Senin, 03 Maret 2014

Ketika Cinta Tak Sejalan dengan Kenyataan Hidup ( CINTA, akan indah jika cinta itu terbalut dalam bingkai pernikahan )

Oleh: Istiqomah
Koord. Jarmusda FSLDK Jadebek 2011-2013
C-I-N-T-A = CINTA, akan indah jika cinta itu terbalut dalam bingkai pernikahan. NIKAH?? Satu kata yang mampu membuat kita berkata "Waaww". Yang pernah terbesit dalam pikiran 'nikah itu pasti enak'. "Kalau ngelihat orang nikah enak ya??" Sepertinya beban hidup akan terasa ringan karena ada yang kasih solusi, ada yang ngebantuin, ada yang memotivasi.
Itu baru dalam hal meringanankan beban hidup, belum lagi dengan hal berbagi kesenangan, kemesraan, perhatiaan, dan lainnya. Siapa coba yang nggak mau menyempurnakan setengah dien-nya??
Tapi esensi yang perlu kita perhatikan pertama kali adalah niat dan proses ta'aruf menuju pernikahan itu, karena niat dan proses ta'aruf itu akan menjadi awal sepasang kekasih memulai biduk rumah tangganya ke depan. Tentunya masing-masing individu memiliki kriteria untuk menentukan pendamping hidupnya. Agama Islam pun telah mengajarkan dalam memilih suami atau istri.
Kalau laki-laki (ikhwan) memilih istri dengan kriteria:
Rasulullah saw bersabda, "Perempuan dinikahi karena empat hal: karena kekayaannya, kecantikannya, keturunannya, dan karena agamanya. Pilihlah yang memiliki agama yang kuat maka kamu akan beruntung." (HR. Ahmad)
Sedangkan menurut Ensiklopedia Wanita Muslimah (Haya bintu Mubaroh Al-Barik), perempuan (akhwat) memilih calon suami sebagai pasangannya tentu harus memerhatikan kriteria:
  1. Memilih calon suami yang mempunyai agama (Islam), memiliki ilmu dan akhlak yang baik.
    "...dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke Surga..." (QS. Al-Baqarah: 221)
    Rasulullah Saw bersabda, "Jika datang melamar kepadamu orang yang engkau ridho agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dengannya, jika kamu tidak menerimanya, niscaya akan terjadi fitnah...." (HR. Tirmidzi, Hasan)
  2. Memilih calon suami  bukan dari golongan orang fasiq, yaitu orang yang rusak agama dan akhlaknya.
    "Siapa saja menikahkan wanita yang di bawah kekuasaannya dengan laki-laki fasiq, berarti memutuskan tali keluarga." (HR. Ibnu Hibban)
  3. Laki-laki yang bergaul dengan orang-orang sholeh.
  4. Laki-laki yang rajin bekerja dan berusaha, optimis, serta tidak suka mengobral janji dan berandai-andai.
  5. Laki-laki yang menghormati orang tuanya dan orang tua kita.
  6. Laki-laki yang sehat jasmani dan rohani.
Itulah kriteria-kriteria dalam menentukan pasangan hidup menurut Islam, baik dalam memilih calon istri maupun calon suami. Keduanya menjelaskan faktor agama-lah yang menjadi kriteria utama. Tidak menutup kemungkinan jika ada kriteria-kriteria lainnya. Yang menjadi catatan adalah kriteria tambahan itu bukan malah mempersulit pernikahan dan mengubah niat baik untuk beribadah malah menjadi sekedar niatan duniawi.
"Saya mau punya istri yang bermata biru, langsing, nggak mau orang betawi, dan bla bla bla...."
"Saya mau punya suami yang kaya raya, nggak mau orang sunda, yang tinggi, six pack, ..."
Apakah itu tidak berlebihan?? Mungkin saja tidak.. Tapi apakah itu justru akan mempersulit dalam memperoleh pasangan hidup??
Itu baru "niat". Kemudian proses ta'aruf.
