Selasa, 11 Februari 2014

(Hari Pers Nasional) Ada RRI Kambing di Pameran Monumen Pers Nasional [ Banyak yang mungkin belum tahu, bahkan untuk warga Solo sendiri, bahwa Solo memiliki sejarah panjang dalam dunia pers nasional ]

Banyak yang mungkin belum tahu, bahkan untuk warga Solo sendiri, bahwa Solo memiliki sejarah panjang dalam dunia pers nasional. Hari Pers Nasional (HPN) diperingati setiap tanggal 9 Februari. Dasar penetapan tanggal 9 Februari sebagai HPN adalah pembentukan organisasi profesi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tanggal 9 Februari 1946 di Sasana Suka, Solo. Sasana Suka merupakan gedung yang didirikan oleh KGPAA Mangkunegoro VII. Di dalam gedung itu pula, atas prakarsa KGPAA Mangkunegoro VII, lahirlah Solosche Radio Vereeniging (SRV), stasiun radio pribumi pertama, stasiun radio yang melakukan perlawanan budaya terhadap pemerintahan kolonial, dan stasiun radio yang menjadi cikal bakal Radio Republik Indonesia (RRI). Pada tanggal 9 Februari 1978, Presiden kedua RI, Suharto, meresmikan Sasana Suka menjadi Monumen Pers Nasional. Sebelum pembentukan PWI sebenarnya telah muncul organisasi wartawan pada masa kolonial, contohnya Inlandsche Journalisten Bond (IJB) yang merupakan organisasi wartawan pelopor radikal yang juga didirikan di Solo pada tahun 1914.  Dari zaman kolonial hingga sekarang, pers Indonesia merupakan pers yang berjuang bersama-sama rakyat.
1328713460776324953
Monumen Pers Nasional. Pada zaman MN VII bernama Sasana Suka.
Untuk memperingat HPN tahun ini, Direktorat Jenderal Informasi Komunikasi Publik - Kementerian Komunikasi dan Informatika menggelar pameran dengan tema “Pers Perjuangan: Wartawan Sebagai Pilar Keempat dan Upaya Penegakan Demokrasi di Indonesia” bertempat di Monumen Pers Nasional, Solo.
13287258531487391481
Pameran yang dimulai pada hari Senin, 6 Februaru 2012 dan berakhir hari Jumat, 10 Februari 2012, menampilkan berbagai koleksi expose media nasional dari zaman kolonial hingga zaman reformasi. Beberapa ilustrasi majalah kuno pun dipamerkan di sini. Salah satunya adalah ilustrasi majalah “Panorama” yang terbit tahun 1917.
13287145721707911404
Selain itu ada pula ilustrai Fikiran Ra’jat yang terbit 28 Oktober 1932. Pada ilustrasi tersebut disebutkan bahwa pimpinan redaksinya adalah Ir. Soekarno. Pada majalah itu terpampang tulisan Soekarno yang berbunyi “Kaoem Marhaen! Inilah Madjallah Kamoe!” berikut tanda tangan beliau.
1328715043628424948
Fikiran Ra
Ada pula majalah terbitan pemerintahan Hindia Belanda terbitan tahun 1938 di Semarang berjudul “De Locomotief”.
1328715636499080623
De Locomotief
Perempuan pun ikut berjuang lewat organisasi perempuan “Wanito Oetomo”. Surat kabar “Bale Warti Wanito Utomo” ini terbit di Solo tahun 1941.
13287163642123252740
Bale Warti Wanito Utomo
Soeara Asia yang terbit tanggal 22 Agustus tahun 1945 mengabarkan maklumat tentang ditetapkannya Undang-Undang Negara Republik Indonesia dan Teks Lagu Indonesia Raya. Wah, rakyat Indonesia saat itu pasti bersuka cita karena telah memiliki negara baru dengan undang-undang dan lagu kebangsaan sendiri.
1328716877451678159
Soeara Asia 22 Agustus 1945
Ada pula artikel yang diambil dari Buku 50 Tahun Hari Pers Nasional terbitan 9 Februari 1996. Artikel itu memuat foto suasana konggres yang melahirkan PWI di Sasana Suka tahun 1946.
