Sabtu, 28 September 2013

Ketika Sebuah Kota Pengirim Banjir Mulai Kebanjiran

by: http://politik.kompasiana.com/2013/09/27/ketika-kota-pengirim-banjir-mulai-kebanjiran-595429.html
Hari ini dari pagi sampai sore, jam 4, cuaca Bogor panas teramat sangat. Tetapi di atas jam 4, langit menjadi mendung, dan tumpahlah hujan seketika menjelang pukul 5 sore disertai dengan angin yang lumayan kencang. Karena saya harus mengirim barang ke agen pengiriman, mau gak mau saya tetap harus berangkat. Saya tinggal di Bukit Cimanggu City, menuju soleh iskandar berjarak kurang lebih 2km. Sepanjang jalan komplek pun genangan air sudah dimana-mana. Membuktikan bahwa drainase yang buruk, padahal rumah disini gede-gede yang bagian depan. Saya tinggal di ujung, yang dulunya merupakan RSS. Saya mengendarai motor.Butuh waktu sekitar 5-10menit sampai di jalan soleh iskandar karena genangan air atau tepatnya aliran air di jalan komplek (karena airnya mengalir) ditambah tiupan angin yang kencang.
1380211943807106205

Ternyata, hujan yang hanya berlangsung beberapa menit, karena sampai di jalan soleh iskandar hujan mulai mengecil frekuensinya, bisa menyulap jalan soleh iskandar dari mulai depan Yogya Dept sampai pertigaan Jasmine/Lotte berubah menjadi aliran sungai. Aliran air nya lumayan kencang, dengan kedalaman sekitar 25-30cm. Walaupun itu berlangsung hanya sesaat, karena begitu hujan berhenti, aliran sungai pun menghilang. Kecuali pada titik2 tertentu yang masih menggenang.

Akhir tahun 80-an Bogor terkenal sebagai Kota Hujan, dan sempat mendapatkan penghargaan Adipura sebagai kota terbersih. berangsung-angsung memasuki tahun 90-an, julukan kota Bogor berubah menjadi Kota 1000 angkot. Dikarenakan ketika itu angkot menjamur, dan kemacetan sudah dipastikan penyebabnya adalah angkot. Tetapi menjelang akhir tahun 90-an atau awal 2000-an, julukan Bogor bertambah menjadi Kota Pengirim Banjir untuk Jakarta. Setiap kali musim hujan, apalagi kalau hujan turun deras dengan waktu relatif lama di atas 1 jam mengguyur dari Puncak sampai Kota Bogor bahkan Depok. Pasti di berita dikatakan, banjir dari Bogor bersiap memasuki Jakarta. Atau setiap kali Jakarta kebanjiran, pasti dikatakan dapat kiriman banjir dari Bogor.

Kini, 2-3tahun terakhir di Bogor terjadi pembangunan dimana-mana. Underpass, sekarang lagi dibangun jalan tol, dan menjamurnya Outlet2, Mall dimana-mana, dan yang terakhir Hotel dimana-mana (yang terakhir ini yang diprotes sebagian warga karena posisi nya dekat dengan tugu kujang dan tingginya melebihi tugu kujang, sehingga pemandangan tidak bagus).

Sementara, tiap pilkada gubernur DKI tidak jauh yang dijanjikan atau yang dipertanyakan adalah kemampuannya mengurai kemacetan, sampah, dan BANJIR. Tak heran, Jokowi yang di awal pemerintahannya disambut oleh BANJIR, segera bergegas mengurai sedikit demi sedikit permasalahan Banjir Jakarta. Walaupun, banjir di Jakarta bukan masalah di Jakarta saja. Tetapi itu merupakan masalah di kota-kota sekitarnya. Bekasi, banjir. Tangerang banjir. Depok, banjir juga. Dan sekarang Bogor, beberapa titik sudah memasuki rawan banjir. Tidak menutup kemungkinan 1 atau 3 tahun mendatang Bogor si Kota Pengirim Banjir Kini Kebanjiran. Lantas, apakah Jakarta dipastikan bisa bebas banjir jikalau kota2 di sekitarnya tidak memberikan dukungan atau tindakan kongkrit untuk mencegah terjadinya banjir di masing2 kota ? Bisa Ya, Bisa juga Tidak.

