Menjelaskan Aliran filsafat dalam seni
  4. Menjelaskan perspektif Muhammadiyah terhadap seni
A. Pengertian Seni Secara Umum
Secara umum  kata atau  term seni berarti ‘halus’(dalam rabaan) ‘kecil dan halus’, tipis dan halus’, ‘lembut dan enak (didengar), ‘mungil dan elok’(tubuh), ‘sifat halus’. Secara etimologis seni  dapat didefinisikan sebagai kesanggupan akal untuk menciptakan sesuatu yang bermutu tinggi (Kamus, 1990 : 816). Ukuran tinggi itu jika orang lain bisa mengatakan indah, kagum,  atau luar biasa terhadap ciptaan tersebut.
Kata seni sering dirangkai dengan kata lain umpama budaya sehingga menjadi ‘seni budaya, ‘gelar seni budaya’.  Pengertian ini sebenarnya rancu karena seni itu sebenarnya merupakan satu unsur dari budaya. Dalam kajian budaya, unsurnya yang mesti ada mencakup tujuh hal, yaitu: sosial, politik, bahasa, agama, ekonomi, seni, dan eistetika.  Seni budaya sebenarnya hanya seni itu sendiri atau bagian dari seni, dan biasanya secaara praktis terbatas pada seni tari, seni suara, seni panggung, atau gabungan dari ketiga seni itu seperti kalau kita mendengar sebuah pernyataan  “Saputra dan kawan-kawannya menjadi  duta seni budaya Indonesia ke berbagai manca negara”. Apa yang mereka lakukan di luar negeri atas nama bangsa Indonesia hanya menggelar seni dalam  panggung  di hadapan pemirsa.
B. Problematika Seni Dalam Islam
Mengkaji Seni Islam  selalu tertumbuk pada jalan buntu ketika hendak memasuki wilayah kajian seni Islam. Di kalangan Islam terdapat pro dan kontra.
  1. Hingga kini belumn ada lembaga apapun juga yang secara formal dan sistematis melakukan kajian seni secara komrehensif, filosofis (eistetika atau filsafat seni Islam, yang merumuskan batasan nilai keindahan sesuai dengan ajaran Islam), teoritik (sejarah, struktur, dan klasifikasi: apakah ada seni Islam ataukah hanya ada seni muslim), praktik (kajian tentang teknik-teknik perbidang), dan apresiatif (kritik seni yang mengkaji perkembangan seni Islam dalam hubungannya dengan perkembangan masyarakat muslim) yang mengatasnamakan lembaga seni Islam. Inti pendirian kelompok ini menyatakan bahwa Seni Islam itu tidak ada, dan yang ada adalah orang Islam bersseni.
  2. Sebagian umat Islam atau bisa disebut seniman muslim bersemangat menunjukkan berbagai dalil ‘aqliyah’ (rasional) bahwa Alquran sendiri mengandung nilai seni yang amat tinggi dan demonstratif bahwa musabaqah tilawatil qur’an digelar di mana-mana, demikian juga seni kaligrafi Islam-Arab, maupun naqliyah (teks yang bersumber dari Alquran maupun as-Sunnah; Alfaruqi, 1999: v-vi) menjelaskan tentang keindahan sebagai buah karya seni. Inti pendirian kelompok ini adalah seni merupakan salah satu dari kandungan atau jangkauan Islam. Dalam bab ini tentu dinyatakan bahwa seni Islam itu ada.
C. Aliran Filsafat Seni
            Sekurang-kurangnya terdapat dua aliran besar dalam seni, yaitu seni untuk seni (the art for the art)  dan seni untuk sesuatu (the art for the others).
  1. 1.      Seni untuk Seni
            Pada awal abad 19 ditengarai munculnya gerakan seni untuk seni (the art for the art) . Di Perancis gerakan ini didukung oleh Flaubert, Gauthier, dan Baudelaire. Di rusia oleh Pushkein. Di Inggris oleh Walter Patter Oscar Wilde. Di Amerika oleh sastrawan Allan Poe. Aliran ini berakar dari Romantisime Romawi yang dapat ditemukan akar-akarnya pada Friedrich  Schlegel dan Henrich Heine (Syarif, 1984 : 114).
Mereka meyakini slogan “Seni Untuk Seni”. Dengan slogan ini dimaksudkan bahwa keindahan sebagai produk seni, adalah kualitas seni yang khusus. Ia adalah nilai dasar yang absolut, menyeluruh dan tertinggi. Nilai-nilai lain seperti kebenaran dan kebaikan berada di bawahnya atau malah sama sekali tidak relefan. Di dalam panggung kehidupan, seni memiliki daerahnya sendiri, mempunyai tujuannya sendiri, tidak mempunyai misi yang harus dipenuhi kecuali membangkitkan jiwa sang kontemprator untuk menciptakan sensasi-sensasi keindahan tertinggi. Moralitas, instruksi, uang, dan populalaritas tidak boleh menjadi tujuan seni, tetapi malah merendahkan nilai artistik sesuatu seni (Syarif, l984 : 115). Buat mereka, seni adalah otonom tidak bergantung pada yang di luar seni.