13287189932107069730
para wartawan di konggres PWI I di Solo 9 Februarti 1946
Artikel itu juga menceritakan suasana konggres PWI I tersebut. Alm. Surono Wirohardjono yang pada saat diwawancara berusia 80 tahun berkata, “sidang-sidang berjalan ramai, seru, tapi demokratis. Sekarang kan zaman merdeka, tak perlu berdebat. Justru konggres diharapkan bisa merukunkan kalangan wartawan. Soalnya di kalangan pers Indonesia masa itu suasananya saling mengkritik. Perand di tulisan, tapi secara person hubungan tetap baik. Kebanyakan kami tidak saling kenal sebelumnya. Namun begitu bertemu di konggres, kami langsung akrab, merasa seperti saudara dan bersatu-padu.” Menurut alm. Surono, peserta yang hadir saat itu “banyak yang berpenampilan layaknya pejuang. Memang, selain sebagai wartawan atau penulis, banyak di antara kami yang terjun langsung sebagai pejuang di front. Ada yang brewokan, rambutnya grondong, bercelana pendek. Banyak yang membawa senjata. Termasuk saya sendiri, bawa dua pucuk pistol. Tapi ada pula yang berpenampilan necis, misalnya Sudaryo Cokrosisworo, seorang wartawan freelance yang aktif menulis di berbagai surat kabar saat itu dengan inisial “S.Tj.S”. Sementara Manai Sophiaan harus berperahu selama 30 hari dari Makassar ke Jawa untuk menghadiri sidang di Sasana Suka. Menurutnya, “kami waktu itu dipersatukan oleh perjuangan republik. Saya rasa tidak ada friksi atau perpecahan apapun di kalangan pers waktu itu”. Rosihan Anwar, mantan redaktur I harian Merdeka, menuturkan bahwa “Sidang berlangsung relatif kurang tertib karena para peserta dari beragam latar belakang itu tampak keluar masuk ruang sidang. Saya sendiri tak mengikuti sidang terus. Keluar masuk begitu saja”. Menurut artikel itu, Rosihan Anwar tak terlalu berminat untuk masuk organisasi PWI, atau menjadi pengurusnya. Saat itu usianya baru 23 tahun. Wartawan-wartawan yang datang pada konggres umunya berusia 20-an tahun. Suasana persidangan berlangsung demokratis dan nampak kesetaraan. “Setiap kali bertmu sesama rekan, atau berbicara menyampaikan usulan di rapart, kami selalu mengepalkan tinju dan dengan semangat berseru ‘Merdeka, Bung!’”, kenang Rosihan Anwar.
Dari berbagai koleksi majalah dan surat kabar yang ada, yang menurut saya paling menarik perhatian adalah koleksi pemancar “Radio Kambing”. Walaupun sudah tidak dapat dipergunakan lagi, pemancar milik SRV (RRI Solo) ini merupakan saksi perjuangan pers dalam mempertahankan kemerdekaan RI. Pada suatu ilustrasi artikel surat kabar yang turut dipamerkan yang ditulis oleh Naniek Kusumo, diceritakan bahwa Belanda mulai menyerang Indonesia lagi dan Studio RRI Solo dibom oleh Belanda. Belanda membom tempat-tempat strategis seperti studio RRI karena takut berkobarnya semangat anti penjajahan di kalangan rakyat. Namun, pemancar ini berhasil diungsikan sembunyi-sembunyi sampai di desa Balong, lereng Gunung Lawu 7 Januari 1949. Sebelumnya, pemancar ini sempat dipendam dalam tanah di desa Puntuk Rejo, Karanganyar. Atas perintah Gubernur Militer II Gatot Subroto, pemancar itu akhirnya dibawa ke rumah Kromo Sentono. Stasiun darurat ini bernama “Stasiun Penyiaran Berita Balong”.
