Minggu, 20 Oktober 2013

Artikel Sosial dan Budaya: Ketika Terpaksa Menyerobot Antrian

by: http://sosbud.kompasiana.com/2013/10/20/ketika-terpaksa-menyerobot-antrian-600653.html
Masalah perilaku tak mau antri umumnya masyarakat kita bisa diatasi oleh kantor-kantor atau instansi-instansi pelayanan umum, seperti kantor pemerintah, bank, rumah sakit, dll. Mereka menyediakan mesin khusus untuk mengambil nomor antrian atau sekedar dengan cara manual. Petugas ataupun paramedis melayani sesuai nomor urut antrian.
13822422321082788638
Informasi Nomor Antrian di RS
Terhadap pasien-pasien yang perlu penanganan segera, rumah sakit menyediakan unit gawat darurat dengan peralatan kesehatan yang lebih lengkap. Jadi akan menyulitkan pasien sendiri, jika dalam keadaan kritis/darurat malah antri kepada dokter praktek. Jika terpaksanya pasien sudah tak tahan terhadap sakitnya, maka pihak rumah sakit akan mengarahkan ke unit gawat darurat, seperti yang pernah saya alami.
Antri berpotensi menjadi masalah jika tak ada pengaturannya. Tak selalu bisa mengandalkan niat baik dan etika, apalagi jika pengantri merasa punya kekuasaan. Kata Mama Syasya, ibu hamil, ibu yang membawa bayi dan balita, orangtua serta penyandang cacat boleh menyerobot, maksudnya tak perlu ikut antri, karena memang termasuk yang diperlakukan spesial dan diprioritaskan. Itu di Korea. Harusnya bisa ditiru dan disosialisasikan di Indonesia.
Ketika seseorang yang sedang antri, mempersilahkan orang lain masuk antrian di depannya, terlihat ia baik hati, namun sebetulnya merugikan pengantri di belakangnya. Seharusnya ia keluar dari antrian dan bertukar ke antrian paling belakang, barulah layak disebut dermawan yang baik hati.
Kesadaran itu sudah lama saya pahami. Di tahun 80-an, ketika bersama-sama dengan teman-teman sekolah antri membeli formulir pendaftaran masuk perguruan tinggi negeri (Perintis) di suatu PTN di Yogyakarta, saya sengaja menolak permintaan seseorang yang mau nitip. Kami antri mulai pukul 20.00 wib, semalaman antri yang sekali-kali ditimpali hujan gerimis. Pukul 07.00 wib pagi harinya loket penjualan baru dibuka. Yang semula dekat dengan loket, pagi itu kami telah tergeser hingga lumayan jauh, akibat banyak yang menyerobot antrian semalaman.
Pelan-pelan maju selangkah demi selangkah. Sekitar jam 09.30 kami baru bisa mendekati loket penjualan formulir, ekor antrian masih panjang, ratusan meter. Di pinggir antrian dekat loket banyak orang berdiri berusaha mencari kesempatan masuk antrian atau nitip.
Mas, bisa titip beliin formulir IPS untuk adik perempuan saya? Ia sakit, nggak bisa datang ke sini“, begitu permintaan salah satu yang berdiri itu, yang sebelumnya menanyakan dan tahu kalau saya cuma beli formulir pendaftaran untuk bidang studi IPA saja.
Nggak! sampeyan bisa antri di belakang!“, jawab saya ketus. Dalam hati saya ngedumel, enak saja nitip, nggak tahu capainya antri semalaman. Lagian, jika saya terima permintaannya, akan lebih lama membelinya, sehingga merugikan antrian di belakang saya. Selesai mendapatkan formulir rasanya lega sekali, saya membeli teh botol, melepas sepatu yang basah dan duduk slonjor melepaskan penat sambil melihat antrian yang mengular. Alhamdulillah saya diterima di PTN, sehingga antrinya tak sia-sia.
Hampir tiap saat saya menyaksikan pengendara motor atau mobil yang tak sabar. Menyerobot antrian kendaraan dengan seenaknya. Mereka tahu peraturan lalu-lintas, bahkan aparat yang nota bene harusnya menjadi contoh penegakan hukum malah suka menyerobot antrian juga.