Gauthier, utamanya, ia mengatakan bahwa seni bukan suatu cara, tetapi tujuan. Seorang seniman yang mengejar tujuan lain di luar keindahan adalah  bukan seniman (Syarif, l984 : 115). Sementara itu, Orcar Wilde memisahkan secara penuh antara lingkungan etika dan seni( Syarif, l984 : 1). Sebuah patung naturalis telanjang bulat yang dipasang di pusat keramaian, jia ini dipandang indah, tentu dilakukan dengan tanpa mermpertimbankan nilai etis. Jika peristiwa ini benar-benar ada, pasti menjadi heboh. Tokoh agama dan kaum moralis lainnya pasti memprotesnya, karena dipandang bertentangan dengan nilai moral. Beberapa tahun yang lalu, kasus pembuatan gambar-gambar bugil Dewi Sukarno Putri pada suatu majalah menjadi heboh. Tabloid yang pernah muncul penaka kecambah, beberapa diantaranya mengintrodusir gambar-gambar bugil atau hampir bugil atau secara umum seronok pada halaman sampulnya mendapat reaksi keras dari tokoh maupun lembaga-lembaga penjunjung tinggi moralitas. Goyang ngebor Inul Daratista, goyang patah-patah Anisa bahar, Goyang gergaji dari Dewi perssik dalam seni panggung menjadi heboh dan mendapat protes keras dari pendukung kaum moralis yang anti pornografi dan pornoaks atau sekurang-kurang erotisme. Karya ‘Taman Eden” yang menampilkan pose bugil Anjasmoro dan kawan-kawannya tidak luput dari hujatan keras dari kaum pendukung seni untuk sesuatu di luar seni.  Mulai Maret 2008 Pemerintah Republik tercinta ini (Indonesia), demi menjaga supaya  generasi mudatidak rusak parah moralitasnya menutup situs pornografi maupun pornoaksi dalam dunia internet, adalah sikap dan gerak nyata anti seboyan “seni untuk seni”
Seni untuk seni yang produksi seninya dinilai seronok oleh masyarakat tidak akan menjadi masalah manakala semua orang mendukung paham itu. Mungkinkah ini bisa terjadi ? rasanya tidak mungkin atau  malah pasti tidak mungkin. Manusia tidak bisa diseragamkan dalam paham seni. Justru kebanyakan manusia tidak sadar akan dunia seni atau malah tidak menyadarkan diri akan dunia seni. Bagi mereka, sebagian berpendirian bahwa yang penting tuntutan ekonomi dasar (pangan, sandang, papan). Seni bagi kebanyakan orang adalah komoditas mewah. Orang-orang semacam ini biasanya dalam penghayatan agama juga terbatas pada aturan-aturan pokok kehidupan agama seperti pelaksanaan ritus dalam Islam. Agama, dalam kasus Islam dilihat melalui tolok ukur wajib-haram, sunnah-makruh, dosa-memperoleh pahala, ketika melihat patung naturalis bugil di pusat keramaian, tidak dipandang sebagai karya seni yang indah, melainkan dihukumi haram, dosa, dan membinatangkan manusia.
Jadi, sebenarnya doktrin seni untuk seni bukanlah sesuatu yang ideal, justru ditentukan oleh persoalan-persoalan eksternal non seni, seperti etika jika harus dihadapkan dengan etika sebagai lawan seni.  Seni menjadi sesuatu yang menentang kodrat Ilahi. Tujuan utama keutusan para Nabi dan Rasul sepanjang sejarah manusia justru mengenai etika.  Nabi dan Rasul terakhir Islam adalah Muhammad saw  (570:622) mengaku bahwa tugas pokoknya sebagaimana ia katakan adalah sebagai berikut: . . . بعثت لإتمم حسن  الاخلاق (رواه الليس عن مالك بن انس) ( Aku diutus hanyalah utuk menyempurnakan kebaikan akhlak. H.R. al-Laisi dari Malik bin Anas). Seni menjadi bagian integral dalam risalah kenabian Muhammadsaw.
Suatu hal lain menjadi kelemahan doktrin seni untuk seni adalah menyaksikan alam semesta, yang menurut pandangan iman adalah refleksi karya Agung Sang Maha Pencipta, dipandang  sebagai sesuatu yang statis dan tidak bermakna karena lepas dari sensasi-sensai keindahan dari sang seniman. Flaubert si pendukung mazhab ini amat membenci kenyataan. Keindahan pegunungan Alpen tidak menimbulkan daya tarik baginya. Baudelaire menatap alam dalam penampakan keaslinya, ia pandang sebagai sesuatu yang monoton dan menjemukan. Menurutnya, seni harus berhubungan nilai absolut dan tertingi yaitu dipakai untuk menggantikan filsafat dan agama (Syarif, l984 : 116). Kalau sudah sampai tahap begini, seniman tidak bisa menjadi filosof dan agamawan, demikian sebaliknya. Tidak pula ia menjadi seniman yang berdoktrin “Seni untuk seni” secara setengah-setengah dan menjadi agamawan atau filosof setengah-setengah. Menjadi agamawan setengah-setengah adalah fasiq yang secara praktis adalah rusak. Bahkan, arti fasiq semula adalah sesuatu yang keluar dari kulitnya atau keluar dari perlindungan. Fasiq dalam arti agama berarti keluar dari ketaatannya pada Aallah (Anis,II : 687). Kalau agama seniman yang menjunjung tinggi doktrin “seni untuk seni” dan ia amat kuat dukungannya, sementara ia adalah seorang agamawan, boleh jadi ia kurang kesadarannya terhadap agamanya. Dalam kasus Islam, agama ini menuntut kepada pemeluknya supaya masuk ke dalam Islam secara total dan menyheluruh. Demikian seruan Alquran:
ياليهاالذين أمنوا ادخلوا فى السلم كافة ولا تتبعوا خطوات الشيطان إنه لكم عدو مبين
(Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimu. Q.S. al-Baqarah/2 : 228)
Dalam ayat ini, dapat dipahami bahwa ketika seseorang memeluk agama Islam secara tidak totalitas, sisanya adalah pengikut langkah syetan. Dengan demikian seniman yang menjunjung tinggi doktrin “seni untuk seni” hingga tahap menepikan filsafat dan agama menurut pandangan Islam seni itu adalah seni syetan. Karen itu sebagai seorang agamawan – masih dalam taraf awam, dan belum mencapai tingkatan ulama – saya menghimbau kalau di tanah air ini ada seniman yang bermazhab secara berat “seni untuk seni” dan mereka ini memeluk agama, khususnya Islam, hendaklah anda bertaubat dan pindah kepada paham seni yang fungsionalis-religius.