Di sini kita harus mengetahui dan memahami proses ta'aruf yang Islami atau sesuai dengan tuntunan Islam. Jangan sampai justru kita menodai proses ta'aruf itu sendiri. Belum sah nikah sudah berperilaku seperti layaknya suami dan istri, apa bedanya dengan pacaran???
"Kamu lagi apa Manis?"
"Ih, sayang tumben kamu perhatian.. iya ney lagi numpuk kerjaan."
"Iya dong,kan latihan buat merhatiin kamu. Jangan lupa makan ya, nanti sakit loh."
"Iya sayang, terima kasih ya udah ngingetin. Kamu juga jangan lupa makan dan jaga kesehatan ya."
Simpel sih sebenernya cuma ngungkapin lewat telpon, SMS atau chat doang kok, kenapa harus dibesar-besarkan? Toh hati ini masih bisa terjaga.
Yakiiinn…hatinya masih bisa dijagaaa…??
Oke, mungkin kamu masih bisa jaga hati walau dalam realitanya perjuangan kamu buat ngejaga hati berbanding terbalik dengan gaya komunikasi kamu dalam menjalankan proses ta'aruf. Tapi pernah terpikirkan atau tidak, jika dipenghujung proses ta'aruf itu ternyata Allah berkehendak lain. Gagal proses ta'aruf, gagal menikah. Udah manggilnya sayang sayangan, cinta-cintaan, bermesraan (memberikan perhatian berlebihan).. tapi gagal nikah. Pernah terpikirkan gimana rasanya??  Ya kalau masih punya rasa malu, pasti malu.. Apa bedanya sama pacaran??? Itu baru satu rasa, belum lagi hati hancur berkeping-keping, pikiran galau, bahkan ada yang trauma buat ngejalanin ta'aruf lagi.
Atau Allah mewujudkan rencana yang kalian harapkan, proses ta'aruf berhasil dan berlanjut ke pernikahan. Tapi di detik-detik pernikahan...
"Aku mau jujur sama kamu, hal ini selalu terbayang2 dibenakku, selalu membuat hatiku dag dig dug, tak tentram karuan, aku merasa bersalah denganmu."
"Ada apa sayang, deg deg an ya besok mau akad?"
"Iya itu salah satunya, tp ada yang lain."
"Apa sayang?"
"Aku mau jujur ke kamu, kalau dulu aku pernah melakukan hubungan layaknya suami istri dengan wanita lain, aku sudah mengajak wanita itu untuk menikah tapi ia tak mau, dan entah sepertinya selama ini aku telah salah denganmu, aku seperti membohongi dirimu"
"....." (galau, risau, kacau yang serba au au au plus ditambah nangis bahkan mulai muncul rasa kecewa,,dll)
Pria yang di damba selama ini, pria yang menurutnya ideal ternyata tidak seperti apa yang dibayangkan. Lalu kalau seperti ini siapa yang salah? Mau menyalahkan Allah?? Kalau begini apa yang harus dilakukan??
Luruskan niat dan pahamilah prosesnya dalam menuju pernikahan suci.
Ketika cinta tak sejalan dengan kenyataan hidup, maka luruskanlah niatmu semata beribadah kepada Allah.
Ketika cinta tak sejalan dengan kenyataan hidup, pahamilah prosesnya dan jalankan prosesnya sesuai koridor-koridor yang telah diajarkan dalam Islam.
Ketika cinta tak sejalan dengan kenyataan hidup, apapun perkaranya,apapun masalahnya serahkan semua kepada Allah sehingga kita ikhlas menerima cobaan itu, jadikan pelajaran, dan motivasi untuk terus memperbaiki diri.
Ketika cinta tak sejalan dengan kenyataan hidup, tak perlu menuntut yang sempurna dan mempersulit keadaan yang sebenarnya sederhana. Sebab padamu juga kelemahan itu selalu ada. Yang benar adalah sempurnakalah niat awal kita, hingga Allah ridho dan memberikan keberkahan.
"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)..." (QS. An-Nur: 26)

http://www.salimunj.com/lainnya/motivasi-islami/209-ketika-cinta-tak-sejalan-dengan-kenyataan-hidup.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com