Sabtu, 27 Juli 2013

PELUANG BISNIS TERKINI: Kiat Johny Suyanto Membisniskan Sayuran Segar

http://api.ning.com/files/c3NX1Zm--md*ZMqIc3fQh-mOYtZzefkvBQXPCYQOxeY0gZ22H1u-NwCFuc*5FiK7lgI-6ugYXTDmxVT23f0ClVe2hsJunkMQ/jualsayuranbuahsegardimagelang.jpg
Sesuai dengan namanya, hampir semua produk yang dijajakan di BFS berasal dari Bandung. Mulanya, bisnis ini memang dirintis di Kota Kembang oleh Suyanto (almarhum) sejak 1960-an. Nama yang diusungnya ketika itu adalah The Bandung Man. Cara menjajakan sayuran segarnya cukup unik, yakni berkeliling menggunakan mobil setelah mengambil barang dagangan dari Lembang. Mulanya, target pasarnya adalah kalangan ekspatriat yang tinggal di daerah Cihampelas. Namun, lambat laun jangkauan pasarnya terus meluas hingga ke Cilegon, Bogor dan Jakarta.
Masuknya Johny Suyanto – anak tunggal Suyanto – ke bisnis ini pada 1994 membawa perubahan. Selain mengubah nama The Bandung Man menjadi Bandung Farm Shop, Johny juga menawarkan konsep berjualan baru, yakni membuat toko khusus sayur-mayur segar. Sayuran segar cukup diambil dua kali dalam seminggu, kemudian disimpan di sebuah ruangan pendingin (chiller room) dengan suhu 5 derajat Celcius, supaya kualitas sayuran tetap terjaga. Sayur-mayur yang dijual di BFS itu tidak dibiarkan terbuka, melainkan dibungkus plastik, sehingga terjamin kebersihannya.
Berapa biaya membangun satu gerai? Tentu berbeda-beda. Sebagai gambaran, untuk membangun toko berukuran 5 x 20 meter seperti yang ada di Jl. Margasatwa Raya, dana yang dibenamkan mencapai Rp 300 juta, sudah termasuk untuk membeli mesin pendingin.
Menariknya, Johny mengarahkan para karyawannya agar bisa memberikan layanan personal, tetapi melarang mereka menerima tip. Contohnya, membawakan barang belanjaan hingga ke mobil pembeli. BFS juga menyediakan layanan pengantaran bagi pelanggan yang tinggal di sekitar gerai. “Cara layanan yang kami lakukan terkesan sepele, tapi sangat efektif. Kalau mereka puas, tidak perlu promosi, karena mereka akan menyebarkannya dari mulut ke mulut,” papar pria kelahiran Bandung pada September 1964 ini.
Klaim Johny dibenarkan Yenny, salah seorang pelanggan setia BFS. Wanita muda berparas manis ini mengaku rutin berbelanja sayuran di BFS Margasatwa Raya. “Saya biasanya belanja ke BFS setiap pulang kerja. Ya, lebih praktis, tidak mesti ke supermarket,” ia menuturkan. “Selain itu, sayuran yang dijual di sini selalu segar, berkualitas, dan pelayanannya cukup bagus,” tambahnya.
Selain layanan yang bersifat personal, keragaman produk dagangan juga diperhatikan Johny. Saat ini, selain menjual beragam sayuran, daging (ayam dan sapi), ikan dan seafood segar, BFS menjual pula aneka ragam produk khas Bandung lainnya, seperti yoghurt segar aneka rasa, serta beragam camilan seperti gepuk Ny. Yong, molen Kartika Sari, dan sebagainya.
Boleh dibilang, bisnis yang sejak tahun 2000 dikemudikan langsung oleh bapak dua putra ini berkembang pesat. Setelah gerai di Margasatwa Raya, pada 2001 BFS membuka gerai di Bintaro Jaya, disusul pada 2003 di BSD, dan setahun kemudian di Alam Sutera.
Johny mengklaim kinerja gerai-gerainya itu cukup oke. Ia menyebutkan, berdasarkan data dari cash register, dalam sehari rata-rata gerainya dikunjungi lebih dari 100 orang. Omsetnya? Menurutnya, pada hari biasa berkisar Rp 8-10 juta per hari; sedangkan pada Sabtu-Minggu dan hari libur lainnya omsetnya bisa mencapai Rp 15-20 juta per hari. “Margin keuntungannya sih lumayan besar, bisa mencapai 40%-60%,” katanya terus terang. “Tapi, risikonya juga besar. Kalau barang tidak terjual, ya harus dibuang,” tambah Johny sambil menyebutkan margin produk lainnya seperti camilan hanya 20%-30%.
Tak puas sampai di situ, lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Indonesia ini juga memasok sayuran segar ke beberapa resto siap saji di Jakarta, seperti Papa Ron Pizza, Pizza Hut, Bakmi Japos, dan Kafe Oh La La. Ia juga memasok kebutuhan sayuran untuk sekitar 10 perusahaan katering. Secara keseluruhan, dari BFS dalam sebulan Johny mampu meraup omset sebesar Rp 500 juta.
Di luar bisnis gerai sayuran segar dan camilan khas Bandung, Johny sebenarnya masih memiliki usaha lain, yakni resto. Sekarang, ia telah membuka resto seafood di Bintaro Jaya, dan resto masakan khas Sunda – bernama Pondok Kabita – di Alam Sutera.
Masih ada lagi obsesinya? “Mungkin dalam satu-dua tahun ke depan, saya ingin mengembangkan bisnis BFS dalam bentuk franchise,” kata Johny yang mengaku sudah mempekerjakan lebih dari 30 karyawan.
A. Mohammad B.S.
by: http://swa.co.id/listed-articles/kiat-johny-suyanto-membisniskan-sayuran-segar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 SHARE DARI ANDA SANGAT BERHARGA BUAT BANYAK ORANG, SAMPAIKANLAH WALAU 1 AYAT, SEMOGA BERMANFAAT.

Jika anda merasa artikel diatas berguna dan bermanfaat bagi banyak orang, silahkan share / bagikan artikel diatas ke banyak orang lewat facebook / twitter anda.
Semoga anda mendapatkan pahala setelah membagikan artikel diatas, semoga setelah anda bagikan banyak bermanfaat buat semua orang, amin.

( Sampaikanlah walau satu ayat, untuk kebaikan kita semua )

Salah satu cara mencari pahala lewat internet adalah dengan menyebarluaskan artikel, situs/blog dan segala kebaikan yang diperoleh darinya kepada orang lain. Misalnya adalah kepada keluarga, sahabat, rekan kerja dan sebagainya.

Apa Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas
Silahkan gunakan profile ( Anonymous ) jika anda tidak mempunyai Account untuk komentar

Jika anda ingin berpartisipasi ikut menulis dalam blog ini atau ingin mengirim hasil karya tulisan anda, membagikan informasi yang bermanfaat buat banyak orang lewat tulisan anda silahkan kirim tulisan anda ke email saya bagindaery@gmail.com
Tulisan anda akan dilihat dan dibaca oleh ribuan orang tiap harinya setelah anda mengirimkannya ke bagindaery@gmail.com