Seandainya harus dicari manfaatnya dari doktrin seni untuk seni sebenarnya masih ada, tetapi amat terbatas dan sifatnya terapiutik yang dalam hasanah Froedian termasuk orang-orang gila yang asyik dengan dunianya sendiri dan tidak hirau dengan dunia sekelingnya. Segi positif yang lain adalah karya ciptaannya selalu fres, orisinal, dan kreatif karena anti naturalisme.  .
  1. 2.      Seni Untuk Sesuatu (Seni Fungsionalsme)
Islam sebagai salah satu agama besar dunia dan yang paling belakangan menyatakan bahwa Alquran diturunkan untuk menjelaskan segala sesuatu. Dalam hal ini Allah berfirman: ونزلنا عليك الكتاب تبيانا لكل شيئ (Dan Kami turunkan kepadamu sebuah Kitab untuk menjelaskan segala sesuatu, Q.S. 16 : 138).  Sudah barang tentu bukan dalam arti penjelasan teknis dan detail yang diberikan oleh Alquran, melainkan hanya prinsip-prinsip dasarnya. Keluasan jangkauan Islam ini diakui juga oleh Orientalis seperti H.A.R. Gibb dengan pernyataannya: “Islam is much more than system of theology. It is a complite civilization”. Noor Cholish Madjid menyatakan Islam sebagai agama doktrin dan peradaban. Point yang diperoleh dari premis ini adalah Islam mengandung soal seni. Kandungan ini amat kecil barangkali sehingga amat samar dan akibatnya sulit memotret secara jelas apa itu seni Islam, bagaimana umat Islam mengapresiasi kesenian yang semuanya menjadi wacana yang hangat yang secara keseluruhan atau sekurang-kurangnya secara mayor mencurigai seni.
Bolehlah dikatakan bahwa Islam ‘ya’ terhadap seni, tetapi seperti apa ? Jawaban pertanyaan ini dapat dijelaskan dalam dua level, operasional dan konsepsional tentang seni.
  1. a.      Devinisi
Inti ajaran Islam dalam rumusan verbal dan perbandingan antar agama-agama adalah tauhid. Essensi tauhid adalah meng-Esa-kan Tuhan, bukan hanya dalam level keyakinan, melainkan total kehidupan. Karena itu, fenomena apa pun yang berlabel Islam pasti dan harus berasal, beroperasional, dan bermuara pada tauhid. Islam yang sumber ajaran pokoknya Alquran dan as-Sunnah, dan kandungannya menyediakan pembentukan kebudayaan lengkap. Semuanya terbawahkan oleh posisi tauhid. Tauhid berada di puncak piramida sesuatu yang disebut Islam. Atas dasar alur pikir ini mendevinisikan seni Islam kiranya dapat dipahami.
Seni Islam dapat didevinisikan  sebagai segala produk historis yang memiliki nilai eistetis yang telah dihasilkan oleh orang-orang Islam dan dalam kurun sejarah Islam, berdasarkan pandangan eistetika tauhid dan selaras dengan semangat keseluruhan peradaban Islam, dengan enam ciri yang diambilkan dari ideal Alquran: abstraksi, struktur modular, kombinasi suksesif, repetisi, dinamis, dan rumit (Alfaruqi, l999 : vii-viii). Pertama-tama yang harus disadari dalam devinisi ini adalah sifatnya yang aplikatif dalam arti mengabstraksi prestasi seni yang telah dicapai, meskipun dapat juga dikenakan sebagai kerangka paradigmatik. Penjelasan keenam ciri tersebut adalah sebagai berikut:
1).   Abstraksi
Yang dimaksuds ciri abstraksi dalam seni Islam adalah pengingkaran naturalisme dan pencegahan menghadirkan fenomena natural dalam karya seni, khususnya adala seni patung. Kalau pun harus akan mencipta karya-karya figuratif alami harus diupayakan denaturalisasi (Alfaruki, 1999 : 8). Demikian inilah diagnosa pengamat seni Islam. Iqbal yang filosof dan seniman (Syarif, 1973 : 99) menyarankan bahwa seni yang benar adalah seni yang bebas dari belenggu alam (Darb-I Kalim : 115). Seni yang meniru alam dianggap pengemis di depan pintu alam. Dalam idea Insan Kamil, Iqbal menggubah syair yang potongannya sebagai berikut:
  • Thou dist Create night and I made the lamp
  • Thou dist Create cly and I made the cup
  • Thou dist Create desert, mountains, and forrests
  • I produce the orchards, gardens, and grocests
  • It is I who turneth stone intoa mirror
  • And it is I who turneth possion into an antitode
(Audah, 1981: xvi, Danusiri, 1996 : 139, mengutip dari Iqbal)
Dalam bait tersebut nampak jelas bahwa hasil karya yang dikehendaki adalah sama sekali baru dan orisinal, tidak dublikatif, tidak pula meniru dari yang sudah ada.
Secara kebetulan banyak teks hadis Nabi Muhammad yang mencela seniman yang berkarya secara naturalis mu;lai tingkat rendah hingga amat berat, padahal sabda-sabda tersebut diyakini kebenarannya secara mutlak oleh umat Islam karena memang itu juga wahyu. Diantara teks-teks yang dimaksud adalah:
(1) Allah melaknat seniman naturalisme: ‘La’ana . . . almus}awwir (Allah melaknat . . . pematung/naturalis – H.R. al-Bukhari dari Ibnu Juh}aifah).
(2) Malaikat menjauh dari rumah yang di dalamnya ada patung naturalis. Demikian sabda Rasulullah:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن الملئكت لا تدخل بيتا فيه صورة (رواه البخارى عن ابن عباس)
Artinya:
Sesungguhnya malaikat tidak akan masuk pada rumah yang di dalamnya ada patung naturalis; H.R. al-Bukhari dari Ibnu ‘Abbas). Hadis ini tercatat hingga 49 kali.