1382240683509612010
Ramai-ramai Masuk Lajur Busway
13822435171200264553
Kendaraan Aparat yang Menyerobot Antrian
Saya prihatin ketika kendaraan pribadi masuk lajur Busway, sebaliknya bus Transjakarta pun tak mau kalah masuk lajur umum, saling serobot mencari jalan yang kosong. Kadang saya mengalah ketika diserobot, namun kadang kendaraan sengaja saya adu, jika hati sedang ‘panas’.
1382240992787781550
Transjakarta keluar Lajur
Sering terjadinya penyerobotan pada jenis antrian seperti di atas boleh jadi karena risikonya relatif kecil. Pihak yang diserobot masih bisa menerima meski merasa terpaksa dan paling cuma bisa mengumpat dalam hati. Bagaimana jika kondisinya mendesak atau urgen? Hal yang biasa dialami oleh para jamaah haji reguler adalah antri untuk keperluan ke kamar kecil/WC/toilet. Terhadap kebutuhan buang hajat, tak ada urusan lain yang lebih mendesak yang bisa mengalahkannya.
Saya mencatat sejak keberangkatan, selama penerbangan, selama di tanah suci, hingga kepulangan dari beribadah haji, untuk urusan ke toilet mau tidak mau para jemaah yang ribuan itu harus antri. Ada saatnya menunggu dengan antrian pendek dan ada saatnya dengan antrian panjang. Meski antrian sedikit, jika sudah benar-benar tak kuat menahan desakan isi perut, bisa membuat seseorang menjadi tak sabar dan nekat.
Setelah mabit/menginap semalaman di udara terbuka di Muzdalifah dan dalam perjalanan menuju Mina yang macet parah, saya masuk angin plus gelisah menahan buang hajat. Sampai di Mina sekitar pukul 12.00, tak menghiraukan rombongan, secepatnya saya mencari tenda maktab untuk meletakkan tas bawaan, selanjutnya bergegas ke toilet. Toilet pria yang berderet berjumlah 10 itu masing-masing di depan pintunya sudah antri 2 hingga 3 orang. Saya mencari antrian yang paling sedikit. Meski sudah antri sampai di depan pintu, tetap saja tak kuat menahannya. Ketika pintu toilet sebelah terbuka segera saya menyerobot masuk sambil tetap permisi kepada pemilik antrian, berharap kemaklumannya.
1382241282385238664
Toilet di Muzdalifah
Selama di dalam toilet saya tak tenang, merasa bersalah sudah menyerobot hak orang lain. Saya berusaha secepatnya menyelesaikan urusan dan keluar, namun orang yang menunggu sudah tak ada di tempat. Saya antri lagi untuk menyelesaikan yang belum tuntas, karena keburu ada yang mendahului masuk ke toilet yang barusan saya pakai.
1382241594621028470
Toilet di Arafah
Saya berusaha mengikuti nasihat pembimbing manasik haji, jika hendak ke toilet jangan menunggu sampai keadaan mendesak, baik untuk buang air kecil maupun besar. Nasihat yang sangat bermanfaat. Beberapa kali pula saya terpaksa mengalah, mendahulukan yang kebutuhannya lebih mendesak.
Macam-macam tingkah laku orang yang sedang antri di depan toilet. Tindakan menggedor-gedor pintu toilet dan adu mulut sudah biasa terjadi. Meski urusan ‘ke belakang’ itu membuat pengantri cukup ‘garang’, namun tetap toleran terhadap orang yang benar-benar tak kuat menahan buang hajat. Itulah hebatnya keadaan mendesak itu yang bisa memungkinkan seseorang mempunyai keberanian (tepatnya kenekatan) menyerobot antrian.
Sekarang ini, jika sedang berkendara dan ada yang menyerobot antrian, maka mudah saja agar tidak terjadi kontroversi hati (boleh juga istilah dari Vicky Prasetyo ini) atau temperatur hati tak melonjak, maka cukup sekedar reframing, jangan-jangan itu sopir memang lagi kebelet, sambil mengingat kelakuan sendiri ketika menyerobot antrian toilet di tanah suci. (Depok, 20 Oktober 2013)
————-
Semua foto dokumen pribadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com