Logika ngaco nya gini. Bogor posisinya di atas Jakarta. Jikalau hujan deras, banyak air yang akan dikucurkan dari Bogor menuju Jakarta. Dalam hitungan beberapa jam saja, air yang banyak itu akan memasuki Jakarta dengan cepat dan akan menyebabkan kebanjiran. Itu kalau Jakarta tidak berbenah. Badan2 sungai di Jakarta masih banyak rumah2 liar. Kedangkalan sungai pun masih cetek. Waduk2 tempat penampungan air sungai pun dangkal. Pompa2 air tidak berfungsi. Tetapi kalau Jakarta berbenah, semua masalah di atas diatasi. Bisa jadi Jakarta gak bakal banjir, walaupun Bogor mengirimkan berjuta-juta kubik air. Kenapa ? ya aliran sungainya bagus … kedalamannya cukup … waduk juga masih cukup … drainase2 sepanjang jalan juga bersih … sampah2 semua terangkut … air dari Bogor? ya numpang lewat aja nyampe ke laut Jawa. Karena di Bogornya sudah banjir duluan. Bogornya sudah menjadi waduk raksasa alami untuk Jakarta. Jadi walaupun berjuta2 kubik air dikirim dari Bogor, karena Bogornya sendiri sudah kebanjiran. Air akan terkumpul di Bogor dulu, dan masuk ke Jakarta tidak akan sederas biasanya. Belum lagi kalau Depok juga tidak ikut berbenah, maka Depok akan menjadi waduk ke-2 nya buat Jakarta. Jadi buat Jokowi, biarin aja pemkot2 di sekitar anda yang tidak mau bekerja dalam satu visi dan misi membebaskan dari ancaman banjir. Yang terpenting terus mensterilkan sungai-sungai, drainase2 di jalan, waduk2.

Sementara Bogor ??? Beberapa tahun yang lalu, ketika jalan soleh iskandar belum dibeton seperti sekarang, tiap musim hujan datang, sepanjang jalan itu akan sulit ditemui jalan yang tidak berlubang. Sampai suatu siang, sekelompok warga dan mahasiswa (Univ. Ibn Khaldun, kalau gak salah) berdemo di suatu ruas jalan yang berlubang. Apa yang mereka lakukan ? Memancing ikan!

Karena kejadian jalan berlubang itu sudah menahun. Kalaupun diperbaiki, hanya tambal saja. 2-3bulan kemudian rusak lagi. Tidak jauh bedanya dengan proyek abadi Pantura. Pemkot lempar tanggung jawab kepada pemerintah provinsi, dikarenakan itu adalah jalan provinsi. Tapi dari gubernur pun, lambat sekali responnya. Mahasiswa juga mikir, ini permasalah kota/domestik. Masa mau demo tentang jalan berlubang aja harus ke Bandung ? Tekor mas! (hahahahah… berarti demonya bayaran ya? entah lah kalau itu … )

Itulah cermin pemerintahan di Indonesia. Jarang sesama pemimpin daerah itu bisa saling mendukung dan bekerja sama. Mereka malah sibuk saling menyalahkan atau melempar tanggung jawab. Dan sekarang pemenang pilkada Bogor adalah Bima Arya, sosok muda dari PAN. Entah apa saya, kita (warga Bogor), dan kalian (warga di sekitar Bogor) bisa berharap dari seorang muda Bima Arya. Kalau Jokowi di awal pemerintahan disambut banjir dan langsung bertindak real di lapangan ketika banjir maupun setelah banjir. Akankan seorang yang lebih muda, yang harusnya lebih berenergi, bisa melakukan pembenahan di Bogor. Paling tidak, saya (mungkin beberapa warga lain) rindu akan julukan Bogor Kota Hujan. Jangan sampai Bogor si Kota Hujan yang telah berubah menjadi Kota Angkot, Kota Mall, Kota Hotel, Kota Pengirim Banjir, menjadi Kota Banjir di kemudian hari.

Dan Kota Banjir tidak akan terwujud, manakala setiap pimpinan di kota ini turun tangan membenahi setiap lini. Dan pemimpin kota ini (walikota) dapat memberikan teladan, mensinergikan setiap kekuatan tanpa kompromi dagang, dan warganya mendukung setiap kebijakan yang memang baik dan bermanfaat.

Indonesia Baru, Mimpi kita bersama …

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com