(3) pembuat patung naturalis akan disiksa
وإن من صنع الصورة يعذب يوم القيامة
(dan sesungguhnya orang yang membuat patung (naturalis) akan disiksa besok pada hari kiyamat; H.R. al-Bukhari dan Muslim)
(4) Siksaan, pada nomor tiga di atas amat pedih:
إن من اشد الناس عذابا يوم القيامة الذين يشهون او قيل يضاهون بخلق الله.
(Sesungguhnya diantara yang amat berat siksaannya adalah orang yang  memahat menyerupai atau menyamai ciptaan Allah; H.R. al-Bukhari dan Muslim).
(5) Pematung naturalis memang menjadi penghuni neraka:
إن من اشد اهل النار يوم القيامة عذابا المصورون.
(Sesungguhnya sebagian penduduk neraka besok pada hari kiyamat untuk mendapat siksa yang amat berat adalah para seniman  naturalis; H.R. Muslim).
(6). Pematung naturalis dituntut  untuk memberi nyawa atau menghidupkan hasil karyanya:
من صور صورة فى الدنيا كلف ان ينفخ فيها الروح يوم القيامة وليس بنافخ(رواه مسلم عن ابن عباس) او يقول احيوا.(رواه البخارى).
(Barang siapa membuat patung naturalis di dunia, ia dituntut untuk meniupkan roh di dalamnya besok pada hari kiyamat, padahal ia tidak bisa meniupnya, H.R. Muslim dari Ibnu ‘Abbas; atau beliau bersabda: “Hidupkanlah!”  H.R. al-Bukhari).
Dalam memahami ancaman tersebut hendaklah mempetimbangkan dua keadaan: pertama, Nabi amat sensitif terhadap patung. Islam, ketika pertama kali menguasai kota Makkah (fath} al-Makkah) benar-benar tegas dalam melakukan pemberantasan terhadap patung (al-asna>m). Di sekeliling ka’bah tidak kurang dari 360 buah, belum lagi di tempat-tempat lain. Patung-patung ini menjadi sarana atau objek penyembahan dan poengorbanan kepada para dewa (ilah). Sementara Islam memperkenalkan tauhid. Jadi, penghancuran ini dilakukan supaya orang tidak musyrik. Jika karya patung naturalis tidak dalam konteks sebagai sarana penyembahan, pengorbanan, atau sebagai ruitus-ritus keagamaan, tentunya lain ceritanya. Penjelasan demikian: Seandainya berkarya seni patung naturalisme harus ditetapkan putusan hukumnya, haram itulah penetapannya karena (1) Allah dan Rasulullah melaknat, (2) Allah dan Rasulullah memberi ancaman siksaan besok di hari akhir, (3) Rasulullah sama sekali tidak pernah melakukannya. Sesuatu diharamkan itu karena mengandung mad}arat bagi pelaku yang diputusi haram. Jika tidak pernah melakukannya justru memperoleh manfaat, sekalipun bersifat janji-janji eskatologis. Tetapi, di dalam proses penetapan hukum dalam Islam itu berlaku kaidah bahwa, “Hukum itu tergantung pada ‘illat ; sebab, konteks, alasannya: إن الاحكام تناط بالعلة  (Zahra, 1958 : 224,250). Jika patung naturalis dibuat tidak dalam konteks sarana atau  dalam penyembahan dan pengorbanan, atau secara umum ritus-ritus sakral, alasan menetapkan hukum haram  pada patung naturalis tidak cukup. Kedua, alam dengan segala isinya – natural – adalah ciptaaan dan hak paten Allah swt. Wajar jika orisinalitas ciptaannya ditiru orang yang itu adalah juga makhluk-Nya. Dalam dunia manusia saja, karya yang telah ada hak patennya, tidak boleh dijiplak atau dibajak, kecuali telah mendapat ijin pengarang atau pembuat aslinya. Ini sebenarnya mengandung ajaran supaya seorang seniman senantiasa berkarya kreatif dan orisinal.
Meskipun deminian, masih ada peluang bagi orang Islam untuk membuat karya patung bukan yang bernyawa. Dalam hal ini Rasulullah bersabda:
قال إن كانت لابد فاعلا فاصنع الشجر ومالا نفس له ( Beliau bersabda: jika kamu terpaksa harus membuat patung naturalis, maka buatlah pohon atau sesuatu lain yang tidak bernyawa; H.R. Muslim dari Ibnu ‘Abbas).
2).   Struktur modular
Karya seni Islam tersusun atas berbagai bagian atau modul yang dikombinasikan untuk membangun rancangan atau kesatuan yang lebih besar. Masing-masing modul ini adalah sebuah entitas yang memiliki keutuhan dan kesempurnaan diri, yang memungkinkan mereka untuk diamati sebagai sebuah unit ekspresif dan mandiri dalam dirinya sendiri maupun sebagai bagian penting dari kompleksitas yang lebih besar.
Ciri ini bisa dipadatkan dalam term ekspresionisme. Hanya saja, kadang-kadang seorang seniman tidak bisa mengontrol karya seninya secara utuh. Kalimuddin menulis demikian:
      An artist may not know anything about the nature of art. The process of cration is often incomprehensible  to the artist. He created, and be creates in a particular manner, but very often he can not explain why he work in a certain way and not other. He knows he is right; he feels it in his hones that a thing should be just so that the least alternation would spoil it, but for the life of him he can not give any clear and convincing reasons wich would be obvious  to critic (Kalim, 1973 : 249).
Dalam kasus seperti ini sang seniman hanya menyadari bahwa tindakannya benar dan hasil karyanya indah. Secara etis memang tidak ada masalah dengan hukum, artinya tidak haram sepanjang  ciri-ciri naturalisme tidak ada.