1328725615686623004
Pemancar RRI Kambing
Karena alasan keamanan maka pemancar tersebut akhirnya dipindahkan ke rumah Iro Sentono dan ditempatkan di kandang kambingnya. Siaran-siaran perjuangan pun mengudara dengan latar belakang embekan kambing. Oleh karenanya, penduduk menyebutnya “RRI Kambing”, ada pula yang menyebutnya “Kyai Balong”. Hal ini menjadi lelucon tersendiri bagi rakyat di tengah ancaman serangan Belanda waktu itu.
Saat Agresi Militer II Belanda, dari 16 cabang, hanya ada dua RRI yang bertahan dan mengudara, yakni RRI Bukit Tinggi dan RRI Kambing. Siaran RRI Kambing yang sampai ke luar negeri dengan antena yang dipasang pada pohon kelapa setinggi 18 meter ternyata mampu menyampaikan pesan kepada dunia bahwa RI masih berdiri tegak! Oleh karenanya, PBB mengumumkan bahwa RI masih tegak berdiri (sebelumnya Belanda mengumumkan kepada dunia bahwa RI telah runtuh).
RRI Kambing mengudara selama 9 bulan dengan menggunakan empat bahasa yaitu Indonesia, Inggris, Perancis, dan Belanda. Berkat perjuangan RRI Kambing, perjuangan Indonesia saat itu dalam melawan agresi Belanda bisa dikenal dan dipantau di berbagai kota dunia seperti London, India, Beijing, dan Berlin.
13287265231702414801
Pemancar RRI kambing yang bersejarah
Pemancar milik KGPAA Mangkunegoro VII ini pernah dipergunakan pula oleh sang adipati ketika menghadiri pernikahan Putri Yuliana dan Pangeran Bernhard di Belanda. Tanggal 7 Januari 1937 menjadi tanggal bersejarah tatkala Gusti Nurul (yang saat ini masih hidup dan tinggal di Bandung) menarikan tari serimpi dengan diiringi musik gamelan yang dipancarkan dari kompleks Mangkunegaran, Solo. KGPAA Mangkunegoro VII pun menjadi sorotan jurnalis dunia saat itu karena waktu itu dunia barat menganggap remeh kebudayaan dan kemampuan teknologi kaum pribumi Hindia Belanda. Ternyata pemikiran mereka salah! Mereka terpana dengan keindahan tari serimpi yang dibawakan Gusti Nurul. MN VII telah menunjukkan kepada dunia bahwa pribumi Hindia Belanda pun mampu memanfaatkan teknologi sendiri dan budayanya masih bertahan baik di tengah politik pemerintahan kolonial Belanda. Pada masa-masa selanjutnya pemancar itu digunakan SRV sebagai media perlawanan budaya dengan menyiarkan program-program kebudayaan daerah sementara propaganda budaya Belanda terus menggempur masyarakat saat itu.
Masih banyak koleksi majalah maupun surat kabar lain yang terbit dari zaman kolonial hingga pemberitaan reformasi sampai penyanderaan reporter Meutya Hafid. Sayangnya koleksi majalah kuno yang ditempatkan dalam kotak kaca tidak disertai dengan penjelasan tertulis sehingga pengunjung kurang mendapat informasi terkait majalah kuno itu.
13287204001176224212
majalah kuno bergambar keraton Surakarta. sayangnya tidak ada keterangan yang menginformasikan majalah apa ini dan tahun berapa diterbitkan.
13287267492124494082
13287269231416089775
sayangnya tidak ada keterangan tentang majalah kuno ini
Senang sekali rasanya karena ternyata banyak anak sekolah yang mengunjungi pameran ini. Bukan karena ada tugas dari guru melainkan karena keinginan anak-anak itu untuk mempelajari sejarah pers nasional.
13287270841151431272
Anak-anak sekolah melihat koleksi pameran
1328725065673185751
Anak-anak sekolah mendominasi kunjungan pameran
Semoga pers Indonesia tetap berjuang dan berkarya demi rakyat, bangsa dan negara. Selamat Hari Pers Nasional. Merdeka, Bung!
Referensi tambahan :
http://sejarahkita.blogspot.com/2010/02/persatuan-wartawan-indonesia-dan-hari.html

http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2012/02/08/hari-pers-nasional-ada-rri-kambing-di-pameran-monumen-pers-nasional-433972.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com