Kamis, 03 April 2014

Inilah Sebuah Pengalaman Menyakitkan Akibat Peristiwa G-30-S PKI 1965

1348966562582873949
Monumen Pancasila Sakti-Kompas Com
Hari ini 30 September adalah “Hari Ulang Tahun” melestusnya pemberontakan Gerakan 30 September PKI yang ke 47. Pada era Pemerintahan Soeharta yang berkuasa lebih dari 32 tahun (1966-1998), tanggal 30 September ini dirayakan dan diperingati secara besar-besaran sebagai acara Kenegaraan yang dipusatkan di Istana Negara, tepatnya tanggal 1 Oktober, sebagai “Hari Kesaktian Pancasila”, antara lain dengan memutar dan menonton film “Pemberontakan G-30-S PKI”, yang tentu saja menempatkan Soeharto sebagai “pahlawan” yang menumpas Partai Komunis Indonesia (PKI).
Tapi saat ini di zaman Reformasi, suasana seperti itu tidak ada lagi, bahkan mungkin tidak pernah diketahui oleh generasi muda yang lahir setelah tahun 1965. Apalagi bagi para pelajar yang senang dan sering melakukan kekurusuhan dan tawuran. Bagi mereka peristiwa sejarah yang merenggut nyawa ribuan rakyat Indonesia yang sebagian besar tidak bersalah itu tidak penting sama sekali. Yang paling penting adalah muncul di layar TV dengan tawuran.
Sebuah stasiun TV Nasional tanggal 29 September kemarin menyiarkan sebuah program dengan judul “Peristiwa G-30-S-PKI, Apakah Suatu Coup (Merebut Keuasaan Secara Paksa) Atau Rekayasa?”. Sampai saat ini kita tidak tahu persis apa yang sesungguhnya terjadi. Namun yang jelas dan faktanya adalah, bila banyak Jenderal yang terbunuh, tapi Soeharto selamat, bahkan dapat “merebut” kekuasaan dari Presiden Soekarno melauli “Surat Sakti”, yang dia sebut “Surat Perintah Sebelas Maret-SUPERSEMAR”, yang anehnya sampai sekarang tidak dapat ditunjukkan bukti otentik (yang asli) nya.
Tapi artikel ini bukan untuk membahas masalah itu, tetapi pengalaman pribadi yang menyakitkan yang dialami penulis saat masih duduk di kelas satu SMA pada tahun 1965 itu. Saya yakin sebagin besar Kompasiner belum lahir saat G-30-S PKI itu terjadi. Maka baca dong kisah menyakitkan tapi ada berkahnya ini. Beginilah ceritanya:
Tahun 1965, Masuk SMAN Baturaja
Tahun 1965 saya masuk SMA Negeri Baturaja. Di awal tahun ajaran, proses pendidikan berjalan normal-normal saja. Saat itu hampir tidak ada sepeda motor seperti saat ini. Karena jarak dari rumah ke sekolah dan tidak ada angkutan umum, saya naik sepeda (butut) untuk pergi dan pulang sekolah. Saya sering berboncengan dengan salah seorang teman yang satu arah dengan rumah orang tua saya. Lumayam tidak perlu mengayuh sepeda.
Menjadi Anggota Drum Band Marhaen
Sebagai seorang remaja, saya mengikuti kegiatan ekstra kurikuler yang lagi trend saat itu, yaitu bermain Drum Band. Waktu itu main Drum Band merupakan suatu kegiatan yang sangat populer karena sering diperlombakan antar sekolah. Saya masuk Drum Band GSNI (Gerakan Siswa Nasional Indonesia), sebuah organisasi di bawah naungan Partai Nasional Indonesia (PNI) yang didirikan oleh mantan Presiden RI Pertama, Soekarno, yang merupakan cikal bakal PDI Perjuangan sekarang, yang dibawah pimpinan Megawati Soekarnoputri itu.
Untuk memperlancar main Drum Band, saya sering berlatih di rumah dengan menggunakan stick di atas meja, bukan drum. Suatu saat saya latihan di ruang depan rumah memukul stick di meja, sambil memanggang ikan di dapur. Gak taunya api sudah menjilat atap dapur. Untunglah api dapat dipadamkan, kalau tidak, rumah kami yang sebagian besar terbuat dari kayu itu, pasti sudah ludes dimakan api.
Tidak Naik Kelas Karena Korban Politik-G-30-S PKI
Pada saat terjadinya pemberontakan G30S/PKI, ternyata PNI dituduh ikut terlibat khususnya PNI ASU. Ternyata Drum Band GSNI tempat kami bergabung dituduh sebagai PNI ASU. Akibatnya semua siswa yang aktif dalam Drum Band GSNI tersebut dinyatakan tidak naik kelas, kecuali anak-anak pejabat, mungkin gurunya takut kepada orang-tua mereka. Saya tidak naik kelas karena ada tiga pelajaran yang diberi nilai 3 (tiga), yaitu Bahasa Indonesia, Civic (sekarang Pancasila) dan Agama.