3).   Kombinasi Suksesif
Pola-pola infinit seni Islam menunjukkan adanya kombinasi berkelanjutan (suksesif) dari modular dasar penyusunannya. Elemen-elemen tersebut disusun untuk membangun sebuah desain lebih besar, utuh, dan independen. Kombinasi tersebut dapat diulang, divariasi, dan digabung dengn entitas lain yang lebih besar dan lebih kompleks untuk membentuk kombinasi yang lebih kompleks lagi. Dengan demikian dalam  pola infinit tidak hanya ada satu fokus perhatian eistetis, melainkan terdapat sejumlah ‘penglihatan’ yang harus dialami ketika mengamati modul, entitas, atau motif-motif yang lebih kecil. Tidak ada desain yang hanya memiliki satu titik tolak eistetik, atau perkembangan progesif yang mengarah kepada poinvokal yang kulminatif atau konklusif. Desain Islam selalu memiliki titik pusat yang tak terhitung jumlahnya, dan sebuah gaya persepsi internal yang menghilangkan adanya permualaan maupun akhir yang konklusif (Alfaruqi, l999 : 9).
4).   Repetisi 
Ciri ke empat yang diperlukan dalam rangka menciptakan infinitas dalam sebuah objek seni adalah pengulangan dalam intesitas yang cukup tinggi. Kombinasi aditif (pertambahan) dalam seni Islam melakukan berbagai pengulangan motif, modul, struktural maupun kombinasi suksesif mereka yang nampak terus berlanjut. Kesan abstrak diperkuat dengan pengekangan individuasi bagi bagian-bagian penyusunannya. Ia juga mencegah modul manapun dalam desain tersebut untuk lebih menonjol dibanding yang lain.
5).   Dinamisme
Seni Islam amat dinamis atas dasar ruang dan waktu. Kombinasi antara keduanya, satu dengan yang lain lebih mendominasi bisa saja terjadi sepanjang menghasilkan eistetita di bawah siraman Islam.
6).   Rumit
Detail yang rumit merupakan ciri ke enam sebuah karya seni Islam. Kerumitan memperkuat kemampuan suatu pola Arabeks untuk menarik perhatian pengamat dan mendorong konsentrasi kepada entitas struktural yang diprersentasikannya. Sebuah garis atau figur, selembut apa pun diolah, tidak akan pernah menjadi satu-satunya ikon dalam rancangan seni Islam. Hanya dengan multiplikasi elemen-elemen internal serta peningkatan kerumitan penataan dan kombinasi, akan dapat dihasilkan dinamisme dan momentum pola infinit.
Ke enam ciri tersebut harus selalu ada dalam sebuah karya seni Islam, sifatnya situasional tergantung macam apa sebuah karya seni hendak dicipta. Dan, ciri-ciri tersebut secara umum kiranya, dalam tampilan praktis, bukan monopoli seni Islam. Ke enam ciri ini akan lebih menjadi ciri-ciri yang benar-benar hakiki jika indahnya sebuah karya seni muncul dari pandangan tauhid atau keindahan yang dapat membawa kesadaran transendensi ilahiah (Alfaruqi, l999 : vii).
  1. b.      Konsepsional Seni
1).   Tuhan sebagai Pencipta
Alquran menjelaskan Allah itu adalah wujud yang Transenden, tak ada pandangan dapat melihatnya, dan di atas segala perbandingan. Dalam hal ini Allah berfirman:
لا يدركه الابصار وهو يدرك الابصار وهو اللطيف الخبير
(Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang dia adapat melihat segala yang kelihatan; Dan Daialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui – Q.S. al-An’am/6: 103).
Tidak ada sesuatu apapun seperti Dia. Dia berfirman:
ليس كمثله شيئ وهو السميع البصير
(Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia; dan Dialah Yang Mah Mendengar lagi Maha Melihat, Q.S. asy-Syu’ara’/42 : 11).
Ia berada di luar jangkauan penjelasan apa pun dan tidfak mungkin dipresentasikan melalui gambaran (image) antropomorfis, zoomorfis, maupun simbul figural alam  (Alfaruqi, 1999: 3). Ajaran yang terkandung di balik kualitas-kualitas Tuhan seperti dalam dunia seni adalah pelarangan mengubah karya seni itu dalam berbagai aliran: abstraksionisme, ekspresionisme, maupun naturalisme tentang Tuhan. Tetapi kualitas Dia adalah pencipta segala sesuatu:
الله خالق كل شيئ وهو على كل شيئ وكيل (Dia yang menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu, Q.S. az-Zumar/39 : 62).
Kegiatan penciptaan terkadang mencipta dari ketiadaan menjadi ada sesuatu dengan kualitas mengadakan sesuatu tanpa alat, bahan, waktu, dan ruang (al-Asfahani, l992 : 111), creatio ex nihillo. Contoh pemakainnya dalam Alquran adalah: بديع السماوات والارض  (Dia yang menciptakan langit-langit dan bumi . . . Q.S. al-Baqarah/2 : 117), atau mencipta sesuatu dari sesuatu yang sudah ada (al-Asfahani, l992 : 292), transforming matter. Contohnya adalah pernyataan Alquran: خلقكم من نفس واحدة  (Dia mencipta kamu dari diri yang satu, Q.S. an-Nisa>’/4 : 1). Dan: خلق الانسان من نطفة  (Dia mencipta mencipta manusia dari air mani, Q.S. an-Nahl/16 : 4).
Akan tetapi dalam kualitas seperti itu, Dia memperkenalkan diri dalam banyak atribut, antara lain: (1) Sebagai al-Khaliq dan al-Mus}awwir . Dalam hal ini Allah berfirman: هو الله الخالق البارئ المصور الاسماء الحسنى  (Dia adalah Allah yang Maha Mencipta yang Mengadakan, yang Membentuk rupa, yang Mempunyai nama-nama yang baik, Q.S. al-H}asyr/59 : 4).
Salah satu tajalli (refleksi) al-Mus}awwir adalah membentuk rupa manusia. Dalam hal ini Allah berfirman:لقد خلقنا الانسان فى احسن تقويم  (Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya, Q.S. ath-Thin/95 : 4).
