Minggu, 02 Februari 2014

Cerpen Cinta Islami: Nyanyian Cinta

Kembali berkisah….
Tentang sebuah cinta…
Udara panas di siang hari menambah buliran-buliran keringat di keningnya. Jilbab biru yang dikenakannya terus berkibar tertiup angin sedari tadi. Wajahnya terlihat lelah. Namun kedua bola matanya yang bening masih memancarkan ketenangan dan kedamaian. Laelatul namanya. Nama yang memiliki arti malam seribu bulan.
http://img.okeinfo.net/dynamic/content/2008/01/09/19/73975/l25Oxds3Ab.jpg?w=400Laela baru saja pulang dari rumah Hasan, calon suaminya. Namun status itu kini tak lagi disandangnya, semenjak keluar dari rumah lelaki itu. Sebulan yang lalu, Hasan yang baik hati dan sopan budi pekertinya, datang ke rumah Laela untuk melamar dirinya.
Hati siapa yang tak bahagia dilamar lelaki baik hati yang rupawan dan berkecukupan itu? Namun hati siapa yang tak sedih saat mendengar permintaan orang tua si lelaki, untuk meninggalkan ibunya karena tak bisa melihat betapa indahnya dunia ini?
Orang tua si lelaki tak mau menanggung aib, memiliki besan yang buta. Dengan berat hati, Laela memilih keluar dari rumah lelaki itu. Yang berarti memutuskan pertunangannya dengan lelaki itu. Karena Laela tak mau menjauhi surga di telapak kaki ibunya, walau harus kehilangan lelaki yang ia cintai.
Laela berjalan di tengah panas yang terus menyengat kulitnya, walaupun busana muslim menutupi tubuhnya. Serta suara bising dari mobil-mobil yang berseliweran di jalan. Tangannya mengusap keringat yang bercucuran di keningnya. Hatinya tak merasa menyesal dengan memilih memutuskan pertunangannya dengan lelaki itu. Namun hatinya sedih mengingat permintaan calon mertuanya.
Bibirnya gemetar, lamat-lamat memanggil ibunya. Dan sekelebat bayangan masa lalu menghampirinya. Seperti sebuah reklame film yang dipertontonkan padanya. Reklame film itu menampilkan kehidupan masa kecilnya yang bahagia. Dimana ada ayah dan ibunya, tentu saja keadaan ibunya yang masih bisa melihat. Sampai peristiwa menyedihkan itu terjadi. Peristiwa yang merenggut nyawa ayahnya dan penglihatan ibunya. Sementara dirinya diberi hidayah kesehatan sampai sekarang ini.
Diam-diam matanya terasa panas. Dan air matanya mengintip di balik kelopak matanya yang indah. Hingga membentuk sungai kecil yang mengalir di pipinya.
“Astagfirulloh. Ibu, sungguh berdosa kalau aku sampai menuruti keinginanku. Bagaimana durhakanya aku kalau aku sampai meninggalkan Ibu.” Terdengar isak tangis Laela yang terdengar memilukan.
Detik berikutnya kedua kakinya berlari menuju rumahnya. Ia ingin segera bertemu dengan ibunya. Memeluknya erat. Dan berkata betapa besarnya ia menyayangi ibunya. Dan tak ingin sedetik pun berpisah dengan ibunya.
Begitu melihat rumahnya, Laela langsung menuju ke tempat ibunya berada. Sebuah kamar sempit berukuran 2×2 meter, menampakkan seorang wanita setengah baya yang sedang duduk di atas sajadah. Mukena putih pemberian Almarhumah suaminya melekat di tubuhnya. Semerbak aroma wangi, sewangi kesturi menyambut kedatangan Laela.
Laela mendekati ibunya dan memeluk erat. Tanpa dikira, air hangat meluncur begitu saja di pipinya. Dengan gemetar, bibirnya berucap,
“Ibu, aku sangat menyayangi Ibu. Dan tak ingin sedetik pun berpisah dari ibu.” Lirih Laela sambil tersedu.
Tangan hangat ibunya membelai kepala Laela dan mencium kening putri semata wayangnya.
“Ibu juga menyayangimu, Nak.”
“Maafkan aku Ibu, yang belum bisa membahagiakan Ibu. Dan maafkan aku juga yang sempat memiliki pikiran untuk meninggalkan Ibu. Kukira dengan keadaan ibu yang sekarang akan menghalangi kebahagiaanku. Sungguh betapa berdosanya aku jika melakukan hal itu Ibu.”
“Ketidakmampuan Ibu melihat dunia ini menjadi rasa syukur bagi Ibu, untuk tidak melakukan zina mata. Walau kegelapan yang Ibu lihat, ada cahaya Allah yang disorotkan kepada Ibu. Lewat hati, Ibu bisa melihat, Nak.”
Laela semakin merasa bersalah pada ibunya setelah mendengar ucapan ibunya.
“Ibu tahu Nak, kalau orang tua Hasan tak mau Ibu mendampingimu setelah kamu menikah nanti. Lalu apa daya seorang Ibu yang tak bisa melihat secara fisik ini untuk melarangmu meninggalkan Ibu. Namun Ibu tak mau meninggalkan cinta dari Tuhan Ibu, yaitu Allah SWT.”
Isakkan Laela semakin keras. Hatinya semakin bersalah.
“Aku akan tetap disini, bersama Ibu. Aku tak peduli pada orang yang hanya mencintaiku saja. Tanpa mencintai Allah dan Ibu.”
“Ibu yakin suatu saat nanti, kamu akan mendapatkan suami yang baik dan soleh. Yang mau menerimamu apa adanya. Bukankah jodoh, rezeki, dan kematian sudah di atur yang di Atas. Dan Ibu selalu mendoakanmu menjadi anak soleha dan istri yang soleha. Bagi semua Ibu, kebahagiaan anak-anaknya adalah harta yang paling berharga.”
Dua tahun kemudian terdengar suara merdu perempuan separuh baya yang tengah melantunkan ayat suci Al-Qur’an di tengah-tengah orang banyak. Semua orang menyimak dengan khusyu, termasuk Laela yang hari itu terlihat seperti bidadari dalam balutan kebaya putih.
Hari ini, Laela tengah melangsungkan pernikahannya dengan seorang pemuda yang dikenalnya enam bulan lalu, Yusuf namanya. Pemuda itu mau menerima keadaan Laela yang yatim dan memiliki ibu yang tak bisa melihat. Karena ketulusan hati Yusuf, Laela mau menerima lamaran Yusuf untuk menjadi istrinya.
Dan di tengah-tengah acara yang membahagiakan itu, Laela menyaksikan sang ibu yang dengan khusyuknya membaca surat An-nisa. Lantunan ayat suci begitu deras mengalun di bibir keriput itu. Membentuk sebuah syair indah. Syair cinta untuk Allah.
Dan baru disadari Laela, bahwa inilah yang disebut dengan nyanyian cinta. Nyanyian yang ditujukan kepada sang pencipta, Allah SWT. Nyanyian cinta yang mampu menggetarkan hati setiap pendengarnya.
~Selesai~
Cerpen Karangan: Mia
Facebook: www.facebook.com/der.laven3

http://cerpenmu.com/cerpen-islami-religi/nyanyian-cinta.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com