Saya dan teman-teman tidak naik kelas bukan karena bodoh atau malas belajar, tetapi karena korban politik. Padahal kami yang masih remaja dan polos itu tdak tahu apa-apa soal politik. Yang ada hanya enjoy saja, karena Drum Band GSNI selalu jadi juara hampir di setiap perlombaan. Pokoknya, wow keren, kata anak sekarang.
Singkat cerita, para orang-tua murid yang anaknya tidak naik kelas melakukan protes ke sekolah. Terjadi keributan. Akhirnya diputuskan, bagi yang tidak naik kelas karena korban politik itu, bisa naik kelas asalkan pindah sekolah ke kota lain, nilai rapotnya dirubah dan rapor-nya diganti dengan yang baru. Nilai ke-tiga mata pelajaranku yang semula 3 itu diubah menjadi 5, sehingga bisa naik kelas. Saya naik ke kelas dua Pasti Alam (PASPAL).
Pamit pada Guru Agama
Akhirnya saya diputuskan keluarga untuk pindah sekolah di Palembang. Sebelum berangkat ke Palembang, ada peristiwa kecil yang masih tetap saya ingat sampai sekarang. Sebagai seorang murid yang santun dan menghormati gurunya, saya hendak pamitan kepada guru-guru di SMA Negeri Baturaja ini, yang bagaimanapun pernah membimbing dan mendidik saya. Saya pergi ke rumah Guru Agama pada hari Minggu pagi, sekitar jam tujuh.
Ternyata pak Guru Agama itu belum bangun. Begitu dia buka pintu, saya langsung marah dan berkata: “Kamu guru agama yang memberi saya angka 3, baru bangun sekarang, itupun karena saya bangunkan. Kapan kamu shalat subuh?” Sang guru mungkin ketakutan melihat kemarahanku, tidak memberikan reaksi apapun. Dia hanya berkata: “Maaf dik, saya dipaksa untuk memberi nilai 3 kepadanmu, padahal nilai kamu sebenarnya bagus”. Akhirnya kemarahanku surut, dan dengan berlinang air mata, saya cium tangannya dan pamit, serta mohon doa’ restu padanya agar saya berhasil menuntut ilmu di Palembang.
SMAN IV Palembang
Saya akhirnya melanjutkan sekolah di SMAN Palembang. Dalam waktu singkat saya banyak teman baru. Mereka sangat baik padaku. Mengapa mereka baik semua padaku, yang orang kampung ini? Begini ceritanya. Setelah meletus pemberontakan G30S PKI, saat itu hampir setiap hari ada demo di seluruh kota besar di Indonesia, termasuk Palembang. sehingga sebagian besar pelajar dan mahasiswa tidak belajar. Demo dan demo setiap hari. Sementara kami di kota kecil seperti Baturaja, tetap sekolah seperti biasa, tidak pernah demo. Nah disinilah rahasianya, ilmu kami lebih banyak daripada mereka.
Setelah saya pindah ke Palembang, saya menjadi orang yang “paling pintar” di kelas, karena saat ulangan, saya dapat menyelesaikan soal-soal dengan baik, sementara teman-teman lain tidak bisa, sehingga mereka “berlomba-lomnba” mendekati dan ingin menjadi sahabat saya.
Saya merasa senang banyak teman anak-anak orang kaya. Enak sih, karena mereka sering mentraktir, termasuk makan empek-empek dan kapal selam, makanan khas Palembang yang sangat saya sukai. Mungkin ini sebagai balas jasa karena saya telah membantu mereka belajar. Saya jadi lebih cepat “populer” dan banyak teman, dan keadaan keuangan yang sangat terbatas menjadi terbantu dari teman-teman tersebut.
Walaupun kejadian ini sedikit menyakitkan dalam proses pendidikan saya, namun ada manfaatnya juga, saya bisa pindah dan beradaptasi hidup di kota besar lebih cepat dua tahun dari yang seharusnya apabila peristiwa itu tidak terjadi.
Demikian sedikit pengalaman pribadi yang mudah-mudahan ada manfaatnya bagi pembaca, paling tidak bagi anak-anak saya, yang suatu saat pasti membaca artikel ini di Kompasiana.
Depok, 30 September 2012
http://sejarah.kompasiana.com/2012/09/30/pengalaman-menyakitkan-akibat-peristiwa-g-30-s-pki-1965-497463.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com