Arti general s}awwara dan ensiklopedis adalah ja’ala lahu s}u>ratan mujassimatan (menjadikan sesuatu dalam bentuk yang fisikal). Manusia dibentuk secara matrial dalam kelas yang disebut manusia secara fisika;l, demikian pula aneka jenis mineral, tetumbuhan, binataang, maupun benda-benda angkasa. Semuanya dalam bentuknya yang khas, spesifik, dan tidak ada bentuk yang benar-benar kembar. Secara pragmatis dan logis masing-masing bentuk fisik yang serumpun disaebut spisies.
Dalam penampakan ke-wujud-an terjadi tidak secara bim salabim, melainkan secara evolusional atau sekurang-kurang prosessual, betatapun pelaku s}awwara/mus}awwir (pemberi bentuk) itu adalah Tuhan. Arti term ini adalah intaqala min h}a>l ila al-ukhra (pindah dari suatu kualitas kepada yang lain, Anis,I, 531). Contoh pemakaian makna term ini adalah: ولقد خلقناكم ثم صورناكم ثم قلنا للملئكة السجدوا لإدم . . .  ( Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu(Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, lalu Kami katakan kepada para malaikat:”Bersujudlah kamu kapada Adam. . .”, Q.S. al-A’raf/7 : 11).
Jika konsep s}awwara diterapkan ke dalam dunia aliran seni, tindak penciptaan dan pembentukan oleh Tuhan adalah berpola non naturalisme, meskipun hasil jadi ciptaan dan bentukan Tuhan yang mewujud dalam bentuk alam semesta dengan segala isinya oleh manusia disebut natura. Tindak Tuhan mencipta dan membentuk disebut non naturalisme karena memang tidak mencontoh barang yang telah ada.
2).   Dia Sebagai Yang Indah
Secara tekstual Nabi saw mengatakan: إن الله عز وجل جميل يحب الجمال  (Sesungguhnya Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung adalah Indah dan Dia menyukai keindahan, H.R. Ahmad dari ‘Uqbah bin Amir). Ia (Ahmad) meriwayatkan hadis ini tiga kali dan Muslim satu kali. Itulah sebabnya indah dalam pandangan Islam berlaku manakala sebuah karya seni dapat membawa kesadaran pencipta seni maupun penaggapnya kepada idea transendensi ilahiah.
Kalau Nabi saw mengatakan demikian, maka diyakini kebenrannya oleh umat Islam. Dalam sejarah Islam, para sufi dan sastrawan menghayati dan mencintai Tuhan dalam taraf cinta asketik dan mengungkapkannya Tuhan sebagai Yang Maha Indah.
Jauh hari sebelum Muhammad saw lahir, Plato telah mengatakan Tuhan sebagai Keindahan Yang Abadi atau Keindahan Mutlak, good absolut (Syarif, 100; Runes, 1976 : 97), Keindahan Yang Tertingi, Summum Bonum (Syarif, l984 : 91). Dalam semua wewujudan Tuhan menampakkan Diri. Demian Syarif menulis:
Tuhan sebagai Keindahan Abadi, Yang Ada tanpa tergantung pada dan mendahului segala sesuatu, dan karena itu menampakkan diri dalam semuanya itu. Dia menyatakan Dirinya di langit dan di bumi, di matahari dan di bulan, pada kerlip bintang-bintang,  dan jatuhnya embun, di tanah dan di laut, di api dan nyalanya, di batu-batu dan pepohonan, pada burung-burung dan binatang buas, di wewangian dan nyanyian; tetapi di mana pun Ia menunjukkan Diri, tidak lebih dari pada yang nampak di mata Salimah, bahkan sebagai Dante; di mana pun, Dia menampakkan Diri, Dia tidak lebih dari pada yang tampak pada Beatrice. Seperti halnya besi ditarik oleh magnet, demikian pula segala sesuatu ditarik oleh Tuhan.
Dalam kutipan tersebut tampak jelas  pengertiannya bahwa segala ciptaan Allah indah karena keluar dari Yang maha Indah. Semua ciptaan dan bentukan Allah adalah Master Piece  (karya agung) sehingga Ia tidak malu-malu membuat nyamuk atau yang lebih rendah dari itu (Q.S. al-Baqarah/2 : 26) sebagai hasil karya yang lebih bermanfaat dibanding berhala/patung sebagai sesembahan yang tidak mampu memberi perlindungan apa pun laksana sarang laba-laba (Depag, l971 : 13).
Hanya saja dalam bahasa dan akal diskursif manusia, sesuatu atau segala sesuatu dalam kajian seni dibagi secara dikhotomis menjadi indah dan jelek, baik dan buruk, , , dst, orang akan mengatakan :
“Seorang wanita berkulit putih bersih, hidungnya mancung, bermata biru, rambutnya pirang, atau hitam berkilau, tinggi/langsing akan dikatakan cantik atau indah; semerntara yang berkulit hitam, hidungnya pesek, bibirnya tebal, rambutnya keriting, tubuhnya besar dan pendek, dan perutnya buncit tentu akan dikatakan jelek.
Padahal, orang ini juga termasuk Master Piece (karya agung) Tuhan. Itulah sebabnya dalam aspek moral Nabi Muhammad saw  mengatakan demikian:
 إن الله لا ينظر الى اجسامكم ولا الى اصواركم ولكن ينظر الى قلوبكم.
     ( Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh dan paras rupamu, tetapi     melihat hatimu, H.R. Ahmad, Muslim, dan Ibnu Majah).
3).   Manusia Sebagai Wakil Tuhan
                  Tuhan menyatakan bahwa makhluk yang bernama manusia dilantik oleh Tuhan menjadi khalifah fi al-ard}, wakil-Nya di bumi ini (Q.S al-Baqarah/2 : 30-38). Di bumi ini, manusia merupakan puncak evolusi dari semua makhluk hidup, baik dari segi fisik, intelektual, maupun spiritual.
Sebagai khalifah di bumi, manusia diberi tugas oleh Allah swt untuk memakmurkan bumi: هو انشاٌكم من الارض واستاُ مركم فيها. . .  (Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu  pemakmurnya (Q.S. Hud/11 : 61) dalam arti manusia diberi kuasa penuh oleh Allah terhadap bumi ini supaya menjadi makmur.
Supaya bisa melaksanakan tugasnya, manusia diberi akal. Dengan akal manusia bisa mengembangkan diri jauh melampaui binatang. Selain itu manusia diberi kebebasan, tetapi dimintai pertanggungjawaban atas kebebasannya (Q.S. al-Kahfi/18 : 29). Kenyataannya, tidak semua manusia mampu memerankan diri sebagai wakil Tuhan. Mereka malah merusak (Q.S. al-Maidah/5 : 32) atau turun derajatnya bagaikan binatang ternak atau lebih rendah dari itu (Q.S. al-F\urqan/25 : 44), yaitu serendah-rendahnya barang rendah (Q.S. ath-Thin/95 : 5).
Dehumanisasi terjadi karena manusia tidak bisa menjadi wakil Tuhan yang baik. Untuk menjadi khalifah yang baik, manusia harus menjadi insan kamil (the perfect man). Salah satu kualitas insan kamil adalah kerja kreatif dan orisinal. “jangan hinakan pribadimu dengan tiruan/jagalah padanya laksana pribadimu intan tak ternilai/setiap orangyang tak kuasa mencipta/ia orang yang beriman dan zindiq (Iqbal, l979 : 5-6). Dalam bahasa yang amat meledak-ledak, Iqbal membayangkan bahwa Insan kamil adalah manusia yang dilengkapi Tuhan dengan berbagai daya tangkap: serapan indra, rasio, dan intuisi dalam kadar yang amat tinggi (Bahrum, l976 : 181). Teman kerja Tuhan di bumi.”Be man of God/bear mysteries within/”(Jadilah manusia Tuhan/kandunglah rahasia dalammu; Iqbal, l976 : 58). Iradah atau kehendak manusia utama adalah se-iradah Tuhan: In his will that which God wills becomes lost (Dalam kemauannya/iradah Tuhan hilang di dalamnya; Iqbal, 1976 : 69).
Kalau kualitas Tuhan adalah mencipta, maka demikian pula kualitas Insan kamil, dan predikat Insan kamil oleh siapa saja asal ia melalui jalan yang benar untuk itu, termasuk oleh para seniman. Seniman yang sejati adalah mencipta karya seni yang bebas dari belenggu alam (Iqbal, Kalim, 115) dan karyanya bukan seni demi seni, melainkan seni  yang fungsionalis
Kalau tujuan Islam turun di muka bumi ini sebagai rahmat dan berkah bagi alam semesta: وما ارسلناك إلا رحمة للعالمين   ( Dan tidak Aku utus engkau (Muhammad), kecuali untuk rahmat bagi alam semesta: Q.S. al-Anbiya/22 : 107), maka seni, sebagai bagian  integral dari Islam., harus juga sinergi dengan tujuan risalah ini. Itulah yang dimaksud seni dalam pandangan Islam adalah seni yang fungsionalis. Dalam hal ini Allah berfirman:
قل حرم زينة الله التى اخرج لعباده والطيبات من الرزق قل هي للذين أمنوا فى الحياة الدنيا خالصة يوم القيامة
Arttinya: Katakanlah :Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkannya untuk hamba-hamba-Nya (siapa pula yang mengharamkan) rezeki yang baik ? “katakanlah semua itu bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiyamat; Q.S. al-A’raf/7 : 32).
Yang dimaksud perhiasan adalah segala sesuatu yang mendatangkan keindahan. Perhiasan dengan demikian adalah karya seni, dan seni sebagaimana diisyaratkan dalam ayat itu adalah fungsionalisme, bukan hanya bagi atribut kehidupan orang beriman di dunia, melainkan hingga ke akhirat kelak.
Akar dari paham fungsionalisme  adalah Plato. Menurutnya seni harus mengandung tujuan etis dan instruksional. Daya magis seni harus digunakan untuk menghasilkan warga yang baik (Syarif, 1984 : 126). Di Barat, fungsionalisme seni didukung oleh antara lain: Ruskin, Guyau, Tolstoy, Ibsen, dan Shaw. Mereka menghendaki fungsi seni sebagai perubahan. Dalam Islam, Iqbal adalah pendukung fungsionalisme yang amat berat. Seni, katamya, adalah sarana ayang berharga bagi prestasi kehidupan ( Iqbal, Asrar: 42). Menurutnya, menentang apa yang ada dilandasi keinginan untuk mencipta apa yang seharusnya adalah sikap hidup yang baik ( Syarif, 1984 : 130), dan teman sekerja Tuhan adalah seniman yang menjadi rahmat bagi kemanusiaan (Syarif, l984 : 1209). Jadi, seniman sejati dalam pandangan Islam adalah seniman yang berkarya dengan dilandasi kesadaran bertuhan; tangannya digerakkan oleh Tuhan karena pribadinya telah menyatu dengan Tuhan dan hasil karyanya, tidak hanya menyenangkan karena ini hanya efek karya seni, melainkan untuk rahmat bagi kemanusiaan. Seniman yang egois dan tidak peka terhadap persoalan kemanusiaan adalah menyalahi kodrat dirinya sebagai wakil Tuhan di muka bumi ini, yaitu memakmurkannya.
Sekarang ini, dapat disaksikan bahwa penganut fungsionalisme seni dari orang Islam adalah Noor Mustakim – salah satu galery seninya terletak di lereng gunung Muria Kabupaten Kudus Jawa tengah, dan yang lainnya terletak di Jakarta maupun Yogyakarta. Sebagai seniman, ia mengaku dalam berkarya selalu berangkat dari kesadaran iman. Tuhan lah yang menggerakkan tangannya. Pikiran seolah-olah kosong. Dalam beberapa kesempatan dialog dengan saya, ia berkata:
Setelah tangan memegang kanfas dan instrumen-instrumen lainnya tersedia, tiba-tiba leerr, , , leerr, , leerr, , , Dalam keadaan itu, terkadang dalam hati protes, dengan coret-coret sembarang supaya hasilnya tak karuan. Tetapi hasilnya, ternyata dinilai oleh pengamat dan penghayat seni amat indah.
Atas dasar pemikiran seperti ini, dan ini biasa terulang, katanya, maka ketika ditanya mana karyanya yang dianggap sebagai Master Piece, ia mnenjawab bahwa semua karyanya adalah Master Piece karena ia bekerja atas dorongan iman. Untuk itulah ia berkata: “Sesederhana apapun, ciptaan Tuhan itu indah, dan setiap sentuhan tanganku dalam bentuk apapun adalah seni yang merupakan karunia-Nya”. Inilah barangkali rahasianya, ia tidak menganut paham seni untuk seni, melainkan seni untuk sesuatu karena datangnya dari Allah. Sementara Allah mengamanatkan pada manausia supaya menebarkan kemakmuran di bumi.Untuk itu,  perlu ada keterpaduan antara seniman, pengusaha, dan pencinta seni, kata Panoet Harsono, orang yang pernah menjadi orang nomor satu di Bank Penbangunan Daerah Jawa Tengah.
Sebagai bukti pilihannya yang fungsionalistik, ia berobsesi mendirikan sebuah universitas di lereng gunung Muria Kudus pantura Jawa Tengah, dengan modal perguruan yang berbasis pada alam, lalu diolah atas dasar seni dan ditujukan bagi kesejahteraan manusia. Khusunya fakultas seni bebas dengan berbagai juruasannya akan dibuka pada tahun 2002 – 2003. hanya saja, obsesi itu telah menjadi kenyataan atau belum adalah persoalan lain, setidak-tidaknya idea mendirikan lembaga seni secara legal sebagaimana dipertanyakan Alfaruqi telah direspon, justru di kota kecil di Jawa Tengah, yaitu di Kudus.
D. Muhammadiyah dan Seni 
                        Muhammadiyah sebagai gerakan sosial keagamaan yang memiliki misi: (1) Menegakkan keyakinan tauhid yang murni; (2) Menyebarluaskan ajaran Islam yang bersumber kepada Alquran dan as-Sunnah’ dan (3) Mewujudkan amal Islami dalam kehidupan pribadi keluarga, dan masyarakat (Sukaca, 2008 : 4), menghindarkan penyakit TBC+S [tahayyul, bid’ah, khurafat, dan syirik) menimbulkan efek pemiskinan kebudayaan, termasuk di dalamnya seni sehingga secara luas Muhammadiyah kurang diminati oleh masyarakat awam luas.
Muhammadiyah akan mendapat respon di kalangan masyarakat luas jika mampu mencipta karya seni apa saja, khususnya seni musik yang merakyat, namun tidak bertentangan dengan syariat. Kawan-kawan di NU mampu berbuat itu. Mereka sangat adabtatif, mampu menggunakan instrumen yang mestinya bukan alirannya, namun diaransemen demikian apik. Instrumennya campursari tetapi gubahan iramanya padang pasir. Instrumen karawitan dikolaborasi dengan samrah atau sebaliknya dapat  mencipta karya seni yang dapat dinikmati orang awam. Hanya saja karena saking luwesnya, aspek akidah kurang menjadi pertimbangan penting sehingga sebuah karya seni sering dikritik oleh mereka yang berasal dari Muhammadiyah sebagai sesuatu yang berbau syirik.
Dalam Muhammadiyah juga terjadi distorsi. Mereka sering mengritik seni dari segi akidah, sementara tidak bisa memberikan alternatif, malah sekalian terjun bebas ke dalam musik Barat, dalam arti instrumen musik yang digunakan sebagai ekspresi seni terbatas pada band. Musisi Muhammadiyah kurang bisa beradabtatif dengan nuansa musik lokal atau daerah.
Untuk memperoleh efektifitas dakwah amar ma’ruf nahi munkar, Muhammadiyah perlu menguasai musik-musik lokal di mana mereka berada sehingga, untuk langkah pertama berdialog dengan masyarakat sekurang-kurangnya tidak mengundang kecurigaan.
 DAFTAR KEPUSTAKAAN
  •  Al-Qur’an al-Karim
  • Agus Sukaca, Gerakan Pengajian Muhammadiyah, Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2008.
  • M.M. Syarif,(terj.) Iqbal Tentang Tuhan dan Keindahan, Bandung:Mizan, 1984. Ismail Raji al-Faruqi, (terj.), Seni Tauhid: Esensi dan Ekspresi Estetika Islam,    Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1999.
  • Abdul Wahhab ‘Azzam, Filsafat dan Puisi Iqbal, Bandung: Pustaka, 1985.
  • Abi Abdullah Muhammad bin Isma’il, Matn al-Bukhari fi H}asyiyat as-Sindhi. Bandung: Syarikah al-Ma’arif li ath-Thabb wa an-Nasyr.
  • Abi Husain bin H}ajjaj al-Kusyairi an-Naisaburi, S}ah}i>h al-Muslim. Indonesia: Maktabah Dahlan.
  • Ahmad bin Hanbal, Musnad al-Ima>m bin Hanbal. Beirut: al-Maktab al-Islami,[t.th].
  • Muhammad Ashraf, Iqbal as The Thinker. Lahora: Kashmiri Bazar, 1973.
  • Danusiri, Epistemologi Dalam Tasawwuf Iqbal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996.
  • Ibrahim Anis, (et.all.), al-Mu’jam al-Wasith. Beirut: Dar al-Fikr, l994.
  • Al-Isfahani, Mufradat Alfa>f al-Qura>an al-Kari>m. Beirut: Dar al-Fikr, l992
  • Muhammad Abu Zahra, Us}u>l al-Fiqh. Beirut: Dar al-Fikr, l958.
  • Anas bin Malik, al-Muwaththa’. Beirut: Dar al-Fikr, l985.
http://danusiri.dosen.unimus.ac.id/materi-kuliah/fbba/pandangan-islam-tentang-seni/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com